Month: December 2015

2015

Nah, 2015 umurnya tinggal beberapa jam lagi dan alhamdulillah Bandung nggak macet. Cuma ngantri tol sama lampu merah doang. Suara terompet udah kedengeran di mana-mana.
Tahun 2015 ini kalau diingat-ingat ternyata rame banget. Penuh dengan hal baru yang menyenangkan, kebanyakan.
Awal 2015 memang kubuka dengan menyedihkan karena hapeku rusak. Tapi habis itu, aku KKN ke Pasirnagara, Ciamis, dan itu ngasih pengalaman baru banget. Minimal aku jadi tahu Ciamis, Banjar, Pangandaran, dan Pantai Batu Karas.
Berkat KKN juga aku jadi punya teman baru. Soalnya satu kelompok KKN isinya 21 orang, jadi aku punya 18 teman baru. KKN juga mengajariku games-games yang seru, juga mengajariku memasak makanan yang simpel. Seenggaknya aku jadi bisa masak untuk diri sendiri.
Lalu Jujuju. Selama tujuh semester kuliah, menurutku ini tugas paling berat dan paling bikin capek fisik dan mental. Waktu produksi jurnalisme tv, aku norak banget karena itu adalah pertama kalinya aku lihat walikota Bandung, Ridwan Kamil dari dekat. Waktu itu lagi Peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-60. Ada banyak wartawan di sana, dan aku yang norak ini dengan polosnya ambil posisi paling depan. Deket banget sama Kang Emil. Waktu aku lagi fokus mau ngambil gambar, dari belakangku ada mas-mas fotografer yang mencolek bahuku dan memintaku mundur beberapa langkah dengan isyarat tangan. Aduh, malu banget dasar norak.
Juve ini juga ngajarin aku basic video editing biarpun rada kesal karena video yang tadinya udah diedit, harus diedit lagi dan lagi karena satu dan sejuta hal lainnya.
Produksi jurnalisme cetak alias jutak juga memberikan kenangan buatku. Masih dalam rangka peringatan KAA, aku ikut acara “Angklung For The World”. Seru banget! Itu pertama kalinya aku main angklung bareng ribuan orang, membawakan lagu “We Are The World”. Angklung yang kupegang bernada “re” dan kujadikan oleh-oleh ketika pulang kemarin.
Produksi jurnalisme radio, hmm inj rada kocak sih. Kami gambling banget ini pola kerjanya gimana. Di produksi itu, ceritanya kami siaran live on-air magazine selama satu jam. Aku jadi operator komputernya.
Pas hari-H, kami mewawancara seorang ibu yang aku lupa jabatannya apa, tapi yang jelas dia ngomong panjang dan lama banget kaya lagi pidato. Demi durasi, akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri panggilan. Tapi karena panik, aku bingung gimana matiin teleponnya. Jadi kulempar aja hapenya ke kolong kursi. Terpujilah lab radio yang berlantai karpet.
Di tahun 2015 ini juga, aku resmi berkepala dua. Mengerikan sih, karena ketakutan soal masa depan semakin besar membayangi.
Hal lain di 2015 adalah aku mengunjungi banyak tempat baru. Bulan Juli, habis lebaran keluargaku ke Pekanbaru. Akhirnya lihat jalan kelok 9 yang belakangan jadi objek wisata. Jalanan ini jadi menarik cuma karena ada jalan layang di tengah hutan. Kata mamaku, dulu tiap mau lewat kelok 9, kenek bus membagikan kantong plastik buat penumpang. Soalnya, kelok 9 ini benar-benar terdiri dari sembilan tikungan menanjak dan sukses bikin mabuk.
Abis itu merasakan panasnya Pekanbaru yang bikin pusing dan marah-marah melulu. Trus ke Siak Sri Indrapura lihat Istana Siak.

image

image

Pulang dari Pekanbaru, aku ke air terjun Pancaro Rayo bareng Nana, Subau, sama Tonyong. Koplak sih, aku yang jarang olahraga ini mesti mendaki bukit dan jalan jauh banget. Udah gitu, kami sempat nyasar dan masuk sungai sekitar sejaman. Begitu pulang, seluruh badanku terutama bahu dan sepanjang kaki sakit tiga hari.

image

image

Aku juga ke Lampung buat nikahan sepupu. Itu bikin aku akhirnya merasakan lagi penyeberangan Merak-Bakauheni. Terakhir kali aku ke Sumatera dari Jawa lewat darat adalah tahun 2002, waktu naik pesawat masih jadi hal yang mewah banget.

