Month: November 2015

(Sok) Kuat

Tadi aku beli koran hari Minggu di Damri dengan harga super miring hampir tergelincir, soalnya udah siang. Pikirku, aku mau ngisi TTS lagi biar dapat duit. Hahaha naif ya, berpikir keberuntunganku tahun lalu bisa terulang lagi di koran yang sama.

Sialnya, niat itu berbuah buruk karena aku menyisakan dua pertanyaan yang tidak bisa kujawab bahkan dengan bantuan google. Apa bahasa Tiongkok untuk Tandu? (K_O). Lalu apa bahasa Spanyol untuk Muara/Kuala? (R_A). Hah, hilang sudah harapan mengejar 250 ribu. Haha.

Akhirnya, aku memutuskan untuk baca-baca artikel yang ada. Berita cuma kubaca judulnya aja karena nggak ada yang menarik (menurutku). Sampailah, aku bertemu artikel psikologi dari Sawitri Supardi Sadarjoen berjudul “Lepaskan Rasa Superiormu”.

Sejak dulu, entah berapa kali aku selalu bertemu kebetulan-kebetulan seperti ini ketika membaca majalah atau koran. Biasanya, mereka selalu merupa sebagai cerpen atau artikel psikologi seperti ini. Tulisan-tulisan yang pesannya selalu kebetulan dengan apa yang aku pikirkan atau yang aku alami. Tapi yah, kalau kata orang tidak ada yang kebetulan di dunia ini, bahkan daun jatuh pun sudah ada yang mengatur, ya sudah. Mungkin ini memang bukan kebetulan.

Kita tidak akan selalu terlihat serba bisa di segala bidan, walaupun oleh orang yang sedang berada dalam kesulitan, andai kita sendiri tidak bersedia membagi kesulitan yang kita rasakan. Pada dasarnya semua orang memiliki keterbatasan, kelemahan, dan tingkat kepekaan sendiri-sendiri.

Begitu yang tertulis pada pengantar artikel ini. Pengantar, bukan lead. Kata Abang itu berbeda. Kalau lead-nya begini:

Yang membuat kita tanpa sadar menampilkan diri sebagai orang tanpa masalah adalah karena kita merasa diri sebagai orang super. Kita tidak membuka peluang bagi orang lain untuk mampu menolong kita saat dalam kesulitan.

Dalam artikel ini disebutkan, biasanya orang-orang yang merasa super ini tidak pernah membagi kesedihan atau kegelisahannya pada orang lain karena ia pikir, orang lain toh juga punya masalah yang mungkin jauh lebih berat. Ia tidak ingin menambah beban pikiran orang lain hanya karena ia berkeluh-kesah. Apalagi kalau orang lain itu adalah orang tua atau pasangan.

Di sisi lain, sebenarnya dengan menceritakan permasalahan pada orang lain, akan membuat orang lain merasa terhormat atau dihargai. Penulis sendiri sebagai konselor bercerita, ketika menghadapi klien depresi yang menolak menceritakan masalahnya pada orang terdekat, ia akan melakukan “penyeimbangan diri” pada kliennya. Penyeimbangan diri berguna agar klien belajar menyeimbangkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam dirinya dengan kepekaan perasaan serta kesulitan psikologis yang ia rasakan sebelumnya.

Intinya, harus mengungkapkan kelemahan dan masalah yang sedang dihadapi.

Yah, jujur saja aku termasuk orang yang berpikir dua kali untuk serius curhat tentang batu-batu besar yang menghimpit rongga dadaku. Salah satu temanku sangat sering curhat ke ibunya tentang masalah-masalah yang dia hadapi. Apapun, semuanya. Tapi aku nggak. Kalau aku nelpon mamaku, aku memilih untuk cerita tentang hal-hal menyenangkan, dan mamaku akan cerita soal bintang Dangdut Academy atau kelawakan yang dilakukan adik-adikku di sekolah.

