random

Lagu yang Bikin Nangis di Pendengaran Pertama

Umm… Sejujurnya aku nggak bisa mikir apa intro yang tepat untuk postingan ini. Sekarang aku lagi di Cisral lantai 4, berusaha mengerjakan skripsi tapi kemudian merasa bosan dan nggak bersemangat. Terus dari playlist-ku ternyata ada beberapa lagu yang kalau diingat-ingat bikin aku nangis sejak pertama kali mendengarkannya.

Dengan bangga aku mau bilang kalau dalam daftar ini nggak ada lagu cinta-cintaan! Hahaha. Lagu-lagu ini adalah lagu yang liriknya sedih, bikin aku jadi mikir tentang banyak hal yang berujung pada cucuran air mata.

The Script – If You Could See Me Now (2012)

Rasanya ini adalah lagu pertama yang bikin aku nangis dalam sekali dengar. Waktu pertama kali dengar lagu ini, aku sendirian di rumah dan lagi nongkrong di ruang tamu demi sinyal wifi yang lebih baik.

Lagu yang ditulis oleh si vokalis, Danny O’Donoghue, dan si gitaris, Mark Sheehan, ini berbicara tentang gimana mereka berharap orang tua mereka melihat kesuksesan mereka sekarang. Liriknya sederhana dan nggak banyak metafora seperti lirik-lirik The Script yang lain. Justru karena kesederhanaan itu yang bikin aku gampang banget merasa emosional dengan lagu ini. Aku jadi ikut mikir, gimana kalau ketika aku sukses nanti (dengan entah apa kriteria sukses yang ada) tapi orang tuaku udah nggak bisa lihat itu? Aku jadi mikir gimana kalau waktu yang ada ternyata nggak cukup bagiku untuk meraih pencapaian yang remarkable?

I hope you’re up there with God saying, “That’s my kid!”

The Black Eyed Peas – Where Is The Love? (2003)

Aku baru tahu kalau ternyata BEP punya lagu dengan lirik seperti ini.

Aku pertama kali dengar lagu ini beberapa bulan yang lalu, dari daftar apa gitu di Billboard, lupa. Waktu itu adalah waktu dimana kasus Ahok lagi panas-panasnya, dan isu Timur Tengah juga masih tetap panas.

Intinya lagu ini bercerita tentang kemanusiaan yang udah pudar. Perang yang nggak pernah berhenti; diskriminasi terhadap suku, ras, agama, dan golongan tertentu; tentang manusia yang udah lupa gimana caranya peduli sesama manusia.

Apa yang bikin aku nangis adalah, udah 14 tahun sejak lagu ini dirilis dan keadaan masih nggak berubah, justru makin parah. Aku memikirkan anak-anak di Palestina, di Suriah, yang nggak tahu apa-apa dan hidup dalam kecemasan setiap hari. Aku memikirkan gimana sekarang orang-orang dengan gampangnya membunuh orang lain. Bisa nggak sih, dunia damai aja? Bisa nggak sih, kita diam dan mensyukuri aja apa yang kita punya? Bisa nggak sih orang-orang nggak berbantah-bantahan dan ribut melulu?

People killing, people dying
Children hurt and you hear them crying
Can you practice what you preach?
Or would you turn the other cheek?
….
Cause people got me, got me questioning
Where is the love?

JJ Project – Tomorrow, Today (2017)

Lagu ini direkomendasikan oleh Annan saat kami dalam perjalanan pulang habis dari wisudaan minggu lalu. Awalnya itu karena habis ngomongin kita yang sama-sama masih nggak bisa menjawab mau kemana setelah lulus. Biasalah pokoknya struggle mahasiswa bangkotan di awal umur 20-an.

Apa yang bikin aku nangis adalah lirik lagu ini benar-benar mengatakan semua yang ingin aku katakan. Aku yang jadi skeptis dan melupakan mimpi-mimpi masa lalu. Aku yang merasa kehilangan arah dan nggak tahu mesti berpijak kemana. Semua ketakutan-ketakutan tentang pilihan, tentang masa depan.

