Month: February 2016

Komunikasi

komunikasi/ko·mu·ni·ka·si/n1 pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak; 2 perhubungan;

Kalau yang satu ini, definisi komunikasi yang (sepertinya) dihafalkan para mahasiswa Ilmu Komunikasi. Minimal di seluruh Indonesia:

Who says what in which channel to whom with what effect – Harold Lasswell

Dari perjalanan sebelumnya, aku belajar banget kalau yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan itu adalah komunikasi. Bukan sekadar saling bertanya kabar atau bertanya berapa liter oksigen yang sudah dihirup hari ini, tapi lebih dari itu. Membicarakan tentang perasaan masing-masing, tentang apa yang disuka dan apa yang nggak disuka. Tentang apa yang diinginkan dan apa yang nggak. Tentang kebiasaan-kebiasaan. Bahkan kalau perlu tentang sistem yang hanya bekerja untuk diri sendiri, misalnya tentang kamar yang nggak perlu dibersihkan oleh orang lain karena biar berantakan kaya apapun, cuma kita yang tahu pasti dimana pulpen atau baju belang-belang bergambar centong nasi.

Dulu, aku sempat kesal karena kamarku dibersihkan oleh Mbah. Menurut beliau, kamarku itu lebih mirip tempat sampah dibandingkan hunian seorang anak manusia. Padahal, memang begitulah strukturnya. Aku tahu pasti letak semua barang. Aku ingat buku catatan Sosiologi ada di bawah tumpukan baju, dan dasi sekolah di antara buku-buku yang berceceran di meja. Begitu pulang sekolah dan mendapati kamarku jadi rapi, aku seketika merasa hampa dan kehilangan semuanya. Tapi aku nggak bilang siapa-siapa, karena nggak mau dianggap sebagai cucu nggak tahu terima kasih.

Hubungan yang kumaksud di sini juga bukan terbatas sebagai pacaran aja, tapi juga hubungan dengan keluarga, teman dekat, teman-teman biasa, dan mungkin juga teman-teman di lingkungan kerja. Kita nggak cuma ngomong “aku nggak suka kalau kamu bohong terus,” ke pacar, tapi juga ke teman yang sering ingkar janji dengan sejuta alasan yang dicari-cari. Kita nggak cuma ngeluh “aku nggak suka diatur-atur” ke ibu tersayang, tapi juga ke bos yang mengganggu. Eh, kayanya yang ini nggak bisa, deh.

Yah, intinya keterbukaan dan ngomong-tembak-langsung itu penting banget. Bilang “iya” untuk “iya”, dan “nggak” untuk “nggak”. Dengan mengomunikasikan perasaan secara terbuka, seenggaknya kita bisa mengurangi beberapa sendok dosis drama dalam kehidupan. Juga menghindari yang namanya ngedumel di belakang. Dengan berkomunikasi, semoga semua perasaan sakit hati bisa berkurang. Emang, kadang jujur itu menyakitkan. Tapi, bukannya lebih baik kalau nggak menumpuk sakit hati sampai tinggi?

Apakah ini berarti aku udah sukses menjadi orang yang bisa mengomunikasikan perasaan secara terbuka? Hahaha, jelas nggak. Sebagai introvert yang lebih suka memendam perasaan, yang butuh waktu minimal satu semester untuk akrab dengan satu orang, jelas aku bukanlah orang yang sukses dalam menyatakan perasaan. Justru sebaliknya, aku menulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri tentang pentingnya mengungkapkan semua hal yang aku rasakan, bukannya cuma membiarkan orang lain membaca perasaanku lewat raut wajah. Aku juga harus mengingatkan diriku sendiri untuk berhenti membuat simpulan-simpulan tentang apa yang orang lain pikirkan tentangku.

Jadi, yah tulisan ini harus bisa mengingatkan diriku sendiri besok, lusa, dan seterusnya, ketika aku mulai kehilangan keberanian untuk “mengomunikasikan perasaan”. Tulisan ini harusnya nanti akan mengingatkanku, kalau aku pernah berpikir begitu bijaksana (setidaknya), ketika aku kembali berada di posisi manusia tolol yang merutuki diri sendiri.

