Cerita

Something Wrong

vlcsnap-2016-11-23-17h56m14s962

Raj, I feel you

Kalau dipikir-pikir, setengah dari hariku kugunakan untuk berpikir. Setelah tidur dan (berusaha) menunaikan berbagai kewajiban, aku selalu menemukan ada sesuatu, atau banyak hal yang salah dengan diriku.

Misalnya, aku nggak pernah merasa puas dengan apa yang aku kerjakan. Menurut standar absurdku, semua yang aku kerjakan itu sampah yang lebih baik nggak usah ditunjukkan daripada membuatku malu di depan umum. Entah kenapa, aku selalu menjadikan orang lain sebagai standar. Aku harus bisa menulis seperti si X. Karyaku harus bisa menggugah jiwa seperti yang dilakukan Pak Y. Kalau orang lain jadi stres karena lelah berusaha memuaskan keinginan orang lain, aku nyaris gila karena nggak pernah mampu memuaskan keinginan diri sendiri, yang aku bahkan nggak tahu mauku ini apa.

Pernah sekali, aku merasa sudah cukup puas dengan apa yang aku kerjakan sebelum akhirnya aku melihat pekerjaan orang lain yang (menurutku) jauh lebih bagus. Seketika, di mataku pekerjaanku ini langsung turun ke level durjana. 

Di sisi lain, aku nggak pernah (atau mungkin sangat jarang) down karena hal yang berbau fisik. Aku sadar aku gemuk, bahkan berat badanku sudah jauh melewati batas yang kutetapkan waktu SMA. Aku nggak begitu mempermasalahkan pori-pori di mukaku, yang entah kenapa begitu kuliah malah membesar dan mengundang komedo. Aku juga nggak pernah kepikiran untuk bisa berpakaian seperti si A, atau mengikuti tren foto seperti si B. Waktu SMP, sambil ketawa temanku ngatain aku jelek dan aku bodo amat, malah ikut ketawa. Yah, walaupun sesekali aku merasa seperti buntalan ketika berada diantara orang-orang kerempeng, sih. Tapi itu nggak pernah benar-benar menggangguku. 

Hal lain yang suka muncul di pikiranku adalah bagaimana aku nggak pernah bisa mempertahankan sebuah hubungan, baik pertemanan ataupun roman. I’m not good at being a girlfriend. I’m not even good at being a girl, or a friend.

Belakangan aku baru menyadari kalau aku nggak bisa lama berakrab-akrab dengan orang lain, bahkan dengan orang yang sebenarnya sudah akrab denganku sejak awal. Nggak dalam hitungan jam, memang. Tapi dalam hitungan hari. Maksudku, ketika aku harus menghabiskan beberapa hari bersama-sama seseorang, maka aku akan cenderung membencinya. Aku akan cenderung menemukan ada banyak hal dari dirinya yang menurutku annoying.

Contohnya, aku pernah ada dalam kondisi dimana aku harus menghabiskan beberapa hari bersama seorang teman, sebut saja Mawar. Beberapa hari pertama semuanya sangat menyenangkan. Tiap hari kami ngobrol tentang banyak hal, ngegosip ini-itu. Tapi lama-lama, aku ada di titik dimana aku muak mendengar pendapatnya. Aku benci mendengar dia berkomentar. Aku ingin menyuruhnya diam, tapi nggak punya alasan yang cukup kuat untuk melakukan itu. Setelah beberapa hari “rehat” dari Mawar, aku “sehat” kembali. Jadi biasa lagi. 

Atau ketika aku benci dengan berbagai kebiasaan temanku yang lain, sebut saja Kenanga. Aku benci ketika dia berkomentar tentang harga deodoranku yang mahal (padahal semua toiletries-ku masih produk supermarket dan drugstore). Aku kesal karena dia suka lupa menutup keran air. Aku bahkan pernah muak hanya karena mendengar dia tertawa.

Sebaliknya, kalau aku hanya menghabiskan beberapa jam atau tiga hari bersama mereka, aku nggak pernah merasa bermasalah. Ketika sudah lama nggak kongkow bareng, aku nggak kesal mendengar semua komentar sinis Mawar. Ketika Kenanga mampir ke kosanku, aku memaklumi dia yang lupa menutup keran air. Setelah lama tidak bertemu, mereka seperti orang baru yang nggak kuketahui faktor menyebalkannya.

Atau bagaimana aku yang nggak bisa menjaga hubungan baik dengan teman lama. Bukannya berantem, sih, tapi ada banyak teman lama yang membuatku canggung ketika ketemu lagi. Ada banyak teman SD dan SMP yang dulunya sangat dekat, akhirnya sekarang benar-benar nggak pernah ngobrol lagi. Aku emang nggak pernah reunian SD karena nggak ada yang menginisiasi, dan karena kecanggungan ini aku juga nggak berniat jadi inisiator. Teman SMP? Kami masih ngumpul beberapa tahun sekali, dan sejujurnya aku benar-benar merasa sangat canggung. Rasanya seperti kembali ke hari pertama di kelas 7A lagi.

Emang aneh banget, aku kuliah di bidang ilmu sosial, bidang ilmu komunikasi, tapi setelah lima tahun berlalu aku malah semakin nggak suka bersosialisasi, semakin nggak suka berbasa-basi. Rasanya……. capek? Entah kenapa aku malah semakin nggak percaya sama orang. Aku tahu semua orang pada dasarnya adalah orang baik, tapi entah kenapa tahun-tahun belakangan aku meragukan kebaikan setiap orang.

Kegelisahan-kegelisahan ini…….rasanya bikin aku seperti robot korsleting. Aku nggak tahu harus mikir apa dan gimana. Tiap hari aku merasa nggak nyaman dengan apa yang aku lakukan, dan nggak pernah bisa berhenti memikirkan ekspektasi dan ketidakpuasan.

Aku bertanya-tanya apa yang membentuk kepribadianku sampai aku jadi kaya gini. Padahal, seingatku aku dibesarkan dengan cara biasa seperti orang-orang pada umumnya. Tapi, pasti ada faktor kunci yang bikin aku selalu membenci diri sendiri. Apa? 

Aku. Pengen. Reset.

Advertisements

Keep in Touch

Kalau dihitung-hitung, jumlah teman sekolah yang masih sering kuhubungi dan nggak canggung bisa dihitung dengan sebelah tangan. 

Padahal, dulu temanku banyak. Waktu SD, rasanya aku akrab dengan semua orang. Teman cewek ataupun teman cowok. Teman sekelas ataupun teman kelas sebelah. Begitu lulus SD, aku masih sering main sama teman-teman yang masuk ke SMP yang sama, bahkan ke sekolah pun sering bareng. Sampai akhirnya ketika kami mulai akrab dengan teman sekelas masing-masing dan mulai berjalan sendiri-sendiri. Sekarang aku bahkan nggak yakin teman-teman SD-ku masih kenal sama aku saking udah nggak pernahnya ngumpul.

Di SMP juga temanku lumayan banyak. Walaupun sempat selek sama beberapa orang, tapi karena kita sekelas selama tiga tahun, gimanapun juga pasti dekat. Bahkan waktu SMP aku punya semacam “geng” gitu yang akrab banget. Sekarang, jujur aja dari “geng” itu, cuma satu orang yang aku masih akrab dengannya dan nggak canggung waktu ngobrol.

Dari masa-masa setelah UN, masa-masa libur peralihan SMP-SMA itu, kami sering banget ngumpul. Aku ingat, waktu itu aku dan si A nyaris tiap sore keliling kota naik motor. Ngapain? Ya cerita macam-macam. Ngegosipin teman-teman di sepanjang jalan. Ketika akhirnya si A melanjutkan SMA di luar kota, kami masih sering kontak-kontakan. Nyaris tiap hari pulang sekolah aku dan A teleponan, cerita tentang kehidupan sekolah masing-masing. Tentang teman-teman sekelas, tentang gebetan, pokoknya macam-macam, sampai aku bahkan nge-add Facebook gebetan dan mantannya dia itu. Nggak tahu gimana awalnya, kebiasaan itu kemudian berhenti. Nggak tahu kapan.