Mamaku pernah bilang, anak nggak seharusnya tahu permasalahan yang dialami orang tua. Jadi kulakukan hal yang sama sepanjang itu nggak mempengaruhi keselamatanku. Menurutku nggak penting aja orang tuaku tahu kalau masalah pergaulan anaknya ini semakin kompleks setelah ia berpindah pulau.

Rasanya udah lama juga aku nggak pernah curhat ke Ade atau Subau tentang masalah yang aku alami atau kegelisahan yang aku rasakan. Sekarang tiap nge-BBM atau telpon, aku biarkan mereka bercerita. Kalau pun aku yang akhirnya gantian cerita, biasanya cuma hal-hal sampah yang nggak krusial.

Kalau harus menuliskan di sini, jelas saja masalahku ada banyak. Dari berbagai sisi. Dari berbagai genre. Mulai dari masalah penelitian, masalah hubungan sosial, masalah dengan Tuhan, masalah masa depan, masalah saat aku berkontemplasi tentang masa depan, masalah ketidakpuasan pada diri sendiri.

Dan yang terakhir itu adalah yang paling menggangguku.

Aku nggak pernah puas dengan apa yang aku lakukan. Aku nggak pernah merasa apa yang kulakukan ini sudah baik dan sudah semestinya. Aku selalu merasa ada yang salah dengan pekerjaanku. Aku selalu merasa harus lebih baik dari orang lain, tapi jelas di atas langit masih ada langit. Imbasnya, aku krisis percaya diri.

Aku takut apa yang kukerjakan tidak cukup untuk memenuhi standarku sendiri, apalagi standar orang lain. Aku takut pada penolakan-penolakan. Aku takut pada pikiranku sendiri yang selalu menghujat. Aku takut saat aku menjadi benar-benar sinting sudah tinggal menghitung hari.

Ini adalah dunia tempat orang-orang tak bisa melihat wajahku dan aku bisa berhenti untuk sok kuat.

Aku frustrasi. Aku buntu. Aku nggak tahu harus ngapain. Walaupun berulang kali aku meyakinkan diri nggak ada gunanya menyesal, tapi tetap saja aku marah sama diri sendiri yang suka lalai. Dan marah pada diri sendiri adalah hal terburuk yang pernah aku rasakan. Sialnya selalu kurasakan.

Lalu aku takut pada apa yang akan dikatakan oleh orang lain.

Entah sejak kapan, omongan orang jadi benar-benar punya pengaruh dalam hidupku. Entah sejak kapan, celetukan negatif mereka benar-benar membuat lututku lemas. Entah sejak kapan perkataan mereka membuatku berpikir lalu berakhir putus asa. Sisi baiknya, aku nggak pernah minta jadi tuli.

Aku cemas pada keburukan yang mungkin akan kuperbuat. Aku cemas pada kemungkinan aku akan jijik dengan apa yang kubuat. Aku cemas menghadapi kekecewaan pada diri sendiri. Dan kekecewaan dan kemarahan dan kebencian pada diri sendiri datang dari kenyataan yang disampaikan oleh otak dan disetujui oleh hati.

Aku terbebani oleh predikat usia 20 yang akan segera menjadi 21 dalam enam bulan. Menjadi 22 dalam satu setengah tahun. Menjadi 40 dalam dua puluh tahun. Aku terbebani oleh predikat mahasiswa. Mahasiswa dan semester tujuh dan tingkat akhir. Aku terbebani oleh predikat anak sulung beradik empat. Aku terbebani oleh keinginan untuk memantaskan diri dan memuaskan keinginan sendiri dan orang-orang yang kusayang.

Mau lari saja! Mau lari saja! Tapi lari nggak pernah menyelesaikan masalah kecuali masalah kelebihan berat badan. Jadi pilihannya adalah menghadapi apapun itu yang ada di depan sana dengan konsekuensi setelahnya beneran jadi gila.

