15 days writing challenge

Day 7: Recommend a Book To Read and Why It’s Important

Hmmm….. 

Sejujurnya udah lama banget aku nggak baca buku sebagai hiburan dan pengisi waktu luang. Buku yang terakhir aku baca adalah Teori Komunikasi Massa-nya Dennis McQuail, dan itu juga cuma bagian-bagian yang kubutuhkan doang hahaha. 

Beneran deh, aku sebenarnya kangen banget dengan perasaan ketika selesai membaca sebuah novel yang mengesankan, trus aku jadi bengong dan nggak bisa berhenti memikirkan karakter-karakternya. Aku rindu perasaan puas itu. Aku rindu debaran-debarannya. Aku ingin kembali merasakan ketika gaya tulisan sebuah novel mempengaruhi gaya tulisanku selama berhari-hari. 

Jadi, setelah berpikir keras dan mengamati rak buku lama-lama, nggak tahu kenapa aku ingin merekomendasikan serial Cewek Paling Badung (The Naughtiest Girl In School) karya Enid Blyton. 

Punyaku yang versi sampul ini. Sumber: kandangbaca.com

Iya, ini novel anak-anak (tapi Harry Potter pada dasarnya juga novel anak-anak, jadiiii……); Iya, ini ditulis lebih dari 70 tahun lalu; Iya, ini Enid Blyton pengarang serial Lima Sekawan itu. 

Novel ini menceritakan kisah Elizabeth Allen, seorang anak manja yang badung dan kurang ajar. Dia sempat gonta-ganti pengasuh karena nggak ada yang kuat menghadapi keusilannya.

Suatu hari, orang tua Elizabeth memutuskan untuk mendaftarkannya ke Sekolah Whyteleafe, sebuah sekolah asrama untuk anak laki-laki dan perempuan. Awalnya Elizabeth memberontak. Di sekolah, dia selalu membuat kekacauan supaya punya alasan untuk diusir pulang. 

Ternyata, Whyteleafe bukan seperti sekolah pada umumnya. Di sana, para murid mengatur diri mereka sendiri. Semua laporan kenakalan, kecurangan, dan sanksi dijatuhkan dalam sebuah rapat besar yang dipimpin oleh seorang murid laki-laki dan perempuan dari kelas tertinggi. Rapat besar itu diikuti oleh seluruh siswa yang bersama mencari solusi untuk permasalahan mereka. Selain itu, semua uang yang dimiliki oleh setiap anak harus diserahkan ke dalam kotak besar, dan setiap minggunya semua anak mendapat jatah uang saku yang sama. Sisa uang tersebut dipakai untuk membeli keperluan bersama, yang tentu saja disepakati melalui keputusan rapat besar. Di sana, guru hanya bertindak sebagai pengajar dan pengawas. Rapat besar hanya meminta pendapat guru kalau mereka sudah menemui jalan buntu. 

Seperti cerita-cerita Enid Blyton yang lain, karakter utama novel ini adalah anak yang cerdas, jago olahraga, dan berkemauan keras. Selain itu, tentunya ada keusilan-keusilan yang dilakukan antar murid, atau bahkan pada gurunya! 

Ceritanya emang ringan dan anak-anak banget, sih. Bacanya pun bisa sekali duduk. Kalau ditanya apa pentingnya, ya nggak tahu hahaha. Soalnya ini kan bukan buku yang life-changing atau gimana gitu, ya. 

Apa yang bikin aku suka sama buku ini adalah, bagaimana Sekolah Whyteleafe membiasakan anak-anak untuk jadi mandiri, dan “memaksa” teman mereka untuk mandiri dan patuh pada aturan. Sekolah ini juga memberi kesempatan berubah kepada anak-anak yang bermasalah, bahkan dengan cara yang unik. Misalnya, si badung Elizabeth ternyata nggak betah di sekolah karena dia rindu rumahnya, juga rindu kuda-kudanya (orang kaya, bo…) Maka, sekolah memberi kesempatan pada Elizabeth untuk melakukan kegiatan yang dia suka, seperti bermain piano, berkebun, dan berkuda sampai semester berakhir. Setelahnya, terserah Elizabeth apakah dia tetap ingin keluar atau tinggal. 

