Uncategorized

Ketakutan Magrib Tadi

My life is only revolving around me spending money and hating on myself.

Tadi habis magrib aku mau ke atm di gerlam, mau ngambil pecahan 20ribuan karena seingatku di rekening tinggal 30ribu. Nggak tahu yang lainnya kemana. Tiap punya uang, uangnya langsung kubakar.

Sepanjang jalan dari kosan, aku mikirin kenapa aku boros banget. Kenapa aku kayak orang nggak punya masa depan. Kenapa aku ini mengecewakan.

Kalau ada orang yang bilang benci sama aku, percayalah aku juga benci sama diriku sendiri, lebih dari orang lain. Aku benci sama diriku yang nggak punya kontrol. Aku benci sama diriku yang seenaknya aja. Aku benci sama diriku yang semakin hari malah berjalan mundur.

Rasa pengen “udahan” itu makin besar.

Di depan Suharti, aku mulai nyebrang. Jalanan lumayan rame dari dua arah.

Selama sedetik, terlintas di pikiranku untuk berhenti aja di tengah jalan. Biar ketabrak. Biar udahan. Aku bawa dompet, ada KTP. Aku bawa hp, ada nomor yang bisa dihubungi. Sepersekian detik, kakiku nyaris berhenti melangkah.

Untungnya akal sehat segera mengambil kendali atas diriku. Nggak, nggak boleh. Dosa. Aku nyebrang baik-baik, nggak jadi berhenti dan bikin susah supir truk. Aku nggak mau makin nyusahin orang.

Aku takut. Banget. Maafkan aku ya Allah. Aku nggak mau ngerasain kaya gini lagi. Tolong.

Trus tadi temanku menelepon, minta tolong aku bantuin tugas statistika dengan nama rumus(?) yang nggak pernah kudengar.

“Kan bukunya masih ada,” dia memaksa.

“Dulu dipinjem temen kosan, gak dibalikin sampai orangnya udah lulus,” kataku. Aku nggak bohong.

“Bantuin dong, cuma satu soal. Googling aja, deadline-nya besok,” desaknya lagi.

“Nggak ngerti. Lagian kuliah statistik tuh pas semester 2. Udah nggak ingat, maaf ya,”

Telepon ditutup.

Padahal dia tahu setahun ini aku berkutat dengan setan. Egois.

Habis itu seseorang dari masa lalu mengirimkan pesan ke instagram-ku dengan jarak hampir satu tahun dari terakhir kali kami berkirim pesan. Dia memanggilku “sayang” seperti yang dulu-dulu. Nggak, aku nggak akan kepancing lagi. Pergi.

Lima menit kemudian dia kembali mengirim pesan.

“Sombong banget sih sekarang,” cuma kubaca. Mau ngapain sih.

Sepuluh menit kemudian dia membalas story-ku. Lagi-lagi mendesak untuk menyapa. Aku capek. Aku muak. Kamu cuma datang ketika bosan dan sendirian. Kamu kan udah punya pacar, kemana dia? Aku kan udah pernah bilang dari dulu aku suka sama kamu dan kamu cuma ketawa. Maksudnya biar selesai loh. Masa nggak ngerti juga? Masa masih main-main juga? Kok jahat sih?

Terserah. Aku nggak mau peduli lagi.

Advertisements

Something Wrong

vlcsnap-2016-11-23-17h56m14s962

Raj, I feel you

Kalau dipikir-pikir, setengah dari hariku kugunakan untuk berpikir. Setelah tidur dan (berusaha) menunaikan berbagai kewajiban, aku selalu menemukan ada sesuatu, atau banyak hal yang salah dengan diriku.

Misalnya, aku nggak pernah merasa puas dengan apa yang aku kerjakan. Menurut standar absurdku, semua yang aku kerjakan itu sampah yang lebih baik nggak usah ditunjukkan daripada membuatku malu di depan umum. Entah kenapa, aku selalu menjadikan orang lain sebagai standar. Aku harus bisa menulis seperti si X. Karyaku harus bisa menggugah jiwa seperti yang dilakukan Pak Y. Kalau orang lain jadi stres karena lelah berusaha memuaskan keinginan orang lain, aku nyaris gila karena nggak pernah mampu memuaskan keinginan diri sendiri, yang aku bahkan nggak tahu mauku ini apa.

