Month: October 2017

#UniMemory: Aa Di

Sebenarnya aku tuh enggak gabut. Aku punya segunung pe-er yang mesti dikerjakan, tapi dicicil pelan-pelan karena….. Ya pelan-pelan aja.

Akhirnya, otakku malah memutuskan untuk mengerjakan sesuatu, sekalian nge-post di blog yang udah lama terbengkalai. Kepikiranlah ide untuk menuliskan setiap kenangan kehidupan kampus yang tiba-tiba muncul di otakku. Untuk yang pertama ini, inspirasinya muncul setelah aku makan nasi uduk.

Aa Di.

Kalau sudah menjelang magrib, pedagang kaki lima di sekitar Jatos mulai memarkir gerobak, memasang tenda, dan berjualan. Salah satunya adalah pedagang ayam goreng/bakar di depan kosan Mumut. Rasanya selama lima tahunan di Nangor, tiap nongkrong di kosan Mumut pasti malamnya kita makan di sini.

Penjualnya adalah seorang laki-laki muda, umurnya mungkin di akhir 20-an. Manis kaya kecap, ganteng kaya mas Duta Sheila On 7. Dulu dia jualan bareng ibunya, tapi sekarang si ibu udah enggak ikut jualan. Mungkin sakit karena sering kena asap tebal dari tukang sate ayam di sebelahnya. 

Gantengnya si Aa tentu bukan alasan aku dan teman-teman suka makan di situ. Walaupun cuma ayam goreng/bakar biasa dengan nasi biasa dan sambel merah biasa, tapi enak. Gimana ya, aku nggak bisa mendeskripsikan. Tapi kalau makannya dibungkus atau makan di sana, semuanya tetap enak.

Kemudian kami pun penasaran dengan nama si Aa. Bukan mau ngapa-ngapain sih, penasaran aja soalnya udah sering banget beli di situ kan. Tapi, nggak ada yang berani nanya hahahaha. Aneh lah, ujug-ujug nanya nama. Mau ngapain.

Rasa penasaran itu sedikit terjawab setelah salah satu dari kami mendengar si Ibu memanggil si Aa dengan sebutan “Di”. Sejak itu, kami menyebut si Aa sebagai Aa Di.

Biar begitu, kami masih penasaran dong, masa namanya cuma “Di”? Apakah dia seorang Adi? Dika? Dio? Dilan? Dian? Randi? Mulyadi? Mukidi?

Enggak. Kami enggak bisa meninggalkan Nangor tanpa tahu siapa nama Aa Di sesungguhnya.

Akhirnya, sekitar tahun lalu, kami mendapat titik terang atas pencarian kami selama ini. Nama si Aa akhirnya terdengar dari mulut ibu penjual sate ayam.

Namanya Fandi. 

Advertisements