Something Wrong

vlcsnap-2016-11-23-17h56m14s962

Raj, I feel you

Kalau dipikir-pikir, setengah dari hariku kugunakan untuk berpikir. Setelah tidur dan (berusaha) menunaikan berbagai kewajiban, aku selalu menemukan ada sesuatu, atau banyak hal yang salah dengan diriku.

Misalnya, aku nggak pernah merasa puas dengan apa yang aku kerjakan. Menurut standar absurdku, semua yang aku kerjakan itu sampah yang lebih baik nggak usah ditunjukkan daripada membuatku malu di depan umum. Entah kenapa, aku selalu menjadikan orang lain sebagai standar. Aku harus bisa menulis seperti si X. Karyaku harus bisa menggugah jiwa seperti yang dilakukan Pak Y. Kalau orang lain jadi stres karena lelah berusaha memuaskan keinginan orang lain, aku nyaris gila karena nggak pernah mampu memuaskan keinginan diri sendiri, yang aku bahkan nggak tahu mauku ini apa.

Pernah sekali, aku merasa sudah cukup puas dengan apa yang aku kerjakan sebelum akhirnya aku melihat pekerjaan orang lain yang (menurutku) jauh lebih bagus. Seketika, di mataku pekerjaanku ini langsung turun ke level durjana. 

Di sisi lain, aku nggak pernah (atau mungkin sangat jarang) down karena hal yang berbau fisik. Aku sadar aku gemuk, bahkan berat badanku sudah jauh melewati batas yang kutetapkan waktu SMA. Aku nggak begitu mempermasalahkan pori-pori di mukaku, yang entah kenapa begitu kuliah malah membesar dan mengundang komedo. Aku juga nggak pernah kepikiran untuk bisa berpakaian seperti si A, atau mengikuti tren foto seperti si B. Waktu SMP, sambil ketawa temanku ngatain aku jelek dan aku bodo amat, malah ikut ketawa. Yah, walaupun sesekali aku merasa seperti buntalan ketika berada diantara orang-orang kerempeng, sih. Tapi itu nggak pernah benar-benar menggangguku. 

Hal lain yang suka muncul di pikiranku adalah bagaimana aku nggak pernah bisa mempertahankan sebuah hubungan, baik pertemanan ataupun roman. I’m not good at being a girlfriend. I’m not even good at being a girl, or a friend.

Belakangan aku baru menyadari kalau aku nggak bisa lama berakrab-akrab dengan orang lain, bahkan dengan orang yang sebenarnya sudah akrab denganku sejak awal. Nggak dalam hitungan jam, memang. Tapi dalam hitungan hari. Maksudku, ketika aku harus menghabiskan beberapa hari bersama-sama seseorang, maka aku akan cenderung membencinya. Aku akan cenderung menemukan ada banyak hal dari dirinya yang menurutku annoying.

Contohnya, aku pernah ada dalam kondisi dimana aku harus menghabiskan beberapa hari bersama seorang teman, sebut saja Mawar. Beberapa hari pertama semuanya sangat menyenangkan. Tiap hari kami ngobrol tentang banyak hal, ngegosip ini-itu. Tapi lama-lama, aku ada di titik dimana aku muak mendengar pendapatnya. Aku benci mendengar dia berkomentar. Aku ingin menyuruhnya diam, tapi nggak punya alasan yang cukup kuat untuk melakukan itu. Setelah beberapa hari “rehat” dari Mawar, aku “sehat” kembali. Jadi biasa lagi. 

Atau ketika aku benci dengan berbagai kebiasaan temanku yang lain, sebut saja Kenanga. Aku benci ketika dia berkomentar tentang harga deodoranku yang mahal (padahal semua toiletries-ku masih produk supermarket dan drugstore). Aku kesal karena dia suka lupa menutup keran air. Aku bahkan pernah muak hanya karena mendengar dia tertawa.

Sebaliknya, kalau aku hanya menghabiskan beberapa jam atau tiga hari bersama mereka, aku nggak pernah merasa bermasalah. Ketika sudah lama nggak kongkow bareng, aku nggak kesal mendengar semua komentar sinis Mawar. Ketika Kenanga mampir ke kosanku, aku memaklumi dia yang lupa menutup keran air. Setelah lama tidak bertemu, mereka seperti orang baru yang nggak kuketahui faktor menyebalkannya.

Atau bagaimana aku yang nggak bisa menjaga hubungan baik dengan teman lama. Bukannya berantem, sih, tapi ada banyak teman lama yang membuatku canggung ketika ketemu lagi. Ada banyak teman SD dan SMP yang dulunya sangat dekat, akhirnya sekarang benar-benar nggak pernah ngobrol lagi. Aku emang nggak pernah reunian SD karena nggak ada yang menginisiasi, dan karena kecanggungan ini aku juga nggak berniat jadi inisiator. Teman SMP? Kami masih ngumpul beberapa tahun sekali, dan sejujurnya aku benar-benar merasa sangat canggung. Rasanya seperti kembali ke hari pertama di kelas 7A lagi.

Emang aneh banget, aku kuliah di bidang ilmu sosial, bidang ilmu komunikasi, tapi setelah lima tahun berlalu aku malah semakin nggak suka bersosialisasi, semakin nggak suka berbasa-basi. Rasanya……. capek? Entah kenapa aku malah semakin nggak percaya sama orang. Aku tahu semua orang pada dasarnya adalah orang baik, tapi entah kenapa tahun-tahun belakangan aku meragukan kebaikan setiap orang.

Kegelisahan-kegelisahan ini…….rasanya bikin aku seperti robot korsleting. Aku nggak tahu harus mikir apa dan gimana. Tiap hari aku merasa nggak nyaman dengan apa yang aku lakukan, dan nggak pernah bisa berhenti memikirkan ekspektasi dan ketidakpuasan.

Aku bertanya-tanya apa yang membentuk kepribadianku sampai aku jadi kaya gini. Padahal, seingatku aku dibesarkan dengan cara biasa seperti orang-orang pada umumnya. Tapi, pasti ada faktor kunci yang bikin aku selalu membenci diri sendiri. Apa? 

Aku. Pengen. Reset.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s