Month: January 2016

Komik Cewek

Kapan terakhir kali aku berdebar-debar baca komik cewek?

Rasanya ini udah kutulis berkali-kali, tapi sekali lagi, aku mau bilang kalau White Feathers karya Archie TheRedcat adalah komik cewek favoritku sepanjang masa.
Aku baca komik itu waktu SD, dan sama sekali nggak merhatiin nama komikusnya. Aku percaya aja itu komik Jepang, karena (1) gambarnya manga banget; (2) ceritanya bagus. Fantasi banget.
Sejatinya, aku baru tau kalau komikusnya itu warga negara Indonesia asli sekitar bulan November atau Desember 2015, waktu ngerjain tugas PBM. Lalu aku terkaget-kaget. Dan, oke.
Aku nggak pernah baca komik Archie yang lain selain White Feather, dan fasilitas Webtoon mempertemukanku dengan karya teranyarnya, Eggnoid.
Inti ceritanya adalah cowok ganteng yang keluar dari telur untuk dipelihara sama cewek SMA yatim-piatu yang lagi galau karena satu-satunya teman yang dia punya di DUNIA ini gak mau temenan sama dia lagi. Ceritanya belum jalan jauh sih, tapi so far ceritanya bagus banget. Dan mendebarkan.
Jangan mengira ini romance yang gimana-gimana gitu. Si cowok, adalah cowok yang keluar dari telur Eggnoid. Biar badannya dewasa, tapi kelakuannya kaya anak kecil. Maklum, baru menetas. Dan dia itu suka peluk-peluk. Apalagi kalau digambar gaya chibi, aduh lututku langsung lemas. Imut banget, sih.
Uhm, terakhir aku berdebar-debar pas baca komik cewek, kayanya waktu baca  Miiko vol. 12, tentang Miiko yang berantem sama Tappei, trus dapet bola ajaib dari penyihir yang bikin dia datang ke masa SMA-nya. Blablabla, trus Tappei nanya Miiko punya hubungan apa sama Yoshida, dan:

image

Aduh, jantungku....

Nah, ternyata malam ini aku berdebar-debar lagi karena baca Eggnoid yang baru update.

image

Too cute to be true...

Apa? Gak jelas? Iya, aku deg-degan aduh gimana dong hahaha. Memalukan.

Advertisements

Kehidupan Sosial

image

Credits on picture

Alih-alih takut salah pergaulan, sebenarnya orang tuaku lebih takut apakah aku bisa bergaul atau tidak.
Orang tuaku itu, benar-benar tipikal orang Indonesia yang sangat senang bergaul, berkumpul, dan mengobrol. Kalau ketemu orang baru, bisa aja udah ngobrol macam-macam entah dari mana akarnya. Kuamati, kalau anak-anak muda jadi gampang akrab kalau ngomongin cecintaan, seselingkuhan, dan gegalauan, maka orang tuaku ini nggak taulah ngobrolin apa yang bisa bikin dekat. Mungkin ngobrolin daerah asal si lawan bicara. Mungkin ngobrolin Joko Widodo. Atau mungkin semua itu dimulai cuma dari Saipul Jamil dan Dangdut Academy.
Orang tuaku yang seperti itu, entah bagaimana bisa menurunkan anak malas bergaul sepertiku. Aku bahkan nggak bisa membedakan apakah aku ini cuma malas bergaul atau jangan-jangan udah sampai di level nggak bisa bergaul.
Sekarang misalnya. Aku lagi ikut syuting program religi di Ciater. Ini lagi nungguin si ustad-nya yang lagi entah di mana dan nggak datang-datang. Lalu, aku “terjebak” untuk duduk bersama dua aa kameramen dan satu aa driver.
Semua orang emang sibuk dengan ponsel masing-masing sih. Ada yang main game, foto-foto sekitar, atau scrolling 9Gag. Yang terakhir itu aku.
Biasa lah ya, kalau liat yang lucu aku suka cekikikan sendiri. Dan cekikikan ini emang nggak bisa kubagi, karena pertama, aku trauma membagi lelucon ke orang lain dan ternyata buat dia itu nggak lucu. Dan yang kedua, uhm, leluconnya rada jorok. Hehe.
Satu celetukan yang paling kubenci dari celetukan untuk orang yang asyik sendiri adalah, “Autis”.
Sebenarnya, nggak masalah kan, kalau akhirnya orang pada asyik masing-masing? Jujur aja, aku paling malas harus berakrab-akrab dengan orang. Berusaha dekat dengan nanya-nanya ini apa itu siapa dan mau ke mana.
Sesekali, pernah aku berusaha untuk berakrab-akrab ria, dan aku berakhir dengan risih sama diri sendiri.
Apa sih sebutan untuk orang yang nggak nyaman “dipaksa” berakrab-akrab? Bukan anti sosial, kan?
Yah, kalau mamaku tau aku masih begini, aku pasti diomelin habis-habisan.
Orang-orang yang gampang bergaul, yang ngerasa biasa aja nyeletuk tanpa memikirkan kelanjutannya, orang yang merasa bisa dekat dengan siapa aja, pasti nggak ngerti gimana struggle orang yang-nggak-kaya-mereka untuk bergaul. Mereka nggak akan ngerti perasaan canggung ketika berusaha ngobrol. Mereka nggak mau tau gimana perjuangan untuk bisa berakrab-akrab tanpa harus merasa risih.
“Kalau aku jadi kamu sih, aku bakal blablabla” ee kebo, ah, sialnya aku bukan kamu 🙂
Ada nggak sih, caranya supaya semua perasaan canggung dan risih itu hilang? Nggak. Jangan nyuruh googling atau baca artikel di majalah. Aku hafal semuanya. Isinya cuma omong kosong perandai-andaian, dengan bahasa sok bijak dan diplomatis.
Mungkin aku harus dihipnotis, atau dibawa ke psikolog sekalian.

Narsisme 9999+

Kita pasti tahu satu orang yang begitu suka dengan wajahnya sendiri. Atau minimal dengan satu foto terbaiknya di dunia.

Aku suka geli sendiri kalau secara sengaja atau nggak sengaja ngintip gadget orang, dan isinya muka dia semua.

Wallpaper hp, foto sendiri.

Wallpaper laptop, foto sendiri.

Foto profil Line, BBM, Facebook, Twitter, Instagram, Path, bahkan Friendster kalo masih jaman, foto doi sendiri juga. Bahkan kalau aslinya foto itu foto rame-rame, dia bakal nge-crop foto itu supaya cuma mukanya aja yang jadi pusat perhatian.

Trus selfie seribu kali sehari, dan setengahnya diunggah ke semua media sosial. Tiap hari. Dengan pose yang sama, angle yang sama, baju dan lokasi berbeda.

Belum parah? Masih ada lagi.

Wallpaper chat LIne/WhatsApp pake foto muka sendiri.

Bahkan keyboard hp, yang bisa dimodif, pake fotonya sendiri juga.

Masih bagus mereka nggak bikin garskin laptop/hp dengan foto muka sendiri. Atau bikin paperboard diri sendiri plus seprei-sarung bantal-selimut dengan wajah sendiri, dan memajang foto diri di dinding kamar. Serem sih kalau gitu.