Terakhir kali aku ngumpul sama teman-teman SMP itu tahun lalu, waktu bukber. Buatku, entah kenapa rasanya asing. Rasanya kaya kembali ke hari pertama masuk SMP, kaya berusaha kenal lagi sama orang-orang. Rasanya canggung banget untuk ngobrol. Sampai-sampai aku berusaha mengingat-ingat dulu tuh kita ngobrolin apa sih, kok sampai bisa deket. 

Iya, mereka masih rame. Iya, semua bercandaan, ceng-cengan zaman SMP itu masih lucu ketika diungkit sekarang. Tapi enggak tahu kenapa, I just feel like I don’t belong there?

Masuk ke zaman SMA. Kelas 10-ku adalah awal yang sangat baik untuk memulai kehidupan SMA. Semua orang menyenangkan. Aku yang biasanya butuh waktu satu semester untuk akrab dengan teman sekelas, waktu itu rasanya cuma butuh satu-dua bulan. Folder foto-foto SMA di laptopku, lebih dari setengahnya berasal dari kelas 10. Aku punya “geng” lagi dan aku juga punya beberapa teman akrab diluar “geng” itu.

Ah ya, misalnya si B. Dia ini dulunya pendiam dan pemalu, padahal ganteng kearab-araban gitu. Kalau di kelas suka nunduk tidur di meja, atau kalau diajak ngobrol kadang suka cengengesan doang. Si B ini duduk di sebelahku. Nggak semeja, tapi berseberangan. Dari situ kita jadi sering ngobrol, nggak ingat juga ngobrolin apa. Mungkin karena aku juga akrab dengan teman si B yang berasal dari SMP yang sama. Setelah itu, ternyata si B suka sama salah satu teman se-“geng”-ku dan dia sering banget curhat ke aku tentang perasaannya buat temanku itu. Seperti yang sudah-sudah, aku juga nggak ingat gimana aku dan B berhenti kontakan, bahkan berhenti saling sapa. 

Belum lagi teman-teman dari zaman IPS. Teman-teman makan durian bareng di sekolah sore-sore. Teman-teman bakar ayam ketika kelas kita menang lomba band pas pensi. Teman-teman cabut ke kantin bareng karena waktu itu kelasnya bau terkontaminasi limbah pabrik tahu. Teman-teman keluyuran ke danau, ke kebun teh. Teman-teman renang bareng tiap hari Minggu. Teman pulang sekolah bareng naik bendi, atau jalan kaki rame-rame trus jajan pisang coklat belakang masjid depan rumahku.

Sekarang, kalau ketemu lagi rasanya canggung banget. Aku merasa asing dan berada diantara mereka ternyata entah kenapa bikin aku merasa nggak nyaman. Benar-benar seperti bertemu orang baru. Terakhir aku ikut ngumpul SMA itu mungkin tiga tahun lalu? Setelah itu ya sekedar sapa aja kalau ketemu di jalan atau di minimarket. 

What makes me high key sad is they used to told me everything but now when there’s major change in their lives I only know it from their Instagram updates.

Kadang aku mengevaluasi diri, apa aku ya, yang menarik diri dari mereka dan memutuskan kontak? Dari pesan yang biasanya segera dibalas, kemudian yang dibalas setengah jam kemudian, sampai yang nggak dibalas lagi dan akhirnya pesan itu berhenti?

Apa aku yang mulai berhenti mengucapkan selamat ulang tahun, selamat tahun baru, selamat puasa, selamat lebaran? Apakah aku yang berhenti peduli? Mungkinkah aku yang berhenti bertanya apa kabar dan nggak tahu gimana melanjutkan obrolan?

Tahun lalu, seorang teman SMA, si C, seringkali meneleponku tiba-tiba. Menanyakan kabarku, kabar skripsiku, trus cerita kalau dia mau ke luar negeri untuk presentasi. C segampang itu menghubungiku dan bercerita. Sementara aku rasanya canggung sekali untuk menelepon si C. Enggak tahu mau cerita apa. Takut C sedang sibuk dan aku ganggu. Takut C sedang stres dengan hidupnya sendiri dan ceritaku yang juga lagi stres bikin dia tambah stres.

Teman-teman lain nggak canggung ketika harus ketemu dan ngobrol lagi. Mereka nggak ngerasa asing ketika ngumpul lagi. Entah gimana mereka selalu punya sesuatu untuk diobrolkan walaupun sekarang mereka berjalan di jalannya masing-masing.

Iya, emang aku yang nggak bisa menjaga hubungan dengan orang lain. Mungkin nggak ada yang merasa kehilangan aku dalam hidupnya, tapi aku minta maaf karena udag menghilang dari hidupmu. Emang aku yang nggak bisa menjaga orang lain untuk tetap ada dalam hidupku. 

Dan itu bikin aku sedih. 

Tentang Alien dan Dementor

Beberapa minggu yang lalu pengumuman SNMPTN, ya? Wah, cepat juga. Ternyata udah lima tahun berlalu sejak aku lulus SMA. Buat yang keterima, sukses ya! Buat yang belum berhasil, semangat buat menempuh jalur-jalur lain menuju perguruan tinggi! 

Ngomong-ngomong, aku mau cerita tentang pengalamanku waktu berjuang dapat PTN, lima tahun lalu. 

Awalnya, alhamdulillah aku dapat kesempatan ikut SNMPTN Undangan. Waktu itu, pilihan pertamaku adalah Psikologi UGM, karena dari SMP emang udah pengen banget kuliah psikologi. Tadinya pengen jadi Psikopad alias anak Psikologi Unpad. Bodohnya, aku justru baru tahu kalo yang di Unpad adalah jurusan IPA, sementara aku udah terlanjur masuk IPS karena nggak mau belajar trigonometri dan fisika hahaha. Trus pilihan kedua aku ngambil Akuntansi Unair, karena waktu itu lagi suka akuntansi dan ngasal aja gitu milih Unair. 

Sebelum benar-benar memutuskan pilihan jurusan, aku banyak ngobrol sama seorang guru BK, sebut saja Pak Ar. Waktu itu, dia meragukan pilihanku karena jalur undangan itu juga mengandalkan reputasi alumni. Sementara di dua kampus pilihanku nggak ada alumni dari SMA kami. Aku ingat, waktu itu aku keukeuh dan bilang, “Siapa tahu saya bisa jadi alumni yang pertama di sana, pak!” dan Pak Ar akhirnya cuma bilang, “Terserah sih. Bapak cuma takut kamu kecewa kalau nanti nggak lulus,”

“Nggak apa-apa, pak. Kan yang penting saya udah nyoba,” kataku yakin. 

Beberapa hari kemudian, guru BK yang lain, ibu-ibu yang sudah cukup berumur berinisial Bu Al, yang di belakangnya suka disebut sebagai Bu Alien, mengumpulkan anak-anak yang terdaftar untuk jalur undangan. Dia disebut Alien karena galak dan nyebelin minta ampun. 

Trus, dia menanyakan jurusan pilihan setiap anak. Waktu kusebutkan pilihanku, dengan sengit dia bilang, “Emang kamu yakin bisa diterima di situ? Ganti aja pilihannya!” 

Laaah aku kesal. Aku masih ingat mukanya yang galak dan menyebalkan. Tapi sarannya nggak kuturuti karena kan bukan dia yang mau bayarin sekolahku. Suka-suka dong~

Pada akhirnya, emang aku nggak lulus jalur undangan sih. Tapi ketidaklulusan itu kemudian memotivasiku untuk bisa lulus di jalur tulis. Aku ingat banget, sebulan sebelum SNMPTN Tertulis, tiap pulang bimbel aku belajar lagi pake buku-buku latihan soal. Tiap hari aku ngerjain soal-soal TPA, karena penting dan cukup menyenangkan. Akhirnya aku pun berhasil lulus di Ilkom Unpad, pilihan kedua setelah tetap memilih Psikologi UGM sebagai pilihan pertama. 

