Month: September 2016

Lipstik Merah

Setelah hari ini akhirnya berakhir, aku pulang ke kosan dengan perasaan campur aduk: sedih, kesal, pusing, dan suasana hati yang memburuk terutama setelah susah tidur semalam. 

Lepas ashar, aku termenung memikirkan langkah yang harus kulakukan mulai besok. Aku mencopot tulisan-tulisan di styrofoam board, memikirkan kalimat-kalimat pengganti untuk ditempel di sana, lalu melihat bayangan mataku yang gelap di cermin. 

Kemudian, entah kenapa aku mengambil lipstik yang kubeli sekitar sebulan lalu.

Ini adalah lipstik merah pertamaku dan satu-satunya. Aslinya, warna lipstik ini nggak semerah di foto. Warnanya merah dengan sedikit sentuhan warna cokelat. Ketika dipoles, warnanya natural karena sama dengan warna bagian dalam bibir. Tapi tetap kelihatan lagi pakai lipstik. 

Beli lipstik ini pun nggak sengaja. Waktu itu aku lagi beli toner dengan merk yang sama. Sambil menunggu pramuniaga mencarikan permintaanku, aku iseng lihat-lihat lipstik. Seperti jodoh, aku dipertemukan dengan lipstik ini. Awalnya nggak sreg karena kupikir warnanya terlalu gelap. Ketika dipoles di tangan, aduh cantik! Jadilah ia ikut aku dan toner pulang. 

Sore ini, dengan suasana hati yang masih buruk dan kepala berdenging, aku memoleskan satu pulasan lipstik merah ini ke bibir. 

Aku mematut wajahku di cermin; melihat wajahku yang polos bahkan tanpa bedak, kantung mata yang menghitam, bekas jerawat di pipi, dan warna merah dari lipstikku. Merah jadi satu-satunya warna yang terlihat dari wajahku yang muram. 

Seketika, aku merasa jauh lebih baik. Kepalaku masih berdenging, tapi suasana hatiku sudah tidak seburuk satu jam yang lalu. Aku masih sedikit merasa sedih, tapi warna merah ini seperti mengingatkanku untuk tidak mengutuki apapun. 

Sekarang aku mulai mengerti kenapa perempuan gemar bergincu merah. 

Advertisements

Kosan Berisik! 

Sejujurnya aku nggak suka dengan stereotipe. Aku berusaha nggak menggeneralisasi orang berdasarkan suku atau daerah asal, apalagi agama. Tapi kurasa, untuk tahap kehidupan selanjutnya aku akan lebih selektif memilih kosan. Bukan cuma tentang kelembaban, sinyal, serta kebersihan kamar mandi; tapi juga tentang daerah asal mayoritas penghuninya. 

Hampir seluruh penghuni kosanku yang sekarang berasal dari pulau yang sama. Dan lebih dari setengahnya berasal dari daerah yang sama. Sekarang, mereka sedang berkumpul di bawah dengan teman-temannya yang lain, ketawa jejeritan dan mengobrol seolah-olah tempat ini adalah warung kopi pukul sembilan pagi. 

Aku pakai earphone sampai nyaris tuli tetap percuma. Suara mereka begitu keras dan berkualitas tinggi sehingga menembus semua pertahanan yang kuletakkan di telinga. 

Serius, aku mengenal beberapa orang dari suku dan/atau daerah yang sama seperti mereka, tapi kenalanku itu nggak norak dan berisik macam tetangga kosanku ini. 

Aku langsung hilang minat untuk berkenalan serta menaruh benci pada maba kamar depanku sejak hari pertama ia datang. Gara-garanya, dia membuka pintu dan jendela lebar-lebar, memutar lagu Korea kencang-kencang sampai kedengaran dari pintu gerbang. Beberapa hari yang lalu dia melakukan hal yang sama ditambah ngobrol dengan suara super keras. Belum lagi cara dia tertawa, mirip Bernard Bear (ihihihihi…ihihi..hihii…)

Aku nyaris sinting.

Aku bukannya nggak pernah berisik di kosan. Sesekali, terutama kalau teman-temanku sedang berkunjung, kamarku juga jadi berisik sama ketawa atau nyanyian. Tapi, seenggaknya kami nggak berisik diatas jam sembilan malam. Aku nggak ngerti kenapa tetangga kosanku ini mengadakan perkumpulan entah apa dari sekitar jam delapan sampai sebelas malam. Atau yah, kalaupun memang penting, mbok ya ngumpulnya di warung apa nyewa villa sekalian. Dua puluh empat kamar di sini bukannya disewa sama bapakmu semua.

