birthday

22

wp-1495116780566.png

Alhamdulillah masih dikasih umur….

Hah, 22. Sudah lima kali aku merayakan ulang tahun di Bandung/Nangor.

Sejak aku mulai menganggap ulang tahun bukan lagi sesuatu yang spesial, yang harus pakai kejutan, kue, atau balon–ulang tahun kali ini juga kulewati dengan biasa-biasa saja. Aku flu dan batuk sejak seminggu yang lalu dan ini bikin aku nggak kemana-mana dan nggak pengen makan apa-apa.

Tadi pagi, aku kira aku mimpi mematikan alarm jam 5, sehingga aku baru bangun jam 5.27 karena ada yang nangis. Ayahnya anak lorong sebelah baru saja meninggal, dan dia nangis di kamar temannya yang ada di depan kamarku. Aku jadi canggung karena aku nggak kenal dia dan ada banyak orang yang berkumpul di depan kamarku.

Habis sholat subuh, aku jumping jacks 50 kali karena ceritanya mau mulai diet dan olahraga lagi. Berat badanku sekarang benar-benar ada di angka mimpi buruk. 

Terus jam 9-an aku ke perpus, tadinya kau ngerevisi bab 1-3 sekaligus nyari teori mediasi-nya Roger Silverstone. Tapi laptop-ku ini entah kenapa jadi super lemot kalau nyambung ke internet. Belum lagi pengaruh ngantuk karena sejam sebelumnya aku minum obat flu.

Jam 11 aku balik lagi ke kosan karena benar-benar nggak tahan ngantuk. Aku tidur, bangun jam 12.30 trus memutuskan untuk makan ke bajuri karena lapar dan pengen makanan panas berkuah. Pulang-pulang, aku keringatan karena beberapa hari ini panas banget.

Sorenya, Firda ngajak beli seblak. Sekalian kita mau nonton Produce 101 episode 5 di kosan Mumut. Sampai di tukang seblak, aku malah jadi nggak pengen makan seblak. Ngelihat orang beli jus alpukat, aku jadi pengen tapi nggak pengen-pengen banget. Ketika akhirnya memutuskan untuk memesan jus, eh ternyata udah dibeliin sama Firda karena “kue ulang tahun udah terlalu mainstream,

Pas mau pulang, Mumut ngasih minuman Sari Asem karena tadinya dikira aku bakal beli seblak. Haha fail lagi. Tapi makasih banyak loh, guys.

Jadi, pengen apa di umur 22?

Pengen lulus…

Sejujurnya aku masih takut. Masih nggak bisa menjawab pertanyaan “habis lulus mau kemana?” Masih nggak punya bayangan apa-apa. Walaupun kedengarannya klise, tapi aku cuma ingin tahun depan nggak merayakan ulang tahun di Nangor, atau di rumah. Aku pengen ada di suatu tempat, entah di mana, dan udah memghasilkan uang sendiri. Tapi di sisi lain, aku pengen tetap fleksibel bisa pulang kapan aja.

Aku pengen hidup sebagai manusia, bukan robot 9-5. Aku ingin jadi manusia berguna.

Advertisements

Kepala Dua

Hari ini aku ulang tahun. Oke, pembukaan yang nggak penting. Terima kasih untuk yang sudah mengingat, sudah mengucapkan, dan mendoakan. Semoga doa-doa yang baik juga kembali pada kalian.

Sejak dua atau tiga tahun lalu, aku nggak lagi berpikir kalau ulang tahun adalah momen yang begitu bahagia seperti yang dikatakan orang-orang. Bukan karena aku punya trauma terkait hari ulang tahun. Bukan juga karena nggak ada yang ngasih kado rumah empat miliar lengkap dengan perabotnya macam kuis di tipi itu.

Sejak dua atau tiga tahun lalu itu, aku jadi berpikir tentang siapa yang akan lebih dulu meninggalkan siapa. Aku berpikir apakah tahun depan aku masih bisa mengucapkan selamat ulang tahun dan semoga panjang umur kepada orang-orang yang aku sayangi.

Waktu sinetron Cinta Fitri lagi ngehits, aku ngobrol sama mbahku yang insya Allah tahun ini usianya 69 tahun. Aku bilang, “Mbah, nanti Cendikia mau kaya Fitri sama Farel deh. Pas udah punya anak, omanya juga masih ada,” Mbah cuma ketawa.

“Iya, doain aja semoga mbah masih hidup,” katanya.

Setiap aku mau balik lagi ke Jatinangor, mbah juga sering bilang, “Semoga nanti tahun depan Cendikia masih ketemu sama mbah, ya…”

Jadi aku nangis. Aku jadi sangat sentimentil kalau ingat-ingat yang seperti ini.