Pernah sekali, aku merasa sudah cukup puas dengan apa yang aku kerjakan sebelum akhirnya aku melihat pekerjaan orang lain yang (menurutku) jauh lebih bagus. Seketika, di mataku pekerjaanku ini langsung turun ke level durjana. 

Di sisi lain, aku nggak pernah (atau mungkin sangat jarang) down karena hal yang berbau fisik. Aku sadar aku gemuk, bahkan berat badanku sudah jauh melewati batas yang kutetapkan waktu SMA. Aku nggak begitu mempermasalahkan pori-pori di mukaku, yang entah kenapa begitu kuliah malah membesar dan mengundang komedo. Aku juga nggak pernah kepikiran untuk bisa berpakaian seperti si A, atau mengikuti tren foto seperti si B. Waktu SMP, sambil ketawa temanku ngatain aku jelek dan aku bodo amat, malah ikut ketawa. Yah, walaupun sesekali aku merasa seperti buntalan ketika berada diantara orang-orang kerempeng, sih. Tapi itu nggak pernah benar-benar menggangguku. 

Hal lain yang suka muncul di pikiranku adalah bagaimana aku nggak pernah bisa mempertahankan sebuah hubungan, baik pertemanan ataupun roman. I’m not good at being a girlfriend. I’m not even good at being a girl, or a friend.

Belakangan aku baru menyadari kalau aku nggak bisa lama berakrab-akrab dengan orang lain, bahkan dengan orang yang sebenarnya sudah akrab denganku sejak awal. Nggak dalam hitungan jam, memang. Tapi dalam hitungan hari. Maksudku, ketika aku harus menghabiskan beberapa hari bersama-sama seseorang, maka aku akan cenderung membencinya. Aku akan cenderung menemukan ada banyak hal dari dirinya yang menurutku annoying.

Contohnya, aku pernah ada dalam kondisi dimana aku harus menghabiskan beberapa hari bersama seorang teman, sebut saja Mawar. Beberapa hari pertama semuanya sangat menyenangkan. Tiap hari kami ngobrol tentang banyak hal, ngegosip ini-itu. Tapi lama-lama, aku ada di titik dimana aku muak mendengar pendapatnya. Aku benci mendengar dia berkomentar. Aku ingin menyuruhnya diam, tapi nggak punya alasan yang cukup kuat untuk melakukan itu. Setelah beberapa hari “rehat” dari Mawar, aku “sehat” kembali. Jadi biasa lagi. 

Atau ketika aku benci dengan berbagai kebiasaan temanku yang lain, sebut saja Kenanga. Aku benci ketika dia berkomentar tentang harga deodoranku yang mahal (padahal semua toiletries-ku masih produk supermarket dan drugstore). Aku kesal karena dia suka lupa menutup keran air. Aku bahkan pernah muak hanya karena mendengar dia tertawa.

Sebaliknya, kalau aku hanya menghabiskan beberapa jam atau tiga hari bersama mereka, aku nggak pernah merasa bermasalah. Ketika sudah lama nggak kongkow bareng, aku nggak kesal mendengar semua komentar sinis Mawar. Ketika Kenanga mampir ke kosanku, aku memaklumi dia yang lupa menutup keran air. Setelah lama tidak bertemu, mereka seperti orang baru yang nggak kuketahui faktor menyebalkannya.

Atau bagaimana aku yang nggak bisa menjaga hubungan baik dengan teman lama. Bukannya berantem, sih, tapi ada banyak teman lama yang membuatku canggung ketika ketemu lagi. Ada banyak teman SD dan SMP yang dulunya sangat dekat, akhirnya sekarang benar-benar nggak pernah ngobrol lagi. Aku emang nggak pernah reunian SD karena nggak ada yang menginisiasi, dan karena kecanggungan ini aku juga nggak berniat jadi inisiator. Teman SMP? Kami masih ngumpul beberapa tahun sekali, dan sejujurnya aku benar-benar merasa sangat canggung. Rasanya seperti kembali ke hari pertama di kelas 7A lagi.

