Catatan Opini

Apa yang ada di otaknya keyong

MDFK Gentleman

Tadi aku jajan ke Alfamarto. Pas lagi ngantre mau bayar, di depanku ada pasangan. Yang cowok bau parfumnya menyengat sekali sampai hidungku gatal. Pemandangan yang menarik adalah, di bahu kanan cowok itu ada tas kulit warna putih. Dari penampakannya, kelihatan itu tas cewek. Dari penampakannya juga, kelihatan isinya nggak banyak. Mungkin cuma dompet, ponsel dan chargernya, tongsis, sama obat sakit kepala.

Memang aku ini suka nyinyirin banyak hal (sok) romantis dan (sok) gentle yang dilakukan orang pacaran. Kenapa si cowok harus bawain tas ceweknya yang jelas-jelas kelihatan sangat ringan itu? Oh, mungkin bahu ceweknya cidera abis main baseball.

Aku nggak ngerti kenapa cewek-cewek sering minta cowoknya buat bawain tas. Mending kalo tasnya itu ransel dengan warna netral. Lah, ini cowoknya disuruh bawa tas tangan kulit dengan tulisan “Hermes” kemana-mana. Aduhai, si cowoknya mau lagi. Hilanglah sudah kemachoanmu, bung!

Aku bukannya bilang cowok nggak boleh bawain tas cewek. Kalau kondisinya si cewek lagi riweuh bawa ransel penuh di punggung, satu koper sedang diseret di tangan kanan, sebuah tote bag kertas ditenteng di sebelah kiri, maka cowok yang ngebantuin bawa salah satu tas cewek macam ini bisa kita—atau aku—sebut gentle. Tapi kalo cuma bawa tas yang beratnya kaya bayi baru lahir, what’s the point?

Membuktikan cinta? Pret! Kalau begitu kuli angkut di pasar cinta dong, sama ibumu? Soalnya dia bantuin ibumu ngangkut belanjaan yang seabrek-abrek.

Masalah ke-gentle-an lain yang sering kita temui di jalanan adalah masalah berbagi tempat duduk di bus atau kereta. Pernah, suatu kali aku naik damri yang lumayan penuh. Tiba-tiba, ada ibu-ibu naik dengan bawa karung yang lumayan besar. Cuma satu mas-mas yang bantuin dan nggak ada yang mau berbagi tempat duduk. Amboi! Malulah engkau pada jakun yang naik turun setiap kali engkau berbicara itu, hai lelaki! Mana itu, sikap gentleman yang engkau bangga-banggakan pada kekasihmu itu?

Kalau cuma bawain tas tangan, cuih, anak SD juga bisa, Boi! Ada banyak sikap gentle yang nggak cuma harus kamu pertunjukkan pada kasihmu, tapi pada ibumu, pada ibu-ibu di angkutan umum, pada orang-orang yang membutuhkan bantuan di jalanan. Mungkin kamu harus joget kaya om PSY ini biar kamu bisa jadi da real gentleman. Ayo, kembalikan harga diri jakunmu! Tunjukkan kamu tidak sia-sia memelihara kumis dan jenggot, juga membesarkan otot! MDFK Gentleman!

sumber: tumblr

sumber: tumblr

[untitled]

Disclaimer: postingan ini khusus buat kamu. Iya, KAMU yang akan merasa ketika membaca. KAMU yang memiliki kemungkinan 1 : 1.000.000 untuk membaca postingan ini. K-A-M-U.

Hai, apa kabar? Ga kerasa ya, udah hampir dua bulan berlalu. Apa aja yang udah kamu lakukan selama dua bulan ke belakang?

Sebenarnya aku (kelihatan) agak ga tau malu gitu ya, kok bisa-bisanya nulis ginian setelah semua yang terjadi kemarin. Tapi, karena aku ga bisa ngomong langsung, aku bisa apa? Kan ga lucu, aku tiba-tiba melenggang santai mucul di depanmu lagi dan bersikap seolah-olah semuanya biasa saja, seolah-olah tidak pernah ada hal besar yang terjadi.

Maka, aku terpaksa menuliskan ini, setengah berharap kamu membacanya walaupun aku 1.000.000.000 persen yakin kamu ga akan ngepoin blog aku lagi.

Jadi, hari Minggu lalu, tanggal 6 April, aku ke Bandung Creative Week, di Trans Studio Mall (TSM). Stand-stand yang ada di sana emang kebanyakan jualan baju, tas, atau sepatu. Tapi ada pameran fotonya juga. Nah, ini dia yang bikin aku ngerasa agak sedih. Foto-fotonya itu foto-foto model dan harusnya kamu liat buat referensi. Jadi, si model ini ballerina gitu. Lokasi fotonya juga biasa aja,malahan ada yang di sawah sama di bawah menara sutet. Tapi, ga tau kenapa, foto-foto itu bagus banget di mata aku karena aku ga ngerti soal konsep atau apalah. Pokoknya, fotonya bagus aja.

Aku sempat diam lama di depan foto-foto itu. Malah sempat mau motret beberapa yang menurut aku bagus, rencananya mau diliatin ke kamu. Sepersekian detik, aku lupa sama apa yang terjadi sama kita. Sebelum aku sempat motret, aku tiba-tiba ingat kalau aku (udah) ga bisa cerita-cerita ke kamu lagi kaya dulu. Aku nggak mungkin kan, tiba-tiba nge-line kamu, dengan santainya cerita tentang foto-foto itu.

Sempat, aku kepikiran untuk mulai nyapa kamu lagi, caranya ya lewat cerita-cerita ini. Tapi aku takut. Aku takut sama reaksi kamu, karena aku tau sekarang kamu pasti benci (banget) sama aku. Aku takut kalau aku dengan santainya nge-line kamu, trus kamu balesnya flat. Lebih parah lagi, aku takut kamu cuma read chat aku dan endingnya aku di-block. Aku memang terlalu banyak berasumsi ya. (sok) Memikirkan beragam kemungkinan yang ada. Hehe.

Kangen itu sederhana ya. Sesederhana aku yang pengen cerita ke kamu tapi ga bisa, sesederhana aku yang pengen nyupport kamu tapi ga bisa (lagi).

Ah, ya. Aku selalu suka waktu aku nyupport kamu. Kenapa? Entahlah. Suka aja. Entah kenapa, aku yakin suatu saat kamu bakal jadi “orang”. Jadi, aku akan mengamati dari kejauhan……………….. pake teropong.

Hei, inti dari semua tulisan panjang lebar ga jelas di atas adalah: aku pengen menjalin hubungan silaturahmi aja sama kamu. Toh, gimanapun juga, kita teman SMA. Pasti aneh rasanya kalau ada kumpul-kumpul dan kita nggak saling sapa. Itu aja.

yes, I still love you.

yes, I still care about you.

yes, I still think about you.

but no, I don’t want us back.

Aku emang suka seenaknya, yaa…

Lewat postingan ini juga, aku mau minta maaf banget atas semua yang terjadi kemarin-kemarin. Besok aku pasti minta maaf langsung kok.

Pasti.

Maafin aku ya.

Assalammualaikum.

Selamat malam 🙂

 

 

ps: aku emang ga tau malu dengan nulis ini di public place macam blog ini. Sudahlah, bodo amat.