Kelas Memasak Keyong

Simple Dimsum

Beberapa minggu yang lalu, aku pengen banget makan dimsum tapi yang di Bambu Dimsum. Nggak tahu kenapa, otakku merekam kembali sensasi kekenyalan dimsum yang dikukus dan direbus. Mengingat dimsum yang bening dan ada udang di dalamnya itu…. amboi, aku menggelinjang! Pengen banget! Tapi Bambu Dimsum jauh.

Saking pengennya, aku sampai nyari-nyari resep dimsum atau siomay. Dilihat-lihat, sebenarnya gampang sih. Tapi kalau bikin sendiri malas juga ahaha. Akhirnya aku membeli siomay di mang-mang dan aku masih nggak puas. Ngidam dimsum banget pokoknya.

Jadilah, aku mengusulkan untuk bikin dimsum ke bocah-bocah. Mereka setuju, tapi nanti aja kalau udah full team. Waktu itu kami pun memutuskan untuk bikin tumisan daging dan tempe goreng.

Kemarin, ide membuat dimsum terlontar lagi. Kali ini benar-benar spontan karena dilakukan setelah kami melahap seporsi nasi padang dengan dendeng, ayam, atau telur gembung.

Dimsum ini adalah masakan terbaik kedua yang pernah kami buat setelah BBQ Mandiri! Bikinnya super gampang. Bisa bikin di kosan dan nggak perlu mondar-mandir di dapur. Semuanya bisa kamu lakukan dengan duduk di lantai kosan dan sesekali memutar pinggang untuk mengambil ini-itu.

Oh ya, di resep dimsum yang aku baca, dimsumnya menggunakan tepung sagu. Mungkin biar padat gitu ya. Tapi di resep ini kami nggak pakai tepung. Cuma ayam, wortel, telur, sama daun bawang buat isiannya. Mungkin nanti bisa nyobain varian isian yang lain kaya udang atau ikan.

Ternyata, ada alasannya kenapa dimsum itu wujudnya cenderung bulat. Biar gampang dimakan pakai sumpit! Jadi, pastikan dimsummu dibentuk bulat ya, jangan dilipat amplop karena bakal klewer-klewer pas dimakan. Dimsum ini juga bisa dimasak dengan dikukus atau direbus. Kalau mau cepat sih, direbus. Tapi aku sendiri lebih suka teksturnya kalau dikukus karena rasanya lebih padat.

***

Simple Dimsum (featuring step-by-step picture from my Instagram Stories 😀)

img_20160914_165411.jpg

Porsi: 5 orang

Bahan:

img_20160914_155054.jpg

1 bungkus kulit pangsit rebus (± 50 lembar)

160 gr daging ayam giling

1 buah wortel ukuran besar, potong kotak kecil

1 batang daun bawang, iris tipis

2 siung bawang putih, rajang halus

2 butir telur, sisakan sedikit putihnya untuk menempelkan kulit

Gula, garam, merica, dan kaldu bubuk sesuai selera

Saus Bangkok untuk cocolan

 

Cara membuat:

img_20160914_155103.jpg

Panaskan air di rice cooker untuk mengukus/merebus. Kalau ingin membuat versi kukus, pastikan permukaan air tidak sampai menyentuh dasar partisi kukusan supaya tekstur dimsum yang padat bisa didapat.

Campur ayam, telur, wortel, dan daun bawang sampai rata.

Tambahkan gula, garam, merica, dan kaldu bubuk sesuai selera. Cicipi sampai mendapat rasa yang pas.

Masukkan 1 sdm adonan isi ke kulit pangsit. Lipat dengan mengerucutkan ujung-ujung kulit pangsit, rekatkan bagian dalamnya dengan putih telur. Lakukan sampai adonan habis.

img_20160914_155843.jpg

Kukus/rebus dimsum sampai kulit pangsit kenyal dan tidak ada lagi tepung yang terlihat di kulitnya.

img_20160914_163126.jpg

Sajikan bersama saus.