Sesungguhnya aku rindu suasana kosan di bulan Januari dan Juli-Agustus. Semua orang mudik atau berlibur. Kosan cuma dihuni segelintir mahasiswa tua yang, kalau nggak sibuk sendiri di kamar, ya pulangnya malam. Sunyi, sepi, sarat privasi.

Tanpa segerombolan bebek yang tertawa menjerit-jerit. 

Dokumentasi Tulisan

Aku benar-benar berterima kasih pada para manusia gua karena merekalah yang pertama kali memperkenalkan tulisan sebagai bentuk dokumentasi. Yap, tulisan adalah bentuk dokumentasi favoritku, terutama tulisan tangan. There’s something in handwriting, semacam mereka itu punya emosi atau jiwa tersendiri gitu. Dari dulu aku pengen banget dikasih kado yang pake tulisan tangan gitu, biar personal aja rasanya.

Makanya mungkin kenapa orang suka banget menerima surat cinta, karena ada perasaan yang disampaikan dari tulisan itu. Bukan kata-katanya, tapi setiap huruf yang digoreskan di sana. Biar tulisannya jelek, asal yang nulis si dia mah juga senang kan bacanya, ya. Hazyekk.

Misalnya aja, di cermin lemari orang tuaku, ada tulisan tangan bapak yang berbunyi, “Just wanna say I love you…” yang ditulis dengan spidol hijau. Menurutku, itu adalah tulisan tangan bapak yang paling bagus karena pada dasarnya tulisan bapakku itu seperti cakar ayam. Kelihatannya romantis dan ditulis untuk mamaku ya? Padahal, setelah belasan tahun hidup dengan kepercayaan itu, belakangan aku baru tahu itu cuma lirik lagu yang iseng beliau tulis di cermin. Ah, classic bapak.

Sejak kelas 4 SD, aku mulai terbiasa menulis diary. Aku lupa darimana aku dapat referensi untuk mulai menulis diary. Mungkin dari komik atau cerpen di Bobo.Atau dari buku harian Molen–kakak mamaku. Aku menemukan buku harian itu di rumah, waktu SD. Ada banyak hal yang dicatat setiap harinya dalam jurnal tahun 1995 bersampul cokelat itu, tapi cuma dua peristiwa di sana yang isinya kuingat sampai sekarang:

Yang pertama adalah catatan bertanggal 18 Mei. Hari kelahiranku. Dari jurnal itulah aku mengetahui kalau aku emang udah nyusahin sejak lahir. Molen merekam peristiwa hari itu secara lengkap, mulai dari ketuban yang sudah pecah sejak berjam-jam sebelum aku lahir, aku yang “nyangkut”, sampai akhirnya aku lahir dengan bantuan vakum.

Yang kedua adalah halaman bertanggal 20 Desember. Hari ketika Oma meninggal. Molen lagi-lagi mencatat peristiwa itu dengan lengkap, sehingga aku tahu bahwa di saat terakhirnya Oma memanggil nama cucu terakhir yang dikenalnya, “Cendikia…..”

Sejak itu aku merasa kalau menulis di diary itu adalah sebuah kebiasaan yang keren. Waktu SD, isi diaryku selalu dimulai dengan “Dear Diary,” lalu dilanjutkan dengan cerita semacam “Hari ini pelajaran matematika susah banget” atau “aku berantem sama Dian tapi Ringga ngebelain” atau “Hari ini gigi bawahku copot trus dibuang ke atap sama temanku”. Yah, pokoknya cerita sehari-hari gitulah. Aku belum menggunakan diary sebagai wadah untuk berkeluh-kesah dan menuangkan perasaan. Sayangnya, diary ini menghilang entah kemana. Mungkin udah jadi sampah, secara harfiah.

Masuk SMP, aku ganti diary. Kali ini bukunya berukuran lebih besar dan lebih tebal. Dalam diary SMP ini, aku masih memperlakukan diary-ku seolah dia benda hidup (tapi mati) yang siap menampung semua ceritaku. Mulai dari pengalaman hari ini sampai semua emosi-emosi terpendam. Dalam setiap curhatanku, aku selalu menuliskan “kenapa ya, ry?” atau “tadi si anu begini, ry” atau “coba tebak, ry?!” trus semua curhatannya seolah aku ini anak ABG paling menderita dan merana sedunia. Ahaha alay pisan lah. Diary ini masih aku simpan sampai sekarang dan kalau aku baca lagi, aku langsung mengetuk jidat tiga kali lalu dipindahkan ke lantai sambil membatin, “najong”.