Hasilnya? Tentu saja Elizabeth bertahan. Sifatnya pun jadi lebih baik karena dukungan teman-temannya di Sekolah Whyteleafe. 

Ngomong-ngomong, gimana ya cara pengucapan ‘Whyteleafe’? 

Advertisements

Day 6: Something I’ve Always Wanted to Do but Haven’t

Banyak. 

Waktu SD, mamaku sebenarnya udah menyarankan aku untuk kursus menjahit. Tapi, waktu itu aku masih badung dan nggak mau jadi cewek girly. Sekarang nyesal banget karena baru sekitar dua tahun belakangan beneran kepikiran untuk punya skill macam menjahit, memasak, dan bikin kue. Apalah daya kayanya sekarang udah telat belajar jahit karena aku bahkan masih nggak bisa menggaris lurus. 

Trus dari dulu sebenarnya aku pengen ikut bela diri. Apa kek, karate, taekwondo, silat, atau apapun lah. Tapi nggak ingat kenapa aku nggak pernah jadi ikutan. 

Aku juga pengen bungee jumping atau apapun yang melibatkan loncat dari ketinggian. Aku selalu mikir kenapa aku nggak pernah nyoba hal-hal gini waktu umurku masih belasan dan belum jago overthinking kaya sekarang. Makanya, pas nonton The Kings of Summer yang adegan loncat dari tebing itu, aku jejeritan kepengen tapi sekarang mah udah takut hahaha. Semoga nanti ada kesempatan dan aku berani! 

The Kings of Summer

Naik gunung. Banyak teman-temanku yang selalu pengen naik gunung tapi nggak pernah diizinkan sama orang tuanya. Sementara aku, si anak bebas ini, sebenarnya dibolehin naik gunung tapi akunya yang malas latihan fisik hahaha. Naik bukit ke air terjun Pancaro Rayo dua tahun lalu aja bikin aku susah gerak tiga hari, apalagi kalau harus mendaki Gunung Kerinci yang jadi atap Sumatera itu tanpa persiapan. 

Berenang, berkuda, dan memanah. Aku baru tahu kalo tiga hal ini adalah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi untuk diajarkan orang tua, pas udah kuliah. Dulu sih pengen karena bisa renang adalah kewajiban, dan berkuda + memanah kelihatannya keren gitu. Hahaha. 

Pada dasarnya, aku bisa renang, kok. Tapi aku nggak yakin bakal survive kalo aku kecemplung ke laut, danau, atau kolam renang yang dalamnya lebih dari tiga meter. Tiap minta bapak buat ngajarin renang beneran, pasti ngomongnya, “Emang kucing pernah belajar renang? Kamu kan manusia, pake insting, jangan kalah sama kucing!” huft. Sementara kalo berkuda dan memanah, mahal hahaha. Lagian di kampung halamanku nggak ada tempat berkuda juga. Ada kuda, tapi buat narik penumpang alias bendi. 

Paralayang. Pengen nggak sih ngerasain bisa terbang? Aku pengen! Waktu pulang kapan ya itu, kayanya dua tahun lalu, bapak bilang kalo ada yang main paralayang dari Bukit Kayangan, dan bisa buat umum juga. Tadinya aku udah mau nyobain tuh, tapi pas dengar ada yang nyangkut di pohon, jadi keder hahaha. 

Trus pas aku bilang mau ke Malang tahun lalu, bapak juga semangat banget mau ngemodalin aku untuk main paralayang di Batu. Tapi sayangnya kemarin nggak ke sana, makanya nggak jadi, deh. Semoga nanti ada kesempatan! 

Belajar psikologi. Sejatinya, aku udah kepikiran untuk kuliah psikologi sejak kelas 8! Tapi rupanya takdir membawaku untuk kuliah jurnalistik. Jadi, yaudahlahya. 

Day 5: If I Could Have Dinner with Five People….

Siapa ya???

Ngomongin makan malam biasanya identik dengan bincang-bincang setelahnya. Berarti ini adalah lima orang yang pengen banget aku ajak ngobrol. Lumayan susah sih yang ini hahaha soalnya aku nggak benar-benar pernah mengidolakan seseorang, sih. Berhubung ini adalah perandai-andaian, akan kucoba untuk menulis lima nama. Tentu saja, sebelum masuk ke menu utama, aku sudah memakan appetizer Konnyaku Penerjemah dari Doraemon.