image

Trus ada PBM yang mempertemukan aku dengan Pak Henry Ismono yang baik banget parah. Juga ketemu Ockto Baringbing, si komikus. Aku wawancara Ockto di Stellar Labs, Pondok Indah. Buat ke sana, aku naik gojek dari PIM dan ternyata itu dekat banget. Harusnya aku bisa naik busway aja kalo tau sedekat itu. Dan, ah, itu pertama kalinya aku naik gojek dan motornya bukan motor bebek. Aku nggak ngerti itu jenis motor apa, tapi bentuknya mirip motor trail dengan jok yang lebih panjang. Tapi tingginya sama dan aku kesusahan naik.
Dari sini, aku juga jadi tahu kalau Stellar Labs itu studio komik yang bikin komik buat Marvel! Jadi orang Amrik sana cuma ngirimin cerita, Stellar-lah yang menerjemahkannya jadi komik. Kagum. Keren banget!
Tahun 2015 ini ternyata juga jadi tahun masak-memasak. Kami masak tumis sawi pakai tahu yang tampilannya mirip potongan ayam. Trus bikin white sauce, tumis buncis-tempe, tumis buncis-kentang-wortel, ngeliwet pake ikan asin, tumis daging, mashed potato, dan barbekyu-an. Seru banget tahun terakhir ini bisa dipake kumpul-kumpul secara optimal sama teman-teman.

image

image

image

Tahun 2015 juga mengenalkanku kepada Walk The Moon dan dengan segera Kevin Ray menjadi obsesi terbaru, juga aku nggak bisa berhenti mendengarkan Aquaman dan Anna Sun.

image

Copyright annaleemedia

Trus aku juga bantuin Siti ngecat satu sisi dinding kamarnya. Siti pengen bikin garis-garis kuning di dindingnya. Dan kami excited banget karena itu pertama kalinya kami pake masking tape dan perasaan ketika selesai ngecat dan ngelepas masking tape itu bener-bener priceless….

image

Circleku, Kram, juga akhirnya di 2015 ini bisa foto bareng setelah sekian lama wacana.

image

Tahun ini juga jadi tahun aku banyak banget nonton film, entah di bioskop atau bajakan di laptop. Tahun 2015 emang banyak film rame dan kayanya tahun depan juga gitu. Sayang, Hotel Transylvania 2 yang kutunggu dari zaman batu, cuma tayang sehari di Jatos dan aku malah belum sempat nonton sampai sekarang.
Tambah lagi, tahun ini udah ada kelas seminar dan semoga calon proposalku itu dimudahkan jalannya supaya bisa langsung ke tahap selanjutnya. Amin.
Hah, banyak banget ternyata hal-hal seru dan baru yang kualami di 2015. Trus, gimana sama 2016?
Biar nggak merayakan tahun baru dengan tiup terompet atau mai  kembang api kaya orang lain, kurasa 2016 akan jadi tahun yang besar. Di tahun itu umurku bakal 21 dan kuharap nggak ada pihak yang menuntutku untuk segera nikah. Semester awal 2016 akan kuhabiskan untuk magang, dan sisanya untuk menyusun skripsi. Hah, udah skripsi ternyata.
Serius, aku takut banget sama apapun yang akan terjadi setelah aku lulus. Tapi, berlama-lama di Jatinangor ini juga nggak baik, kan? Ya, kuputuskan aku harus segera lulus. Aamiin.
Semoga 2016 ini jadi tahun yang baik dan penuh berkah. Aamiin.

Dan, insya Allah, 2016 akan kumulai dengan petualangan ke Malang.
Yeay!

Silaturrahim

Mungkin, ini adalah cara Allah untuk memintaku kembali berkontak dengan teman-teman lama.
Beberapa minggu lalu, seorang teman SMA berinisial DW menghubungiku via BBM, mengabari kalau akhir tahun ini dia bakal magang di Bandung. Dan dia minta dicarikan tempat tinggal.
Lalu teman segeng semasa SMA, berinisial SIN, tiba-tiba mengontakku setelah aku update PM gak jelas di BBM. Kemudian kami bertelepon karena dia mau curhat.
Kemudian sahabat SMA-ku yang karena sesuatu hal nggak sempat merasakan Ujian Nasional, berinisial DRS, juga mengontakku lewat Messenger Facebook. Kami ngegosip tentang perkembangan teman-teman SMA lainnya.
Terus, teman segeng zaman SMP alay, berinisial EP, mengontakku dan bilang akhir tahun ini mau liburan di Bandung. Aku harus siap-siap untuk jadi guide-nya.
Terakhir, soulmate-ku berinisial EZ tiba-tiba menelepon dengan suara super memelas. Memintaku untuk ke UPI demi menolongnya untuk mendapatkan ide skripsi. Kebetulan, UPI cuma sekali naik angkot dari kantor magangku.
Aku yakin, semua kontak ini nggak datang tiba-tiba. Aku merasa Allah menyentilku untuk bersilaturrahmi dengan teman-teman lama. Nge-chat atau nelpon sekadar untuk bilang “Hai”. Mungkin karena rezekiku sedang sempit. Orang bilang, bersilaturrahmi itu mengundang rezeki.
Aku memang bukan tipe orang yang senang berbasa-basi. Aku nggak akan menghubungi teman lama cuma karena kepengen. Aku memang jenis orang brengsek yang menghubungi orang lain ketika butuh.
Apapun itu, aku percaya semua hubungan ini harus dijaga. Di masa depan, pasti ada gunanya. Menjaga silaturrahmi dengan teman lama. 🙂

