Uncategorized

Lagu yang Bikin Nangis di Pendengaran Pertama

Umm… Sejujurnya aku nggak bisa mikir apa intro yang tepat untuk postingan ini. Sekarang aku lagi di Cisral lantai 4, berusaha mengerjakan skripsi tapi kemudian merasa bosan dan nggak bersemangat. Terus dari playlist-ku ternyata ada beberapa lagu yang kalau diingat-ingat bikin aku nangis sejak pertama kali mendengarkannya.

Dengan bangga aku mau bilang kalau dalam daftar ini nggak ada lagu cinta-cintaan! Hahaha. Lagu-lagu ini adalah lagu yang liriknya sedih, bikin aku jadi mikir tentang banyak hal yang berujung pada cucuran air mata.

The Script – If You Could See Me Now (2012)

Rasanya ini adalah lagu pertama yang bikin aku nangis dalam sekali dengar. Waktu pertama kali dengar lagu ini, aku sendirian di rumah dan lagi nongkrong di ruang tamu demi sinyal wifi yang lebih baik.

Lagu yang ditulis oleh si vokalis, Danny O’Donoghue, dan si gitaris, Mark Sheehan, ini berbicara tentang gimana mereka berharap orang tua mereka melihat kesuksesan mereka sekarang. Liriknya sederhana dan nggak banyak metafora seperti lirik-lirik The Script yang lain. Justru karena kesederhanaan itu yang bikin aku gampang banget merasa emosional dengan lagu ini. Aku jadi ikut mikir, gimana kalau ketika aku sukses nanti (dengan entah apa kriteria sukses yang ada) tapi orang tuaku udah nggak bisa lihat itu? Aku jadi mikir gimana kalau waktu yang ada ternyata nggak cukup bagiku untuk meraih pencapaian yang remarkable?

I hope you’re up there with God saying, “That’s my kid!”

The Black Eyed Peas – Where Is The Love? (2003)

Aku baru tahu kalau ternyata BEP punya lagu dengan lirik seperti ini.

Aku pertama kali dengar lagu ini beberapa bulan yang lalu, dari daftar apa gitu di Billboard, lupa. Waktu itu adalah waktu dimana kasus Ahok lagi panas-panasnya, dan isu Timur Tengah juga masih tetap panas.

Intinya lagu ini bercerita tentang kemanusiaan yang udah pudar. Perang yang nggak pernah berhenti; diskriminasi terhadap suku, ras, agama, dan golongan tertentu; tentang manusia yang udah lupa gimana caranya peduli sesama manusia.

Apa yang bikin aku nangis adalah, udah 14 tahun sejak lagu ini dirilis dan keadaan masih nggak berubah, justru makin parah. Aku memikirkan anak-anak di Palestina, di Suriah, yang nggak tahu apa-apa dan hidup dalam kecemasan setiap hari. Aku memikirkan gimana sekarang orang-orang dengan gampangnya membunuh orang lain. Bisa nggak sih, dunia damai aja? Bisa nggak sih, kita diam dan mensyukuri aja apa yang kita punya? Bisa nggak sih orang-orang nggak berbantah-bantahan dan ribut melulu?

People killing, people dying
Children hurt and you hear them crying
Can you practice what you preach?
Or would you turn the other cheek?
….
Cause people got me, got me questioning
Where is the love?

JJ Project – Tomorrow, Today (2017)

Lagu ini direkomendasikan oleh Annan saat kami dalam perjalanan pulang habis dari wisudaan minggu lalu. Awalnya itu karena habis ngomongin kita yang sama-sama masih nggak bisa menjawab mau kemana setelah lulus. Biasalah pokoknya struggle mahasiswa bangkotan di awal umur 20-an.

Apa yang bikin aku nangis adalah lirik lagu ini benar-benar mengatakan semua yang ingin aku katakan. Aku yang jadi skeptis dan melupakan mimpi-mimpi masa lalu. Aku yang merasa kehilangan arah dan nggak tahu mesti berpijak kemana. Semua ketakutan-ketakutan tentang pilihan, tentang masa depan.

Again today, there are questions I don’t know
I’m trying to answer but I’m not confident
Is it this way or that way?
I’m afraid of my decision
With an anxious heart heart heart heart
I’m standing in front of the next next next choice
Between paths that I’ve never gone on before
How can I find my way?
I’m afraid, day by day

Honorable Mention:
Justin Bieber – Believe (2012)

Aku nggak nangis dengar lagu ini di pendengaran pertama sih, tapi tetap aku masukkan dalam daftar ini karena momen nangisnya justru baru terjadi beberapa minggu lalu.

