Keep in Touch

Kalau dihitung-hitung, jumlah teman sekolah yang masih sering kuhubungi dan nggak canggung bisa dihitung dengan sebelah tangan. 

Padahal, dulu temanku banyak. Waktu SD, rasanya aku akrab dengan semua orang. Teman cewek ataupun teman cowok. Teman sekelas ataupun teman kelas sebelah. Begitu lulus SD, aku masih sering main sama teman-teman yang masuk ke SMP yang sama, bahkan ke sekolah pun sering bareng. Sampai akhirnya ketika kami mulai akrab dengan teman sekelas masing-masing dan mulai berjalan sendiri-sendiri. Sekarang aku bahkan nggak yakin teman-teman SD-ku masih kenal sama aku saking udah nggak pernahnya ngumpul.

Di SMP juga temanku lumayan banyak. Walaupun sempat selek sama beberapa orang, tapi karena kita sekelas selama tiga tahun, gimanapun juga pasti dekat. Bahkan waktu SMP aku punya semacam “geng” gitu yang akrab banget. Sekarang, jujur aja dari “geng” itu, cuma satu orang yang aku masih akrab dengannya dan nggak canggung waktu ngobrol.

Dari masa-masa setelah UN, masa-masa libur peralihan SMP-SMA itu, kami sering banget ngumpul. Aku ingat, waktu itu aku dan si A nyaris tiap sore keliling kota naik motor. Ngapain? Ya cerita macam-macam. Ngegosipin teman-teman di sepanjang jalan. Ketika akhirnya si A melanjutkan SMA di luar kota, kami masih sering kontak-kontakan. Nyaris tiap hari pulang sekolah aku dan A teleponan, cerita tentang kehidupan sekolah masing-masing. Tentang teman-teman sekelas, tentang gebetan, pokoknya macam-macam, sampai aku bahkan nge-add Facebook gebetan dan mantannya dia itu. Nggak tahu gimana awalnya, kebiasaan itu kemudian berhenti. Nggak tahu kapan.

Terakhir kali aku ngumpul sama teman-teman SMP itu tahun lalu, waktu bukber. Buatku, entah kenapa rasanya asing. Rasanya kaya kembali ke hari pertama masuk SMP, kaya berusaha kenal lagi sama orang-orang. Rasanya canggung banget untuk ngobrol. Sampai-sampai aku berusaha mengingat-ingat dulu tuh kita ngobrolin apa sih, kok sampai bisa deket. 

Iya, mereka masih rame. Iya, semua bercandaan, ceng-cengan zaman SMP itu masih lucu ketika diungkit sekarang. Tapi enggak tahu kenapa, I just feel like I don’t belong there?

Masuk ke zaman SMA. Kelas 10-ku adalah awal yang sangat baik untuk memulai kehidupan SMA. Semua orang menyenangkan. Aku yang biasanya butuh waktu satu semester untuk akrab dengan teman sekelas, waktu itu rasanya cuma butuh satu-dua bulan. Folder foto-foto SMA di laptopku, lebih dari setengahnya berasal dari kelas 10. Aku punya “geng” lagi dan aku juga punya beberapa teman akrab diluar “geng” itu.

Ah ya, misalnya si B. Dia ini dulunya pendiam dan pemalu, padahal ganteng kearab-araban gitu. Kalau di kelas suka nunduk tidur di meja, atau kalau diajak ngobrol kadang suka cengengesan doang. Si B ini duduk di sebelahku. Nggak semeja, tapi berseberangan. Dari situ kita jadi sering ngobrol, nggak ingat juga ngobrolin apa. Mungkin karena aku juga akrab dengan teman si B yang berasal dari SMP yang sama. Setelah itu, ternyata si B suka sama salah satu teman se-“geng”-ku dan dia sering banget curhat ke aku tentang perasaannya buat temanku itu. Seperti yang sudah-sudah, aku juga nggak ingat gimana aku dan B berhenti kontakan, bahkan berhenti saling sapa. 

Belum lagi teman-teman dari zaman IPS. Teman-teman makan durian bareng di sekolah sore-sore. Teman-teman bakar ayam ketika kelas kita menang lomba band pas pensi. Teman-teman cabut ke kantin bareng karena waktu itu kelasnya bau terkontaminasi limbah pabrik tahu. Teman-teman keluyuran ke danau, ke kebun teh. Teman-teman renang bareng tiap hari Minggu. Teman pulang sekolah bareng naik bendi, atau jalan kaki rame-rame trus jajan pisang coklat belakang masjid depan rumahku.

Sekarang, kalau ketemu lagi rasanya canggung banget. Aku merasa asing dan berada diantara mereka ternyata entah kenapa bikin aku merasa nggak nyaman. Benar-benar seperti bertemu orang baru. Terakhir aku ikut ngumpul SMA itu mungkin tiga tahun lalu? Setelah itu ya sekedar sapa aja kalau ketemu di jalan atau di minimarket. 

What makes me high key sad is they used to told me everything but now when there’s major change in their lives I only know it from their Instagram updates.

Kadang aku mengevaluasi diri, apa aku ya, yang menarik diri dari mereka dan memutuskan kontak? Dari pesan yang biasanya segera dibalas, kemudian yang dibalas setengah jam kemudian, sampai yang nggak dibalas lagi dan akhirnya pesan itu berhenti?

Apa aku yang mulai berhenti mengucapkan selamat ulang tahun, selamat tahun baru, selamat puasa, selamat lebaran? Apakah aku yang berhenti peduli? Mungkinkah aku yang berhenti bertanya apa kabar dan nggak tahu gimana melanjutkan obrolan?

Tahun lalu, seorang teman SMA, si C, seringkali meneleponku tiba-tiba. Menanyakan kabarku, kabar skripsiku, trus cerita kalau dia mau ke luar negeri untuk presentasi. C segampang itu menghubungiku dan bercerita. Sementara aku rasanya canggung sekali untuk menelepon si C. Enggak tahu mau cerita apa. Takut C sedang sibuk dan aku ganggu. Takut C sedang stres dengan hidupnya sendiri dan ceritaku yang juga lagi stres bikin dia tambah stres.

Teman-teman lain nggak canggung ketika harus ketemu dan ngobrol lagi. Mereka nggak ngerasa asing ketika ngumpul lagi. Entah gimana mereka selalu punya sesuatu untuk diobrolkan walaupun sekarang mereka berjalan di jalannya masing-masing.

Iya, emang aku yang nggak bisa menjaga hubungan dengan orang lain. Mungkin nggak ada yang merasa kehilangan aku dalam hidupnya, tapi aku minta maaf karena udag menghilang dari hidupmu. Emang aku yang nggak bisa menjaga orang lain untuk tetap ada dalam hidupku. 

Dan itu bikin aku sedih. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s