Month: March 2016

Midnight

Pernah kepikiran buat bunuh diri?  Pernah. Karena ketakutan soal masa depan. Gimana kalo skripsiku mandek? Gimana kalo aku kesuliran dapat kerja? Gimana kalo udah kerja malah dipecat? Gimana kalo masa depanku suram? Gimana kalo aku nggak kawin-kawin?
Selintas bisikan setan, aku sempat kepikiran pengen mati aja. Kaya lagi nonton film trus si tokoh utamanya udah senang-senang tralala trilili gitu, eh abisannya dapat masalah yang bikin jatuh banget. Rasanya pengen diskip aja adegan yang kaya gitu.
Tapi kemudian aku pikir, mati dan ngeskip kehidupan masa depan juga belum tentu memberikan hasil yang baik. Lah, kalo mati masuk neraka, gimana? Sama aja kan, sama-sama suram. Apalagi kehidupan akhirat selamanya, walah nggak bisa diskip juga kan?
Nggak tahu, ya, katanya sih wajar di awal usia 20 di akhir masa kuliah mengalami jedag-jedug jeder kaya gini. Begitu ketakutan sampai lupa kalau rezeki udah ada yang ngatur. Ya kalau emang bukan bagian dari golongan yang rezekinya dilebihkan, ya sudah. Semoga tetap bisa merasa “ya sudah”. Yang penting hidup di masa depan harus bebas hutang. Catat!
Yah, intinya jangan pernah (mau) menyerah lagi sama kehidupan, ya. Ingat bapak pengamen Damri yang suka nyanyi lagu nasional atau lagunya Broery Marantika? Atau bapak penjual tisu? Bapak penjual kacang? Tukang koran? Tukang cakwe? Pemulung? Sopir taksi gelap di bandara? Setidaknya mereka terus berusaha untuk bertahan hidup, meski jalannya keras.
Tepuk pipi! Tepuk pipi! Jangan nangis lagi! Jangan takut! Angkat dagunya!

Sendirian

Dalam banyak kondisi, aku suka sekali suasana sepi dan aku sendirian.
Misalnya, bulan Oktober kemarin, sehabis presentasi di kelas seminar, aku izin untuk sholat Ashar. Di mushola yang luas, beralaskan karpet merah tebal, aku sholat sendirian. Langit mendung. Aku bukan ngomong tentang ibadah yang khusyuk atau semacamnya, tapi tanpa aku sadari, rasa senang menyusup dalam diriku waktu menemukan mushola dalam keadaan kosong.
Atau waktu sampai di kantor, naik ke atas dan menemukan lantai tiga dalam keadaan kosong. Kadang-kadang tivi menyala tanpa ada yang nonton. Itu bikin aku senang, karena…… Nggak tau. Senang aja.
Atau begitu sampai di kosan dan menemukan lorongku dalam keadaan sunyi. Nggak ada ketawa ngakak anak kamar seberang. Nggak ada suara nyanyian rohani anak kamar sebelah. Menenangkan.
Aku juga suka pergi-pergi sendiri. Buatku, bepergian sendirian berarti waktunya berkencan dengan diri sendiri. Membiarkan diri terbebas dari dongkol karena keluhan tersirat dan tersurat teman seperjalanan atau paksaan untuk segera pulang. Maksudku, kadang kalau pergi dengan orang lain, bahkan teman dekat sekali pun, aku suka merasa nggak enak. Nggak enak kalau aku keluyuran terlalu lama. Gimana kalo mereka capek? Nggak enak kalo aku pengen jajan yang rada mahalan. Gimana kalo mereka bokek? Nggak enak kalo aku suka nyasar. Gimana kalo mereka ngambek? Wow, aku senang kalimat-kalimat ini berima.
Biar begitu, ada juga kesendirian yang aku nggak suka. Misalnya, berenang sendirian. Ampun, ini nggak enak banget. Garing! Atau nonton film serius di bioskop sendirian. Film-film yang serius dan ceritanya berat pasti harus banget didiskusikan setelah menonton. Jadi harus ada temannya. Atau sendirian nungguin orang di tempat asing. Mati gaya banget kalau yang satu ini. Bahkan ponsel dan segala isinya tetap nggak bisa menyelamatkan situasi.
Saking menikmati kesendirian, aku sering dimarahi karena suka menyepi dalam keramaian. Aku dipaksa untuk masuk dalam lingkaran, padahal aku bingung harus apa, kemana, dan ngapain.
Sendiri. Sendiri. Sendiri. Ah, punya banyak waktu untuk diri sendiri memang menyenangkan.