Pertama kali dengar lagu ini adalah beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN Tertulis 2012. Waktu SMA, guruku meragukan pilihan universitasku, tapi orang tuaku mendukung apapun yang aku pilih. Sampai sekarang, dengan kuliahku yang entah kapan selesainya ini, mereka masih nggak menuntut. Cuma mengingatkan, tapi nggak menuntut apa-apa. It breaks my heart to think they still believe in me, while all I do is disappointing them. I’m so sorry.

It didn’t matter how many times I got knock on the floor
You know one day I would be standing tall.
Just look at me now.
Cause everything start from something,
And something would be nothing,
Nothing if your heart didn’t dream with me.
Where would I be if you didn’t believe?

Semoga aku kembali bersemangat.

What The Fudge Have I been Done With My Life? 

dek Seonho

Uhuk

Beberapa bulan yang lalu aku nggak sengaja kecebur dalam dunia yang nggak pernah kubayangkan sebelumnya: dunia K-Pop. 

Jauh sebelum Lee Minho jadi bintang iklan Luwak White Koffie”,  wabah Korea udah mulai merebak di awal masa SMA-ku melalui drama Boys Before Flower. Waktu itu, hampir semua anak perempuan di kelasku nonton drama itu dan ngomongin ceritanya nyaris setiap saat. Sebagai orang yang nggak ikutan nonton, aku cuma menyimak obrolan mereka. Makanya sedikit-sedikit jadi tau kalau Lee Minho dan Kim Bum adalah tipe ideal hampir semua orang waktu itu, seperti Jerry Yan dan Vic Zhou bagi mbak-mbak di era 2000-an.

Pengetahuanku soal dunia K-Pop (sampai sekarang) juga cuma sebatas hasil menyimak obrolan teman-teman. Karena temenan sama Dedek yang dinding kamarnya penuh dengan muka abang-abang SuJu (bahkan sampai ke wadah tisu dan tempat sampah) aku jadi tahu lagu Sorry Sorry. Eh, tapi siapa sih yang nggak tahu lagu ini? Hahaha. Trus aku juga tahu No Other-nya SuJu karena itu soundtrack adikku dan mantannya. Begitu juga dengan drama dan reality show yang aku sekadar tahu aja. 

Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu aku mulai nonton Produce 101 Season 2 tanpa sengaja. 

Waktu itu, aku dan Firda lagi kongkow di kosan Mumut dan mereka nonton PD101. Seperti biasa, aku ikut-ikutan menyimak dari tempat dudukku di depan lemari Mumut. Oh, ternyata kontes mencari idol. Oh, ternyata rame. Oh ternyata bikin aku ngomong, “nanti kalo nonton episode 3, ajak aku ya!”

Seperti biasa, aku selalu over-invested dengan apa yang aku tonton/baca. Apa yang terjadi selanjutnya sama seperti ketika aku menangisi kematian Koro-sensei; ketika aku jadi sayang banget sama Barney Stinson (dan mencari sangat banyak video Neil Patrick Harris); atau ketika aku suka banget sama Sheldon Cooper, bahkan sampai mimpi ketemu Jim Parsons. 

Dari yang tadinya cuma ingat Ong si tampan, Samuel si berbakat, adek Woojin yang menggemaskan, dan Daehwi si-sempurna-tipikal-anak-yang-gak-disukai-di-kelas; aku jadi suka lebih banyak trainees, terutama mereka-mereka yang ada di kisaran umurku. Tanpa aku sadari, aku jadi benar-benar emotionally invested to some complete strangers. 

Aku nangis pas bagiannya Ha Sungwoon di Downpour. Aku nangis baca lirik rap-nya Kim Jonghyun di Fear. Aku nangis karena Park Woodam terpaksa dievaluasi di dance, padahal baru aja dia dikenal lewat kemampuan vokalnya. Aku nangis lihat Im Youngmin nahan nangis pas minta maaf soal “skandal”-nya, dan pas dia beneran nangis di akhir episode 11. Aku kesal karena Noh Taehyun cuma dapat 6 votes di concept evaluation karena sebelumnya dia udah menyajikan penampilan legendaris dari tim Shape of You. Acara penuh drama, kontroversi, dan rumor ini benar-benar sudah menenggelamkanku. 

Setelah episode final, Wanna One, final group hasil acara ini jadi punya segudang acara. Mereka belum resmi debut tapi hype-nya udah gede banget. Begitu juga dengan, setidaknya, trainees yang masuk 35 besar. Mereka jadi punya banyak jadwal pemotretan, wawancara, melakukan V Live, bahkan beberapa sudah diwacanakan akan debut. Aku ikut senang dengan kesibukan mereka. Aku bersemangat memikirkan mereka semua pasti akan sukses walaupun nggak masuk Wanna One. Aku bahagia mereka semua bahagia. 