Waktu SMA, aku udah berhenti memperlakukan diary sebagai makhluk hidup. Diary SMA-ku isinya curhat galau sampah nggak jelas. Juga coretan-coretan. Dan remukan. Bahkan pernah aku nulis diary sambil nangis, trus air matanya netes ke buku dan aku lingkari dengan keterangan “bekas air mata 23/9 (23 September)” haha kocaklah. Diary ini juga masih aku simpan dan wujudnya udah kaya Wreck This Journal. Emosional banget pokoknya. Kalau yang ini mah pas dibaca cuma bikin nyengir sambil ber-“ehehe” ria.

Begitu kuliah, aku udah nggak nulis diary. Sempat sih, kemarin mau mendokumentasikan seluruh kegiatan KKN dalam bentuk diary. Aku bahkan udah beli (dan bawa ke Pasirnagara) bukunya. Cakep banget. Sampulnya hard cover warna biru polos. Tebalnya udah kuperkirakan pasti cukup untuk 30 hari. Saking terobsesinya, aku bela-belain nyari buku polos kaya gini kemana-mana! Trus aku merencanakan diary ini bakal diisi sama ceritaku dan foto-foto. Aku bahkan udah memikirkan mau bikin gaya nulisnya kaya apa! Referensinya The Diary of A Wimpy Kid bangetlah.

Sayangnya, diary ini cuma kutuliskan sampai hari keempat. Soalnya, aku nggak menemukan waktu aku bisa duduk sendirian dan menulis. Yak, rumah KKN itu selalu berisi manusia. Nggak pernah sepi! Sekalinya bisa sendirian di kamar, ndilalah ada yang masuk. Mau nulis di masjid, hmm waktu itu nggak kepikiran.

Pernah aku mencoba bertahan untuk nulis walaupun ada orang lain di ruangan yang sama. Rasanya nggak nyaman banget. Apalagi si teman ini melihatku dengan penuh rasa ingin tahu dan bertanya, “Apaan tuh? Kok nggak nulis di buku biru (yang dari kampus)?”. Pada akhirnya, cerita KKN-ku cuma terekam dalam folder 10GB berisi foto dan video. Nggak ada diary. Nggak ada postingan blog. Trus kemana cerita-cerita yang nggak terekam kamera? Mungkin aku udah lupa.

Semua curhatan-curhatan senang, galau, marah pas kuliah aku tuliskan dimana-mana. Di kertas polos, di bagian belakang binder, di kertas bekas ujian, di bungkus gorengan, di laptop, di blog, tersebar di penjuru dunia. Yang berbentuk kertas masih aku simpan, walaupun sejatinya aku lupa ada di mana. Semoga bisa kutemukan waktu nanti mau pindah dari kosan ini.

Balik lagi, aku suka dokumentasi berbentuk tulisan karena itulah ingatan sebenarnya. Maksudku, misalnya lagi liburan atau kumpul sama teman-teman. Nggak ada kan, fotografer yang ngikutin sepanjang hari dan merekam semua hal—mulai dari muka cengo sampai ketawa lepas. Aku bukan Kate Middleton, plis. Dapat foto candid juga pasti jarang banget. Nah, foto akhirnya cuma merekam hal-hal yang udah dipersiapkan. Entah itu selfie atau foto yang dipotret bergantian. Ketika melihat foto itu lagi, kita pasti nge-recall memori dan dibutuhkan kata-kata untuk mengingat kembali semua keseruan dibalik foto itu.

Kaya misalnya, aku sampai sekarang masih suka baca postinganku waktu ke Malang kemarin. Liatin foto-foto kami yang ribuan itu memang menyenangkan. Tapi foto-foto itu nggak cukup bikin aku ketawa-ketawa. Pas baca blog itulah, aku ketawa lagi mengingat kami yang sedikit nyasar waktu pulang dari Batu. Kamera nggak merekam peristiwa itu.

Atau cerita waktu ke Jogja yang dituliskan Mumut dan Firda (ayo lanjutin!). Kebetulan waktu itu produksi foto kami nggak sebanyak waktu ke Malang. Tapi, dari postingan mereka itu aku ngakak lagi ingat gimana hebohnya kami memindahkan barang-barang, bantal, bahkan air mineral. Juga perasaan kesal ke dewan juri waktu itu. Tulisan merekam semua perasaan, emosi, dan sudut pandang yang nggak bisa direkam kamera. Karena sekali lagi, nggak ada paparazzi yang berminat mengikuti kehidupan pribadiku.