P. S: Bukannya aku nggak butuh orang lain dalam hidup, loh! Jangan salah paham! ✌✌✌

Korosensei

Sekitar seminggu yang lalu, Grand mamas ngeganti dp BBM dengan gambar komik seseorang berkepala bulat, berambut klimis, dan memegang sisir dengan ekspresi seperti emoji. Wah, komik lucu nih, kayanya.
Assassination Classroom, mas” katanya waktu kutanya.
Jadilah seminggu ini aku membaca komik itu dan barusan banget selesai. Tahu kan, perasaan waktu abis baca cerita yang bagus, trus tamat? Itu yang lagi aku rasain sekarang.
Assassination Classroom bercerita tentang kelas 3-E SMP Kunugigaoka yang merupakan kelas buangan. Isinya anak-anak dengan nilai akademis buruk dan anak-anak pembuat onar. Sekolah ini begitu ketat soal nilai akademis, sehingga masuk kelas E adalah mimpi buruk. Begitu buruknya sampai-sampai kelas mereka terpisah dari bangunan utama dan ditempatkan di tengah gunung!
Wali kelas 3-E ini adalah makhluk super berkepala bulat dengan delapan tentakel. Dia bahkan memakai baju yang mirip toga. Makhluk yang belakangan diberi nama Korosensei ini bisa bergerak dengan kecepatan Mach 20 atau 24.696 km/jam!
Kehadiran Korosensei menjadikan kelas 3-E sebagai kelas pembunuhan. Soalnya, Korosensei ini sudah menghancurkan 70% bulan dan akan menghancurkan bumi pada Maret tahun depannya. Jadilah, siswa-siswa kelas 3-E mendapat latihan sebagai assassin setiap hari bersama Tadaomi Karasuma, anggota Kementerian Pertahanan sebagai pelatih, dan Irina Jelavic si assassin profesional yang dipanggil Bitch-sensei. Sambil belajar, mereka terus berusaha membunuh guru mereka sendiri untuk mendapat hadiah 30 miliar yen! (aku nggak yakin soal angka ini karena tiap terjemahannya menunjukkan angka yang beda. Huft).
Aku bukan mau mengulas komik ini karena pastinya udah telat banget. Tapi,  kurasa ini adalah komik pertama yang bisa bikin aku nangis beneran sampai mengeluarkan suara. Maksudku, ada beberapa komik dan novel yang pernah bikin aku nangis, tapi ya sebatas meneteskan air mata. Nggak sampai nangis beneran kaya gini.
Mungkin karena aku suka banget sama karakter Korosensei yang menggemaskan secara fisik, juga bijak, konyol, dan menyenangkan. Aku jadi merasa sayang sama makhluk rekaan, sehingga aku bisa merasakan kesedihan mendalam waktu Korosensei akhirnya harus mati. Asli, ini mah sedih banget mataku sampai merah dan bengkak. Sesuatu dalam rongga dadaku rasanya perih, dan perutku bergejolak. Ah, aku bahkan udah nangis sejak di Damri, waktu baca kisah masa lalu Korosensei.

image

image

Dua adegan ini dan kelanjutannya yang bikin aku nangis parah banget.
Sekarang, aku jadi merasa hampa. Hiks.

Sabtu Memasak: Macaroni Schotel Kukus

Orang Indonesia itu, belum makan namanya kalau belum makan nasi. Biar udah makan mi goreng segerobak, atau roti satu kontainer, kalau belum makan nasi ya nggak afdol.

Akhir-akhir ini, aku mengurangi jumlah asupan nasi dalam menu harianku. Bukan sok-sokan diet atau apa sih, tapi aku mau mengubah mindset “Belum makan kalau belum makan nasi”. Sering banget kan, udah makan segala macam isi dunia, tapi tetap kelaparan karena belum makan nasi. Padahal, yang dimakan sebelumnya itu sumber karbohidrat semua—kentang, jagung, ubi, gandum, sagu….

