Month: April 2016

Roti Martabak

Aku kaget loh, ternyata aku belum jadi nge-post tulisan ini. Haha
Bulan lalu, dalam rangka mengurangi asupan nasi dalam kehidupan sehari-hari, aku nyetok roti tawar di kosan setiap hari. Sayangnya, roti tawar ini kebanyakan berumur pendek. Tanggal kadaluwarsanya rata-rata paling lama tiga hari. Kalau beruntung, aku bisa dapat yang tanggal kadaluarsanya empat hari setelah tanggal pembelian. Padahal, biasanya aku cuma makan dua lembar roti untuk sarapan.
Ujung-ujungnya, rotiku sering banget nyisa beberapa lembar. Bahkan pernah ada selembar roti yang sudah berjamur hijau di hari kadaluarsanya!
Roti yang udah mendekati tanggal kadaluarsa biasanya mulai keras dan nggak enak dimakan pake meises atau selai. Nah, biar enak, akhirnya bikin roti martabak deh!
Roti martabak adalah salah satu makanan favoritku dan teman-teman di kampung halaman kami, di Sungai Penuh sana. Cuma ada satu tempat yang jual roti martabak, dan memang menu itulah andalannya.
Untuk bikin roti martabak ini ada dua versi: versi kaya dan versi bokek. Versi kaya itu pake telur yang banyak; bisa dua telur untuk satu roti, trus pake keju dan daging juga. Nah, kalo versi bokek, bisa dua roti untuk satu telur. Yang mau aku bikin sekarang adalah versi menengah. Hahaha soalnya pake banyak telur dan keju, tapi nggak pake daging.
Pemakaian telur sebenarnya juga tergantung ukuran roti sih. Kalau rotinya lebar, ya otomatis butuh telur lebih banyak dari roti yang kecil.
***

image

Roti Martabak
Porsi: 1 orang
Lama memasak: +-15 menit

Bahan:
4 butir telur ayam
2 lembar roti tawar
1/4 siung bawang bombay iris tipis
2 batang daun bawang iris tipis
Keju cheddar parut secukupnya
Garan secukupnya
Mentega

Cara membuat:
– Kocok lepas telur, garam, bawang bombay, dan daun bawang. Tambahkan parutan keju, kocok lagi.
– Celupkan roti ke dalam adonan telur. Pastikan seluruh bagian roti terendam.
– Panaskan penggorengan, olesi mentega.
– Tuang sedikit adonan telur, pastikan bawang dan daun bawang juga ikut tertuang.
– Saat masih basah, letakkan roti di atas adonan telur, tekan-tekan. Lakukan untuk kedua roti terpisah.
– Bakar kedua sisi roti sampai matang.
– Sajikan dengan saos.

***
Rasanya? Enak! Lebih enak dari roti martabak yang dijual! Rasanya gurih dan lembut banget, mungkin pengaruh keju. Baunya juga kaya martabak, haha. Okelah buat sarapan bareng kopi atau teh manis panas.

Advertisements

Pizza Goreng

Ahay!
Kemarin-kemarin aku sering bereksperimen dengan tepung dan ragi instan. Pertamanya bikin pizza teflon, trus gagal. Pizzanya keras banget kaya papan. Mungkin karena adonannya nggak didiamkan dulu makanya begitu.
Trus bikin martabak manis. Martabaknya nggak punya tekstur bolong-bolong. Dalamnya justru padat kaya apa ya? Kaya kue jajanan pasar gitu pokoknya. Enek banget pas dimakan.
Akhirnya, tadi siang Azul ngajakin aku memanfaatkan tepung terigu yang masih banyak untuk bikin pizza goreng. Biasa itu anak suka liat resep di instagram trus jadi kepengen nyobain.
Di resep, isian rotinya itu pake daging cincang sebenarnya. Berhubung daging lagi mahal (hiks), akhirnya kami pake kornet sachetan yang goceng.
Takarannya juga seperti biasa dikira-kira. Kaya tepung misalnya, setelah nyari di internet diketahui kalau 1 sdm tepung itu setara dengan 10 gr, dengan ketentuan 1 sdm-nya peres ya, bukan membumbung tinggi. Tepungnya aku pake yang segitiga biru walaupun di resep disuruhnya pake cakra.
Kalo gula, itu untuk ganti penyedap rasa. Biar bebas micin!
Trus juga di adonan isinya kami pake saos sambal, soalnya si Azul nggak begitu suka rasa tomat. Yaah kalo isian gini bebas lah yaa suka-suka aja. Mau diganti pake mayones, jamur, atau sayur ya terserah. Enak-enak aja kayanya.
Isinya juga mungkin lebih enak dan lebih kerasa pizza kalo pake mozarella dan oregano. Berhubunh mahal nggak punya, ya jadinya pake keju cheddar biasa aja.
***

image

Pizza Goreng
Porsi: 7 buah
Waktu memasak: +- 1 jam

Bahan Roti:
250 gr (25 sdm) tepung terigu serbaguna
1 sdt ragi instan
1/4 sdt garam
1 sdm mentega
Air secukupnya