Satu lagi yang bikin dokumentasi tulisan adalah bentuk dokumentasi terbaik, yaitu nulis itu gampang! Haha maksudku bukan nulis beneran kaya nulis sastra gitu ya. Maksudku, kalau mau menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, ya tinggal ditulis (atau diketik). Ambil kertas (atau laptop dan sebangsanya), ambil pulpen atau pensil dan karib-kerabatnya, trus tinggal tulis. Beda dengan foto yang buat motretnya aja butuh waktu minimal buat nyari fokus. Apalagi video.

Apapun bentuknya, yang namanya dokumentasi memang penting. Dokumentasi bisa jadi hiburan sederhana kalau lagi sedih. Dokumentasi juga bisa jadi suvenir gratis setelah berkunjung ke tempat baru. Pokoknya, selagi sempat, selagi mampu, bikin dokumentasi yang banyak!

Terapi Menulis

Kemarin-kemarin waktu lagi ngumpul, seorang teman bilang kalau dia pengen bikin blog. “Tapi yang isinya kaya opini-opini gitu, bukan curhatan kaya punya Kiyur,”. Oh ya, Kiyur itu aku.

Hehehe emang sih blogku isinya kebanyakan curhatan sampah nggak jelas. Kalaupun ada yang sedikit bermanfaat, mungkin tulisan tentang perjalanan liburanku (yang nggak banyak) dan juga resep masakan coba-coba yang aku bikin di kosan. Sisanya yah paling pendapatku tentang fenomena yang aku lihat di jalanan atau di media sosial, juga curhatan galau-galau cabe. Yang terakhir ini rasanya mau aku private-in aja deh karena terlalu memalukan. Makanya, aku nggak menasbihkan diri sebagai blogger karena predikat itu hanya untuk mereka yang main di blogspot blogku nggak terfokus. Predikat itu lebih pantas disandang mereka yang punya blog terfokus pada suatu hal dan bertanggung jawab untuk membesarkannya. Sehingga lahirlah fashion blogger, beauty blogger, travel blogger, food blogger, movie blogger, lawak blogger, dan blogger-blogger “menghasilkan” lainnya.

Kemarin sempat sih agak kaget karena postingan lamaku, Sistem Perpacaran Indonesia, statistiknya sampai 500-an gitu selama beberapa hari. Wah, kenapa nih. Bot-kah? Tapi kok cuma di satu postingan doang, nggak di banyak post? Biasanya postingan ini emang laris manis sih, tapi ya nggak sampai ratusan gitu views-nya. Pokoknya kalau mengangkat cecintaan, pasti lakulah haha secara banyak cabe kan. Setelah aku telusuri, ternyata ada yang naro link postinganku itu di salah satu akun (sepertinya) seleb ask.fm. Di jawabannya itu, dia menentang habis-habisan semua pendapatku. Ih, bodo amat nggak kenal ini haha. Kan tiap orang punya pandangan masing-masing. Kaya nggak semua orang bilang kucing itu lucu. Ada juga kan yang bilang menyebalkan, bahkan mengerikan. Woles ajalah, shay.

Bagiku blog adalah tempat yang tepat untuk menuangkan semua pemikiran secara bebas, nggak saklek terikat ini-itu. Nggak terbebani harus memuaskan siapa aja. Pokoknya suka-suka banget lah. Bagiku, blog itu kaya mind palace-nya Sherlock Holmes. Tapi ya blogku jauhlah dari isi kepalanya si Sherlock yang sampai bisa dipake berantem sama Moriarty itu. Blogku ini mungkin lebih tepat disebut sebagai mind bale-bale. Sederhana, sepi, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Tempat terbaik bagiku untuk menyepi dan menenangkan diri. Sesekali kutulis sambil ngemil atau ngeteh. Kadang-kadang kopi, bisa juga cokelat atau cuma air putih. Dan cuma ada aku dan sedikit orang yang kukenal.

Bagiku, blog juga jadi tempat yang tepat untuk melarikan diri dari rasa jenuh. Misalnya, waktu lagi muak ngerjain tugas kampus, pasti aku kepikiran sesuatu untuk ditulis di blog. Setelah dituliskan, duh rasanya lega. Bisa mengutarakan pendapat yang sebenarnya nggak perlu didengar orang lain itu rasanya benar-benar menyenangkan dan melegakan. Karena itulah satu-satunya cara untuk mendiamkan otakku yang suka cerewet tanpa tahu aturan.