Emang aneh banget, aku kuliah di bidang ilmu sosial, bidang ilmu komunikasi, tapi setelah lima tahun berlalu aku malah semakin nggak suka bersosialisasi, semakin nggak suka berbasa-basi. Rasanya……. capek? Entah kenapa aku malah semakin nggak percaya sama orang. Aku tahu semua orang pada dasarnya adalah orang baik, tapi entah kenapa tahun-tahun belakangan aku meragukan kebaikan setiap orang.

Kegelisahan-kegelisahan ini…….rasanya bikin aku seperti robot korsleting. Aku nggak tahu harus mikir apa dan gimana. Tiap hari aku merasa nggak nyaman dengan apa yang aku lakukan, dan nggak pernah bisa berhenti memikirkan ekspektasi dan ketidakpuasan.

Aku bertanya-tanya apa yang membentuk kepribadianku sampai aku jadi kaya gini. Padahal, seingatku aku dibesarkan dengan cara biasa seperti orang-orang pada umumnya. Tapi, pasti ada faktor kunci yang bikin aku selalu membenci diri sendiri. Apa? 

Aku. Pengen. Reset.

Mingling

Credit: The Star


Gak ada hubungannya sama Sanggyun sih. I just wanna put this here to remind me to the days when I’m madly in l*ve with him lol. Also, he looked so damn fine. Been serving looks since 1995.

Kemarin aku buka notif akun Facebook lamaku. Ada ratusan pemberitahuan, tapi hampir semuanya kalo nggak game invitation, ya update-an orang-orang yang entah kenapa bisa ada di notifku. Nggak tahulah, entah kenapa akun lamaku itu kaya ketinggalan zaman dan aneh aja UI-nya. Trus aku males ngutak-atik jadi  ya udahlah ya.

Dari ratusan notif itu, ternyata ada notif komentar foto yang di-tag ke aku dari beberapa teman SMA. Ternyata itu undangan nikahan dong, dari September! Parah banget nggak sih, aku gak ngeliat undangan itu karena ketiban notif-notif nggak penting lainnya. Dan yang bikin aku merasa bersalah adalah, teman ini merupakan teman sebangkuku waktu kelas 11, ketika aku pertama kali masuk IPS dan nggak kenal siapa-siapa. Maafin.

Trus tadi ada undangan lagi di grup line SMA. Lagi-lagi dari teman sekelas waktu kelas 11, tapi yang ini cowok. Kaget sih kaya kukira dia tipe yang nggak akan nikah muda hahaha. Tapi ya gitu ya, namanya jodoh nggak ada yang tau.

Kalau dihitung-hitung, teman-temanku dari zaman sekolah mungkin ada sekitar 10-15 orang yang sudah atau akan menikah. Wah, salut, berani berkomitmen di usia muda. Aku sih belum mau haha tapi nggak tau ya kalau udah jalannya mah, ya gimana.

Trus, aku kepikiran sebuah hal yang paling aku takuti (atau lebih tepatnya, malesin) kalau udah nikah: kudu berbaur alias mingling sama keluarga orang lain. Aduh, ngebayanginnya aja udah bikin aku capek.

Namanya nikah itu kan bukan cuma menyatukan dua insan manusia ya, tapi juga menyatukan dua keluarga. Kita masuk ke keluarga orang lain, dan sebaliknya, gitu. Jadi mesti berakrab-akrab sama bapaknya, ibunya, kakaknya, adeknya, bahkan mungkin sampai level kakek-nenek-om-tante-sepupu. Masalahnya ini tuh keluarga, yang bakal susah banget untuk dihindari dan pasti diomongin kalau kamu berlaku “tidak seperti keinginan mereka”.

Membayangkan aku harus bermanis-manis mengambil hati ibu mertua aja bikin aku cringe setengah mati, apalagi kalo beneran kejadian. Trus aku kan pengennya selalu lebaran di rumah, sama mamaku, bapakku, adek-adekku. Walaupun menikah bikin kamu jadi bagian keluarga orang lain juga, yang berarti kamu berhak untuk merayakan lebaran bareng mereka, tapi kan tetap aja beda. Kamu nggak lahir di situ, nggak tumbuh besar bersama mereka. Gimana pun, kamu orang asing. 