Dementor. Sumber: Harry Potter Wikia

Kembali ke hari ini, aku masih berjuang untuk bisa lulus dari (yang katanya) “Sekolah Ilmu Komunikasi Terbaik di Indonesia” ini. Kali ini, aku kembali bertemu dengan sosok yang kurang lebih sama dengan Bu Alien–Bu Dementor. Julukan ini secara kurang ajar kuberi padanya karena layaknya Dementor di dunia Harry Potter, dia menghisap kebahagiaan banyak orang. 

Udah sih, aku udah nggak akan menuliskan kesuraman yang dibawanya padaku karena alhamdulillah, masa-masa melt down yang itu sudah lewat dan aku udah mulai bisa move on dengan kehidupan dan skripsiku. 

Cuma ya, kadang-kadang aku kepikiran kenapa dalam lima tahun aku mengalami banyak perubahan kepribadian. Kalau sekarang aku mengingat ceritaku dengan Bu Alien, aku kagum pada diriku di masa lalu. Aku kagum pada aku yang berusia 16 tahun, berpendirian teguh, dan keras memperjuangkan apa yang dia mau. Aku kagum pada aku yang dulu, yang nggak peduli omongan orang lain selama aku nggak merugikan mereka. Aku kagum pada masa dimana aku cuek dan berani mempertaruhkan risiko. Aku kagum pada aku yang percaya diri, percaya pada kemampuanku dan berani untuk membuktikannya. 

Tadi siang, aku ketemu seorang teman yang waktu itu usmas bareng dengan penguji Bu Dementor. Dia sedang mengurus syarat-syarat sidang akhir, sementara aku masih luntang-lantung dengan Bab 3. Dia inilah yang dulu akhirnya bikin aku tetap mengumpulkan revisi usmas, padahal awalnya aku udah mau nyerah aja. 

“Oh, lo jadi lanjutin yang kemarin?” tanyanya. 

“Iya, hehe,” jawabku nyengir. 

“Tuh kan, kemarin tuh gue sama yang lain heran kenapa sih lo nggak mau lanjut. ‘Anjir, si Cendi kenapa nggak mau ngumpulin.’ Orang gue sama si I juga dibikin down kan, sama dia. Tapi kita masih memperjuangkan. Lah lo malah udah nyerah duluan,” cerocosnya. 

Aku cuma mesem-mesem. 

Nggak tahu ya, apa waktu itu emang faktor PMS, atau sekarang aku emang mengalami degradasi jadi pribadi yang lemah dan nggak punya semangat juang. Waktu itu aku bahkan galau sampai lebih dari empat bulan. Sebenarnya sekarang masih sering galau sih, cuma udah nggak separah dulu yang bikin pengen banget mencet exit button. Sejak nelpon Subau sambil menangis ria, aku udah mulai semangat lagi. Mulai berusaha berdiri lagi pelan-pelan. 

Sekarang tiap omongan Bu Dementor kembali mengusik pikiranku, aku selalu berusaha membuangnya pakai ingatan-ingatan bahagia. Biar bisa mengeluarkan patronus untuk menjagaku tetap waras. 

Ngomong-ngomong patronus, menurut situs Pottermore patronus-ku adalah “Mongrel Dog”. 

Ummm… Itu jenis anjing apa, ya? 

Flowers For Strangers

Kalau ada survei untuk kuis “Family 100” dengan pertanyaan “Hadiah apa yang diberikan kepada seseorang saat wisuda?” aku yakin hasil survei nomor satu adalah “bunga”. 

Tiap ada wisudaan, di pinggir jalan sekitaran kampus pasti bertebaran penjual bunga, baik yang asli maupun yang artifisial dari kertas atau kain felt. Ada juga yang jual boneka, balon, cotton candy yang dibentuk karakter, atau buket snack–tapi yang paling diminati tetap saja buket kembang. Apa filosofinya? Nggak tahu. 

Mengikuti kebiasaan memberi kembang ini, aku juga ikutan mencoba bikin bunga kertas sendiri dengan lolipop sebagai intinya. Nantilah, aku bakal bikin satu tulisan tersendiri buat kado wisuda gelombang ini. Jadi ceritanya, aku bikin bunga itu untuk delapan orang.

Ternyata tadi, bungaku nyisa satu karena yang mau dikasih bunga malah menghilang nggak tau ada di mana. Berhubung capek dan males nyari, awalnya bunga itu aku kasih ke Firda aja. Tapi kemudian sebuah ide muncul di kepalaku yang doyan bermain-main. 

“Aku tantang kamu buat ngasih bunga ini ke stranger, Fir,”

“Oke!” kata Firda semangat. 

Awalnya, kami menentukan target dengan memutar telunjuk di langit, bilang “stop”, dan harus ngasih bunga ke siapapun yang akhirnya ketunjuk. Tapi, berhubung kami berdiri di dekat anak-anak jurnal yang notabene nggak asing-asing amat, akhirnya diputuskan kalau bunga ini bakal dikasih ke orang yang cuma dapat bunga sedikit. 

“Kali bikin dia bahagia,” kataku. 

Maka, mulailah kami mencari target untuk dikasih bunga. Susah ternyata, karena hampir semua orang bawa banyak bunga, dan ngerasa kagok kalo ngasih ke orang yang lagi ngumpul sama temannya. 

Sampai akhirnya, lewatlah seorang cowok yang cuma bawa satu atau dua batang bunga. “Kasih ke cowok itu aja, Fir!”

Kocaknya, si Firda lari-lari ngejar cowok itu karena jalannya cepet banget. Pas udah dekat, bahu si cowok dicolek, dikasih bunga, trus si Firda lari sambil ketawa. Aku juga ikut lari dan kita ketawa sampai bengek. 

Ternyata pas dikasih bunga tadi, si cowok itu bilang, “Oh, jatuh ya?” aduuh pemberian kami dikira bunga jatuh! Jadilah, kami merancang skenario baru untuk dikatakan sembari memberi bunga seperti, “Eehhh Fadilaah! Selamat yaaa!” tentu saja Fadilah adalah nama random yang disebutkan, nggak peduli siapa nama asli penerima bunga. 

Saking bersemangatnya dengan skenario itu, kami bela-belain beli bunga setangkai lagi. Mawar putih yang gocengan itu. Kali ini, aku yang harus menyerahkan bunganya. 

“Harus kasih ke cowok ya!” kata Firda. Aku deg-degan karena bersemangat sekaligus takut sama rasa malu.

Cukup lama kami mencari cowok dengan kriteria kaya tadi. Sekalinya ketemu, aku bersiap dan mengikuti cowok itu. Pas aku mau nyolek bahunya, eh tiba-tiba dia disamperin temennya. Aku langsung balik kanan dan kabur hahaha. 

Nggak lama, ada lagi cowok yang jalan sendirian nggak bawa apa-apa. Cowok itu kukejar, kucolek bahunya, dan menyerahkan bunga sambil bilang, “Selamat, ya!” dan dijawab “Iya,” lalu aku balik kanan dan lari ngakak. 

Daaaaannn ternyata………. Itu adalah cowok yang sama dengan cowok pertama tadi. Ai kamu ngapain mondar-mandir sendirian? 

Sepanjang sore kami ngakak membayangkan apa yang dipikirkan cowok itu dapat bunga dari dua cewek random. Apakah dia pikir kami juniornya? Apakah dia akan geer karena tadi itu kaya adegan di komik? Atau dia segera lupa dan biasa aja? 

Pas habis sholat magrib, aku menemukan setangkai bunga kertas warna hijau yang mungkin jatuh dari buket seseorang. Bunga itu kemudan aku taro di sebuah motor yang sedang parkir. Biar pemiliknya merasa punya pengagum rahasia gitu.

Yasss, ini menyenangkan banget dan aku pengen ngulang lagi! 