Eh, bukan aku benci, jijik, atau apa ya. Terserah orang sih mau memanfaatkan foto dirinya sendiri seperti apa. Cuma geli aja. Paling geli sih kalo yang udah ganti wallpaper chat sama skin keyboard. Asli itu mah level narsismenya tinggi banget.

narsisme/nar·sis·me/n hal (keadaan) mencintai diri sendiri secara berlebihan

Beberapa minggu lalu, aku dan temanku ke sebuah rumah makan vegetarian di dekat kantor. Kami ke sana karena penasaran sih, namanya aneh dan bikin bertanya-tanya gitu. Taunya itu restoran vegetarian juga dari liputan NET Jabar yang ditonton via Youtube. Kalau nggak, mungkin kupikir tempat itu semacam rumah ibadah suatu sekte. Minimal markas besar produk MLM tertentu.

Aku nggak mau ngereview makanannya yang emang enak atau tempatnya yang rada bau dupa, aku mau cerita tentang hal lawak yang bikin aku ngakak selama makan.

Di dinding sebelah meja kami, ada semacam poster gitu. Ukurannya segede petak dinding, sekitar 3×3 meter.  Di dalamnya, ada gambar seorang ibu berturban yang jadi objek utama foto. Latar belakangnya, editan banget sih keliatan, seolah-olah si ibu lagi ada di sebuah ruangan dengan beragam pajangan gitu.

Coba tebak, gambar apa yang ada di pajangannya?

Muka si ibu.

Ngakak sih, di dalam satu foto, ada sekitar 8 atau 9 wajah si ibu yang untungnya pakai baju beda-beda. Ada yang pake turban, bahkan ada yang pake topi santa. Ada yang di frame kotak, frame kaya cerminnya ibu tiri Cinderella, fram bulat, frame besar…. Asli random abis. Buatku, itu super menggelikan. Seolah-olah muka si ibu siap menghantui siapa saja yang makan di rumah makan itu.

Narsis itu nggak salah sih. Toh, mencintai diri sendiri juga hal penting yang harus dimiliki setiap insan abdi masyarakat pembina nusa bangsa. Tapiii kalau terlalu memuja muka sendiri, jadi geli gak sih? Nggak? Yaudah, berarti aku doang yang ngerasa geli.

Sebagai orang yang level narsismenya cekak, aku emang nggak bisa ngerti gimana bahagianya orang yang tiap buka hp ngeliat muka sendiri, ngetik chat juga ngeliat muka sendiri. Dua kali, lewat wallpaper dan keyboard. Buatku, rasanya risih sekali ngeliat mukaku terpampang di mana-mana. Aku suka ngaca, kalau ngelewatin toko atau cermin, aku suka lihat gimana wujudku. Tapi bukan berarti aku merasa punya urgensi untuk mengetuk foto diriku tiap kali aku mau ngetik sesuatu di hp.

Erm, jadi pengen tahu gimana rasanya jadi ibu pemilik rumah makan vegetarian. Dan si teman yang selalu memajang foto diri sendiri.

Sampis

Akhir bulan ternyata memberikan efek bad mood dan jadi males ngapa-ngapain. Bahkan menyelesaikan cerita jalan-jalan di Malang aja males.
Jadilah, dari sebuah official account di Line, aku menemukan pertanyaan-pertanyaan gak penting yang bisa buat mengisi kekosongan hidup, otak, dan mood.

Here we go…..

Who was the last person you held hand with? – Siti
Are you loud, outgoing, or shy? – Shy
Who are you looking forward to seeing? –  Kevin Ray!!! 💜
Are you easy to get along with? – No.
Have you given up on someone, but then gone back to him/her? – Sadly, yes. Always.
If you were drunk would the person you like take care of you? – No. Because I wouldn’t be.
Do you think you’ll be in a relationship two months from now? – Nope! Hahaha I don’t even have a crush to anyone!
Who from the opposite gender is on your mind? – Bapak 🙂
Who was the last person you had a deep conversation with? – Firda
What does your most recent text say? – “Promo i-Ring 808….” yeah, it’s pathetic.
How do you feel about abortion? – You shouldn’t get pregnant or even did unsafe sex so you don’t have to abort it. It’s really bad.
Do you like big crowds of people? – NO!
Do you believe in luck or miracle? – Yup.
What good thing happen this summer? – Gone to Pancaro Rayo waterfall.
Do you still talk to your first crush? – ….yes….
Do you like bubble bath? – Obviously yes!
Do you like your neighbor? – Not really.
What are your bad habits? – Procrastination, mager
Where would you like to travel? – Somewhere really different from my place! Its nature, people, culture…
Do you have trust issues? – Yes. Internet makes it worse.
Favourite part of your daily routine? – Back to sleep after sholat subuh.
What body parts you most uncomfortable with? – My tights 😦
What do you do when you wake up? – Snoozing the alarm.
Do you wish your skin was lighter or darker? – Yep.
Who are you must comfortable around? –  My family, and my inner-circle.
Do you want to get married? – Of course. Dear someone, marry me asap plz!
Is your hair long enough for a ponytail? – Yes.
Would you rather live without TV or music? – TV. It’s so trash nowadays.
Have you ever liked someone and never told them? – ALWAYS!! HAHAHA
What do you say during awkward silence? – “mmm… Panas, ya…” or I’d rather keep the silence and slowly disappear.
Do you think age matter in a relationship? – Yes. We call a 30 years man a pedophile if he fell in love with 9 years girl, do we?
What are your favorite stores to shop in? – Nothing in particular. But I love every cheap-but-great-product store :p
What do you want to do after high school? – Actually I wanna rule the world, but I end up being an ordinary college girl. Tsck.
Do you believe everyone deserves a second chance? – Yes. GIMME MY SECOND CHANCE(S)
If you’re being extremely quiet, what does it mean? – maybe it’s just because I didn’t brush my teeth and can’t get any drinks…. Uhm, gross.
Do you smile at strangers? – Only if they did something nice to me in public place. NOT TO RANDOM STRANGERS.
Trip to outer space or bottom of ocean? – Outer space! Being an astronaut is every kids’ dream, I guess.
Do you want a roommate? – No. Unless it’s a male cat.
What are you paranoid about? – There’d be something bad happen when everything seems alright.
What was the meanest thing someone ever said to you? – “Ki hamil ya?” said my little brother when he touched my fat belly.
The nicest thing? – “Yaudah sini, aku bayarin” this is dopest of the dope.
Have you ever done something recently you hope no one finds out about? – Yes. Days ago, I went to movie shop with my friend, and we tried to choose a movie randomly. We watch the preview, and there’s so many naked girl. Even the gay intercourse scene! Omg I hope no one saw us. It’s really embarassing.
What language do you want to learn? – The animal language. Can I?

Yaaah kok abis sih pertanyaannya haha lumayan banget sih buat mengisi kebosanan dan membuat diri sendiri merasa sok penting. Hahaha bhay!

Melanglang di Malang (4)

Kami sampai di penginapan sekitar jam setengah 11 malam. Sebelum balik ke kamar dan istirahat, kami—atau lebih tepatnya Mumut dan Siti—ngobrol-ngobrol dulu sama Mas Rudi dan Mbak Novi. Kami mengutarakan keinginan untuk ke Pantai Balekambang. Pantai ini emang hits banget di instagram. Balekambang menawarkan pemandangan laut biru dan jembatan yang terhubung ke semacam pura. Mirip di Tanah Lot, Bali.

