Author: otakeyong

Mahasiswa biasa yang sedang belajar menulis untuk menjadi luar biasa

#UniMemory: Aa Di

Sebenarnya aku tuh enggak gabut. Aku punya segunung pe-er yang mesti dikerjakan, tapi dicicil pelan-pelan karena….. Ya pelan-pelan aja.

Akhirnya, otakku malah memutuskan untuk mengerjakan sesuatu, sekalian nge-post di blog yang udah lama terbengkalai. Kepikiranlah ide untuk menuliskan setiap kenangan kehidupan kampus yang tiba-tiba muncul di otakku. Untuk yang pertama ini, inspirasinya muncul setelah aku makan nasi uduk.

Aa Di.

Kalau sudah menjelang magrib, pedagang kaki lima di sekitar Jatos mulai memarkir gerobak, memasang tenda, dan berjualan. Salah satunya adalah pedagang ayam goreng/bakar di depan kosan Mumut. Rasanya selama lima tahunan di Nangor, tiap nongkrong di kosan Mumut pasti malamnya kita makan di sini.

Penjualnya adalah seorang laki-laki muda, umurnya mungkin di akhir 20-an. Manis kaya kecap, ganteng kaya mas Duta Sheila On 7. Dulu dia jualan bareng ibunya, tapi sekarang si ibu udah enggak ikut jualan. Mungkin sakit karena sering kena asap tebal dari tukang sate ayam di sebelahnya. 

Gantengnya si Aa tentu bukan alasan aku dan teman-teman suka makan di situ. Walaupun cuma ayam goreng/bakar biasa dengan nasi biasa dan sambel merah biasa, tapi enak. Gimana ya, aku nggak bisa mendeskripsikan. Tapi kalau makannya dibungkus atau makan di sana, semuanya tetap enak.

Kemudian kami pun penasaran dengan nama si Aa. Bukan mau ngapa-ngapain sih, penasaran aja soalnya udah sering banget beli di situ kan. Tapi, nggak ada yang berani nanya hahahaha. Aneh lah, ujug-ujug nanya nama. Mau ngapain.

Rasa penasaran itu sedikit terjawab setelah salah satu dari kami mendengar si Ibu memanggil si Aa dengan sebutan “Di”. Sejak itu, kami menyebut si Aa sebagai Aa Di.

Biar begitu, kami masih penasaran dong, masa namanya cuma “Di”? Apakah dia seorang Adi? Dika? Dio? Dilan? Dian? Randi? Mulyadi? Mukidi?

Enggak. Kami enggak bisa meninggalkan Nangor tanpa tahu siapa nama Aa Di sesungguhnya.

Akhirnya, sekitar tahun lalu, kami mendapat titik terang atas pencarian kami selama ini. Nama si Aa akhirnya terdengar dari mulut ibu penjual sate ayam.

Namanya Fandi. 

Advertisements

“Thank You For Being Born” 

I think it’s the best birthday wish ever. Like when you feel at the lowest point, when you feel useless or unworthy, when you just want to give up; but there’s someone thankful because you are born. There’s someone feels glad because you are the part of their world. 

To my dear family and friends, thank you for being born. 

Lagu yang Bikin Nangis di Pendengaran Pertama

Umm… Sejujurnya aku nggak bisa mikir apa intro yang tepat untuk postingan ini. Sekarang aku lagi di Cisral lantai 4, berusaha mengerjakan skripsi tapi kemudian merasa bosan dan nggak bersemangat. Terus dari playlist-ku ternyata ada beberapa lagu yang kalau diingat-ingat bikin aku nangis sejak pertama kali mendengarkannya.

Dengan bangga aku mau bilang kalau dalam daftar ini nggak ada lagu cinta-cintaan! Hahaha. Lagu-lagu ini adalah lagu yang liriknya sedih, bikin aku jadi mikir tentang banyak hal yang berujung pada cucuran air mata.

