Month: May 2017

Semiliar

Dalam satu perjalanan libur lebaran keluarga, aku melontarkan sebuah pertanyaan random ke mamaku. 

“Ma, kalau dihitung-hitung biaya hidup Cendikia sejak lahir sampai sekarang, semiliar ada, nggak?”

“Mungkin,” jawab mamaku. “Sejak masih hamil juga modalnya udah gede,” Yap, euforia anak pertama. 

“Tapi,” lanjutnya, “Kalau Cendikia nggak ada juga belum tentu mama punya uang semiliar. Bisa aja uangnya habis buat ke dokter sana-sini biar bisa punya anak,” 

22

wp-1495116780566.png

Alhamdulillah masih dikasih umur….

Hah, 22. Sudah lima kali aku merayakan ulang tahun di Bandung/Nangor.

Sejak aku mulai menganggap ulang tahun bukan lagi sesuatu yang spesial, yang harus pakai kejutan, kue, atau balon–ulang tahun kali ini juga kulewati dengan biasa-biasa saja. Aku flu dan batuk sejak seminggu yang lalu dan ini bikin aku nggak kemana-mana dan nggak pengen makan apa-apa.

Tadi pagi, aku kira aku mimpi mematikan alarm jam 5, sehingga aku baru bangun jam 5.27 karena ada yang nangis. Ayahnya anak lorong sebelah baru saja meninggal, dan dia nangis di kamar temannya yang ada di depan kamarku. Aku jadi canggung karena aku nggak kenal dia dan ada banyak orang yang berkumpul di depan kamarku.

Habis sholat subuh, aku jumping jacks 50 kali karena ceritanya mau mulai diet dan olahraga lagi. Berat badanku sekarang benar-benar ada di angka mimpi buruk. 

Terus jam 9-an aku ke perpus, tadinya kau ngerevisi bab 1-3 sekaligus nyari teori mediasi-nya Roger Silverstone. Tapi laptop-ku ini entah kenapa jadi super lemot kalau nyambung ke internet. Belum lagi pengaruh ngantuk karena sejam sebelumnya aku minum obat flu.

Jam 11 aku balik lagi ke kosan karena benar-benar nggak tahan ngantuk. Aku tidur, bangun jam 12.30 trus memutuskan untuk makan ke bajuri karena lapar dan pengen makanan panas berkuah. Pulang-pulang, aku keringatan karena beberapa hari ini panas banget.

Sorenya, Firda ngajak beli seblak. Sekalian kita mau nonton Produce 101 episode 5 di kosan Mumut. Sampai di tukang seblak, aku malah jadi nggak pengen makan seblak. Ngelihat orang beli jus alpukat, aku jadi pengen tapi nggak pengen-pengen banget. Ketika akhirnya memutuskan untuk memesan jus, eh ternyata udah dibeliin sama Firda karena “kue ulang tahun udah terlalu mainstream,

Pas mau pulang, Mumut ngasih minuman Sari Asem karena tadinya dikira aku bakal beli seblak. Haha fail lagi. Tapi makasih banyak loh, guys.

Jadi, pengen apa di umur 22?

Pengen lulus…

Sejujurnya aku masih takut. Masih nggak bisa menjawab pertanyaan “habis lulus mau kemana?” Masih nggak punya bayangan apa-apa. Walaupun kedengarannya klise, tapi aku cuma ingin tahun depan nggak merayakan ulang tahun di Nangor, atau di rumah. Aku pengen ada di suatu tempat, entah di mana, dan udah memghasilkan uang sendiri. Tapi di sisi lain, aku pengen tetap fleksibel bisa pulang kapan aja.

Aku pengen hidup sebagai manusia, bukan robot 9-5. Aku ingin jadi manusia berguna.

Day 7: Recommend a Book To Read and Why It’s Important

Hmmm….. 

Sejujurnya udah lama banget aku nggak baca buku sebagai hiburan dan pengisi waktu luang. Buku yang terakhir aku baca adalah Teori Komunikasi Massa-nya Dennis McQuail, dan itu juga cuma bagian-bagian yang kubutuhkan doang hahaha. 

Beneran deh, aku sebenarnya kangen banget dengan perasaan ketika selesai membaca sebuah novel yang mengesankan, trus aku jadi bengong dan nggak bisa berhenti memikirkan karakter-karakternya. Aku rindu perasaan puas itu. Aku rindu debaran-debarannya. Aku ingin kembali merasakan ketika gaya tulisan sebuah novel mempengaruhi gaya tulisanku selama berhari-hari. 

