Month: April 2017

Day 2: Six-words Memoirs

This is hard I’m gonna pass. (whoooaa that’s six! Lol) 

I was being funny, nobody laughed.

“Cendikia” was my grandma’s last word. 

I once fainted when donated blood.

My 8th birthday in Kerinci Lake.

Climbed a hill once, got lost.

August 2012. Reunion. Fireworks. White shirts. 

Advertisements

​Day 1: 15 Fun Facts About Me

1. Picky eater. Biar gendut begini, tapi sebenarnya untuk urusan makan, aku banyak nggak maunya. Makanya, kalo makan bareng aku, orang-orang akan berbahagia karena dapat tambahan jatah kuning telur atau kulit ayam. Makanan yang umum macam ayam dan daging sapi pun, aku masih pilih-pilih. Untuk ayam, aku cuma makan dadanya (paha hanya diterima dalam kondisi terpaksa), dan daging has dalam, yang diolah hanya dengan digoreng atau dibakar. Satu-satunya makanan laut yang bisa kumakan cuma udang. Kelakuan begini memang merepotkan, makanya sejak aku SMA, mamaku capek dan nggak lagi menyesuaikan belanjaan dengan apa-apa yang bisa kumakan. Pernah sekali, aku lebih memilih makan nasi pakai garam daripada makan pakai ikan goreng.

2. Kalau suka sesuatu pasti dalam jangka waktu yang lama, alias susah move on. Ini bukan cuma berlaku dalam hubungan antarmanusia. Misalnya, waktu semester 3 atau 4, aku lagi suka tahu bulat. Maka, selama satu semester itu hampir tiap hari aku jajan tahu bulat. Atau lagu alarm-ku yang nggak pernah diganti sejak SMP. Atau waktu aku lagi alay dan suka Amnesia-nya 5 Seconds of Summer, aku dengerin lagu itu hampir tiap hari selama nyaris setahun. 

3. Melankolis dan sentimentil. Aku ingat tanggal ketika pertama kali dapat haid. Aku ingat tanggal pertama kali aku pakai kerudung. Di hari Firda lulus, aku bilang, “Guys, hari ini setahun yang lalu, kita baru aja pulang dari Malang loh,”. Aku menyimpan semua barang pemberian orang—kotak donat waktu ulang tahun; Kitkat wasabi pemberian Siti dari Jepang, cokelat pemberian Reza dari Inggris, permen  susu pemberian Lukya dari Korea (yang untungnya nggak dimakan soalnya nggak halal); bahkan ketika bertemu teman yang udah lama banget gak ketemu dan aku kangen, botol air mineral yang kami bagi waktu pertemuan itu masih aku simpan. Jadi yah, di kamarku jadi banyak barang-barang semi sampah yang bertumpuk.

4. Gampang dibaca ekspresinya. Mengontrol omongan? Easy peasy lemon squeezy. Mengontrol ekspresi? SUSAH! Mukaku sering banget menampilkan ekspresi yang benar-benar diluar kendali. Misalnya waktu magang, seorang karyawan baru yang super extrovert menceritakan banyak hal tentang dirinya, dan aku sebenarnya udah males dengerin. Pas pulang, si Firda bilang, kalau tadi ekspresiku kelihatan banget bosan sama omongan karyawan baru itu. Jadi…. sepertinya kalau aku suka sama orang juga akan tertulis jelas di mukaku. TIDAAAAKKK *blush*

5. Anak yang nggak pernah dicariin. Salah satu keuntungan yang kudapat selama tumbuh berkembang adalah, aku bisa main ke mana aja dan amat sangat jarang ditelfonin. Soalnya mamaku tahu aku main ke mana, sama siapa, lagi di rumah si X yang bapaknya bernama Y dan kerjannya apa. Sekalinya ditelfon, itu juga karena mamaku lupa password Facebook-nya, bukan nyuruh pulang. Gara-gara ini, dulu aku dikatain anak pungut.

6. Waktu nonton Divergent, aku merasa Theo James yang jadi Four itu ganteng banget. Saking gantengnya, abis nonton aku ke kamar mandi, duduk di kloset sambil jariku yang gemetaran memegangi dada yang berdegup kencang. Semacam jatuh cinta pada pandangan pertama gitu.

7. Aku masih sering baca-baca status yang kutulis di Facebook waktu zaman SMA. Soalnya, walaupun sering alay dan nggak jelas, beberapa statusku super bijak dan bermanfaat untukku di masa sekarang. Aku kaya digetok untuk ingat, “dulu aja aku pernah mikir gini, loh!”