Ugh, socializing is so tiring.

Iya, ini beneran shitposting soalnya aku pusing, emotionally draining, trus nggak bisa tidur padahal sebentar lagi udah subuh. Trus juga bete karena seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap bulan November aku nggak pernah haid. Jadi aku tau persis postingan ini ngawur dan nggak jelas logikanya. Eh, tapi emang postinganku ada yang jelas alur berpikirnya? Hahaha. 

Keep in Touch

Kalau dihitung-hitung, jumlah teman sekolah yang masih sering kuhubungi dan nggak canggung bisa dihitung dengan sebelah tangan. 

Padahal, dulu temanku banyak. Waktu SD, rasanya aku akrab dengan semua orang. Teman cewek ataupun teman cowok. Teman sekelas ataupun teman kelas sebelah. Begitu lulus SD, aku masih sering main sama teman-teman yang masuk ke SMP yang sama, bahkan ke sekolah pun sering bareng. Sampai akhirnya ketika kami mulai akrab dengan teman sekelas masing-masing dan mulai berjalan sendiri-sendiri. Sekarang aku bahkan nggak yakin teman-teman SD-ku masih kenal sama aku saking udah nggak pernahnya ngumpul.

Di SMP juga temanku lumayan banyak. Walaupun sempat selek sama beberapa orang, tapi karena kita sekelas selama tiga tahun, gimanapun juga pasti dekat. Bahkan waktu SMP aku punya semacam “geng” gitu yang akrab banget. Sekarang, jujur aja dari “geng” itu, cuma satu orang yang aku masih akrab dengannya dan nggak canggung waktu ngobrol.

Dari masa-masa setelah UN, masa-masa libur peralihan SMP-SMA itu, kami sering banget ngumpul. Aku ingat, waktu itu aku dan si A nyaris tiap sore keliling kota naik motor. Ngapain? Ya cerita macam-macam. Ngegosipin teman-teman di sepanjang jalan. Ketika akhirnya si A melanjutkan SMA di luar kota, kami masih sering kontak-kontakan. Nyaris tiap hari pulang sekolah aku dan A teleponan, cerita tentang kehidupan sekolah masing-masing. Tentang teman-teman sekelas, tentang gebetan, pokoknya macam-macam, sampai aku bahkan nge-add Facebook gebetan dan mantannya dia itu. Nggak tahu gimana awalnya, kebiasaan itu kemudian berhenti. Nggak tahu kapan.

Terakhir kali aku ngumpul sama teman-teman SMP itu tahun lalu, waktu bukber. Buatku, entah kenapa rasanya asing. Rasanya kaya kembali ke hari pertama masuk SMP, kaya berusaha kenal lagi sama orang-orang. Rasanya canggung banget untuk ngobrol. Sampai-sampai aku berusaha mengingat-ingat dulu tuh kita ngobrolin apa sih, kok sampai bisa deket. 

Iya, mereka masih rame. Iya, semua bercandaan, ceng-cengan zaman SMP itu masih lucu ketika diungkit sekarang. Tapi enggak tahu kenapa, I just feel like I don’t belong there?

Masuk ke zaman SMA. Kelas 10-ku adalah awal yang sangat baik untuk memulai kehidupan SMA. Semua orang menyenangkan. Aku yang biasanya butuh waktu satu semester untuk akrab dengan teman sekelas, waktu itu rasanya cuma butuh satu-dua bulan. Folder foto-foto SMA di laptopku, lebih dari setengahnya berasal dari kelas 10. Aku punya “geng” lagi dan aku juga punya beberapa teman akrab diluar “geng” itu.

Ah ya, misalnya si B. Dia ini dulunya pendiam dan pemalu, padahal ganteng kearab-araban gitu. Kalau di kelas suka nunduk tidur di meja, atau kalau diajak ngobrol kadang suka cengengesan doang. Si B ini duduk di sebelahku. Nggak semeja, tapi berseberangan. Dari situ kita jadi sering ngobrol, nggak ingat juga ngobrolin apa. Mungkin karena aku juga akrab dengan teman si B yang berasal dari SMP yang sama. Setelah itu, ternyata si B suka sama salah satu teman se-“geng”-ku dan dia sering banget curhat ke aku tentang perasaannya buat temanku itu. Seperti yang sudah-sudah, aku juga nggak ingat gimana aku dan B berhenti kontakan, bahkan berhenti saling sapa. 