The Script – If You Could See Me Now (2012)

Rasanya ini adalah lagu pertama yang bikin aku nangis dalam sekali dengar. Waktu pertama kali dengar lagu ini, aku sendirian di rumah dan lagi nongkrong di ruang tamu demi sinyal wifi yang lebih baik.

Lagu yang ditulis oleh si vokalis, Danny O’Donoghue, dan si gitaris, Mark Sheehan, ini berbicara tentang gimana mereka berharap orang tua mereka melihat kesuksesan mereka sekarang. Liriknya sederhana dan nggak banyak metafora seperti lirik-lirik The Script yang lain. Justru karena kesederhanaan itu yang bikin aku gampang banget merasa emosional dengan lagu ini. Aku jadi ikut mikir, gimana kalau ketika aku sukses nanti (dengan entah apa kriteria sukses yang ada) tapi orang tuaku udah nggak bisa lihat itu? Aku jadi mikir gimana kalau waktu yang ada ternyata nggak cukup bagiku untuk meraih pencapaian yang remarkable?

I hope you’re up there with God saying, “That’s my kid!”

The Black Eyed Peas – Where Is The Love? (2003)

Aku baru tahu kalau ternyata BEP punya lagu dengan lirik seperti ini.

Aku pertama kali dengar lagu ini beberapa bulan yang lalu, dari daftar apa gitu di Billboard, lupa. Waktu itu adalah waktu dimana kasus Ahok lagi panas-panasnya, dan isu Timur Tengah juga masih tetap panas.

Intinya lagu ini bercerita tentang kemanusiaan yang udah pudar. Perang yang nggak pernah berhenti; diskriminasi terhadap suku, ras, agama, dan golongan tertentu; tentang manusia yang udah lupa gimana caranya peduli sesama manusia.

Apa yang bikin aku nangis adalah, udah 14 tahun sejak lagu ini dirilis dan keadaan masih nggak berubah, justru makin parah. Aku memikirkan anak-anak di Palestina, di Suriah, yang nggak tahu apa-apa dan hidup dalam kecemasan setiap hari. Aku memikirkan gimana sekarang orang-orang dengan gampangnya membunuh orang lain. Bisa nggak sih, dunia damai aja? Bisa nggak sih, kita diam dan mensyukuri aja apa yang kita punya? Bisa nggak sih orang-orang nggak berbantah-bantahan dan ribut melulu?

People killing, people dying
Children hurt and you hear them crying
Can you practice what you preach?
Or would you turn the other cheek?
….
Cause people got me, got me questioning
Where is the love?

JJ Project – Tomorrow, Today (2017)

Lagu ini direkomendasikan oleh Annan saat kami dalam perjalanan pulang habis dari wisudaan minggu lalu. Awalnya itu karena habis ngomongin kita yang sama-sama masih nggak bisa menjawab mau kemana setelah lulus. Biasalah pokoknya struggle mahasiswa bangkotan di awal umur 20-an.

Apa yang bikin aku nangis adalah lirik lagu ini benar-benar mengatakan semua yang ingin aku katakan. Aku yang jadi skeptis dan melupakan mimpi-mimpi masa lalu. Aku yang merasa kehilangan arah dan nggak tahu mesti berpijak kemana. Semua ketakutan-ketakutan tentang pilihan, tentang masa depan.

Again today, there are questions I don’t know
I’m trying to answer but I’m not confident
Is it this way or that way?
I’m afraid of my decision
With an anxious heart heart heart heart
I’m standing in front of the next next next choice
Between paths that I’ve never gone on before
How can I find my way?
I’m afraid, day by day

Honorable Mention:
Justin Bieber – Believe (2012)

Aku nggak nangis dengar lagu ini di pendengaran pertama sih, tapi tetap aku masukkan dalam daftar ini karena momen nangisnya justru baru terjadi beberapa minggu lalu.

Pertama kali dengar lagu ini adalah beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN Tertulis 2012. Waktu SMA, guruku meragukan pilihan universitasku, tapi orang tuaku mendukung apapun yang aku pilih. Sampai sekarang, dengan kuliahku yang entah kapan selesainya ini, mereka masih nggak menuntut. Cuma mengingatkan, tapi nggak menuntut apa-apa. It breaks my heart to think they still believe in me, while all I do is disappointing them. I’m so sorry.