Begini saja. Ah, tidak tidak. Begini saja. Ah, tidak tidak. Begini saja. Ah, tidak tidak. Kemudian dunia kiamat dan semuanya berakhir.

Berarti, aku benar-benar butuh menyeimbangkan diri.

Advertisements

Komik Roman

“Nggak tertarik bikin komik pure romance kaya ‘Grey dan Jingga’?” tanyaku.

“Gua kan menang Kompetisi Komik Indonesia tahun 2014 tuh. Judulnya ‘Senyum 50.000 rupiah’. Gua sih nganggap itu romance. Nggak tahu orang nganggapnya gimana,” jawabnya sambil tertawa.

Hari Rabu kemarin, aku ke Jakarta untuk wawancara Ockto Baringbing demi tugas PBM (Penulisan Berita Mendalam). Di tugas itu, aku mengangkat topik soal perjalanan komik Indonesia. Kalau sering mengamati komik Indonesia yang sekarang lagi berseliweran dalam berbagai wujud, pasti tahulah sama Galauman. Nah, Ockto Baringbing ini adalah orang dibalik kisah pahlawan tukang galau itu.

Galauman juga yang bikin aku merasa harus banget untuk memasukkan alumni ITB ini ke dalam jajaran narasumberku. Kenapa? Karena menurutku unik aja. Orang ini mikir apa sih bisa-bisanya nyiptain tokoh kaya gini, pikirku waktu baca Galauman. Bayangkan, ketika orang lain justru jadi rapuh lemah tak berdaya kalau lagi galau, si Galauman ini malah dapat kekuatan dari kegalauannya itu. Emejing.

Lalu aku mulai bertanya-tanya apakah dia juga tertarik untuk membuat cerita cinta beneran. Maksudku, ala ala serial cantik. Cerita cinta antara perempuan dan laki-laki dan sesuatu di antara mereka.

Tachibana Juta di Otomen itu cowok. Dan dia bikin komik romance karena terinspirasi temannya, Masamune Asuka, suka sama Miyakozuka Ryo, si anak baru. Tapi itu cerita di drama dan aku benar-benar ingin tahu apakah mungkin laki-laki juga bikin komik romance. Yah, walaupun dulu ketika akhirnya tahu Sweta Kartika itu laki-laki, aku masih tetap ingin tahu.

Besoknya, mas Ockto—atau mungkin seharusnya kemarin kupanggil “bang” karena dia orang Batak alih-alih Jawa—mengirimkan link komik yang dijanjikannya. Senyum 50.000 Rupiah.

Komik ini ceritanya tentang cowok ansos yang jajan mi instan sebungkus di minimarket pake uang 50 ribu karena adanya cuma itu. Oleh si kasir, dia ditanya “mau nuker recehan ya, mas?” dengan senyuman yang sangat manis (menurut si cowok). Akhirnya si cowok—yang belakangan diketahui namanya adalah Andika—terus berusaha mendapatkan senyum itu dengan terus-terusan jajan di minimarket dengan uang 50 ribu. Konflik (batin) muncul ketika dia sadar kalau dia nggak selamanya punya lembaran uang 50 ribu.

Keren sih idenya kalau menurutku. Mungkin buat cowok yang nggak pernah punya kisah cinta, diucapin selamat pagi sama kasir minimarket udah bikin baper, apalagi kalau disenyumin. Perkembangan yang terjadi diantara mereka dan uang 50 ribu itu juga oke. Soalnya uang 50 ribu itu nggak berhenti di meja kasir, tapi merambah ke hal lain yang lebih bermakna. Aku suka banget sama komedi yang tercipta dari konflik batin si Andika, mulai dari orang tuanya yang mengira dia pakai narkoba (karena duit udah tipis dan tiap hari narik 50 ribu), gimana caranya tiap hari ke minimarket tanpa disadari si cewek (akhirnya beli jersey bola dari semua tim), sampai julukan “Mahasiswa Sejati” dari orang-orang di sekitarnya (soalnya udah kuliah enam tahun tapi nggak lulus-lulus). Monolog yang dilakukan si Andika, amboi galaw nian. Bikin hati bagai tersayat pinggiran kertas.