Again today, there are questions I don’t know
I’m trying to answer but I’m not confident
Is it this way or that way?
I’m afraid of my decision
With an anxious heart heart heart heart
I’m standing in front of the next next next choice
Between paths that I’ve never gone on before
How can I find my way?
I’m afraid, day by day

Honorable Mention:
Justin Bieber – Believe (2012)

Aku nggak nangis dengar lagu ini di pendengaran pertama sih, tapi tetap aku masukkan dalam daftar ini karena momen nangisnya justru baru terjadi beberapa minggu lalu.

Pertama kali dengar lagu ini adalah beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN Tertulis 2012. Waktu SMA, guruku meragukan pilihan universitasku, tapi orang tuaku mendukung apapun yang aku pilih. Sampai sekarang, dengan kuliahku yang entah kapan selesainya ini, mereka masih nggak menuntut. Cuma mengingatkan, tapi nggak menuntut apa-apa. It breaks my heart to think they still believe in me, while all I do is disappointing them. I’m so sorry.

It didn’t matter how many times I got knock on the floor
You know one day I would be standing tall.
Just look at me now.
Cause everything start from something,
And something would be nothing,
Nothing if your heart didn’t dream with me.
Where would I be if you didn’t believe?

Semoga aku kembali bersemangat.

“Dari Paraffin dan Kawat…”

Aku ingin tahu. Apa yang bisa kamu buat dari paraffin dan kawat?

Katanya ada banyak jenis paraffin.

Ada yang padat tapi lembut, biasanya dipakai untuk membuat lilin.

Iya, lilin untuk perayaan ulang tahunmu, lilin untuk menerangi saat mati lampu, lilin untuk makan malam yang (katanya) romantis.

Ada juga yang cair. Katanya ini biasa dipakai di dunia medis.

Kamu pakai yang jenis apa? Kamu mau membuat lilin, ya?

Kawat. Kenapa kamu butuh kawat?

Dengar ini. Kawat juga jenisnya macam-macam.

Ada yang tebal, ada yang tipis.

Yang tebal biasanya susah dibengkokkan, sementara yang tipis sangat mudah dibentuk.

Kamu pakai jenis kawat yang mana?

Untuk apa sih, kawatnya?

Jangan bikin penasaran begitu. Ayo, kasih tahu!

Aku tidak punya cukup imajinasi untuk membayangkan akan jadi apa kedua benda ini jika digabungkan!

Apa yang bisa kamu buat dari paraffin dan kawat?

Sungguh, aku benar-benar ingin tahu.

Sebuah Pengakuan

Jantungku berdebar cepat. Keringat dingin mulai mengucur membasahi tubuhku. Aku menggoyang-goyangkan kaki, berusaha menghilangkan perasaan grogi. Sia-sia. Wajahku mulai pucat, tanganku dingin.

Otakku berkata, ini saat terakhir karena esok aku takkan melihatnya lagi.

Hatiku berkata, jangan permalukan diriku sendiri.

Oke, kelihatannya otakku menang.

Siap tidak siap, aku akan mulai.

Aku merapikan poni dan rambutku yang mulai panjang, masih grogi. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya keras-keras, lalu menenggak segelas sirop rasa kokopandan.

Ah, dandananku. Dandanan yang kukenakan sejak subuh tadi sudah berlepotan, wajahku berkeringat. Sudahlah, persetan dengan dandanan. Tak ada waktu untuk itu.

Ah, tapi aku takut….

Hei, apa yang aku takutkan? Penolakan? Memangnya siapa yang minta diterima?

Aku mengepalkan tanganku, berusaha terlihat gagah berani ketika melangkah maju. Aku tak lagi bisa mundur. Semuanya harus kuselesaikan hari ini.

“Hei….” sapaku.