Aku sih nggak benar-benar menghilangkan nasi dari hidupku. Ya ampun, udah 20 tahun aku dan nasi menjalani hidup bersama, nggak semudah itu dong untuk berpisah. Sekarang, biasanya aku makan nasi cuma di satu jam makan, seringnya sih makan siang atau sarapan. Nah, untuk menggantikan nasi, aku memilih roti dan pasta. Kenapa? Karena kecil, mengenyangkan, dan gampang diapa-apain. Aku belum bisa mengenyangkan diri dengan sebutir atau dua kentang berukuran sedang. Mungkin minimal sekilo. Dan ya ampun! Mengupas sekilo kentang itu pe-er banget! Beli? Maaf ya, saya cuma anak kosan yang selalu bokek. Begitu juga dengan jagung dan singkong. Ngurusinnya ribet dan jumlahnya harus banyak.

Jadilah, sekarang aku nyaris selalu nyetok roti dan pasta di kosan. Sabtu kemarin (astaga, ini udah Rabu!), tadinya aku dan Azul mau bikin Swiss Pasta aja kaya biasa. Swiss Pasta itu makaroni pakai saus putih, trus ditaburin keju. Enak banget. Tapi Muti mengusulkan untuk bikin macaroni schotel aja. Beberapa hari yang lalu, dia bikin dan katanya enak. Nggak perlu dipanggang, cukup dikukus pakai rice cooker.

Di sini, ukuran gram-graman makaroninya aku kira-kira aja, soalnya kemarin asal masukin gitu. Kornetnya aku pakai kornet sachetan yang harganya goceng, lupa merknya apa pokoknya yang depannya gambar sapi. Trus pas ngukus, juga nggak bisa ditutup pakai tutup si rice cooker, tapi ditutup pakai tutup kaca dari ketel listriknya Muti. Soalnya, nggak bakal muat kalau ditutupnya pakai tutup rice cooker. Trus ngukusnya juga dua kali karena rice cooker-nya kecil. Di sini aku tulis porsi untuk 2 orang, karena yang makan emang cuma aku dan Azul. Muti jadi sukarelawan masak-memasak dan cuma makan satu cup.

***

2016-03-12-06.56.55-1.jpg.jpeg

Porsi: 2 Orang

Lama memasak: ±1,5 jam

Macaroni Schotel Kukus

Bahan:

±150 gram makaroni

2 siung bawang putih, cincang halus (bisa juga diulek)

1 bungkus kornet

±75 gram keju parut, bagi dua untuk campuran dan taburan

1 kotak (250ml) susu cair

1 butir telur

Minyak untuk menumis

Garam secukupnya

Lada bubuk secukupnya

Cara membuat:

Rebus makaroni dalam air mendidih sampai al dente (±7 menit)

Panaskan minyak goreng, tumis bawang sampai harum lalu masukkan kornet.

Kocok lepas telur, kemudian tuangkan susu cair. Tambahkan garam dan lada bubuk.

Tuang adonan susu, aduk-aduk. Kemudian masukkan keju parut. Aduk-aduk sampai mengental.

Tiriskan makaroni, lalu campurkan ke dalam adonan susu. Aduk dengan api kecil.

Masukkan ke dalam wadah anti panas atau cup alumunium foil.

Taburkan keju lagi.

2016-03-12-07.24.47-1.jpg.jpeg

Sebelum masuk kukusan

Kukus selama ±20 menit.

Sajikan dengan saus.

Pesan Allan Karlsson

“Dan, bagaimana caramu membawa gajah seberat lima ton dengan pesawat?” tanya Benny putus asa.
“Aku tidak tahu,” kata Allan. “Tetapi, selama kita berpikir positif, aku yakin solusinya akan muncul.”
“Dan paspornya?”
“Kubilang selama kita berpikir positif.”
“Menurutku, bobot Sonya sebenarnya tidak lebih dari empat ton setengah paling banyak,” kata Si Jelita.
“Kau lihat, Benny,” kata Allan. “Itulah yang kumaksud dengan berpikir positif. Masalah kita langsung menjadi satu ton lebih ringan.”