Advertisements

Stay Away!

giphy

Moonwalk saja jika ada yang bertanya. Source

Ternyata, emang lebih baik jauh-jauh dari keluarga, terutama keluarga besar, kalau udah resmi menyandang predikat “Mahasiswa Semester Akhir”.

Dengan jauh dari keluarga, setidaknya kita bisa bebas dari pertanyaan “Gimana skripsi?” “Kapan lulus?” “Mau ngapain abis lulus?” atau “Udah ada calon belum?”. Padahal peresmian dirimu sebagai mahasiswa semester delapan baru saja dimulai sehari yang lalu.

Bagi beberapa orang, jauh dari keluarga mungkin nggak berarti benar-benar bebas dari rentetan pertanyaan bikin stres itu. Keluarga masih bisa nelpon, video call, atau bahkan mengomentari di setiap update-an media sosial, demi mengejar kepastian kelulusan si anak. Tapi buatku, jauh dari orang tua ini jadi keuntungan karena orang tuaku bukan tipe yang suka menelepon tiga kali sehari.

Bukannya kemudian menjadikan orang tua sebagai sosok yang bikin makin stres. Sama sekali bukan. Buat orang yang kuliahnya masih dibayarin orang tua, bersegera lulus jelas jadi tujuan. Biar orang tua nggak usah bayarin SPP lagi semester depan. Orang tua jelas jadi motivasi untuk segera lulus dan hidup mandiri, tidak lagi bergantung di bawah ketiak mereka.

Tapi, kalau dikejar-kejar tiap hari, kan capek juga. Apalagi kalau (amit-amit) udah berkali-kali ikut sidang usmas (usulan permasalahan) tapi nggak pernah lulus. Atau skripsi mandek karena faktor eksternal macam dosen yang rese. Atau parahnya lagi malah kehabisan ide untuk penelitian. Kalau didesak terus, siapa yang nggak bakal meledak?

Teteh reporter di kantor magangku ini pernah cerita, waktu dia lagi skripsi dulu sempat ngamuk gila-gilaan karena dikejar-kejar terus sama ibunya. Padahal dia juga belum terancam DO dari kampus.

Aku masih suka nggak ngerti sama orang yang bermaksud memberi motivasi dengan cara menjatuhkan metal terlebih dulu. Tujuannya, biar terpacu kaya kuda dipecut atau apalah. Proses untuk segera lulus dari kampus, itu benar-benar bikin orang down in the dumps. Di saat itu, kamu butuh orang-orang yang bisa membuat hidup kusutmu jadi sedikit lebih ceria dan berwarna. Syukur-syukur bisa ngasih oksigen tambahan untuk bernapas. Kamu nggak butuh orang-orang yang nggak mau tau gimana pun caranya kamu harus segera lulus dan menghasilkan milyaran rupiah per hari.

Di saat itu, kamu butuh orang-orang yang secara langsung atau tidak, meluruskan pikiran ruwetmu. Kalau nggak ada yang bisa begitu, ya udah nggak usah ada orang sekalian. Setidaknya, diam dalam keheningan dan kesendirian jauuuuuuhhhhh lebih baik dibandingkan ditemani seseorang yang kerjaannya bikin makin down.

Perpus Kampus

Kenapa sih, perpusnya Fikom Unpad nggak mengizinkan mahasiswa meminjam novel untuk dibawa pulang?

Maksudku, siapa yang bisa menghabiskan novel diatas tiga ratus halaman, dalam sekali duduk di perpustakaan yang cuma buka dari jam 8 (padahal kadang baru buka jam setengah 9) sampai jam 4 (kadang-kadang masih jam 3 lewat, lampu-lampu udah mulai dimatiin)? Tanpa ke toilet, makan siang, atau sholat? Satu-satunya novel yang pernah kuhabiskan dalam sekali duduk di perpus Fikom adalah seri Goosebumps-nya R.L. Stine. Dan itu nggak sampai tiga ratus halaman.