Jadi, setelah berpikir keras dan mengamati rak buku lama-lama, nggak tahu kenapa aku ingin merekomendasikan serial Cewek Paling Badung (The Naughtiest Girl In School) karya Enid Blyton. 

Punyaku yang versi sampul ini. Sumber: kandangbaca.com

Iya, ini novel anak-anak (tapi Harry Potter pada dasarnya juga novel anak-anak, jadiiii……); Iya, ini ditulis lebih dari 70 tahun lalu; Iya, ini Enid Blyton pengarang serial Lima Sekawan itu. 

Novel ini menceritakan kisah Elizabeth Allen, seorang anak manja yang badung dan kurang ajar. Dia sempat gonta-ganti pengasuh karena nggak ada yang kuat menghadapi keusilannya.

Suatu hari, orang tua Elizabeth memutuskan untuk mendaftarkannya ke Sekolah Whyteleafe, sebuah sekolah asrama untuk anak laki-laki dan perempuan. Awalnya Elizabeth memberontak. Di sekolah, dia selalu membuat kekacauan supaya punya alasan untuk diusir pulang. 

Ternyata, Whyteleafe bukan seperti sekolah pada umumnya. Di sana, para murid mengatur diri mereka sendiri. Semua laporan kenakalan, kecurangan, dan sanksi dijatuhkan dalam sebuah rapat besar yang dipimpin oleh seorang murid laki-laki dan perempuan dari kelas tertinggi. Rapat besar itu diikuti oleh seluruh siswa yang bersama mencari solusi untuk permasalahan mereka. Selain itu, semua uang yang dimiliki oleh setiap anak harus diserahkan ke dalam kotak besar, dan setiap minggunya semua anak mendapat jatah uang saku yang sama. Sisa uang tersebut dipakai untuk membeli keperluan bersama, yang tentu saja disepakati melalui keputusan rapat besar. Di sana, guru hanya bertindak sebagai pengajar dan pengawas. Rapat besar hanya meminta pendapat guru kalau mereka sudah menemui jalan buntu. 

Seperti cerita-cerita Enid Blyton yang lain, karakter utama novel ini adalah anak yang cerdas, jago olahraga, dan berkemauan keras. Selain itu, tentunya ada keusilan-keusilan yang dilakukan antar murid, atau bahkan pada gurunya! 

Ceritanya emang ringan dan anak-anak banget, sih. Bacanya pun bisa sekali duduk. Kalau ditanya apa pentingnya, ya nggak tahu hahaha. Soalnya ini kan bukan buku yang life-changing atau gimana gitu, ya. 

Apa yang bikin aku suka sama buku ini adalah, bagaimana Sekolah Whyteleafe membiasakan anak-anak untuk jadi mandiri, dan “memaksa” teman mereka untuk mandiri dan patuh pada aturan. Sekolah ini juga memberi kesempatan berubah kepada anak-anak yang bermasalah, bahkan dengan cara yang unik. Misalnya, si badung Elizabeth ternyata nggak betah di sekolah karena dia rindu rumahnya, juga rindu kuda-kudanya (orang kaya, bo…) Maka, sekolah memberi kesempatan pada Elizabeth untuk melakukan kegiatan yang dia suka, seperti bermain piano, berkebun, dan berkuda sampai semester berakhir. Setelahnya, terserah Elizabeth apakah dia tetap ingin keluar atau tinggal. 

Hasilnya? Tentu saja Elizabeth bertahan. Sifatnya pun jadi lebih baik karena dukungan teman-temannya di Sekolah Whyteleafe. 

Ngomong-ngomong, gimana ya cara pengucapan ‘Whyteleafe’? 

Tentang Alien dan Dementor

Beberapa minggu yang lalu pengumuman SNMPTN, ya? Wah, cepat juga. Ternyata udah lima tahun berlalu sejak aku lulus SMA. Buat yang keterima, sukses ya! Buat yang belum berhasil, semangat buat menempuh jalur-jalur lain menuju perguruan tinggi! 

Ngomong-ngomong, aku mau cerita tentang pengalamanku waktu berjuang dapat PTN, lima tahun lalu. 

Awalnya, alhamdulillah aku dapat kesempatan ikut SNMPTN Undangan. Waktu itu, pilihan pertamaku adalah Psikologi UGM, karena dari SMP emang udah pengen banget kuliah psikologi. Tadinya pengen jadi Psikopad alias anak Psikologi Unpad. Bodohnya, aku justru baru tahu kalo yang di Unpad adalah jurusan IPA, sementara aku udah terlanjur masuk IPS karena nggak mau belajar trigonometri dan fisika hahaha. Trus pilihan kedua aku ngambil Akuntansi Unair, karena waktu itu lagi suka akuntansi dan ngasal aja gitu milih Unair. 

