sinting

(Sok) Kuat

Tadi aku beli koran hari Minggu di Damri dengan harga super miring hampir tergelincir, soalnya udah siang. Pikirku, aku mau ngisi TTS lagi biar dapat duit. Hahaha naif ya, berpikir keberuntunganku tahun lalu bisa terulang lagi di koran yang sama.

Sialnya, niat itu berbuah buruk karena aku menyisakan dua pertanyaan yang tidak bisa kujawab bahkan dengan bantuan google. Apa bahasa Tiongkok untuk Tandu? (K_O). Lalu apa bahasa Spanyol untuk Muara/Kuala? (R_A). Hah, hilang sudah harapan mengejar 250 ribu. Haha.

Akhirnya, aku memutuskan untuk baca-baca artikel yang ada. Berita cuma kubaca judulnya aja karena nggak ada yang menarik (menurutku). Sampailah, aku bertemu artikel psikologi dari Sawitri Supardi Sadarjoen berjudul “Lepaskan Rasa Superiormu”.

Sejak dulu, entah berapa kali aku selalu bertemu kebetulan-kebetulan seperti ini ketika membaca majalah atau koran. Biasanya, mereka selalu merupa sebagai cerpen atau artikel psikologi seperti ini. Tulisan-tulisan yang pesannya selalu kebetulan dengan apa yang aku pikirkan atau yang aku alami. Tapi yah, kalau kata orang tidak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan daun jatuh pun sudah ada yang mengatur, ya sudah. Mungkin ini memang bukan kebetulan.

Kita tidak akan selalu terlihat serba bisa di segala bidan, walaupun oleh orang yang sedang berada dalam kesulitan, andai kita sendiri tidak bersedia membagi kesulitan yang kita rasakan. Pada dasarnya semua orang memiliki keterbatasan, kelemahan, dan tingkat kepekaan sendiri-sendiri.

Begitu yang tertulis pada pengantar artikel ini. Pengantar, bukan lead. Kata Abang itu berbeda. Kalau lead-nya begini:

Yang membuat kita tanpa sadar menampilkan diri sebagai orang tanpa masalah adalah karena kita merasa diri sebagai orang super. Kita tidak membuka peluang bagi orang lain untuk mampu menolong kita saat dalam kesulitan.

Dalam artikel ini disebutkan, biasanya orang-orang yang merasa super ini tidak pernah membagi kesedihan atau kegelisahannya pada orang lain karena ia pikir, orang lain toh juga punya masalah yang mungkin jauh lebih berat. Ia tidak ingin menambah beban pikiran orang lain hanya karena ia berkeluh-kesah. Apalagi kalau orang lain itu adalah orang tua atau pasangan.

Di sisi lain, sebenarnya dengan menceritakan permasalahan pada orang lain, akan membuat orang lain merasa terhormat atau dihargai. Penulis sendiri sebagai konselor bercerita, ketika menghadapi klien depresi yang menolak menceritakan masalahnya pada orang terdekat, ia akan melakukan “penyeimbangan diri” pada kliennya. Penyeimbangan diri berguna agar klien belajar menyeimbangkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam dirinya dengan kepekaan perasaan serta kesulitan psikologis yang ia rasakan sebelumnya.

Intinya, harus mengungkapkan kelemahan dan masalah yang sedang dihadapi.

Yah, jujur saja aku termasuk orang yang berpikir dua kali untuk serius curhat tentang batu-batu besar yang menghimpit rongga dadaku. Salah satu temanku sangat sering curhat ke ibunya tentang masalah-masalah yang dia hadapi. Apapun, semuanya. Tapi aku nggak. Kalau aku nelpon mamaku, aku memilih untuk cerita tentang hal-hal menyenangkan, dan mamaku akan cerita soal bintang Dangdut Academy atau kelawakan yang dilakukan adik-adikku di sekolah.