Oh ya, mungkin perpus tahu banyak mahasiswa brengsek yang nggak mengembalikan buku. Mungkin bukunya malah baru dikembalikan sebelum si mahasiswa lulus, itu juga karena butuh surat tanda bebas pustaka.

Sekali, aku pernah meminjam novel dari perpus kampus. Judulnya The Anatomy of Fear karya Jonathan Santlofer. Novel itu kutemukan terselip di rak buku jurnalistik, diantara tumpukan koran-koran lama. Padahal seharusnya buku di kategori itu ada di rak “Popular Corner” di depan sana.

Aku tahu, sih, buku dengan label pink itu nggak boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Tapi, mesin peminjaman mengatakan aku boleh meminjam buku itu beserta sebuah buku lain tentang penulisan berita mendalam. Ketika melewati pintu keluar, alarm juga tidak berbunyi. HAHA! Makan tuh teknologi!

Sialnya, pas bukunya mau dikembalikan, si mesin malah lagi eror. Jadilah aku harus menghadap petugas perpustakaan, si Aa yang familiar banget tapi aku nggak tahu siapa namanya. “Harusnya buku dengan label pink nggak boleh dibawa pulang,” katanya dengan nada dan ekspresi yang berkata “lain kali jangan gitu lagi”.

“Oh iya, A? Abisnya aku nemu di rak belakang situ sih, kirain boleh,” jawabku dengan memasang wajah polos seorang maba. Padahal waktu itu aku sudah semester tujuh.

Padahal ada banyak novel yang mau kupinjam dari perpustakaan. Aku butuh hiburan! Capek kalau harus baca buku komunikasi dan jurnalistik melulu!

Apa? Baca di perpus aja trus ditandain biar besoknya bisa dibaca lagi? Trus kehidupan malamku mau diisi dengan apa? Gini ya, aku ini bukan tipe orang yang bisa duduk diam manis membaca buku di atas meja. Di perpus Fikom emang ada sofa sih, lumayan nyaman dan suka dipake buat tidur atau leha-leha lucu, tapi tetap nggak bisa! Aku selalu berganti-ganti posisi kalau lagi membaca. Duduk di kasur, trus tengkurap, trus telentang, trus duduk di lantai, trus tengkurap, trus telentang, gitu terus sampai bukunya habis. Gitu aku disuruh duduk manis berjam-jam di perpus? Hah, bye!

#legalkanpeminjamannoveluntukdibawapulang!

Melanglang di Malang (5)

Sedih sih, ternyata ini hari terakhir. Liburan sudah akan berakhir. Kehidupan magang akan segera dimulai lagi. Hiks.

Sebelum check-out, kami nyari makan dulu di sekitar penginapan. Ketemulah, sama tempat yang menyajikan semacam kearifan lokal. Aku lupa apa namanya, tapi kalau nggak salah makanannya sejenis soto gitu. Pas ngecek menu sekilas, aku menyimpulkan nggak ada yang bisa kumakan di sini. Jadilah aku beli ayam rica-rica di warung sebelahnya, dan makan bareng di warung ini.

Sambelnya….. Masya Allah! Pedes banget! Itu beneran cuma ayam goreng kering disiram pake sambel. Sambelnya itu cuma dari cabe digiling kasar, trus digoreng. Bener-bener nggak ada rasa lain selain pedes! Hidungku bergetar, mukaku kebas, mulut dan tenggorokan perih banget, rasanya pengen nangis. Pas udah nggak kuat lagi, aku minta air panas ke ibu yang punya warung. Kocaknya, si ibu datang tergopoh-gopoh dengan muka cemas, ngeliat aku kepedesan panik banget. Beliau langsung bikinin air panas untuk meredakan kepanikanku.