Kelucuan Hidup: Jakarta dan Hari yang (Kebetulan) Sial

Selama ini hidupku memang penuh kelucuan. Semua hal yang ingin aku lakukan, nggak pernah ada yang berjalan mulus. Selama ini, kelucuan hidup yang ada masih bisa kutolerir. Misalnya, bolak-balik memfotokopi sesuatu karena sekip, atau waktu otakku memproses Cikapundung Riverspot sebagai Teras Cikapundung, lalu bela-belain naik angkot ke sana untuk menyadari kalau aku salah tempat.

Kelucuan hidup lainnya yang benar-benar bikin aku nggak tau mau bereaksi gimana adalah waktu mudik tahun lalu. Waktu itu, aku lagi di bus Damri Bogor-Bandara Soekarno-Hatta ketika di-sms untuk usmas ESOK HARINYA. Yes, di-sms-nya H-1 setelah aku gabut nungguin lama banget di Nangor. Ketika kukira usmas selanjutnya bakal abis lebaran, ternyata malah minggu depannya. Hahaha lawak. 

Nah, dari semua kelucuan hidup yang pernah aku alami, akhirnya ada satu kejadian yang bikin aku pengen nangis dan (waktu itu) nggak bisa ikut ketawa sama kehidupan karena buatku ini udah nggak lucu. 

Minggu lalu akhirnya aku wawancara pra-riset ke Jakarta setelah tertunda sekian bulan karena aku ketakutan nggak jelas. Setelah belasan kali berkirim e-mail, akhirnya disepakati aku akan wawancara hari Rabu (8/3/17) jam 14.00 di redaksi Majalah Bobo, Kebon Jeruk sana. 

Aku pun nyari-nyari gimana caranya ke Kebon Jeruk. Pas liat di Google Maps, ternyata ada pool travel Baraya cuma lima menit jalan kaki dari Kompas Gramedia Building, kantornya si Bobo. Alternatif lain, aku bisa naik bus ke Lebak Bulus, terus lanjut naik busway ke Kebon Jeruk. 

Waktu aku nelpon untuk nanyain jadwal sekaligus booking, telponnya nggak pernah diangkat. Jadilah, aku googling lagi dan tahu kalau ada keberangkatan 10.30 ke Kebon Jeruk. Dengan asumsi perjalanan selama 3 jam, menurutku jam ini pas. Lalu kupikir nanti tinggal datang aja ke pool-nya sejam sebelum keberangkatan. Biasanya sih selalu bisa kalau gitu.

Pola tidur yang terganggu lagi bikin aku cuma tidur sekitar empat jam malam itu. Abis subuh, aku nggak berani tidur lagi karena takut kebablasan. Jam 8, aku jalan dari kosan menuju pool travel Kiswah yang cuma sepelemparan batu dari kosanku. Soalnya, pool Baraya yang aku tuju ada di Pasteur, jadi mending naik travel aja daripada naik Damri+angkot. Toh ongkosnya sama sengan waktu tempuh setengahnya. 

Aku sampai di Bandung sekitar jam 9.30 dan langsung menuju pool Baraya.

“A, kalo ke Kebon Jeruk ada?” tanyaku. 

“Hmm…” si Aa ngecek komputer. “Adanya yang jam 15.00, mbak. Yang jam 10.30 nggak berangkat,” 

Doeeengg!!! Aku langsung panik. Nggak tau kenapa waktu itu aku malah nggak mikir untuk naik yang jurusan lain, ke Slipi misalnya, toh sama-sama Jakarta Barat. Otakku yang panik langsung memesan Gojek untuk ke terminal Leuwi Panjang karena aku akan naik bus aja. 

Entah karena panik dan buru-buru atau gimana, aku ngerasa abang Gojeknya lamaaa banget apalagi di seberang sana jalannya lumayan macet. Waktu itu udah hampir jam 10.

Sampai di Leuwi Panjang sekitar jam 10.30, ternyata busnya baru berangkat sekitar 2o menit kemudian. Aku benar-benar panik karena udah nggak mungkin keburu untuk sampai jam 14.00. Jadilah, aku mengirim e-mail untuk minta maaf karena aku terlambat dan minta mengundur wawancara jadi jam 15.00. Mbak yang akan kuwawancara mengiyakan. 

Sepanjang jalan aku cuma bengong mikirin, aku ngapain sih sampai hari ini berjalan begitu ribet? Selama ini aku ke Jakarta, pergi pagi pulang malam, nggak pernah bermasalah. Padahal kali ini aku nggak berusaha untuk hemat (yang biasanya jadi awal keborosan tak terencana). Padahal kali ini aku berusaha untuk nggak overthinking karena aku menghindari stres dan depresi. Padahal tadi udah mikir pengen langsung tidur di travel. 

Aku ketiduran mungkin sekitar satu jam ketika mendapati bus berjalan selangkah-selangkah di Karawang. Katanya sih macet karena ada truk yang terbakar atau terguling gitu, aku nggak inget. Waktu itu udah jam dua lebih, jadi aku mulai menitikkan air mata karena nggak mungkin sampai di Jakarta jam tiga. 

Ini memalukan dan nggak profesional banget. Selama ini, walaupun aku nyasar, alhamdulillah aku selalu sampai tepat waktu. Telat pun nggak sampai 15 menit. Tapi ini, yang harus dijadwalkan ulang begini, asli ini pengalaman pertama. 

Toh air mataku nggak akan bikin lalu lintas mendadak lancar, atau aku bisa berteleportasi. Jadi, sembari menunggu balasan e-mail permintaan maaf kedua sekaligus permintaan jadwal ulang, aku memikirkan malam ini akan hinggap di mana. Ya kali langsung pulang lagi bo’, aku udah capek fisik mental. 

Ternyata orang-orang yang kuhubungi untuk numpang menginap lagi pada nggak bisa diinapi. Lagi-lagi semesta menertawakanku. Jadilah, aku memutuskan untuk ke Bogor aja, nginap di rumah Kacang. Lagian wawancaraku diundur jadi besoknya jam 14.00. 

Aku sampai di Jakarta, turun di Cilandak, sekitar jam 16.30 dan langsung mencari tempat sholat. Satu-satunya tempat yang terpikir olehku ada di dekat situ adalah Cilandak Mall yang sekarang udah jadi Transmart. Aku ingat karena dulu pernah ke situ waktu Ibuk masih tinggal di Jakarta. 

Abis sholat, aku belanja beberapa keperluan untuk menginap. Asli aku mah emang nggak persiapan karena dari awal juga nggak niat mau nginap. Aku cuma beli tiga benda super penting dalam hidupku: deodoran, sikat gigi, dan sabun muka. Nggak apa-apa nggak ganti baju, yang penting pake deodoran. 

Abis itu aku naik angkot ke Stasiun Pasar Minggu karena nggak tau gimana caranya ke stasiun lain dan udah nggak mau mikir dan pengen berhemat setelah seratus ribu lebih terbuang hanya untuk pergi, padahal bajet segitu bisa untuk ongkos PP. 

Sampai stasiun sekitar jam 17.30. Aku tau sih ini rush hour dan keretanya pasti penuh banget sama orang-orang pulang kerja. Tapi pikirku, ya udahlah, mau nunggu di mana lagi. Begitu masuk ke peron sebenarnya udah ada satu kereta tujuan Bogor. Tapi ngeliatnya penuh banget, aku jadi lemes dan memutuskan untuk nunggu kereta selanjutnya beberapa menit kemudian. 

Begitu kereta datang, aku ngintilin dua ibu-ibu supaya bisa ikut nyelip di keramaian. Ya Allah, ini pertama kali banget aku naik kereta yang penuh sesak, yang samar-samar tercium bau apek keringat, yang sender-senderan sama bapak-bapak (atau lebih tepatnya dia yang menyandarkan setengah hidupnya ke punggungku. Berat). 

Ya Allah, aku nggak mau tinggal di Jakarta… 

Malamnya pun aku masih nggak bisa tidur dengan benar karena sehabis hujan, udara kembali panas dan lembab. Aku cuma tidur sekitar satu atau dua jam waktu hujan, kebangun tengah malam, dan nggak bisa tidur lagi sampai sekitar setengah tiga.