Mereka menyarankan kami untuk nggak ke sana. Pertimbangannya, selain harus sewa mobil dan merogoh kocek dalam-dalam, Balekambang sebenarnya nggak bagus-bagus amat.

“Kata orang Balekambang tuh mirip di Tanah Lot. Nggak, jauh banget. Beda,” kata Mas Rudi berapi-api. Kami manut-manut.

Dipikir-pikir, emang menyedihkan sih, ke Balekambang cuma buat foto-foto trus diunggah ke Instagram. Dihitung-hitung, sewa mobil aja kira-kira 500 ribu. Dibagi empat, berarti satu orang 125 ribu. Belum lagi uang bensin dan makan supirnya. Keluar duit segitu dan cuma dapat foto? Nggak worth it sih emang. Kecuali jauh-jauh ke pantai mau snorkeling, diving, atau sekalian bikin istana dasar laut. Baru cocok.

Mereka kemudian menyarankan kami ke pantai lain yang bisa snorkeling. Atau Pulau Sempu. Kami menolak. Soalnya kami ke sini emang bukan untuk wisata alam-alaman yang kaya gitu. Snorkeling? Kami nggak bawa baju buat berenang-renang di laut. Ke Pulau Sempu yang mesti masuk hutan dan jalan kaki berjam-jam? Nay. Kami semua pakai sandal cantik.

Akhirnya kami kembali ke kamar dan berdiskusi. Pokoknya, besok hidup ini nggak boleh disa-siakan di kamar penginapan! Akhirnya, diputuskan kami akan ke Batu aja. Kami bisa ke Selecta, terus malamnya main di alun-alun. Kami juga menyewa motor dan hidup mengandalkan maps.

Awalnya emang pengen sih, ke Coban Rondo. Toh itu tempat wisata yang udah dikelola dengan baik dan nggak perlu trekking di dalam hutan. Tapi, Siti nggak mau naik motor ke sana. Hatinya nggak enak, katanya. Okelah, kalau hati udah mengisyaratkan begitu, jangan dilawan. Ikuti saja.

Besoknya, kami berangkat sekitar jam 11 siang. Sebelumnya udah diputuskan, hari ini harus makan-makan sesuatu dengan kearifan lokal. Nggak ada lagi makan-makan lucu. Kemarin malam, kami lihat ada yang jual nasi pecel di Jalan Kawi. Jadilah diputuskan, sarapan (sekaligus makan siang) diadakan di sana.

Menurut judul yang tertera di dinding, nasi pecel ini khas Madura. Nasi pecelnya enak sih, seperti nasi dengan pecel pada umumnya. Seporsi nasi pecel ditambah satu bakwan jagung dan segelas teh manis diganjar dengan harga 15 ribu.

Google Maps menuntun kami melewati jalan yang nggak mainstream. Jalanannya kecil, cuma muat untuk dua mobil. Itu juga mobilnya harus pelan-pelan banget biar nggak bersenggolan. Sawah membentang di kiri-kanan jalan. Seketika udara berubah jadi lebih sejuk. Langit mulai mendung.

Perjalanan ke Batu memakan waktu tempuh sekitar satu jam, didominasi dengan medan jalanan mendaki. Sisi baiknya, jalanannya lurus, bukan mendaki berbelok-belok kaya dari Bandung ke Lembang.

Destinasi Pertama: Selecta

IMG_2650

Bukan, bukan mata kuliah Kapita Selekta. Selecta ini kelihatannya adalah komplek agrowisata gitu. Ada tempat petik apel, ada kolam renang, juga kumpulan bunga-bunga. Biaya masuk per orang 25 ribu ditambah parkir motor 5 ribu flat.

Mungkin karena hari Minggu dan hari terakhir liburan, Selecta hari itu lumayan rame. Ada banyak bus wisata terparkir. Kolam renangnya rame, taman bunganya juga rame, semuanya rame. Di Selecta, kami foto-foto diantara rimbunan bunga, bersama patung-patung dinosaurus. Juga naik perahu ayun, yang kami kira mirip kora-kora tapi ternyata cuma diayun-ayun gitu doang. Enak, bikin ngantuk. Trus kami juga naik sepeda udara yang mesti ngegowes sendiri. Wooh lumayan bikin kaki yang jarang olah raga ini jadi lemas.

IMG_2725

Masyarakat Indonesia yang berbudaya ini kebanyakan sangat menyukai hal-hal instan. Begitu juga di sini, sampah berserakan di mana-mana. Instan, kan? Nggak usah repot-repot ngebawa sampah ke mana-mana. Buang aja sembarangan, toh nanti ada yang ngambil juga. Ini jadi salah satu kekurangan Selecta menurutku. Tempat sampahnya terlalu sedikit. Apalagi di rimbun bunga lavender, di bawah tempat tunggu sepeda udara. Tanahnya penuh sampah kemasan ini-itu dan botol-botol air.

Destinasi Kedua: Alun-Alun Kota Batu

Kami sampai di alun-alun Kota Batu menjelang magrib. Niatnya ke sini untuk naik ferris wheel alias bianglala. Tapi, kayanya si bianglala baru beroperasi malam deh. Soalnya pas kami sampai di sana, bianglalanya belum beroperasi. Lampunya juga belum nyala. Begitu juga dengan lampion-lampion raksasa yang ada di alun-alun. Mungkin alun-alun ini emang baru rame kalau udah malam, menyesuaikan dengan misi Kota Wisata Shining Batu.

Setelah parkir motor, kami lihat-lihat di sekitaran alun-alun. Banyak banget pedagang kaki lima. Jualannya macem-macem, mulai dari pentol—alias bakso—bakar, cwie mie, pernak-pernik lucu, sampai jagung bakar serut. Yang terakhir ini jadi pilihan pertamaku.

Nggak ada yang aneh dari jagung bakar serut selain wadahnya dalam plastik. Jadi, awalnya jagung manis dibakar seperti jagung pada umumnya. Bedanya, setelah dioles mentega, jagung diserut (dipipil) dan diletakkan dalam wadah gelas plastik. Lalu disiram susu kental manis. Penyajian seperti ini memang menghilangkan hakikat sensasi makan jagung bakar sih. Tapi nggak masalah, soalnya enak. Apa sih yang nggak boleh buat makanan enak. Rasa gosong dicampur susu memberikan perpaduan pahit yang didominasi rasa manis. Amboi. Ciamik.

Makanan selanjutnya adalah ketan susu legenda. Kami beli karena penasaran aja. Soalnya antreannya rame dan mengusung nama legenda. Seolah-olah dia adalah dedengkotnya para ketan susu. Kami beli rasa coklat keju sama durian.

Porsi ketannya dikit banget. Tapi yang rasa durian da best lah! Duriannya manis, ditambah vla yang juga manis. Buatku, paduan ini sama sekali nggak bikin giung. Mungkin karena ada rasa gurih dari ketannya. Dan ngomong-ngomong, ketan durian ini sedikit mengobati kerinduanku sama durian. Nyem nyem.

Oh ya, sembari nungguin aku dan Siti sholat magrib, Firda dan Mumut jajan lumpia. Begitu selesai sholat dan menemui mereka yang lagi duduk di teras masjid, Firda langsung menyodorkan kresek isi lumpia.