Bahan isi:
2 butir tomat direbus 5 menit, trus dicincang
1/2 siung bawang bombay cincang kasar
2 siung bawang putih iris halus
1 bungkus kornet
Saus sambal secukupnya
Gula, garam, merica secukupnya
Keju cheddar parut sesukanya

Minyak untuk menggoreng

Cara membuat roti:
– Campurkan tepung terigu, ragi dan garam sampai rata, masukkan mentega.
– Tambahkan air pelan-pelan sambil diuleni.
– Uleni adonan sampai kalis dan nggak lengket di tangan. Kalau adonan ternyata terlalu encer, tambahkan tepung sedikit-sedikit. Pokoknya diulen sampai kalis.
– Diamkan sekitar 30 menit.

Sambil mendiamkan adonan, buat isian:
– Tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum.
– Masukkan kornet. Tumis sampai kornet berubah warna.
– Masukkan tomat, aduk-aduk.
– Tambahkan saus sambal, gula, garam, dan merica. Koreksi rasanya.

Finishing:
– Bagi adonan jadi beberapa bagian. Di sini, aku bagi 7 dan ternyata hasilnya gede banget kaya bom. Jadi kayanya bisa dibagi jadi sekitar 20 bagian biar cantik.

image

Segede dosa

– Setelah didiamkan selama 10 menit, kempeskan adonan. Masukkan bahan isian dan keju. Tutup adonan dengan cara dipelintir seperti pastel.
– Diamkan lagi 10 menit.
– Panaskan minyak, goreng adonan dengan api sedang sampai kecoklatan.
***

Gitu ceritanya. Gara-gara nggak tahu takarannya, emang roti bikinanku jadinya gede banget sih. But beauty comes from the inside. Biar tampangnya jelek, mirip odading, mirip pisang goreng, tapi rasanya asli enak banget! Beneran deh ini aku nggak muji diri sendiri. Aku cuma bangga karena akhirnya berhasil bikin roti goreng dengan enak :”)
Nanti deh, lain kali aku akan berusaha bikin dengan tampang yang lebih cantik. Ciao!

Qonaah

Tadi siang, Azul tiba-tiba ngajakin aku buat bikin pizza goreng seperti yang dibuat mba-mba kang masak di instagram. Sekalian juga memanfaatkan tepung terigu yang masih banyak banget sisa bikin martabak gagal kemarin.
Okelah, setelah liat resepnya, bahan yang kami butuhkan sebenarnya cuma isian aja. Jadilah kami belanja ke pasar Cibeusi naik motor.
Kami belanja nggak terlalu lama. Mungkin cuma sekitar 10-15 menit karena yang harus dibeli juga nggak banyak. Pas balik lagi ke parkiran, Azul nanya, “punya gope, ga Cen?”
“Ada nih,” kataku sambil mengeluarkan sekeping limaratusan dari saku. Azul juga. Dua keping limaratusan itu kukasih ke aa parkir.
Trus aku kaget.
Soalnya, si abang malah ngembaliin limaratusan yang satu lagi! Jadi bayar parkirnya gope aja!
“Gapapa a, seribu aja,” kataku. Kocak aja rasanya bayar parkir kok cuma gope. Biasanya tukang parkir lain kalo dikasih seribu malah minta nambah.
“Gapapa neng. Udah cukup ini mah,” katanya sambil mengarahkan motor Azul untuk keluar. Pas motor mulai berbaur di jalanan, beliau juga mengingatkan kami untuk hati-hati. So sweet banget gak sih!
Aku gak tau apakah beliau kasihan loat kami patungan gope cuma buat bayar, atau emang tarif parkir di pasar itu cuma gope, atau beliau adalah orang yang selalu merasa cukup. Dari peristiwa tadi, aku belajar tentang sifat qonaah, yaitu sifat yang merasa sudah cukup dengan apa yang didapatkan di dunia. Aku belajar untuk nggak ngoyo mengejar-ngejar harta karena rezeki udah ada yang ngatur.
Buat aa parkir di pasar Cibeusi, semoga rezekimu berkah selalu. Aamiin.