Pas wawancara, alhamdulillah berjalan lancar dan aku dapat semua pernyataan yang aku mau. Pulangnya, aku dan Kacang naik busway ke Lebak Bulus, jalan kaki lagi ke Carrefour terdekat karena cuma di situ yang paling  mungkin ada mushola terdekat, terus Kacang gegayaan ngajak makan pizza dulu karena, “Adek kan cuma hedon kalau ada mbak,” Mantap, dik! 

Untungnya aku nggak nungguin magrib dulu untuk pulang karena aku naik bus sekitar jam 17.30 dan baru nyampe Nangor jam 23.30! Ampuuun! 

Emang sih, ketika aku menceritakan kelucuan ini ke teman-temanku, ketika aku menuliskan cerita ini, semua kejadian minggu lalu terdengar nggak begitu buruk. Tapi yah, mungkin pelajarannya adalah: (1) menginaplah sebelum kelucuan hidup menghantammu tepat di wajah; (2) overthinking sebenarnya membuatmu waspada dan terhindar dari kelucuan hidup (walaupun sedikit banyak itu membunuhmu). 

Semoga setelah ini semuanya baik-baik saja. 

Sumber: instagram.com/thegoodquote

Di Gudang Buku

Tadi pagi Azul ngajak aku ke bazaar buku di gudang Gramedia. Iya, gudang bukunya Gramedia. Aku juga baru tahu ada tempat itu di Jl. Caringin. Padahal udah beberapa kali lewat sana tiap ke Cigondewah, tapi nggak pernah ngeh. Soalnya nggak ada tulisannya.

Kami berangkat dari Nangor sekitar jam 8 naik motor. Hal-hal cheesy di jalanan yang kami temui cuma setopan Kircon yang terkenal akan durasi dahsyatnya, serta macet di Jalan Kopo. Biasa banget. 

Apa yang bikin bazaar ini menarik adalah, semua buku yang dijual cuma punya tiga harga: 10.000 untuk buku tebal, 5.000 untuk buku tipis, atau 5.000/3 komik. Jadi, dengan keyakinan penuh bazaar ini akan sangat ramai dibuatlah sistem yang cukup baik menurutku.

Setiap jamnya, mulai jam 9 pagi, akan dibagikan nomor antrean. Per giliran yang boleh masuk cuma 100 orang yang dikasih waktu belanja satu jam. Aku dan Azul dapat giliran jam 10. Lalu ada tag merah dan tag biru yang membedakan giliran. Jadi, kalau lagi gilirannya orang-orang bertag biru, bakal ketahuan kalau ada orang bertag merah yang diam-diam keasyikan ngubek-ngubek buku. Dan beneran ditegur sama aa penjaganya. Si orang itu disuruh bayar atau ambil nomor antrean lagi kalau masih belum puas. 

Don’t expect too much. Kata Dian kepada Sumi. Kata Sumi kepadaku. Sebelum ke sini emang aku nggak secara spesifik pengen mencari buku tertentu. Kalau ketemu sih mau beliin buku buat bayi-bayi di rumah. Kalo nggak ketemu ya udah, pengen tau aja gitu. 

Di dalam, semua buku bertumpuk-tumpun nggak keruan. Ada yang di rak, ada yang di kotak pendek deng tinggi tumpukan setinggi setengah meter. Nggak ada penanda rak atau kotak ini menyimpan buku apa. Satu kotak bisa berisi komik, resep masakan, dan buku motivasi sekaligus. Kalau niat, ya silahkan menggali hingga ke dasar. Seorang ibu gemuk berbaju putih yang di awal masuk ada di sebelahku menggerus tiap tumpukan penuh semangat.

Rasanya kaya lagi belanja di Gedebage versi buku! Ada banyak orang yang belanja bawa kardus. Mungkin untuk taman bacaan atau semacamnya. 

Sedihnya, buku-buku yang berserakan itu jadi kelihatan nggak berharga. Yah, emang harganya murah dan kebanyakan buku terbitan bertahun-tahun yang lalu sih. Tapi kan tetap aja itu buku, karya orang! Masa dibiarkan terinjak-injak, bahkan sampai sobek 😦

Meski awalnya aku nggak menemukan buku yang menarik. Tapi ternyata pulang-pulang aku bawa belanjaan cukup banyak. Hanya dengan 40ribu! Tapi sebenarnya aku nggak begitu suka sih berbelanja absurd seperti ini. Kaya untung-untungan gitu padahal aku butuh kepastian hehe. 

Aku berhasil membawa pulang:

Sebuah komik Amerika yang kuambil secara random;

Sebuah komik seri tokoh dunia yang dulu pernah ku koleksi sewaktu SD tapi kemudian hilang. Ini mau kukasih ke bayi-bayi;

Sebuah komik karya komikus lokal yang ku wawancara tahun lalu:

Sebuah komik bergambar anjing yang kubeli karena terlihat lucu; 

Sebuah komik serial cantik yang kubeli bukan hanya karena rindu, tapi karena ada gambar kucingnya;

Dua buah novel karya dua novelis yang pernah kubaca beberapa karyanya;

Dan sebuah novel yang sampulnya menarik. 

Dokumentasi Tulisan

Aku benar-benar berterima kasih pada para manusia gua karena merekalah yang pertama kali memperkenalkan tulisan sebagai bentuk dokumentasi. Yap, tulisan adalah bentuk dokumentasi favoritku, terutama tulisan tangan. There’s something in handwriting, semacam mereka itu punya emosi atau jiwa tersendiri gitu. Dari dulu aku pengen banget dikasih kado yang pake tulisan tangan gitu, biar personal aja rasanya.

Makanya mungkin kenapa orang suka banget menerima surat cinta, karena ada perasaan yang disampaikan dari tulisan itu. Bukan kata-katanya, tapi setiap huruf yang digoreskan di sana. Biar tulisannya jelek, asal yang nulis si dia mah juga senang kan bacanya, ya. Hazyekk.

Misalnya aja, di cermin lemari orang tuaku, ada tulisan tangan bapak yang berbunyi, “Just wanna say I love you…” yang ditulis dengan spidol hijau. Menurutku, itu adalah tulisan tangan bapak yang paling bagus karena pada dasarnya tulisan bapakku itu seperti cakar ayam. Kelihatannya romantis dan ditulis untuk mamaku ya? Padahal, setelah belasan tahun hidup dengan kepercayaan itu, belakangan aku baru tahu itu cuma lirik lagu yang iseng beliau tulis di cermin. Ah, classic bapak.

Sejak kelas 4 SD, aku mulai terbiasa menulis diary. Aku lupa darimana aku dapat referensi untuk mulai menulis diary. Mungkin dari komik atau cerpen di Bobo.Atau dari buku harian Molen–kakak mamaku. Aku menemukan buku harian itu di rumah, waktu SD. Ada banyak hal yang dicatat setiap harinya dalam jurnal tahun 1995 bersampul cokelat itu, tapi cuma dua peristiwa di sana yang isinya kuingat sampai sekarang:

Yang pertama adalah catatan bertanggal 18 Mei. Hari kelahiranku. Dari jurnal itulah aku mengetahui kalau aku emang udah nyusahin sejak lahir. Molen merekam peristiwa hari itu secara lengkap, mulai dari ketuban yang sudah pecah sejak berjam-jam sebelum aku lahir, aku yang “nyangkut”, sampai akhirnya aku lahir dengan bantuan vakum.

Yang kedua adalah halaman bertanggal 20 Desember. Hari ketika Oma meninggal. Molen lagi-lagi mencatat peristiwa itu dengan lengkap, sehingga aku tahu bahwa di saat terakhirnya Oma memanggil nama cucu terakhir yang dikenalnya, “Cendikia…..”

