Kok Nangis?

Kemarin, aku sempat nangis gara-gara mulai jenuh menghadapi dunia kampus dan pengen pulang. Tapi aku nggak bilang siapa-siapa, soalnya malu. Nanti pasti dikata-katain kalo ngaku homesick padahal udah semester tua. Waktu itu ada yang nanya, “Lah, kenapa nangis? Diputusin pacar?”
Kenapa diantara seribu kemungkinan aku nangis, kemungkinan pertama adalah ditinggalkan oleh zat yang bahkan tidak kumiliki?
Gara-gara malu ketahuan nangis, aku bilang aja file tugasku yang maha penting hilang dan deadline-nya dua minggu lagi. Sambil dalam hati bilang, “amit-amit ya Allah. Lindungilah file-file-ku,”
Enggak ngertilah, kenapa kesedihan para remaja dan dewasa awal selalu dihubungkan dengan dunia percintaan. Seolah hak air mata untuk jatuh adalah karena: a) ditolak gebetan; b) ditinggal pacar; c) pacar selingkuh; d) mantan sudah berbahagia dengan orang lain.
Seolah-olah hal semacam kehilangan file, atau kelingking kaki terantuk kusen, atau melihat kucing mati adalah hal remeh yang nggak pantes untuk ditangisi.
Seolah-olah hati yang kuat dipersiapkan untuk kehilangan cinta pertama atau kedelapan, alih-alih narasumber yang tak kunjung membalas pesan.
Kalau nangis gara-gara urusan percintaan, dianggap wajar. Kalau nangis gara-gara yang lain, dikatain baperan.
Duh, masyarakat.
Sebagai orang yang gampang menitikkan air mata, pertanyaan kok-nangis-pasti-masalah-cinta-ya itu benar-benar membuatku merasa remeh. Sampai-sampai sebelah diriku bilang, apa yang aku tangisi itu emang…. ya nggak usah ditangisi aja.
Kemarin itu, aku nangis gara-gara Zizi cerita kalau kelinci yang mereka pelihara sekitar sepuluh hari, udah mati. Padahal aku sama sekali belum pernah ketemu si kelinci. Tapi aku sedih membayangkan wujud kelinci yang kecil dan lembut, terbujur kaku.
Pernah juga waktu tahun baruan di Bukittinggi, aku menangisi sekelompok balon helium. Soalnya mereka berwujud binatang dan harus survive terbang di antara ledakan kembang api. Dan aku makin nangis waktu mengira-ngira ada berapa balon yang lepas dan berapa kerugian yang ditanggung bapak penjual balon. Aku bahkan nggak tau apakah yang jual si bapak atau istrinya.
Biar menurut orang remeh, bagiku air mata pantas mengalir untuk hal-hal seperti itu.
Atau jangan-jangan kantung air mataku bocor dan mengalami semacam beser?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s