ikut transfer

Modus (?)

Tadi sekitar jam setengah 7 malam, aku ke ATM Center yang ada di Unpad. Emang aneh sih, biasanya si ATM Center ini kalau malam lampunya nyala luar-dalam. Sekarang, penerangan cuma berasal dari mesin-mesin ATM yang ada di dalam. Di luar lumayan gelap.

Emang sih ada sakelar di dalam ATM Center itu. Tapi aku nggak berani ngutak-atik. Soalnya, sekali waktu aku pernah mematikan listrik satu kosan karena rasa ingin tahu terhadap sakelar listrik. Jadi, aku nggak mau tiba-tiba jadi pusat perhatian sebagai gadis bertangan ajaib yang memutuskan aliran listrik. Apalagi masih ada orang yang memakai mesin ATM. Makin bikin aku nggak pengen nyoba-nyoba.

Aku pakai mesin non-tunai. Di sebelah kiri, ada mas-mas yang mau pakai mesin nominal 50 ribu. Rasanya dia baru ngeluarin dompet dan mau memasukkan kartu ke mesin ketika seorang mas-mas bertopi yang kelihatannya sedikit lebih tua dari mas-mas pertama datang menghampiri. Dengan suara memelas, dia bertanya “A, boleh ikut transfer nggak?” sambil menunjukkan dua lembar 50 ribuan.

Deg! Lututku lemas. Aku pernah baca modus penipuan dengan ikut transfer seperti ini. Modusnya, orang minta ikut transfer karena saldonya limit atau nggak punya rekening atau apalah. Sebagai ganti uang kita, dia akan ngasih uang tunai. Tapi, ternyata uang itu palsu. Jadi, dia menukarkan uang palsu yang dia punya dengan uang asli dari rekening kita.

Lalu aku bimbang, apakah aku harus mengingatkan mas-mas yang lagi pakai mesin ATM atau nggak. Masalahnya, kita nggak pernah tahu struggle yang dihadapi orang lain. Gimana kalau dia beneran mau numpang transfer karena nggak punya rekening atau semacamnya? Apalagi ini hari Minggu dan udah malam. Bank tutup dan setahuku di Jatinangor nggak ada mesin setoran tunai. Beda dengan pengutil yang jelas-jelas kelihatan berbuat dosa dan bisa langsung diteriakin “maling!”

Aku keluar duluan dari ATM Center dengan lutut lemas. Kepalaku berisik dengan berbagai pertimbangan moral. Akhirnya, aku cerita sama tukang ojek yang lagi duduk di dekat pos satpam. Dia kemudian menyuruhku lapor ke satpam. Setelah cerita, si aa satpam (kayanya dia cuma sedikit lebih tua dariku) bilang, “Itu mah udah biasa teh. Biasanya itu yang ngedeposit poker. Biasa mah, satpam-satpam di sini udah pada tau kok,” Aa satpam meyakinkan aku kalau itu nggak masalah sama sekali.

Belakangan, aku agak nyesal sih kenapa ninggalin ATM Center duluan alih-alih nungguin transaksi mereka selesai baru ngomong ke mas-mas yang transfer. Siapa tahu kalau uangnya memang palsu, si pelaku masih bisa dikejar. Ah, tapi pas aku meninggalkan ATM Center tadi masih ada beberapa orang lain di sana, yang bisa membantu kalau ada hal buruk terjadi. Semoga uang seratus ribu masih jadi rezeki mas itu. Aamiin.

Sampai di kosan, aku googling tentang modus penipuan ini. Ketemulah cerita-cerita dari kaskus dan blognya orang. Di kaskus, ada yang bilang persis kaya omongan aa satpam. Transfer buat deposit mainan macam poker atau lainnya yang suka pake uang beneran. Ada juga yang cerita kalau dia sering numpang transfer. Soalnya bank yang ada di kotanya dia cuma satu dan kadang dia harus transfer ke rekening bank lain sesegera mungkin. Kalau harus transfer lewat teller, biasanya makan waktu tiga hari dan menurut dia itu kelamaan. Makanya dia suka nongkrongin atm, nungguin orang yang kira-kira bisa dimintain ikut transfer.

Mungkin buat sebagian orang, kehilangan seratus ribu sama sekali nggak mempengaruhi neraca keuangannya. Tapi buat anak kos bokek macam aku? Seratus ribu itu untuk memperpanjang nyawa selama empat hari, boi!

Duh, beneran deh makin ke sini jadi makin susah untuk percaya sama orang. Ada aja oknum yang memanfaatkan niat baik seseorang untuk membantu. Maksudnya mau sedekah, eh ternyata pengemis terorganisir. Maksudnya mau bantuin karena kasihan nggak punya ongkos pulang, eh ternyata nipu. Kita wajib jadi orang baik, tapi kebaikan malah dimanfaatkan sama orang-orang nggak tau diri dan nggak tau malu. Hah, lama-lama aku takut akan jadi orang yang hidup penuh curiga!

Advertisements