Baca komik one shot ini bener-bener mengingatkanku pada masa muda, ketika serial cantik jadi makanan sehari-hari. Apalagi gaya gambarnya yang manga banget. Terlihat jelas dari sosok si cewek yang bermata bulat, serta berambut rapi dan kinclong (waktu SD aku bertanya-tanya gimana caranya punya rambut seperti itu). Ceritanya manis, tapi diimbangi sama komedi dalam takaran yang cukup jadi nggak giung. Mantaplah pokoknya. Pantesan menang.

AH! AAAAH!!!

Ngomong-ngomong komik romance yang pasti identik banget sama serial cantik, aku jadi ingat komik shoujo yang kubaca waktu SD dan ceritanya melekat banget sampai sekarang.

White Feathers.

Ceritanya tentang cowok super tampan, Adrian “Angel” White, yang ternyata adalah keturunan malaikat. Dia bisa mengeluarkan sayap berbulu putih kalau dia mau, atau kalau punggungnya disentuh sama cewek yang dia suka. Otomatis, Angel jadi nggak bisa punya pacar karena cewek-cewek itu takut sama sayapnya. Sampai akhirnya dia ketemu sama Naomi “Purple” Stella yang berambut ungu dan membuatnya (uhum) jatuh cinta. Blablabla terjadi dan ujung-ujungnya jadian aja.

Waktu baca aku ngerasa kalau ini komik Jepang banget karena gaya gambarnya. Khas banget, terutama mata berbinar-binar, rambut kinclong, dan muka yang suka blushing. Agak aneh sih, karena nama tokoh-tokohnya nggak ada Jepang-jepangnya.

DAN DAN DAN DAAANNNN

Barusan banget aku tahu kalau komik itu buatan orang Indonesia KARENA KARENA KARENA aku ketemu blog komikusnya. Aduh, ketipu sama tampang! Tapi ceritanya bagus sih, konsepnya nggak mainstream dan aku suka dan nggak giung dan nggak……dan nggak……nggak nyangka.

Hah, lagi hectic begini malah pengen baca komik!

Pertemanan Kontemporer

Aku baru tahu untuk bisa diterima di lingkungan pergaulan saat ini, manusia harus:
1. Tanpa lelah mengobrol soal cinta, jomblo, selingkuh, dan tetek bengek dunia perjodohan lainnya.
2. Membanjiri akun media sosial manusia lainnya dengan “Likes”. Semakin banyak, semakin menjijikkan bagus.
3. Berkumpul bersama manusia lainnya untuk berfoto dengan tongsis dan lensa mataikan, lalu saling berceloteh lewat komentar di media sosial.
4. Makan di tempat mahal dengan pemandangan menarik untuk ditunjukkan pada dunianya yang sempit.
5. Berfoto bersama di dalam kendaraan roda empat. Bisa milik pribadi bisa pinjaman bisa juga taksi.
6. Membaca berbagai kutipan bijak yang belum tentu bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan menyampaikannya lewat foto diri.
7. Memanggil satu sama lain dengan sebutan “bitch” atau “njing” untuk menunjukkan mereka memang keturunan anjing jalang.
8. Menghancurkan perasaan orang lain tanpa perasaan.
9. Membuat standar tertentu agar mudah dalam mengklasifikasi setiap orang dan mengidentifikasi golongannya.

Mungkin nanti pengetahuanku akan pertemanan kontemporer akan bertambah seiring lamanya aku hidup di sini. Sial, pendahuluku tidak memberi peringatan tentang ini.

Lancang

Ngoprek hape atau laptop orang tanpa izin itu kaya masuk ke rumah orang dan menyusurinya sampai kamu tahu apa merk pewangi laci pakaian dalamnya.