Sebelum benar-benar memutuskan pilihan jurusan, aku banyak ngobrol sama seorang guru BK, sebut saja Pak Ar. Waktu itu, dia meragukan pilihanku karena jalur undangan itu juga mengandalkan reputasi alumni. Sementara di dua kampus pilihanku nggak ada alumni dari SMA kami. Aku ingat, waktu itu aku keukeuh dan bilang, “Siapa tahu saya bisa jadi alumni yang pertama di sana, pak!” dan Pak Ar akhirnya cuma bilang, “Terserah sih. Bapak cuma takut kamu kecewa kalau nanti nggak lulus,”

“Nggak apa-apa, pak. Kan yang penting saya udah nyoba,” kataku yakin. 

Beberapa hari kemudian, guru BK yang lain, ibu-ibu yang sudah cukup berumur berinisial Bu Al, yang di belakangnya suka disebut sebagai Bu Alien, mengumpulkan anak-anak yang terdaftar untuk jalur undangan. Dia disebut Alien karena galak dan nyebelin minta ampun. 

Trus, dia menanyakan jurusan pilihan setiap anak. Waktu kusebutkan pilihanku, dengan sengit dia bilang, “Emang kamu yakin bisa diterima di situ? Ganti aja pilihannya!” 

Laaah aku kesal. Aku masih ingat mukanya yang galak dan menyebalkan. Tapi sarannya nggak kuturuti karena kan bukan dia yang mau bayarin sekolahku. Suka-suka dong~

Pada akhirnya, emang aku nggak lulus jalur undangan sih. Tapi ketidaklulusan itu kemudian memotivasiku untuk bisa lulus di jalur tulis. Aku ingat banget, sebulan sebelum SNMPTN Tertulis, tiap pulang bimbel aku belajar lagi pake buku-buku latihan soal. Tiap hari aku ngerjain soal-soal TPA, karena penting dan cukup menyenangkan. Akhirnya aku pun berhasil lulus di Ilkom Unpad, pilihan kedua setelah tetap memilih Psikologi UGM sebagai pilihan pertama. 

Dementor. Sumber: Harry Potter Wikia

Kembali ke hari ini, aku masih berjuang untuk bisa lulus dari (yang katanya) “Sekolah Ilmu Komunikasi Terbaik di Indonesia” ini. Kali ini, aku kembali bertemu dengan sosok yang kurang lebih sama dengan Bu Alien–Bu Dementor. Julukan ini secara kurang ajar kuberi padanya karena layaknya Dementor di dunia Harry Potter, dia menghisap kebahagiaan banyak orang. 

Udah sih, aku udah nggak akan menuliskan kesuraman yang dibawanya padaku karena alhamdulillah, masa-masa melt down yang itu sudah lewat dan aku udah mulai bisa move on dengan kehidupan dan skripsiku. 

Cuma ya, kadang-kadang aku kepikiran kenapa dalam lima tahun aku mengalami banyak perubahan kepribadian. Kalau sekarang aku mengingat ceritaku dengan Bu Alien, aku kagum pada diriku di masa lalu. Aku kagum pada aku yang berusia 16 tahun, berpendirian teguh, dan keras memperjuangkan apa yang dia mau. Aku kagum pada aku yang dulu, yang nggak peduli omongan orang lain selama aku nggak merugikan mereka. Aku kagum pada masa dimana aku cuek dan berani mempertaruhkan risiko. Aku kagum pada aku yang percaya diri, percaya pada kemampuanku dan berani untuk membuktikannya. 

Tadi siang, aku ketemu seorang teman yang waktu itu usmas bareng dengan penguji Bu Dementor. Dia sedang mengurus syarat-syarat sidang akhir, sementara aku masih luntang-lantung dengan Bab 3. Dia inilah yang dulu akhirnya bikin aku tetap mengumpulkan revisi usmas, padahal awalnya aku udah mau nyerah aja. 

“Oh, lo jadi lanjutin yang kemarin?” tanyanya. 

“Iya, hehe,” jawabku nyengir. 

“Tuh kan, kemarin tuh gue sama yang lain heran kenapa sih lo nggak mau lanjut. ‘Anjir, si Cendi kenapa nggak mau ngumpulin.’ Orang gue sama si I juga dibikin down kan, sama dia. Tapi kita masih memperjuangkan. Lah lo malah udah nyerah duluan,” cerocosnya. 

Aku cuma mesem-mesem. 