-Jonas Jonasson, The 100-year-old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared

Sepatu

image

Bukan judul lagunya uda Tulus

Nggak tahu kenapa aku sayang banget sama sepatu ini. Padahal, sepatu ini nggak ada nilai historis apa-apa. Sepatu ini juga bukan sepatu mahal berjuta-juta, cuma kubeli di sebuah jaringan MLM terkemuka. Uang yang kupakai buat beli sepatu ini juga uangnya emak, bukan uang hasil pencapaian apa atau hasil aku kerja apa. Sama sekali nggak ada yang spesial dengan sepatu ini, tapi aku sayang.
Aku bahkan nggak benar-benar ingat kapan sepatu ini kubeli. Kalau nggak salah, di penghujung kelas 10. Zaman itu, di sekolahku emang diizinkan pake sepatu warna-warni ke sekolah. Nggak ada peraturan harus pakai sepatu warrior warna hitam dengan kaus kaki putih sebetis. Yang penting, sepatunya harus menutupi jari kaki. Biasanya murid-murid pada pakai sneakers beragam warna mulai dari putih, abu-abu, sampai oranye mencrang. Beberapa kalangan cewek bahkan pakai flat shoes untuk sekolah, dan beberapa kalangan cowok pakai sepatu futsal.
Nggak banyak hal-hal unik yang aku ingat soal sepatu ini. Serius, dia nggak begitu spesial. Mungkin satu-satunya peristiwa penting yang aku ingat adalah soal tali sepatu.
Semester dua kelas 11, ada pergantian wakil kepala sekolah. Salah satu wakil kepala sekolah yang baru adalah guru kimia yang rada nyebelin. Waktu itu, dia udah mengumumkan peraturan sepatu harus 80% hitam dengan tali warna putih atau hitam. Berhubung itu tengah semester dan sepertinya ibu-ibu nggak akan mau beliin sepatu baru buat anaknya kalau bukan tahun ajaran baru, maka sementara peraturan yang berlaku adalah soal tali hitam/putih dan nggak boleh pakai flat shoes.
Kukira, peraturan itu main-main. Jadilah, aku beli tali sepatu warna abu-abu. Aslinya, sepatuku itu bertali hitam. Tapi talinya kuganti dengan tali warna silver pemberian Kakrung. Dengan pedenya, hari Senin tali sepatu abu-abu itu kupakai.
Nah, sialnya, ternyata hari itu sehabis upacara, anak-anak yang nggak tertib urusan sepatu pada dirazia! Banyak banget anak-anak badung yang terjaring razia. Kami dibariskan, dikasih ceramah sama wakasek baru yang aku udah lupa isinya apa,  dan ujung-ujungnya, si wakasek minta kami melepas tali sepatu untuk dikumpulkan.
Dengan dramatis, doi ngambil gunting dan menggunting puluhan tali sepatu kami jadi tiga bagian. Aku menyumpah-nyumpah dalam hati. Tali sepatuku masih baru, boi!
Sehabis adegan dramatis itu, aku menyeret kaki ke kantin. Di sana masih banyak anak-anak yang pada makan. Emang udah kebiasaan, abis upacara bukannya belajar malah jajan dulu. Kuceritakan kesialanku ke tante kantin, sambil memikirkan harus kuapakan sepatuku yang nggak ada talinya ini. Si om (suaminya tante) memberikan tali rafia warna hitam untuk menggantikan tali sepatuku. Sepanjang jalan dari kantin ke kelas, bahkan sampai di kelas, aku diketawain beberapa teman.
Sisi baiknya, bukan tali sepatu dari Kakrung yang digunting. Tali silver inilah yang kupakai lagi waktu kuliah, sebelun kembali jadi tali hitam.
Sekarang, sepatu ini mencapai masa pensiunnya. Sepatu ini udah jebol dan menjadi penhancur kaus kakiku yang lucu dan berwarna-warni, apalagi kalau hujan. Mark di solnya juga udah hilang, berubah jadi sol sepatu polos yang sering licin.
Tapi, aku sayang.
Terima kasih, sepatu. Beristirahatlah dengan tenang.