Sejak itu aku merasa kalau menulis di diary itu adalah sebuah kebiasaan yang keren. Waktu SD, isi diaryku selalu dimulai dengan “Dear Diary,” lalu dilanjutkan dengan cerita semacam “Hari ini pelajaran matematika susah banget” atau “aku berantem sama Dian tapi Ringga ngebelain” atau “Hari ini gigi bawahku copot trus dibuang ke atap sama temanku”. Yah, pokoknya cerita sehari-hari gitulah. Aku belum menggunakan diary sebagai wadah untuk berkeluh-kesah dan menuangkan perasaan. Sayangnya, diary ini menghilang entah kemana. Mungkin udah jadi sampah, secara harfiah.

Masuk SMP, aku ganti diary. Kali ini bukunya berukuran lebih besar dan lebih tebal. Dalam diary SMP ini, aku masih memperlakukan diary-ku seolah dia benda hidup (tapi mati) yang siap menampung semua ceritaku. Mulai dari pengalaman hari ini sampai semua emosi-emosi terpendam. Dalam setiap curhatanku, aku selalu menuliskan “kenapa ya, ry?” atau “tadi si anu begini, ry” atau “coba tebak, ry?!” trus semua curhatannya seolah aku ini anak ABG paling menderita dan merana sedunia. Ahaha alay pisan lah. Diary ini masih aku simpan sampai sekarang dan kalau aku baca lagi, aku langsung mengetuk jidat tiga kali lalu dipindahkan ke lantai sambil membatin, “najong”.

Waktu SMA, aku udah berhenti memperlakukan diary sebagai makhluk hidup. Diary SMA-ku isinya curhat galau sampah nggak jelas. Juga coretan-coretan. Dan remukan. Bahkan pernah aku nulis diary sambil nangis, trus air matanya netes ke buku dan aku lingkari dengan keterangan “bekas air mata 23/9 (23 September)” haha kocaklah. Diary ini juga masih aku simpan dan wujudnya udah kaya Wreck This Journal. Emosional banget pokoknya. Kalau yang ini mah pas dibaca cuma bikin nyengir sambil ber-“ehehe” ria.

Begitu kuliah, aku udah nggak nulis diary. Sempat sih, kemarin mau mendokumentasikan seluruh kegiatan KKN dalam bentuk diary. Aku bahkan udah beli (dan bawa ke Pasirnagara) bukunya. Cakep banget. Sampulnya hard cover warna biru polos. Tebalnya udah kuperkirakan pasti cukup untuk 30 hari. Saking terobsesinya, aku bela-belain nyari buku polos kaya gini kemana-mana! Trus aku merencanakan diary ini bakal diisi sama ceritaku dan foto-foto. Aku bahkan udah memikirkan mau bikin gaya nulisnya kaya apa! Referensinya The Diary of A Wimpy Kid bangetlah.

Sayangnya, diary ini cuma kutuliskan sampai hari keempat. Soalnya, aku nggak menemukan waktu aku bisa duduk sendirian dan menulis. Yak, rumah KKN itu selalu berisi manusia. Nggak pernah sepi! Sekalinya bisa sendirian di kamar, ndilalah ada yang masuk. Mau nulis di masjid, hmm waktu itu nggak kepikiran.

Pernah aku mencoba bertahan untuk nulis walaupun ada orang lain di ruangan yang sama. Rasanya nggak nyaman banget. Apalagi si teman ini melihatku dengan penuh rasa ingin tahu dan bertanya, “Apaan tuh? Kok nggak nulis di buku biru (yang dari kampus)?”. Pada akhirnya, cerita KKN-ku cuma terekam dalam folder 10GB berisi foto dan video. Nggak ada diary. Nggak ada postingan blog. Trus kemana cerita-cerita yang nggak terekam kamera? Mungkin aku udah lupa.

Semua curhatan-curhatan senang, galau, marah pas kuliah aku tuliskan dimana-mana. Di kertas polos, di bagian belakang binder, di kertas bekas ujian, di bungkus gorengan, di laptop, di blog, tersebar di penjuru dunia. Yang berbentuk kertas masih aku simpan, walaupun sejatinya aku lupa ada di mana. Semoga bisa kutemukan waktu nanti mau pindah dari kosan ini.

Balik lagi, aku suka dokumentasi berbentuk tulisan karena itulah ingatan sebenarnya. Maksudku, misalnya lagi liburan atau kumpul sama teman-teman. Nggak ada kan, fotografer yang ngikutin sepanjang hari dan merekam semua hal—mulai dari muka cengo sampai ketawa lepas. Aku bukan Kate Middleton, plis. Dapat foto candid juga pasti jarang banget. Nah, foto akhirnya cuma merekam hal-hal yang udah dipersiapkan. Entah itu selfie atau foto yang dipotret bergantian. Ketika melihat foto itu lagi, kita pasti nge-recall memori dan dibutuhkan kata-kata untuk mengingat kembali semua keseruan dibalik foto itu.

Kaya misalnya, aku sampai sekarang masih suka baca postinganku waktu ke Malang kemarin. Liatin foto-foto kami yang ribuan itu memang menyenangkan. Tapi foto-foto itu nggak cukup bikin aku ketawa-ketawa. Pas baca blog itulah, aku ketawa lagi mengingat kami yang sedikit nyasar waktu pulang dari Batu. Kamera nggak merekam peristiwa itu.

Atau cerita waktu ke Jogja yang dituliskan Mumut dan Firda (ayo lanjutin!). Kebetulan waktu itu produksi foto kami nggak sebanyak waktu ke Malang. Tapi, dari postingan mereka itu aku ngakak lagi ingat gimana hebohnya kami memindahkan barang-barang, bantal, bahkan air mineral. Juga perasaan kesal ke dewan juri waktu itu. Tulisan merekam semua perasaan, emosi, dan sudut pandang yang nggak bisa direkam kamera. Karena sekali lagi, nggak ada paparazzi yang berminat mengikuti kehidupan pribadiku.

Satu lagi yang bikin dokumentasi tulisan adalah bentuk dokumentasi terbaik, yaitu nulis itu gampang! Haha maksudku bukan nulis beneran kaya nulis sastra gitu ya. Maksudku, kalau mau menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, ya tinggal ditulis (atau diketik). Ambil kertas (atau laptop dan sebangsanya), ambil pulpen atau pensil dan karib-kerabatnya, trus tinggal tulis. Beda dengan foto yang buat motretnya aja butuh waktu minimal buat nyari fokus. Apalagi video.

Apapun bentuknya, yang namanya dokumentasi memang penting. Dokumentasi bisa jadi hiburan sederhana kalau lagi sedih. Dokumentasi juga bisa jadi suvenir gratis setelah berkunjung ke tempat baru. Pokoknya, selagi sempat, selagi mampu, bikin dokumentasi yang banyak!

Terapi Menulis

Kemarin-kemarin waktu lagi ngumpul, seorang teman bilang kalau dia pengen bikin blog. “Tapi yang isinya kaya opini-opini gitu, bukan curhatan kaya punya Kiyur,”. Oh ya, Kiyur itu aku.

Hehehe emang sih blogku isinya kebanyakan curhatan sampah nggak jelas. Kalaupun ada yang sedikit bermanfaat, mungkin tulisan tentang perjalanan liburanku (yang nggak banyak) dan juga resep masakan coba-coba yang aku bikin di kosan. Sisanya yah paling pendapatku tentang fenomena yang aku lihat di jalanan atau di media sosial, juga curhatan galau-galau cabe. Yang terakhir ini rasanya mau aku private-in aja deh karena terlalu memalukan. Makanya, aku nggak menasbihkan diri sebagai blogger karena predikat itu hanya untuk mereka yang main di blogspot blogku nggak terfokus. Predikat itu lebih pantas disandang mereka yang punya blog terfokus pada suatu hal dan bertanggung jawab untuk membesarkannya. Sehingga lahirlah fashion blogger, beauty blogger, travel blogger, food blogger, movie blogger, lawak blogger, dan blogger-blogger “menghasilkan” lainnya.