Nggak tahu ya, apa waktu itu emang faktor PMS, atau sekarang aku emang mengalami degradasi jadi pribadi yang lemah dan nggak punya semangat juang. Waktu itu aku bahkan galau sampai lebih dari empat bulan. Sebenarnya sekarang masih sering galau sih, cuma udah nggak separah dulu yang bikin pengen banget mencet exit button. Sejak nelpon Subau sambil menangis ria, aku udah mulai semangat lagi. Mulai berusaha berdiri lagi pelan-pelan. 

Sekarang tiap omongan Bu Dementor kembali mengusik pikiranku, aku selalu berusaha membuangnya pakai ingatan-ingatan bahagia. Biar bisa mengeluarkan patronus untuk menjagaku tetap waras. 

Ngomong-ngomong patronus, menurut situs Pottermore patronus-ku adalah “Mongrel Dog”. 

Ummm… Itu jenis anjing apa, ya? 

Day 6: Something I’ve Always Wanted to Do but Haven’t

Banyak. 

Waktu SD, mamaku sebenarnya udah menyarankan aku untuk kursus menjahit. Tapi, waktu itu aku masih badung dan nggak mau jadi cewek girly. Sekarang nyesal banget karena baru sekitar dua tahun belakangan beneran kepikiran untuk punya skill macam menjahit, memasak, dan bikin kue. Apalah daya kayanya sekarang udah telat belajar jahit karena aku bahkan masih nggak bisa menggaris lurus. 

Trus dari dulu sebenarnya aku pengen ikut bela diri. Apa kek, karate, taekwondo, silat, atau apapun lah. Tapi nggak ingat kenapa aku nggak pernah jadi ikutan. 

Aku juga pengen bungee jumping atau apapun yang melibatkan loncat dari ketinggian. Aku selalu mikir kenapa aku nggak pernah nyoba hal-hal gini waktu umurku masih belasan dan belum jago overthinking kaya sekarang. Makanya, pas nonton The Kings of Summer yang adegan loncat dari tebing itu, aku jejeritan kepengen tapi sekarang mah udah takut hahaha. Semoga nanti ada kesempatan dan aku berani! 

The Kings of Summer

Naik gunung. Banyak teman-temanku yang selalu pengen naik gunung tapi nggak pernah diizinkan sama orang tuanya. Sementara aku, si anak bebas ini, sebenarnya dibolehin naik gunung tapi akunya yang malas latihan fisik hahaha. Naik bukit ke air terjun Pancaro Rayo dua tahun lalu aja bikin aku susah gerak tiga hari, apalagi kalau harus mendaki Gunung Kerinci yang jadi atap Sumatera itu tanpa persiapan. 

Berenang, berkuda, dan memanah. Aku baru tahu kalo tiga hal ini adalah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi untuk diajarkan orang tua, pas udah kuliah. Dulu sih pengen karena bisa renang adalah kewajiban, dan berkuda + memanah kelihatannya keren gitu. Hahaha. 

Pada dasarnya, aku bisa renang, kok. Tapi aku nggak yakin bakal survive kalo aku kecemplung ke laut, danau, atau kolam renang yang dalamnya lebih dari tiga meter. Tiap minta bapak buat ngajarin renang beneran, pasti ngomongnya, “Emang kucing pernah belajar renang? Kamu kan manusia, pake insting, jangan kalah sama kucing!” huft. Sementara kalo berkuda dan memanah, mahal hahaha. Lagian di kampung halamanku nggak ada tempat berkuda juga. Ada kuda, tapi buat narik penumpang alias bendi. 

Paralayang. Pengen nggak sih ngerasain bisa terbang? Aku pengen! Waktu pulang kapan ya itu, kayanya dua tahun lalu, bapak bilang kalo ada yang main paralayang dari Bukit Kayangan, dan bisa buat umum juga. Tadinya aku udah mau nyobain tuh, tapi pas dengar ada yang nyangkut di pohon, jadi keder hahaha. 

Trus pas aku bilang mau ke Malang tahun lalu, bapak juga semangat banget mau ngemodalin aku untuk main paralayang di Batu. Tapi sayangnya kemarin nggak ke sana, makanya nggak jadi, deh. Semoga nanti ada kesempatan! 

Belajar psikologi. Sejatinya, aku udah kepikiran untuk kuliah psikologi sejak kelas 8! Tapi rupanya takdir membawaku untuk kuliah jurnalistik. Jadi, yaudahlahya. 

Day 5: If I Could Have Dinner with Five People….

Siapa ya???