Blog juga jadi tempat yang tepat bagiku untuk merenung. Seperti tagline blogku, thought but never heard, aku menuliskan berbagai renunganku tentang berbagai hal di blog. Bisa shower thoughts atau pikiran-pikiran usil yang datang sebelum aku jatuh tertidur.

Belakangan, aku emang jarang sih tulis-menulis di blog. Soalnya, aku nggak begitu suka nulis lewat ponsel! Jadi, keyboard virtual di ponselku itu benar-benar keyboard yang tepat untuk digunakan kalau kamu ingin mendapat gelar raja typo. Walaupun aku yakin udah menekan tombol yang benar, tetap aja ternyata meleset. Tapi enggak aku ganti soalnya aku suka suara cetak-cetaknya waktu lagi ngetik. Aku lebih nyaman nulis di word atau notepad di laptop. Lebih enak dan lebih cepat. Sayangnya, entah kenapa wordpress suka rada susah dibuka lewat laptopku, enggak ngerti kenapa. Jadi, draft tulisanku harus dipindah dulu ke ponsel, baru dipost. Ribet, hehe.

Curah-mencurah perasaan melalui medium tulisan sebenarnya bukan pertama kali aku lakukan lewat blog. Sejak SD, aku rutin menulis diary. Waktu SD, diaryku memang isinya kegiatan yang kulalui hari itu. Dear Diary, hari ini aku makan gulai buncis. Tapi ternyata aku malah kegigit cabe rawit. Pedes…. Begitu SMP, isi diaryku mulai berubah jadi pelampiasan perasaan-perasaan yang nggak tersampaikan. Mulai dari perasaan suka, marah, kesal, ingatan tentang hal-hal lucu di sekolah, semuanya ada. Salah satu diary SMP-ku bahkan wujudnya seperti Wreck This Journal; ada bagian yang isinya coret-coretan penuh amarah, ada yang sobek, ada yang kugambar-gambar nggak penting. Emosional lah, pokoknya. Sehabis melampiaskan emosiku itu dalam bentuk tulisan, rasanya legaaaa banget. Dari yang tadinya marah jadi berkurang marahnya. Dari yang tadinya sedih jadi ngerasa biasa aja.

Dari novel Pasukan Matahari-nya Gol A Gong, aku jadi tahu kalau terapi menulis itu beneran ada. Secara umum, terapi menulis adalah terapi yang dilakukan untuk menghilangkan stress atau mengeluarkan perasaan-perasaan terpendam yang nggak bisa kita utarakan ke orang lain. Bagi sebagian orang (termasuk aku), curhat mendalam itu susah loh. Kadang kita pengennya Cuma didengerin aja curhatnya, nggak usah ditanggepin. Tapi ya namanya kalau curhat sama manusia pasti ada feedback-nya, minimal usap bahu plus ucapan klasik “sabar ya…”

Dengan terapi menulis, kita belajar untuk mengeluarkan segala emosi yang kita pendam. Konon, terapi menulis juga bisa mengurangi depresi, loh! Makanya kegiatan tulis-menulis ini jadi kegiatan yang bikin nyaman. Apalagi, menulis sebagai terapi ini nggak menuntut orang untuk menuliskan perasaannya melalui kata-kata puitis. Terserah deh pokoknya, yang penting tuliskan aja semua perasaanmu. Nggak peduli pakai gaya sastra atau bacotan amburadul, EYD-nya bener atau ambrul, struktur kalimatnya bener apa ngaco, pake tata bahasa super sopan atau segala per-anjir-dan-goblok-an, pokoknya tulisin aja! Toh, nggak ada yang namanya target pembaca. Peduli jenggot sama pendapat orang lain. Yang penting mah kitanya sembuh dari penyakit hati. Itu tujuan utamanya.

Kalau aku sih, sekarang udah nggak bikin diary lagi, soalnya udah mulai malas nulis tangan yang panjang-panjang, hehe. Lebih enak nulis di laptop, trus disimpan sendiri buat nanti dibaca-baca lagi kalau iseng.

 

(Sejatinya tulisan ini sudah ditulis sejak zaman Triassic tapi baru di-post sekarang. HEHE.)

Simple Dimsum

Beberapa minggu yang lalu, aku pengen banget makan dimsum tapi yang di Bambu Dimsum. Nggak tahu kenapa, otakku merekam kembali sensasi kekenyalan dimsum yang dikukus dan direbus. Mengingat dimsum yang bening dan ada udang di dalamnya itu…. amboi, aku menggelinjang! Pengen banget! Tapi Bambu Dimsum jauh.

Saking pengennya, aku sampai nyari-nyari resep dimsum atau siomay. Dilihat-lihat, sebenarnya gampang sih. Tapi kalau bikin sendiri malas juga ahaha. Akhirnya aku membeli siomay di mang-mang dan aku masih nggak puas. Ngidam dimsum banget pokoknya.

Jadilah, aku mengusulkan untuk bikin dimsum ke bocah-bocah. Mereka setuju, tapi nanti aja kalau udah full team. Waktu itu kami pun memutuskan untuk bikin tumisan daging dan tempe goreng.

Kemarin, ide membuat dimsum terlontar lagi. Kali ini benar-benar spontan karena dilakukan setelah kami melahap seporsi nasi padang dengan dendeng, ayam, atau telur gembung.

Dimsum ini adalah masakan terbaik kedua yang pernah kami buat setelah BBQ Mandiri! Bikinnya super gampang. Bisa bikin di kosan dan nggak perlu mondar-mandir di dapur. Semuanya bisa kamu lakukan dengan duduk di lantai kosan dan sesekali memutar pinggang untuk mengambil ini-itu.

Oh ya, di resep dimsum yang aku baca, dimsumnya menggunakan tepung sagu. Mungkin biar padat gitu ya. Tapi di resep ini kami nggak pakai tepung. Cuma ayam, wortel, telur, sama daun bawang buat isiannya. Mungkin nanti bisa nyobain varian isian yang lain kaya udang atau ikan.

Ternyata, ada alasannya kenapa dimsum itu wujudnya cenderung bulat. Biar gampang dimakan pakai sumpit! Jadi, pastikan dimsummu dibentuk bulat ya, jangan dilipat amplop karena bakal klewer-klewer pas dimakan. Dimsum ini juga bisa dimasak dengan dikukus atau direbus. Kalau mau cepat sih, direbus. Tapi aku sendiri lebih suka teksturnya kalau dikukus karena rasanya lebih padat.

***

Simple Dimsum (featuring step-by-step picture from my Instagram Stories 😀)

img_20160914_165411.jpg

Porsi: 5 orang

Bahan:

img_20160914_155054.jpg

1 bungkus kulit pangsit rebus (± 50 lembar)

160 gr daging ayam giling

1 buah wortel ukuran besar, potong kotak kecil

1 batang daun bawang, iris tipis

2 siung bawang putih, rajang halus

2 butir telur, sisakan sedikit putihnya untuk menempelkan kulit

Gula, garam, merica, dan kaldu bubuk sesuai selera

Saus Bangkok untuk cocolan

 

Cara membuat:

img_20160914_155103.jpg

Panaskan air di rice cooker untuk mengukus/merebus. Kalau ingin membuat versi kukus, pastikan permukaan air tidak sampai menyentuh dasar partisi kukusan supaya tekstur dimsum yang padat bisa didapat.

Campur ayam, telur, wortel, dan daun bawang sampai rata.

Tambahkan gula, garam, merica, dan kaldu bubuk sesuai selera. Cicipi sampai mendapat rasa yang pas.

Masukkan 1 sdm adonan isi ke kulit pangsit. Lipat dengan mengerucutkan ujung-ujung kulit pangsit, rekatkan bagian dalamnya dengan putih telur. Lakukan sampai adonan habis.

img_20160914_155843.jpg

Kukus/rebus dimsum sampai kulit pangsit kenyal dan tidak ada lagi tepung yang terlihat di kulitnya.

img_20160914_163126.jpg

Sajikan bersama saus.

 

***

Simple dimsum ini bukan hanya enak, tapi juga murah! Modal yang dikeluarkan untuk semua bahan itu adalah Rp38 ribu. Sebenarnya dimsum ini akan lebih enak kalau menggunakan daging lebih banyak. Tapi, berhubung coba-coba takut gagal dan mubazir, jadilah bikinnya sedikit dan kecil-kecil. Itu juga untuk menghabiskan si kulit pangsit yang umurnya pendek. Pokoknya, dimsum ini sangat tepat untuk dibikin di kosan rame-rame sama teman sepermainan!