Kemarin sempat sih agak kaget karena postingan lamaku, Sistem Perpacaran Indonesia, statistiknya sampai 500-an gitu selama beberapa hari. Wah, kenapa nih. Bot-kah? Tapi kok cuma di satu postingan doang, nggak di banyak post? Biasanya postingan ini emang laris manis sih, tapi ya nggak sampai ratusan gitu views-nya. Pokoknya kalau mengangkat cecintaan, pasti lakulah haha secara banyak cabe kan. Setelah aku telusuri, ternyata ada yang naro link postinganku itu di salah satu akun (sepertinya) seleb ask.fm. Di jawabannya itu, dia menentang habis-habisan semua pendapatku. Ih, bodo amat nggak kenal ini haha. Kan tiap orang punya pandangan masing-masing. Kaya nggak semua orang bilang kucing itu lucu. Ada juga kan yang bilang menyebalkan, bahkan mengerikan. Woles ajalah, shay.

Bagiku blog adalah tempat yang tepat untuk menuangkan semua pemikiran secara bebas, nggak saklek terikat ini-itu. Nggak terbebani harus memuaskan siapa aja. Pokoknya suka-suka banget lah. Bagiku, blog itu kaya mind palace-nya Sherlock Holmes. Tapi ya blogku jauhlah dari isi kepalanya si Sherlock yang sampai bisa dipake berantem sama Moriarty itu. Blogku ini mungkin lebih tepat disebut sebagai mind bale-bale. Sederhana, sepi, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Tempat terbaik bagiku untuk menyepi dan menenangkan diri. Sesekali kutulis sambil ngemil atau ngeteh. Kadang-kadang kopi, bisa juga cokelat atau cuma air putih. Dan cuma ada aku dan sedikit orang yang kukenal.

Bagiku, blog juga jadi tempat yang tepat untuk melarikan diri dari rasa jenuh. Misalnya, waktu lagi muak ngerjain tugas kampus, pasti aku kepikiran sesuatu untuk ditulis di blog. Setelah dituliskan, duh rasanya lega. Bisa mengutarakan pendapat yang sebenarnya nggak perlu didengar orang lain itu rasanya benar-benar menyenangkan dan melegakan. Karena itulah satu-satunya cara untuk mendiamkan otakku yang suka cerewet tanpa tahu aturan.

Blog juga jadi tempat yang tepat bagiku untuk merenung. Seperti tagline blogku, thought but never heard, aku menuliskan berbagai renunganku tentang berbagai hal di blog. Bisa shower thoughts atau pikiran-pikiran usil yang datang sebelum aku jatuh tertidur.

Belakangan, aku emang jarang sih tulis-menulis di blog. Soalnya, aku nggak begitu suka nulis lewat ponsel! Jadi, keyboard virtual di ponselku itu benar-benar keyboard yang tepat untuk digunakan kalau kamu ingin mendapat gelar raja typo. Walaupun aku yakin udah menekan tombol yang benar, tetap aja ternyata meleset. Tapi enggak aku ganti soalnya aku suka suara cetak-cetaknya waktu lagi ngetik. Aku lebih nyaman nulis di word atau notepad di laptop. Lebih enak dan lebih cepat. Sayangnya, entah kenapa wordpress suka rada susah dibuka lewat laptopku, enggak ngerti kenapa. Jadi, draft tulisanku harus dipindah dulu ke ponsel, baru dipost. Ribet, hehe.

Curah-mencurah perasaan melalui medium tulisan sebenarnya bukan pertama kali aku lakukan lewat blog. Sejak SD, aku rutin menulis diary. Waktu SD, diaryku memang isinya kegiatan yang kulalui hari itu. Dear Diary, hari ini aku makan gulai buncis. Tapi ternyata aku malah kegigit cabe rawit. Pedes…. Begitu SMP, isi diaryku mulai berubah jadi pelampiasan perasaan-perasaan yang nggak tersampaikan. Mulai dari perasaan suka, marah, kesal, ingatan tentang hal-hal lucu di sekolah, semuanya ada. Salah satu diary SMP-ku bahkan wujudnya seperti Wreck This Journal; ada bagian yang isinya coret-coretan penuh amarah, ada yang sobek, ada yang kugambar-gambar nggak penting. Emosional lah, pokoknya. Sehabis melampiaskan emosiku itu dalam bentuk tulisan, rasanya legaaaa banget. Dari yang tadinya marah jadi berkurang marahnya. Dari yang tadinya sedih jadi ngerasa biasa aja.

Dari novel Pasukan Matahari-nya Gol A Gong, aku jadi tahu kalau terapi menulis itu beneran ada. Secara umum, terapi menulis adalah terapi yang dilakukan untuk menghilangkan stress atau mengeluarkan perasaan-perasaan terpendam yang nggak bisa kita utarakan ke orang lain. Bagi sebagian orang (termasuk aku), curhat mendalam itu susah loh. Kadang kita pengennya Cuma didengerin aja curhatnya, nggak usah ditanggepin. Tapi ya namanya kalau curhat sama manusia pasti ada feedback-nya, minimal usap bahu plus ucapan klasik “sabar ya…”

Dengan terapi menulis, kita belajar untuk mengeluarkan segala emosi yang kita pendam. Konon, terapi menulis juga bisa mengurangi depresi, loh! Makanya kegiatan tulis-menulis ini jadi kegiatan yang bikin nyaman. Apalagi, menulis sebagai terapi ini nggak menuntut orang untuk menuliskan perasaannya melalui kata-kata puitis. Terserah deh pokoknya, yang penting tuliskan aja semua perasaanmu. Nggak peduli pakai gaya sastra atau bacotan amburadul, EYD-nya bener atau ambrul, struktur kalimatnya bener apa ngaco, pake tata bahasa super sopan atau segala per-anjir-dan-goblok-an, pokoknya tulisin aja! Toh, nggak ada yang namanya target pembaca. Peduli jenggot sama pendapat orang lain. Yang penting mah kitanya sembuh dari penyakit hati. Itu tujuan utamanya.

Kalau aku sih, sekarang udah nggak bikin diary lagi, soalnya udah mulai malas nulis tangan yang panjang-panjang, hehe. Lebih enak nulis di laptop, trus disimpan sendiri buat nanti dibaca-baca lagi kalau iseng.

 

(Sejatinya tulisan ini sudah ditulis sejak zaman Triassic tapi baru di-post sekarang. HEHE.)

Ceritanya Hari Ini…. 

Berhubung sudah bulan Agustus, aku berniat untuk lebih produktif. Apalagi setelah menyadari beberapa bulan belakangan hidupku tersia-siakan banget. Satu-satunya hal bermakna yang kulakukan dalam rentang waktu sejak kelar job elek dan pulang adalah ke Jogja. Ikut lomba, alhamdulillah menang, dan dapat liburan singkat, hehe. 

Jadilah, hari ini aku berniat ke perpus trus ke Cikapundung. Ke perpus cuma buat minjam buku yang alhamdulillah langsung ketemu dua buku yang aku cari. Nggak lama di perpus, aku langsung cabut ke pangdam. 

Aku naik Damri jurusan DU. Tadinya, kukira Damri bakal penuh banget, soalnya hari ini ada wisuda di DU. Ternyata, pas sampai pangdam, Damrinya relatif kosong. Baru pas di halte banyak yang naik. Bau-baunya sih pada mau ke wisudaan. Belakangan aku baru ngeh, kenapa aku nggak naik Damri Elang, trus nyambung naik Damri Leuwi Panjang – Cicaheum. Kan lebih gampang ya, aku nggak perlu jalan kaki dulu dari Braga. Tapi mungkin itulah takdirku biar ketemu sama banyak cerita hari ini. 

Aku duduk sendiri di dekat jendela. Hampir semua kursi udah terisi penuh. Di depan IPDN, naik lagi beberapa orang. Seorang bapak-bapak berbaju Bali warna merah dan berkaca mata hitam duduk di sampingku. Perawakannya mirip Raul Lemos, suaminya Krisdayanti. 

