Author: otakeyong

Mahasiswa biasa yang sedang belajar menulis untuk menjadi luar biasa

Natal-Mortal

Kalau dipikir-pikir ya, konsep kelahiran dan kematian tuh aneh banget.

Kaya, hari ini orang-orang menjalani hidupnya seperti biasa. Kerja, sekolah, ngegosipin tetangga. Penduduk bumi masih 7 milyar pas. Eh, tiba-tiba kita datang ke dunia. Ikut berpartisipasi meramaikan bumi, ngabis-ngabisin oksigen. Penduduk bumi jadi 7 milyar tambah satu (sebenarnya +n karena di hari yang sama pasti juga ada puluhan orang yang baru datang ke dunia).

Aneh aja gitu, kita kemarin nggak ada, trus tiba-tiba hari ini kita ada. Kemarin orang tua kita cuma berdua di rumah, eh tiba-tiba hari ini jadi bertiga. Aneh banget.

Beberapa dari kita ikutan membantu dunia jadi tempat yang lebih baik (atau lebih buruk), beberapa lagi cuma jadi figuran bumi yang kebagian peran ketimpa bangunan kalau di film-film tentang musibah.

Trus setelah ikut mejeng di bumi selama beberapa saat, tiba-tiba kita mati. Tiba-tiba kita nggak ada lagi di dunia ini. Tiba-tiba sikat gigi yang kita pakai semalam sebelum tidur, udah jadi pengangguran kehilangan pemiliknya. Penduduk bumi jadi 7 milyar kurang satu (-n sebenarnya).

Kita menghilang aja gitu dari bumi. Nggak tau lagi gimana gosip tetangga. Nggak tau lagi gimana nasib kucing liar yang kita kasih makan tiap hari. Nggak tau lagi apa aja yang diomongin orang tentang kita yang udah mati di internet.

Aneh banget, kemarin kita nggak ada, trus kita jadi ada, trus nggak ada lagi.

Hidup tuh kaya ngedipin mata gitu ya. Sekejap aja gitu lewat. Trus selesai.

Advertisements

+ Ngapain sih kita tuh hidup

– “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

+ oh iya, bener

Dementor

IMG_20180522_045618

I’m tired

The Dementor is here again

It’s making me scared and now I can’t stop crying

It’s consuming me

I’m tired

I wanna run away

I’m tired writing this kind of things

But I don’t have anyone to talk this out, nor even I know how to talk this out

I’m just tired living as me, living under this skin

I’m tired being that undeserving bitch

I’m scared.

I’m sorry for writing this.

180518: 23

Hari ini sebenernya sedih karena hari kedua puasa dan aku gabisa ikut puasa; juga karena akhirnya aku 23 tapi masih nggak kemana-mana.

Tapi alhamdulillah, masih ada hal baik yang menghampiri, yang membuatku bahagia hari ini.

IMG_20180518_180237.jpg

“Karena ulang tahun ke-23 jadi donatnya ada 2, lilinnya ada 3” – Mumut

Makasih buat Mumut yang udah datang di waktu berbuka puasa, hujan-hujan dan membawakan makanan ini. Kebetulan udah berapa hari aku ngidam maknar wkwkwk

IMG_-n6odoj.jpg

Untuk El, mutual yang kukenal karena nge-stan JBJ, makasih untuk kado dan semua per-Sanggyun-an ini. Huhu aku terharuuuuuu aku dikelilingi orang-orang baik.

 

 

Untuk JBJ, sumber kebahagiaanku, yang update foto grup hari ini setelah hampir sebulan dari hari yang menyedihkan itu huhu nangis. Juga untuk memenuhi kehaluanku, mereka ngerayain ulang tahun Sanggyun (yang sebenarnya jatuh tanggal 23) di HARI INI BANGET. Aku jadi merasa ikut merayakan hahahahaha *ditabok*

19 Mei 2018

Aku bangun jam 11, trus sarapan dengan donat pemberian Mumut kemarin. Trus tiba-tiba Mumut dan Firda datang, bawa kue dan balon. Setelah itu kita video call sama Siti, dan Siti “ngasih” cupcake berbentuk bunga.

“Kan Cendi suka JBJ, dan JBJ punya lagu judulnya ‘My Flower’, jadi cupcake-nya bunga,” – Siti

 

“balonnya ‘Will You Marry Me’ biar lucu,” – Firda

 

 

Happy birthday you undeserving bitch.

Hal-Hal Menyenangkan

The thoughts that has been killing me lately: what if my family and friends hated me and how I became a burden to everyone

Sejujurnya belakangan aku kepikiran pengen ngehapus blog ini. Postingan terakhirku itu tanggal 7 Desember 2017 dan isinya sangat nggak menyenangkan. Begitu juga dengan postingan-postingan sebelum tanggal itu. Postingan yang agak menyenangkan terakhir kali kutulis tanggal 15 Oktober 2017.

Sekarang udah Februari 2018.

Ingat nggak, gimana dulu aku sering menuliskan hal-hal menyenangkan di blog ini. Ceritaku jalan-jalan. Ceritaku bermain sama teman-teman, atau masak-masak. Kelucuan hidup yang aku alami. Kenangan-kenangan indah dan menyenangkan.

