18 Mei

22

wp-1495116780566.png

Alhamdulillah masih dikasih umur….

Hah, 22. Sudah lima kali aku merayakan ulang tahun di Bandung/Nangor.

Sejak aku mulai menganggap ulang tahun bukan lagi sesuatu yang spesial, yang harus pakai kejutan, kue, atau balon–ulang tahun kali ini juga kulewati dengan biasa-biasa saja. Aku flu dan batuk sejak seminggu yang lalu dan ini bikin aku nggak kemana-mana dan nggak pengen makan apa-apa.

Tadi pagi, aku kira aku mimpi mematikan alarm jam 5, sehingga aku baru bangun jam 5.27 karena ada yang nangis. Ayahnya anak lorong sebelah baru saja meninggal, dan dia nangis di kamar temannya yang ada di depan kamarku. Aku jadi canggung karena aku nggak kenal dia dan ada banyak orang yang berkumpul di depan kamarku.

Habis sholat subuh, aku jumping jacks 50 kali karena ceritanya mau mulai diet dan olahraga lagi. Berat badanku sekarang benar-benar ada di angka mimpi buruk. 

Terus jam 9-an aku ke perpus, tadinya kau ngerevisi bab 1-3 sekaligus nyari teori mediasi-nya Roger Silverstone. Tapi laptop-ku ini entah kenapa jadi super lemot kalau nyambung ke internet. Belum lagi pengaruh ngantuk karena sejam sebelumnya aku minum obat flu.

Jam 11 aku balik lagi ke kosan karena benar-benar nggak tahan ngantuk. Aku tidur, bangun jam 12.30 trus memutuskan untuk makan ke bajuri karena lapar dan pengen makanan panas berkuah. Pulang-pulang, aku keringatan karena beberapa hari ini panas banget.

Sorenya, Firda ngajak beli seblak. Sekalian kita mau nonton Produce 101 episode 5 di kosan Mumut. Sampai di tukang seblak, aku malah jadi nggak pengen makan seblak. Ngelihat orang beli jus alpukat, aku jadi pengen tapi nggak pengen-pengen banget. Ketika akhirnya memutuskan untuk memesan jus, eh ternyata udah dibeliin sama Firda karena “kue ulang tahun udah terlalu mainstream,

Pas mau pulang, Mumut ngasih minuman Sari Asem karena tadinya dikira aku bakal beli seblak. Haha fail lagi. Tapi makasih banyak loh, guys.

Jadi, pengen apa di umur 22?

Pengen lulus…

Sejujurnya aku masih takut. Masih nggak bisa menjawab pertanyaan “habis lulus mau kemana?” Masih nggak punya bayangan apa-apa. Walaupun kedengarannya klise, tapi aku cuma ingin tahun depan nggak merayakan ulang tahun di Nangor, atau di rumah. Aku pengen ada di suatu tempat, entah di mana, dan udah memghasilkan uang sendiri. Tapi di sisi lain, aku pengen tetap fleksibel bisa pulang kapan aja.

Aku pengen hidup sebagai manusia, bukan robot 9-5. Aku ingin jadi manusia berguna.

Weird Things on My Birthday

Ah, sekali lagi tahun ini aku berulang tahun. Kali ini usiaku jadi 21, padahal rasanya baru kemarin aku menulis tentang usia 20. Nggak banyak hal yang terjadi karena sejatinya hari ini aku mondar-mandir UPI-Cisral-Perpus Fikom demi mencari buku fenomenologi yang nggak ada di mana pun. Aku ketiduran di Damri dan bangun dengan muka basah keringatan. Hari ini panas banget.
Barusan aku buka facebook dan menemukan kalau “mantan”-ku waktu kelas 5 SD mengucapkan selamat ulang tahun dengan nada akrab. Kutulis dengan tanda kutip karena sejatinya dia adalah “pacar” yang nggak kuhitung. Masa, begitu “berpacaran” kami malah jadi nggak pernah lagi saling sapa, bahkan sampai sekarang! Aku bahkan nggak ingat gimana akhirnya kami “putus”. Aku rasanya pernah ketemu dia pas pulang tahun lalu, tapi nggak kusapa karena nggak yakin itu dia dan nggak yakin juga kalau dia ingat sama aku.
Cuma karena diucapin selamat ulang tahun begitu, aku jadi curiga. Soalnya beberapa minggu lalu aku baru ngomongin dia pas ketemu sama si Aldo. Hih, jangan-jangan si Aldo ember cerita-cerita. Soalnya ini aneh banget karena selama ini dia nggak pernah mengucapkan selamat ulang tahun dan aku juga nggak pernah ngucapin kalau dia ulang tahun (tanpa bantuan facebook, aku ingat kok dia ulang tahun tanggal berapa).
Trus hari ini jadi semakin aneh karena aku sekip menyemprotkan deodoran ke seluruh ruangan karena letaknya yang bersebelahan dengan tabung pengharum ruangan. Untung deodoranku wangi bedak, jadi nggak begitu mempengaruhi kesejahteraan saluran pernapasan.

