Day 5: If I Could Have Dinner with Five People….

Siapa ya???

Ngomongin makan malam biasanya identik dengan bincang-bincang setelahnya. Berarti ini adalah lima orang yang pengen banget aku ajak ngobrol. Lumayan susah sih yang ini hahaha soalnya aku nggak benar-benar pernah mengidolakan seseorang, sih. Berhubung ini adalah perandai-andaian, akan kucoba untuk menulis lima nama. Tentu saja, sebelum masuk ke menu utama, aku sudah memakan appetizer Konnyaku Penerjemah dari Doraemon.

1. Nabi Muhammad SAW.

Sekarang tuh banyak banget ajaran sesat, kan. Belum lagi percampuran antara budaya dan agama, yang sebenarnya bermaksud baik tapi jadi nggak bernilai ibadah karena emang nggak pernah dicontohkan oleh Nabi atau diperintahkan oleh Allah. Tambah lagi dengan semua keributan berlatar belakang agama yang terjadi sejak beberapa bulan lalu. Jadi, kalau aku bisa makan malam dengan Rasulullah, kan enak jadi bisa belajar agama langsung dari A1. Trus pengen tahu juga pendapat Beliau soal beragam keributan yang bawa-bawa agama belakangan ini. 

 2. Algojo hukuman mati

Terutama yang udah pernah menjagal lebih dari sekali. Penasaran aja gitu, gimana rasanya dikasih izin untuk membunuh orang; ngeliat orang itu dari yang tadinya masih hidup sampai jadi mayat cuma dalam beberapa menit. Trus penasaran gimana pengalaman pertamanya, apa pengaruh pekerjaan ini terhadap kejiwaannya. Pertanyaan seperti itu, lah. 

3. Gordon Ramsay

Lebih karena aku pengen nyicipin masakan dia, sih. Seenak apa, gitu, sampai-sampai dia bisa nge-roast orang lain dengan mengerikan. Oh, ngomong-ngomong, aku terharu waktu nonton Ramsay di Master Chef Junior karena kepribadiannya jadi kebapakan, penyayang, dan jauh lebih menyenangkan gitu. Kaya kalo aku yang jadi pesertanya di umur 10 tahun, bakal terus termotivasi untuk masak setelah dikomentarin doi. 

4. Abdul Sattar Edhi

Aku pertama kali tahu tentang Edhi dari laman Nobel Prize di Facebook, ketika orang-orang mempertanyakan kenapa dia nggak pernah dapat Nobel. Trus aku nyari tahu dan kagum banget kenapa bisa ada orang selfless kaya gini. Penasaran apakah orang ini pernah punya rasa kepengen untuk menyenangkan dirinya sendiri dengan belanja-belanji dan sebagainya. 

5. Kamu

Iya, kamu….. *kedip manja* *colek-colek*

Day 4: Favorite Childhood Memory

Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Provinsi Jambi. Ada banyak kenangan masa kecil yang masih teringat jelas di otakku. Masa kecil ini kuhitung sejak lahir sampai lulus SD lah ya, berarti sampai umur 11 tahun. 

Mulai dari pengalaman pertama naik pesawat, pertama kali ke Dufan, atau waktu aku dan teman-teman berantem sama anak SD sebelah karena rebutan perosotan. 

Atau kenangan waktu aku, Cici, dan Mbak Tika joget-joget di atas meja mengikuti video “Koi Mil Gaya” – – aku jadi Anjali, Cici jadi Tina, Mbak Tika jadi Rahul. 

Atau waktu bapak pertama kali bikin keramba di Danau Kerinci, dan nyaris tiap akhir minggu kami selalu ke sana. Naik perahu, trus ngasih pelet ke ikan nila dalam jaring keramba. Sekali, kami pernah nginap di sana. Biarpun bau ikan, tapi rasanya memyenangkan karena dibuai ombak danau. Bahkan ulang tahunku ke-8 dirayakan dengan berenang di sana, pakai pelampung tentunya. 

Tapi nih, kalau ngomongin kenangan masa kecil terfavorit, itu adalah ketika aku diajak bapak dan mama ke Lambur Luar, sebuah desa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Itu sekitar kelas 3 atau 4 gitu. Cuma aku yang diajak karena Kacang lebih memilih tinggal di kota untuk main komputer. Kenangan ini jadi favorit karena ada banyak pengalaman pertama, juga hal-hal indah yang nggak akan aku lupakan. 

Ngomong-ngomong, aku nggak yakin semua yang bakal aku tulis ini terjadi dalam satu waktu yang sama, karena aku beberapa kali pergi ke sana. Ini juga nggak ditulis secara kronologis karena aku nggak ingat detailnya. Jadi, katakanlah ini judulnya “Pengalaman Ke Lambur Luar”. 