Kemudian, sesuatu mengetuk kepalaku. 

Mereka ada di kisaran umurku, beberapa bahkan jauh lebih muda. Tapi mereka udah begitu sibuk melakukan banyak hal untuk mewujudkan cita-citanya jadi idol. 

Noh Taehyun lebih tua dua tahun. Ha Sungwoon lebih tua setahun. Im Youngmin, Ong Seongwoo, Hwang Minhyun, Kim Jonghyun, Kim Sanggyun, Takada Kenta, semuanya lahir di tahun yang sama denganku. Kim Jaehwan, Kang Daniel, dan Kim Yongguk lebih muda setahun. Park Woojin dan Ahn Hyeongseob lebih muda empat tahun. Kim Samuel dan Yoo Seonho lahir di tahun yang sudah kuanggap sebagai bayi selamanya. 

Trus, aku ngapain? Apa yang udah aku lakukan dengan hidupku? Apa pencapaian yang udah aku buat? 

Wow, ternyata acara ini juga bikin aku krisis eksistensi diri. 

Semesta Bermain

Paham kan, gimana perasaan ketika tahu semesta kembali mengajakmu bermain dan bercanda? 

Aku bakal mudik besok, dan rasanya aneh. Maksudku, biasanya kalau mau pulang tuh bawaannya bersemangat, pokoknya beda lah perasaannya. Tapi kali ini aku malah merasa gugup dan nggak tahu kenapa, merasa 40% nggak mau pulang. Biasanya beberapa hari sebelum pulang aku udah sibuk beliin titipan bayi-bayi, bahkan udah mulai  packing paling nggak sejak H-7 saking bersemangatnya. Tapi kali ini, aku baru sibuk belanja hari kemarin (Sabtu) dan tadi siang. Packing pun baru habis Ashar, padahal aku bakal jalan ke Bandung sekitar jam 8-an. Ini mungkin karena kenyataan bahwa diri ini masih belum lulus dan males kalo ditanyain (lagi), jadi rasanya nggak semangat buat pulang haha. Tapi aku muak di Nangor, aku muak di kosan. Jadi aku harus pulang. 

Pesawatku berangkat jam 12.50 dan travel yang kupesan berangkat jam 5.30. Berhubung nggak ada travel dari Nangor yang berangkat jam 4.30 (dan nanggung subuh juga), aku memutuskan untuk kongkow aja di Mekdi Simpang Dago, wifian sampai menjelang subuh. Nanti dari Nangor, aku bakal turun di Jalan Cipaganti, naik angkot sedikit ke pool X-Trans yang deket Ciwalk, menitipkan koper, trus cabut ke Mekdi. Rencana sudah tersusun rapi di kepalaku tapi ternyata hidup nggak harus selalu berjalan sesuai rencana. 

Pertama, supir travelnya nggak mau turun ke Jalan Cipaganti, mungkin males karena mikirnya bakal macet. Tapi aku masih oke karena bisa naik angkot juga dari DU dan ongkosnya cuma beda seribu. 

Kedua, ternyata sampai di DU, sekitar jam 9.30 udah nggak ada angkot. Mungkin ada, tapi jarang banget. Aku nungguin sendirian kaya anak hilang di depan gerbang Unpad. Akhirnya aku memutuskan untuk naik Go-Car aja. 

Sampai di pool X-Trans, sebenarnya aku agak bingung karena loket reservasinya gelap, dan cuma ada segerombolan bapak-bapak yang lagi nonton bola. Ada dua ibu-ibu yang kukira juga lagi nungguin travel. Jadi dengan pedenya aku ikut duduk nggak pake nanya-nanya. Bapak-bapak yang ada di situ juga nggak nanya apa-apa. 

Sambil duduk bernapas, aku mikirin gimana caranya ke simpang. Hmmm udah nggak ada angkot. Naik gojek berarti. Tapi nanti subuh pake apa ya? Kalo nggak ada angkot? Kalo nggak ada gojek? Masa jalan? Serem. 

Kelamaan mikir bikin aku jadi haus dan memutuskan untuk nyari minimarket terdekat dan siapa tahu 24 jam jadi aku bisa nongkrong di sana sampai menjelang subuh. Ketika akhirnya menemukan Indomaret yang ada tempat duduknya, aku beli susu coklat panas dan sebotol air mineral (maafkan aku, bumi). Baru beberapa menit aku menikmati indahnya hidup ini, si teteh mulai beberes. Tokonya mau tutup.