Ngomongin makan malam biasanya identik dengan bincang-bincang setelahnya. Berarti ini adalah lima orang yang pengen banget aku ajak ngobrol. Lumayan susah sih yang ini hahaha soalnya aku nggak benar-benar pernah mengidolakan seseorang, sih. Berhubung ini adalah perandai-andaian, akan kucoba untuk menulis lima nama. Tentu saja, sebelum masuk ke menu utama, aku sudah memakan appetizer Konnyaku Penerjemah dari Doraemon.

1. Nabi Muhammad SAW.

Sekarang tuh banyak banget ajaran sesat, kan. Belum lagi percampuran antara budaya dan agama, yang sebenarnya bermaksud baik tapi jadi nggak bernilai ibadah karena emang nggak pernah dicontohkan oleh Nabi atau diperintahkan oleh Allah. Tambah lagi dengan semua keributan berlatar belakang agama yang terjadi sejak beberapa bulan lalu. Jadi, kalau aku bisa makan malam dengan Rasulullah, kan enak jadi bisa belajar agama langsung dari A1. Trus pengen tahu juga pendapat Beliau soal beragam keributan yang bawa-bawa agama belakangan ini. 

 2. Algojo hukuman mati

Terutama yang udah pernah menjagal lebih dari sekali. Penasaran aja gitu, gimana rasanya dikasih izin untuk membunuh orang; ngeliat orang itu dari yang tadinya masih hidup sampai jadi mayat cuma dalam beberapa menit. Trus penasaran gimana pengalaman pertamanya, apa pengaruh pekerjaan ini terhadap kejiwaannya. Pertanyaan seperti itu, lah. 

3. Gordon Ramsay

Lebih karena aku pengen nyicipin masakan dia, sih. Seenak apa, gitu, sampai-sampai dia bisa nge-roast orang lain dengan mengerikan. Oh, ngomong-ngomong, aku terharu waktu nonton Ramsay di Master Chef Junior karena kepribadiannya jadi kebapakan, penyayang, dan jauh lebih menyenangkan gitu. Kaya kalo aku yang jadi pesertanya di umur 10 tahun, bakal terus termotivasi untuk masak setelah dikomentarin doi. 

4. Abdul Sattar Edhi

Aku pertama kali tahu tentang Edhi dari laman Nobel Prize di Facebook, ketika orang-orang mempertanyakan kenapa dia nggak pernah dapat Nobel. Trus aku nyari tahu dan kagum banget kenapa bisa ada orang selfless kaya gini. Penasaran apakah orang ini pernah punya rasa kepengen untuk menyenangkan dirinya sendiri dengan belanja-belanji dan sebagainya. 

5. Kamu

Iya, kamu….. *kedip manja* *colek-colek*

Day 4: Favorite Childhood Memory

Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di Provinsi Jambi. Ada banyak kenangan masa kecil yang masih teringat jelas di otakku. Masa kecil ini kuhitung sejak lahir sampai lulus SD lah ya, berarti sampai umur 11 tahun. 

Mulai dari pengalaman pertama naik pesawat, pertama kali ke Dufan, atau waktu aku dan teman-teman berantem sama anak SD sebelah karena rebutan perosotan. 

Atau kenangan waktu aku, Cici, dan Mbak Tika joget-joget di atas meja mengikuti video “Koi Mil Gaya” – – aku jadi Anjali, Cici jadi Tina, Mbak Tika jadi Rahul. 

Atau waktu bapak pertama kali bikin keramba di Danau Kerinci, dan nyaris tiap akhir minggu kami selalu ke sana. Naik perahu, trus ngasih pelet ke ikan nila dalam jaring keramba. Sekali, kami pernah nginap di sana. Biarpun bau ikan, tapi rasanya memyenangkan karena dibuai ombak danau. Bahkan ulang tahunku ke-8 dirayakan dengan berenang di sana, pakai pelampung tentunya. 

Tapi nih, kalau ngomongin kenangan masa kecil terfavorit, itu adalah ketika aku diajak bapak dan mama ke Lambur Luar, sebuah desa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Itu sekitar kelas 3 atau 4 gitu. Cuma aku yang diajak karena Kacang lebih memilih tinggal di kota untuk main komputer. Kenangan ini jadi favorit karena ada banyak pengalaman pertama, juga hal-hal indah yang nggak akan aku lupakan. 

Ngomong-ngomong, aku nggak yakin semua yang bakal aku tulis ini terjadi dalam satu waktu yang sama, karena aku beberapa kali pergi ke sana. Ini juga nggak ditulis secara kronologis karena aku nggak ingat detailnya. Jadi, katakanlah ini judulnya “Pengalaman Ke Lambur Luar”. 