 

***

Simple dimsum ini bukan hanya enak, tapi juga murah! Modal yang dikeluarkan untuk semua bahan itu adalah Rp38 ribu. Sebenarnya dimsum ini akan lebih enak kalau menggunakan daging lebih banyak. Tapi, berhubung coba-coba takut gagal dan mubazir, jadilah bikinnya sedikit dan kecil-kecil. Itu juga untuk menghabiskan si kulit pangsit yang umurnya pendek. Pokoknya, dimsum ini sangat tepat untuk dibikin di kosan rame-rame sama teman sepermainan!

 

Advertisements

Roti Martabak

Aku kaget loh, ternyata aku belum jadi nge-post tulisan ini. Haha
Bulan lalu, dalam rangka mengurangi asupan nasi dalam kehidupan sehari-hari, aku nyetok roti tawar di kosan setiap hari. Sayangnya, roti tawar ini kebanyakan berumur pendek. Tanggal kadaluwarsanya rata-rata paling lama tiga hari. Kalau beruntung, aku bisa dapat yang tanggal kadaluarsanya empat hari setelah tanggal pembelian. Padahal, biasanya aku cuma makan dua lembar roti untuk sarapan.
Ujung-ujungnya, rotiku sering banget nyisa beberapa lembar. Bahkan pernah ada selembar roti yang sudah berjamur hijau di hari kadaluarsanya!
Roti yang udah mendekati tanggal kadaluarsa biasanya mulai keras dan nggak enak dimakan pake meises atau selai. Nah, biar enak, akhirnya bikin roti martabak deh!
Roti martabak adalah salah satu makanan favoritku dan teman-teman di kampung halaman kami, di Sungai Penuh sana. Cuma ada satu tempat yang jual roti martabak, dan memang menu itulah andalannya.
Untuk bikin roti martabak ini ada dua versi: versi kaya dan versi bokek. Versi kaya itu pake telur yang banyak; bisa dua telur untuk satu roti, trus pake keju dan daging juga. Nah, kalo versi bokek, bisa dua roti untuk satu telur. Yang mau aku bikin sekarang adalah versi menengah. Hahaha soalnya pake banyak telur dan keju, tapi nggak pake daging.
Pemakaian telur sebenarnya juga tergantung ukuran roti sih. Kalau rotinya lebar, ya otomatis butuh telur lebih banyak dari roti yang kecil.
***

image

Roti Martabak
Porsi: 1 orang
Lama memasak: +-15 menit

Bahan:
4 butir telur ayam
2 lembar roti tawar
1/4 siung bawang bombay iris tipis
2 batang daun bawang iris tipis
Keju cheddar parut secukupnya
Garan secukupnya
Mentega

Cara membuat:
– Kocok lepas telur, garam, bawang bombay, dan daun bawang. Tambahkan parutan keju, kocok lagi.
– Celupkan roti ke dalam adonan telur. Pastikan seluruh bagian roti terendam.
– Panaskan penggorengan, olesi mentega.
– Tuang sedikit adonan telur, pastikan bawang dan daun bawang juga ikut tertuang.
– Saat masih basah, letakkan roti di atas adonan telur, tekan-tekan. Lakukan untuk kedua roti terpisah.
– Bakar kedua sisi roti sampai matang.
– Sajikan dengan saos.

***
Rasanya? Enak! Lebih enak dari roti martabak yang dijual! Rasanya gurih dan lembut banget, mungkin pengaruh keju. Baunya juga kaya martabak, haha. Okelah buat sarapan bareng kopi atau teh manis panas.