“Cobain deh, Cen. Ini enak banget,” kata Firda. Mumut senyum-senyum.

Aku ambil setengah potong, langsung kujejalkan semua ke mulut. Hmm biasa aja. Tapi kaya ada bau-bau gitu di dalam mulut.

Firda ngakak. “Bau eek nggak sih?” katanya.

Yah, lumpianya emang bau sih rasanya di dalam mulut, tapi nggak sampai kaya kotoran juga. Jadi aku masih bisa bersikap biasa aja. Beda dengan Siti yang begitu memakan si lumpia langsung mengernyitkan dahi dan bilang, “Aduh maaf, tapi Siti langsung inget toilet kereta pas makannya,”

Setelah ditelusuri, ternyata bau itu asalnya dari rebung. Aku nggak tahu apa rebung emang bau atau pengolahannya yang salah, tapi si lumpia ini tengiknya emang baru kerasa kalau udah dimakan. Kalau diendus-endus mah, baunya kaya gorengan biasa.

Abis magrib, si bianglala ternyata udah nyala. Yang ngantre mau naik banyak banget. Apalagi si bianglala ini menawarkan harga murah meriah, cuma 3 ribu sekali naik. Bianglala ini berputar pelan sekali dan nggak berhenti. Jadi kalau mau naik harus cepat-cepat, begitu juga kalau turun.

IMG_2984

Abis naik bianglala, kami masih bertahan di alun-alun. Berusaha kembali memproduksi foto dengan permainan cahaya. Coba sekali, gagal. Dua kali, masih nggak sesuai harapan. Tiga kali, nah ini dia!

324

Udah malam. Udah hampir jam 9. Kami memutuskan untuk pulang ke Malang. Dalam perjalanan pulang ini, aku belajar banget kalau Google Maps itu memberi petunjuk jalan tercepat, bukan terbaik atau teraman.

Logikanya, emang kalau mau pulang dari Batu ke Malang tinggal meluncur turun aja. Di tengah jalan, si Google Maps nyuruh belok kanan. Kami iya-iya aja. Ternyata, jalannya seram, bro.

Aku nggak tahu apa nama jalan ini, tapi kalau nggak salah tadi siang kulihat kalau lewat jalan ini bisa tembus langsung ke Batu Night Spectacular (BNS). Ternyata, maps mengarahkan kami lewat jalanan kecil perumahan. Semakin jauh, semakin gelap. Penerangan cuma berasal dari lampu motor. Hidungku mencium bau yang sangat kukenal: bau tanah campur pestisida. Di kiri jalan, ada gundukan tanah ditutupi plastik mulsa keperakan. Sisi kanan jalan gelap, tapi kayanya itu kol deh.

Dari pada hantu, pas lewat sini sebenarnya aku lebih takut dengan bahaya lain yang mengintai. Gimana kalau ada begal? Gimana kalau tiba-tiba ada bajing loncat menghadang kami di depan sana? Gimana kalau tiba-tiba ban motor pecah? Gimana kalau kehabisan bensin?

Alhamdulillah, ujung jalan udah kelihatan. Tahu, itu nyambungnya ke mana?

Jalan yang menjadi akhir perjalanan kami itu berujung ke jalan yang sama dengan sebelum kami belok. Jadi yah, pada dasarnya emang tadi itu lurus aja. Nggak usah nurut banget sama maps. Alih-alih motong jalan, sebenarnya kami malah muter dan jalan lebih jauh. Hahaha koplak sih. Lumayan tapi jadi punya cerita.

Hah, besok udah hari terakhir? Ya ampun! Sedih!

Next part!

Note: most of the photos above are taken by Mumut

Melanglang di Malang (3)

Destinasi Pertama: Bakso Bakar Pak Man!

IMG_2220

Ada untungnya juga kami cuma pergi berempat. Motor yang bisa disewakan cuma dua dan yang bisa mengendarai motor kebetulan juga cuma dua! Nggak kebayang gimana mobilitas kalau orang kelima ikut, soalnya dia juga nggak bisa naik motor. Masa mau bonceng cabe-cabean?

Mumut ngebonceng Firda, dan aku dibonceng Siti. Lagi-lagi berbekal maps, kami menuju Bakso Bakar Pak Man yang terkenal itu di Jalan Diponegoro. Dasar orang dengan kemampuan navigasi yang buruk, udah pakai maps, aku masih aja bikin nyasar. Kami malah sampai di depan stadion Arema. Muter-muter….woh, akhirnya sampai!

Begitu aku dan Siti masuk, di dalam warung rame banget. Hampir semua bangku terisi. Mumut dan Firda udah pesan 20 butir bakso, tapi itu jelas kurang untuk perut kami yang buncit. Mereka juga berpesan supaya aku dan Siti mengambil mi sendiri ketika memesan bakso.

Aku dan Siti memesan tambahan 15 butir bakso bakar dengan tingkat kepedasan sedang. Nah, ini lagi keunikan! Mi-nya itu mi putih biasa yang ada di bakso (apa sih? Bihun? atau Soun?), tapi warnanya kaya biru-biru gitu! Ini nggak cuma ada di Bakso Pak Man, tapi juga di tukang bakso lain yang kuamati selama di Malang. Apakah ini khasnya dan otentisitasnya bakso Malang?

Setelah memesan, kami mengantre untuk mengambil mi dan bawang goreng yang boleh diambil sepuasnya, gratis. Alhamdulillah, 15 butir bakso masih menjadi rezeki kami. Soalnya, dua giliran setelah kami, baksonya habis ludes blas. Dalam sekejap, warung bakso Pak Man yang tadinya ramai, tiba-tiba hening. Pengunjungnya jadi tinggal kami berempat dan sepasang insan di bangku sebelah.

IMG_2191

6

Asli bakso bakar ini enak banget! Dua mangkok bakso yang kami pesan teksturnya beda. Pesanan Mumut dan Firda, baksonya lebih padat, sedangkan pesananku dan Siti teksturnya kenyal. Mirip cilok. Tapi dua-duanya enak! Sensasi gosong terbakar pas banget dipadukan sama bumbu pedas manis. Tinggal campur sama kuah dan mi deh. Mantap pokoknya.

Bakso di sini hitungannya per butir, dan sebutirnya 3 ribu. Biar kata Google warung Pak Man baru tutup jam 9 malam, tapi pengunjung yang rame bikin mereka tutup lebih cepat. Lain kali kalau mau ke sini harusnya datang lebih pagi biar kebagian lebih banyak.

Pra-destinasi Kedua: Tugu Alun-Alun Bundar

IMG_2269

Bunga artifisial yang kalau malam bisa menyala

IMG_20160102_173129

Tugu Alun-alun Bundar letaknya tepat di depan Balaikota Malang. Bundaran ini udah menarik perhatian kami sejak pertama kali naik angkot dari stasiun. Di tugu ini, ada kolam teratai, taman rumput, rumpun-rumpun bunga hidup, dan beberapa bunga matahari artifisial yang menyala kalau malam. Kami mampir sebentar untuk mencerna bakso dan memproduksi puluhan foto.

