Trash

What The Fudge Have I been Done With My Life? 

dek Seonho

Uhuk

Beberapa bulan yang lalu aku nggak sengaja kecebur dalam dunia yang nggak pernah kubayangkan sebelumnya: dunia K-Pop. 

Jauh sebelum Lee Minho jadi bintang iklan Luwak White Koffie”,  wabah Korea udah mulai merebak di awal masa SMA-ku melalui drama Boys Before Flower. Waktu itu, hampir semua anak perempuan di kelasku nonton drama itu dan ngomongin ceritanya nyaris setiap saat. Sebagai orang yang nggak ikutan nonton, aku cuma menyimak obrolan mereka. Makanya sedikit-sedikit jadi tau kalau Lee Minho dan Kim Bum adalah tipe ideal hampir semua orang waktu itu, seperti Jerry Yan dan Vic Zhou bagi mbak-mbak di era 2000-an.

Pengetahuanku soal dunia K-Pop (sampai sekarang) juga cuma sebatas hasil menyimak obrolan teman-teman. Karena temenan sama Dedek yang dinding kamarnya penuh dengan muka abang-abang SuJu (bahkan sampai ke wadah tisu dan tempat sampah) aku jadi tahu lagu Sorry Sorry. Eh, tapi siapa sih yang nggak tahu lagu ini? Hahaha. Trus aku juga tahu No Other-nya SuJu karena itu soundtrack adikku dan mantannya. Begitu juga dengan drama dan reality show yang aku sekadar tahu aja. 

Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu aku mulai nonton Produce 101 Season 2 tanpa sengaja. 

Waktu itu, aku dan Firda lagi kongkow di kosan Mumut dan mereka nonton PD101. Seperti biasa, aku ikut-ikutan menyimak dari tempat dudukku di depan lemari Mumut. Oh, ternyata kontes mencari idol. Oh, ternyata rame. Oh ternyata bikin aku ngomong, “nanti kalo nonton episode 3, ajak aku ya!”

Seperti biasa, aku selalu over-invested dengan apa yang aku tonton/baca. Apa yang terjadi selanjutnya sama seperti ketika aku menangisi kematian Koro-sensei; ketika aku jadi sayang banget sama Barney Stinson (dan mencari sangat banyak video Neil Patrick Harris); atau ketika aku suka banget sama Sheldon Cooper, bahkan sampai mimpi ketemu Jim Parsons. 

Dari yang tadinya cuma ingat Ong si tampan, Samuel si berbakat, adek Woojin yang menggemaskan, dan Daehwi si-sempurna-tipikal-anak-yang-gak-disukai-di-kelas; aku jadi suka lebih banyak trainees, terutama mereka-mereka yang ada di kisaran umurku. Tanpa aku sadari, aku jadi benar-benar emotionally invested to some complete strangers. 

Aku nangis pas bagiannya Ha Sungwoon di Downpour. Aku nangis baca lirik rap-nya Kim Jonghyun di Fear. Aku nangis karena Park Woodam terpaksa dievaluasi di dance, padahal baru aja dia dikenal lewat kemampuan vokalnya. Aku nangis lihat Im Youngmin nahan nangis pas minta maaf soal “skandal”-nya, dan pas dia beneran nangis di akhir episode 11. Aku kesal karena Noh Taehyun cuma dapat 6 votes di concept evaluation karena sebelumnya dia udah menyajikan penampilan legendaris dari tim Shape of You. Acara penuh drama, kontroversi, dan rumor ini benar-benar sudah menenggelamkanku. 

Setelah episode final, Wanna One, final group hasil acara ini jadi punya segudang acara. Mereka belum resmi debut tapi hype-nya udah gede banget. Begitu juga dengan, setidaknya, trainees yang masuk 35 besar. Mereka jadi punya banyak jadwal pemotretan, wawancara, melakukan V Live, bahkan beberapa sudah diwacanakan akan debut. Aku ikut senang dengan kesibukan mereka. Aku bersemangat memikirkan mereka semua pasti akan sukses walaupun nggak masuk Wanna One. Aku bahagia mereka semua bahagia. 

Kemudian, sesuatu mengetuk kepalaku. 

Mereka ada di kisaran umurku, beberapa bahkan jauh lebih muda. Tapi mereka udah begitu sibuk melakukan banyak hal untuk mewujudkan cita-citanya jadi idol. 

Noh Taehyun lebih tua dua tahun. Ha Sungwoon lebih tua setahun. Im Youngmin, Ong Seongwoo, Hwang Minhyun, Kim Jonghyun, Kim Sanggyun, Takada Kenta, semuanya lahir di tahun yang sama denganku. Kim Jaehwan, Kang Daniel, dan Kim Yongguk lebih muda setahun. Park Woojin dan Ahn Hyeongseob lebih muda empat tahun. Kim Samuel dan Yoo Seonho lahir di tahun yang sudah kuanggap sebagai bayi selamanya. 

Trus, aku ngapain? Apa yang udah aku lakukan dengan hidupku? Apa pencapaian yang udah aku buat? 

Wow, ternyata acara ini juga bikin aku krisis eksistensi diri.