Belum lagi teman-teman dari zaman IPS. Teman-teman makan durian bareng di sekolah sore-sore. Teman-teman bakar ayam ketika kelas kita menang lomba band pas pensi. Teman-teman cabut ke kantin bareng karena waktu itu kelasnya bau terkontaminasi limbah pabrik tahu. Teman-teman keluyuran ke danau, ke kebun teh. Teman-teman renang bareng tiap hari Minggu. Teman pulang sekolah bareng naik bendi, atau jalan kaki rame-rame trus jajan pisang coklat belakang masjid depan rumahku.

Sekarang, kalau ketemu lagi rasanya canggung banget. Aku merasa asing dan berada diantara mereka ternyata entah kenapa bikin aku merasa nggak nyaman. Benar-benar seperti bertemu orang baru. Terakhir aku ikut ngumpul SMA itu mungkin tiga tahun lalu? Setelah itu ya sekedar sapa aja kalau ketemu di jalan atau di minimarket. 

What makes me high key sad is they used to told me everything but now when there’s major change in their lives I only know it from their Instagram updates.

Kadang aku mengevaluasi diri, apa aku ya, yang menarik diri dari mereka dan memutuskan kontak? Dari pesan yang biasanya segera dibalas, kemudian yang dibalas setengah jam kemudian, sampai yang nggak dibalas lagi dan akhirnya pesan itu berhenti?

Apa aku yang mulai berhenti mengucapkan selamat ulang tahun, selamat tahun baru, selamat puasa, selamat lebaran? Apakah aku yang berhenti peduli? Mungkinkah aku yang berhenti bertanya apa kabar dan nggak tahu gimana melanjutkan obrolan?

Tahun lalu, seorang teman SMA, si C, seringkali meneleponku tiba-tiba. Menanyakan kabarku, kabar skripsiku, trus cerita kalau dia mau ke luar negeri untuk presentasi. C segampang itu menghubungiku dan bercerita. Sementara aku rasanya canggung sekali untuk menelepon si C. Enggak tahu mau cerita apa. Takut C sedang sibuk dan aku ganggu. Takut C sedang stres dengan hidupnya sendiri dan ceritaku yang juga lagi stres bikin dia tambah stres.

Teman-teman lain nggak canggung ketika harus ketemu dan ngobrol lagi. Mereka nggak ngerasa asing ketika ngumpul lagi. Entah gimana mereka selalu punya sesuatu untuk diobrolkan walaupun sekarang mereka berjalan di jalannya masing-masing.

Iya, emang aku yang nggak bisa menjaga hubungan dengan orang lain. Mungkin nggak ada yang merasa kehilangan aku dalam hidupnya, tapi aku minta maaf karena udag menghilang dari hidupmu. Emang aku yang nggak bisa menjaga orang lain untuk tetap ada dalam hidupku. 

Dan itu bikin aku sedih. 

#UniMemory: Aa Di

Sebenarnya aku tuh enggak gabut. Aku punya segunung pe-er yang mesti dikerjakan, tapi dicicil pelan-pelan karena….. Ya pelan-pelan aja.

Akhirnya, otakku malah memutuskan untuk mengerjakan sesuatu, sekalian nge-post di blog yang udah lama terbengkalai. Kepikiranlah ide untuk menuliskan setiap kenangan kehidupan kampus yang tiba-tiba muncul di otakku. Untuk yang pertama ini, inspirasinya muncul setelah aku makan nasi uduk.

Aa Di.

Kalau sudah menjelang magrib, pedagang kaki lima di sekitar Jatos mulai memarkir gerobak, memasang tenda, dan berjualan. Salah satunya adalah pedagang ayam goreng/bakar di depan kosan Mumut. Rasanya selama lima tahunan di Nangor, tiap nongkrong di kosan Mumut pasti malamnya kita makan di sini.