Itu adalah pertama kalinya aku naik speed boat, melewati laut, trus juga lewat sungai besar gitu. Waktu itu, pertama kalinya aku tahu monyet bisa berenang menyeberang sungai. Pas naik speed boat melewati laut, itu pertama kalinya aku tahu istilah “kandas” karena baling-baling kapalnya nyangkut di bagian laut yang dangkal. 

Terus kami masuk hutan sebelum sampai di tambak udang yang jadi tujuan. Waktu itu, untuk pertama kalinya aku disengat lebah. Sakit banget. 

Terus sampai di tambak udang, kami menginap di pondok yang kaya rumah panggung gitu. Malamnya, mamaku merebus mi instan yang pedas, dan ditambah udang windu dari tambak. Itu pertama kalinya aku tahu dan makan udang windu yang gede-gede. 

Sambil menunggu mama bikin mi, aku duduk sendirian di teras pondok. Nggak ada listrik di sana. Penerangan di dalam rumah pun cuma pakai petromak. Jadi, di luar beneran gelap gulita. Aku masih ingat, langit cerah malam itu dan aku bisa melihat milyaran bintang di langit. Semuanya jelas dan berkelap-kelip seumpama intan berlian. Itu pertama kalinya aku lihat bintang sebanyak itu. Peristiwa itu begitu romantis untukku yang masih bocah, dan sampai sekarang kalau langit malam lagi cerah dan banyak bintang, aku masih suka melongo menatapi langit lama-lama. 

Dua tahun lalu di kosan yang lama pun, aku pernah jam 10 malam pergi ke atap (emang ada tangganya) karena langit lagi cerah penuh bintang dan lagi purnama juga. Tapi waktu itu nggak lama-lama karena aku takut nggak sengaja lihat yang aneh-aneh hahaha. 

Trus suatu ketika kami pulang dari pasar ikan naik sampan. Sungainya nggak begitu besar, mungkin lebarnya cuma 1,5 meter. Pulangnya itu udah malam dan gelap banget. Aku bertugas memegangi senter ke arah depan sampan. 

Dan inilah bagian favoritku.

Sebagai anak yang tumbuh dengan menonton Home Alone setiap libur akhir tahun, aku selalu ingin melihat lampu kelap-kelip di pohon natal yang berjejer di sepanjang jalan. Berhubung aku tinggal di wilayah mayoritas muslim, pemandangan seperti itu jelas nggak akan pernah aku temui. 

Sampai akhirnya, malam ketika kami bersampan itu, cita-cita masa kecilku jadi kenyataan. 

Di kiri-kanan sungai, tumbuh pohon-pohon yang nggak begitu tinggi. Waktu kami lewat sana, pohon-pohon itu dihinggapi ratusan kunang-kunang. Mereka menyebar dan ada di semua pohon. Cahayanya berkelap-kelip cantik. Itu pertama kalinya aku lihat kunang-kunang, dan pemandangan yang ada begitu menakjubkan. Bahkan sampai sekarang aku dan mama masih suka mengingat peristiwa itu. Malam ketika kami melewati pohon natal kunang-kunang. 

Kado Wisuda: Sulaman dan Bunga Lolipop

Beberapa bulan belakangan, aku lagi hobi membuat prakarya. Mulai dari bikin kartu, bikin bunga, sampai yang sekarang sedang aku geluti adalah bikin sulaman. 

Mumpung ada wisudaan, jadi aku mencoba untuk ngasih hadiah buatan sendiri untuk teman-teman. Bukan niat mau hemat sih, sebenarnya. Ini lebih kepada sentuhan personal dan kepuasan karena berhasil menyelesaikan sesuati. Juga kesenangan karena mempelajari hal baru. 

Untuk Siti dan Sumi, aku ngasih foto mereka yang dihias pakai sulaman. Ide ini terinspirasi banyak dari @talathings yang jual photo embroidery keren-keren. Aku tahu itu bikinnya susah, serta memakan waktu dan tenaga, juga butuh kreativitas, jadi harganya pasti lumayan mahal. Mumpung lagi suka menyulam, jadi aku mau coba bikin sendiri. 

Untuk Siti, waktu itu aku cuma kepikiran untuk bikin flower crown aja, tapi hasil jadinya masih sederhana banget. Trus karena nggak tahu mau dihias pake apa lagi, jadinya cuma dikasih daun-daun gitu aja. 

Untuk foto dan tulisannya, aku pakai transfer paper yang tinggal disetrika. Kertasnya beli di Tokopedia, Rp48.000 sama ongkir dapat satu pak isi lima lembar. Tapi hasil jadinya kaku gitu dan bikin bolong cukup gede kalo disulam langsung di atasnya. Sementara yang talathings, gambarnya kaya nyatu gitu sama kainnya, kaya di-print langsung ke kain. Nggak tahu deh dia pake apa. 