Ia berpaling, tersenyum. “Ada apa?”

Aku menggaruk alis, bingung bagaimana memulainya. “Ummm… Dulu aku suka sama kamu. Ehh.. tapi aku nggak minta kamu buat jadi pacar aku kok. Aku cuma pengen kamu tau, itu aja..”

“Hemm.. Lalu?”

“Ngg…” aku semakin grogi, merasa tak enak hati untuk menyampaikannya. “Tapi sebenarnya bukan itu yang mau aku bilang ke kamu. Sebenarnya… aduh… gimana yaa…”

Ia menatapku penuh selidik, masih terdiam menunggu lanjutan perkataanku.

Aku memejamkan mata, tak berani menatapnya. Akhirnya, aku harus mengungkapkan ini juga. “Kamu masih hutang sama aku. Please, bisa bayar sekarang? Aku nggak punya ongkos pulang…”

Wajahku memerah menahan malu, ketika aku melihatnya menahan tawa dan membuka dompet.

“Astaga, aku lupa. Terima kasih sudah mengingatkan. Aku hutang berapa?”

“Delapan puluh ribu.. Maaf…”

Ia tersenyum sambil menyerahkan empat lembar uang dua puluh ribu padaku. “Ini. Maaf aku lupa membayarnya. Dan maaf juga aku tak bisa mengantarmu pulang”

“Ehh.. Iya, maaf sudah mengganggu. Terima kasih.”

Aku segera berlari dan mencegat taksi. Akhirnya, uangku kembali sebelum ia benar-benar lupa padaku. Dan piutangku.

Yeah, aku lebih butuh pelunasan hutangmu daripada hatimu. Setidaknya untuk saat ini.

 

Aku Tak Bisa Hidup Tanpa Pacar

Perempuan itu bernama Chiara Juniarsih, akrab disapa Chia. Usianya 22 tahun, terlahir bak boneka Barbie hidup dengan mata bulat, hidung mancung, dan dagu indah menggantung. Kulitnya putih bersih, kakinya jenjang, jemarinya lentik. Suaranya pun indah, hal ini dibuktikan dengan segudang prestasinya dalam ajang pencarian bakat.

Image

ceritanya ini Chiara Juniarsih saat diwawancarai di studio pribadinya. Picture: toys.about.com

Menjadi perempuan berpostur nyaris sempurna membuat Chia selalu dipuja oleh kaum Adam. Ibaratnya, Chia bisa menunjuk sembarang pria untuk menjadi kekasihnya, kapanpun ia mau. Chia memiliki tak kurang dari tiga lusin mantan kekasih yang dikoleksinya sejak duduk di bangku SMP kelas satu. Cinta bertepuk sebelah tangan adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi pada Chia. Chiara Juniarsih terlahir untuk dicintai, bukan mencintai.

Saat ini Chia berkarier sebagai fashion blogger, sesuatu yang diidam-idamkannya dari dulu. Urusan uang bukan masalah karena Chia selalu memiliki seorang lelaki untuk menunjang kecantikan abadinya. Chiara dan kekasihnya, adalah dua orang yang akan selalu menjadi satu, meski sang kekasih harus rela digonta-ganti.

Selamat siang Mbak Chia!

Ya, selamat siang.

Langsung aja nih Mbak. Jadi bagaimana perasaan Mbak sebagai orang yang harus selalu memiliki pacar?

Aku merasa senang. Memiliki pacar adalah sebuah kewajiban dalam hidup aku, seperti aku yang harus selalu memakai maskara setiap hari. Toh, lelaki-lelaki itu yang mengejar aku. Jadi aku senang-senang aja sih.

Apakah itu berarti Mbak sering galau?