Aku pakai udah pakai earphone sejak dari pangdam. Sebelum masuk tol, si bapak berbasa-basi menanyakan tujuanku. Tapi setelahnya, beliau kaya pengen banget ngobrol gitu. Kupikir dia tipikal orang yang emang suka ngobrol gitu buat menghilangkan kejenuhan selama perjalanan di bus. 

Akhirnya aku (terpaksa) nyopot earphone karena nggak sopan kan ya, ada orang ngajak ngobrol tapi kitanya malah tutup kuping. Pas mau bayar, ndelalah si bapak malah bayarin aku! Awalnya aku nggak mau, da nggak enak kan masa dibayarin orang nggak dikenal. Maksudku, kalau bapak ini juga berasal dari Jambi atau minimal alumni Jurnal, mungkin masih oke karena adanya common denominator. Si bapak bilang, “udah gak apa-apa saya bayarin. Saya ini mau ke imigrasi. Kan kalau saya naik angkot nyambung-nyambung, ongkosnya juga sama aja kaya bayarin mbak naik bus”. Beliau ternyata dari Timor Leste. 

Sempat takut sih sebenarnya, jangan-jangan ada udang dibalik batu. Padahal ya siapa tahu emang beliau adalah orang yang sangat ramah dan baik hati. Apalagi aku lihat di dompetnya banyak duit, jadi apalah arti 7000 itu. Iya, anggaplah demikian. Nggak boleh suudzon kan yaa.

Aku turun di Cikapayang trus naik angkot ke Braga. Di dalam angkot cuma ada empat orang termasuk aku, tiga di sebelah kiri (tepat di belakanh supir) dan aku sendirian di kanan. Di depan BIP, seorang cowok naik dan duduk di sebelah kananku. 

Karena awalnya sendirian, aku cuek aja memangku ransel dengan posisi resleting menghadap kanan. Ketika si cowok itu masuk, entah kenapa aku juga cuek aja, nggak reflek mengganti posisi si tas. 

Setelah itu, nggak sengaja aku lirik kanan. Posisi ransel cowok itu menutupi mulut tasku. Deg! Jantungku lemas. Aduh, gimana nih kalo copet. Isi dompetku emang cuma dua puluh ribu. Tapi kan itu buat makan siang sama ongkos pulang. Gimana kalau dia ngambil hp? 

Akhirnya, aku menarik tasku dengan gerakan agak tiba-tiba. Waktu itu, resleting tasku udah agak terbuka. Nggak lebar sih, tapi cukup untuk memasukkan tangan dan merogoh apapun yang ada di dalamnya. Aku makin lemas, tapi berusaha pasang muka cool. Aku buka tas untuk pura-pura nyari recehan sembari ngecek semua barang yang alhamdulillah masih aman. Tas langsung kupeluk erat. 

Aku nggak tau apakah insiden resleting terbuka itu karena aku memang lupa mengancingkan resleting rapat-rapat, atau memang cowok tadi berniat jahat. Tapi yang jelas, beberapa detik kemudian dia turun di bawah JPO dekat Balai Kota. 

Insiden resleting ternyata bukan cuma itu aja. Begitu sampai Cikapundung, aku langsung menuju penjual majalah bekas di emperan trotoar PLN. Sambil duduk bersila, aku mengobrak-abrik majalah yang ada. Ransel tetap di punggung. Mungkin karena lagi sepi juga, aku nggak kepikiran buat memindahkan ransel ke depan atau ke sampingku. 

Pas mau memasukkan majalah ke tas, aku kaget lagi. Kantong laptop di tasku ini letaknya di luar, jadi punya resleting sendiri gitu. Tadi, isinya adalah laptop dan kertas-kertas fotokopian. Yang bikin kaget adalah, resletingnya udah kebuka setengah! Masalahnya, kantong laptop ini sama sekali nggak aku sentuh dari tadi. Beda dengan kantong utama yang berisi dompet, hp, dan semua perlengkapan duniawi, makanya sering dibuka dan mungkin aja nggak tertutup rapat. Tapi alhamdulillah, laptopnya masih selamat. Syukurlah, semua isi tas ini masih jadi rezekiku. 

Pulangnya aku naik Damri ke Leuwi Panjang karena mikir dari DU pasti rame banget. Di gerbang terminal, aku dihampiri aa calo elf.

“Mau ke mana neng? Garut? Tasik? Cileunyi?”

“Jatinangor, a,” jawabku sambil mempercepat langkah.

Si aa sumringah sambil menyejajarkan dirinya denganku. “Pas neng. Naik elep aja atuh yak?” 

“Nggak,  Damri aja a,” sambil ngomong gitu, kakiku kejeglug lobang. Untung nggak jatuh. Kan keki ya, udah ngejawab rada judes gitu eh malah jatuh di depan si aa. 

Aku merasa kaya Allah baik banget, tau aku lagi kere makanya cuma diingatkan lewat insiden-insiden resleting itu. Juga menyelamatkan 7000-ku, yang kemudian disulap jadi sebuah onigiri dari Indomaret Point :”)

Perpus Kampus

Kenapa sih, perpusnya Fikom Unpad nggak mengizinkan mahasiswa meminjam novel untuk dibawa pulang?

Maksudku, siapa yang bisa menghabiskan novel diatas tiga ratus halaman, dalam sekali duduk di perpustakaan yang cuma buka dari jam 8 (padahal kadang baru buka jam setengah 9) sampai jam 4 (kadang-kadang masih jam 3 lewat, lampu-lampu udah mulai dimatiin)? Tanpa ke toilet, makan siang, atau sholat? Satu-satunya novel yang pernah kuhabiskan dalam sekali duduk di perpus Fikom adalah seri Goosebumps-nya R.L. Stine. Dan itu nggak sampai tiga ratus halaman.

Oh ya, mungkin perpus tahu banyak mahasiswa brengsek yang nggak mengembalikan buku. Mungkin bukunya malah baru dikembalikan sebelum si mahasiswa lulus, itu juga karena butuh surat tanda bebas pustaka.

Sekali, aku pernah meminjam novel dari perpus kampus. Judulnya The Anatomy of Fear karya Jonathan Santlofer. Novel itu kutemukan terselip di rak buku jurnalistik, diantara tumpukan koran-koran lama. Padahal seharusnya buku di kategori itu ada di rak “Popular Corner” di depan sana.

Aku tahu, sih, buku dengan label pink itu nggak boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Tapi, mesin peminjaman mengatakan aku boleh meminjam buku itu beserta sebuah buku lain tentang penulisan berita mendalam. Ketika melewati pintu keluar, alarm juga tidak berbunyi. HAHA! Makan tuh teknologi!

Sialnya, pas bukunya mau dikembalikan, si mesin malah lagi eror. Jadilah aku harus menghadap petugas perpustakaan, si Aa yang familiar banget tapi aku nggak tahu siapa namanya. “Harusnya buku dengan label pink nggak boleh dibawa pulang,” katanya dengan nada dan ekspresi yang berkata “lain kali jangan gitu lagi”.

“Oh iya, A? Abisnya aku nemu di rak belakang situ sih, kirain boleh,” jawabku dengan memasang wajah polos seorang maba. Padahal waktu itu aku sudah semester tujuh.

Padahal ada banyak novel yang mau kupinjam dari perpustakaan. Aku butuh hiburan! Capek kalau harus baca buku komunikasi dan jurnalistik melulu!

Apa? Baca di perpus aja trus ditandain biar besoknya bisa dibaca lagi? Trus kehidupan malamku mau diisi dengan apa? Gini ya, aku ini bukan tipe orang yang bisa duduk diam manis membaca buku di atas meja. Di perpus Fikom emang ada sofa sih, lumayan nyaman dan suka dipake buat tidur atau leha-leha lucu, tapi tetap nggak bisa! Aku selalu berganti-ganti posisi kalau lagi membaca. Duduk di kasur, trus tengkurap, trus telentang, trus duduk di lantai, trus tengkurap, trus telentang, gitu terus sampai bukunya habis. Gitu aku disuruh duduk manis berjam-jam di perpus? Hah, bye!

#legalkanpeminjamannoveluntukdibawapulang!