Tulisannya aku timpa lagi pakai split stitch. Soalnya, aku belum bisa bikin tipografi yang bagus dan rapi gitu, makanya mengandalkan font dari komputer. Oh iya, kalau pakai transfer paper, tulisannya di-mirror dulu ya biar nggak kebalik. 

Jahitannya, semua aku pakai yang dasar. Mawarnya dibikin berdasarkan tutorial ini, aku nggak tahu nama tekniknya apa. Trus pinggirannya dihias pake french knot dan stem stitch. Daun yang di pinggir itu pake satin stitch. 

Untuk Sumi, aku bikin lingkarannya dengan mencontek desain dari Pinterest. Iya, maaf ya aku nggak bisa desain dan gambar sendiri. Anaknya nggak imajinatif dan payah dalam urusan figur, sih. 

Ini contekannya. Maaf nama pembuat lupa tersimpan

Untuk namanya agak nggak kebaca, ya? Mungkin karena benangnya terlalu tebal. Trus aku menyadari kalau harusnya bemang dibagi dua dulu biar tulisannya lebih tipis, pas udah tinggal beberapa huruf terakhir. Jadi, yasudah lah ya. Namanya juga percobaan. Nggak mirip lagi sama contekannya hahaha. 

Daunnya dibuat pakai jahitan lazy daisy dengan stem stitch untuk tulang daun. Daun kecil di bawah mawar dibuat pakai back stitch. Sisanya pakai french knot, satin stitch, dan split stitch untuk tulisan. 

Oh ya, aku belajar kalau mau menghasilkan hasil satin stitch yang halus untuk objek berukuran kecil, coba benangnya dibagi dua, pakai tiga helai benang aja biar lebih tipis. 

Kotaknya dibuat pakai kertas karton yang dibentuk kaya kotak pizza. Gampang kok bikinnya, googling aja. Habis itu diikat deh, pakai pita sesuai warna kesukaan masing-masing. 

Kalau bunga-bunga ini aku buat berdasarkan tutorial dari sini. Bikinnya super gampang dan cepat. Kalau di tutorialnya pakai kertas tisu, aku pakai kertas krep karena nggak nemu yang jual kertas tisu warna-warni. 

Kalau nggak bisa menemukan sedotan kertas (paper straw), tangkainya bisa dibikin sendiri dari kertas HVS, kertas koran, atau kertas apapun yang cukup lentur. Kalau pakai HVS, kertasnya dibagi dua secara vertikal, terus digulung dari pojok ke arah tengah sampai jadi panjang. Masukkan bunganya, amankan pakai selotip, jadi deh! 

Kaya gini jadinya

Wrapping-nya aku pakai kertas samson andalan yang serbaguna. Trus dibungkus kaya burrito dan dikasih pita. Kalau kartu, aku bikin pakai Canva, sebuah situs desain yang menyediakan beragam template dokumen dengan desain yang cakep dan banyak yang gratis! 

Membayangkan hasil karyaku (mungkin) akan disimpan orang lain, ternyata bikin aku senang dan bersemangat! Hikmahnya adalah, kalau aku bisa menyelesaikan hadiah-hadiah ji tepat waktu karena aku tekun mengerjakannya, harusnya hal yang sama juga berlaku untuk skripsi. 

Aku juga pengen wisuda dan dikasih hadiah! Hahaha. 

Flowers For Strangers

Kalau ada survei untuk kuis “Family 100” dengan pertanyaan “Hadiah apa yang diberikan kepada seseorang saat wisuda?” aku yakin hasil survei nomor satu adalah “bunga”. 

Tiap ada wisudaan, di pinggir jalan sekitaran kampus pasti bertebaran penjual bunga, baik yang asli maupun yang artifisial dari kertas atau kain felt. Ada juga yang jual boneka, balon, cotton candy yang dibentuk karakter, atau buket snack–tapi yang paling diminati tetap saja buket kembang. Apa filosofinya? Nggak tahu. 

Mengikuti kebiasaan memberi kembang ini, aku juga ikutan mencoba bikin bunga kertas sendiri dengan lolipop sebagai intinya. Nantilah, aku bakal bikin satu tulisan tersendiri buat kado wisuda gelombang ini. Jadi ceritanya, aku bikin bunga itu untuk delapan orang.

Ternyata tadi, bungaku nyisa satu karena yang mau dikasih bunga malah menghilang nggak tau ada di mana. Berhubung capek dan males nyari, awalnya bunga itu aku kasih ke Firda aja. Tapi kemudian sebuah ide muncul di kepalaku yang doyan bermain-main. 

“Aku tantang kamu buat ngasih bunga ini ke stranger, Fir,”

“Oke!” kata Firda semangat. 