Haha.

Aku naik ke Cihampelas Skywalk, tapi ternyata nggak ada orang dan udah mulai gerimis. Jadi aku memutuskan untuk balik ke pool dan berteduh.

Pool-nya makin sepi. Ini semakin aneh karena harusnya ada keberangkatan jam 11 ke bandara. Tapi bodohnya aku masih sok tau dan nggak nanya. Orang yang masih ada di sana juga masih nggak bertanya. Sama-sama cueklah pokoknya. 

Di tengah kebengonganku seorang diri, seorang teteh-teteh datang dan bilang mau beli tiket travel ke bandara. Satpamnya bilang, kalo yang ke bandara itu dari pool satunya lagi, sekitar 200 meter dari pool yang ini. Doooeeengggg!!!! ta…tapi kemarin pas aku booking kata aa-nya dari pool yang ini… 

Masalahnya, selama ini aku nggak pernah naik X-Trans, makanya nggak tau pool yang mana ke mana. Biasanya aku naik MGo tapi kebetulan penuh semua huft. 

Akhirnya, tengah malam aku menggeret koper kaya peserta AFI yang tereliminasi, di Jalan Cihampelas yang untungnya sudah lumayan sepi. Aduh aku malu banget rasanya, tapi nggak tau malu sama siapa hahaha.

Sampai di pool yang benar, aku duduk dan mengatur napas lagi. Menggeret koper 200 meter ternyata bikin keringatan. Sudah hampir tengah malam dan aku sudah 90% yakin pengen ke Mekdi aja. Udah ngecek gojek, tapi nggak tahu kenapa masih belum jadi mencet tombol order. 

Di tengah kebingungan, aku ngeliat kakak kelasku selama SD-SMP-SMA dan emang aku kenal. Doi kuliah di UPI dan tinggal di asrama mahasiswa daerah yang ada di ujung jalan Cihampelas. Kebetulan si kakak juga tipe senior yang ramah dan mengayomi juniornya. 

Biasanya aku orang yang males banget nyapa orang lain, tapi kali ini semesta menyuruhku menyapa si kakak. Ternyata, kami naik pesawat yang sama dan bahkan travel di jam yang sama juga. Doi akhirnya menawakanku untuk nginap di asrama aja. Mungkin sekadar basa-basi, tapi aku mengiyakan karena nggak punya alasan juga untuk bengong sendirian di pool travel.

Dari awal sebenarnya aku udah kepikiran asrama mahasiswa ini. Tapi, aku sendiri belum pernah main ke sana dan nggak kenal siapa-siapa juga hahah. Dengan si kakak pun aku sekadar kenal, bukan yang akrab sampai aku berani minta nginap di kamarnya. Tapi demi nanti cuci muka, sikat gigi, dan sholat subuh yang lebih baik, jalani saja lah ya. 

Makasih loh kak, sudah menampung shameless junior ini 💜

Yes, my life is so damn funny. 

Semiliar

Dalam satu perjalanan libur lebaran keluarga, aku melontarkan sebuah pertanyaan random ke mamaku. 

“Ma, kalau dihitung-hitung biaya hidup Cendikia sejak lahir sampai sekarang, semiliar ada, nggak?”

“Mungkin,” jawab mamaku. “Sejak masih hamil juga modalnya udah gede,” Yap, euforia anak pertama. 

“Tapi,” lanjutnya, “Kalau Cendikia nggak ada juga belum tentu mama punya uang semiliar. Bisa aja uangnya habis buat ke dokter sana-sini biar bisa punya anak,” 

22

wp-1495116780566.png

Alhamdulillah masih dikasih umur….

Hah, 22. Sudah lima kali aku merayakan ulang tahun di Bandung/Nangor.

Sejak aku mulai menganggap ulang tahun bukan lagi sesuatu yang spesial, yang harus pakai kejutan, kue, atau balon–ulang tahun kali ini juga kulewati dengan biasa-biasa saja. Aku flu dan batuk sejak seminggu yang lalu dan ini bikin aku nggak kemana-mana dan nggak pengen makan apa-apa.

Tadi pagi, aku kira aku mimpi mematikan alarm jam 5, sehingga aku baru bangun jam 5.27 karena ada yang nangis. Ayahnya anak lorong sebelah baru saja meninggal, dan dia nangis di kamar temannya yang ada di depan kamarku. Aku jadi canggung karena aku nggak kenal dia dan ada banyak orang yang berkumpul di depan kamarku.