Abis makan, kami balik lagi ke penginapan dan nelpon taksi. Kami memilih untuk naik taksi aja ke Batu. Alasannya, di depan penginapan jarang banget, atau bahkan nggak ada angkot yang lewat. Bisa sih, naik angkot ke terminal Landungsari, trus ntar nyambung lagi naik angkot ke Batu. Tapi ribet, apalagi bawa tas segede dosa.

“Sampeyan kok pinter, liburannya pas udah nggak musim libur,” komentar supir taksi dengan nada ramah ketika tahu tujuan kami. Hari itu emang hari Senin (4/1), dimana anak-anak udah pada mulai sekolah, dan pegawai mulai masuk kerja.

Perjalanan ke Batu dilalui dengan lancar, nggak ada macet-macetan. Kami janjian sama CS penginapan Batu di dekat BNS. Kirain masnya udah nungguin duluan di tempat janjian. Eh ternyata malah kami yang nungguin lumayan lama.

Penginapannya deket banget sama BNS, lupa apa nama jalannya, tapi pokoknya di sepanjang jalan isinya penginapan semua. Sebenernya kalau mau, bisa aja sih datang langsung, membandingkan harga, trus check in. Tapi karena mikirnya ini liburan, jadi kami nggak berani langsung datang gitu.

Si penginapan ini wujudnya rumah, tapi begitu masuk langsung disambut dua kasur besar. Ada TV, dapur lengkap dengan kopi, teh, gula, dan mi instan, trus kamar mandinya juga bersih dan ada air panas. Lucunya, jamban alias WC-nya ada dua, satu jongkok, dan satunya duduk. Keduanya bersebelahan. Tarifnya 350ribu per malam. Mahal sih. Tapi yaudahlah ya.

Destinasi Pertama: Museum Angkut

Abis dari penginapan, kami ke salah satu tempat paling hits di Batu: Museum Angkut! Masih dengan supir yang sama. Dari penginapan ke Museum Angkut lumayan dekat kalau naik mobil, tapi peer banget kalau harus jalan kaki.

Berhubung ternyata udah nggak dihitung hari libur, kami beli tiket terusan Museum Angkut dan D’Topeng seharga 70ribu. Mumut bawa kamera DSLR jadi kena biaya tambahan 30 ribu per kamera. Tau aja sih pengelolanya, orang datang ke sini emang cuma buat foto-foto.

Museum Angkut ini gila ya! Niat banget, parah. Berhubung aku dan teman-teman bukan penggila otomotif, jadi kami foto-foto aja sama beragam mobil-mobil lucu yang ada di sana. Beberapa bapak-bapak serius banget merhatiin setiap mobil dan motor. Mata mereka berbinar-binar semangat gitu. Setiap detail diperhatiin, mulai dari bodi sampai mesin.

Bagian depan museum isinya mobil dan motor jadul. Aku nggak begitu memperhatikan koleksi motornya sih, karena kebanyakan berjejer dan kelihatan sama aja. Tapi mobil-mobilnya, aduh banyak banget yang lucu. Mulai dari kereta kuda yang jadi cikal bakalnya mobil, mobil-mobil generasi awal yang bentuknya kotak, sampai mobil balap yang dipakai sama Alberto Ascari tahun 1950. Lucu banget, bentuknya kurus dan super sederhana. Mirip kapsul dibelah trus dikasih kursi di tengahnya sama roda.

Puas foto-foto di bawah, lanjut ke lantai atas. Hal pertama yang kami temukan di sini adalah restoran dengan tema pesawat. Di dekat restoran ini, ada pesawat juga. Mesinnya berdengung. Aku dan Firda lihat-lihat ke bagian depan, ada tangga buat masuk ke dalam pesawat, dan bisa nyobain flight simulator di sana. Kata mbak yang jaga, tiketnya bisa dibeli di restoran. Wah, pengen banget nyobain flight simulator kaya apa. Aku pernah baca di Conan, mereka nyobain simulator helikopter dan itu seru banget.

“Mau gak, Cen?” tanya Firda sembari kami jalan ke restoran.