Awalnya, kami menentukan target dengan memutar telunjuk di langit, bilang “stop”, dan harus ngasih bunga ke siapapun yang akhirnya ketunjuk. Tapi, berhubung kami berdiri di dekat anak-anak jurnal yang notabene nggak asing-asing amat, akhirnya diputuskan kalau bunga ini bakal dikasih ke orang yang cuma dapat bunga sedikit. 

“Kali bikin dia bahagia,” kataku. 

Maka, mulailah kami mencari target untuk dikasih bunga. Susah ternyata, karena hampir semua orang bawa banyak bunga, dan ngerasa kagok kalo ngasih ke orang yang lagi ngumpul sama temannya. 

Sampai akhirnya, lewatlah seorang cowok yang cuma bawa satu atau dua batang bunga. “Kasih ke cowok itu aja, Fir!”

Kocaknya, si Firda lari-lari ngejar cowok itu karena jalannya cepet banget. Pas udah dekat, bahu si cowok dicolek, dikasih bunga, trus si Firda lari sambil ketawa. Aku juga ikut lari dan kita ketawa sampai bengek. 

Ternyata pas dikasih bunga tadi, si cowok itu bilang, “Oh, jatuh ya?” aduuh pemberian kami dikira bunga jatuh! Jadilah, kami merancang skenario baru untuk dikatakan sembari memberi bunga seperti, “Eehhh Fadilaah! Selamat yaaa!” tentu saja Fadilah adalah nama random yang disebutkan, nggak peduli siapa nama asli penerima bunga. 

Saking bersemangatnya dengan skenario itu, kami bela-belain beli bunga setangkai lagi. Mawar putih yang gocengan itu. Kali ini, aku yang harus menyerahkan bunganya. 

“Harus kasih ke cowok ya!” kata Firda. Aku deg-degan karena bersemangat sekaligus takut sama rasa malu.

Cukup lama kami mencari cowok dengan kriteria kaya tadi. Sekalinya ketemu, aku bersiap dan mengikuti cowok itu. Pas aku mau nyolek bahunya, eh tiba-tiba dia disamperin temennya. Aku langsung balik kanan dan kabur hahaha. 

Nggak lama, ada lagi cowok yang jalan sendirian nggak bawa apa-apa. Cowok itu kukejar, kucolek bahunya, dan menyerahkan bunga sambil bilang, “Selamat, ya!” dan dijawab “Iya,” lalu aku balik kanan dan lari ngakak. 

Daaaaannn ternyata………. Itu adalah cowok yang sama dengan cowok pertama tadi. Ai kamu ngapain mondar-mandir sendirian? 

Sepanjang sore kami ngakak membayangkan apa yang dipikirkan cowok itu dapat bunga dari dua cewek random. Apakah dia pikir kami juniornya? Apakah dia akan geer karena tadi itu kaya adegan di komik? Atau dia segera lupa dan biasa aja? 

Pas habis sholat magrib, aku menemukan setangkai bunga kertas warna hijau yang mungkin jatuh dari buket seseorang. Bunga itu kemudan aku taro di sebuah motor yang sedang parkir. Biar pemiliknya merasa punya pengagum rahasia gitu.

Yasss, ini menyenangkan banget dan aku pengen ngulang lagi! 

Day 3: Article of Clothing I’m Deeply Attached to

Kemarin-kemarin ga ngelanjutin ini duli karena disibukkan oleh sesuatu yang penting ga penting selama tiga hari. Jadiii, ayo mulai lagi! 

Kalo ngomongin jenis pakaian yang aku suka banget, boleh bilang t-shirt ga? Soalnya, isi lemariku beneran cuma kaos, kemeja, sweater, dan jins. Makanya suka bingung kalo ke kondangan, ga punya baju haha. 

Habisnya, aku nggak begitu doyan jajan baju. Kalo punya duit, pasti duit itu larinya ke makanan. Kalo di rumah, aku selalu pake baju-bajunya Kacang. Pas ada satu yang enak dipake, langsung kujadikan hak milik. 

Jadi, yaah kalo ngomongin pakaian, pokoknya aku suka yang longgar, nggak nerawang, adem, dan potongannya simpel. Sayang, kalo untuk celana aku susah nyari yang longgar. Bisa dapat ukuranku aja udah bagus hahaha. 

​Day 1: 15 Fun Facts About Me

1. Picky eater. Biar gendut begini, tapi sebenarnya untuk urusan makan, aku banyak nggak maunya. Makanya, kalo makan bareng aku, orang-orang akan berbahagia karena dapat tambahan jatah kuning telur atau kulit ayam. Makanan yang umum macam ayam dan daging sapi pun, aku masih pilih-pilih. Untuk ayam, aku cuma makan dadanya (paha hanya diterima dalam kondisi terpaksa), dan daging has dalam, yang diolah hanya dengan digoreng atau dibakar. Satu-satunya makanan laut yang bisa kumakan cuma udang. Kelakuan begini memang merepotkan, makanya sejak aku SMA, mamaku capek dan nggak lagi menyesuaikan belanjaan dengan apa-apa yang bisa kumakan. Pernah sekali, aku lebih memilih makan nasi pakai garam daripada makan pakai ikan goreng.