Pizza Goreng

Ahay!
Kemarin-kemarin aku sering bereksperimen dengan tepung dan ragi instan. Pertamanya bikin pizza teflon, trus gagal. Pizzanya keras banget kaya papan. Mungkin karena adonannya nggak didiamkan dulu makanya begitu.
Trus bikin martabak manis. Martabaknya nggak punya tekstur bolong-bolong. Dalamnya justru padat kaya apa ya? Kaya kue jajanan pasar gitu pokoknya. Enek banget pas dimakan.
Akhirnya, tadi siang Azul ngajakin aku memanfaatkan tepung terigu yang masih banyak untuk bikin pizza goreng. Biasa itu anak suka liat resep di instagram trus jadi kepengen nyobain.
Di resep, isian rotinya itu pake daging cincang sebenarnya. Berhubung daging lagi mahal (hiks), akhirnya kami pake kornet sachetan yang goceng.
Takarannya juga seperti biasa dikira-kira. Kaya tepung misalnya, setelah nyari di internet diketahui kalau 1 sdm tepung itu setara dengan 10 gr, dengan ketentuan 1 sdm-nya peres ya, bukan membumbung tinggi. Tepungnya aku pake yang segitiga biru walaupun di resep disuruhnya pake cakra.
Kalo gula, itu untuk ganti penyedap rasa. Biar bebas micin!
Trus juga di adonan isinya kami pake saos sambal, soalnya si Azul nggak begitu suka rasa tomat. Yaah kalo isian gini bebas lah yaa suka-suka aja. Mau diganti pake mayones, jamur, atau sayur ya terserah. Enak-enak aja kayanya.
Isinya juga mungkin lebih enak dan lebih kerasa pizza kalo pake mozarella dan oregano. Berhubunh mahal nggak punya, ya jadinya pake keju cheddar biasa aja.
***

image

Pizza Goreng
Porsi: 7 buah
Waktu memasak: +- 1 jam

Bahan Roti:
250 gr (25 sdm) tepung terigu serbaguna
1 sdt ragi instan
1/4 sdt garam
1 sdm mentega
Air secukupnya

Bahan isi:
2 butir tomat direbus 5 menit, trus dicincang
1/2 siung bawang bombay cincang kasar
2 siung bawang putih iris halus
1 bungkus kornet
Saus sambal secukupnya
Gula, garam, merica secukupnya
Keju cheddar parut sesukanya

Minyak untuk menggoreng

Cara membuat roti:
– Campurkan tepung terigu, ragi dan garam sampai rata, masukkan mentega.
– Tambahkan air pelan-pelan sambil diuleni.
– Uleni adonan sampai kalis dan nggak lengket di tangan. Kalau adonan ternyata terlalu encer, tambahkan tepung sedikit-sedikit. Pokoknya diulen sampai kalis.
– Diamkan sekitar 30 menit.

Sambil mendiamkan adonan, buat isian:
– Tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum.
– Masukkan kornet. Tumis sampai kornet berubah warna.
– Masukkan tomat, aduk-aduk.
– Tambahkan saus sambal, gula, garam, dan merica. Koreksi rasanya.

Finishing:
– Bagi adonan jadi beberapa bagian. Di sini, aku bagi 7 dan ternyata hasilnya gede banget kaya bom. Jadi kayanya bisa dibagi jadi sekitar 20 bagian biar cantik.

image

Segede dosa

– Setelah didiamkan selama 10 menit, kempeskan adonan. Masukkan bahan isian dan keju. Tutup adonan dengan cara dipelintir seperti pastel.
– Diamkan lagi 10 menit.
– Panaskan minyak, goreng adonan dengan api sedang sampai kecoklatan.
***

Gitu ceritanya. Gara-gara nggak tahu takarannya, emang roti bikinanku jadinya gede banget sih. But beauty comes from the inside. Biar tampangnya jelek, mirip odading, mirip pisang goreng, tapi rasanya asli enak banget! Beneran deh ini aku nggak muji diri sendiri. Aku cuma bangga karena akhirnya berhasil bikin roti goreng dengan enak :”)
Nanti deh, lain kali aku akan berusaha bikin dengan tampang yang lebih cantik. Ciao!

Sabtu Memasak: Macaroni Schotel Kukus

Orang Indonesia itu, belum makan namanya kalau belum makan nasi. Biar udah makan mi goreng segerobak, atau roti satu kontainer, kalau belum makan nasi ya nggak afdol.

Akhir-akhir ini, aku mengurangi jumlah asupan nasi dalam menu harianku. Bukan sok-sokan diet atau apa sih, tapi aku mau mengubah mindset “Belum makan kalau belum makan nasi”. Sering banget kan, udah makan segala macam isi dunia, tapi tetap kelaparan karena belum makan nasi. Padahal, yang dimakan sebelumnya itu sumber karbohidrat semua—kentang, jagung, ubi, gandum, sagu….