Penjualnya adalah seorang laki-laki muda, umurnya mungkin di akhir 20-an. Manis kaya kecap, ganteng kaya mas Duta Sheila On 7. Dulu dia jualan bareng ibunya, tapi sekarang si ibu udah enggak ikut jualan. Mungkin sakit karena sering kena asap tebal dari tukang sate ayam di sebelahnya. 

Gantengnya si Aa tentu bukan alasan aku dan teman-teman suka makan di situ. Walaupun cuma ayam goreng/bakar biasa dengan nasi biasa dan sambel merah biasa, tapi enak. Gimana ya, aku nggak bisa mendeskripsikan. Tapi kalau makannya dibungkus atau makan di sana, semuanya tetap enak.

Kemudian kami pun penasaran dengan nama si Aa. Bukan mau ngapa-ngapain sih, penasaran aja soalnya udah sering banget beli di situ kan. Tapi, nggak ada yang berani nanya hahahaha. Aneh lah, ujug-ujug nanya nama. Mau ngapain.

Rasa penasaran itu sedikit terjawab setelah salah satu dari kami mendengar si Ibu memanggil si Aa dengan sebutan “Di”. Sejak itu, kami menyebut si Aa sebagai Aa Di.

Biar begitu, kami masih penasaran dong, masa namanya cuma “Di”? Apakah dia seorang Adi? Dika? Dio? Dilan? Dian? Randi? Mulyadi? Mukidi?

Enggak. Kami enggak bisa meninggalkan Nangor tanpa tahu siapa nama Aa Di sesungguhnya.

Akhirnya, sekitar tahun lalu, kami mendapat titik terang atas pencarian kami selama ini. Nama si Aa akhirnya terdengar dari mulut ibu penjual sate ayam.

Namanya Fandi. 

“Thank You For Being Born” 

I think it’s the best birthday wish ever. Like when you feel at the lowest point, when you feel useless or unworthy, when you just want to give up; but there’s someone thankful because you are born. There’s someone feels glad because you are the part of their world. 

To my dear family and friends, thank you for being born. 

Lagu yang Bikin Nangis di Pendengaran Pertama

Umm… Sejujurnya aku nggak bisa mikir apa intro yang tepat untuk postingan ini. Sekarang aku lagi di Cisral lantai 4, berusaha mengerjakan skripsi tapi kemudian merasa bosan dan nggak bersemangat. Terus dari playlist-ku ternyata ada beberapa lagu yang kalau diingat-ingat bikin aku nangis sejak pertama kali mendengarkannya.

Dengan bangga aku mau bilang kalau dalam daftar ini nggak ada lagu cinta-cintaan! Hahaha. Lagu-lagu ini adalah lagu yang liriknya sedih, bikin aku jadi mikir tentang banyak hal yang berujung pada cucuran air mata.

The Script – If You Could See Me Now (2012)

Rasanya ini adalah lagu pertama yang bikin aku nangis dalam sekali dengar. Waktu pertama kali dengar lagu ini, aku sendirian di rumah dan lagi nongkrong di ruang tamu demi sinyal wifi yang lebih baik.

Lagu yang ditulis oleh si vokalis, Danny O’Donoghue, dan si gitaris, Mark Sheehan, ini berbicara tentang gimana mereka berharap orang tua mereka melihat kesuksesan mereka sekarang. Liriknya sederhana dan nggak banyak metafora seperti lirik-lirik The Script yang lain. Justru karena kesederhanaan itu yang bikin aku gampang banget merasa emosional dengan lagu ini. Aku jadi ikut mikir, gimana kalau ketika aku sukses nanti (dengan entah apa kriteria sukses yang ada) tapi orang tuaku udah nggak bisa lihat itu? Aku jadi mikir gimana kalau waktu yang ada ternyata nggak cukup bagiku untuk meraih pencapaian yang remarkable?

I hope you’re up there with God saying, “That’s my kid!”

The Black Eyed Peas – Where Is The Love? (2003)

Aku baru tahu kalau ternyata BEP punya lagu dengan lirik seperti ini.

Aku pertama kali dengar lagu ini beberapa bulan yang lalu, dari daftar apa gitu di Billboard, lupa. Waktu itu adalah waktu dimana kasus Ahok lagi panas-panasnya, dan isu Timur Tengah juga masih tetap panas.