2. Kalau suka sesuatu pasti dalam jangka waktu yang lama, alias susah move on. Ini bukan cuma berlaku dalam hubungan antarmanusia. Misalnya, waktu semester 3 atau 4, aku lagi suka tahu bulat. Maka, selama satu semester itu hampir tiap hari aku jajan tahu bulat. Atau lagu alarm-ku yang nggak pernah diganti sejak SMP. Atau waktu aku lagi alay dan suka Amnesia-nya 5 Seconds of Summer, aku dengerin lagu itu hampir tiap hari selama nyaris setahun. 

3. Melankolis dan sentimentil. Aku ingat tanggal ketika pertama kali dapat haid. Aku ingat tanggal pertama kali aku pakai kerudung. Di hari Firda lulus, aku bilang, “Guys, hari ini setahun yang lalu, kita baru aja pulang dari Malang loh,”. Aku menyimpan semua barang pemberian orang—kotak donat waktu ulang tahun; Kitkat wasabi pemberian Siti dari Jepang, cokelat pemberian Reza dari Inggris, permen  susu pemberian Lukya dari Korea (yang untungnya nggak dimakan soalnya nggak halal); bahkan ketika bertemu teman yang udah lama banget gak ketemu dan aku kangen, botol air mineral yang kami bagi waktu pertemuan itu masih aku simpan. Jadi yah, di kamarku jadi banyak barang-barang semi sampah yang bertumpuk.

4. Gampang dibaca ekspresinya. Mengontrol omongan? Easy peasy lemon squeezy. Mengontrol ekspresi? SUSAH! Mukaku sering banget menampilkan ekspresi yang benar-benar diluar kendali. Misalnya waktu magang, seorang karyawan baru yang super extrovert menceritakan banyak hal tentang dirinya, dan aku sebenarnya udah males dengerin. Pas pulang, si Firda bilang, kalau tadi ekspresiku kelihatan banget bosan sama omongan karyawan baru itu. Jadi…. sepertinya kalau aku suka sama orang juga akan tertulis jelas di mukaku. TIDAAAAKKK *blush*

5. Anak yang nggak pernah dicariin. Salah satu keuntungan yang kudapat selama tumbuh berkembang adalah, aku bisa main ke mana aja dan amat sangat jarang ditelfonin. Soalnya mamaku tahu aku main ke mana, sama siapa, lagi di rumah si X yang bapaknya bernama Y dan kerjannya apa. Sekalinya ditelfon, itu juga karena mamaku lupa password Facebook-nya, bukan nyuruh pulang. Gara-gara ini, dulu aku dikatain anak pungut.

6. Waktu nonton Divergent, aku merasa Theo James yang jadi Four itu ganteng banget. Saking gantengnya, abis nonton aku ke kamar mandi, duduk di kloset sambil jariku yang gemetaran memegangi dada yang berdegup kencang. Semacam jatuh cinta pada pandangan pertama gitu.

7. Aku masih sering baca-baca status yang kutulis di Facebook waktu zaman SMA. Soalnya, walaupun sering alay dan nggak jelas, beberapa statusku super bijak dan bermanfaat untukku di masa sekarang. Aku kaya digetok untuk ingat, “dulu aja aku pernah mikir gini, loh!”

8. Punya bekas luka kena knalpot di betis kanan dan kiri. Kalau luka yang di betis kiri itu, kejadiannya sekitar umur 4 atau 5 tahun. Waktu itu aku disuruh ngambil apa gitu di mobil, trus pas buka pintu, badanku sedikit kedorong ke belakang dan kakinya nempel ke knalpot motor yang baru aja parkir di sebelah mobil. 

Kalau yang di kanan, kejadiannya 19 Juni 2010 (aku nggak akan lupa), siang bolong di halaman rumah Nisa. Sejak aku lulus SD, sebenarnya bapakku udah nyuruh pake kerudung, tapi aku nggak mau. Trus dia bilang, seenggaknya pake celana panjang. Aku masih nggak mau juga. Sampai akhirnya, pas mau ke rumah Nisa, ban motornya selip, motor rebah ke kiri, dan betis kananku yang telanjang nempel di knalpot. Gara-gara itu, selama libur kenaikan kelas aku nggak bisa jalan. Sampai sekarang bekas lukanya masih ada, gede dan jelek banget, kadang suka aku marahin hahaha. Bekas luka ini kemudian mengingatkanku untuk nggak lagi melawan omongan orang tua.