Sabtu Memasak: Nasi Kare Katsu

Dari kemarin-kemarin, aku pingin banget makan nasi kare ala-ala Jepang gitu. Tapi, satu-satunya warung yang aku tahu jualan nasi kare di Jatinangor sekarang udah tutup. Walhasil, aku nyari-nyari resep kare ala Jepang di dedengkotnya pencarian, Google. Kebanyakan resep yang aku temui dari Google memasukkan kare blok dalam daftar bahan-bahan. Aku nyari ke Superindo dan Griya tapi bumbu itu nggak ada. Katanya sih di Carrefour ada, atau ke supermarket yang khusus jual bumbu masakan Jepang atau Korea. Dih, kejauhan. Males.
Setelah berkeliaran lagi di Google, aku ketemu satu resep di Cookpad yang nggak pake kare blok, melainkan pakai bumbu kari instan merk Indofood. Biar nggak cuma kentang sama wortel doang, aku beli chicken katsu di warung ramen sebelah kosan. Resepnya juga aku modifikasi sesuai selera dan keadaan. Bikinnya ternyata gampang banget! Iyalah, pake bumbu instan masa masih susah. Haha. Kentangnya aku potong kecil-kecil banget biar cepat empuk. Tapi pas bikin ini, ternyata kuahnya kurang kental karena kurang maizena. Soalnya aku takut terlalu kental. Ternyata, pas udah jadi aku ngeh tuh kalau masih agak encer. Tapi males buat ke atas lagi ngambil maizena, ya udahlah seadanya aja. Jadi resep yang aku tulis di sini udah aku sesuaikan biar kekentalannya pas (walaupun belum dicoba lagi. Hehe). Rasa bumbu karenya agak pedas untuk lidahku, tapi kayanya sama sekali nggak pedas bagi lidah orang-orang yang suka makan pedas. Untuk ukurannya, aku juga nggak pake bahasa ala-ala buku resep masakan kaya pakai satuan mililiter atau gram gitu ya. Semuanya ditakar pakai sendok, gelas, dan perasaan.
***
image

Porsi: 1 Orang
Lama memasak: ±30 menit

Nasi Kare Katsu

Bahan:
2 siung bawang putih, iris tipis
Setengah buah kentang ukuran sedang
Setengah buah wortel ukuran sedang
¾ gelas air
2 sdm maizena, encerkan
Setengah bungkus bumbu kari Indofood
1 sdm madu
Minyak atau margarin untuk menumis
Lada bubuk secukupnya

Cara membuat:
1. Panaskan minyak goreng dalam panci. Lalu tumis bawang putih sampai harum.
2. Masukkan kentang dan wortel, aduk-aduk.
3. Masukkan air, aduk semuanya sampai kentang empuk. Masukkan lada bubuk.
4. Setelah kentang empuk, masukkan bumbu kari dan madu. Aduk-aduk lagi.
5. Tambahkan larutan maizena, aduk-aduk sampai kental.
6. Sajikan bersama nasi hangat dan chicken katsu.
***

Gampang banget kaan? Kalau dihitung-hitung, modalnya juga nggak terlalu besar kok. Biar murah, aku belanja di pasar. Sebagai perbandingan nih ya, aku pernah beli 250gr buncis di pasar seharga 2 ribu, sementara di warung 4 ribu, dan di supermarket 9 ribu! Padahal kualitasnya mah sama aja. Untuk nasi kare katsu ini, modalnya paling banyak 12 ribu. Yang paling mahal sih katsunya, 6 ribu. Tadi aja aku belanja ke pasar beli buncis segenggam, wortel sebuah, kentang dua, bawang putih sebonggol, bawang merah tiga butir, sama lada bubuk sebungkus, cuma habis 10 ribu. Dan semuanya nggak akan habis dalam sekali masak.
Di Conan, Shuichi Akai yang sekarang sedang menyamar sebagai Subaru Okiya, pernah bilang kalau dia memasak untuk menghemat dan bisa membuat tenang. Emang bener! Memasak (yang gampang) ternyata emang bisa menghilangkan stres. Apalagi kalau hasil jadinya enak dan sesuai harapan. Tapi abis itu bikin stres lagi sih, soalnya males nyuci peralatan-peralatannya hehe. Yaah, semoga aku konsisten untuk masak-masak lucu tiap akhir minggu, ya!

Update:
Ini hasil setelah kucoba tambahin takaran maizena. Jadinya lebih kental, tapi kurang asin makanya mesti ditambahin garam sedikit lagi.
image