Habis sholat subuh, aku jumping jacks 50 kali karena ceritanya mau mulai diet dan olahraga lagi. Berat badanku sekarang benar-benar ada di angka mimpi buruk. 

Terus jam 9-an aku ke perpus, tadinya kau ngerevisi bab 1-3 sekaligus nyari teori mediasi-nya Roger Silverstone. Tapi laptop-ku ini entah kenapa jadi super lemot kalau nyambung ke internet. Belum lagi pengaruh ngantuk karena sejam sebelumnya aku minum obat flu.

Jam 11 aku balik lagi ke kosan karena benar-benar nggak tahan ngantuk. Aku tidur, bangun jam 12.30 trus memutuskan untuk makan ke bajuri karena lapar dan pengen makanan panas berkuah. Pulang-pulang, aku keringatan karena beberapa hari ini panas banget.

Sorenya, Firda ngajak beli seblak. Sekalian kita mau nonton Produce 101 episode 5 di kosan Mumut. Sampai di tukang seblak, aku malah jadi nggak pengen makan seblak. Ngelihat orang beli jus alpukat, aku jadi pengen tapi nggak pengen-pengen banget. Ketika akhirnya memutuskan untuk memesan jus, eh ternyata udah dibeliin sama Firda karena “kue ulang tahun udah terlalu mainstream,

Pas mau pulang, Mumut ngasih minuman Sari Asem karena tadinya dikira aku bakal beli seblak. Haha fail lagi. Tapi makasih banyak loh, guys.

Jadi, pengen apa di umur 22?

Pengen lulus…

Sejujurnya aku masih takut. Masih nggak bisa menjawab pertanyaan “habis lulus mau kemana?” Masih nggak punya bayangan apa-apa. Walaupun kedengarannya klise, tapi aku cuma ingin tahun depan nggak merayakan ulang tahun di Nangor, atau di rumah. Aku pengen ada di suatu tempat, entah di mana, dan udah memghasilkan uang sendiri. Tapi di sisi lain, aku pengen tetap fleksibel bisa pulang kapan aja.

Aku pengen hidup sebagai manusia, bukan robot 9-5. Aku ingin jadi manusia berguna.

Tentang Alien dan Dementor

Beberapa minggu yang lalu pengumuman SNMPTN, ya? Wah, cepat juga. Ternyata udah lima tahun berlalu sejak aku lulus SMA. Buat yang keterima, sukses ya! Buat yang belum berhasil, semangat buat menempuh jalur-jalur lain menuju perguruan tinggi! 

Ngomong-ngomong, aku mau cerita tentang pengalamanku waktu berjuang dapat PTN, lima tahun lalu. 

Awalnya, alhamdulillah aku dapat kesempatan ikut SNMPTN Undangan. Waktu itu, pilihan pertamaku adalah Psikologi UGM, karena dari SMP emang udah pengen banget kuliah psikologi. Tadinya pengen jadi Psikopad alias anak Psikologi Unpad. Bodohnya, aku justru baru tahu kalo yang di Unpad adalah jurusan IPA, sementara aku udah terlanjur masuk IPS karena nggak mau belajar trigonometri dan fisika hahaha. Trus pilihan kedua aku ngambil Akuntansi Unair, karena waktu itu lagi suka akuntansi dan ngasal aja gitu milih Unair. 

Sebelum benar-benar memutuskan pilihan jurusan, aku banyak ngobrol sama seorang guru BK, sebut saja Pak Ar. Waktu itu, dia meragukan pilihanku karena jalur undangan itu juga mengandalkan reputasi alumni. Sementara di dua kampus pilihanku nggak ada alumni dari SMA kami. Aku ingat, waktu itu aku keukeuh dan bilang, “Siapa tahu saya bisa jadi alumni yang pertama di sana, pak!” dan Pak Ar akhirnya cuma bilang, “Terserah sih. Bapak cuma takut kamu kecewa kalau nanti nggak lulus,”

“Nggak apa-apa, pak. Kan yang penting saya udah nyoba,” kataku yakin. 

Beberapa hari kemudian, guru BK yang lain, ibu-ibu yang sudah cukup berumur berinisial Bu Al, yang di belakangnya suka disebut sebagai Bu Alien, mengumpulkan anak-anak yang terdaftar untuk jalur undangan. Dia disebut Alien karena galak dan nyebelin minta ampun. 

Trus, dia menanyakan jurusan pilihan setiap anak. Waktu kusebutkan pilihanku, dengan sengit dia bilang, “Emang kamu yakin bisa diterima di situ? Ganti aja pilihannya!” 