9. Setidaknya sampai kelas 11 aku adalah orang yang sangat berisik. Kaya mulutnya tuh ngoceh melulu nggak bisa diam. Sampai suatu hari, si Agung sambil bercanda bilang, coba sehari aja aku diam dan kalem. Walaupun bercanda, tapi ternyata itu bikin aku kepikiran jangan-jangan selama ini aku annoying.

10. My favorite Disney Princess is Mulan. Beda dengan putri-putri klasik macam Cinderella atau Snow White yang menunggu diselamatkan pangeran impiannya, Mulan justru menyamar jadi laki-laki, maju ke medan perang menggantikan ayahnya yang sudah tua. Keren lah, pokoknya. Waktu SD, aku bahkan pakai shampo dan body mist Disney Eskulin yang varian Mulan karena wanginya enak.

11. Waktu SMA, aku pernah memotong rambutku sampai pendek banget untuk ukuran cewek, tapi sedikit kepanjangan untuk ukuran cowok. Actually that was the best hair style I’ve ever had, and the most comfortable. Gaya rambut itu aku pertahankan sampai pertengahan kelas 12, sebelum akhirnya mulai dipanjangkan lagi demi sanggul perpisahan.

12. Walaupun sendirinya masih suka khilaf, aku senang mengoreksi ejaan, penggunaan kata, dan logika kalimat yang ditulis orang lain—terutama di media sosial.

13. Suka banget sama kucing, tapi nggak diizinkan memelihara. Sekalinya aku boleh melihara kucing itu sekitar kelas 12, waktu ada kucing jantan liar berbulu oranye yang suka mampir ke rumah. Dia kukasih nama Onyew dan sebenarnya kucing yang baik. Nggak pernah buang air sembarangan. Paling sekalinya lantai penuh pipis kucing itu karena dia dikejar-kejar kucing betina sampai terkencing-kencing. Selebihnya, Onyew kucing yang manja padaku. Kalau pagi, aku sering bangun dengan Onyew tidur di kakiku. Begitu aku kuliah, nggak ada lagi yang sayang sama Onyew, jadi dia hilang. Sedih 😦

14. Personal space is everything. Aku sebenarnya nggak suka dekat-dekat atau disentuh sama orang, kecuali sama anggota keluarga inti. Di angkot atau di bus, aku mendingan meringkuk nggak nyaman daripada lutut atau bahuku harus bergesekan dengan orang lain. Kadang, ada teman yang pas lagi jalan bareng tanpa sadar suka menggamit lenganku dan sejujurnya itu bikin aku nggak nyaman, tapi nggak enak ngomongnya.

15. Sekarang lagi peduli banget sama kehalalan suatu produk. Gara-garanya, aku baca postingan seseorang yang bilang, “kita kan udah capek-capek kerja cari uang yang halal. Masa habis itu dipakai beli yang haram?” Ini jadi bikin aku ingat bapak yang capek-capek kerja di bengkel, tapi akunya malah lebih menuruti nafsu untuk beli produk, terutama makanan, yang diragukan kehalalannya. Sedih sih, jadi nggak bisa jajan Pocky atau nyobain Nutella atau makan di tempat yang agak fancy dengan sajian menu ala luar negeri. Tapi demi timbangan dosa yang sudah berat, nggak apa-apa!

The Enemy is the Inner Me (2)

Dari film “It’s Kind of a Funny Story”

Tiba-tiba aku merasa depresi lagi. Merasa ketakutan lagi. Overthinking lagi.

Padahal, minggu lalu aku mulai sedikit merasa lebih percaya diri. Mungkin semua ini karena jadwal tidur yang mendadak kembali kacau balau–aku baru bisa tidur setelah jam 3 pagi, baru terbangun sekitar jam 7 atau 8 untuk sholat subuh (semoga Allah mengampuniku), lalu tidur lagi dan bangun sekitar jam setengah 12 siang dalam kondisi lemas, pusing, dan marah. 

Atau mungkin juga karena haid yang tidak kunjung datang. Entahlah. 

Kadang, rasanya aku ingin punya seseorang (atau sesuatu) untuk disalahkan. Aku ingin berteriak kepadanya, “kenapa kamu bikin aku jadi gini?????” 

Sialan! 

Aku ingin menghempaskan kepalaku ke dinding, sampai benjol, sampai berdarah, lalu menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mengeluarkan setan (atau apapun yang saat ini terus membisikiku dengan bacotan negatif) dari dalam diriku, menghajarnya hingga babak belur, hingga ia tidak bisa membuka mulutnya walau hanya untuk bernafas, atau kalau perlu sampai dia mati. 

Aku ingin memeluk seseorang, lalu menangis dan nggak menceritakan apapun. 

Aku ingin membuang ponselku, menghancurkannya, atau setidaknya memberikannya pada orang yang membutuhkan.