Itu adalah pertama kalinya aku naik speed boat, melewati laut, trus juga lewat sungai besar gitu. Waktu itu, pertama kalinya aku tahu monyet bisa berenang menyeberang sungai. Pas naik speed boat melewati laut, itu pertama kalinya aku tahu istilah “kandas” karena baling-baling kapalnya nyangkut di bagian laut yang dangkal. 

Terus kami masuk hutan sebelum sampai di tambak udang yang jadi tujuan. Waktu itu, untuk pertama kalinya aku disengat lebah. Sakit banget. 

Terus sampai di tambak udang, kami menginap di pondok yang kaya rumah panggung gitu. Malamnya, mamaku merebus mi instan yang pedas, dan ditambah udang windu dari tambak. Itu pertama kalinya aku tahu dan makan udang windu yang gede-gede. 

Sambil menunggu mama bikin mi, aku duduk sendirian di teras pondok. Nggak ada listrik di sana. Penerangan di dalam rumah pun cuma pakai petromak. Jadi, di luar beneran gelap gulita. Aku masih ingat, langit cerah malam itu dan aku bisa melihat milyaran bintang di langit. Semuanya jelas dan berkelap-kelip seumpama intan berlian. Itu pertama kalinya aku lihat bintang sebanyak itu. Peristiwa itu begitu romantis untukku yang masih bocah, dan sampai sekarang kalau langit malam lagi cerah dan banyak bintang, aku masih suka melongo menatapi langit lama-lama. 

Dua tahun lalu di kosan yang lama pun, aku pernah jam 10 malam pergi ke atap (emang ada tangganya) karena langit lagi cerah penuh bintang dan lagi purnama juga. Tapi waktu itu nggak lama-lama karena aku takut nggak sengaja lihat yang aneh-aneh hahaha. 

Trus suatu ketika kami pulang dari pasar ikan naik sampan. Sungainya nggak begitu besar, mungkin lebarnya cuma 1,5 meter. Pulangnya itu udah malam dan gelap banget. Aku bertugas memegangi senter ke arah depan sampan. 

Dan inilah bagian favoritku.

Sebagai anak yang tumbuh dengan menonton Home Alone setiap libur akhir tahun, aku selalu ingin melihat lampu kelap-kelip di pohon natal yang berjejer di sepanjang jalan. Berhubung aku tinggal di wilayah mayoritas muslim, pemandangan seperti itu jelas nggak akan pernah aku temui. 

Sampai akhirnya, malam ketika kami bersampan itu, cita-cita masa kecilku jadi kenyataan. 

Di kiri-kanan sungai, tumbuh pohon-pohon yang nggak begitu tinggi. Waktu kami lewat sana, pohon-pohon itu dihinggapi ratusan kunang-kunang. Mereka menyebar dan ada di semua pohon. Cahayanya berkelap-kelip cantik. Itu pertama kalinya aku lihat kunang-kunang, dan pemandangan yang ada begitu menakjubkan. Bahkan sampai sekarang aku dan mama masih suka mengingat peristiwa itu. Malam ketika kami melewati pohon natal kunang-kunang. 

Kado Wisuda: Sulaman dan Bunga Lolipop

Beberapa bulan belakangan, aku lagi hobi membuat prakarya. Mulai dari bikin kartu, bikin bunga, sampai yang sekarang sedang aku geluti adalah bikin sulaman. 

Mumpung ada wisudaan, jadi aku mencoba untuk ngasih hadiah buatan sendiri untuk teman-teman. Bukan niat mau hemat sih, sebenarnya. Ini lebih kepada sentuhan personal dan kepuasan karena berhasil menyelesaikan sesuati. Juga kesenangan karena mempelajari hal baru. 

Untuk Siti dan Sumi, aku ngasih foto mereka yang dihias pakai sulaman. Ide ini terinspirasi banyak dari @talathings yang jual photo embroidery keren-keren. Aku tahu itu bikinnya susah, serta memakan waktu dan tenaga, juga butuh kreativitas, jadi harganya pasti lumayan mahal. Mumpung lagi suka menyulam, jadi aku mau coba bikin sendiri. 

Untuk Siti, waktu itu aku cuma kepikiran untuk bikin flower crown aja, tapi hasil jadinya masih sederhana banget. Trus karena nggak tahu mau dihias pake apa lagi, jadinya cuma dikasih daun-daun gitu aja. 

Untuk foto dan tulisannya, aku pakai transfer paper yang tinggal disetrika. Kertasnya beli di Tokopedia, Rp48.000 sama ongkir dapat satu pak isi lima lembar. Tapi hasil jadinya kaku gitu dan bikin bolong cukup gede kalo disulam langsung di atasnya. Sementara yang talathings, gambarnya kaya nyatu gitu sama kainnya, kaya di-print langsung ke kain. Nggak tahu deh dia pake apa. 