Dalam pergaulan kita sebagai manusia, pasti ada minimal satu orang yang suka, entah iseng atau memang dasarnya lancang, membuka semua folder di laptop, atau bahkan membaca semua pesan yang disimpan di ponsel. Kalau baginya berteman adalah kemudahan untuk melanggar batas-batas privasi, maka kumohon untuk menghapus aku dari daftar temannya. Aku benar-benar nggak berminat untuk hubungan pertemanan seperti itu.
Ya, aku punya teman yang suka nyelonong ke berbagai folder atau aplikasi chatting yang aku punya. Entah apa yang dicarinya, mungkin dikira aku menyembunyikan kupon makan gratis di suatu tempat.
Zaman sekarang, status ponsel itu sama pribadinya dengan celana dalam. Selalu melekat, rahasia, tidak boleh sembarangan dilihat isinya. Kurang ajar sekali kalau ada yang lancang mengintip-intip.
(ah, maafkan analogi yang rada jorok ini)
Sekali, aku masih bisa biasa aja. Toh, nggak ada hal aneh yang kusimpan di laptop atau hape. Tapi lama-lama, ternyata itu mengganggu juga. Apalagi setelah dia lancang membaca pesan yang baru masuk dan nggak ngasih tahu aku. Jadinya, aku nggak pernah ngebalas pesan itu karena emang ngerasa nggak pernah nerima dan nggak pernah baca.
Kenapa ya, ada orang yang rasa ingin tahunya berlebihan dan menyalurkannya dengan salah?
Kenapa ya, orang ini nggak merasa aneh dengan menyelinap ke ruang pribadi orang lain?
Sekali waktu, aku pernah mencoba mengoprek ponsel teman ini, sebab dia melakukan hal yang sama padaku. Lalu aku berakhir dengan bosan. Rasanya aku nggak dapat manfaat sebutir pun dengan membaca pesan dari orang yang bahkan aku nggak kenal.
Yah, tolong sih jangan lancang!

Modus (?)

Tadi sekitar jam setengah 7 malam, aku ke ATM Center yang ada di Unpad. Emang aneh sih, biasanya si ATM Center ini kalau malam lampunya nyala luar-dalam. Sekarang, penerangan cuma berasal dari mesin-mesin ATM yang ada di dalam. Di luar lumayan gelap.

Emang sih ada sakelar di dalam ATM Center itu. Tapi aku nggak berani ngutak-atik. Soalnya, sekali waktu aku pernah mematikan listrik satu kosan karena rasa ingin tahu terhadap sakelar listrik. Jadi, aku nggak mau tiba-tiba jadi pusat perhatian sebagai gadis bertangan ajaib yang memutuskan aliran listrik. Apalagi masih ada orang yang memakai mesin ATM. Makin bikin aku nggak pengen nyoba-nyoba.

Aku pakai mesin non-tunai. Di sebelah kiri, ada mas-mas yang mau pakai mesin nominal 50 ribu. Rasanya dia baru ngeluarin dompet dan mau memasukkan kartu ke mesin ketika seorang mas-mas bertopi yang kelihatannya sedikit lebih tua dari mas-mas pertama datang menghampiri. Dengan suara memelas, dia bertanya “A, boleh ikut transfer nggak?” sambil menunjukkan dua lembar 50 ribuan.

Deg! Lututku lemas. Aku pernah baca modus penipuan dengan ikut transfer seperti ini. Modusnya, orang minta ikut transfer karena saldonya limit atau nggak punya rekening atau apalah. Sebagai ganti uang kita, dia akan ngasih uang tunai. Tapi, ternyata uang itu palsu. Jadi, dia menukarkan uang palsu yang dia punya dengan uang asli dari rekening kita.