Aku ingin mengunjungi dokter jiwa. 

Kelucuan Hidup: Jakarta dan Hari yang (Kebetulan) Sial

Selama ini hidupku memang penuh kelucuan. Semua hal yang ingin aku lakukan, nggak pernah ada yang berjalan mulus. Selama ini, kelucuan hidup yang ada masih bisa kutolerir. Misalnya, bolak-balik memfotokopi sesuatu karena sekip, atau waktu otakku memproses Cikapundung Riverspot sebagai Teras Cikapundung, lalu bela-belain naik angkot ke sana untuk menyadari kalau aku salah tempat.

Kelucuan hidup lainnya yang benar-benar bikin aku nggak tau mau bereaksi gimana adalah waktu mudik tahun lalu. Waktu itu, aku lagi di bus Damri Bogor-Bandara Soekarno-Hatta ketika di-sms untuk usmas ESOK HARINYA. Yes, di-sms-nya H-1 setelah aku gabut nungguin lama banget di Nangor. Ketika kukira usmas selanjutnya bakal abis lebaran, ternyata malah minggu depannya. Hahaha lawak. 

Nah, dari semua kelucuan hidup yang pernah aku alami, akhirnya ada satu kejadian yang bikin aku pengen nangis dan (waktu itu) nggak bisa ikut ketawa sama kehidupan karena buatku ini udah nggak lucu. 

Minggu lalu akhirnya aku wawancara pra-riset ke Jakarta setelah tertunda sekian bulan karena aku ketakutan nggak jelas. Setelah belasan kali berkirim e-mail, akhirnya disepakati aku akan wawancara hari Rabu (8/3/17) jam 14.00 di redaksi Majalah Bobo, Kebon Jeruk sana. 

Aku pun nyari-nyari gimana caranya ke Kebon Jeruk. Pas liat di Google Maps, ternyata ada pool travel Baraya cuma lima menit jalan kaki dari Kompas Gramedia Building, kantornya si Bobo. Alternatif lain, aku bisa naik bus ke Lebak Bulus, terus lanjut naik busway ke Kebon Jeruk. 

Waktu aku nelpon untuk nanyain jadwal sekaligus booking, telponnya nggak pernah diangkat. Jadilah, aku googling lagi dan tahu kalau ada keberangkatan 10.30 ke Kebon Jeruk. Dengan asumsi perjalanan selama 3 jam, menurutku jam ini pas. Lalu kupikir nanti tinggal datang aja ke pool-nya sejam sebelum keberangkatan. Biasanya sih selalu bisa kalau gitu.

Pola tidur yang terganggu lagi bikin aku cuma tidur sekitar empat jam malam itu. Abis subuh, aku nggak berani tidur lagi karena takut kebablasan. Jam 8, aku jalan dari kosan menuju pool travel Kiswah yang cuma sepelemparan batu dari kosanku. Soalnya, pool Baraya yang aku tuju ada di Pasteur, jadi mending naik travel aja daripada naik Damri+angkot. Toh ongkosnya sama sengan waktu tempuh setengahnya. 

Aku sampai di Bandung sekitar jam 9.30 dan langsung menuju pool Baraya.

“A, kalo ke Kebon Jeruk ada?” tanyaku. 

“Hmm…” si Aa ngecek komputer. “Adanya yang jam 15.00, mbak. Yang jam 10.30 nggak berangkat,” 

Doeeengg!!! Aku langsung panik. Nggak tau kenapa waktu itu aku malah nggak mikir untuk naik yang jurusan lain, ke Slipi misalnya, toh sama-sama Jakarta Barat. Otakku yang panik langsung memesan Gojek untuk ke terminal Leuwi Panjang karena aku akan naik bus aja. 

Entah karena panik dan buru-buru atau gimana, aku ngerasa abang Gojeknya lamaaa banget apalagi di seberang sana jalannya lumayan macet. Waktu itu udah hampir jam 10.

Sampai di Leuwi Panjang sekitar jam 10.30, ternyata busnya baru berangkat sekitar 2o menit kemudian. Aku benar-benar panik karena udah nggak mungkin keburu untuk sampai jam 14.00. Jadilah, aku mengirim e-mail untuk minta maaf karena aku terlambat dan minta mengundur wawancara jadi jam 15.00. Mbak yang akan kuwawancara mengiyakan. 

Sepanjang jalan aku cuma bengong mikirin, aku ngapain sih sampai hari ini berjalan begitu ribet? Selama ini aku ke Jakarta, pergi pagi pulang malam, nggak pernah bermasalah. Padahal kali ini aku nggak berusaha untuk hemat (yang biasanya jadi awal keborosan tak terencana). Padahal kali ini aku berusaha untuk nggak overthinking karena aku menghindari stres dan depresi. Padahal tadi udah mikir pengen langsung tidur di travel. 