1. Nabi Muhammad SAW.

Sekarang tuh banyak banget ajaran sesat, kan. Belum lagi percampuran antara budaya dan agama, yang sebenarnya bermaksud baik tapi jadi nggak bernilai ibadah karena emang nggak pernah dicontohkan oleh Nabi atau diperintahkan oleh Allah. Tambah lagi dengan semua keributan berlatar belakang agama yang terjadi sejak beberapa bulan lalu. Jadi, kalau aku bisa makan malam dengan Rasulullah, kan enak jadi bisa belajar agama langsung dari A1. Trus pengen tahu juga pendapat Beliau soal beragam keributan yang bawa-bawa agama belakangan ini. 

 2. Algojo hukuman mati

Terutama yang udah pernah menjagal lebih dari sekali. Penasaran aja gitu, gimana rasanya dikasih izin untuk membunuh orang; ngeliat orang itu dari yang tadinya masih hidup sampai jadi mayat cuma dalam beberapa menit. Trus penasaran gimana pengalaman pertamanya, apa pengaruh pekerjaan ini terhadap kejiwaannya. Pertanyaan seperti itu, lah. 

3. Gordon Ramsay

Lebih karena aku pengen nyicipin masakan dia, sih. Seenak apa, gitu, sampai-sampai dia bisa nge-roast orang lain dengan mengerikan. Oh, ngomong-ngomong, aku terharu waktu nonton Ramsay di Master Chef Junior karena kepribadiannya jadi kebapakan, penyayang, dan jauh lebih menyenangkan gitu. Kaya kalo aku yang jadi pesertanya di umur 10 tahun, bakal terus termotivasi untuk masak setelah dikomentarin doi. 

4. Abdul Sattar Edhi

Aku pertama kali tahu tentang Edhi dari laman Nobel Prize di Facebook, ketika orang-orang mempertanyakan kenapa dia nggak pernah dapat Nobel. Trus aku nyari tahu dan kagum banget kenapa bisa ada orang selfless kaya gini. Penasaran apakah orang ini pernah punya rasa kepengen untuk menyenangkan dirinya sendiri dengan belanja-belanji dan sebagainya. 

5. Kamu

Iya, kamu….. *kedip manja* *colek-colek*

Day 4: Favorite Childhood Memory

Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Provinsi Jambi. Ada banyak kenangan masa kecil yang masih teringat jelas di otakku. Masa kecil ini kuhitung sejak lahir sampai lulus SD lah ya, berarti sampai umur 11 tahun. 

Mulai dari pengalaman pertama naik pesawat, pertama kali ke Dufan, atau waktu aku dan teman-teman berantem sama anak SD sebelah karena rebutan perosotan. 

Atau kenangan waktu aku, Cici, dan Mbak Tika joget-joget di atas meja mengikuti video “Koi Mil Gaya” – – aku jadi Anjali, Cici jadi Tina, Mbak Tika jadi Rahul. 

Atau waktu bapak pertama kali bikin keramba di Danau Kerinci, dan nyaris tiap akhir minggu kami selalu ke sana. Naik perahu, trus ngasih pelet ke ikan nila dalam jaring keramba. Sekali, kami pernah nginap di sana. Biarpun bau ikan, tapi rasanya memyenangkan karena dibuai ombak danau. Bahkan ulang tahunku ke-8 dirayakan dengan berenang di sana, pakai pelampung tentunya. 

Tapi nih, kalau ngomongin kenangan masa kecil terfavorit, itu adalah ketika aku diajak bapak dan mama ke Lambur Luar, sebuah desa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Itu sekitar kelas 3 atau 4 gitu. Cuma aku yang diajak karena Kacang lebih memilih tinggal di kota untuk main komputer. Kenangan ini jadi favorit karena ada banyak pengalaman pertama, juga hal-hal indah yang nggak akan aku lupakan. 

Ngomong-ngomong, aku nggak yakin semua yang bakal aku tulis ini terjadi dalam satu waktu yang sama, karena aku beberapa kali pergi ke sana. Ini juga nggak ditulis secara kronologis karena aku nggak ingat detailnya. Jadi, katakanlah ini judulnya “Pengalaman Ke Lambur Luar”. 