“Mau, Fir!” kataku semangat.

“Yaudahlah ya. Sekali-kali ini. Paling berapa,” kata Firda.

“Kalo mapuluh rebu, mau gak? Tanyaku.

“Mau-mau. Udahlah, paling mahal pasti segituan, kan” kata Firda lagi.

Kami sampai di depan kasir, dan nanya-nanya.

“Tiketnya 300 ribu untuk 2 orang, durasinya 20 menit,” kata si mbak kasir.

Aku langsung senyum kecut. Buset, mahal binggo! Biar nggak kelihatan kere, Firda ngomong “Kita ajak Mumut sama Siti dulu, yuk!” dan kami berpamitan ke mbak kasir. Padahal mah, di belakang misuh-misuh sambil bilang “Gila, mahal bangeeett!” Bhay simulator pesawat! Kamu cuma akan jadi impian sampai kapan-kapan.

IMG_3255

Mahal… hiks

Kita lanjut lagi keliling-keliling. Ada beberapa contoh kendaraan tradisional Indonesia. Ada juga miniatur-miniatur kapal kayak Pinisi dan sejenisnya. Trus, ada mobil listrik buatan anak bangsa yang dipake Dahlan Iskan waktu kecelakaan! Penyok, patah, abis semua.

IMG_3312

Lanjut jalan, sampailah di kelompok negara-negara. Nggak banyak komentar sih, keren pokoknya ini museum niat banget, parah! Rasanya kaya lagi ada di festival budaya, tapi kendaraannya asli!

Yang paling bikin takjub adalah yang wilayah Inggris. Mereka niat banget bikin Buckingham Palace ala-ala. Bahkan interior-nya pun kaya istana. Aku nggak tau sih, dalamnya Buckingham Palace kaya apa, tapi buatku, dengan interior penuh lampu-lampu gantung dan lukisan di langit-langit, itu super niat. Apalagi di sini, kita bisa foto di sebelah patung Ratu Elizabeth. Ucul.

Capek sih kalau mesti ngejelasin semuanya satu-satu haha intinya si Museum Angkut ini emang keren banget. Selanjutnya biar foto yang bicara.

IMG_3309IMG_3307

Destinasi Kedua: Batu Night Spectacular

Malam ini malam terakhir bagi kita~~~

Abis dari Museum Angkut, kami pesan taksi buat pulang. Mas supir taksinya lagi-lagi baik dan ramah banget. Doi bahkan ngasih nomer ponselnya biar besok kita bisa langsung nelpon dia langsung buat balik ke Stasiun Malang. Namanya Mas Eko.

Sampai di penginapan, kami istirahat sebentar, ngecas ponsel dan kamera, sholat, trus sedikit merasa mager. Haha emang gitu sih kalau ketemu kasur udah ga bisa ditahan lagi. Semua kasur (dan selimut) emang posesif.

Batu Night Spectacular alias BNS deket banget dari penginapan. Cuma jalan sekitar 300 meter, sampai deh di depan BNS yang berkonsep pasar malam modern itu.

IMG_4171

Tadinya kami mau beli tiket terusan seharga 100 ribu. Tiket terusan ini bisa dipakai untuk semua wahana, kecuali gokart, trampolin, sama apa ya satu lagi? Lupa. Haha. Tapi akhirnya kami cuma beli tiket masuk karena takutnya, nggak naik semua wahana. Biar nggak sayang aja cepeknya. Tiket masuknya seharga 30 ribu.

Begitu masuk BNS, kami observasi dulu kira-kira apa yang bisa dimainin. Hup hup setelah lihat-lihat, awalnya Mumut ngajak naik Aladdin. Itu mainan anak-anak gitu, dimana kamu tinggal duduk dan wahananya muter-muter kaya kipas angin. Pas nanya mas penjaganya buat beli tiket Aladdin di mana, kelihatan banget si mas nahan ketawa. Seolah-olah pengen bilang “Cupu banget sih mbak,”

Akhirnya kami memutuskan untuk naik sepeda udara. Beda sama sepeda udara yang di Selecta, di sini sepedanya otomatis. Berdasarkan hasil hompimpah, aku bareng Firda, Siti bareng Mumut.

