Month: October 2016

Cerita Damri

Apa hal menarik yang bisa kamu temui kalau naik kendaraan umum? Yak, selalu ada cerita, entah cerita aneh, lucu, atau menyebalkan.

Sekarang aku lagi ada di Damri ke DU dari Nangor. Tadi di pertigaan Dunkin, seorang kakek naik bersama penumpang lainnya. Ketika naik, seorang bapak berpesan dari luar bus kalau kakek ini mau turun di Kalapa. Seorang ibu berkerudung hijau juga naik ke bus bersama si kakek. Dia memerintahkan si kakek untuk duduk di sebelahku, yang duduk di bangku kedua dari depan. Yes, memerintahkan karena jarinya menunjuk kursiku alih-alih dia membantu si kakek untuk duduk. Si ibu sendiri duduk tepat di belakang supir. 

Ketika mendekati PT Inti, pak supir bilang, yang mau turun di Kalapa bisa turun di lampu merah depan sana. Si kakek, yang sepertinya agak pikun, bilang “Oh, bus ini nggak langsung ke Kalapa ya?” yang dijawab nggak oleh si supir. Pas si kakek udah bersiap mau turun, tiba-tiba si ibu berkerudung hijau bilang dengan suara keras, “Nggak! Udah, bapak sama saya aja nanti turun di sana. Duduk!” Nadanya persis mamaku ketika mendapati kami masih main games ketika adzan berkumandang dan menyuruh sholat. 

Si kakek langsung duduk lagi. Beberapa penumpang bus yang mayoritas ibu-ibu dan bapak-bapak pun memprotes bingung. “Di depan turun di mana, ibu? Ibu mau ke Kalapa juga?” yang dijawab, “Nggak. Nanti naik angkot aja sama saya dari Dago.” Jelaslah satu bus bersorak sorai. Kebon Kalapa tinggal lurus sana, ngapain ngana jauh-jauh muter ke Dago dulu!

Beruntung ada seorang teteh baik hati yang merelakan diri untuk mengantar si kakek naik angkot ke Kalapa. Si ibu berkerudung hijau cuma mesem-mesem. Antara malu, sebel karena disorakin, atau bodo amat. 

Advertisements

Di Gudang Buku

Tadi pagi Azul ngajak aku ke bazaar buku di gudang Gramedia. Iya, gudang bukunya Gramedia. Aku juga baru tahu ada tempat itu di Jl. Caringin. Padahal udah beberapa kali lewat sana tiap ke Cigondewah, tapi nggak pernah ngeh. Soalnya nggak ada tulisannya.

Kami berangkat dari Nangor sekitar jam 8 naik motor. Hal-hal cheesy di jalanan yang kami temui cuma setopan Kircon yang terkenal akan durasi dahsyatnya, serta macet di Jalan Kopo. Biasa banget. 

Apa yang bikin bazaar ini menarik adalah, semua buku yang dijual cuma punya tiga harga: 10.000 untuk buku tebal, 5.000 untuk buku tipis, atau 5.000/3 komik. Jadi, dengan keyakinan penuh bazaar ini akan sangat ramai dibuatlah sistem yang cukup baik menurutku.

Setiap jamnya, mulai jam 9 pagi, akan dibagikan nomor antrean. Per giliran yang boleh masuk cuma 100 orang yang dikasih waktu belanja satu jam. Aku dan Azul dapat giliran jam 10. Lalu ada tag merah dan tag biru yang membedakan giliran. Jadi, kalau lagi gilirannya orang-orang bertag biru, bakal ketahuan kalau ada orang bertag merah yang diam-diam keasyikan ngubek-ngubek buku. Dan beneran ditegur sama aa penjaganya. Si orang itu disuruh bayar atau ambil nomor antrean lagi kalau masih belum puas. 

Don’t expect too much. Kata Dian kepada Sumi. Kata Sumi kepadaku. Sebelum ke sini emang aku nggak secara spesifik pengen mencari buku tertentu. Kalau ketemu sih mau beliin buku buat bayi-bayi di rumah. Kalo nggak ketemu ya udah, pengen tau aja gitu. 

