Month: March 2017

The Enemy is the Inner Me (2)

Dari film “It’s Kind of a Funny Story”

Tiba-tiba aku merasa depresi lagi. Merasa ketakutan lagi. Overthinking lagi.

Padahal, minggu lalu aku mulai sedikit merasa lebih percaya diri. Mungkin semua ini karena jadwal tidur yang mendadak kembali kacau balau–aku baru bisa tidur setelah jam 3 pagi, baru terbangun sekitar jam 7 atau 8 untuk sholat subuh (semoga Allah mengampuniku), lalu tidur lagi dan bangun sekitar jam setengah 12 siang dalam kondisi lemas, pusing, dan marah. 

Atau mungkin juga karena haid yang tidak kunjung datang. Entahlah. 

Kadang, rasanya aku ingin punya seseorang (atau sesuatu) untuk disalahkan. Aku ingin berteriak kepadanya, “kenapa kamu bikin aku jadi gini?????” 

Sialan! 

Aku ingin menghempaskan kepalaku ke dinding, sampai benjol, sampai berdarah, lalu menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mengeluarkan setan (atau apapun yang saat ini terus membisikiku dengan bacotan negatif) dari dalam diriku, menghajarnya hingga babak belur, hingga ia tidak bisa membuka mulutnya walau hanya untuk bernafas, atau kalau perlu sampai dia mati. 

Aku ingin memeluk seseorang, lalu menangis dan nggak menceritakan apapun. 

Aku ingin membuang ponselku, menghancurkannya, atau setidaknya memberikannya pada orang yang membutuhkan.

Aku ingin mengunjungi dokter jiwa. 

Kelucuan Hidup: Jakarta dan Hari yang (Kebetulan) Sial

Selama ini hidupku memang penuh kelucuan. Semua hal yang ingin aku lakukan, nggak pernah ada yang berjalan mulus. Selama ini, kelucuan hidup yang ada masih bisa kutolerir. Misalnya, bolak-balik memfotokopi sesuatu karena sekip, atau waktu otakku memproses Cikapundung Riverspot sebagai Teras Cikapundung, lalu bela-belain naik angkot ke sana untuk menyadari kalau aku salah tempat.

Kelucuan hidup lainnya yang benar-benar bikin aku nggak tau mau bereaksi gimana adalah waktu mudik tahun lalu. Waktu itu, aku lagi di bus Damri Bogor-Bandara Soekarno-Hatta ketika di-sms untuk usmas ESOK HARINYA. Yes, di-sms-nya H-1 setelah aku gabut nungguin lama banget di Nangor. Ketika kukira usmas selanjutnya bakal abis lebaran, ternyata malah minggu depannya. Hahaha lawak. 

Nah, dari semua kelucuan hidup yang pernah aku alami, akhirnya ada satu kejadian yang bikin aku pengen nangis dan (waktu itu) nggak bisa ikut ketawa sama kehidupan karena buatku ini udah nggak lucu. 

Minggu lalu akhirnya aku wawancara pra-riset ke Jakarta setelah tertunda sekian bulan karena aku ketakutan nggak jelas. Setelah belasan kali berkirim e-mail, akhirnya disepakati aku akan wawancara hari Rabu (8/3/17) jam 14.00 di redaksi Majalah Bobo, Kebon Jeruk sana. 

Aku pun nyari-nyari gimana caranya ke Kebon Jeruk. Pas liat di Google Maps, ternyata ada pool travel Baraya cuma lima menit jalan kaki dari Kompas Gramedia Building, kantornya si Bobo. Alternatif lain, aku bisa naik bus ke Lebak Bulus, terus lanjut naik busway ke Kebon Jeruk. 

Waktu aku nelpon untuk nanyain jadwal sekaligus booking, telponnya nggak pernah diangkat. Jadilah, aku googling lagi dan tahu kalau ada keberangkatan 10.30 ke Kebon Jeruk. Dengan asumsi perjalanan selama 3 jam, menurutku jam ini pas. Lalu kupikir nanti tinggal datang aja ke pool-nya sejam sebelum keberangkatan. Biasanya sih selalu bisa kalau gitu.

Pola tidur yang terganggu lagi bikin aku cuma tidur sekitar empat jam malam itu. Abis subuh, aku nggak berani tidur lagi karena takut kebablasan. Jam 8, aku jalan dari kosan menuju pool travel Kiswah yang cuma sepelemparan batu dari kosanku. Soalnya, pool Baraya yang aku tuju ada di Pasteur, jadi mending naik travel aja daripada naik Damri+angkot. Toh ongkosnya sama sengan waktu tempuh setengahnya. 

Aku sampai di Bandung sekitar jam 9.30 dan langsung menuju pool Baraya.

“A, kalo ke Kebon Jeruk ada?” tanyaku. 

“Hmm…” si Aa ngecek komputer. “Adanya yang jam 15.00, mbak. Yang jam 10.30 nggak berangkat,” 

Doeeengg!!! Aku langsung panik. Nggak tau kenapa waktu itu aku malah nggak mikir untuk naik yang jurusan lain, ke Slipi misalnya, toh sama-sama Jakarta Barat. Otakku yang panik langsung memesan Gojek untuk ke terminal Leuwi Panjang karena aku akan naik bus aja. 

Entah karena panik dan buru-buru atau gimana, aku ngerasa abang Gojeknya lamaaa banget apalagi di seberang sana jalannya lumayan macet. Waktu itu udah hampir jam 10.

Sampai di Leuwi Panjang sekitar jam 10.30, ternyata busnya baru berangkat sekitar 2o menit kemudian. Aku benar-benar panik karena udah nggak mungkin keburu untuk sampai jam 14.00. Jadilah, aku mengirim e-mail untuk minta maaf karena aku terlambat dan minta mengundur wawancara jadi jam 15.00. Mbak yang akan kuwawancara mengiyakan. 