Katak dalam Tempurung


Aku tidak ingin seperti katak dalam tempurung
Rendah diri, sombong, dan mudah tersinggung.

Itu adalah penggalan puisi yang dibacakan keras-keras di ospek jurusanku. Kelanjutannya aku lupa, soalnya bagian ini yang paling aku ingat dan bikin kepikiran.
Sejujurnya, aku takut kalau aku jadi “katak dalam tempurung” seperti yang digambarkan di puisi itu. Maksudku, secara sadar aku pastinya nggak mencap diriku sendiri sebagai seorang berpikiran sempit seperti si katak dalam tempurung. Tapi gimana kalau secara nggak sadar aku jadi begitu?
Terutama di bagian “mudah tersinggung”.
Suatu hari, aku lagi nge-print tugas di fotokopian dekat kampus. Ketemulah sama teman sekelas dari semester satu tapi nggak terlalu akrab. Setelah berbasa-basi yang nggak kuingat detailnya, dia ngomong, “wuih, si Cendi mahasiswa cumlaude nih,”
Hmm harusnya waktu itu aku tanggapi pake becanda juga kan, tapi aku senyum doang. Dalam hati entah kenapa dongkol minta ampun dikatain begitu. Nah! Aku bahkan memakai kosakata “dikatain” alih-alih “disebut”, Seolah-olah menjadi mahasiswa cumlaude sama hinanya dengan menjadi maling kancut.
Aku jadi ingat pelajaran Sosiologi waktu SMA, soal teori labelling. Dulu kupikir, label itu cuma nggak boleh digunakan untuk kata-kata negatif. Misalnya, kita nggak boleh melabeli seorang anak sebagai anak nakal atau anak bodoh karena nantinya dia akan hidup terus sesuai dengan label yang melekat di dirinya. Tapi ternyata, kita emang nggak boleh memberikan label apapun terhadap orang lain!

Konstruksi Sosial
Ahay, ada sub judulnya. Hahaha. Bagian ini adalah interpretasiku ya, jadi kalau salah mohon dikoreksi.
Liat gambar ini dulu deh:

image

Sumber ada di gambar

Kita hidup di lingkungan sosial yang dikonstruksi, makanya kita jadi punya standar sendiri soal apa yang disebut keren, biasa aja, dan alay. Nah, label bernada positif seperti anak rajin atau anak cumlaude diinterpretasikan sesuai dengan konstruksi sosial yang kita bentuk. Kurasa, kenapa orang-orang emoh disebut sebagai anak alim atau anak rajin, karena hasil konstruksi sosialnya mengatakan, anak alim itu ya anak yang nggak pernah berbuat hal gila, kerjaannya cuma di rumah, merajut dan mengaji. Anak rajin itu adalah anak kutu buku dan penggila segala macam teori. Pokoknya kalau udah dicap sebagai anak alim atau anak rajin itu berarti kamu adalah orang yang nggak asik! Padahal kan kita pengennya dicap sebagai anak yang asik banget! Atau sebenarnya kita punya sisi “asik” yang nggak diketahui banyak orang.
Di lingkungan begini, yang dikonstruksi sebagai anak asik biasanya mereka yang suka mabal, suka titip tanda tangan, nggak ingat detail pelajaran di kelas, dan semacamnya. Pokoknya rada-rada badung lah, nggak layak menyandang label “alim”.
Wah, bahkan ukuran untuk menjadi orang yang asik dan nggak asik juga merupakan hasil konstruksi sosial. Subjektif banget kan, nggak bisa dinilai dengan skala 1-10 atau sekian dari lima bintang.
Ketika disebut sebagai mahasiswa cumlaude oleh si teman sekelas tadi, sebenarnya aku punya dua pilihan: sebel karena IPK-ku sejatinya nggak mencapai ambang batas cumlaude; atau cengengesan aja mengamini biar nanti beneran lulus dengan pujian.
Intinya, aku jadi ngerti kenapa orang yang mudah tersinggung disamakan dengan katak dalam tempurung. Dia terjebak dalam pemikiran sempit soal standar yang dibuat orang lain. Sifat mudah tersinggung itu bikin nggak ngeh kalau si lawan bicara lagi bercanda dengan gayanya. Parahnya, dia bahkan bisa aja terjebak dengan semua pikiran negatifnya sendiri. Aku pernah baca, kalau kita berpikiran negatif soal orang lain, bisa jadi itu adalah cerminan diri kita yang sebenarnya.
Amit-amit ya Allah, aku beneran takut jadi katak dalam tempurung yang mudah tersinggung.