Pas ngantre, aku nggak ngerti sih kenapa ada setir di sepeda udaranya. Kupikir, ini pasti tinggal duduk doang kan? Nggak usah capek-capek ngegowes. Jadilah, aku dan Firda menganggap ini wahana cetek. Remeh lah.

Ternyata ya ampun! Aku dan Firda teriak-teriak sepanjang jalan. Setirnya itu ternyata berfungsi untuk menyesuaikan perputaran sepeda. Jadi kalau ada belokan, ya kita harus ngikutin dengan membelokkan setir. Pas awal-awal, setirnya kupegang doang, nggak ditahan. Jadilah, ketika sampai di belokan pertama, si sepeda kayak muter dan rasanya kami mau jatuh! Mana pas liat ke bawah aduh tinggi banget. Kalo jatuh lumayan, minimal patah tulang. Asli, gemeteran banget! Semua kehebohan waktu naik sepeda udara, sukses terekam di ponsel. Padahal tadinya mah direkam buat kenang-kenangan. Ternyata, hahaha nggak menikmati sama sekali.

Abis itu, kami masuk ke rumah kaca yang ada di sebelah sepeda udara. Gampang sih rumah kaca ini sebenernya. Asal jalan pelan-pelan dan hati-hati, dijamin bisa keluar dan nggak akan kepentok kaca. Beda sama seorang adik yang kayanya udah bolak-balik masuk rumah kaca ini, berlari-lari penuh semangat, dan berakhir membentur kaca dengan suara “duak!” yang keras. Aku ngakak.

Abis itu, kami naik wahana lain, kaya perahu bajak laut yang enak banget, cuma diputar-putar doang. Nggak bikin jejeritan kaya kora-kora. Trus masuk rumah hantu yang gak jelas banget, haha. Trus ke trick art, yang sayangnya banyak trik yang jadi nggak oke kalau difoto karena udah agak pudar. Tapi kebanyakan masih oke, kok.

IMG_3928

Trus naik Disco Bumper Car juga. Asli, ini aku bingung gimana cara kerjanya. Pedal gas diinjeknya dikit doang, tapi kenapa mobilku mundur terus? Nggak ada persnelingnya, loh! Jadilah aku cuma muter-muer setir dan berusaha menabrak siapa aja yang kelihatan, bahkan yang nggak kenal sekalipun. Aku dan seorang anak perempuan yang wajahnya selalu tertawa, saling menabrak berkali-kali.

Kami juga nyobain wahana 4D-nya. Satu-satunya wahana 4D yang pernah kucoba adalah yang di Trans Studio. Lumayan sih yang di Trans Studio, walaupun efek kaya air atau suhu-nya nggak begitu kerasa. Di wahana 4D-nya BNS ini, kami nonton film tentang lomba balap kereta gitu. Wah, seru banget! Kaya naik roller coaster, soalnya semua orang teriak-teriak. Bayangin dong, kursiku sampai miring 45 derajat! Pas keretanya meluncur turun, kursinya jyga beneran kaya meluncur. Rasanya aku bakal copot dari kursi kalau nggak diikat sama sabuk pengaman. Tapi, kalau 4D yang ini, justru efek visualnya nggak begitu kerasa. Mungkin faktor filmnya juga kali, ya.

IMG_3911

Wahana seru-seruan lain nggak kami coba, cuma dilihatin doang. Rasanya udah capek aja, teriak-teriak di sepeda udara sama 4D hahaha.

Sejatinya kami nggak tau, BNS ini tutup jam berapa. Waktu itu pernah baca di internet, katanya tutup jam 12. Jadilah, sekitar jam 10, kami duduk dulu buat makan ringan macam mpek-mpek dan pisang keju. Pas lagi makan, heran sih, kok orang-orang di foodcourt udah pada beres-beres. Eeeh ternyata kalau weekdays tutupnya jam 11! Waduh, belum masuk ke taman lampion padahal. Jadilah, kami buru-buru makan, trus masuk ke taman lampion. Harga tiketnya 15 ribu.

