the script

Lagu yang Bikin Nangis di Pendengaran Pertama

Umm… Sejujurnya aku nggak bisa mikir apa intro yang tepat untuk postingan ini. Sekarang aku lagi di Cisral lantai 4, berusaha mengerjakan skripsi tapi kemudian merasa bosan dan nggak bersemangat. Terus dari playlist-ku ternyata ada beberapa lagu yang kalau diingat-ingat bikin aku nangis sejak pertama kali mendengarkannya.

Dengan bangga aku mau bilang kalau dalam daftar ini nggak ada lagu cinta-cintaan! Hahaha. Lagu-lagu ini adalah lagu yang liriknya sedih, bikin aku jadi mikir tentang banyak hal yang berujung pada cucuran air mata.

The Script – If You Could See Me Now (2012)

Rasanya ini adalah lagu pertama yang bikin aku nangis dalam sekali dengar. Waktu pertama kali dengar lagu ini, aku sendirian di rumah dan lagi nongkrong di ruang tamu demi sinyal wifi yang lebih baik.

Lagu yang ditulis oleh si vokalis, Danny O’Donoghue, dan si gitaris, Mark Sheehan, ini berbicara tentang gimana mereka berharap orang tua mereka melihat kesuksesan mereka sekarang. Liriknya sederhana dan nggak banyak metafora seperti lirik-lirik The Script yang lain. Justru karena kesederhanaan itu yang bikin aku gampang banget merasa emosional dengan lagu ini. Aku jadi ikut mikir, gimana kalau ketika aku sukses nanti (dengan entah apa kriteria sukses yang ada) tapi orang tuaku udah nggak bisa lihat itu? Aku jadi mikir gimana kalau waktu yang ada ternyata nggak cukup bagiku untuk meraih pencapaian yang remarkable?

I hope you’re up there with God saying, “That’s my kid!”

The Black Eyed Peas – Where Is The Love? (2003)

Aku baru tahu kalau ternyata BEP punya lagu dengan lirik seperti ini.

Aku pertama kali dengar lagu ini beberapa bulan yang lalu, dari daftar apa gitu di Billboard, lupa. Waktu itu adalah waktu dimana kasus Ahok lagi panas-panasnya, dan isu Timur Tengah juga masih tetap panas.

Intinya lagu ini bercerita tentang kemanusiaan yang udah pudar. Perang yang nggak pernah berhenti; diskriminasi terhadap suku, ras, agama, dan golongan tertentu; tentang manusia yang udah lupa gimana caranya peduli sesama manusia.

Apa yang bikin aku nangis adalah, udah 14 tahun sejak lagu ini dirilis dan keadaan masih nggak berubah, justru makin parah. Aku memikirkan anak-anak di Palestina, di Suriah, yang nggak tahu apa-apa dan hidup dalam kecemasan setiap hari. Aku memikirkan gimana sekarang orang-orang dengan gampangnya membunuh orang lain. Bisa nggak sih, dunia damai aja? Bisa nggak sih, kita diam dan mensyukuri aja apa yang kita punya? Bisa nggak sih orang-orang nggak berbantah-bantahan dan ribut melulu?

People killing, people dying
Children hurt and you hear them crying
Can you practice what you preach?
Or would you turn the other cheek?
….
Cause people got me, got me questioning
Where is the love?

JJ Project – Tomorrow, Today (2017)

Lagu ini direkomendasikan oleh Annan saat kami dalam perjalanan pulang habis dari wisudaan minggu lalu. Awalnya itu karena habis ngomongin kita yang sama-sama masih nggak bisa menjawab mau kemana setelah lulus. Biasalah pokoknya struggle mahasiswa bangkotan di awal umur 20-an.

Apa yang bikin aku nangis adalah lirik lagu ini benar-benar mengatakan semua yang ingin aku katakan. Aku yang jadi skeptis dan melupakan mimpi-mimpi masa lalu. Aku yang merasa kehilangan arah dan nggak tahu mesti berpijak kemana. Semua ketakutan-ketakutan tentang pilihan, tentang masa depan.