Jatinangor Is A Sexy Bitch

Chatime baru buka di Jatos dan langsung diserbu pembeli. Sementara Cupbon sepi. Aa kasirnya termenung. Jarak mereka cuma lima langkah.
***
Hampir 8 semester aku tinggal di Jatinangor. Aku datang ke Jatinangor ketika Pinewood masih menjadi satu-satunya apartemen di sini. Aku mengenal Jatinangor sejak extension Jatos sedang dibangun. Di awal kehidupanku di kawasan mahasiswa ini, dengan uang 1000 aku bisa naik angkot untuk jarak 1km-an.
Jatinangor adalah kawasan seksi di selatan Sumedang. Koridor utara Jatinangor, dari Cibeusi sampai Hegarmanah plus sebagian Sayang didominasi oleh pondokan-pondokan mahasiswa. Sisanya adalah minimarket, rumah makan, dan rumah warga. Berkat keseksiannya, harga tanah yang tinggal sedikit dan bangunan di sini terus melambung. Menggiurkan.
Kebanyakan warga dulunya punya tanah hasil warisan dari orang tua mereka. Makanya, begitu Jatinangor mulai ramai, mereka juga beramai-ramai menjual tanah mereka demi mendapatkan jutaan secara instan. Gimana nggak jadi euforia, kawasan yang dulunya cuma kebon karet tempat jin buang anak, sekarang jadi tempat orang tua menitipkan anak-anaknya.
But Jatinangor is a real sexy bitch.
Seperti halnya perempuan jalang, Jatinangor memang begitu menggoda, tapi di sisi lain brengseknya bukan main.
Selama 8 semester ini, begitu banyak kafe, toko, atau rumah makan datang dan pergi. Buka sekarang, empat atau enam bulan kemudian gugur. Paling lama cuma tahan setahun. Nggak banyak usaha yang tetap bertahan bertahun-tahun di sini. Berbagai konsep sudah ditawarkan, mulai dari makan yang bisa bayar sesukanya, masakan Timur Tengah, bernuansa Inggris, sampai rumah makan Padang kecil-kecilan nggak luput dari kekejaman Jatinangor. Toko baju, toko aksesoris, sampai toko yang menawarkan harga super miring juga kena libas.
Jatinangor bukan sekadar kecamatan di kaki gunung Geulis. Jatinangor adalah arena bertarung bagi mereka yang tergoda akan keseksiannya.

Gak bisa ngomong…..

Sekarang aku lagi di Bandara Soekarno-Hatta untuk menjemput emak tercinta.
Jam 7.13, beliau ngasih tau kalau udah naik ke pesawat. Eeeh sekitar jam 8, beliau malah nelpon. Kan aku kaget ya, kirain mamaku nelpon dari pesawat yang lagi terbang.
“Ini penumpangnya pada diturunin lagi semua. Soalnya ada yang becanda bilang dia bawa bom,” kata mamaku.
Gobles.
Aku mengumpat panjang-panjang dalam hati. Kenapa takdir membuat mamaku satu pesawat dengan orang tolol norak nggak berotak kaya gitu siiiihhhhhhhhhhhhhasddjfkwliurpabxn
Barusan beliau nelpon lagi, katanya semua penumpang disuruh balik ke ruang tunggu. Mungkin pesawatnya dicek ulang. Atau si goblok itu sedang diikat di roda pesawat, supaya sampai Jakarta dalam keadaan lemas dan kuping berdarah.
Dang! Aku marah banget ini rasanya astagaaaaaaaaaaaaaaaa

Go Green!

Seseorang di dunia maya mengunggah tulisannya yang berisi protes ke pemerintah karena kalo belanja ke minimarket dan supermarket mesti bayar 200 perak per kantong kresek. Nggak ada screenshot-nya karena panjang banget haha. Kalo masih suka berkeliaran di fesbuk, pasti sering liat deh. Soalnya di-share sama hampir semua orang.
Intinya, orang itu abis belanja di sebuah minimarket. Waktu mau bayar, orang yang sepertinya nggak nonton tivi atau baca koran atau ngintip media online itu kaget karena mesti bayar 200 untuk kantong plastiknya. Marah-marahlah dia ke kasir minimarket yang cuma menjalankan titah.

Saya lalu merebut minyak goreng yang berbungkus plastik tebal yang dipegang istri, Sovia. “Ini juga butuh ratusan tahun! Tapi kenapa kita yang malah disuruh mengurangi penggunaan kantong plastik! Bukannya perusahaan-perusahaan itu yang dilarang menggunakan kemasan plastik?