Sampai tiba-tiba semuanya berubah dan aku merasa kehabisan cerita yang menyenangkan.

Dulu waktu pertama kali bikin blog emang tujuannya sebagai mediumku bercerita, untuk refleksi pada diri sendiri, senang atau sedih. Otakeyong. Ota (bahasa Minang, artinya obrolan) dan Keyong. Bisa juga Otak-nya Keyong. Niatnya, blog ini menjadi wujud digital dari diriku.

Kalau sedang fokus pada suatu hal, otakku sering berisik ingin berbicara tentang hal lain, jadi kutuliskan di blog biar dia diam. Kalau senang, kutuliskan supaya aku bisa terus mengingat perasaan senang itu. Kalau sedih, aku curahkan supaya aku merasa lebih lega, supaya pikiranku nggak kusut lagi.

Dengan semua hal-hal tidak menyenangkan yang aku tulis beberapa bulan belakangan ini, ternyata bukannya bikin aku lebih lega, malah bikin aku tambah lelah. Kepalaku tambah sakit. Menulis bukan lagi jadi sesuatu yang menyenangkan dan melegakan.

Kepalaku bilang padaku, kenapa sih terus-terusan nulisin hal ginian di blog? Cari perhatian? Sok emo? Sok edgy?

Berisik.

Kalau kembali ke awal, menjadikan blog ini sebagai wujud digital dari diriku, apakah berarti sekarang aku hanyalah seonggok jasad hidup yang menyedihkan? Apakah sekarang sosokku menjadi kelabu?

Mungkin nanti aku akan kembali berwarna-warni, melihat semua ketidakmenyenangkan yang pernah kutulis dan bersyukur aku berhasil melewatinya.

Jadi, sampai saat itu tiba, aku pamit dulu. Aku taruh foto Sanggyun favoritku di sini karena setidaknya, ini adalah hal yang menyenangkan.

©thereforyou0523

See you on the brighter days.

Jatinangor, 5 Februari 2018, 21:38

Ketakutan Magrib Tadi

My life is only revolving around me spending money and hating on myself.

Tadi habis magrib aku mau ke atm di gerlam, mau ngambil pecahan 20ribuan karena seingatku di rekening tinggal 30ribu. Nggak tahu yang lainnya kemana. Tiap punya uang, uangnya langsung kubakar.

Sepanjang jalan dari kosan, aku mikirin kenapa aku boros banget. Kenapa aku kayak orang nggak punya masa depan. Kenapa aku ini mengecewakan.

Kalau ada orang yang bilang benci sama aku, percayalah aku juga benci sama diriku sendiri, lebih dari orang lain. Aku benci sama diriku yang nggak punya kontrol. Aku benci sama diriku yang seenaknya aja. Aku benci sama diriku yang semakin hari malah berjalan mundur.

Rasa pengen “udahan” itu makin besar.

Di depan Suharti, aku mulai nyebrang. Jalanan lumayan rame dari dua arah.

Selama sedetik, terlintas di pikiranku untuk berhenti aja di tengah jalan. Biar ketabrak. Biar udahan. Aku bawa dompet, ada KTP. Aku bawa hp, ada nomor yang bisa dihubungi. Sepersekian detik, kakiku nyaris berhenti melangkah.

Untungnya akal sehat segera mengambil kendali atas diriku. Nggak, nggak boleh. Dosa. Aku nyebrang baik-baik, nggak jadi berhenti dan bikin susah supir truk. Aku nggak mau makin nyusahin orang.

Aku takut. Banget. Maafkan aku ya Allah. Aku nggak mau ngerasain kaya gini lagi. Tolong.

Trus tadi temanku menelepon, minta tolong aku bantuin tugas statistika dengan nama rumus(?) yang nggak pernah kudengar.

“Kan bukunya masih ada,” dia memaksa.

“Dulu dipinjem temen kosan, gak dibalikin sampai orangnya udah lulus,” kataku. Aku nggak bohong.

“Bantuin dong, cuma satu soal. Googling aja, deadline-nya besok,” desaknya lagi.

“Nggak ngerti. Lagian kuliah statistik tuh pas semester 2. Udah nggak ingat, maaf ya,”

Telepon ditutup.

Padahal dia tahu setahun ini aku berkutat dengan setan. Egois.

Habis itu seseorang dari masa lalu mengirimkan pesan ke instagram-ku dengan jarak hampir satu tahun dari terakhir kali kami berkirim pesan. Dia memanggilku “sayang” seperti yang dulu-dulu. Nggak, aku nggak akan kepancing lagi. Pergi.

Lima menit kemudian dia kembali mengirim pesan.

“Sombong banget sih sekarang,” cuma kubaca. Mau ngapain sih.

Sepuluh menit kemudian dia membalas story-ku. Lagi-lagi mendesak untuk menyapa. Aku capek. Aku muak. Kamu cuma datang ketika bosan dan sendirian. Kamu kan udah punya pacar, kemana dia? Aku kan udah pernah bilang dari dulu aku suka sama kamu dan kamu cuma ketawa. Maksudnya biar selesai loh. Masa nggak ngerti juga? Masa masih main-main juga? Kok jahat sih?

Terserah. Aku nggak mau peduli lagi.