Itu adalah pertama kalinya aku naik speed boat, melewati laut, trus juga lewat sungai besar gitu. Waktu itu, pertama kalinya aku tahu monyet bisa berenang menyeberang sungai. Pas naik speed boat melewati laut, itu pertama kalinya aku tahu istilah “kandas” karena baling-baling kapalnya nyangkut di bagian laut yang dangkal. 

Terus kami masuk hutan sebelum sampai di tambak udang yang jadi tujuan. Waktu itu, untuk pertama kalinya aku disengat lebah. Sakit banget. 

Terus sampai di tambak udang, kami menginap di pondok yang kaya rumah panggung gitu. Malamnya, mamaku merebus mi instan yang pedas, dan ditambah udang windu dari tambak. Itu pertama kalinya aku tahu dan makan udang windu yang gede-gede. 

Sambil menunggu mama bikin mi, aku duduk sendirian di teras pondok. Nggak ada listrik di sana. Penerangan di dalam rumah pun cuma pakai petromak. Jadi, di luar beneran gelap gulita. Aku masih ingat, langit cerah malam itu dan aku bisa melihat milyaran bintang di langit. Semuanya jelas dan berkelap-kelip seumpama intan berlian. Itu pertama kalinya aku lihat bintang sebanyak itu. Peristiwa itu begitu romantis untukku yang masih bocah, dan sampai sekarang kalau langit malam lagi cerah dan banyak bintang, aku masih suka melongo menatapi langit lama-lama. 

Dua tahun lalu di kosan yang lama pun, aku pernah jam 10 malam pergi ke atap (emang ada tangganya) karena langit lagi cerah penuh bintang dan lagi purnama juga. Tapi waktu itu nggak lama-lama karena aku takut nggak sengaja lihat yang aneh-aneh hahaha. 

Trus suatu ketika kami pulang dari pasar ikan naik sampan. Sungainya nggak begitu besar, mungkin lebarnya cuma 1,5 meter. Pulangnya itu udah malam dan gelap banget. Aku bertugas memegangi senter ke arah depan sampan. 

Dan inilah bagian favoritku.

Sebagai anak yang tumbuh dengan menonton Home Alone setiap libur akhir tahun, aku selalu ingin melihat lampu kelap-kelip di pohon natal yang berjejer di sepanjang jalan. Berhubung aku tinggal di wilayah mayoritas muslim, pemandangan seperti itu jelas nggak akan pernah aku temui. 

Sampai akhirnya, malam ketika kami bersampan itu, cita-cita masa kecilku jadi kenyataan. 

Di kiri-kanan sungai, tumbuh pohon-pohon yang nggak begitu tinggi. Waktu kami lewat sana, pohon-pohon itu dihinggapi ratusan kunang-kunang. Mereka menyebar dan ada di semua pohon. Cahayanya berkelap-kelip cantik. Itu pertama kalinya aku lihat kunang-kunang, dan pemandangan yang ada begitu menakjubkan. Bahkan sampai sekarang aku dan mama masih suka mengingat peristiwa itu. Malam ketika kami melewati pohon natal kunang-kunang. 

Day 3: Article of Clothing I’m Deeply Attached to

Kemarin-kemarin ga ngelanjutin ini duli karena disibukkan oleh sesuatu yang penting ga penting selama tiga hari. Jadiii, ayo mulai lagi! 

Kalo ngomongin jenis pakaian yang aku suka banget, boleh bilang t-shirt ga? Soalnya, isi lemariku beneran cuma kaos, kemeja, sweater, dan jins. Makanya suka bingung kalo ke kondangan, ga punya baju haha. 

Habisnya, aku nggak begitu doyan jajan baju. Kalo punya duit, pasti duit itu larinya ke makanan. Kalo di rumah, aku selalu pake baju-bajunya Kacang. Pas ada satu yang enak dipake, langsung kujadikan hak milik. 

Jadi, yaah kalo ngomongin pakaian, pokoknya aku suka yang longgar, nggak nerawang, adem, dan potongannya simpel. Sayang, kalo untuk celana aku susah nyari yang longgar. Bisa dapat ukuranku aja udah bagus hahaha. 