Lalu aku bimbang, apakah aku harus mengingatkan mas-mas yang lagi pakai mesin ATM atau nggak. Masalahnya, kita nggak pernah tahu struggle yang dihadapi orang lain. Gimana kalau dia beneran mau numpang transfer karena nggak punya rekening atau semacamnya? Apalagi ini hari Minggu dan udah malam. Bank tutup dan setahuku di Jatinangor nggak ada mesin setoran tunai. Beda dengan pengutil yang jelas-jelas kelihatan berbuat dosa dan bisa langsung diteriakin “maling!”

Aku keluar duluan dari ATM Center dengan lutut lemas. Kepalaku berisik dengan berbagai pertimbangan moral. Akhirnya, aku cerita sama tukang ojek yang lagi duduk di dekat pos satpam. Dia kemudian menyuruhku lapor ke satpam. Setelah cerita, si aa satpam (kayanya dia cuma sedikit lebih tua dariku) bilang, “Itu mah udah biasa teh. Biasanya itu yang ngedeposit poker. Biasa mah, satpam-satpam di sini udah pada tau kok,” Aa satpam meyakinkan aku kalau itu nggak masalah sama sekali.

Belakangan, aku agak nyesal sih kenapa ninggalin ATM Center duluan alih-alih nungguin transaksi mereka selesai baru ngomong ke mas-mas yang transfer. Siapa tahu kalau uangnya memang palsu, si pelaku masih bisa dikejar. Ah, tapi pas aku meninggalkan ATM Center tadi masih ada beberapa orang lain di sana, yang bisa membantu kalau ada hal buruk terjadi. Semoga uang seratus ribu masih jadi rezeki mas itu. Aamiin.

Sampai di kosan, aku googling tentang modus penipuan ini. Ketemulah cerita-cerita dari kaskus dan blognya orang. Di kaskus, ada yang bilang persis kaya omongan aa satpam. Transfer buat deposit mainan macam poker atau lainnya yang suka pake uang beneran. Ada juga yang cerita kalau dia sering numpang transfer. Soalnya bank yang ada di kotanya dia cuma satu dan kadang dia harus transfer ke rekening bank lain sesegera mungkin. Kalau harus transfer lewat teller, biasanya makan waktu tiga hari dan menurut dia itu kelamaan. Makanya dia suka nongkrongin atm, nungguin orang yang kira-kira bisa dimintain ikut transfer.

Mungkin buat sebagian orang, kehilangan seratus ribu sama sekali nggak mempengaruhi neraca keuangannya. Tapi buat anak kos bokek macam aku? Seratus ribu itu untuk memperpanjang nyawa selama empat hari, boi!

Duh, beneran deh makin ke sini jadi makin susah untuk percaya sama orang. Ada aja oknum yang memanfaatkan niat baik seseorang untuk membantu. Maksudnya mau sedekah, eh ternyata pengemis terorganisir. Maksudnya mau bantuin karena kasihan nggak punya ongkos pulang, eh ternyata nipu. Kita wajib jadi orang baik, tapi kebaikan malah dimanfaatkan sama orang-orang nggak tau diri dan nggak tau malu. Hah, lama-lama aku takut akan jadi orang yang hidup penuh curiga!

Salah

Iya, salahnya tugas udah dikasih dari tiga bulan yang lalu tapi progress-nya masih segelintir debu.
Iya, salahnya kenapa nggak bikin list narasumber dari zaman nenek moyang dan langsung kontak mereka. Padahal mereka itu orang-orang sibuk yang mungkin lama nggak bisa lihat medsos.
Iya, salahnya kenapa baru mulai serius H-12 begini.
Salah emang. Salah beneran.
Trus apa? Kalau udah nyalah-nyalahin, trus mau ngapain? Secara ajaib semuanya kelar?
Sudah. Jangan saling menyalahkan atau malah merutuki diri sendiri. Semangat! Banyak-banyak doa!