Mamaku pernah bilang, anak nggak seharusnya tahu permasalahan yang dialami orang tua. Jadi kulakukan hal yang sama sepanjang itu nggak mempengaruhi keselamatanku. Menurutku nggak penting aja orang tuaku tahu kalau masalah pergaulan anaknya ini semakin kompleks setelah ia berpindah pulau.

Rasanya udah lama juga aku nggak pernah curhat ke Ade atau Subau tentang masalah yang aku alami atau kegelisahan yang aku rasakan. Sekarang tiap nge-BBM atau telpon, aku biarkan mereka bercerita. Kalau pun aku yang akhirnya gantian cerita, biasanya cuma hal-hal sampah yang nggak krusial.

Kalau harus menuliskan di sini, jelas saja masalahku ada banyak. Dari berbagai sisi. Dari berbagai genre. Mulai dari masalah penelitian, masalah hubungan sosial, masalah dengan Tuhan, masalah masa depan, masalah saat aku berkontemplasi tentang masa depan, masalah ketidakpuasan pada diri sendiri.

Dan yang terakhir itu adalah yang paling menggangguku.

Aku nggak pernah puas dengan apa yang aku lakukan. Aku nggak pernah merasa apa yang kulakukan ini sudah baik dan sudah semestinya. Aku selalu merasa ada yang salah dengan pekerjaanku. Aku selalu merasa harus lebih baik dari orang lain, tapi jelas di atas langit masih ada langit. Imbasnya, aku krisis percaya diri.

Aku takut apa yang kukerjakan tidak cukup untuk memenuhi standarku sendiri, apalagi standar orang lain. Aku takut pada penolakan-penolakan. Aku takut pada pikiranku sendiri yang selalu menghujat. Aku takut saat aku menjadi benar-benar sinting sudah tinggal menghitung hari.

Ini adalah dunia tempat orang-orang tak bisa melihat wajahku dan aku bisa berhenti untuk sok kuat.

Aku frustrasi. Aku buntu. Aku nggak tahu harus ngapain. Walaupun berulang kali aku meyakinkan diri nggak ada gunanya menyesal, tapi tetap saja aku marah sama diri sendiri yang suka lalai. Dan marah pada diri sendiri adalah hal terburuk yang pernah aku rasakan. Sialnya selalu kurasakan.

Lalu aku takut pada apa yang akan dikatakan oleh orang lain.

Entah sejak kapan, omongan orang jadi benar-benar punya pengaruh dalam hidupku. Entah sejak kapan, celetukan negatif mereka benar-benar membuat lututku lemas. Entah sejak kapan perkataan mereka membuatku berpikir lalu berakhir putus asa. Sisi baiknya, aku nggak pernah minta jadi tuli.

Aku cemas pada keburukan yang mungkin akan kuperbuat. Aku cemas pada kemungkinan aku akan jijik dengan apa yang kubuat. Aku cemas menghadapi kekecewaan pada diri sendiri. Dan kekecewaan dan kemarahan dan kebencian pada diri sendiri datang dari kenyataan yang disampaikan oleh otak dan disetujui oleh hati.

Aku terbebani oleh predikat usia 20 yang akan segera menjadi 21 dalam enam bulan. Menjadi 22 dalam satu setengah tahun. Menjadi 40 dalam dua puluh tahun. Aku terbebani oleh predikat mahasiswa. Mahasiswa dan semester tujuh dan tingkat akhir. Aku terbebani oleh predikat anak sulung beradik empat. Aku terbebani oleh keinginan untuk memantaskan diri dan memuaskan keinginan sendiri dan orang-orang yang kusayang.

Mau lari saja! Mau lari saja! Tapi lari nggak pernah menyelesaikan masalah kecuali masalah kelebihan berat badan. Jadi pilihannya adalah menghadapi apapun itu yang ada di depan sana dengan konsekuensi setelahnya beneran jadi gila.

Begini saja. Ah, tidak tidak. Begini saja. Ah, tidak tidak. Begini saja. Ah, tidak tidak. Kemudian dunia kiamat dan semuanya berakhir.

Berarti, aku benar-benar butuh menyeimbangkan diri.

Advertisements