Di dalam, semua buku bertumpuk-tumpun nggak keruan. Ada yang di rak, ada yang di kotak pendek deng tinggi tumpukan setinggi setengah meter. Nggak ada penanda rak atau kotak ini menyimpan buku apa. Satu kotak bisa berisi komik, resep masakan, dan buku motivasi sekaligus. Kalau niat, ya silahkan menggali hingga ke dasar. Seorang ibu gemuk berbaju putih yang di awal masuk ada di sebelahku menggerus tiap tumpukan penuh semangat.

Rasanya kaya lagi belanja di Gedebage versi buku! Ada banyak orang yang belanja bawa kardus. Mungkin untuk taman bacaan atau semacamnya. 

Sedihnya, buku-buku yang berserakan itu jadi kelihatan nggak berharga. Yah, emang harganya murah dan kebanyakan buku terbitan bertahun-tahun yang lalu sih. Tapi kan tetap aja itu buku, karya orang! Masa dibiarkan terinjak-injak, bahkan sampai sobek 😦

Meski awalnya aku nggak menemukan buku yang menarik. Tapi ternyata pulang-pulang aku bawa belanjaan cukup banyak. Hanya dengan 40ribu! Tapi sebenarnya aku nggak begitu suka sih berbelanja absurd seperti ini. Kaya untung-untungan gitu padahal aku butuh kepastian hehe. 

Aku berhasil membawa pulang:

Sebuah komik Amerika yang kuambil secara random;

Sebuah komik seri tokoh dunia yang dulu pernah ku koleksi sewaktu SD tapi kemudian hilang. Ini mau kukasih ke bayi-bayi;

Sebuah komik karya komikus lokal yang ku wawancara tahun lalu:

Sebuah komik bergambar anjing yang kubeli karena terlihat lucu; 

Sebuah komik serial cantik yang kubeli bukan hanya karena rindu, tapi karena ada gambar kucingnya;

Dua buah novel karya dua novelis yang pernah kubaca beberapa karyanya;

Dan sebuah novel yang sampulnya menarik. 

Merasa Mati

Dalam 21 tahun menjalani kehidupan, ada banyak hal yang membuatku merasa mati sesaat. 

Misalnya ketika aku menemukan koleksi bokep di ponsel temanku. Atau ketika the guy I had crush on like forever pacaran dengan cewek super sempurna (menurutku) (meski ternyata jadian karena kasihan dan cuma bertahan beberapa minggu). Atau ketika si dosen penguji menjatuhkan aku sejatuh-jatuhnya. Atau ketika aku tenggelam dalam sebuah buku (atau film, atau serial) dan ia mencapai akhir dan aku nggak bisa berhenti memikirkan cerita dan tokoh-tokohnya yang begitu hidup dalam pikiranku, serta nggak tahu harus berbuat apa pada hidupku selanjutnya. 

Barusan, beberapa puluh menit yang lalu, jantungku secara kiasan berhenti mendadak. Disusul dengan jeritan. 

Setelah (akhirnya) nonton The Perks of Being Wallflower,  aku ke kamar mandi untuk wudhu. Jarak ujung kakiku dengan pintu kamar mandi mungkin paling banyak sekitar 20cm ketika seekor cicak dewasa yang malang terjatuh tepat di depan sandalku. 

Plok! Aku terkejut begitu juga si cicak. Sepersekian detik kami berdua terdiam sebelum akhirnya aku menjerit dan lari ke kamar. Aku nggak peduli apakah si cicak juga teriak dan ikut berlari. 

Tahun lalu, seekor cicak tanpa kepala bertengger di bagian antara pinggir pintu dan kusen. Untungnya, bagian cicak yang bisa berautotomi cuma ekornya karena kepala yang bisa tumbuh sendiri akan jutaan kali lebih mengerikan. Lalu si Azul dengan tangan dinginnya yang terbungkus plastik supermarket membuang si cicak. 