It didn’t matter how many times I got knock on the floor
You know one day I would be standing tall.
Just look at me now.
Cause everything start from something,
And something would be nothing,
Nothing if your heart didn’t dream with me.
Where would I be if you didn’t believe?

Semoga aku kembali bersemangat.

What The Fudge Have I been Done With My Life? 

dek Seonho

Uhuk

Beberapa bulan yang lalu aku nggak sengaja kecebur dalam dunia yang nggak pernah kubayangkan sebelumnya: dunia K-Pop. 

Jauh sebelum Lee Minho jadi bintang iklan Luwak White Koffie”,  wabah Korea udah mulai merebak di awal masa SMA-ku melalui drama Boys Before Flower. Waktu itu, hampir semua anak perempuan di kelasku nonton drama itu dan ngomongin ceritanya nyaris setiap saat. Sebagai orang yang nggak ikutan nonton, aku cuma menyimak obrolan mereka. Makanya sedikit-sedikit jadi tau kalau Lee Minho dan Kim Bum adalah tipe ideal hampir semua orang waktu itu, seperti Jerry Yan dan Vic Zhou bagi mbak-mbak di era 2000-an.

Pengetahuanku soal dunia K-Pop (sampai sekarang) juga cuma sebatas hasil menyimak obrolan teman-teman. Karena temenan sama Dedek yang dinding kamarnya penuh dengan muka abang-abang SuJu (bahkan sampai ke wadah tisu dan tempat sampah) aku jadi tahu lagu Sorry Sorry. Eh, tapi siapa sih yang nggak tahu lagu ini? Hahaha. Trus aku juga tahu No Other-nya SuJu karena itu soundtrack adikku dan mantannya. Begitu juga dengan drama dan reality show yang aku sekadar tahu aja. 

Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu aku mulai nonton Produce 101 Season 2 tanpa sengaja. 

Waktu itu, aku dan Firda lagi kongkow di kosan Mumut dan mereka nonton PD101. Seperti biasa, aku ikut-ikutan menyimak dari tempat dudukku di depan lemari Mumut. Oh, ternyata kontes mencari idol. Oh, ternyata rame. Oh ternyata bikin aku ngomong, “nanti kalo nonton episode 3, ajak aku ya!”

Seperti biasa, aku selalu over-invested dengan apa yang aku tonton/baca. Apa yang terjadi selanjutnya sama seperti ketika aku menangisi kematian Koro-sensei; ketika aku jadi sayang banget sama Barney Stinson (dan mencari sangat banyak video Neil Patrick Harris); atau ketika aku suka banget sama Sheldon Cooper, bahkan sampai mimpi ketemu Jim Parsons. 

Dari yang tadinya cuma ingat Ong si tampan, Samuel si berbakat, adek Woojin yang menggemaskan, dan Daehwi si-sempurna-tipikal-anak-yang-gak-disukai-di-kelas; aku jadi suka lebih banyak trainees, terutama mereka-mereka yang ada di kisaran umurku. Tanpa aku sadari, aku jadi benar-benar emotionally invested to some complete strangers. 

Aku nangis pas bagiannya Ha Sungwoon di Downpour. Aku nangis baca lirik rap-nya Kim Jonghyun di Fear. Aku nangis karena Park Woodam terpaksa dievaluasi di dance, padahal baru aja dia dikenal lewat kemampuan vokalnya. Aku nangis lihat Im Youngmin nahan nangis pas minta maaf soal “skandal”-nya, dan pas dia beneran nangis di akhir episode 11. Aku kesal karena Noh Taehyun cuma dapat 6 votes di concept evaluation karena sebelumnya dia udah menyajikan penampilan legendaris dari tim Shape of You. Acara penuh drama, kontroversi, dan rumor ini benar-benar sudah menenggelamkanku. 