Vespa di Sore yang Bergelimang Dosa

image

Sejak mengaktifkan notifikasi untuk fitur “On This Day” di Facebook, berselancar di media sosial buatan Mark Zuckerberg itu benar-benar terasa lebih menyenangkan. Soalnya, tanpa perlu scrolling sampai ke postingan masa silam, tiap hari kita dikasih tau kealayan macam apa yang udah kita perbuat di Facebook, hari itu, mulai sekian tahun yang lalu.
Kalau dapat notifikasi itu dan ada status yang terposting di sana, apalagi ada yang mengomentari biasanya aku buka. Pengen tahu waktu itu ngomongin apa.
Sampailah, ternyata ada komentar yang bikin aku ingat cerita tentang pengalaman naik vespa yang selalu buruk. Enggak banyak sih. Soalnya cerita hina soal vespa ini menyangkut vespa rombeng Pakde Suryo yang mangkal di rumah. Warnanya biru metalik tapi kusam. Vespa ini nggak ada kuncinya. Kalau mau dipakai, ya mesti diengkol dengan tenaga dalam. Speedometer dan indikator penunjuk bahan bakarnya juga nggak ada. Untung lampu masih nyala.
Pertama kali naik vespa itu waktu kelas 9, aku, Tonyong, Ilmi, sama Fadel mau ke sekitaran danau buat nyari pohon cangkokan untuk tugas biologi. Vespa butut itu akhirnya dipakai karena emang nggak ada pilihan lain. Aku ingat  banget gimana si Tonyong ngengkol vespa penuh semangat sampai urat kepalanya keluar semua dan si vespa mengeluarkan suara “blaaaarrr…bretetetet” yang keras sekali. Tanda dia siap beraksi.
Nggak ada masalah sih pas pergi. Tapi pas pulang, baru keluar kabaji-nya.
Kami mau mampir dulu ke rumah Ilmi begitu pulang dan mendapatkan sebatang cangkokan pohon jeruk yang buahnya kecil menggelantung. Aku dan Tonyong nggak tau rumahnya di mana, tapi si Tonyong malah sok ide ngebut meninggalkan si tuan rumah. Maklum, nafsu anak SMP yang baru naik motor emang begitu. Gara-gara itu, ternyata gang rumah Ilmi kelewat sekitar seratus meter. Begitu sadar, Tonyong langsung ngerem dan mau putar balik. Lalu BOOM! Si vespa mati dan nggak bisa nyala lagi. Jadilah Tonyong ngedorong vespa dan aku ngakak sambil nahan malu. Soalnya dilihatin orang-orang.
“Sore yang bergelimang dosa,” kata Tonyong belakangan. Aku suka kata-kata itu.
Kedua kalinya, bareng Tonyong lagi beberapa minggu kemudian. Yoga minta ditemenin beli cangkokan pohon jeruk yang sama. Tonyong waktu itu ada di rumahku. Kalau nggak salah kami dan beberapa orang lain lagi bikin tape ketan untuk tugas biologi (lagi). Karena udah trauma sama kejadian vespa kemarin, aku dan Tonyong naik motor matic Yoga, dan dia naik vespa.
Semua berjalan normal sampai sebelum naik jembatan, aku dengar seseorang manggil Yoga. Jadi aku teriakin Yoga supaya berhenti. Kemudian, Yoga berhenti begitu juga vespanya. Bedanya, si vespa nggak bisa jalan (lagi).
Berhubung udah mulai sore dan Yoga yang butuh dan aku nggak tahu gimana caranya benerin vespa, akhirnya Tonyong kami tinggal di pinggir jalan. Semoga dia tahu gimana mengembalikan nyawa si vespa.
Untungnya, pas kami balik dari beli pohon, Tonyong udah nungguin di pinggir jembatan. Vespanya juga sudah menunggu. Bertenaga dan siap dipacu.
Mereka berdua sepakat buat balapan sampai rumahku. Aku setuju aja. Si pohon jeruk yang kupegangi cuma diam. Lalu kami sampai dengan selamat di rumahku dengan pohon jeruk yang tak lagi berdaun. Aku berduka untuknya.
Sekarang, aku nggak tahu sih, gimana kabar si vespa. Masih hidup atau malah udah jadi pot bunga, aku nggak peduli. Tapi yang jelas, dia udah bikin aku selalu memandang ngeri pada semua vespa.