Laaah aku kesal. Aku masih ingat mukanya yang galak dan menyebalkan. Tapi sarannya nggak kuturuti karena kan bukan dia yang mau bayarin sekolahku. Suka-suka dong~

Pada akhirnya, emang aku nggak lulus jalur undangan sih. Tapi ketidaklulusan itu kemudian memotivasiku untuk bisa lulus di jalur tulis. Aku ingat banget, sebulan sebelum SNMPTN Tertulis, tiap pulang bimbel aku belajar lagi pake buku-buku latihan soal. Tiap hari aku ngerjain soal-soal TPA, karena penting dan cukup menyenangkan. Akhirnya aku pun berhasil lulus di Ilkom Unpad, pilihan kedua setelah tetap memilih Psikologi UGM sebagai pilihan pertama. 

Dementor. Sumber: Harry Potter Wikia

Kembali ke hari ini, aku masih berjuang untuk bisa lulus dari (yang katanya) “Sekolah Ilmu Komunikasi Terbaik di Indonesia” ini. Kali ini, aku kembali bertemu dengan sosok yang kurang lebih sama dengan Bu Alien–Bu Dementor. Julukan ini secara kurang ajar kuberi padanya karena layaknya Dementor di dunia Harry Potter, dia menghisap kebahagiaan banyak orang. 

Udah sih, aku udah nggak akan menuliskan kesuraman yang dibawanya padaku karena alhamdulillah, masa-masa melt down yang itu sudah lewat dan aku udah mulai bisa move on dengan kehidupan dan skripsiku. 

Cuma ya, kadang-kadang aku kepikiran kenapa dalam lima tahun aku mengalami banyak perubahan kepribadian. Kalau sekarang aku mengingat ceritaku dengan Bu Alien, aku kagum pada diriku di masa lalu. Aku kagum pada aku yang berusia 16 tahun, berpendirian teguh, dan keras memperjuangkan apa yang dia mau. Aku kagum pada aku yang dulu, yang nggak peduli omongan orang lain selama aku nggak merugikan mereka. Aku kagum pada masa dimana aku cuek dan berani mempertaruhkan risiko. Aku kagum pada aku yang percaya diri, percaya pada kemampuanku dan berani untuk membuktikannya. 

Tadi siang, aku ketemu seorang teman yang waktu itu usmas bareng dengan penguji Bu Dementor. Dia sedang mengurus syarat-syarat sidang akhir, sementara aku masih luntang-lantung dengan Bab 3. Dia inilah yang dulu akhirnya bikin aku tetap mengumpulkan revisi usmas, padahal awalnya aku udah mau nyerah aja. 

“Oh, lo jadi lanjutin yang kemarin?” tanyanya. 

“Iya, hehe,” jawabku nyengir. 

“Tuh kan, kemarin tuh gue sama yang lain heran kenapa sih lo nggak mau lanjut. ‘Anjir, si Cendi kenapa nggak mau ngumpulin.’ Orang gue sama si I juga dibikin down kan, sama dia. Tapi kita masih memperjuangkan. Lah lo malah udah nyerah duluan,” cerocosnya. 

Aku cuma mesem-mesem. 

Nggak tahu ya, apa waktu itu emang faktor PMS, atau sekarang aku emang mengalami degradasi jadi pribadi yang lemah dan nggak punya semangat juang. Waktu itu aku bahkan galau sampai lebih dari empat bulan. Sebenarnya sekarang masih sering galau sih, cuma udah nggak separah dulu yang bikin pengen banget mencet exit button. Sejak nelpon Subau sambil menangis ria, aku udah mulai semangat lagi. Mulai berusaha berdiri lagi pelan-pelan. 

Sekarang tiap omongan Bu Dementor kembali mengusik pikiranku, aku selalu berusaha membuangnya pakai ingatan-ingatan bahagia. Biar bisa mengeluarkan patronus untuk menjagaku tetap waras. 

Ngomong-ngomong patronus, menurut situs Pottermore patronus-ku adalah “Mongrel Dog”. 

Ummm… Itu jenis anjing apa, ya? 

Kado Wisuda: Sulaman dan Bunga Lolipop

Beberapa bulan belakangan, aku lagi hobi membuat prakarya. Mulai dari bikin kartu, bikin bunga, sampai yang sekarang sedang aku geluti adalah bikin sulaman. 

Mumpung ada wisudaan, jadi aku mencoba untuk ngasih hadiah buatan sendiri untuk teman-teman. Bukan niat mau hemat sih, sebenarnya. Ini lebih kepada sentuhan personal dan kepuasan karena berhasil menyelesaikan sesuati. Juga kesenangan karena mempelajari hal baru. 