Lalu malamnya, bocah-bocah datang dan kasih “kejutan”. Mereka bawa donat yang akhirnya mereka makan sendiri karena sejatinya aku baru makan dua donat dan enek banget. Trus ngasih pesan dalam botol yang dicampur sama bungkusan permen, topi ulang tahun, taburan kerlap-kerlip warna hijau yang langsung menempel di muka, baju dan lantai kamarku, juga balon dengan angka dua dan satu. Bagian terakhir ini yang paling bikin aku geli karena selama ini aku suka meng-iyuh-kan orang yang ulang tahun pakai bebalonan seperti itu. Hehehe karma.
image

Yah, alhamdulillah ulang tahun kali ini, yang angkanya sudah makin banyak ini, masih tidak dilalui dengan “biasa saja”.

Kepala Dua

Hari ini aku ulang tahun. Oke, pembukaan yang nggak penting. Terima kasih untuk yang sudah mengingat, sudah mengucapkan, dan mendoakan. Semoga doa-doa yang baik juga kembali pada kalian.

Sejak dua atau tiga tahun lalu, aku nggak lagi berpikir kalau ulang tahun adalah momen yang begitu bahagia seperti yang dikatakan orang-orang. Bukan karena aku punya trauma terkait hari ulang tahun. Bukan juga karena nggak ada yang ngasih kado rumah empat miliar lengkap dengan perabotnya macam kuis di tipi itu.

Sejak dua atau tiga tahun lalu itu, aku jadi berpikir tentang siapa yang akan lebih dulu meninggalkan siapa. Aku berpikir apakah tahun depan aku masih bisa mengucapkan selamat ulang tahun dan semoga panjang umur kepada orang-orang yang aku sayangi.

Waktu sinetron Cinta Fitri lagi ngehits, aku ngobrol sama mbahku yang insya Allah tahun ini usianya 69 tahun. Aku bilang, “Mbah, nanti Cendikia mau kaya Fitri sama Farel deh. Pas udah punya anak, omanya juga masih ada,” Mbah cuma ketawa.

“Iya, doain aja semoga mbah masih hidup,” katanya.

Setiap aku mau balik lagi ke Jatinangor, mbah juga sering bilang, “Semoga nanti tahun depan Cendikia masih ketemu sama mbah, ya…”

Jadi aku nangis. Aku jadi sangat sentimentil kalau ingat-ingat yang seperti ini.

Belum lagi angka 20 yang terdengar sangat dewasa dan…. sedikit menyeramkan. Konon kabarnya, di usia ini kamu akan diberondong dengan pertanyaan “Kapan lulus?” “Kapan kawin?” Seram. Sisi baiknya, aku jadi harus bisa menyiapkan jawaban-jawaban sakti mandraguna untuk menghadapi pertanyaan yang kemungkinan akan muncul saat sedang menyantap ketupat opor atau setoples kue bawang.

Setiap orang punya cara yang beda-beda untuk memaknai pertambahan (atau pengurangan—tergantung dihitung dari mana) umurnya, dan inilah caraku memaknai peristiwa tersebut. Terdengar mengerikan, terdengar berlebihan, ya? Tapi, sebagai anak yang sejatinya adalah anak rumahan banget, kehilangan orang-orang rumah selalu jadi ketakutan terbesarku saat aku ulang tahun, atau saat mereka yang merayakan hari jadi.

Sejak dua atau tiga tahun lalu, ulang tahun jadi bukan senang-senang. Ulang tahun bukan lagi tentang dibanjur air mineral campur kopi dan jeli mangga. Lebih dari itu, ulang tahun jadi perenungan. Ulang tahun jadi pengingat tentang masa yang tinggal sebentar lagi. Ulang tahun mengingatkan untuk selalu bersyukur dan mendoakan orang-orang yang disayangi. Ulang tahun menentukan sikap dan mau jadi apa setahun atau seratus tahun ke depan.

Selamat Ulang Tahun!

Happy birthday! お誕生日おめでとう!(otanjōbiomedetō!) Met milad! Selamat ulang tahun!

Itu yang biasanya orang-orang ucapkan saat hari lahirmu tiba. Ucapan ini biasanya diikuti dengan serangkaian doa, kata-kata mutiara, atau kalimat penuh cela dari teman dekat.