Setelah episode final, Wanna One, final group hasil acara ini jadi punya segudang acara. Mereka belum resmi debut tapi hype-nya udah gede banget. Begitu juga dengan, setidaknya, trainees yang masuk 35 besar. Mereka jadi punya banyak jadwal pemotretan, wawancara, melakukan V Live, bahkan beberapa sudah diwacanakan akan debut. Aku ikut senang dengan kesibukan mereka. Aku bersemangat memikirkan mereka semua pasti akan sukses walaupun nggak masuk Wanna One. Aku bahagia mereka semua bahagia. 

Kemudian, sesuatu mengetuk kepalaku. 

Mereka ada di kisaran umurku, beberapa bahkan jauh lebih muda. Tapi mereka udah begitu sibuk melakukan banyak hal untuk mewujudkan cita-citanya jadi idol. 

Noh Taehyun lebih tua dua tahun. Ha Sungwoon lebih tua setahun. Im Youngmin, Ong Seongwoo, Hwang Minhyun, Kim Jonghyun, Kim Sanggyun, Takada Kenta, semuanya lahir di tahun yang sama denganku. Kim Jaehwan, Kang Daniel, dan Kim Yongguk lebih muda setahun. Park Woojin dan Ahn Hyeongseob lebih muda empat tahun. Kim Samuel dan Yoo Seonho lahir di tahun yang sudah kuanggap sebagai bayi selamanya. 

Trus, aku ngapain? Apa yang udah aku lakukan dengan hidupku? Apa pencapaian yang udah aku buat? 

Wow, ternyata acara ini juga bikin aku krisis eksistensi diri. 

Semesta Bermain

Paham kan, gimana perasaan ketika tahu semesta kembali mengajakmu bermain dan bercanda? 

Aku bakal mudik besok, dan rasanya aneh. Maksudku, biasanya kalau mau pulang tuh bawaannya bersemangat, pokoknya beda lah perasaannya. Tapi kali ini aku malah merasa gugup dan nggak tahu kenapa, merasa 40% nggak mau pulang. Biasanya beberapa hari sebelum pulang aku udah sibuk beliin titipan bayi-bayi, bahkan udah mulai  packing paling nggak sejak H-7 saking bersemangatnya. Tapi kali ini, aku baru sibuk belanja hari kemarin (Sabtu) dan tadi siang. Packing pun baru habis Ashar, padahal aku bakal jalan ke Bandung sekitar jam 8-an. Ini mungkin karena kenyataan bahwa diri ini masih belum lulus dan males kalo ditanyain (lagi), jadi rasanya nggak semangat buat pulang haha. Tapi aku muak di Nangor, aku muak di kosan. Jadi aku harus pulang. 

Pesawatku berangkat jam 12.50 dan travel yang kupesan berangkat jam 5.30. Berhubung nggak ada travel dari Nangor yang berangkat jam 4.30 (dan nanggung subuh juga), aku memutuskan untuk kongkow aja di Mekdi Simpang Dago, wifian sampai menjelang subuh. Nanti dari Nangor, aku bakal turun di Jalan Cipaganti, naik angkot sedikit ke pool X-Trans yang deket Ciwalk, menitipkan koper, trus cabut ke Mekdi. Rencana sudah tersusun rapi di kepalaku tapi ternyata hidup nggak harus selalu berjalan sesuai rencana. 

Pertama, supir travelnya nggak mau turun ke Jalan Cipaganti, mungkin males karena mikirnya bakal macet. Tapi aku masih oke karena bisa naik angkot juga dari DU dan ongkosnya cuma beda seribu. 

Kedua, ternyata sampai di DU, sekitar jam 9.30 udah nggak ada angkot. Mungkin ada, tapi jarang banget. Aku nungguin sendirian kaya anak hilang di depan gerbang Unpad. Akhirnya aku memutuskan untuk naik Go-Car aja. 