Untuk Siti dan Sumi, aku ngasih foto mereka yang dihias pakai sulaman. Ide ini terinspirasi banyak dari @talathings yang jual photo embroidery keren-keren. Aku tahu itu bikinnya susah, serta memakan waktu dan tenaga, juga butuh kreativitas, jadi harganya pasti lumayan mahal. Mumpung lagi suka menyulam, jadi aku mau coba bikin sendiri. 

Untuk Siti, waktu itu aku cuma kepikiran untuk bikin flower crown aja, tapi hasil jadinya masih sederhana banget. Trus karena nggak tahu mau dihias pake apa lagi, jadinya cuma dikasih daun-daun gitu aja. 

Untuk foto dan tulisannya, aku pakai transfer paper yang tinggal disetrika. Kertasnya beli di Tokopedia, Rp48.000 sama ongkir dapat satu pak isi lima lembar. Tapi hasil jadinya kaku gitu dan bikin bolong cukup gede kalo disulam langsung di atasnya. Sementara yang talathings, gambarnya kaya nyatu gitu sama kainnya, kaya di-print langsung ke kain. Nggak tahu deh dia pake apa. 

Tulisannya aku timpa lagi pakai split stitch. Soalnya, aku belum bisa bikin tipografi yang bagus dan rapi gitu, makanya mengandalkan font dari komputer. Oh iya, kalau pakai transfer paper, tulisannya di-mirror dulu ya biar nggak kebalik. 

Jahitannya, semua aku pakai yang dasar. Mawarnya dibikin berdasarkan tutorial ini, aku nggak tahu nama tekniknya apa. Trus pinggirannya dihias pake french knot dan stem stitch. Daun yang di pinggir itu pake satin stitch. 

Untuk Sumi, aku bikin lingkarannya dengan mencontek desain dari Pinterest. Iya, maaf ya aku nggak bisa desain dan gambar sendiri. Anaknya nggak imajinatif dan payah dalam urusan figur, sih. 

Ini contekannya. Maaf nama pembuat lupa tersimpan

Untuk namanya agak nggak kebaca, ya? Mungkin karena benangnya terlalu tebal. Trus aku menyadari kalau harusnya bemang dibagi dua dulu biar tulisannya lebih tipis, pas udah tinggal beberapa huruf terakhir. Jadi, yasudah lah ya. Namanya juga percobaan. Nggak mirip lagi sama contekannya hahaha. 

Daunnya dibuat pakai jahitan lazy daisy dengan stem stitch untuk tulang daun. Daun kecil di bawah mawar dibuat pakai back stitch. Sisanya pakai french knot, satin stitch, dan split stitch untuk tulisan. 

Oh ya, aku belajar kalau mau menghasilkan hasil satin stitch yang halus untuk objek berukuran kecil, coba benangnya dibagi dua, pakai tiga helai benang aja biar lebih tipis. 

Kotaknya dibuat pakai kertas karton yang dibentuk kaya kotak pizza. Gampang kok bikinnya, googling aja. Habis itu diikat deh, pakai pita sesuai warna kesukaan masing-masing. 

Kalau bunga-bunga ini aku buat berdasarkan tutorial dari sini. Bikinnya super gampang dan cepat. Kalau di tutorialnya pakai kertas tisu, aku pakai kertas krep karena nggak nemu yang jual kertas tisu warna-warni. 

Kalau nggak bisa menemukan sedotan kertas (paper straw), tangkainya bisa dibikin sendiri dari kertas HVS, kertas koran, atau kertas apapun yang cukup lentur. Kalau pakai HVS, kertasnya dibagi dua secara vertikal, terus digulung dari pojok ke arah tengah sampai jadi panjang. Masukkan bunganya, amankan pakai selotip, jadi deh! 

Kaya gini jadinya

Wrapping-nya aku pakai kertas samson andalan yang serbaguna. Trus dibungkus kaya burrito dan dikasih pita. Kalau kartu, aku bikin pakai Canva, sebuah situs desain yang menyediakan beragam template dokumen dengan desain yang cakep dan banyak yang gratis! 

Membayangkan hasil karyaku (mungkin) akan disimpan orang lain, ternyata bikin aku senang dan bersemangat! Hikmahnya adalah, kalau aku bisa menyelesaikan hadiah-hadiah ji tepat waktu karena aku tekun mengerjakannya, harusnya hal yang sama juga berlaku untuk skripsi. 

Aku juga pengen wisuda dan dikasih hadiah! Hahaha. 