Komentar Negatif

Tadi biasa aku buka Facebook dan nge-scroll timeline. Trus ketemu seorang teman nge-share foto pegawai Indomaret cosplay jadi Hatsune Miku. Yang ajaib adalah, komentar-komentar soal foto itu.
Banyak yang (dengan sadar) berkomentar jahat macam “eneg sama yang kaya gini” bahkan “lacur” atau “asyik, Indomaret dijaga kasir hentai pemuas nafsu”. Bapaknya si pegawai sampai datang berkomentar ngebela anaknya yang entah kenapa jadi bulan-bulanan. Parahnya, ada orang tolol yang berkomentar “nama bapaknya alay xD”
Gak bisa ya, hidup nggak pakai menyakiti perasaan orang? Si mbak salah apa sih, sampai dikata-katain segitunya?
Ajaibnya, kelakuan primitif kaya gini kececeran di medsos. Padahal, butuh waktu kan, mulai dari mencet tombol komentar, mengetik komentar, memperbaiki typo, sampai akhirnya mengirim komentar.
Beda sama di dunia nyata, yang manusianya bisa aja keceplosan “Anjir jelek!” sampai-sampai dia sendiri juga kaget kenapa mulutnya lancang begitu.
Heran sih, orang-orang kok nggak bisa ya, menahan komentar negatif di kepalanya? Kalau nggak suka, ya jangan dilihat. Ya skip aja. Kenapa masih menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak komentar negatif?
Mungkin mereka kira yang ngepost itu robot kali, ya. Bebas mau dicela kaya apa juga toh nggak bakalan sakit hati. Bahkan mereka sama sekali nggak berhak untuk sakit hati. Iya, gitu?
Dikira kalau cuma berkomentar lewat medsos, rasa sakit hati bisa berkurang, gitu?
Bencinya, orang-orang kotor itu selalu mengeluarkan pernyataan sakti macam “Yaelah ini internet bro! Kenapa serius banget sih!” dan bikin orang-orang yang memprotes jadi kelihatan seperti orang tolol tanpa selera humor.
Padahal bercanda juga ada batasnya kan?
Ayolah. Sehari aja nggak usah menyakiti perasaan orang lain. Bisa?

Kompilasi Mimpi

Kemarin, pas tidur lagi setelah salat subuh yang terlambat, aku mimpi lumayan konyol.
Ceritanya, di mimpi itu aku lagi ada di menara apa gitu di Paris. Bentuknya mirip sarang burung di film-film lawas Tom and Jerry. Aku curiga bahkan menara itu nggak beneran ada di dunia.
Nah, sesuatu terjadi dan demi keselamatan semua orang, menara harus dirubuhkan. Dalam mimpi itu, di sebelahku ada K-Ray dan Nick Petricca.
Bruuukk!! Akhirnya menara yang udah doyong rubuh juga dengan punggung semua orang rapat ke dindingnya yang udah rebah. Ternyata, tanah di bawah sana nggak cukup kuat untuk menahan bangunan menara yang secara ajaib masih utuh. Jadi, bangunan itu pelan-pelan amblas ke tanah.

Aku ngetok langit-langit dan teriak-teriak minta tolong. Tapi, K-Ray bilang (dalam bahasa Indonesia) kalau itu sia-sia. Jadi kucongkel atap dan keluar (secara ajaib).

Begitu keluar, ternyata aku ada di depan rumahnya Nick. Rumahnya itu persis banget sama rumahnya si Greg di Me and Earl and The Dying Girl (malamnya emang aku baru nonton ini). Trus aku masuk dan orang-orang ternyata juga udah berhasil keluar dari dalam tanah.

Tiba-tiba, si Nick marah-marah (dalam bahasa Inggris) sama aku gara-gara aku memakan satu-satunya makanan yang tersisa di rumahnya: sebuah cream crackers. Bahkan dia mengacung-acungkan sisa kraker yang tinggal setengah di depan hidungku.

Jadi, kubilang ke Nick kalau aku akan segera pergi untuk membeli gantinya. Aku ke kamar (oh ternyata aku nginap di rumah Nick!) untuk pakai sweater dan kerudung. Tapi, aku janjian dulu sama Inul untuk nganterin aku. Lamaaa banget sampai-sampai pas aku keluar, di meja makan udah ada kresek isinya roti, biskuit, sereal, sama berbagai macam permen dan coklat. Ternyata Nick udah belanja duluan karena aku ganti baju kelamaan.

Endingnya, aku bungkuk-bungkuk minta maaf ke Nicholas Petricca.
Enggak tahu kenapa malah K-Ray dapat porsi sedikit di mimpiku padahal dia sudah menguasai alam pikiranku selama beberapa bulan belakangan (eeaaa jijay).

Tapi kocak ih kalau bisa ingat mimpi. Apalagi setelah itu jadi mikir, kok bisa ya mimpi kaya gini? Oh iya, karena kepo instagram! Twitter! Googling!