Kok Nangis?

Kemarin, aku sempat nangis gara-gara mulai jenuh menghadapi dunia kampus dan pengen pulang. Tapi aku nggak bilang siapa-siapa, soalnya malu. Nanti pasti dikata-katain kalo ngaku homesick padahal udah semester tua. Waktu itu ada yang nanya, “Lah, kenapa nangis? Diputusin pacar?”
Kenapa diantara seribu kemungkinan aku nangis, kemungkinan pertama adalah ditinggalkan oleh zat yang bahkan tidak kumiliki?
Gara-gara malu ketahuan nangis, aku bilang aja file tugasku yang maha penting hilang dan deadline-nya dua minggu lagi. Sambil dalam hati bilang, “amit-amit ya Allah. Lindungilah file-file-ku,”
Enggak ngertilah, kenapa kesedihan para remaja dan dewasa awal selalu dihubungkan dengan dunia percintaan. Seolah hak air mata untuk jatuh adalah karena: a) ditolak gebetan; b) ditinggal pacar; c) pacar selingkuh; d) mantan sudah berbahagia dengan orang lain.
Seolah-olah hal semacam kehilangan file, atau kelingking kaki terantuk kusen, atau melihat kucing mati adalah hal remeh yang nggak pantes untuk ditangisi.
Seolah-olah hati yang kuat dipersiapkan untuk kehilangan cinta pertama atau kedelapan, alih-alih narasumber yang tak kunjung membalas pesan.
Kalau nangis gara-gara urusan percintaan, dianggap wajar. Kalau nangis gara-gara yang lain, dikatain baperan.
Duh, masyarakat.
Sebagai orang yang gampang menitikkan air mata, pertanyaan kok-nangis-pasti-masalah-cinta-ya itu benar-benar membuatku merasa remeh. Sampai-sampai sebelah diriku bilang, apa yang aku tangisi itu emang…. ya nggak usah ditangisi aja.
Kemarin itu, aku nangis gara-gara Zizi cerita kalau kelinci yang mereka pelihara sekitar sepuluh hari, udah mati. Padahal aku sama sekali belum pernah ketemu si kelinci. Tapi aku sedih membayangkan wujud kelinci yang kecil dan lembut, terbujur kaku.
Pernah juga waktu tahun baruan di Bukittinggi, aku menangisi sekelompok balon helium. Soalnya mereka berwujud binatang dan harus survive terbang di antara ledakan kembang api. Dan aku makin nangis waktu mengira-ngira ada berapa balon yang lepas dan berapa kerugian yang ditanggung bapak penjual balon. Aku bahkan nggak tau apakah yang jual si bapak atau istrinya.
Biar menurut orang remeh, bagiku air mata pantas mengalir untuk hal-hal seperti itu.
Atau jangan-jangan kantung air mataku bocor dan mengalami semacam beser?

Berhenti Jadi Cewek

Berhentilah jadi cewek yang haus perhatian. Berhentilah jadi cewek yang mengumbar permasalahan pribadi ke mana-mana, trus malah melampiaskan emosi ke orang-orang yang ngasih perhatian. Berhentilah jadi cewek yang selalu ngomong “aku nggak apa-apa kok” padahal jelas-jelas situ kenapa-kenapa. Berhentilah jadi cewek yang selalu menggunakan kata-kata pamungkas “terserah” tapi selalu protes dengan hasil keputusan yang terserah itu. Berhentilah jadi cewek tolol yang haus perhatian. Berhenti! Berhenti!!

Biar perdamaian segera hadir ke dunia.