Tulisannya aku timpa lagi pakai split stitch. Soalnya, aku belum bisa bikin tipografi yang bagus dan rapi gitu, makanya mengandalkan font dari komputer. Oh iya, kalau pakai transfer paper, tulisannya di-mirror dulu ya biar nggak kebalik. 

Jahitannya, semua aku pakai yang dasar. Mawarnya dibikin berdasarkan tutorial ini, aku nggak tahu nama tekniknya apa. Trus pinggirannya dihias pake french knot dan stem stitch. Daun yang di pinggir itu pake satin stitch. 

Untuk Sumi, aku bikin lingkarannya dengan mencontek desain dari Pinterest. Iya, maaf ya aku nggak bisa desain dan gambar sendiri. Anaknya nggak imajinatif dan payah dalam urusan figur, sih. 

Ini contekannya. Maaf nama pembuat lupa tersimpan

Untuk namanya agak nggak kebaca, ya? Mungkin karena benangnya terlalu tebal. Trus aku menyadari kalau harusnya bemang dibagi dua dulu biar tulisannya lebih tipis, pas udah tinggal beberapa huruf terakhir. Jadi, yasudah lah ya. Namanya juga percobaan. Nggak mirip lagi sama contekannya hahaha. 

Daunnya dibuat pakai jahitan lazy daisy dengan stem stitch untuk tulang daun. Daun kecil di bawah mawar dibuat pakai back stitch. Sisanya pakai french knot, satin stitch, dan split stitch untuk tulisan. 

Oh ya, aku belajar kalau mau menghasilkan hasil satin stitch yang halus untuk objek berukuran kecil, coba benangnya dibagi dua, pakai tiga helai benang aja biar lebih tipis. 

Kotaknya dibuat pakai kertas karton yang dibentuk kaya kotak pizza. Gampang kok bikinnya, googling aja. Habis itu diikat deh, pakai pita sesuai warna kesukaan masing-masing. 

Kalau bunga-bunga ini aku buat berdasarkan tutorial dari sini. Bikinnya super gampang dan cepat. Kalau di tutorialnya pakai kertas tisu, aku pakai kertas krep karena nggak nemu yang jual kertas tisu warna-warni. 

Kalau nggak bisa menemukan sedotan kertas (paper straw), tangkainya bisa dibikin sendiri dari kertas HVS, kertas koran, atau kertas apapun yang cukup lentur. Kalau pakai HVS, kertasnya dibagi dua secara vertikal, terus digulung dari pojok ke arah tengah sampai jadi panjang. Masukkan bunganya, amankan pakai selotip, jadi deh! 

Kaya gini jadinya

Wrapping-nya aku pakai kertas samson andalan yang serbaguna. Trus dibungkus kaya burrito dan dikasih pita. Kalau kartu, aku bikin pakai Canva, sebuah situs desain yang menyediakan beragam template dokumen dengan desain yang cakep dan banyak yang gratis! 

Membayangkan hasil karyaku (mungkin) akan disimpan orang lain, ternyata bikin aku senang dan bersemangat! Hikmahnya adalah, kalau aku bisa menyelesaikan hadiah-hadiah ji tepat waktu karena aku tekun mengerjakannya, harusnya hal yang sama juga berlaku untuk skripsi. 

Aku juga pengen wisuda dan dikasih hadiah! Hahaha. 

Flowers For Strangers

Kalau ada survei untuk kuis “Family 100” dengan pertanyaan “Hadiah apa yang diberikan kepada seseorang saat wisuda?” aku yakin hasil survei nomor satu adalah “bunga”. 

Tiap ada wisudaan, di pinggir jalan sekitaran kampus pasti bertebaran penjual bunga, baik yang asli maupun yang artifisial dari kertas atau kain felt. Ada juga yang jual boneka, balon, cotton candy yang dibentuk karakter, atau buket snack–tapi yang paling diminati tetap saja buket kembang. Apa filosofinya? Nggak tahu. 

Mengikuti kebiasaan memberi kembang ini, aku juga ikutan mencoba bikin bunga kertas sendiri dengan lolipop sebagai intinya. Nantilah, aku bakal bikin satu tulisan tersendiri buat kado wisuda gelombang ini. Jadi ceritanya, aku bikin bunga itu untuk delapan orang.