Malang ini udaranya mirip Bandung. Mirip banget, panas-dinginnya. Jalanannya juga mirip, cenderung sempit dengan pohon besar di kiri-kanannya. Bedanya, Malang masih sepi. Kotanya tertata rapi sampai rasanya segan kalau nanti lihat ada yang mengotori. Sementara Bandung? Aduh semerawut. Apalagi kalau weekend, macetnya bikin pengen pasang sikap lilin 60 detik.

Destinasi Kedua: Toko Oen

IMG_2300

Kami melanjutkan wisata kuliner ke tempat legendaris, Toko Oen. Konon, toko yang terkenal dengan home made ice cream-nya ini udah ada sejak zaman Belanda. Toko Oen ini nggak jauh dari alun-alun tugu bundar. Letaknya di Jalan Basuki Rahmat yang cukup rame.

Begitu masuk, ternyata toko lumayan rame. Beruntung, ada satu meja yang baru aja kosong. Tetek bengek yang ada di atas meja bahkan belum dibersihkan, tapi kami udah duduk. Pelayan datang membersihkan meja, memberikan menu, dan memberi tahu kalau es krim yang tersedia tinggal single scoop rasa moka. Ah, padahal tadi udah ngebayangin mau makan parfait apa segala macam. Jadilah, kami memesan single scoop moka seharga 20 ribu. Oh ya, menu di sini ditulis dalam bahasa Indonesia/Inggris dan Belanda. Bisalah untuk menambah kosa kata bahasa asing. Walaupun setelah balik ke sini aku udah lupa kemarin baca apa aja.

IMG_2344

Cepet banget melelehnya

Mungkin karena home made, es krimnya cepat banget meleleh. Pas dimakan, rasanya lebih kaya es serut yang haluuuuus banget alih-alih creamy. Lumayanlah untuk mendinginkan tenggorokan sore-sore. Mungkin lain kali kalau mau ke sini lagi, kami harus datang lebih pagi. Bukan magrib begini.

Ngomong-ngomong, di daftar menu ada beberapa menu berbahan baku babi, misalnya pork steak atau sate babi. Aku jadi ingat mamaku. Kalau dia ada di sini, mamaku itu pasti udah menyeret kami semua untuk pindah makan ke tempat lain. Bahkan meskipun kami juga nggak berniat memesan menu olahan daging apa pun.

Juru parkir yang ada di toko ini ternyata cukup fasih berbahasa Inggris. Dia memberi instruksi urusan perpakiran dengan bahasa Inggris. Kalau diperhatikan, kurasa umurnya sama tuanya dengan Toko Oen sendiri.

Pra-Destinasi Ketiga: Alun-Alun Malang

Nggak lengkap melancong ke sebuah kota kalau nggak main ke alun-alunnya. Pada dasarnya, Toko Oen dan alun-alun kota Malang ini satu jalan. Berhubung nggak bisa langsung mutar balik, jadilah kami mutar lumayan jauh untuk ke alun-alun.

Alun-alun dan masjidnya lumayan rame malam itu. Mungkin karena malam minggu juga. Aku dan Siti sholat dulu, sementara Firda dan Mumut kongkow di sekitaran alun-alun.

Di alun-alun, ada air mancur yang disinari lampu warna-warni. Sepertinya air mancur yang nggak terlalu besar ini adalah tontonan utama di sini, karena ada banyak banget orang berkerumun. Termasuk kami.

Bosan cuma lihat air mancur, kami memutuskan untuk bereksperimen dengan foto dan cahaya lampu warna-warni. Woohoo! Hasilnya kaya lagi party gitu. Tapi pakai kerudung. Party sharia.

1

Destinasi Ketiga: Makan Lucu

Nama tempatnya bukan “Makan Lucu” sih. Kutulis begitu karena kami sebenernya gambling aja. Nggak punya tujuan yang pasti kaya dua destinasi sebelumnya. Jam di ponsel menunjukkan hampir jam 9 malam. Perut gembul ini udah kelaparan lagi.

Tadinya, kami mau makan burger super besar. Ternyata pas nyari jalan ke sana lewat maps, kami dapat peringatan kalau bisa aja pas nyampe sana, tokonya udah tutup. Jadilah, kami keluyuran sendiri dan mendarat di Jalan Doktor Sutomo yang nggak jauh dari Stasiun Malang.

Jalan Doktor Sutomo penuh makanan. Mulai dari makanan kaki lima macam ayam goreng dan sahabatnya, jagung bakar, sampai beragam kafe. Kami mencoba menyusuri jalan ini, tapi nggak menemukan tempat makan yang kira-kira oke. Akhirnya googling dengan kata kunci “Tempat Makan yang Wajib Dikunjungi di Malang” jadi pilihan.

Menurut blog seseorang di Google sana, ada sebuah kafe ala Korea di jalan… umm jalan apa ya? Aku lupa nama jalannya. Kayanya sejenis nama buah-buahan yang kalau diucapkan mirip mengkudu. Ya itulah pokoknya. Kami memutuskan untuk ke sana saja.

Di tengah jalan, kami malah ketemu sama sebuah kafe yang tampilannya lucu banget. Kesannya hangat dan rumahan gitu. Dasar jodoh, akhirnya kami berlabuh di sini, Cafetaria.

Makanan di Cafetaria seperti kafe-kafe pada umumnya. Aku pesan Spaghetti Carbonara dan Pink Guava alias jus jambu. Firda pesan Fetuccine Aglio Olio dan Royal Honeydew alias jus timun suri. Mumut pesan Chicken Curry Set dan Sweet Watermelon alias jus semangka. Siti pesan Chicken Mushroom Sauce dan Pink Guava Tambahan, kami pesan Mug Cake Chocolate.

“Es krimnya tinggal yang raspberry, nggak apa-apa mbak?” tanya mas pelayan. Kami angguk-angguk aja. Kelihatannya es krim itu pendamping kue. Entahlah. Lihat saja.

Secara keseluruhan, makanannya enak. Aku suka banget katsu kare yang dipesan Mumut. Jusnya sendiri menurutku terlalu encer. Soalnya, jus Wiscar yang cuma tujuh ribu memberikan buah lebih banyak dari jus seharga belasan ribu ini.

Kue! Enak banget! Rasanya bener-bener coklat. Es krim raspberry juga enak, rasanya kaya permen karet. Alhamdulillah, malam ini makan enak. Walaupun pas bayar kami terkaget-kaget karena satu dan lain hal, ya udahlah ya. Udah masuk saluran pencernaan ini. Enak kok, nggak apa-apa.

Yak, waktunya pulang dan menyusun rencana untuk besok. Next Part!

Melanglang di Malang (2)

Sesampainya di Malang, kami segera menuju penginapan. Menurut mas pengurus penginapan, dari stasiun naik taksi aja ke sana. Paling bayar 30 ribu alias jumlah minimum pembayaran. Liat di maps, jarak stasiun ke penginapan emang cuma enam kilo. Terhitung dekat lah untuk ukuran naik kendaraan bermotor.

Enggak banyak taksi yang lewat di depan stasiun waktu itu. Pas ada, ya kalau nggak isi, ya udah diambil orang. Sekalinya ketemu taksi, doi minta bayaran 50 ribu untuk jarak segitu. Buset! Komodifikasi wisatawan!

“Kan deket, mas!” protes kami waktu ditawarin harga segitu.

“Kalau deket ya jalan kaki aja,” kata si supir taksi sambil memberikan cengiran yang bikin aku benci. Nyebelin banget!

