Month: February 2017

The Enemy Is the Inner Me

nick-miller

Nick Miller (New Girl S02E07 – Menzies)

Akhir-akhir ini rasanya aku sering menampar wajah sendiri, jauh lebih sering dari sebelumnya. Bukan supanya pipiku merona merah, tapi karena aku sudah membuat perjanjian untuk menampar wajahku sekeras mungkin setiap kali otakku cerewet memikirkan skenario negatif.

Atau sederhananya: setiap kali aku berpikir berlebihan alias overthinking. 

Mungkin aku kedengaran seperti anak emo yang menyilet-nyilet tangan untuk melampiaskan rasa sakit dalam jiwanya menjadi sakit dalam bentuk fisik. Tapi sejujurnya aku bahkan nggak tahu apakah aku memang “sakit” atau kenapa. Yang jelas, otakku yang dari sananya emang sudah cerewet dan tukang berkhayal, akhir-akhir ini jadi makin kurang ajar.

Walaupun lukanya nggak kelihatan, bukan berarti sakitnya nggak ada.

Aku pernah nggak ya, cerita detail ini ke orang lain? Lupa. Rasanya akhir-akhir ini kepalaku kosong dan aku susah fokus. Misalnya waktu lagi zumba, aku merasa “hilang” selama beberapa detik. Begitu “sadar”, aku berusaha mengingat-ingat apakah gerakan yang ini sudah kulakukan, atau kenapa tiba-tiba kita sudah sampai pada gerakan pendinginan. 

Aku takut (atau menghindari?) cerita ke orang lain karena aku merasa mereka akan menghakimiku. Aku takut ketika aku bercerita, mereka akan berpikir kalau aku cuma pemalas yang mencari pembenaran. Aku takut mereka menganggapku sok iye, sok depresi biar dianggap keren (?). Padahal aku justru takut beneran depresi karena kalau depresi, berarti aku harus mengunjungi ahli jiwa, dan itu artinya uang keluar. Sementara aku sendiri belum punya pemasukan selain uang jajan.

Jadi, kuputuskan untuk menceritakan semuanya di sini. Kalaupun ada yang menghakimi, toh aku nggak perlu tahu siapa orangnya. Dan entah kenapa hal itu malah terasa jauh lebih baik. 

Credit on picture

Meski belum teruji secara klinis (karena biaya konsultasi psikologi ternyata cukup mahal dan aku kere, tentu saja) aku kemungkinan mengalami gangguan kecemasan.

Semuanya dimulai ketika aku sidang usmas, akhir September 2016 lalu. Setelah pembantaian dan merasa direndahkan saat itu, aku seperti mengalami depresi kecil-kecilan. Mungkin juga karena faktor hormonal dan sebagainya.

Walaupun akhirnya usmasku diterima, aku nggak nafsu buat ngerjain karena perasaan direndahkan itu. Rasanya tiap mau mengerjakan skripsi, otakku kosong. Batinku menolak. Aku mulai membayangkan pembimbingku, yang meraih gelar doktor di usia 33 tahun itu, juga akan meremehkan penelitianku. Otakku mulai menggambar bayangan-bayangan jika dia yang melihatku dengan tatapan menghina. 

Maka, aku pun beralasan untuk menunda pengerjaan skripsi dengan melaksanakan job training di sebuah koran lokal di Bandung. 

Rupanya, otakku masih ingin terus menyiksaku. Selama job training, aku stres karena setiap hari harus memikirkan materi liputan, dan setiap selesai liputan dan mengirimkan tulisan, aku merasa hasil kerjaku buruk sekali. Ketika ada hari dimana aku sama sekali nggak punya ide untuk liputan, aku cuma tiduran di kamar dan menyalahkan diri sendiri, entah untuk apa. Aku terus menerus berlari dalam lingkaran ini sampai akhirnya program job training-ku selesainya molor dua minggu.

Setelahnya, aku mulai bertekad untuk mengerjakan skripsi. Karena sudah mulai libur semester, waktu itu pembimbingku mudah sekali ditemui. Dia bilang, harusnya aku pra-riset dulu, membangun akses dulu, supaya nanti jelas dan mudah dalam pengerjaannya. Aku mengiyakan. 
Kemudian, di sinilah kekonyolan dimulai. 

Disuruh pra-riset begitu, aku bahkan nggak tahu aku harus apa. Aku seperi kehilangan arah, linglung. Aku bingung harus bertanya apa pada siapa. Aku merasa seperti kembali menjadi maba yang nggak tahu gimana caranya menghubungi narasumber. Aku bahkan bingung, sebenarnya aku mau penelitian tentang apa, sih? 

Jadi, aku mulai melarikan diri dan bersembunyi. 

Selama hampir dua bulan, aku melarikan diri ke dalam tutorial membuat bunga dari kertas, atau panduan membuat sulaman bunga matahari. Hari ini aku berdalih harus membuat buket camilan, besoknya membuat kado, lalu besoknya membuat buket cemilan lagi karena rupanya teman-temanku sudah lulus satu per satu. 

Dalam dua bulan ini juga, otakku ribut sendiri. Setiap hari selalu ingin ganti topik. Inginnya topik yang terlihat “dewasa”, “niat”, dan “penting”. 

Ganti topik aja kali, ya? Eh, tapi harus usmas lagi dong? Nunggu lagi dong? Nggak deh, jangan, tetap yang ini aja. 

Eh, tapi gimana kalau ganti topik aja biar “lebih disukai” sama bu Dementor? Apa kek, studi kasus peran media dalam mitigasi bencana di banjir Garut? Suka tuh pasti doi. Eh tapi luas banget gak sih? Atau ini aja, gimana Republika mengangkat soal Ahok setelah kasus Al-Maidah 51 itu. Kan bisa fenomenologi tuh, gimana si wartawan ngeliat sosok Ahok dan gimana pengaruhnya ke berita yang dia tulis. Atau framing aja sekalian, biar lebih gampang! 