Ucapan ulang tahun memiliki arti yang lebih dari sekadar ucapan. Dalam ucapan ini ada kepedulian. Ucapan ini menunjukkan kamu peduli, menunjukkan kamu mengakui eksistensi orang yang berulang tahun. Tanggal lahir bukanlah sesuatu yang dengan gamblang mudah diungkapkan saat baru berkenalan, sehingga mengucapkan selamat ulang tahun menunjukkan kamu peduli pada hal kecil dari seseorang. Hal kecil yang mungkin kamu ketahui setelah melalui rangkaian obrolan, mengintip di KTP, atau dari notifikasi Facebook.

Lantas, bagaimana jika “koleksi” ucapan ulang tahunmu semakin berkurang setiap tahun? Mungkinkah orang-orang tak lagi peduli dan tak sudi mengingat “hari spesial”-mu? Atau malah kamu yang berhenti peduli pada orang-orang? Bisa juga, orang-orang pada masa mondial ini memang sudah malas mengurusi hal-hal kecil macam ucapan ulang tahun yang sederhana. Banyak urusan yang lebih penting, bung!

Tak apa. Bersyukurlah jika masih ada yang mengingat tanggal lahirmu. Bersyukurlah jika mereka tidak hanya ingat dan mengucapkan, tetapi juga berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaanmu. Jika mereka tidak mengucapkan, anggap saja diam-diam mereka menyelipkan namamu dalam doanya. Anggap saja.

Selamat ulang tahun, untukku, dan untuk jutaan orang lainnya yang juga dilahirkan pada hari ini. Semoga kita memiliki umur yang berkah dan bermanfaat. Semoga kita bahagia selalu. Semoga kita selalu berada dalam cinta dan lindungan-Nya. Aamiin.

Sembilan Belas Pada Delapan Belas

Oke, ini latepost karena keterbatasan sumber daya internet. Huft.

Alhamdulillah, 18 Mei lalu aku berhasil menghirup usia 19 tahun. Wow, kelihatannya dewasa sekali. Tahun terakhir dimana aku menyandang kata –teen di belakang usiaku karena tahun depan aku akan berkepala dua. Rasanya…….. sedikit mengerikan.

Ulang tahun kali ini rasanya benar-benar ulang tahun terhebat dalam hidupku. Bukan karena tiba-tiba aku dapat mobil Rolls Royce sebagai kado ulang tahun. Nggak, orang tuaku nggak sekaya itu dan yang paling penting adalah aku nggak bisa nyetir. Ulang tahun kali ini aku “rayakan” dengan liputan untuk kuliah Perkembangan Media Baru (PMB).

Ceritanya kelompokku, kelompok 4A alias The Powerfull Unikitty, dapat kesempatan untuk di-endorse seperangkat alat sholat peralatan penunjang liputan, antara lain kamera DSLR Canon 60D plus tripod, MacBook Air, dan recorder ZOOM H4N lengkap dengan bulu-bulunya (baca: windscreen) yang menyatu dalam satu ransel. Jadi liputannya ala ala Backpacker Journalist gitu deh. Konsekuensi dari endorse-an ini adalah kami harus membuat sebuah liputan yang amat sangat bagus menghias angkasa dalam waktu dua minggu. Kedengarannya mudah, tapi ternyata ini gila banget. GILA.

Malam sebelum liputan yang kebetulan juga malam ulang tahunku, aku nggak bisa tidur. Bukan karena nungguin ucapan selamat ulang tahun berdatangan, tapi yah emang aku nggak bisa tidur. Entah kenapa, sejak masuk Jurnal aku udah nggak bisa tidur sebelum jam 1 dini hari. Jadilah, aku ngulet-ngulet nggak karuan. Badanku ternyata nggak ngerti kalau besoknya aku harus bangun pagi dan liputan ke Cijerah. FYI, Jatinangor-Cijerah itu jauh banget. Pas mulai melayang-layang dan nyaris ketiduran, tiba-tiba hapeku berbunyi. Ternyata Subau nelpon ngucapin selamat ulang tahun jam setengah dua pagi sebagai orang pertama dan satu-satunya yang lewat telpon (haha K). Oh, Subau so sweet banget. Sayang Subau lah pokoknya.

Beberapa menit ngobrol sama Subau bikin aku melek lagi dan ngulet-ngulet lagi nggak bisa tidur. Di tengah kegalauan nggak bisa tidurku, tiba-tiba Zumba yang kebetulan nginap ngigau, “Ini bajunya apa…. Ini bajunya apa….” Kocaklah Zumba. Sekitar jam setengah empat aku baru bisa tidur dan bablas sampai setengah tujuh. Abis itu tidur lagi sejam sebelum akhirnya aku harus berpisah dengan kasur.

Lanjut liputan, aku sempat ketakutan karena narasumber kami baru pulang dari Lampung. Waktu baru mau jalan dari Jatinangor, sang narasumber SMS, nanya kami mau jalan jam berapa soalnya mereka pada mau pulang ke rumah masing-masing, mau istirahat. Aku panik waktu itu. Takut macet Cibiru, macet Soekarno-Hatta, dan macet di tempat tak terduga. Takut mereka keburu pulang karena kami kelamaan. Takut batal dan gagal liputan. Sepanjang jalan, aku berdoa. Aku tau Allah sayang aku dan aku tau Dia nggak akan ngebiarin aku sedih, seenggaknya di hari ulang tahunku.

Selain kekuatan untuk pergi liputan (karena badan nggak fit gara-gara kurang tidur), kelancaran liputan ini adalah kado terindah lain dari Allah. Subhanallah, narasumber-narasumberku ini baik banget. Mereka mau menuruti kemauan kami yang aneh-aneh, padahal dari muka kelihatan banget mereka capek. Semua ketakutan dan kepanikanku sepanjang jalan nggak terbukti sama sekali. Liputan berjalan lancar dan kami pulang sekitar jam setengah empat sore. Di perjalanan kami diterjang hujan, dan beruntung aku dipeluk oleh jahim yang tahan air.

Malamnya, aku dan Zumba ke kosan Qoonit untuk mulai mencicil menyortir video dan suara yang akan dipakai. Pas lagi serius nyortir video, Zumba ngeluh diare. Perutnya mulas katanya. Itu sekitar jam sembilan malam. Sebagai teman dan penumpang motor Zumba yang baik, aku pun nemenin dia buat beli obat diare. Dan gotcha! Di gang kosan Qoonit rupanya menunggu tiga makhluk yang langsung mengejarku. Mereka mencekokiku dengan air mineral dalam botol (ini konyol banget), kopi instan, dan jelly rasa mangga. Mereka—Mumut, Firda, dan Elya—sukses bikin bagian depan kosan Qoonit kotor oleh jelly dan kopi dan sukses juga membangunkan seisi gang. Hebat.

Imbasnya, aku harus pulang ke kosan untuk mandi karena badanku lengket dan telinga kiriku berdengung. Sepertinya mereka terlalu sadis sampai-sampai sesuatu masuk ke telingaku. Aku pulang menembus dinginnya malam naik motor sama Zumba. Sampai di kosan dan mandi, aku loncat-loncat dan syuurrrr… sesuatu yang hangat mengalir dari telinga kiriku: jelly.

Ngomong-ngomong, surprise mereka ini sebenarnya agak failed. Soalnya, sms Firda yang isinya “Zum, besok kamu jadi liputan bareng cendi? Kita bikin surprise yuk, soalnya si cendi besok ulang tahun” kebaca sama aku pas aku lagi main tab-nya Zumba. Hahaha aku emang nggak pernah dapat surprise yang bener-bener berhasil, tapi okelah. Seenggaknya ada yang nyurprise-in aku :p

Terima kasih yang tak terhingga kepada Allah SWT yang udah ngasih aku umur sampai hari ini, ngasih aku kesehatan walau badai menghadang, ngasih kelancaran untuk liputanku. Semoga kedepannya semua juga dimudahkan dan dilancarkan oleh-Nya. Amin.

Terima kasih untuk Mama, Bapak, dan orang-orang di rumah yang pastinya selalu mendoakanku dari sana. Untuk Kacang yang balas dendam dengan menuliskan “hbd” di Facebook doang, terima kasih juga. I don’t love you! Hahaha!

Terima kasih juga untuk teman-temanku, Zumba (yang udah tiga hari bareng aku tapi ngucapin selamat cuma lewat personal message BBM dan berdoa supaya aku tetap gila), Mumut yang mendoakanku supaya nggak main 2048 dan tetap astral, Firda yang penghujung doanya anti mainstream banget, Elya yang maksud banget nyiram pake botol bukan pake ember, dan Qoonit sebagai pembonceng dan pemilik kosan. Love you muach muacccchhhhhh!

Terima kasih juga untuk yang udah ngucapin lewat SMS, BBM, Line, Facebook, dan Instagram. Terima kasih buat Ade yang ngucapin lewat BBM dan non sense banget :p , Oliv yang mau ngucapin lewat VN tapi gagal, Kepin yang ngucapin di semua media sosial (masih ingat aja sama aku ya! Hahaha). TMZ—Eci yang ngucapin lewat DP BBM, Kakrung yang ucapan selamatnya amat sangat tidak jelas di instagram, dan Dedek yang ngepost foto dengan caption super panjang kaya pidato di instagram juga. Uwo mana uwo.. haha sayang kalian semua pokoknya!

Untuk teman-teman lain yang ngucapin di Facebook, terima kasih juga. Jumlah kalian terlalu banyak dan nggak bisa ditulis satu-satu di sini. Terima kasih semuanya, atas ucapan dan doa kalian untukku. Semoga yang dikabulkan yang baik-baiknya aja. Amin! Hahaha 😀