Month: July 2016

Nikah Muda

Kemarin aku menghadiri resepsi pernikahan Nelsi, teman SMA-ku. Bisa dibilang waktu SMA hubunganku dengan Nelsi cukup dekat. Apalagi di akhir kelas 12 kami sering pulang bareng rame-rame jalan kaki, dan cuma Nelsi yang anak IPA.

Pernikahan Nelsi jadi kondangan teman pertama yang kuhadiri. Sebelumnya, emang udah ada beberapa teman SMA yang menikah. Tapi aku nggak bisa datang karena aku lagi di Nangor. Jadilah, waktu kondangan kemarin aku merasa waw banget. Maksudku, aku ini hadir sebagai tamu, loh. Ikut salam-salaman dan rame-rame foto bareng pengantin. Oh, ternyata gitu rasanya, hehe. Selama ini aku cuma datang ke pernikahan sepupu-sepupuku. Karena nikahannya saudara, aku mah slengean aja. Di pernikahan salah satu sepupuku, aku bahkan melewatkan acara foto keluarga karena terlalu sibuk mengantre siomay. 

Trus tadi, aku ketemu Cici, temanku sejak masih merangkak di bangku TK. Dia cerita, insya Allah bakal nikah Februari tahun depan. Wah, aku kagum. 

Sejujurnya aku bukan orang yang mendukung nikah muda. Maksudku, awal usia 20 itu rasanya masih sangat tepat untuk egois, untuk memikirkan kepentingan diri sendiri. Entah untuk melanjutkan pendidikan, mulai meniti karier, jalan-jalan yang jauh, atau sekadar kongkow sama teman-teman dekat. Makanya, aku kagum banget sama orang yang berani memutuskan untuk menikah di awal usia 20. Selain alasan untuk menghindari fitnah dan zina, mereka hebat banget bisa punya kemantapan hati untuk membina rumah tangga di usia yang masih pengen banyak main. Mereka juga hebat karena bisa yakin dan mantap untuk mengarungi kehidupan sampai mati dengan orang itu. Kagum pokoknya! 

Aku dibesarkan dengan pemahaman bahwa seorang istri boleh aja berkarier, tapi dia nggak boleh melupakan kodratnya untuk mengurus suami. Aku besar dengan melihat mamaku setiap pagi bikinin kopi buat bapak, menyiapkan sarapan, trus menyiapkan makanan tiap kali bapak mau makan, lalu sibuk mengurus bengkel dan masih sempat juga berorganisasi. Dengan pemahaman seperti itu, aku jadi membuang jauh-jauh pikiran buat nikah muda. Aku belum siap untuk mengubah rutinitas harianku. 

Aku termasuk orang yang berpegang pada prinsip bahwa pernikahan adalah tentang apa yang terjadi setelah ijab qabul, bukan tentang meriahnya pesta, mewahnya hantaran, atau kecenya foto pre-wedding (kalo aku sih maunya post-wedding aja). Alih-alih memikirkan gimana caranya bikin pesta pernikahan yang memorable dengan bajet minim, aku lebib memikirkan apakah aku siap bangun pagi dan bikinin kopi untuk orang itu? Apakah aku siap menyatukan dua keluarga yang udah pasti beda banget? Apakah aku siap menghadapi mertua dan kakak/adik ipar sebagai bagian dari keluargaku?

Alih-alih menghabiskan 50 juta cuma untuk pesta sehari, mending uangnya dipakai buat nge-DP rumah apa daftar haji sekalian. Yaa kecuali kalau suamiku nggak menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida melainkan mengeluarkan uang mah, cerita lain. 

Eh, nggak ding. Tetap aja aku sendiri nggak suka pesta dengan semua keramaiannya. Apalagi kebanyakan tradisi pernikahan di Indonesia kan pengantinnya dipajang doang di pelaminan. Wah, males! 

Tapi yaah, tiap orang pasti punya alasan logis masing-masing untuk setiap hal yang dilakukannya. Misalnya, ada orang yang mau nikah muda biar cepat ketemu anaknya, sehingga jarak usia antara dia dan si anak nggak begitu jauh. Atau mereka yang berprinsip pesta pernikahan harus meriah, karena ya namanya momen sekali seumur hidup (amin). Harus berkesan dong bagi kedua mempelai, bukannya untuk pamer sama tetangga dan kolega.

Makin ke sini, aku makin ngerti kalo selain materi, modal nikah tuh bukan cinta, tapi komitmen! Guru bahasa Inggris-ku waktu SMA pernah bilang, nanti kalau usia pernikahan udah belasan atau puluhan, yang namanya cinta tuh udah beda. Apa yang disebut cinta ketika pernikahan memasuki usia 20 tahun, beda dengan cinta ketika pernikahan baru berusia dua hari. Komitmen adalah hal terpenting karena itulah yang bikin kedua manusia tetap bertahan bersama walaupun mungkin kadang-kadang enek juga liat orang ini bertahun-tahun. 

Abik #1

“Ki, kenapa lukisan yang corat-coret gitu ada yang mau beli?” tanya Abik, adikku yang baru naik ke kelas 4. Sejak tengah malam tadi dia ada di pelukanku. Aku peluk biar cepat tidur, malah mengobrol panjang tentang dinosaurus, game komputer,  akar pangkat, Nabi Ibrahim, dan hampir pukul dua dinihari malah kepikiran soal lukisan.

“Lukisan abstrak maksud Abik?”

“Iya, lukisan abstrak. Kenapa ada orang yang mau beli sampai bermilyar-milyar, padahal cuma coret-coret gitu aja,”

“Yaa, untuk orang yang ngerti seni, lukisan abstrak itu bagus. Mungkin menurut dia ada pesan yang mau disampaikan dalam lukisan itu,” jawabku. 

“Ki ngerti seni?”

“Nggak,”

“Kalau gitu nanti Abik akan jadi orang yang seperti itu. Ngerti seni,” katanya dengan mata mulai tertutup.

Aku nyengir kagum sambil mengamini dalam hati. Kutepuk-tepuk punggung tangannya. Aku ingat, ketika pulang tahun lalu, pelajaran menggambar masih jadi pelajaran yang paling dia benci. 

Aamiin, bik. Aamiin.