Lumayan, ya. Soalnya aku terbiasa untuk punya pacar. Jadi aku akan merasa insecure kalau harus putus sama pacar aku. Pacar aku itu orangnya aneh-aneh deh. Masa ngambek Cuma gara-gara aku lupa lipstik warna apa yang aku pake pas kencan pertama kita. Jadi aku harus sering-sering kabur dari acara-acara penting yang harus aku datengin, Cuma buat nenangin dia…

Memangnya Mbak pernah diputusin?

Eh… nggak sih, selalu aku yang mutusin. Hihihihi

Duh, Mbaknya cantik tapi ketawanya kaya kunti yaa. Paling lama Mbak menjomblo berapa lama?

Berapa yaa? Kayanya 12 jam deh. Hihihi aku lupa nih.

12 jam? Waah cepat juga ya Mbak, move on nya. Saya aja udah enam tahun masih belum move on loh. Eeh kok saya malah curhat. Lalu apa yang terjadi pada Mbak selama 12 jam itu?

Iya dong. Kan cowok-cowok itu udah pada ngantri buat jadi pacar aku. Udah kayak ngantri toilet gitu deh. Hihihi. Gak papa kok kalo kamu mau curhat. Tapi nanti ya, abis wawancara aku. Hihihi. Waktu itu, aku langsung gatel-gatel. Badanku bentol, merah-merah gitu. Pernah juga pas abis diputusin, aku langsung punya bisul segede dunia akhirat di pantat. Jerawat gede di ujung hidung juga pernah. Pokoknya, kalo aku udah putus, jadi serem deh.

Buset Mbak, ketawa kunti mulu. Saya jadi serem, nih. Kalo mbak kulitnya jadi bermasalah gitu, nggak ada yang naksir dong?

Tetep ada doong. Kan aku udah bilang, mereka ngantri panjang buat jadi pacar aku, sampai punya nomer antrian segala. Hihihi jadi kalo mereka nembak aku, semua masalah kulit aku langsung hilang. Aku jadi cantik lagi. Hihihi

Waah, kok ajaib ya Mbak.. Sekarang lagi pacaran sama siapa Mbak?

Tadi abis Subuh, aku baru jadian sama Jonathan Kendil. Hihihi nomer antrian dia 37 tuh. Hihihi biar romantis, aku panggil dia Ken, trus dia panggil aku Barbie. Klop deh kita. Hihihi

Mbak masih ingat gak, sama cinta pertama Mbak?

Cinta pertama? Aku mana punya. Aku kan selalu dicintai, gak pernah mencintai. Hihihi siapa pacar pertamaku juga aku udah lupa saking banyaknya koleksi mantan aku.

Duuh Mbak, aku enek kalo Mbak ketawa mulu…

HEH, MAU WAWANCARA ATAU NGGAK????!!!!! *copot sepatu*

Ampuun Mbaaak.. Mauu.. Mauu.. Mbak make up nya tebal ya? Berapa lapis?

Huh, jadi manyun kan akunya. Make up? Iya doong. Kan aku udah terlahir cantik ya, tapi aku ngerasa hidupku nggak lengkap kalo nggak pake make up. Berapa lapis ya? Ratusan! Hihihi memangnya aku wafer. Nggak pernah ngitung tuh. Hihihi soalnya aku punya tim tata rias sendiri. Aku sih nggak bisa dandan sendiri ya, aku Cuma bisa pake lipstik sama maskara. Hihihi

Duh Mbak… Saya mau muntah.. Eeeh terakhir deh Mbak. Apa tips dari Mbak supaya orang-orang bisa gampang dapat pacar kayak Mbak?

Sederhana sih. Makanya, punya muka kayak aku! Hihihihihihihihihihi

*lempar cakram*

wawancara ini hanya fiktif belaka dan tentunya hanya terjadi di khayalan saya. Apabila terdapat kesamaan nama dan kejadian, itu bukanlah sebuah kesengajaan walaupun ini terinspirasi dari seseorang. HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI

Pangeran Matahari, A Random Story 2: Musim Hujan

Aku berlari menyusuri lorong sekolahku. Sial! Aku terlambat lagi. Ini semua gara-gara aku begadang demi membaca novel romantis mengharu biru yang baru kupinjam. Beruntung, ketika sampai di kelas, guruku belum masuk dan nyawaku masih terselamatkan.