Eh, tapi harus usmas lagi ya? Nunggu lagi dong? Jangan deh, jangan…. 

Eh, tapi…… 

Ketika akhirnya aku memutuskan untuk nggak ganti topik dan mulai menyusun pertanyaan pra-riset, otakku kembali membuat bayangan-bayangan. 

Bayangan jika ternyata hasil pra-risetku tidak bermanfaat dan aku beneran harus usmas lagi. 

Bayangan jika saat penelitian nanti aku menemui begitu banyak kesulitan. 

Bayangan jika saat sidang nanti aku diuji oleh bu Dementor dan dia kembali membantaiku, lengkap dengan tatapan dan nada bicaranya yang merendahkan itu. 

Semuanya jadi terlihat suram. 

Dari pengalaman yang lalu, sebenarnya setiap kali aku berpikir terlalu jauh dan terlalu dalam, kenyataannya justru jauh lebih sederhana dari apa yang kubayangkan. Tapi biar begitu, tetap saja otakku selalu bersemangat menghajarku dengan berbagai bayangan-bayangan masa depan yang menyeramkan. Aku berusaha melawan balik dengan susah payah menanamkan pikiran positif, tapi sepertinya otakku separuh setan. 

Aku juga mengalami sakit kepala yang bahkan nggak bisa diatasi dengan tidur atau makan. Aku juga mengalami menstruasi yang terlambat. Mungkin karena stres, mungkin karena aku diet. Belum lagi dengan rasa sesak yang memenuhi dadaku. Entah karena aku udah capek nangis, atau karena aku kegemukan. 

Menurut semua artikel dari sumber yang sudah pasti kredibel, untuk mengatasi sakit kepala karena stres adalah dengan menghindari sumber stres itu. Sialnya, aku udah nggak bisa menghindari skripsi karena bumi terus berputar mengelilingi matahari. 

Makanya, aku mulai menampar wajahku sendiri. Karena dengan begitu, kepalaku sedikit berdenging dan otakku fokus pada pipi yang bergetar. Mengakibatkan suara-suara sialan itu berhenti walau sebentar. 

Sesungguhnya, aku ingin jadi orang dengan pikiran yang sederhana, yang nggak merancang skenario-skenario dalam kepalanya.

Aku menuliskan ini karena aku merasa sudah ada di titik ingin bicara, tapi nggak mau dihakimi atau dihantui pikiran negatif dari orang yang kukenal. Syukur-syukur kalau ada seseorang yang tersesat ke sini dan bisa membantuku untuk kembali tenang. Kalau nggak, ya sudah. Semoga aku cepat “sembuh”. 

Kekal

Malam ini sebelum tidur, berbagai bayangan berkecamuk dalam pikiranku. 
Semuanya dimulai dari otakku yang memutar kembali gambar buket jajanan yang baru saja kubuat beberapa jam lalu bareng Firda dan Mumut. Kemudian pikiranku melayang pada teman-teman yang sudah dan akan segera lulus. Lalu aku mulai memikirkan diriku sendiri yang masih punya banyak ketakutan soal masa depan. Aku yang tadinya nggak mau langsung pulang setelah wisuda, rasanya sekarang ingin tinggal satu atau dua bulan di rumah setelah aku lulus. 

Dari pikiran tentang wisuda dan skripsi yang masih jalan di tempat karena aku ketakutan nggak jelas, aku mulai memikirkan tentang kematian. Aku mulai berpikir tentang almarhum orang-orang yang kukenal. Aku jadi memikirkan tentang Ayah si X atau Ibu si Y yang sudah tiada. Aku mulai memikirkan, apa kabar mereka di alam barzah sana?

Aku memikirkan, saat ini kita semua yang masih hidup berada dalam kesenangan dan kesusahan masing-masing. Gimana dengan mereka yang udah meninggal? Apa yang sedang terjadi pada mereka detik ini, saat aku menulis postingan ini? 

Sebagai muslim, aku percaya adanya kehidupan setelah mati. Aku percaya pada Hari Kebangkitan dan Hari Pembalasan. Aku percaya Al-Quran adalah kebenaran, dan bahwa siksa kubur itu nyata. 

Dan……. Aku ketakutan. 

Aku mulai berpikir, ketakutanku terhadap masa depan, bahkan nggak akan selesai dengan aku yang menghilang dari muka bumi. Otakku memutar kembali gambar-gambar komik “Siksa Kubur” yang kubaca waktu bocah. Dari situ, aku kemudian ingat sebuah tulisan di kaca depan mobil Kang Rey–mantan vokalis Nineball yang sampai tahun lalu masih mengisi program religi “Risalah Hati” di Net. Jabar–“Dunia sementara, akhirat selamanya”

Jiwaku yang masih ada di dunia saat ini aja rasanya capek, nggak sanggup menahan siksaan batin. Nggak sanggup tertekan oleh pikiran-pikiranku yang suka berlebihan. Nggak sanggup terbakar oleh rasa kesal karena nggak pernah puas dengan diri sendiri. Aku nggak bisa membayangkan jiwaku dibakar di neraka….selamanya.
Aku berpikir tentang kehidupan abadi, dan betapa bekalku menuju hidup yang kekal ternyata masih jauh dari kata siap. Aku bahkan nggak tau apakah aku masih punya cukup banyak waktu untuk bersiap-siap, atau jangan-jangan kematian sedang mendekatiku. Selama ini aku selalu menakutkan masa depan di dunia. Pernahkan aku mencemaskan masa depan di akhirat yang kekal abadi selamanya? 

Dan ketakutan kali ini, jauh lebih besar dari yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya.