Month: August 2016

Anakku, Mbok’e Khawatir

Anakku, sekarang mbok’e sedang tiduran di kasur sambil mendengarkan sebuah lagu dari Imagine Dragons. Tidak tahu apa judulnya. Lagu ini diputar di sebuah stasiun televisi tidak terkenal, yang siang hari menayangkan iklan panci atau peralatan fitness. Sebelumnya, mbok’e marathon film The Kings of Summer dan Seven Psychopaths. 

Anakku sayang, kamu memang belum lahir. Mbok bahkan tidak tahu siapa orang yang cukup beruntung untuk jadi bapakmu. Tapi, kamu harus tahu malam ini ada satu hal yang mbok khawatirkan untuk kehidupanmu nanti. 

Ini tentang makanan.

Kamu harus tahu nak, ada banyak makanan yang tidak bisa mbok masak dan mbok makan. Mbok tidak bisa membayangkan kalau nanti kamu tumbuh besar dengan mengikuti selera makan mbok. Bisa-bisa kamu kurang gizi. 

Mbok tidak suka makan ikan, nak. Terutama yang masih berwujud ikan; dengan matanya yang melotot dan mulut menganga. Terlihat konyol dan mengerikan. Dan menggoreng ikan adalah hal mengerikan lain setelah penampakan tokek di posko KKN mbok dulu. 

Tapi, ikan bergizi tinggi dan baik untuk dirimu. Konon, lele si ikan kampung yang makan kotoran itu kandungan gizinya lebih banyak daripada salmon. Auntie Syasya sangat suka makan ikan sehingga dia tumbuh begitu besar. Seperti raksasa.

Begitu juga dengan ceker ayam. Mbok pernah baca kalau ceker sangat baik dimakan saat masa pertumbuhan. Sayangnya, ceker juga termasuk dalam daftar hal mengerikan yang dikeluarkan oleh pikiran mbok. Kamu bayangkan saja, bagaimana rupanya sepotong kaki di puncak gundukan nasi? 

Belum lagi kuning telur, atau cumi-cumi. 

Mungkin nanti mbok bisa saja masakkan udang untukmu. Hanya jika para penjual di pasar masa depan berbaik hati mengupaskan kulit udang sebelum dijual. 

Anakku, mbok khawatir kalau nanti kamu harus makan makanan olahan. Kamu tahu, nugget dan sosis itu pada dasarnya hanyalah tepung berperisa ayam, sapi, atau ikan. Jangan sampai nanti kamu makan karbo lauk karbo. 

Mbok ini takut kamu tidak bisa makan makanan-mengerikan-tapi-kaya-gizi itu karena mbok bahkan tidak sudi hanya untuk meliriknya. Tapi kamu harus, nak. Kamu layak dan berhak untuk hidup dengan memakan makanan bergizi. Serta tidak mewarisi selera makan mbokmu ini. 

Anakku, semoga bapakmu adalah chef yang doyan semua jenis makanan. 
Jatinangor, 26 Agustus 2016

Mbokmu ketika 21 tahun. 

Advertisements

Halo, Dungu

Aku mungkin nggak tahu apa-apa tentang pagi yang indah, tapi aku tahu ini adalah pagi yang buruk. Sangat buruk karena aku mengumpat dan sholat subuh yang terlambat. 

Jadi, tinggal di kosan membuat kita harus terbiasa dengan fasilitas umum. Mulai dari parkiran, pintu pagar, sampai dapur lengkap dengan kompor dan bak cuci piringnya. Tambahan khusus untukku dan banyak orang lainnya: kamar mandi bersama. 

Sebelum masuk ke cerita kamar mandi, aku akui kalau kadang memang aku sering jorok. Kaya nggak mandi sampai tiga haru berturut-turut dan hanya gonta-ganti pakaian dalam. Atau kamarku lebih sering dalam mode kapal pecah alih-alih kapal Titanic. Tapi, dengan penuh percaya diri aku katakan, aku selalu berusaha untuk tidak menjadi “si dungu” di fasilitas umum.

Di kosanku yang pertama, zaman maba dulu, aku pernah menemukan kejadian “si dungu” ini. Ceritanya, di kosan itu kami berbagi kompor dan bak cuci piring. Aku nggak tahu apakah teman kosanku ini primitif, dalam artian nggak pernah mencuci piring di bak cuci atau kenapa, yang jelas dia dungu sekali. Kalau sekadar busa sabun yang lupa dibilas di bak cuci, aku masih bisa tabah. Tapi, gimana dengan sisa gulai yang berminyak, sambel, sayuran, tulang ikan, tulang ayam, dan sampah lainnya berserakan di seluruh penjuru bak cuci? Aku melongo kagum.

Bak cuci itu akhirnya tetap bersih setelah aku menempelkan ajakan untuk membersihkan bak cuci setelah digunakan. Ditulis dengan spidol warna-warni, lengkap dengan ilustrasi ceria sebagai ekspresi kemarahanku. 

Di kosan yang sekarang, kami berbagi kamar mandi. Beberapa orang sering lupa menutup keran air dan membiarkan bak mandi meluap. Aku menempelkan ajakan untuk tidak lupa menutup keran air, lengkap dengan sedikit fun fact dan ilustrasi tetesan air yang sedang menangis. Selama beberapa saat, ajakan itu cukup efektif mengurangi angka keran yang lupa ditutup. Khilaf sesekali masih bisa dimaafkan. 

Semuanya berubah ketika empat dari enam penghuni lorongku digantikan oleh maba yang polos dan nggak lucu.

Angka keran yang lupa ditutup meningkat tajam. Apa mereka sebegitu pelupa? Atau….  ah, aku kagum kenapa ada orang yang tidak bisa membaca tapi bisa masuk ke universitas negeri di tahun 2016. Program Indonesia bebas buta huruf itu dimulai tahun berapa, ya? 

Kemarin, seseorang mencuci piring di kamar mandi, meninggalkan busa sabun dan sisa nasi di lantai. Dungu kan? Padahal di bawah ada bak cuci piring. Oh, atau mungkin nggak dungu. Cuma kampungan. 

Sampailah pada pagi ini yang bikin aku nggak bernafsu bahkan hanya untuk minum air putih. Setelah mendapati aku akan sholat subuh di waktu duha, aku segera ke kamar mandi untuk wudhu. Mendengar suara gemericik air pertanda bak mandi yang meluap, sebenarnya sudah cukup membuat kesal yang tertahan. Tapi, ketika membuka pintu kamar mandi, mataku langsung disuguhi pemandangan residu padat hasil metabolisme seseorang, mengambang lupa disiram. Sebuah sapaan selamat pagi yang bagus. 

Sialnya, semua orang sudah pergi. Jadi si dungu ini, siapapun dia, nggak mendengar aku yang menyiram peninggalannya sambil mengumpat dan menyumpahi dirinya. 

I don’t know who are you, dear dumbie. But I will find you, and make you eat your shit up. Kiss. 

Ceritanya Hari Ini…. 

Berhubung sudah bulan Agustus, aku berniat untuk lebih produktif. Apalagi setelah menyadari beberapa bulan belakangan hidupku tersia-siakan banget. Satu-satunya hal bermakna yang kulakukan dalam rentang waktu sejak kelar job elek dan pulang adalah ke Jogja. Ikut lomba, alhamdulillah menang, dan dapat liburan singkat, hehe. 

Jadilah, hari ini aku berniat ke perpus trus ke Cikapundung. Ke perpus cuma buat minjam buku yang alhamdulillah langsung ketemu dua buku yang aku cari. Nggak lama di perpus, aku langsung cabut ke pangdam. 

Aku naik Damri jurusan DU. Tadinya, kukira Damri bakal penuh banget, soalnya hari ini ada wisuda di DU. Ternyata, pas sampai pangdam, Damrinya relatif kosong. Baru pas di halte banyak yang naik. Bau-baunya sih pada mau ke wisudaan. Belakangan aku baru ngeh, kenapa aku nggak naik Damri Elang, trus nyambung naik Damri Leuwi Panjang – Cicaheum. Kan lebih gampang ya, aku nggak perlu jalan kaki dulu dari Braga. Tapi mungkin itulah takdirku biar ketemu sama banyak cerita hari ini. 

Aku duduk sendiri di dekat jendela. Hampir semua kursi udah terisi penuh. Di depan IPDN, naik lagi beberapa orang. Seorang bapak-bapak berbaju Bali warna merah dan berkaca mata hitam duduk di sampingku. Perawakannya mirip Raul Lemos, suaminya Krisdayanti. 

Aku pakai udah pakai earphone sejak dari pangdam. Sebelum masuk tol, si bapak berbasa-basi menanyakan tujuanku. Tapi setelahnya, beliau kaya pengen banget ngobrol gitu. Kupikir dia tipikal orang yang emang suka ngobrol gitu buat menghilangkan kejenuhan selama perjalanan di bus. 

Akhirnya aku (terpaksa) nyopot earphone karena nggak sopan kan ya, ada orang ngajak ngobrol tapi kitanya malah tutup kuping. Pas mau bayar, ndelalah si bapak malah bayarin aku! Awalnya aku nggak mau, da nggak enak kan masa dibayarin orang nggak dikenal. Maksudku, kalau bapak ini juga berasal dari Jambi atau minimal alumni Jurnal, mungkin masih oke karena adanya common denominator. Si bapak bilang, “udah gak apa-apa saya bayarin. Saya ini mau ke imigrasi. Kan kalau saya naik angkot nyambung-nyambung, ongkosnya juga sama aja kaya bayarin mbak naik bus”. Beliau ternyata dari Timor Leste. 

Sempat takut sih sebenarnya, jangan-jangan ada udang dibalik batu. Padahal ya siapa tahu emang beliau adalah orang yang sangat ramah dan baik hati. Apalagi aku lihat di dompetnya banyak duit, jadi apalah arti 7000 itu. Iya, anggaplah demikian. Nggak boleh suudzon kan yaa.

Aku turun di Cikapayang trus naik angkot ke Braga. Di dalam angkot cuma ada empat orang termasuk aku, tiga di sebelah kiri (tepat di belakanh supir) dan aku sendirian di kanan. Di depan BIP, seorang cowok naik dan duduk di sebelah kananku. 

Karena awalnya sendirian, aku cuek aja memangku ransel dengan posisi resleting menghadap kanan. Ketika si cowok itu masuk, entah kenapa aku juga cuek aja, nggak reflek mengganti posisi si tas. 

Setelah itu, nggak sengaja aku lirik kanan. Posisi ransel cowok itu menutupi mulut tasku. Deg! Jantungku lemas. Aduh, gimana nih kalo copet. Isi dompetku emang cuma dua puluh ribu. Tapi kan itu buat makan siang sama ongkos pulang. Gimana kalau dia ngambil hp? 

Akhirnya, aku menarik tasku dengan gerakan agak tiba-tiba. Waktu itu, resleting tasku udah agak terbuka. Nggak lebar sih, tapi cukup untuk memasukkan tangan dan merogoh apapun yang ada di dalamnya. Aku makin lemas, tapi berusaha pasang muka cool. Aku buka tas untuk pura-pura nyari recehan sembari ngecek semua barang yang alhamdulillah masih aman. Tas langsung kupeluk erat. 

Aku nggak tau apakah insiden resleting terbuka itu karena aku memang lupa mengancingkan resleting rapat-rapat, atau memang cowok tadi berniat jahat. Tapi yang jelas, beberapa detik kemudian dia turun di bawah JPO dekat Balai Kota. 

Insiden resleting ternyata bukan cuma itu aja. Begitu sampai Cikapundung, aku langsung menuju penjual majalah bekas di emperan trotoar PLN. Sambil duduk bersila, aku mengobrak-abrik majalah yang ada. Ransel tetap di punggung. Mungkin karena lagi sepi juga, aku nggak kepikiran buat memindahkan ransel ke depan atau ke sampingku. 

Pas mau memasukkan majalah ke tas, aku kaget lagi. Kantong laptop di tasku ini letaknya di luar, jadi punya resleting sendiri gitu. Tadi, isinya adalah laptop dan kertas-kertas fotokopian. Yang bikin kaget adalah, resletingnya udah kebuka setengah! Masalahnya, kantong laptop ini sama sekali nggak aku sentuh dari tadi. Beda dengan kantong utama yang berisi dompet, hp, dan semua perlengkapan duniawi, makanya sering dibuka dan mungkin aja nggak tertutup rapat. Tapi alhamdulillah, laptopnya masih selamat. Syukurlah, semua isi tas ini masih jadi rezekiku. 