Again today, there are questions I don’t know
I’m trying to answer but I’m not confident
Is it this way or that way?
I’m afraid of my decision
With an anxious heart heart heart heart
I’m standing in front of the next next next choice
Between paths that I’ve never gone on before
How can I find my way?
I’m afraid, day by day

Honorable Mention:
Justin Bieber – Believe (2012)

Aku nggak nangis dengar lagu ini di pendengaran pertama sih, tapi tetap aku masukkan dalam daftar ini karena momen nangisnya justru baru terjadi beberapa minggu lalu.

Pertama kali dengar lagu ini adalah beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN Tertulis 2012. Waktu SMA, guruku meragukan pilihan universitasku, tapi orang tuaku mendukung apapun yang aku pilih. Sampai sekarang, dengan kuliahku yang entah kapan selesainya ini, mereka masih nggak menuntut. Cuma mengingatkan, tapi nggak menuntut apa-apa. It breaks my heart to think they still believe in me, while all I do is disappointing them. I’m so sorry.

It didn’t matter how many times I got knock on the floor
You know one day I would be standing tall.
Just look at me now.
Cause everything start from something,
And something would be nothing,
Nothing if your heart didn’t dream with me.
Where would I be if you didn’t believe?

Semoga aku kembali bersemangat.

Advertisements
sumber google

sumber google

Aku punya sebuah mimpi yang agak konyol tapi selalu kuharapkan jadi kenyataan: mewawancarai orang ini, lalu memeluknya.

Jangan tanya kenapa aku pingin memeluk orang ini, karena aku juga nggak tau. Pingin aja.

Sengaja ini ditulis di sini karena katanya, kalau kamu punya mimpi sekonyol apapun, ya dituliskan sebelum kamu lupa karena pengaruh mecin atau kejedot pintu.

HEHE.

Listening to “Man On A Wire”

Aku nggak bisa berhenti mendengarkan lagu ini sejak beberapa minggu yang lalu. Sebenarnya, aku udah mendengarkan lagu ini sekitar dua atau tiga kali sebelum akhirnya jadi benar-benar suka. Sejak lihat video klipnya, aku jadi merasa harus mendengarkan lagu ini setidaknya tiga kali sehari. Buatku, lagu-lagu The Script bukanlah lagu yang bisa langsung disukai pada pendengaran pertama.

Lagu ini sebenarnya lagu galau. Bisa kita lihat dari beberapa potongan liriknya, misalnya, “Who’d have thought I’d see you with someone else? Who’d have thought that I’d be in such a mess?” Tapi entah kenapa, aku malah senyum-senyum dengar lagu ini. Musiknya serasa ingin membuat aku senang, walaupun liriknya sedih. Lagu ini terus terngiang-ngiang di kepalaku, makanya aku jadi suka.

Dulu waktu SMA, aku baca liputan konser The Script di majalah Gadis. Aku mikir, “Pengen deh jadi jurnalis. Biar nanti bisa liputan konser The Script, trus ketemu mereka di backstage, trus meluk Danny,” Alay ya? Iya dong.

Tulisan ini emang nggak jelas banget. Aku juga nggak ngerti kenapa aku menulis tentang sebuah lagu yang sedang aku suka. Ini nggak penting banget. Yah, emang postingan blog-ku banyak yang nggak penting sih. HAHA!

Six Degrees of Separation

Tiap orang pasti pernah sakit, pernah patah hati dengan berbagai sebab.
Mereka kemudian mencari berbagai macam cara untuk pulih dari sakitnya itu.
Terutama saat patah hati.
Ada orang yang menangis semalam, lalu mati-matian mencari cara agar ia bisa kembali tertawa, pulih dari sakitnya.
Saat orang bertanya apakah ia baik-baik saja, maka ia akan menjawab “ya” meski sebenarnya tidak.
Membuat lelucon yang tidak lucu, lalu tertawa terbahak-bahak di atasnya.
Mencoba kecocoklogian dalam ramalan, tersenyum pada jawaban penuh bualan
Menonton tayangan komedi, membaca kisah humor.
Menggila di dunia maya.
Semua demi tawa, demi pulih dari luka.
Nanti, akan ada saat dimana orang itu pulih, kembali menjalani hidupnya dengan biasa.
Pelampiasan. Semua orang butuh pelampiasan.
Pelarian. Semua orang nggak bisa selamanya berlari.
Bahagia. Semua orang berhak untuk itu.


27 Mei 2014, 02:13 setelah meresapi lagu The Script – Six Degrees of Separation untuk keentah berapa kalinya.