Ternyata tadi, bungaku nyisa satu karena yang mau dikasih bunga malah menghilang nggak tau ada di mana. Berhubung capek dan males nyari, awalnya bunga itu aku kasih ke Firda aja. Tapi kemudian sebuah ide muncul di kepalaku yang doyan bermain-main. 

“Aku tantang kamu buat ngasih bunga ini ke stranger, Fir,”

“Oke!” kata Firda semangat. 

Awalnya, kami menentukan target dengan memutar telunjuk di langit, bilang “stop”, dan harus ngasih bunga ke siapapun yang akhirnya ketunjuk. Tapi, berhubung kami berdiri di dekat anak-anak jurnal yang notabene nggak asing-asing amat, akhirnya diputuskan kalau bunga ini bakal dikasih ke orang yang cuma dapat bunga sedikit. 

“Kali bikin dia bahagia,” kataku. 

Maka, mulailah kami mencari target untuk dikasih bunga. Susah ternyata, karena hampir semua orang bawa banyak bunga, dan ngerasa kagok kalo ngasih ke orang yang lagi ngumpul sama temannya. 

Sampai akhirnya, lewatlah seorang cowok yang cuma bawa satu atau dua batang bunga. “Kasih ke cowok itu aja, Fir!”

Kocaknya, si Firda lari-lari ngejar cowok itu karena jalannya cepet banget. Pas udah dekat, bahu si cowok dicolek, dikasih bunga, trus si Firda lari sambil ketawa. Aku juga ikut lari dan kita ketawa sampai bengek. 

Ternyata pas dikasih bunga tadi, si cowok itu bilang, “Oh, jatuh ya?” aduuh pemberian kami dikira bunga jatuh! Jadilah, kami merancang skenario baru untuk dikatakan sembari memberi bunga seperti, “Eehhh Fadilaah! Selamat yaaa!” tentu saja Fadilah adalah nama random yang disebutkan, nggak peduli siapa nama asli penerima bunga. 

Saking bersemangatnya dengan skenario itu, kami bela-belain beli bunga setangkai lagi. Mawar putih yang gocengan itu. Kali ini, aku yang harus menyerahkan bunganya. 

“Harus kasih ke cowok ya!” kata Firda. Aku deg-degan karena bersemangat sekaligus takut sama rasa malu.

Cukup lama kami mencari cowok dengan kriteria kaya tadi. Sekalinya ketemu, aku bersiap dan mengikuti cowok itu. Pas aku mau nyolek bahunya, eh tiba-tiba dia disamperin temennya. Aku langsung balik kanan dan kabur hahaha. 

Nggak lama, ada lagi cowok yang jalan sendirian nggak bawa apa-apa. Cowok itu kukejar, kucolek bahunya, dan menyerahkan bunga sambil bilang, “Selamat, ya!” dan dijawab “Iya,” lalu aku balik kanan dan lari ngakak. 

Daaaaannn ternyata………. Itu adalah cowok yang sama dengan cowok pertama tadi. Ai kamu ngapain mondar-mandir sendirian? 

Sepanjang sore kami ngakak membayangkan apa yang dipikirkan cowok itu dapat bunga dari dua cewek random. Apakah dia pikir kami juniornya? Apakah dia akan geer karena tadi itu kaya adegan di komik? Atau dia segera lupa dan biasa aja? 

Pas habis sholat magrib, aku menemukan setangkai bunga kertas warna hijau yang mungkin jatuh dari buket seseorang. Bunga itu kemudan aku taro di sebuah motor yang sedang parkir. Biar pemiliknya merasa punya pengagum rahasia gitu.

Yasss, ini menyenangkan banget dan aku pengen ngulang lagi! 

Day 3: Article of Clothing I’m Deeply Attached to

Kemarin-kemarin ga ngelanjutin ini duli karena disibukkan oleh sesuatu yang penting ga penting selama tiga hari. Jadiii, ayo mulai lagi! 

Kalo ngomongin jenis pakaian yang aku suka banget, boleh bilang t-shirt ga? Soalnya, isi lemariku beneran cuma kaos, kemeja, sweater, dan jins. Makanya suka bingung kalo ke kondangan, ga punya baju haha. 

Habisnya, aku nggak begitu doyan jajan baju. Kalo punya duit, pasti duit itu larinya ke makanan. Kalo di rumah, aku selalu pake baju-bajunya Kacang. Pas ada satu yang enak dipake, langsung kujadikan hak milik. 

Jadi, yaah kalo ngomongin pakaian, pokoknya aku suka yang longgar, nggak nerawang, adem, dan potongannya simpel. Sayang, kalo untuk celana aku susah nyari yang longgar. Bisa dapat ukuranku aja udah bagus hahaha.