Aku sih nggak benar-benar menghilangkan nasi dari hidupku. Ya ampun, udah 20 tahun aku dan nasi menjalani hidup bersama, nggak semudah itu dong untuk berpisah. Sekarang, biasanya aku makan nasi cuma di satu jam makan, seringnya sih makan siang atau sarapan. Nah, untuk menggantikan nasi, aku memilih roti dan pasta. Kenapa? Karena kecil, mengenyangkan, dan gampang diapa-apain. Aku belum bisa mengenyangkan diri dengan sebutir atau dua kentang berukuran sedang. Mungkin minimal sekilo. Dan ya ampun! Mengupas sekilo kentang itu pe-er banget! Beli? Maaf ya, saya cuma anak kosan yang selalu bokek. Begitu juga dengan jagung dan singkong. Ngurusinnya ribet dan jumlahnya harus banyak.

Jadilah, sekarang aku nyaris selalu nyetok roti dan pasta di kosan. Sabtu kemarin (astaga, ini udah Rabu!), tadinya aku dan Azul mau bikin Swiss Pasta aja kaya biasa. Swiss Pasta itu makaroni pakai saus putih, trus ditaburin keju. Enak banget. Tapi Muti mengusulkan untuk bikin macaroni schotel aja. Beberapa hari yang lalu, dia bikin dan katanya enak. Nggak perlu dipanggang, cukup dikukus pakai rice cooker.

Di sini, ukuran gram-graman makaroninya aku kira-kira aja, soalnya kemarin asal masukin gitu. Kornetnya aku pakai kornet sachetan yang harganya goceng, lupa merknya apa pokoknya yang depannya gambar sapi. Trus pas ngukus, juga nggak bisa ditutup pakai tutup si rice cooker, tapi ditutup pakai tutup kaca dari ketel listriknya Muti. Soalnya, nggak bakal muat kalau ditutupnya pakai tutup rice cooker. Trus ngukusnya juga dua kali karena rice cooker-nya kecil. Di sini aku tulis porsi untuk 2 orang, karena yang makan emang cuma aku dan Azul. Muti jadi sukarelawan masak-memasak dan cuma makan satu cup.

***

2016-03-12-06.56.55-1.jpg.jpeg

Porsi: 2 Orang

Lama memasak: ±1,5 jam

Macaroni Schotel Kukus

Bahan:

±150 gram makaroni

2 siung bawang putih, cincang halus (bisa juga diulek)

1 bungkus kornet

±75 gram keju parut, bagi dua untuk campuran dan taburan

1 kotak (250ml) susu cair

1 butir telur

Minyak untuk menumis

Garam secukupnya

Lada bubuk secukupnya

Cara membuat:

Rebus makaroni dalam air mendidih sampai al dente (±7 menit)

Panaskan minyak goreng, tumis bawang sampai harum lalu masukkan kornet.

Kocok lepas telur, kemudian tuangkan susu cair. Tambahkan garam dan lada bubuk.

Tuang adonan susu, aduk-aduk. Kemudian masukkan keju parut. Aduk-aduk sampai mengental.

Tiriskan makaroni, lalu campurkan ke dalam adonan susu. Aduk dengan api kecil.

Masukkan ke dalam wadah anti panas atau cup alumunium foil.

Taburkan keju lagi.

2016-03-12-07.24.47-1.jpg.jpeg

Sebelum masuk kukusan

Kukus selama ±20 menit.

Sajikan dengan saus.