Aku mematung di depan kelas, mencari bangku kosong yang bisa ku tempati. Satu-satunya bangku yang tersisa hanyalah bangku paling belakang di bagian tengah, yang artinya aku harus membelah lautan manusia ini untuk menuju bangku impian.

Gubrak! Gedubrak! Bruk! Krompyang! Wuaduh! Sabar Buuu! Meeooonggg!

Loh, kok ada suara kucing…..

Pahaku yang tak kalah seksi dibanding paha anak sapi itu sukses menghantam setiap orang dan setiap bangku yang kulewati. Yah, siapa suruh menghalangi jalanku. Siapa suruh kelas ini sempit sekali. Siapa suruh aku terlambat. Siapa suruh aku menyalahkan keadaan.

Tepat ketika aku mendarat di bangku impian, guru masuk dan memulai pelajaran hari ini. Geografi. Sungguh membosankan. Aku memilih untuk mencoret-coret bagian belakang bukuku ketika aku mendengar sebuah suara yang familiar.

“Duh, Kii….”

Glek! Suara ini! Aku menoleh ke kiri, dan huwalahumba! Orang itu! Orang dengan potongan rambut seperti tokoh cowok dalam komik cewek itu! Pangeran Matahari!

Bagaimana ia bisa berada di sini? Maksudku, bagaimana ia bisa terselip di antara dua orang seperti ini? Aku berani bertaruh demi sepotong cheesecake bahwa empat puluh bangku yang ada di kelas ini terisi penuh. Apakah dia sebegitu kurusnya sampai-sampai bisa nyempil begitu?

“Aku kan Pangeran Matahari, Kii. Cuma kamu yang bisa melihatku, makanya aku bisa nyempil di sebelahmu,” ujarnya. Aku memperhatikan Pangeran Matahari dengan seksama. Ia begitu berbeda dibanding perjumpaan pertama kami dulu. Sekarang, ia mengenakan sweater tebal dan memancarkan aura dingin, tidak sehangat matahari sore yang mulai kusukai.

Dan wajahnya yang selalu mempesona di bawah matahari sore itu pucat…

“Hei, kau sakit?” tanyaku. “Kenapa memakai pakaian seperti ini? Kemana baju gombrongmu yang cerah itu?” tanyaku lagi.

“Mana mungkin aku sakit,” jawabnya dingin, membekukan hatiku. “Aku bukan manusia sepertimu yang bisa terkena sakit. Semua ini gara-gara hujan,”

“Gara-gara hujan? Kau hujan-hujanan sampai masuk angin?”

“Sudah kukatakan, aku tidak mungkin masuk angin!” Ia menatapku tajam, tapi dari matanya aku masih bisa melihat sisa-sisa kehangatan yang dimiliki Pangeran Matahari. “Pangeran Mendung menguasai dunia langit saat ini. Ia tak membiarkan kerajaanku bersinar seperti enam bulan lalu. Ia sama sekali tak memberi kami kesempatan!”

“Ah, ya, sekarang memang musim hujan…” gumamku.

“Kau mencintaiku, kan? Bantu aku melawan Pangeran Mendung, Kii.”

Ia menatapku dengan sungguh-sungguh sementara aku terperangah. Aku? Melawan Pangeran Mendung? Kehidupan sinetron murahan apa yang sedang kujalani saat ini?

“Hei, yang benar saja! Apa yang bisa dilakukan olehku, perempuan yang hanya bisa makan tahu bulat dan cimol tasik ini?” ah, aku teringat pada cimol. “Lagipula,” lanjutku “Bukankah memang seharusnya seperti ini? Kau berkuasa saat musim kemarau, lalu enam bulan kemudian Pangeran Mendung menggantikanmu. Dunia berjalan seperti itu, kan?”

