Month: October 2015

Kilas Balik

Alias flashback.
Gara-gara minum kopi, aku jadi nggak bisa tidur dan tiba-tiba kepikiran cerita waktu SMA.
Satu hari Jumat di kelas 12, nggak tau gimana aku jongkok berdua sama Ade di depan kelasnya, 12 IPS 3, sebelah pintu, bawah jendela. Trus kita cerita-cerita, dan ceritanya Ade begitu mengharukan sampai-sampai aku nangis. Si Ade nggak nangis, tapi matanya merah.
Padahal itu jam istirahat dan orang-orang berseliweran ngeliatin kita. Kenapa ini manusia berdua jongkok-jongkok dan nangis?
Sekarang aku bahkan nggak inget apa yang kita obrolin, kayanya masalah keluarga deh. Tapi kocak kalo diinget-inget. Konyol banget ih, nangis bareng. Sambil jongkok lagi. Hahaha bego!

Generasi Bahagia(?)

GENERASI BAHAGIA Itu, generasi kelahiran 1970-1990an…
Dan itu adalah kami.
Kami adalah generasi terakhir yang masih bermain di halaman rumah yg luas. Kami berlari dan bersembunyi penuh canda-tawa dan persahabatan. Main Petak Umpet, Boy-boynan, gobag sodor, Lompat tali, Masak-masakan, sobyong, jamuran, putri putri Melati tanpa peringatan dari Bpk Ibu. Kami bisa memanfaatkan gelang karet, isi sawo, kulit jeruk, batre bekas, sogok telik mjd permainan yg mengasyikkan.Kami yg tiap melihat pesawat terbang langsung teriak minta uang.
Kami generasi yang ngantri di wartel dari jam 5 pagi, berkirim surat dan menanti surat balasan dg penuh rasa rindu. Tiap sore kami menunggu cerita radio Brama Kumbara, berkirim salam lewat penyiar radio. Kamilah generasi yang SD nya merasakan papan tulis berwarna hitam, masih pakai pensil dan rautan yang ada kaca di salah satunya. Kamilah generasi yg SMP dan SMA nya masih pakai papan tulis hitam dan kapur putih. Generasi yang meja sekolahnya penuh dengan coretan kejujuran kami melalui tulisan Tipe-X putih, generasi yang sering mencuri pandang teman sekolah yang kita naksir, kirim salam buat dia lewat temannya dan menyelipkan surat cinta di laci mejanya.
Kami adalah generasi yang merasakan awal mula teknologi gadget komunikasi seperti pager, Komputer Pentium jangkrik 486 dan betapa canggihnya Pentium 1 66Mhz. Kami generasi yang sangat bangga kalau memegang Disket kapasitas 1.44Mb dan paham sedikit perintah Dos dengan mengetik copy, del, md, dir/w/p. Kami adalah generasi yang memakai MIRC untuk chatting dan Searching memakai Yahoo. Generasi bahagia yang pertama mengenal Nintendo, Game wot yg blm berwarna.
Generasi kamilah yang merekam lagu dari siaran radio ke pita kaset tape, yang menulis lirik dengan cara play-pause-rewind, dan memanfaatkan pensil utk menggulung pita kaset ya macet, kirim kirim salam ama temen2 lewat siaran radio saling sindir dan bla bla bla, generasi penikmat awal Walkman dan mengenal apa itu Laserdisc, VHS. Kamilah generasi layar tancap Misbar yang merupakan cikal bakal bioskop Twenty One.
Kami tumbuh diantara para legenda cinta spt kla Project, dewa 19, padi, masih tak malu menyanyikan lagu Sheila on7, dan selalu tanpa sadar ikut bersenandung ketika mendengar lagu: mungkin aku bukan pujangga, yg pandai merangkai kata.
Kami generasi bersepatu Warior dan rela nyeker berangkat sekolah tanpa sepatu kalau sedang hujan. Cupu tapi bukan Madesu.
Kami adalah generasi yang bebas, bebas bermotor tanpa helm, yang punya sepeda, sepedanya disewain 200 rupiah /jam,bebas dari sakit leher krn kebanyakan melihat ponsel, bebas manjat tembok stadion, bebas mandi dikali disungai dll, bebas manggil teman sekolah dengan nama bapaknya. Bebas bertanggung jawab.
Sebagai anak bangsa Indonesia, Kami hafal Pancasila, Nyanyian Indonesia Raya, maju tak gentar, Teks proklamasi, Sumpah Pemuda, Nama nama para Menteri kabinet pembangunan IV dan Dasadharma Pramuka dan Nama nama seluruh provinsi di Indonesia.
Kini disaat kalian sedang sibuk2nya belajar dengan kurikulum mu yg njelimet, kami asik2an mengatur waktu untuk selalu bisa ngumpul reunian dg generasi kami.
Betapa bahagianya generasi kami

maaf adik2… kalian belajar yg keras ya untuk mendapatkan kebahagian cara kalian sendiri…

Salam sayang dari kami.