Sabtu Memasak: Nasi Kare Katsu

Dari kemarin-kemarin, aku pingin banget makan nasi kare ala-ala Jepang gitu. Tapi, satu-satunya warung yang aku tahu jualan nasi kare di Jatinangor sekarang udah tutup. Walhasil, aku nyari-nyari resep kare ala Jepang di dedengkotnya pencarian, Google. Kebanyakan resep yang aku temui dari Google memasukkan kare blok dalam daftar bahan-bahan. Aku nyari ke Superindo dan Griya tapi bumbu itu nggak ada. Katanya sih di Carrefour ada, atau ke supermarket yang khusus jual bumbu masakan Jepang atau Korea. Dih, kejauhan. Males.
Setelah berkeliaran lagi di Google, aku ketemu satu resep di Cookpad yang nggak pake kare blok, melainkan pakai bumbu kari instan merk Indofood. Biar nggak cuma kentang sama wortel doang, aku beli chicken katsu di warung ramen sebelah kosan. Resepnya juga aku modifikasi sesuai selera dan keadaan. Bikinnya ternyata gampang banget! Iyalah, pake bumbu instan masa masih susah. Haha. Kentangnya aku potong kecil-kecil banget biar cepat empuk. Tapi pas bikin ini, ternyata kuahnya kurang kental karena kurang maizena. Soalnya aku takut terlalu kental. Ternyata, pas udah jadi aku ngeh tuh kalau masih agak encer. Tapi males buat ke atas lagi ngambil maizena, ya udahlah seadanya aja. Jadi resep yang aku tulis di sini udah aku sesuaikan biar kekentalannya pas (walaupun belum dicoba lagi. Hehe). Rasa bumbu karenya agak pedas untuk lidahku, tapi kayanya sama sekali nggak pedas bagi lidah orang-orang yang suka makan pedas. Untuk ukurannya, aku juga nggak pake bahasa ala-ala buku resep masakan kaya pakai satuan mililiter atau gram gitu ya. Semuanya ditakar pakai sendok, gelas, dan perasaan.
***
image

Porsi: 1 Orang
Lama memasak: ±30 menit

Nasi Kare Katsu

Bahan:
2 siung bawang putih, iris tipis
Setengah buah kentang ukuran sedang
Setengah buah wortel ukuran sedang
¾ gelas air
2 sdm maizena, encerkan
Setengah bungkus bumbu kari Indofood
1 sdm madu
Minyak atau margarin untuk menumis
Lada bubuk secukupnya

Cara membuat:
1. Panaskan minyak goreng dalam panci. Lalu tumis bawang putih sampai harum.
2. Masukkan kentang dan wortel, aduk-aduk.
3. Masukkan air, aduk semuanya sampai kentang empuk. Masukkan lada bubuk.
4. Setelah kentang empuk, masukkan bumbu kari dan madu. Aduk-aduk lagi.
5. Tambahkan larutan maizena, aduk-aduk sampai kental.
6. Sajikan bersama nasi hangat dan chicken katsu.
***

Gampang banget kaan? Kalau dihitung-hitung, modalnya juga nggak terlalu besar kok. Biar murah, aku belanja di pasar. Sebagai perbandingan nih ya, aku pernah beli 250gr buncis di pasar seharga 2 ribu, sementara di warung 4 ribu, dan di supermarket 9 ribu! Padahal kualitasnya mah sama aja. Untuk nasi kare katsu ini, modalnya paling banyak 12 ribu. Yang paling mahal sih katsunya, 6 ribu. Tadi aja aku belanja ke pasar beli buncis segenggam, wortel sebuah, kentang dua, bawang putih sebonggol, bawang merah tiga butir, sama lada bubuk sebungkus, cuma habis 10 ribu. Dan semuanya nggak akan habis dalam sekali masak.
Di Conan, Shuichi Akai yang sekarang sedang menyamar sebagai Subaru Okiya, pernah bilang kalau dia memasak untuk menghemat dan bisa membuat tenang. Emang bener! Memasak (yang gampang) ternyata emang bisa menghilangkan stres. Apalagi kalau hasil jadinya enak dan sesuai harapan. Tapi abis itu bikin stres lagi sih, soalnya males nyuci peralatan-peralatannya hehe. Yaah, semoga aku konsisten untuk masak-masak lucu tiap akhir minggu, ya!

Update:
Ini hasil setelah kucoba tambahin takaran maizena. Jadinya lebih kental, tapi kurang asin makanya mesti ditambahin garam sedikit lagi.
image