“Tapi, aku kedinginan Kii…” Ia menyilangkan kedua lengannya di dada, memeluk dirinya sendiri. “Melawan Pangeran Mendung adalah satu-satunya cara agar aku kembali hangat dan bersinar. Aku yakin, kau pasti bisa membantuku, Kii..”

“Lalu seluruh dunia kesusahan karena hujan tak kunjung turun? Selalu ada hikmah, dibalik setiap peristiwa, Pangeran,” Aku melingkarkan lenganku di bahunya, berusaha membuatnya merasa lebih hangat.  Ia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kau tak membuatku merasa lebih baik, tapi terima kasih sudah berusaha,” Ia tersenyum. Aku merasakan sedikit kehangatan menjalar melalui lengan kiriku.

“Maaf, aku tak bisa memberimu solusi. Tapi, hei! Bagaimana kalau kau bekerja sama dengan Pangeran Mendung?” tanyaku.

“Bekerja sama?”

“Ya. Pangeran Mendung membuat hujan, kan? Kalian mungkin bisa bekerja sama untuk membuat pelangi. Pelangi selalu indah dan memberikan kehangatan bagi siapa saja yang melihatnya,”

Ia tersenyum lagi. Wajahnya terlihat lebih cerah. “Ide bagus,” ujarnya.

“Aku pergi dulu, Kii. Terima kasih atas saranmu. Sampai jumpa,” Kemudian, ia menghilang.

Sungguh, aku tak sabar menanti pelangi setelah hujan ini.

…Dan rambut ala komik ceweknya itu.

Hidup Bukan Buat Gelar

Malam ini, otakku rewel sekali meminta jemariku mengetik ocehannya.

Tiba-tiba otakku memutar memori tentang percakapan bersama teman-teman kostan ketika semester 1. Isinya kira-kira begini, “Kalau udah lulus, gelarmu apa?”

Aku cuma bisa menggeleng sambil cengengesan. Kemudian si teman kostan ini, sebut saja Jennifer, balik bertanya “Lho, masa kamu kuliah nggak tau nanti lulus bakal dapet gelar apa?

Nggggg…….

Dari dulu, sebenarnya aku memang nggak terlalu peduli begitu lulus dari sini akan ada huruf-huruf tambahan macam apa di belakang namaku. Berhubung udah ditanyain, jadi aku kepo sana-sini, daaaaaannn… jengjengg….

S.Ikom, Sarjana Ilmu Komunikasi. Itu gelar yang akan kudapatkan begitu menyelesaikan studi disini.

S.Ikom terdengar sangat aneh di telingaku. Tinggal ditambah huruf “o” di belakangnya, jadilah aku seekor komodo yang suka membuat macet jalanan ibukota. Mungkin ini disebabkan oleh tidak banyak universitas yang memberikan gelar ini, setahuku hanya Unpad dan USU saja (CMIIW). Dengan keanehan bunyi dan kemungkinan adanya orang iseng yang menambah satu huruf lagi di belakangnya, jadi aku akan memastikan kalau aku cuma memakai nama lahir dimanapun dan kapanpun. HAHAHA *kemudian hening*

Yah, memang sih ada orang yang “gila gelar”, kalau nggak, nggak mungkin ada tukang jualan ijazah dong yaa. Tapi bagiku, hidup bukan tentang ada berapa banyak “S. Anu” atau “M. Itu” atau gelar doktoral (bahkan profesor) yang berbanjar rapi di depan dan belakang namamu. Apalah artinya gelar kalau kita belum melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, bagi nusa dan bangsa? Iya toh?

Ngomong-ngomong, aku udah ngelakuin apa ya untuk nusa dan bangsa?

Kenapa Begini dan Kenapa Begitu

Sesungguhnya tengah malam adalah waktu yang tepat bagi pemikiran-pemikiran random untuk muncul dan menghalau kantuk, kemudian otak dengan isengnya memerintah tangan untuk mengetik pemikiran-pemikiran konyol itu di blog….. untuk kemudian dipublikasikan. Sungguh tidak penting.