​Day 1: 15 Fun Facts About Me

1. Picky eater. Biar gendut begini, tapi sebenarnya untuk urusan makan, aku banyak nggak maunya. Makanya, kalo makan bareng aku, orang-orang akan berbahagia karena dapat tambahan jatah kuning telur atau kulit ayam. Makanan yang umum macam ayam dan daging sapi pun, aku masih pilih-pilih. Untuk ayam, aku cuma makan dadanya (paha hanya diterima dalam kondisi terpaksa), dan daging has dalam, yang diolah hanya dengan digoreng atau dibakar. Satu-satunya makanan laut yang bisa kumakan cuma udang. Kelakuan begini memang merepotkan, makanya sejak aku SMA, mamaku capek dan nggak lagi menyesuaikan belanjaan dengan apa-apa yang bisa kumakan. Pernah sekali, aku lebih memilih makan nasi pakai garam daripada makan pakai ikan goreng.

2. Kalau suka sesuatu pasti dalam jangka waktu yang lama, alias susah move on. Ini bukan cuma berlaku dalam hubungan antarmanusia. Misalnya, waktu semester 3 atau 4, aku lagi suka tahu bulat. Maka, selama satu semester itu hampir tiap hari aku jajan tahu bulat. Atau lagu alarm-ku yang nggak pernah diganti sejak SMP. Atau waktu aku lagi alay dan suka Amnesia-nya 5 Seconds of Summer, aku dengerin lagu itu hampir tiap hari selama nyaris setahun. 

3. Melankolis dan sentimentil. Aku ingat tanggal ketika pertama kali dapat haid. Aku ingat tanggal pertama kali aku pakai kerudung. Di hari Firda lulus, aku bilang, “Guys, hari ini setahun yang lalu, kita baru aja pulang dari Malang loh,”. Aku menyimpan semua barang pemberian orang—kotak donat waktu ulang tahun; Kitkat wasabi pemberian Siti dari Jepang, cokelat pemberian Reza dari Inggris, permen  susu pemberian Lukya dari Korea (yang untungnya nggak dimakan soalnya nggak halal); bahkan ketika bertemu teman yang udah lama banget gak ketemu dan aku kangen, botol air mineral yang kami bagi waktu pertemuan itu masih aku simpan. Jadi yah, di kamarku jadi banyak barang-barang semi sampah yang bertumpuk.

4. Gampang dibaca ekspresinya. Mengontrol omongan? Easy peasy lemon squeezy. Mengontrol ekspresi? SUSAH! Mukaku sering banget menampilkan ekspresi yang benar-benar diluar kendali. Misalnya waktu magang, seorang karyawan baru yang super extrovert menceritakan banyak hal tentang dirinya, dan aku sebenarnya udah males dengerin. Pas pulang, si Firda bilang, kalau tadi ekspresiku kelihatan banget bosan sama omongan karyawan baru itu. Jadi…. sepertinya kalau aku suka sama orang juga akan tertulis jelas di mukaku. TIDAAAAKKK *blush*

5. Anak yang nggak pernah dicariin. Salah satu keuntungan yang kudapat selama tumbuh berkembang adalah, aku bisa main ke mana aja dan amat sangat jarang ditelfonin. Soalnya mamaku tahu aku main ke mana, sama siapa, lagi di rumah si X yang bapaknya bernama Y dan kerjannya apa. Sekalinya ditelfon, itu juga karena mamaku lupa password Facebook-nya, bukan nyuruh pulang. Gara-gara ini, dulu aku dikatain anak pungut.

6. Waktu nonton Divergent, aku merasa Theo James yang jadi Four itu ganteng banget. Saking gantengnya, abis nonton aku ke kamar mandi, duduk di kloset sambil jariku yang gemetaran memegangi dada yang berdegup kencang. Semacam jatuh cinta pada pandangan pertama gitu.

7. Aku masih sering baca-baca status yang kutulis di Facebook waktu zaman SMA. Soalnya, walaupun sering alay dan nggak jelas, beberapa statusku super bijak dan bermanfaat untukku di masa sekarang. Aku kaya digetok untuk ingat, “dulu aja aku pernah mikir gini, loh!”

8. Punya bekas luka kena knalpot di betis kanan dan kiri. Kalau luka yang di betis kiri itu, kejadiannya sekitar umur 4 atau 5 tahun. Waktu itu aku disuruh ngambil apa gitu di mobil, trus pas buka pintu, badanku sedikit kedorong ke belakang dan kakinya nempel ke knalpot motor yang baru aja parkir di sebelah mobil. 