Flowers For Strangers

Kalau ada survei untuk kuis “Family 100” dengan pertanyaan “Hadiah apa yang diberikan kepada seseorang saat wisuda?” aku yakin hasil survei nomor satu adalah “bunga”. 

Tiap ada wisudaan, di pinggir jalan sekitaran kampus pasti bertebaran penjual bunga, baik yang asli maupun yang artifisial dari kertas atau kain felt. Ada juga yang jual boneka, balon, cotton candy yang dibentuk karakter, atau buket snack–tapi yang paling diminati tetap saja buket kembang. Apa filosofinya? Nggak tahu. 

Mengikuti kebiasaan memberi kembang ini, aku juga ikutan mencoba bikin bunga kertas sendiri dengan lolipop sebagai intinya. Nantilah, aku bakal bikin satu tulisan tersendiri buat kado wisuda gelombang ini. Jadi ceritanya, aku bikin bunga itu untuk delapan orang.

Ternyata tadi, bungaku nyisa satu karena yang mau dikasih bunga malah menghilang nggak tau ada di mana. Berhubung capek dan males nyari, awalnya bunga itu aku kasih ke Firda aja. Tapi kemudian sebuah ide muncul di kepalaku yang doyan bermain-main. 

“Aku tantang kamu buat ngasih bunga ini ke stranger, Fir,”

“Oke!” kata Firda semangat. 

Awalnya, kami menentukan target dengan memutar telunjuk di langit, bilang “stop”, dan harus ngasih bunga ke siapapun yang akhirnya ketunjuk. Tapi, berhubung kami berdiri di dekat anak-anak jurnal yang notabene nggak asing-asing amat, akhirnya diputuskan kalau bunga ini bakal dikasih ke orang yang cuma dapat bunga sedikit. 

“Kali bikin dia bahagia,” kataku. 

Maka, mulailah kami mencari target untuk dikasih bunga. Susah ternyata, karena hampir semua orang bawa banyak bunga, dan ngerasa kagok kalo ngasih ke orang yang lagi ngumpul sama temannya. 

Sampai akhirnya, lewatlah seorang cowok yang cuma bawa satu atau dua batang bunga. “Kasih ke cowok itu aja, Fir!”

Kocaknya, si Firda lari-lari ngejar cowok itu karena jalannya cepet banget. Pas udah dekat, bahu si cowok dicolek, dikasih bunga, trus si Firda lari sambil ketawa. Aku juga ikut lari dan kita ketawa sampai bengek. 

Ternyata pas dikasih bunga tadi, si cowok itu bilang, “Oh, jatuh ya?” aduuh pemberian kami dikira bunga jatuh! Jadilah, kami merancang skenario baru untuk dikatakan sembari memberi bunga seperti, “Eehhh Fadilaah! Selamat yaaa!” tentu saja Fadilah adalah nama random yang disebutkan, nggak peduli siapa nama asli penerima bunga. 

Saking bersemangatnya dengan skenario itu, kami bela-belain beli bunga setangkai lagi. Mawar putih yang gocengan itu. Kali ini, aku yang harus menyerahkan bunganya. 

“Harus kasih ke cowok ya!” kata Firda. Aku deg-degan karena bersemangat sekaligus takut sama rasa malu.

Cukup lama kami mencari cowok dengan kriteria kaya tadi. Sekalinya ketemu, aku bersiap dan mengikuti cowok itu. Pas aku mau nyolek bahunya, eh tiba-tiba dia disamperin temennya. Aku langsung balik kanan dan kabur hahaha. 

Nggak lama, ada lagi cowok yang jalan sendirian nggak bawa apa-apa. Cowok itu kukejar, kucolek bahunya, dan menyerahkan bunga sambil bilang, “Selamat, ya!” dan dijawab “Iya,” lalu aku balik kanan dan lari ngakak. 

Daaaaannn ternyata………. Itu adalah cowok yang sama dengan cowok pertama tadi. Ai kamu ngapain mondar-mandir sendirian? 

Sepanjang sore kami ngakak membayangkan apa yang dipikirkan cowok itu dapat bunga dari dua cewek random. Apakah dia pikir kami juniornya? Apakah dia akan geer karena tadi itu kaya adegan di komik? Atau dia segera lupa dan biasa aja? 

Pas habis sholat magrib, aku menemukan setangkai bunga kertas warna hijau yang mungkin jatuh dari buket seseorang. Bunga itu kemudan aku taro di sebuah motor yang sedang parkir. Biar pemiliknya merasa punya pengagum rahasia gitu.

Yasss, ini menyenangkan banget dan aku pengen ngulang lagi!