“Dingin-dingin kenyal gitu,” testimoninya sambil berhehe-ria.

Sampai ketika aku menulis ini, sebagian nyawaku belum kembali dan aku masih nggak berani ke kamar mandi. 

Depresi Kecil-kecilan

Minggu lalu adalah satu minggu yang kucatat sebagai minggu dimana aku merasa depresi kecil-kecilan. Disebut begitu karena depresi ini adalah hasil diagnosis mandiri, serta bentuk akumulasi stres, kekecewaan, serta hormon perempuan yang bergejolak. Dan yah, ini adalah hal yang sama sekali nggak bisa dibanggakan. Memalukan, bahkan. 

Minggu lalu adalah minggu yang aku lewati dengan penuh air mata, secara harfiah. Minggu lalu adalah minggu ketika aku merasa sangat rendah, terpuruk, dan sama bergunanya seperti pemberitaan Awkarin dan Anya Geraldine. 

Minggu lalu aku berpikir dan terus berpikir. Tentang idealisme dan kebutuhan yang harus dibenturkan. Siapa yang menang? Tentang banyak hal yang ingin kuraih, ingin kucapai, ingin kualami. Lalu aku berpikir tentang banyak ketakutanku. 

Aku nggak ingat (atau nggak sadar) kapan tepatnya aku mulai berlaku seperti si pengecut-pecundang. Aku ketakutan akan banyak hal. Bahkan semua hal-hal mengerikan itu hanya terjadi di pikiranku. Seperti misalnya, ketika aku harus minta tanda tangan dosen. Aku sudah takut duluan, sudah memikirkan seribu satu alasan untuk ngeles dan menyelamatkan diri. Pada akhirnya, ketika aku menghadapi ketakutan itu, si dosen malah cuma membolak-balik proposalku sekilas, lalu menandatangani proposalku sambil mendesah pelan, “yaudahlah ya,”

Ada banyak ketakutan yang membayangiku ketika depresi kecil-kecilan itu melanda dan sesudahnya. Aku jadi ragu dengan pilihanku. Aku jadi takut untuk menghadapi masa depan, untuk menghadapi perubahan-perubahan. Aku jadi merasa seperti katak dalam tempurung yang ingin hidupnya begitu-begitu saja. Aku jadi takut untuk melompat keluar jendela seperti yang dilakukan si tua bangka Allan Karlsson. Tapi, si pria 100 tahun itu mendapat petualangan yang sangat menarik ketika ia berani melompat dari jendela rumah lansia dengan lututnya yang gemetar. 

Aku takut penolakan dan kehilangan. Yah, sebelumnya juga begitu, tapi kali ini dalam tingkatan yang sangat parah. Aku takut tersandung di tengah jalan. Aku takut tertinggal sendirian. Aku takut gagal. Aku takut hidup tidak memenuhi ekspektasi diriku. Aku takut akan menjadi hina.

Ada masa dimana aku membiarkan hidupku mengalir, menantikan kejutan seperti apa yang diberikan semesta padaku, tapi minggu lalu aku butuh kepastian. Minggu lalu aku nggak berminat pada petualangan. Aku seperti ingin melompat saja ke akhir cerita, dan tidak mau tahu seperti apa keseruan atau kesedihan yang akan aku lalui dalam perjalanannya. Benar-benar karakter yang menyedihkan. 

Pada akhirnya, hari ini juga nggak ada yang tahu apakah mimpi-mimpi buruk itu akan jadi kenyataan, atau berhenti dan terperangkap di alam maya. Sejujurnya sampai detik ini, aku masih ketakutan dan sering menjerit sendiri ketika setan mulai membisikkan ketakutan-ketakutan itu. Tapi, kemudian aku ingat kata-kata Hyukjin dari webtoon New Normal: Class 8 karya Youngpaka:

Dan, toh, aku pasti bukan golongan yang berada di tingkatan paling dasar rantai makanan.