Kalau yang di kanan, kejadiannya 19 Juni 2010 (aku nggak akan lupa), siang bolong di halaman rumah Nisa. Sejak aku lulus SD, sebenarnya bapakku udah nyuruh pake kerudung, tapi aku nggak mau. Trus dia bilang, seenggaknya pake celana panjang. Aku masih nggak mau juga. Sampai akhirnya, pas mau ke rumah Nisa, ban motornya selip, motor rebah ke kiri, dan betis kananku yang telanjang nempel di knalpot. Gara-gara itu, selama libur kenaikan kelas aku nggak bisa jalan. Sampai sekarang bekas lukanya masih ada, gede dan jelek banget, kadang suka aku marahin hahaha. Bekas luka ini kemudian mengingatkanku untuk nggak lagi melawan omongan orang tua.

9. Setidaknya sampai kelas 11 aku adalah orang yang sangat berisik. Kaya mulutnya tuh ngoceh melulu nggak bisa diam. Sampai suatu hari, si Agung sambil bercanda bilang, coba sehari aja aku diam dan kalem. Walaupun bercanda, tapi ternyata itu bikin aku kepikiran jangan-jangan selama ini aku annoying.

10. My favorite Disney Princess is Mulan. Beda dengan putri-putri klasik macam Cinderella atau Snow White yang menunggu diselamatkan pangeran impiannya, Mulan justru menyamar jadi laki-laki, maju ke medan perang menggantikan ayahnya yang sudah tua. Keren lah, pokoknya. Waktu SD, aku bahkan pakai shampo dan body mist Disney Eskulin yang varian Mulan karena wanginya enak.

11. Waktu SMA, aku pernah memotong rambutku sampai pendek banget untuk ukuran cewek, tapi sedikit kepanjangan untuk ukuran cowok. Actually that was the best hair style I’ve ever had, and the most comfortable. Gaya rambut itu aku pertahankan sampai pertengahan kelas 12, sebelum akhirnya mulai dipanjangkan lagi demi sanggul perpisahan.

12. Walaupun sendirinya masih suka khilaf, aku senang mengoreksi ejaan, penggunaan kata, dan logika kalimat yang ditulis orang lain—terutama di media sosial.

13. Suka banget sama kucing, tapi nggak diizinkan memelihara. Sekalinya aku boleh melihara kucing itu sekitar kelas 12, waktu ada kucing jantan liar berbulu oranye yang suka mampir ke rumah. Dia kukasih nama Onyew dan sebenarnya kucing yang baik. Nggak pernah buang air sembarangan. Paling sekalinya lantai penuh pipis kucing itu karena dia dikejar-kejar kucing betina sampai terkencing-kencing. Selebihnya, Onyew kucing yang manja padaku. Kalau pagi, aku sering bangun dengan Onyew tidur di kakiku. Begitu aku kuliah, nggak ada lagi yang sayang sama Onyew, jadi dia hilang. Sedih 😦

14. Personal space is everything. Aku sebenarnya nggak suka dekat-dekat atau disentuh sama orang, kecuali sama anggota keluarga inti. Di angkot atau di bus, aku mendingan meringkuk nggak nyaman daripada lutut atau bahuku harus bergesekan dengan orang lain. Kadang, ada teman yang pas lagi jalan bareng tanpa sadar suka menggamit lenganku dan sejujurnya itu bikin aku nggak nyaman, tapi nggak enak ngomongnya.

15. Sekarang lagi peduli banget sama kehalalan suatu produk. Gara-garanya, aku baca postingan seseorang yang bilang, “kita kan udah capek-capek kerja cari uang yang halal. Masa habis itu dipakai beli yang haram?” Ini jadi bikin aku ingat bapak yang capek-capek kerja di bengkel, tapi akunya malah lebih menuruti nafsu untuk beli produk, terutama makanan, yang diragukan kehalalannya. Sedih sih, jadi nggak bisa jajan Pocky atau nyobain Nutella atau makan di tempat yang agak fancy dengan sajian menu ala luar negeri. Tapi demi timbangan dosa yang sudah berat, nggak apa-apa!