Aku ketiduran mungkin sekitar satu jam ketika mendapati bus berjalan selangkah-selangkah di Karawang. Katanya sih macet karena ada truk yang terbakar atau terguling gitu, aku nggak inget. Waktu itu udah jam dua lebih, jadi aku mulai menitikkan air mata karena nggak mungkin sampai di Jakarta jam tiga. 

Ini memalukan dan nggak profesional banget. Selama ini, walaupun aku nyasar, alhamdulillah aku selalu sampai tepat waktu. Telat pun nggak sampai 15 menit. Tapi ini, yang harus dijadwalkan ulang begini, asli ini pengalaman pertama. 

Toh air mataku nggak akan bikin lalu lintas mendadak lancar, atau aku bisa berteleportasi. Jadi, sembari menunggu balasan e-mail permintaan maaf kedua sekaligus permintaan jadwal ulang, aku memikirkan malam ini akan hinggap di mana. Ya kali langsung pulang lagi bo’, aku udah capek fisik mental. 

Ternyata orang-orang yang kuhubungi untuk numpang menginap lagi pada nggak bisa diinapi. Lagi-lagi semesta menertawakanku. Jadilah, aku memutuskan untuk ke Bogor aja, nginap di rumah Kacang. Lagian wawancaraku diundur jadi besoknya jam 14.00. 

Aku sampai di Jakarta, turun di Cilandak, sekitar jam 16.30 dan langsung mencari tempat sholat. Satu-satunya tempat yang terpikir olehku ada di dekat situ adalah Cilandak Mall yang sekarang udah jadi Transmart. Aku ingat karena dulu pernah ke situ waktu Ibuk masih tinggal di Jakarta. 

Abis sholat, aku belanja beberapa keperluan untuk menginap. Asli aku mah emang nggak persiapan karena dari awal juga nggak niat mau nginap. Aku cuma beli tiga benda super penting dalam hidupku: deodoran, sikat gigi, dan sabun muka. Nggak apa-apa nggak ganti baju, yang penting pake deodoran. 

Abis itu aku naik angkot ke Stasiun Pasar Minggu karena nggak tau gimana caranya ke stasiun lain dan udah nggak mau mikir dan pengen berhemat setelah seratus ribu lebih terbuang hanya untuk pergi, padahal bajet segitu bisa untuk ongkos PP. 

Sampai stasiun sekitar jam 17.30. Aku tau sih ini rush hour dan keretanya pasti penuh banget sama orang-orang pulang kerja. Tapi pikirku, ya udahlah, mau nunggu di mana lagi. Begitu masuk ke peron sebenarnya udah ada satu kereta tujuan Bogor. Tapi ngeliatnya penuh banget, aku jadi lemes dan memutuskan untuk nunggu kereta selanjutnya beberapa menit kemudian. 

Begitu kereta datang, aku ngintilin dua ibu-ibu supaya bisa ikut nyelip di keramaian. Ya Allah, ini pertama kali banget aku naik kereta yang penuh sesak, yang samar-samar tercium bau apek keringat, yang sender-senderan sama bapak-bapak (atau lebih tepatnya dia yang menyandarkan setengah hidupnya ke punggungku. Berat). 

Ya Allah, aku nggak mau tinggal di Jakarta… 

Malamnya pun aku masih nggak bisa tidur dengan benar karena sehabis hujan, udara kembali panas dan lembab. Aku cuma tidur sekitar satu atau dua jam waktu hujan, kebangun tengah malam, dan nggak bisa tidur lagi sampai sekitar setengah tiga.

Pas wawancara, alhamdulillah berjalan lancar dan aku dapat semua pernyataan yang aku mau. Pulangnya, aku dan Kacang naik busway ke Lebak Bulus, jalan kaki lagi ke Carrefour terdekat karena cuma di situ yang paling  mungkin ada mushola terdekat, terus Kacang gegayaan ngajak makan pizza dulu karena, “Adek kan cuma hedon kalau ada mbak,” Mantap, dik! 

Untungnya aku nggak nungguin magrib dulu untuk pulang karena aku naik bus sekitar jam 17.30 dan baru nyampe Nangor jam 23.30! Ampuuun! 

Emang sih, ketika aku menceritakan kelucuan ini ke teman-temanku, ketika aku menuliskan cerita ini, semua kejadian minggu lalu terdengar nggak begitu buruk. Tapi yah, mungkin pelajarannya adalah: (1) menginaplah sebelum kelucuan hidup menghantammu tepat di wajah; (2) overthinking sebenarnya membuatmu waspada dan terhindar dari kelucuan hidup (walaupun sedikit banyak itu membunuhmu). 

Semoga setelah ini semuanya baik-baik saja. 

Sumber: instagram.com/thegoodquote