Vespa di Sore yang Bergelimang Dosa

image

Sejak mengaktifkan notifikasi untuk fitur “On This Day” di Facebook, berselancar di media sosial buatan Mark Zuckerberg itu benar-benar terasa lebih menyenangkan. Soalnya, tanpa perlu scrolling sampai ke postingan masa silam, tiap hari kita dikasih tau kealayan macam apa yang udah kita perbuat di Facebook, hari itu, mulai sekian tahun yang lalu.
Kalau dapat notifikasi itu dan ada status yang terposting di sana, apalagi ada yang mengomentari biasanya aku buka. Pengen tahu waktu itu ngomongin apa.
Sampailah, ternyata ada komentar yang bikin aku ingat cerita tentang pengalaman naik vespa yang selalu buruk. Enggak banyak sih. Soalnya cerita hina soal vespa ini menyangkut vespa rombeng Pakde Suryo yang mangkal di rumah. Warnanya biru metalik tapi kusam. Vespa ini nggak ada kuncinya. Kalau mau dipakai, ya mesti diengkol dengan tenaga dalam. Speedometer dan indikator penunjuk bahan bakarnya juga nggak ada. Untung lampu masih nyala.
Pertama kali naik vespa itu waktu kelas 9, aku, Tonyong, Ilmi, sama Fadel mau ke sekitaran danau buat nyari pohon cangkokan untuk tugas biologi. Vespa butut itu akhirnya dipakai karena emang nggak ada pilihan lain. Aku ingat  banget gimana si Tonyong ngengkol vespa penuh semangat sampai urat kepalanya keluar semua dan si vespa mengeluarkan suara “blaaaarrr…bretetetet” yang keras sekali. Tanda dia siap beraksi.
Nggak ada masalah sih pas pergi. Tapi pas pulang, baru keluar kabaji-nya.
Kami mau mampir dulu ke rumah Ilmi begitu pulang dan mendapatkan sebatang cangkokan pohon jeruk yang buahnya kecil menggelantung. Aku dan Tonyong nggak tau rumahnya di mana, tapi si Tonyong malah sok ide ngebut meninggalkan si tuan rumah. Maklum, nafsu anak SMP yang baru naik motor emang begitu. Gara-gara itu, ternyata gang rumah Ilmi kelewat sekitar seratus meter. Begitu sadar, Tonyong langsung ngerem dan mau putar balik. Lalu BOOM! Si vespa mati dan nggak bisa nyala lagi. Jadilah Tonyong ngedorong vespa dan aku ngakak sambil nahan malu. Soalnya dilihatin orang-orang.
“Sore yang bergelimang dosa,” kata Tonyong belakangan. Aku suka kata-kata itu.
Kedua kalinya, bareng Tonyong lagi beberapa minggu kemudian. Yoga minta ditemenin beli cangkokan pohon jeruk yang sama. Tonyong waktu itu ada di rumahku. Kalau nggak salah kami dan beberapa orang lain lagi bikin tape ketan untuk tugas biologi (lagi). Karena udah trauma sama kejadian vespa kemarin, aku dan Tonyong naik motor matic Yoga, dan dia naik vespa.
Semua berjalan normal sampai sebelum naik jembatan, aku dengar seseorang manggil Yoga. Jadi aku teriakin Yoga supaya berhenti. Kemudian, Yoga berhenti begitu juga vespanya. Bedanya, si vespa nggak bisa jalan (lagi).
Berhubung udah mulai sore dan Yoga yang butuh dan aku nggak tahu gimana caranya benerin vespa, akhirnya Tonyong kami tinggal di pinggir jalan. Semoga dia tahu gimana mengembalikan nyawa si vespa.
Untungnya, pas kami balik dari beli pohon, Tonyong udah nungguin di pinggir jembatan. Vespanya juga sudah menunggu. Bertenaga dan siap dipacu.
Mereka berdua sepakat buat balapan sampai rumahku. Aku setuju aja. Si pohon jeruk yang kupegangi cuma diam. Lalu kami sampai dengan selamat di rumahku dengan pohon jeruk yang tak lagi berdaun. Aku berduka untuknya.
Sekarang, aku nggak tahu sih, gimana kabar si vespa. Masih hidup atau malah udah jadi pot bunga, aku nggak peduli. Tapi yang jelas, dia udah bikin aku selalu memandang ngeri pada semua vespa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s