Sepanjang jalan aku cuma bengong mikirin, aku ngapain sih sampai hari ini berjalan begitu ribet? Selama ini aku ke Jakarta, pergi pagi pulang malam, nggak pernah bermasalah. Padahal kali ini aku nggak berusaha untuk hemat (yang biasanya jadi awal keborosan tak terencana). Padahal kali ini aku berusaha untuk nggak overthinking karena aku menghindari stres dan depresi. Padahal tadi udah mikir pengen langsung tidur di travel. 

Aku ketiduran mungkin sekitar satu jam ketika mendapati bus berjalan selangkah-selangkah di Karawang. Katanya sih macet karena ada truk yang terbakar atau terguling gitu, aku nggak inget. Waktu itu udah jam dua lebih, jadi aku mulai menitikkan air mata karena nggak mungkin sampai di Jakarta jam tiga. 

Ini memalukan dan nggak profesional banget. Selama ini, walaupun aku nyasar, alhamdulillah aku selalu sampai tepat waktu. Telat pun nggak sampai 15 menit. Tapi ini, yang harus dijadwalkan ulang begini, asli ini pengalaman pertama. 

Toh air mataku nggak akan bikin lalu lintas mendadak lancar, atau aku bisa berteleportasi. Jadi, sembari menunggu balasan e-mail permintaan maaf kedua sekaligus permintaan jadwal ulang, aku memikirkan malam ini akan hinggap di mana. Ya kali langsung pulang lagi bo’, aku udah capek fisik mental. 

Ternyata orang-orang yang kuhubungi untuk numpang menginap lagi pada nggak bisa diinapi. Lagi-lagi semesta menertawakanku. Jadilah, aku memutuskan untuk ke Bogor aja, nginap di rumah Kacang. Lagian wawancaraku diundur jadi besoknya jam 14.00. 

Aku sampai di Jakarta, turun di Cilandak, sekitar jam 16.30 dan langsung mencari tempat sholat. Satu-satunya tempat yang terpikir olehku ada di dekat situ adalah Cilandak Mall yang sekarang udah jadi Transmart. Aku ingat karena dulu pernah ke situ waktu Ibuk masih tinggal di Jakarta. 

Abis sholat, aku belanja beberapa keperluan untuk menginap. Asli aku mah emang nggak persiapan karena dari awal juga nggak niat mau nginap. Aku cuma beli tiga benda super penting dalam hidupku: deodoran, sikat gigi, dan sabun muka. Nggak apa-apa nggak ganti baju, yang penting pake deodoran. 

Abis itu aku naik angkot ke Stasiun Pasar Minggu karena nggak tau gimana caranya ke stasiun lain dan udah nggak mau mikir dan pengen berhemat setelah seratus ribu lebih terbuang hanya untuk pergi, padahal bajet segitu bisa untuk ongkos PP. 

Sampai stasiun sekitar jam 17.30. Aku tau sih ini rush hour dan keretanya pasti penuh banget sama orang-orang pulang kerja. Tapi pikirku, ya udahlah, mau nunggu di mana lagi. Begitu masuk ke peron sebenarnya udah ada satu kereta tujuan Bogor. Tapi ngeliatnya penuh banget, aku jadi lemes dan memutuskan untuk nunggu kereta selanjutnya beberapa menit kemudian. 

Begitu kereta datang, aku ngintilin dua ibu-ibu supaya bisa ikut nyelip di keramaian. Ya Allah, ini pertama kali banget aku naik kereta yang penuh sesak, yang samar-samar tercium bau apek keringat, yang sender-senderan sama bapak-bapak (atau lebih tepatnya dia yang menyandarkan setengah hidupnya ke punggungku. Berat). 

Ya Allah, aku nggak mau tinggal di Jakarta… 

Malamnya pun aku masih nggak bisa tidur dengan benar karena sehabis hujan, udara kembali panas dan lembab. Aku cuma tidur sekitar satu atau dua jam waktu hujan, kebangun tengah malam, dan nggak bisa tidur lagi sampai sekitar setengah tiga.

Pas wawancara, alhamdulillah berjalan lancar dan aku dapat semua pernyataan yang aku mau. Pulangnya, aku dan Kacang naik busway ke Lebak Bulus, jalan kaki lagi ke Carrefour terdekat karena cuma di situ yang paling  mungkin ada mushola terdekat, terus Kacang gegayaan ngajak makan pizza dulu karena, “Adek kan cuma hedon kalau ada mbak,” Mantap, dik! 

Untungnya aku nggak nungguin magrib dulu untuk pulang karena aku naik bus sekitar jam 17.30 dan baru nyampe Nangor jam 23.30! Ampuuun! 

Emang sih, ketika aku menceritakan kelucuan ini ke teman-temanku, ketika aku menuliskan cerita ini, semua kejadian minggu lalu terdengar nggak begitu buruk. Tapi yah, mungkin pelajarannya adalah: (1) menginaplah sebelum kelucuan hidup menghantammu tepat di wajah; (2) overthinking sebenarnya membuatmu waspada dan terhindar dari kelucuan hidup (walaupun sedikit banyak itu membunuhmu). 

Semoga setelah ini semuanya baik-baik saja. 

Sumber: instagram.com/thegoodquote

Sekarang aku ingin menelusup ke ketiak bapak. Bapak akan merangkulku sambil tetap menonton televisi. Aku diam. Bapak juga diam. Tapi aku merasa aman dan aku tahu, semua akan baik-baik saja.