Intinya lagu ini bercerita tentang kemanusiaan yang udah pudar. Perang yang nggak pernah berhenti; diskriminasi terhadap suku, ras, agama, dan golongan tertentu; tentang manusia yang udah lupa gimana caranya peduli sesama manusia.

Apa yang bikin aku nangis adalah, udah 14 tahun sejak lagu ini dirilis dan keadaan masih nggak berubah, justru makin parah. Aku memikirkan anak-anak di Palestina, di Suriah, yang nggak tahu apa-apa dan hidup dalam kecemasan setiap hari. Aku memikirkan gimana sekarang orang-orang dengan gampangnya membunuh orang lain. Bisa nggak sih, dunia damai aja? Bisa nggak sih, kita diam dan mensyukuri aja apa yang kita punya? Bisa nggak sih orang-orang nggak berbantah-bantahan dan ribut melulu?

People killing, people dying
Children hurt and you hear them crying
Can you practice what you preach?
Or would you turn the other cheek?
….
Cause people got me, got me questioning
Where is the love?

JJ Project – Tomorrow, Today (2017)

Lagu ini direkomendasikan oleh Annan saat kami dalam perjalanan pulang habis dari wisudaan minggu lalu. Awalnya itu karena habis ngomongin kita yang sama-sama masih nggak bisa menjawab mau kemana setelah lulus. Biasalah pokoknya struggle mahasiswa bangkotan di awal umur 20-an.

Apa yang bikin aku nangis adalah lirik lagu ini benar-benar mengatakan semua yang ingin aku katakan. Aku yang jadi skeptis dan melupakan mimpi-mimpi masa lalu. Aku yang merasa kehilangan arah dan nggak tahu mesti berpijak kemana. Semua ketakutan-ketakutan tentang pilihan, tentang masa depan.

Again today, there are questions I don’t know
I’m trying to answer but I’m not confident
Is it this way or that way?
I’m afraid of my decision
With an anxious heart heart heart heart
I’m standing in front of the next next next choice
Between paths that I’ve never gone on before
How can I find my way?
I’m afraid, day by day

Honorable Mention:
Justin Bieber – Believe (2012)

Aku nggak nangis dengar lagu ini di pendengaran pertama sih, tapi tetap aku masukkan dalam daftar ini karena momen nangisnya justru baru terjadi beberapa minggu lalu.

Pertama kali dengar lagu ini adalah beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN Tertulis 2012. Waktu SMA, guruku meragukan pilihan universitasku, tapi orang tuaku mendukung apapun yang aku pilih. Sampai sekarang, dengan kuliahku yang entah kapan selesainya ini, mereka masih nggak menuntut. Cuma mengingatkan, tapi nggak menuntut apa-apa. It breaks my heart to think they still believe in me, while all I do is disappointing them. I’m so sorry.

It didn’t matter how many times I got knock on the floor
You know one day I would be standing tall.
Just look at me now.
Cause everything start from something,
And something would be nothing,
Nothing if your heart didn’t dream with me.
Where would I be if you didn’t believe?

Semoga aku kembali bersemangat.

What The Fudge Have I been Done With My Life? 

dek Seonho

Uhuk

Beberapa bulan yang lalu aku nggak sengaja kecebur dalam dunia yang nggak pernah kubayangkan sebelumnya: dunia K-Pop. 

Jauh sebelum Lee Minho jadi bintang iklan Luwak White Koffie”,  wabah Korea udah mulai merebak di awal masa SMA-ku melalui drama Boys Before Flower. Waktu itu, hampir semua anak perempuan di kelasku nonton drama itu dan ngomongin ceritanya nyaris setiap saat. Sebagai orang yang nggak ikutan nonton, aku cuma menyimak obrolan mereka. Makanya sedikit-sedikit jadi tau kalau Lee Minho dan Kim Bum adalah tipe ideal hampir semua orang waktu itu, seperti Jerry Yan dan Vic Zhou bagi mbak-mbak di era 2000-an.