Sampai di pool X-Trans, sebenarnya aku agak bingung karena loket reservasinya gelap, dan cuma ada segerombolan bapak-bapak yang lagi nonton bola. Ada dua ibu-ibu yang kukira juga lagi nungguin travel. Jadi dengan pedenya aku ikut duduk nggak pake nanya-nanya. Bapak-bapak yang ada di situ juga nggak nanya apa-apa. 

Sambil duduk bernapas, aku mikirin gimana caranya ke simpang. Hmmm udah nggak ada angkot. Naik gojek berarti. Tapi nanti subuh pake apa ya? Kalo nggak ada angkot? Kalo nggak ada gojek? Masa jalan? Serem. 

Kelamaan mikir bikin aku jadi haus dan memutuskan untuk nyari minimarket terdekat dan siapa tahu 24 jam jadi aku bisa nongkrong di sana sampai menjelang subuh. Ketika akhirnya menemukan Indomaret yang ada tempat duduknya, aku beli susu coklat panas dan sebotol air mineral (maafkan aku, bumi). Baru beberapa menit aku menikmati indahnya hidup ini, si teteh mulai beberes. Tokonya mau tutup.

Haha.

Aku naik ke Cihampelas Skywalk, tapi ternyata nggak ada orang dan udah mulai gerimis. Jadi aku memutuskan untuk balik ke pool dan berteduh.

Pool-nya makin sepi. Ini semakin aneh karena harusnya ada keberangkatan jam 11 ke bandara. Tapi bodohnya aku masih sok tau dan nggak nanya. Orang yang masih ada di sana juga masih nggak bertanya. Sama-sama cueklah pokoknya. 

Di tengah kebengonganku seorang diri, seorang teteh-teteh datang dan bilang mau beli tiket travel ke bandara. Satpamnya bilang, kalo yang ke bandara itu dari pool satunya lagi, sekitar 200 meter dari pool yang ini. Doooeeengggg!!!! ta…tapi kemarin pas aku booking kata aa-nya dari pool yang ini… 

Masalahnya, selama ini aku nggak pernah naik X-Trans, makanya nggak tau pool yang mana ke mana. Biasanya aku naik MGo tapi kebetulan penuh semua huft. 

Akhirnya, tengah malam aku menggeret koper kaya peserta AFI yang tereliminasi, di Jalan Cihampelas yang untungnya sudah lumayan sepi. Aduh aku malu banget rasanya, tapi nggak tau malu sama siapa hahaha.

Sampai di pool yang benar, aku duduk dan mengatur napas lagi. Menggeret koper 200 meter ternyata bikin keringatan. Sudah hampir tengah malam dan aku sudah 90% yakin pengen ke Mekdi aja. Udah ngecek gojek, tapi nggak tahu kenapa masih belum jadi mencet tombol order. 

Di tengah kebingungan, aku ngeliat kakak kelasku selama SD-SMP-SMA dan emang aku kenal. Doi kuliah di UPI dan tinggal di asrama mahasiswa daerah yang ada di ujung jalan Cihampelas. Kebetulan si kakak juga tipe senior yang ramah dan mengayomi juniornya. 

Biasanya aku orang yang males banget nyapa orang lain, tapi kali ini semesta menyuruhku menyapa si kakak. Ternyata, kami naik pesawat yang sama dan bahkan travel di jam yang sama juga. Doi akhirnya menawakanku untuk nginap di asrama aja. Mungkin sekadar basa-basi, tapi aku mengiyakan karena nggak punya alasan juga untuk bengong sendirian di pool travel.

Dari awal sebenarnya aku udah kepikiran asrama mahasiswa ini. Tapi, aku sendiri belum pernah main ke sana dan nggak kenal siapa-siapa juga hahah. Dengan si kakak pun aku sekadar kenal, bukan yang akrab sampai aku berani minta nginap di kamarnya. Tapi demi nanti cuci muka, sikat gigi, dan sholat subuh yang lebih baik, jalani saja lah ya. 

Makasih loh kak, sudah menampung shameless junior ini 💜

Yes, my life is so damn funny. 

Semiliar

Dalam satu perjalanan libur lebaran keluarga, aku melontarkan sebuah pertanyaan random ke mamaku. 

“Ma, kalau dihitung-hitung biaya hidup Cendikia sejak lahir sampai sekarang, semiliar ada, nggak?”

“Mungkin,” jawab mamaku. “Sejak masih hamil juga modalnya udah gede,” Yap, euforia anak pertama. 

“Tapi,” lanjutnya, “Kalau Cendikia nggak ada juga belum tentu mama punya uang semiliar. Bisa aja uangnya habis buat ke dokter sana-sini biar bisa punya anak,” 

22

wp-1495116780566.png

Alhamdulillah masih dikasih umur….

Hah, 22. Sudah lima kali aku merayakan ulang tahun di Bandung/Nangor.

Sejak aku mulai menganggap ulang tahun bukan lagi sesuatu yang spesial, yang harus pakai kejutan, kue, atau balon–ulang tahun kali ini juga kulewati dengan biasa-biasa saja. Aku flu dan batuk sejak seminggu yang lalu dan ini bikin aku nggak kemana-mana dan nggak pengen makan apa-apa.

Tadi pagi, aku kira aku mimpi mematikan alarm jam 5, sehingga aku baru bangun jam 5.27 karena ada yang nangis. Ayahnya anak lorong sebelah baru saja meninggal, dan dia nangis di kamar temannya yang ada di depan kamarku. Aku jadi canggung karena aku nggak kenal dia dan ada banyak orang yang berkumpul di depan kamarku.

Habis sholat subuh, aku jumping jacks 50 kali karena ceritanya mau mulai diet dan olahraga lagi. Berat badanku sekarang benar-benar ada di angka mimpi buruk. 

Terus jam 9-an aku ke perpus, tadinya kau ngerevisi bab 1-3 sekaligus nyari teori mediasi-nya Roger Silverstone. Tapi laptop-ku ini entah kenapa jadi super lemot kalau nyambung ke internet. Belum lagi pengaruh ngantuk karena sejam sebelumnya aku minum obat flu.

Jam 11 aku balik lagi ke kosan karena benar-benar nggak tahan ngantuk. Aku tidur, bangun jam 12.30 trus memutuskan untuk makan ke bajuri karena lapar dan pengen makanan panas berkuah. Pulang-pulang, aku keringatan karena beberapa hari ini panas banget.

Sorenya, Firda ngajak beli seblak. Sekalian kita mau nonton Produce 101 episode 5 di kosan Mumut. Sampai di tukang seblak, aku malah jadi nggak pengen makan seblak. Ngelihat orang beli jus alpukat, aku jadi pengen tapi nggak pengen-pengen banget. Ketika akhirnya memutuskan untuk memesan jus, eh ternyata udah dibeliin sama Firda karena “kue ulang tahun udah terlalu mainstream,

Pas mau pulang, Mumut ngasih minuman Sari Asem karena tadinya dikira aku bakal beli seblak. Haha fail lagi. Tapi makasih banyak loh, guys.

Jadi, pengen apa di umur 22?

Pengen lulus…

Sejujurnya aku masih takut. Masih nggak bisa menjawab pertanyaan “habis lulus mau kemana?” Masih nggak punya bayangan apa-apa. Walaupun kedengarannya klise, tapi aku cuma ingin tahun depan nggak merayakan ulang tahun di Nangor, atau di rumah. Aku pengen ada di suatu tempat, entah di mana, dan udah memghasilkan uang sendiri. Tapi di sisi lain, aku pengen tetap fleksibel bisa pulang kapan aja.

Aku pengen hidup sebagai manusia, bukan robot 9-5. Aku ingin jadi manusia berguna.

Day 7: Recommend a Book To Read and Why It’s Important

Hmmm….. 

Sejujurnya udah lama banget aku nggak baca buku sebagai hiburan dan pengisi waktu luang. Buku yang terakhir aku baca adalah Teori Komunikasi Massa-nya Dennis McQuail, dan itu juga cuma bagian-bagian yang kubutuhkan doang hahaha. 

Beneran deh, aku sebenarnya kangen banget dengan perasaan ketika selesai membaca sebuah novel yang mengesankan, trus aku jadi bengong dan nggak bisa berhenti memikirkan karakter-karakternya. Aku rindu perasaan puas itu. Aku rindu debaran-debarannya. Aku ingin kembali merasakan ketika gaya tulisan sebuah novel mempengaruhi gaya tulisanku selama berhari-hari. 

Jadi, setelah berpikir keras dan mengamati rak buku lama-lama, nggak tahu kenapa aku ingin merekomendasikan serial Cewek Paling Badung (The Naughtiest Girl In School) karya Enid Blyton. 

Punyaku yang versi sampul ini. Sumber: kandangbaca.com

Iya, ini novel anak-anak (tapi Harry Potter pada dasarnya juga novel anak-anak, jadiiii……); Iya, ini ditulis lebih dari 70 tahun lalu; Iya, ini Enid Blyton pengarang serial Lima Sekawan itu. 

Novel ini menceritakan kisah Elizabeth Allen, seorang anak manja yang badung dan kurang ajar. Dia sempat gonta-ganti pengasuh karena nggak ada yang kuat menghadapi keusilannya.

Suatu hari, orang tua Elizabeth memutuskan untuk mendaftarkannya ke Sekolah Whyteleafe, sebuah sekolah asrama untuk anak laki-laki dan perempuan. Awalnya Elizabeth memberontak. Di sekolah, dia selalu membuat kekacauan supaya punya alasan untuk diusir pulang. 

Ternyata, Whyteleafe bukan seperti sekolah pada umumnya. Di sana, para murid mengatur diri mereka sendiri. Semua laporan kenakalan, kecurangan, dan sanksi dijatuhkan dalam sebuah rapat besar yang dipimpin oleh seorang murid laki-laki dan perempuan dari kelas tertinggi. Rapat besar itu diikuti oleh seluruh siswa yang bersama mencari solusi untuk permasalahan mereka. Selain itu, semua uang yang dimiliki oleh setiap anak harus diserahkan ke dalam kotak besar, dan setiap minggunya semua anak mendapat jatah uang saku yang sama. Sisa uang tersebut dipakai untuk membeli keperluan bersama, yang tentu saja disepakati melalui keputusan rapat besar. Di sana, guru hanya bertindak sebagai pengajar dan pengawas. Rapat besar hanya meminta pendapat guru kalau mereka sudah menemui jalan buntu. 

Seperti cerita-cerita Enid Blyton yang lain, karakter utama novel ini adalah anak yang cerdas, jago olahraga, dan berkemauan keras. Selain itu, tentunya ada keusilan-keusilan yang dilakukan antar murid, atau bahkan pada gurunya! 

Ceritanya emang ringan dan anak-anak banget, sih. Bacanya pun bisa sekali duduk. Kalau ditanya apa pentingnya, ya nggak tahu hahaha. Soalnya ini kan bukan buku yang life-changing atau gimana gitu, ya. 

Apa yang bikin aku suka sama buku ini adalah, bagaimana Sekolah Whyteleafe membiasakan anak-anak untuk jadi mandiri, dan “memaksa” teman mereka untuk mandiri dan patuh pada aturan. Sekolah ini juga memberi kesempatan berubah kepada anak-anak yang bermasalah, bahkan dengan cara yang unik. Misalnya, si badung Elizabeth ternyata nggak betah di sekolah karena dia rindu rumahnya, juga rindu kuda-kudanya (orang kaya, bo…) Maka, sekolah memberi kesempatan pada Elizabeth untuk melakukan kegiatan yang dia suka, seperti bermain piano, berkebun, dan berkuda sampai semester berakhir. Setelahnya, terserah Elizabeth apakah dia tetap ingin keluar atau tinggal. 

Hasilnya? Tentu saja Elizabeth bertahan. Sifatnya pun jadi lebih baik karena dukungan teman-temannya di Sekolah Whyteleafe. 

Ngomong-ngomong, gimana ya cara pengucapan ‘Whyteleafe’?