Pulangnya aku naik Damri ke Leuwi Panjang karena mikir dari DU pasti rame banget. Di gerbang terminal, aku dihampiri aa calo elf.

“Mau ke mana neng? Garut? Tasik? Cileunyi?”

“Jatinangor, a,” jawabku sambil mempercepat langkah.

Si aa sumringah sambil menyejajarkan dirinya denganku. “Pas neng. Naik elep aja atuh yak?” 

“Nggak,  Damri aja a,” sambil ngomong gitu, kakiku kejeglug lobang. Untung nggak jatuh. Kan keki ya, udah ngejawab rada judes gitu eh malah jatuh di depan si aa. 

Aku merasa kaya Allah baik banget, tau aku lagi kere makanya cuma diingatkan lewat insiden-insiden resleting itu. Juga menyelamatkan 7000-ku, yang kemudian disulap jadi sebuah onigiri dari Indomaret Point :”)

Romance

Ceritanya barusan aku baca episode terbaru Family Over Flowers di Webtoon. Komik ini adalah komik komedi dan beneran kocak! Ceritanya tentang sekeluarga yang semuanya indah bagaikan bunga, kuat seperti rumput liar: Julian, Yuri dan kedua orang tua mereka Sebastian Dohk dan Nari Ki. Selain itu ada juga tokoh lain berwajah oke kaya Napoleon, Richard, dan Misty. Juga tokoh sampingan lain berfisik pas-pasan: Oxford, Annoi, dan Otakura. Tambahan lain adalah cewek-cewek berwajah kekar dan kepala sekolah yang suka mengadakan kontes absurd.

Komedi andalan komik ini adalah memutarbalikkan dunia: manusia kekar brewokan disebut sebagai perempuan cantik, trus pernah juga cerita soal sampah udon kimchi yang dibikin kaya cerita pembunuhan. Trus Napoleon yang kalo ngomong bahkan bisa bikin matahari bergidik geli. Hal-hal kecil bisa jadi super heboh kalau di sini.  Komik ini benar-benar pintar mengolah kelebayan yang hakiki menjadi sepiring komedi yang hangat *ikutan Napoleon*

Meski secara garis besar komik ini adalah komik komedi, tapi sesekali ada selipan romantisnya juga. Cerita romantis datang dari Napoleon dan Yuri. Di pengenalan tokoh, Yuri itu digambarkan berwajah pas-pasan. Bahkan ketika Julian dihampiri kupu-kupu, Yuri malah ditabrak tawon. Tapi, semua berubah setelah Yuri mengenal Napoleon. Pelan-pelan Yuri berubah jadi cantik karena “perempuan akan jadi lebih cantik ketika jatuh cinta”. 

Kenapa Napoleon yang tampan suka sama Yuri?


Cerita Napoleon-Yuri tuh jarang banget dimunculkan. Akhirnya, ketika sekaliny mereka comeback sampailah pada cerita hari dimana Yuri bakal ulang tahun. Napoleon pengen ngasih sesuatu, sehingga dia memutuskan untuk kerja sambilan. Di tempat kerja, Napoleon ketemu sama Purple, cewek super sensitif yang dapat julukan “Rusa Kesepian”. Si Purple ini pokoknya kaya Napoleon versi cewek. Dia juga mengeluarkan aura dingin dan ngomong pakai bahasa sok puitis gitu. Pembaca ketar-ketir lah yaa, Napoleon udah fix sama Yuri! Nggak boleh ada orang ketiga! 

Lalu, endingnya:

AAAAKKKKKKK!!!!! 💜💜💜💜💜💜

Asli, aku suka banget cerita roman yang kaya gini! Pacing-nya lambat, cuma jadi selingan dan nggak dikit-dikit pamer kemesraan, tapi sekalinya muncul nendang banget. Aku sampai jejeritan guling-guling sendiri pas baca episode ke-200 ini. Ya ampuuunn manis banget nggak siihh. Aku jadi tersipu sendiri hehehe…