Belum lagi angka 20 yang terdengar sangat dewasa dan…. sedikit menyeramkan. Konon kabarnya, di usia ini kamu akan diberondong dengan pertanyaan “Kapan lulus?” “Kapan kawin?” Seram. Sisi baiknya, aku jadi harus bisa menyiapkan jawaban-jawaban sakti mandraguna untuk menghadapi pertanyaan yang kemungkinan akan muncul saat sedang menyantap ketupat opor atau setoples kue bawang.

Setiap orang punya cara yang beda-beda untuk memaknai pertambahan (atau pengurangan—tergantung dihitung dari mana) umurnya, dan inilah caraku memaknai peristiwa tersebut. Terdengar mengerikan, terdengar berlebihan, ya? Tapi, sebagai anak yang sejatinya adalah anak rumahan banget, kehilangan orang-orang rumah selalu jadi ketakutan terbesarku saat aku ulang tahun, atau saat mereka yang merayakan hari jadi.

Sejak dua atau tiga tahun lalu, ulang tahun jadi bukan senang-senang. Ulang tahun bukan lagi tentang dibanjur air mineral campur kopi dan jeli mangga. Lebih dari itu, ulang tahun jadi perenungan. Ulang tahun jadi pengingat tentang masa yang tinggal sebentar lagi. Ulang tahun mengingatkan untuk selalu bersyukur dan mendoakan orang-orang yang disayangi. Ulang tahun menentukan sikap dan mau jadi apa setahun atau seratus tahun ke depan.

Selamat Ulang Tahun!

Happy birthday! お誕生日おめでとう!(otanjōbiomedetō!) Met milad! Selamat ulang tahun!

Itu yang biasanya orang-orang ucapkan saat hari lahirmu tiba. Ucapan ini biasanya diikuti dengan serangkaian doa, kata-kata mutiara, atau kalimat penuh cela dari teman dekat.

Ucapan ulang tahun memiliki arti yang lebih dari sekadar ucapan. Dalam ucapan ini ada kepedulian. Ucapan ini menunjukkan kamu peduli, menunjukkan kamu mengakui eksistensi orang yang berulang tahun. Tanggal lahir bukanlah sesuatu yang dengan gamblang mudah diungkapkan saat baru berkenalan, sehingga mengucapkan selamat ulang tahun menunjukkan kamu peduli pada hal kecil dari seseorang. Hal kecil yang mungkin kamu ketahui setelah melalui rangkaian obrolan, mengintip di KTP, atau dari notifikasi Facebook.

Lantas, bagaimana jika “koleksi” ucapan ulang tahunmu semakin berkurang setiap tahun? Mungkinkah orang-orang tak lagi peduli dan tak sudi mengingat “hari spesial”-mu? Atau malah kamu yang berhenti peduli pada orang-orang? Bisa juga, orang-orang pada masa mondial ini memang sudah malas mengurusi hal-hal kecil macam ucapan ulang tahun yang sederhana. Banyak urusan yang lebih penting, bung!

Tak apa. Bersyukurlah jika masih ada yang mengingat tanggal lahirmu. Bersyukurlah jika mereka tidak hanya ingat dan mengucapkan, tetapi juga berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaanmu. Jika mereka tidak mengucapkan, anggap saja diam-diam mereka menyelipkan namamu dalam doanya. Anggap saja.

Selamat ulang tahun, untukku, dan untuk jutaan orang lainnya yang juga dilahirkan pada hari ini. Semoga kita memiliki umur yang berkah dan bermanfaat. Semoga kita bahagia selalu. Semoga kita selalu berada dalam cinta dan lindungan-Nya. Aamiin.

Eighteen!

Alhamdulillah, masih dikasih kesempatan hidup sampai hari ini oleh Allah SWT 🙂

Makasih buat semua yang udah ngucapin selamat ulang tahun dan ngasih doa buat aku. Semoga doanya dikabulkan, amin 🙂

Makasih buat cikbos, buat stop motionnya. Ga nyangka cikbos bisa bikin ginian. Oh, maksud aku, pernak-perniknya, bukan stop motionnya 😀

Walaupun ga ada surprise apapun (biasanya dari TMZ, tapi karena ada sesuatu jadi gabisa ngasih surprise) dan ga ada kado juga, apalagi kue, but it’s okay. Ulang tahun bukan cuma tentang surprise, kado, kue, atau semacamnya. Ulang tahun adalah tentang bagaimana kita mensyukuri hidup yang udah dikasih sama Allah sampai hari ini, dan belajar untuk terus lebih baik di usia yang semakin matang 🙂

Sekali lagi, makasih semuanya. I Love You! 😀