Di kantong plastik Indomart kan ada tulisan go green, pertanda mudah diurai, mengapa penggunaannya harus dikurangi dengan harus membayar Rp 200 bila tetap ingin memakainya tetapi… lihat, itu… Coca Cola, botolnya dari plastik, butuh waktu ratusan tahun untuk diurai!”

Lalu saya memegang mie instant Indomie yang disodorkan pembeli lain ke kassa yang hanya senyum-senyum saja melihat saya, “ini juga plastik, butuh waktu yang jauh lebih lama untuk diurai daripada kantong keresek go green!”

Memang, belum ada kejelasan kemana larinya uang 200 perak yang dipakai untuk beli kantong kresek itu. Apakah diserahkan ke negara atau malah masuk kantong pengusaha ritel. Tapi, toh kalau memang situ merasa “ogah mendukung pemerintahan zalim” ya bagus dong, nggak ikut-ikutan bayar 200 perak buat plastik? Jadi kan uang situ nggak kepake untuk pemerintah yang situ bilang zalim?
Prasangka negatif itu menutup pintu hati. Kita tau kan, kalau pemerintah itu haters-nya banyak, melebihi jumlah haters Agnez Mo. Nah, begitu mereka mengeluarkan kebijakan yang bersinggungan sama urusan kantong, meledaklah pikiran para haters ini. Jadi aja mikir jauh-jauh kemana-mana, padahal poinnya simpel banget: hemat plastik.
Liat deh, sampah-sampah di Indonesia itu didominasi sama plastik. Mulai dari kantong kresek, botol-botol, bahkan juga styrofoam. Udah gitu, banjir aja lagi kan. Gatau deh salah siapa.
Tapi kan para pengusaha masih pake plastik buat kemasan produknya? Sama aja dong, sampah plastiknya tetap banyak?
Hmm untuk paraktik lapangan mata kuliah penulisan berita khas waktu semester 5, aku mewawancarai bu Lucia Indrarti, seorang peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI. Beliau meneliti bioselulosa air kelapa sebagai bahan baku edibel strip untuk kemasan. Hasil jadinya itu ada yang kenyal kaya nata de coco versi lembaran, ada juga yang bentuk mangkok dan kaku mirip plastik mika.
Nah, menurut beliau, hasil  penelitiannya itu mungkin bisa dipakai sebagai kemasan primer untuk dodol. Jadi kalo makan dodol dengan pembungkus edibel itu, ya tinggal dimakan aja sama bungkusnya sekalian. Kemasan primer sendiri adalah kemasan yang bersentuhan langsung dengan produk.
Sayangnya, biaya produksi untuk kemasan ini mahal banget. Belum lagi masalah ketahanan. Edibel strip ini juga belum bisa dipakai sebagai kemasan sekunder karena pasti akan bersentuhan dengan debu dan polusi.
Intinya, kita emang belum bisa melepaskan diri dari penggunaan plastik sepenuhnya. Apalagi di zaman sekarang yang muka sama pantat aja ikutan diplastikin. Tapi, setidaknya kita bisa mengurangi pemakaian plastik, misalnya bawa kantong belanja sendiri, bawa botol minum sendiri, juga melakukan reuse dan recycle. Kalau situ masih berdalih soal kemasan primer dari plastik, situ punya solusi apa? Toko ritel nyedian drum gitu trus situ kalo mau beli minyak goreng mesti nampung dulu pake jerigen?
Begitu juga dengan pemakaian listrik atau air. Aku suka merasa konyol sama orang yang menentang Earth Hour dengan berbagai alasan. Padahal itu kan momentum untuk mengingatkan diri sendiri supaya berhemat dalam pemakaian listrik.
Atau orang yang suka lupa matiin keran air di kamar mandi, sampai airnya melimpah keluar dan terbuang sia-sia.
Atau orang tolol yang buang sampah sembarangan dengan alasan “kan ntar dibersihin sama tukang sapu. Kalo kita nggak ada sampah, mereka nggak ada kerjaan dong?” Pendapat ini adalah bentuk kegoblokan paling hakiki pada suatu makhluk.
Masalahnya bukan apakah kita udah bayar air, listrik, dan gaji tukang sapu. Masalahnya bukan di duit, jangan mikir ke situ melulu. Masalahnya adalah apakah kita peduli atau nggak. Itu! Udah numpang hidup di bumi, kok ya sikapnya sok begitu.