Akhirnya kami memutuskan untuk naik angkot aja. Katanya, patokan untuk ke penginapan adalah Universitas Brawijaya. Tanya sana-sini, akhirnya kami mendarat di angkot ADL. Iya, di Malang ini lucu banget. Kalau di Jakarta orang nyebut angkot pake nomer, di Bandung pake nomer atau warna atau langsung nyebut jurusannya (misal: Caheum-Ciroyom), di Malang pake singkatan huruf trayeknya.

IMG_2178

Angkotnya biru semua dan dikode huruf

Kami naik angkot dengan tetap mengandalkan maps sebagai pemandu. Menurut maps, kami harus turun di persimpangan jalan MT Haryono-Gajayana, trus nyambung lagi. Nggak tahu pakai apa. Ongkosnya lima ribu. Kami polos aja turun dan mikir, kayanya bisa jalan kaki deh. Pas nanya orang, aduh, katanya tujuan kami, Jalan Sigura-gura Barat Raya, cukup jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki.

Kami putuskan untuk naik taksi aja. Mau nyetop di pinggir jalan, nggak ada yang lewat. Sekalinya ada, eh ada isinya. Supir taksinya ngasih kode supaya kami pesan taksi lewat telepon. Nomernya tertera di kaca belakang mobil Ertiga yang dijadikan taksi.

Taksi datang nggak lama kemudian, dan yah, jaraknya emang jauh untuk jalan kaki, tapi dekat banget kalau naik mobil. Dengan harga buka pintu 5 ribu, kami sampai di tujuan ketika argo menunjukkan angka 8100-an. Tapi tetap aja bayarnya 30 ribu.

Penginapan yang kami tempati ini namanya Tya Backpackers. Ada di komplek ruko, dengan minimarket dan tempat makan berceceran di sekitarnya. Bayangannya, pas nyampe di sana kami bisa langsung leyeh-leyeh di kamar. Punggung ini butuh diluruskan sebelum kembali melanjutkan jalan-jalan. Tapi, ternyata kamar yang bakal kami tempati masih ada orang. Kami harus nunggu sampai sekitar jam 11 atau 12 untuk bisa menempati kamar.

Sisi baiknya, kami bisa menitipkan barang-barang, dan numpang ke toilet untuk buang air, cuci muka, sikat gigi, dan merapikan kerudung yang awut-awutan.

Penjaga penginapan, yang belakangan diketahui sebagai Mas Tyo, menyarankan kami untuk jalan-jalan cari makan di sekitaran Sigura-gura ini sementara kamar disiapkan. Enggak tahulah apakah kata “kere” tercetak jelas di muka kami, atau dia memang paham kalau orang-orang yang menginap di penginapannya berbudget tipis. Dia menyarankan kami makan ayam goreng di warung sekitar 50 meter dari penginapan (yang belakangan kami sebut “kosan”) dengan embel-embel “Cuma 8 ribu” yang bikin kami langsung oke.

Sampai di sana, ternyata ayamnya habis. Yang ada tinggal bebek. Hah, gile lu, ndro! Masa siang-siang begini ayam udah habis? Teman-temanku yang mukanya udah kelaparan, cuma bilang “Udah Cen, cobain aja makan bebek. Jangan dibayangin wujud aslinya,”

Seumur hidup, aku nggak pernah makan bebek. Bukan karena jarang ada yang jual. Tapi yah, nggak doyan aja. Aku ilfil membayangkan wujud asli bebek, dengan paruh kuningnya yang lebar dan dower, serta kakinya yang berselaput. Bayangan itu bikin aku geli setengah mati dan ogah makan bebek. Meski secara telanjang, tampang daging bebek nggak ada bedanya sama ayam.

Hari itu, Sabtu, 2 Januari 2016, kutandai sebagai hari pertama aku makan bebek.

Ternyata tekstur daging bebek beneran mirip ayam, tapi rasanya lebih padat. Kulitnya juga lebih tebal dan yang pasti nggak kumakan. Selama makan, aku berusaha nggak membayangkan wujud bebek, baik dalam wujud berbaris di sawah atau yang sedang bermandikan uang kaya Paman Gober. Sesuwir daging bebek kusumpal ke mulut dengan sekepal nasi. Hah, jangan dirasa-rasain pokoknya mah.

Satu lagi hal yang kutemukan di sini adalah, rumah makannya menyajikan teh manis hangat.

Keluarga bapakku orang Jawa, dan mereka suka sekali minum teh manis hangat. Mbahku itu kalau bikin teh, ampun manisnya udah kaya masukin ladang tebu ke dalam cangkir.

Sementara itu, selama tinggal di tanah Sunda, kuperhatikan kebanyakan tempat makan menyajikan teh tawar hangat. Teh manis dihidangkan kalau kita memesan, bukan tersedia gratis dalam teko. Mau nggak mau, hal ini bikin aku terbiasa untuk minum teh tawar yang dihidangkan secara gratis.

Di rumah makan yang-aku-lupa-namanya-apa-tapi-masya-Allah-sambelnya-pedes-banget itu, aku menemukan teh manis panas gratis dari teko. Mantaplah. Tadinya kukira yang bakal kuminum adalah teh tawar.

5

Bukan promosi….

Sehabis makan, kami kembali ke penginapan. Ternyata barang-barang kami yang tadinya berjejer di dekat pintu masuk, udah ada di kamar. Kamarnya lucu banget. Ada empat kasur yang terletak di dua ranjang bertingkat. Jarak dari tepi ranjang kiri ke tepi ranjang kanan paling banyak cuma 30cm. Trus ada satu rak tingkat di pojok dekat jendela, dan satu kipas angin di dinding tengah bagian atas. Colokannya berlubang lima, nyambung sama kipas angin. Di dinding dekat jendela juga ada satu colokan. Kamar ini tanpa ventilasi, jadi biar nggak pengap, kipas harus dinyalakan dan jendela dibiarkan terbuka.

IMG_3158

Kasurnya sendiri, dialasi seprei warna hijau motif bunga, kecuali satu kasur yang memakai seprei polos warna ungu, persis seprei di kosanku waktu masih baru. Sebelum masuk penginapan, kami udah hom-pim-pah untuk menentukan siapa yang berhak memilih posisi paling asoy. Mumut yang menang hom-pim-pah, tadinya memilih untuk tidur di atas. Berhubung kipas anginnya langsung menerpa badan dan meningkatkan risiko masuk angin, jadinya dia tidur di bawah. Sepertinya kasur berseprei ungu itu memang ditakdirkan untukku.

Kami memutuskan untuk tidur dulu sebentar sebelum memulai agenda pertama liburan ini: wisata kuliner! Janjinya sih mau bangun jam satu. Apa daya, tiga dari empat makhluk penghuni kamar ini adalah kebo sehingga kami baru benar-benar bangun dan bersiap-siap menjelang jam tiga.

Sehabis Ashar, kami memutuskan untuk menyelesaikan pembayaran dulu. Sesuai kesepakatan waktu kami nelepon di awal, tarif per orang adalah 40 ribu semalam. Tadinya, mbak penjaga, Mbak Novi, mengagetkan kami dengan angka 66 ribu. Katanya, itu gara-gara kami menempati kamar dengan ranjang. Kamar seharga 40 ribu itu adalah kamar tanpa ranjang. Soalnya di telepon, kami bilang kalau kami datang berlima, dan kamar untuk lima orang, yah yang tanpa ranjang itu. Setelah Mbak Novi ngobrol sebentar sama pengurus lainnya, Mas Rudi, disepakati harga 40 ribu seperti di awal. Ini juga bikin aku terkesan. Mereka nggak ngotot mempertahankan harga yang ujung-ujungnya bikin kami jadi nggak nyaman. KTP-ku dititipkan sebagai jaminan.

Untuk kemudahan mobilitas, kami memilih menyewa motor supaya gampang keliling-keliling dan lebih hemat. Sewa motornya 50 ribu untuk 12 jam belum termasuk bensin. Yah, sama lah kaya di Nangor.

Oke, wisata kuliner macam apa yang kami jajaki? Ada ke-emejing-an lagi? Ada dong!

Next Part!

Melanglang di Malang (1)

Akhirnya jadi juga berlibur bareng teman-teman tanpa wacana!

Hari Jumat kemarin, akhirnya aku dan empat teman berlibur ke Malang selama tiga hari. Seharusnya kami berlima, tapi biasalah, yang satu lagi tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Sepertinya, bagi dia memberi kabar dan membatalkan janji lebih awal itu sama susahnya dengan menurunkan berat badan.

Aku dan Firda berangkat dari Jatinangor dan janjian ketemu Mumut dan Siti di Stasiun Pasar Senen hari Jumat, 1 Januari 2016, maksimal jam 2 siang. Sebelumnya, kami udah beli tiket kereta api Matarmaja kelas ekonomi seharga 115 ribu, keberangkatan jam 15.15. Kenapa nggak dari Bandung aja? Karena mahal. Hehe. Maksudnya juga naik kereta ekonomi biar seru, bisa duduk berhadapan. Waktu itu, mikirnya sih “Yaudah lah ya. Duduknya tegak lurus nggak apa-apa. Yang penting sampai ke Malang!”

Karena takut shit happens macam kemacetan atau apalah yang mungkin menghadang dalam perjalanan kami ke Jakarta, aku dan Firda memutuskan untuk naik kereta aja dari Bandung. Jadilah kami membeli tiket kereta api Argo Parahyangan tujuan stasiun Jatinegara kelas bisnis seharga 90 ribu. Keberangkatan jam 7.35 pagi.

IMG_20160101_070059

Bandung –> Jatinegara!

Sampai di Jatinegara sekitar jam 11, aku dan Firda mau leha-leha dulu. Kami jajan molen panggang yang enak banget di depan stasiun. Setelah beli tiket KRL, kami duduk-duduk di peron karena mikirnya masih lama juga berangkatnya. Aku masih sempat jajan Roti Maryam karena kelaparan. Setelah makan roti, kami lihat di jalur 5 ada KRL ngetem. Masuklah kami, dan bener, KRL ini lewat Stasiun Pasar Senen. Tepat setelah aku dan Firda mendarat di bangku, pintu kereta ditutup. Wow, emejing. Padahal udah santai gitu tadi awalnya.

IMG_20160101_105626

#Touchdown Jatinegara –> Pasar Senen

Sesampainya di Senen, kami nyari-nyari Hokben buat bekal nanti malam di kereta. Ternyata di dalam peron atau di bagian luar stasiun nggak ada Hokben, cuma ada minimarket sama donat. Trus si Firda ngeliat ada logo Mataha*ri dari kejauhan. Asumsinya, itu pasti mall dan di sana pasti ada Hokben. Jam 2 masih lama dan aku juga belum sholat, jadilah kami menyongsong si Mataha*ri.

Dari Stasiun Senen, kami keluar, nyeberang di pertigaan, trus belok kanan ke bangunan yang kami yakini mengandung Mataha*ri dan Hokben di dalamnya. Begitu mendekat, kok tulisannya “Pasar Grosir Senen”? Tapi kayanya bener deh. Jadilah kami masuk, ngadem, dan terkaget-kaget.

Kok isinya lapak barang KW semua? Mana Mataha*ri-nya? Mana Hokbennya?

Jadilah aku dan Firda muter-muter nyari food court di sana. Kata pak satpam, foodcourt-nya lagi direnovasi. Karena lapar, kami makan ayam goreng di tempat terdekat. Rasanya kami benar-benar memasuki bangunan yang salah.

Abis makan, aku nyari Hokben terdekat lewat Google Maps. Ternyata ada di Plaza Atrium yang kata Maps, cuma 10 menitan jalan kaki. Akhirnya kami keluar pasar grosir dan membiarkan maps menuntun langkah.

Gara-gara keasyikan lihat maps, aku nggak memperhatikan kalau di depanku ada bagian trotoar yang sedikit menonjol. Duk! Kakiku tersandung. Sesaat aku kehilangan keseimbangan. Mukaku tinggal 50 cm dari ciuman trotoar panas Jakarta. Ditambah, ransel di punggungku beratnya sekitar tujuh kilo. Untunglah, sebelum benar-benar mencium bumi, aku berhasil berdiri tegak dan menyeimbangkan diri. Bapak-bapak yang jalan di depanku, kaget, dan menatapku sebal. Padahal aku kan nggak salah apa-apa sapa beliau, ya?

Karena panas banget, aku sama Firda memutuskan untuk pakai payung. Malu sih, nggak hujan kok pakai payung. Tapi biarlah, nggak ada yang kenal ini. Panas banget soalnya. Menurut Maps, kami harus jalan melewati Terminal Pasar Senen, terus sampai di jalan raya, terus aku bingung gimana baca petunjuk selanjutnya.

Menurut abang tukang gorengan, Plaza Atrium udah di depan. Tinggal naik jembatan penyeberangan aja katanya.

Okelah, kami naik jembatan penyeberangan, dan……… INI KAN PASAR GROSIR YANG TADI! YA AMPUN!!! Kalau aja tau ada extensionnya begini, kami kan nggak harus panas-panasan keliling terminal!

IMG_20160101_130711

“Foto, Cen. Bukti kalo kita lagi di Atrium,” kata Firda.

Selamatlah, sampai di Atrium. Setelah sholat dan putar-putar, akhirnya kami memutuskan segera ke Hokben. Pas lagi ngantre lift, Mumut nelepon, ngasih tau kalau dia udah di Senen. Wah, ajaib. Kirain Mumut bakal woles banget. Padahal waktu itu masih sekitar jam 1. Mumut bilang, dia belum ketemu Siti di stasiun. Jadilah, Firda memutuskan untuk nelpon Siti, ngasih tau kalau Mumut udah sampai. Pas banget Firda baru ngeluarin hape dari saku, Siti nelepon, bilang kalau dia udah di stasiun. Emejing, kebetulan lagi.

Di Hokben, ternyata antreannya lumayan panjang. Orang-orang yang mau makan di sana udah harus dapat tempat duduk dulu sebelumnya, karena lagi ada yang merayakan ulang tahun. Lagi buru-buru begini, mana antrean lumayan panjang, eh ada ibu-ibu yang masih sempat marah-marah ke mas-mas Hokben. Gara-garanya, doi sama anaknya mau makan di sana tapi nggak tahu kalau harus dapat tempat duduk dulu. Buatku dan Firda yang buru-buru, omelan ibu itu rasanya lamaaa banget. Duh, ibu! Kalau punya waktu buat marah-marah, kenapa nggak pindah restoran aja, sih?

Setelah ba-bi-bu dan cang-cing-cong lainnya, aku dan Firda berhasil sampai di stasiun Senen naik bajaj. Dekat sih, sebenarnya. Tapi karena panas kami jadi malas jalan. Di stasiun, orang-orang yang ngantre buat masuk ke peron 1 tempat kereta Matarmaja mangkal, rame banget. Isinya bener-bener manusia semua. Orang-orang mukanya udah kaya diguyur air saking panasnya.

Awal naik kereta, masih panas. AC-nya sama sekali nggak kerasa, apalagi kereta ekonomi ternyata nggak ada gordennya. Jadi sinar matahari sore langsung mengenai kami. Kocaknya, aku duduk di arah yang berlawanan dengan jalannya kereta, jadi kesannya aku kaya jalan mundur. Beberapa kilometer pertama aku emang beneran jalan mundur karena si kereta ngelewatin Cikarang dan Cikampek! Tadi kan udah lewat sini waktu dari Bandung!

Baru dua jam perjalanan, semerbak gorengan Hokben udah mengganggu hidung. Aduh, laper banget! Mungkin karena capek dan panas, hari itu aku bener-bener ngerasa lapar sepanjang jalan. Kami berusaha menahan diri untuk nggak langsung menyantap si Hokben. Kan niatnya buat nanti malam. Jadinya, kami makan semua snack dan roti yang ada. Masih tetap lapar ternyata. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu jam 6, biar kaya lagi buka puasa.

IMG_20160101_174209

Habis dalam sepuluh menit…..

Malamnya, manusia-manusia gembul ini kelaparan lagi. Waktu nanya sama abang-abang (pramugara?) di kereta, katanya P*op Mie baru ada nanti tengah malam, itu juga kalau naik. Enggak ngerti apa maksudnya. Tapi yang jelas tengah malam masih lama.

Sekitar jam 10-an, kereta berhenti di Stasiun Semarang Poncol. Rasanya lama banget si kereta berhenti. Aku bahkan udah telponan sama Mama sekitar setengah jam-an, dan si kereta masih belum jalan. Orang-orang pada keluar kereta, ada yang jajan, ada yang ngerokok. Sebagai orang yang pertama kali naik kereta jauh gini, kami nggak yakin bakal aman untuk keluar kereta dan nyari makan. Jangan-jangan nanti ditinggal. Semoga P*op Mie-nya beneran ada tengah malam.

Kereta jalan lagi menjelang jam 11. Pelajaran banget nih, ternyata kereta Matarmaja berhenti lama di Semarang. Jadi bisa banget kalau mau keluar meluruskan pinggang atau jajan-jajan lucu. Siti dan Firda ngelanjutin tidur, sementara aku dan Mumut nggak bisa tidur lagi.

Hampir tengah malam, pramugara (?) datang menawarkan “P*op Mie bonus isi kulkas” hah? Isi kulkas? Yang kelihatan Cuma botol-botol air mineral. Aku sama Mumut langsung liat-liatan.

“P*op Mie, Mut,” kataku.

“Bangunin mereka, jangan?” kata Mumut.

Setelah menimbang-nimbang, kami membangunkan Siti dan Firda. Tapi ternyata P*op Mie-nya abis.

“Sebentar ya, Mbak. Diambilin lagi,” kata masnya.

P*op Mie-nya cuma 10 ribu sebungkus dengan bonus air mineral. Duit dikumpulin di aku yang menunggu sambil terkantuk-kantuk. Ketika akhirnya mataku terpejam dan aku mulai kehilangan kesadaran, sayup-sayup terdengar suara si mas… “P*op Mie-nya… P*op Mie…..”

Mataku langsung melek. Punggung langsung tegak. Tangan kananku langsung mengulurkan uang dan mulutku bilang, “Empat, pak,” Mumut, Firda, dan Siti juga langsung sadar begitu mendengar mantra P*op Mie idaman. Kocak banget kalau ingat ekspresi gimana kami langsung bangun begitu mendengar nama P*op Mie.

IMG_20160101_235257

“Yah, fotonya goyang,” | “Udah gapapa. Laper”

Abis makan, kami langsung tidur dengan posisi yang berusaha dibuat senyaman mungkin. Paginya, kami bangun, salat subuh, dan lihat-lihat pemandangan. Bagus banget, sepanjang jalan bikin mata segar. Tapi tulang ekorku ngilu karena kelamaan duduk.

IMG_20160102_075250

Hasil duduk selama 16 jam

Perjalanan Jakarta-Malang ditempuh dalam waktu kira-kira 16 jam. Lumayan lama dan bikin capek. Tapi yang penting, hupla! Kami beneran ada di Malang! Beneran liburan! Woohoo! Baru sampai Malang tapi udah bawa segudang cerita.

Begitu sampai Malang, destinasi pertama apa, ya?

IMG_20160102_080408

#HelloMalang dari orang-orang kucel

Yo! Next Part!

Starstruck

Beneran deh, ini pertama kalinya aku suka sama artis sampai begininya.
Starstruck.
Pas buka instagram, aku lihat @annaleemedia ngepost foto K-Ray dan tunangannya, Megan. Ngomong-ngomong, mbak Anna Lee ini fotografer yang sering banget ikut tur sama Walk The Moon. Aku ngefollow dia karena emang foto-fotonya keren banget parah.
Nah, di postingannya itu, dia cerita kalau dia seneng banget bisa motret teman di hari spesialnya. Dan nggak sabar buat nungguin mereka nikah tahun depan.
Di blognya, Anna Lee ngepost foto-foto pertunangan Kevin dan Megan hari Sabtu kemarin. Oh ya, di Twitter, Kevin bilang highlight 2015-nya adalah ketika lamarannya diterima Megan.
Dan aku rasanya pengen nangis.
Bukan nangis karena nggak ikhlas atau apalah. Tapi aku terharu karena ternyata dia adalah tipe orang yang bisa bikin komitmen juga (kelihatannya). Aku juga terharu karena ternyata dia nggak gay seperti yang kupikirkan ketika pertama kali suka sama dia.
Dan….. Kenapa cowok yang mau nikah itu gantengnya meningkat berkali-kali lipat?

Imajinasi

Jauh hari sebelum pergi, aku sering membayangkan gimana kalo kita, secara ajaib, tiba-tiba ketemu di sini?
Atau skenario lain, kamu ke sini sendirian dan mengisi satu bangku kosong di sebelah kami.
Aku percaya, semakin sering sesuatu hal kupikirkan, maka kemungkinannya untuk jadi kenyataan akan semakin kecil. Jadi, setiap hari aku berusaha membayangkan hal itu benar-benar terjadi supaya dia tidak benar-benar terjadi.
Siapa sangka, ternyata hari ini kita bahkan ada di provinsi yang sama? Bahkan kita cuma terpisah paling jauh 100 kilometer.
Dan, kamu bertanya besok aku mau ke mana? Kamu bercanda? Jangan bilang nanti kita harus ketemu lagi setelah………… Dua tahun?

Dasar kehidupan. Bisa saja membuatku mengira semua kebetulan ini jadi nyata. Untungnya tidak.