Sadar bentar lagi tempatnya mau tutup, kami buru-buru foto di semua spot yang ada. Cakep sih tempatnya, foto-foto-able. Sehabis foto-foto di lampion teratai tengah kolam, tadinya kami mau balik lagi ke belakang. Ternyata, pelan-pelan semua lampion dimatikan. Mulai dari tempat kami masuk, lampu-lampu lampion yang mati seolah mengejar kami dan beberapa pengunjung terakhir untuk segera keluar. Jadilah, semua orang yang tersisa di taman lampion lari-lari sambil jejeritan dalam kegelapan. Gitu banget ya, ngusirnya!

Setelah dihitung-hitung, ternyata pengeluaran selama di BNS memakan lebih dari 100 ribu, sih. Belum termasuk makan. Pelajaran banget, kalau ke BNS emang mendingan sekalian beli tiket terusan. Lebih hemat!

***

Besoknya, setelah sarapan mi instan yang tersedia di penginapan ditambah dua mi instan lain dan telur yang dibeli dari warung terdekat, kami menelepon Mas Eko. Tapi nomernya nggak aktif. Yah, bukan rejeki Mas Eko ternyata. Jadilah kami menelepon perusahaan taksi yang sama. Kali ini, supirnya udah agak tua, tapi tetap ramah kaya supir-supir taksi sebelumnya.

Sebelum pulang, kami beli oleh-oleh dulu. Aku dan Firda bingung mesti bawa oleh-oleh apa buat orang kantor. Dengan polosnya, akhirnya kami beli pie susu dan eggroll apel. Pokoknya ada apel-apel-nya lah ya. Biar kelihatan pulang dari Malang.

Aku nggak beli banyak oleh-oleh karena emang nggak ada yang mau dikasih oleh-oleh. Semua yang kubeli, ya buat aku sendiri haha. Tapi di sini, aku ketemu sale pisang yang dibentuk kaya anggur gitu. Lucu banget. Sungguh menggoda untuk dibeli.

Ah ya! Aku baru sadar, kalau KTP-ku ketinggalan di Tya Backpackers! Sebelum ke stasiun, kami balik ke Sigura-gura buat ambil KTP, sekalian beli ayam-ayaman untuk makan siang dan makan malam. Di pinggir jalan, kelihatan warung ayam goreng krispi, dan itulah pilihannya. Ngomong-ngomong, si ayam krispi ini enak. Ada tambahan saus teriyakinya juga ternyata.

Aku dan Firda pulang ke Bandung, sementara Mumut dan Siti ke Jakarta.Di kereta, aku dan Firda duduk terpisah. Beneran dari ujung ke ujung. Aku di 3E, Firda di 22A. Kami bahkan udah menyiapkan skenario kalau Firda sakit, supaya ada seseorang yang mau tukaran tempat duduk. Udah sok-sokan dialog “kamu bawa obat aku kan?” “iya, nanti kalau kenapa-kenapa bilang aja”. Tapi tetap, kami nggak dapat celah untuk tukaran tempat duduk! Hahaha yaudah deh, sepanjang jalan kulalui dengan hening sendirian. Kadang ditemani lagu dari ponsel, kadang diisi suara anak kecil yang berulang kali nyanyi Tetap dalam Jiwa-nya Isyana Sarasvati, selebihnya tidur dan bengong. Aku dan Firda baru dapat kesempatan untuk duduk bareng abis subuh! Haha yasudahlah. Pura-puranya sebelas jam yang lalu adalah solo trip.

Begitulah, liburan resmi berakhir. Sampai jumpa, Malang. Kamu sungguh berkesan. Nanti-nanti ketemu lagi, ya! Aku mau wisata alam-alaman!