Bangga ya, jadi generasi bahagia?
Jadi, generasi mana ya yang mengubah lapangan jadi mall atau hotel, dan sawah jadi apartemen?
Generasi mana ya, yang berusaha mati-matian menciptakan perangkat untuk mendekatkan yang jauh, sekaligus menjauhkan yang dekat?
Generasi mana ya, yang melahirkan anak-anak pada tahun 2000-an dan memberikan mereka tablet sejak mereka mulai bisa merangkak?
Generasi mana ya, yang bikin program televisi penuh dengan rongsokan?
Generasi mana ya, yang ternyata tidak sekreatif Pak AT Mahmud, Bu Kasur, atau Papa T Bob dalam menciptakan lagu anak-anak?
Ooh, generasi bahagia itu rupanya sudah sangat dewasa ya, sudah jadi bapak dan ibunya orang.
Lantas, kenapa kalian menyalahkan anak-anak karena main gadget melulu? Siapa sih itu, orang kurang ajar yang ngasih gadget ke makhluk balita?
Kenapa kalian menyalahkan anak-anak karena nyanyi lagu cecintaan gak jelas?  Emang kalian pernah ya, coba memperdengarkan lagu anak-anak zaman generasi bahagia kalian itu ke anak kalian?
Kalau kalian tahu gimana rasanya dan gimana caranya jadi generasi bahagia, lantas kenapa nggak kalian terapkan juga ke anak-anak kalian yang kurang beruntung itu?
Kurang beruntung karena dilahirkan bukan sebagai “generasi bahagia”.
Dasar, orang-orang dewasa egois!

No Internet Day(s) : After

Akhirnya aku terpaksa beli paket internet lagi karena ternyata emang butuh banget. Soalnya si Azul lagi pulang dan aku nggak punya sumber informasi yang mana cuma beredar lewat Line dan ada tugas kelompok dan aku nggak punya pulsa untuk menghubungi siapapun.
Seminggu belakangan bukannya kulalui benar-benar tanpa internet. Aku pakai internet dengan memaksimalkan fasilitas kampus atau ke tempat yang menyediakan wifi gratis atau makannya bayar tapi wifi-nya gratis. Ternyata aku harus bolak-balik cek email dan melakukan beberapa hal dengan bantuan internet.
Selebihnya? Menyenangkan.
Aku jadi nggak perlu (terpaksa) baca semua sesumbar, omong kosong, fitnah, bohong, atau apapun itu yang berseliweran di linimasa media sosial.
Aku nggak tergoda untuk terus-terusan megang ponsel setidaknya sepuluh menit sekali.
Aku jadi bisa mengisi ulang baterai ponsel hanya dua hari sekali.
Aku jadi bisa baca The-100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared yang kubeli sebulan lalu dan entah kenapa nggak pernah sempat kubaca.
Intinya, mencoba melepaskan diri dari ketergantungan terhadap ponsel (dan koneksi internet) itu bisa jadi semacam me time. Indah sekali untuk menyepi dari kebisingan dunia maya. Aih.

No Internet Day(s)

Sekarang aku lagi numpang pakai wifi di sebuah kafe di pertigaan Dunkin, Jatinangor. Kuota internetku habis dan aku nggak punya uang merasa nggak minat untuk beli paketan internet lagi.

Gimana ya, kalo untuk beberapa hari aku nggak bisa mengakses internet seenaknya dari hp?

Jadi, untuk beberapa hari ke depan aku mau nyobain gimana rasanya hidup tanpa internet. Ayolah, beberapa tahun lalu aku juga pernah ada di kondisi tanpa internet dan aku bertahan hidup, kok. Semuanya baik-baik aja. Kalau aku waktu SMP-SMA bisa hidup tanpa internet, harusnya aku yang (ehem) sekarang lebih dewasa juga bisa santai jauh-jauh dari internet.

Mari lihat, berapa hari aku mampu bertahan tanpa sentuhan internet. Tanpa tiba-tiba googling hal-hal random yang kepikiran di otakku. Tanpa lihat-lihat timeline Facebook atau Line. Tanpa ngepoin instagram Kevin Ray sebelum tidur.