Namanya juga iseng, jadi kita mulai sajalah.

Pertanyaan pertama yang diajukan sisi suka-bertanya-apapun-tentang-manusia-ku adalah: Kenapa seseorang bisa merasa terasing alias teralienasi?

Aku pernah menanyakan hal ini pada dosen psikologi komunikasiku, Pak Uud Wahyudin, ketika semester 2. Beliau berkata bahwa seseorang merasa terasing sebenarnya karena citra diri yang dibentuknya sendiri. Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Jadi, kalau kamu berpikir atau merasa bahwa kamu dijauhi oleh orang-orang di lingkungan kamu dan merasa sendirian, maka itu adalah kesalahan pikiran negatifmu terhadap lingkungan. Bahasa gampangnya: itu cuma perasaanmu saja.

Begitu mendengar jawaban beliau, aku merasa puas, merasa pertanyaanku terjawab dengan baik. Nyatanya, dua semester kemudian pertanyaan tadi menimbulkan pertanyaan baru: Bagaimana jika kita telah mencoba berpikir positif mengenai citra diri sendiri dan lingkungan, tetapi tetap saja lingkungan mengatakan bahwa kita DITOLAK. Nah lho, apa jawabannya? Kenapa ini bisa terjadi? Sayangnya aku tak tahu harus bertanya pada siapa, jadi pertanyaan ini terus saja menari Samba di kepalaku.

Pertanyaan kedua adalah: sampai kapan seseorang mencari jati diri?

Pernahkah kalian bercermin sambil cengengesan sok imut, atau melihat koleksi foto-foto selfie kemudian sebuah pertanyaan muncul di benak kalian, seperti “siapa orang ini?” Kalian merasa asing dengan bayangan kalian sendiri di cermin. Kalian mulai memperhatikan setiap detail yang ada di wajah kalian, kemudian kalian merasakan rongga dada kalian hampa. Kalian masih tidak merasa bahwa kalian sedang melihat diri sendiri. Tentu yang kumaksud disini bukanlah kalian yang baru selesai permak muka habis-habisan atau sedang mengenakan topeng doraemon. Bukan, maksudku tentu saja wajah asli kalian. Apakah ada yang pernah merasa seperti ini? Atau jangan-jangan hanya aku satu-satunya orang di dunia yang mengalami hal mengerikan ini?

Mungkin aku sudah gila.

Sampai kapan sih, seseorang akan menemukan jati dirinya? Menemukan bakatnya? Menemukan ia akan jadi apa kelak? Ketika ada remaja-remaja bandel, orang-orang akan berkata, “namanya juga ABG, masih proses pencarian jati diri,” Apakah usia 19 masih layak disebut ABG yang sedang mencari jati diri? Syukur kalau iya.

Bakat? Kenapa ada orang yang bisa dengan mudah menemukan bakatnya, seperti mereka yang mahir berkesenian atau berolahraga. Kenapa ada orang yang merasa bahwa bakatnya adalah ini, tapi ternyata bukan?

Sekarang, aku kuliah Jurnalistik. Tapi, apakah sepuluh atau tigapuluh tahun lagi aku PASTI menjadi jurnalis? Atau aku justru menjadi istri orang kaya yang setiap hari kerjanya ke salon dan berfoya-foya?

Tuhan, maafkan aku yang terlalu banyak bertanya hal-hal yang menjadi kuasa-Mu

Aku masih punya banyak pertanyaan lainnya, tapi aku rasa aku akan benar-benar menjadi gila jika terus mempertanyakannya, membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu menguasai otakku dan membuatku lupa akan segalanya.Jadi, kita hentikan saja tulisan penuh tanda tanya ini seraya berharap, Tuhan segera memberi jawaban atas tanyaku.