8. Punya bekas luka kena knalpot di betis kanan dan kiri. Kalau luka yang di betis kiri itu, kejadiannya sekitar umur 4 atau 5 tahun. Waktu itu aku disuruh ngambil apa gitu di mobil, trus pas buka pintu, badanku sedikit kedorong ke belakang dan kakinya nempel ke knalpot motor yang baru aja parkir di sebelah mobil. 

Kalau yang di kanan, kejadiannya 19 Juni 2010 (aku nggak akan lupa), siang bolong di halaman rumah Nisa. Sejak aku lulus SD, sebenarnya bapakku udah nyuruh pake kerudung, tapi aku nggak mau. Trus dia bilang, seenggaknya pake celana panjang. Aku masih nggak mau juga. Sampai akhirnya, pas mau ke rumah Nisa, ban motornya selip, motor rebah ke kiri, dan betis kananku yang telanjang nempel di knalpot. Gara-gara itu, selama libur kenaikan kelas aku nggak bisa jalan. Sampai sekarang bekas lukanya masih ada, gede dan jelek banget, kadang suka aku marahin hahaha. Bekas luka ini kemudian mengingatkanku untuk nggak lagi melawan omongan orang tua.

9. Setidaknya sampai kelas 11 aku adalah orang yang sangat berisik. Kaya mulutnya tuh ngoceh melulu nggak bisa diam. Sampai suatu hari, si Agung sambil bercanda bilang, coba sehari aja aku diam dan kalem. Walaupun bercanda, tapi ternyata itu bikin aku kepikiran jangan-jangan selama ini aku annoying.

10. My favorite Disney Princess is Mulan. Beda dengan putri-putri klasik macam Cinderella atau Snow White yang menunggu diselamatkan pangeran impiannya, Mulan justru menyamar jadi laki-laki, maju ke medan perang menggantikan ayahnya yang sudah tua. Keren lah, pokoknya. Waktu SD, aku bahkan pakai shampo dan body mist Disney Eskulin yang varian Mulan karena wanginya enak.

11. Waktu SMA, aku pernah memotong rambutku sampai pendek banget untuk ukuran cewek, tapi sedikit kepanjangan untuk ukuran cowok. Actually that was the best hair style I’ve ever had, and the most comfortable. Gaya rambut itu aku pertahankan sampai pertengahan kelas 12, sebelum akhirnya mulai dipanjangkan lagi demi sanggul perpisahan.

12. Walaupun sendirinya masih suka khilaf, aku senang mengoreksi ejaan, penggunaan kata, dan logika kalimat yang ditulis orang lain—terutama di media sosial.

13. Suka banget sama kucing, tapi nggak diizinkan memelihara. Sekalinya aku boleh melihara kucing itu sekitar kelas 12, waktu ada kucing jantan liar berbulu oranye yang suka mampir ke rumah. Dia kukasih nama Onyew dan sebenarnya kucing yang baik. Nggak pernah buang air sembarangan. Paling sekalinya lantai penuh pipis kucing itu karena dia dikejar-kejar kucing betina sampai terkencing-kencing. Selebihnya, Onyew kucing yang manja padaku. Kalau pagi, aku sering bangun dengan Onyew tidur di kakiku. Begitu aku kuliah, nggak ada lagi yang sayang sama Onyew, jadi dia hilang. Sedih 😦

14. Personal space is everything. Aku sebenarnya nggak suka dekat-dekat atau disentuh sama orang, kecuali sama anggota keluarga inti. Di angkot atau di bus, aku mendingan meringkuk nggak nyaman daripada lutut atau bahuku harus bergesekan dengan orang lain. Kadang, ada teman yang pas lagi jalan bareng tanpa sadar suka menggamit lenganku dan sejujurnya itu bikin aku nggak nyaman, tapi nggak enak ngomongnya.

15. Sekarang lagi peduli banget sama kehalalan suatu produk. Gara-garanya, aku baca postingan seseorang yang bilang, “kita kan udah capek-capek kerja cari uang yang halal. Masa habis itu dipakai beli yang haram?” Ini jadi bikin aku ingat bapak yang capek-capek kerja di bengkel, tapi akunya malah lebih menuruti nafsu untuk beli produk, terutama makanan, yang diragukan kehalalannya. Sedih sih, jadi nggak bisa jajan Pocky atau nyobain Nutella atau makan di tempat yang agak fancy dengan sajian menu ala luar negeri. Tapi demi timbangan dosa yang sudah berat, nggak apa-apa!