Pengetahuanku soal dunia K-Pop (sampai sekarang) juga cuma sebatas hasil menyimak obrolan teman-teman. Karena temenan sama Dedek yang dinding kamarnya penuh dengan muka abang-abang SuJu (bahkan sampai ke wadah tisu dan tempat sampah) aku jadi tahu lagu Sorry Sorry. Eh, tapi siapa sih yang nggak tahu lagu ini? Hahaha. Trus aku juga tahu No Other-nya SuJu karena itu soundtrack adikku dan mantannya. Begitu juga dengan drama dan reality show yang aku sekadar tahu aja. 

Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu aku mulai nonton Produce 101 Season 2 tanpa sengaja. 

Waktu itu, aku dan Firda lagi kongkow di kosan Mumut dan mereka nonton PD101. Seperti biasa, aku ikut-ikutan menyimak dari tempat dudukku di depan lemari Mumut. Oh, ternyata kontes mencari idol. Oh, ternyata rame. Oh ternyata bikin aku ngomong, “nanti kalo nonton episode 3, ajak aku ya!”

Seperti biasa, aku selalu over-invested dengan apa yang aku tonton/baca. Apa yang terjadi selanjutnya sama seperti ketika aku menangisi kematian Koro-sensei; ketika aku jadi sayang banget sama Barney Stinson (dan mencari sangat banyak video Neil Patrick Harris); atau ketika aku suka banget sama Sheldon Cooper, bahkan sampai mimpi ketemu Jim Parsons. 

Dari yang tadinya cuma ingat Ong si tampan, Samuel si berbakat, adek Woojin yang menggemaskan, dan Daehwi si-sempurna-tipikal-anak-yang-gak-disukai-di-kelas; aku jadi suka lebih banyak trainees, terutama mereka-mereka yang ada di kisaran umurku. Tanpa aku sadari, aku jadi benar-benar emotionally invested to some complete strangers. 

Aku nangis pas bagiannya Ha Sungwoon di Downpour. Aku nangis baca lirik rap-nya Kim Jonghyun di Fear. Aku nangis karena Park Woodam terpaksa dievaluasi di dance, padahal baru aja dia dikenal lewat kemampuan vokalnya. Aku nangis lihat Im Youngmin nahan nangis pas minta maaf soal “skandal”-nya, dan pas dia beneran nangis di akhir episode 11. Aku kesal karena Noh Taehyun cuma dapat 6 votes di concept evaluation karena sebelumnya dia udah menyajikan penampilan legendaris dari tim Shape of You. Acara penuh drama, kontroversi, dan rumor ini benar-benar sudah menenggelamkanku. 

Setelah episode final, Wanna One, final group hasil acara ini jadi punya segudang acara. Mereka belum resmi debut tapi hype-nya udah gede banget. Begitu juga dengan, setidaknya, trainees yang masuk 35 besar. Mereka jadi punya banyak jadwal pemotretan, wawancara, melakukan V Live, bahkan beberapa sudah diwacanakan akan debut. Aku ikut senang dengan kesibukan mereka. Aku bersemangat memikirkan mereka semua pasti akan sukses walaupun nggak masuk Wanna One. Aku bahagia mereka semua bahagia. 

Kemudian, sesuatu mengetuk kepalaku. 

Mereka ada di kisaran umurku, beberapa bahkan jauh lebih muda. Tapi mereka udah begitu sibuk melakukan banyak hal untuk mewujudkan cita-citanya jadi idol. 

Noh Taehyun lebih tua dua tahun. Ha Sungwoon lebih tua setahun. Im Youngmin, Ong Seongwoo, Hwang Minhyun, Kim Jonghyun, Kim Sanggyun, Takada Kenta, semuanya lahir di tahun yang sama denganku. Kim Jaehwan, Kang Daniel, dan Kim Yongguk lebih muda setahun. Park Woojin dan Ahn Hyeongseob lebih muda empat tahun. Kim Samuel dan Yoo Seonho lahir di tahun yang sudah kuanggap sebagai bayi selamanya. 

Trus, aku ngapain? Apa yang udah aku lakukan dengan hidupku? Apa pencapaian yang udah aku buat? 

Wow, ternyata acara ini juga bikin aku krisis eksistensi diri.