Month: September 2015

Gimana kalau…

Aku sedang membayangkan gimana kalau aku jadi figur cewek seperti temanku, si X.
Gimana ya, kalau suaraku merdu lagi lemah-lembut?
Gimana ya, kalau aku bisa pake kerudung lilit-lilit tanpa harus merasa kalau itu ribet banget?
Gimana ya, kalau aku selalu pakai rok melambai, lalu berjalan dengan anggun dan pelan-pelan?
Gimana ya, kalau aku bersikap manja-manja gemas? Bikin cowok-cowok rasanya ingin melindungiku walau hanya dari debu.
Gimana ya, kalau aku ketawa anggun alih-alih ngakak?
Gimana ya, kalau aku suka sebuket bunga mawar saat candle light dinner?
Gimana ya, kalau berat badanku cuma 40kg?

Yah, kalau aku tiba-tiba jadi begitu, itu sudah pasti bukan aku.

Positif-Negatif

Kadang, aku takut memikirkan soal ide-ide karena mereka biasanya kupikirkan mulai siang, tapi baru datang malam hari dalam kegelapan. Tepat ketika aku mulai memejamkan mata dan menghitung domba. Kelanjutannya bisa ditebak: aku baru tidur setelah subuh karena otakku rewel dan terlalu bersemangat.
Yah, positif-negatif sih

Jejodohan

Adiknya temanku bilang, nggak mungkin ada anak kuliahan yang nggak punya pacar.
Kalau begitu, berarti aku ada di kategori anak sekolahan, ya? Ha. Ha. Ha.
Padahal dalam lingkaran pertemananku, yang punya pacar cuma satu. Sisanya adalah para lajang yang selalu ceria, yang untuk makan saja mesti ditentukan lewat kocokan.
Tadi aku ngobrol sama temanku. Dia nanya, kita ini retard ya, umur segini masih pecicilan rame-rame kaya gerombolan lebah, dan sepertinya sama sekali nggak kepikiran perkara perjodohan.
Hmm iyakah? Rasanya sudah lama sih, sejak terakhir kali aku suka sama orang–katakanlah jatuh cinta. Hahaha omonganku kaya perempuan 40-an tahun yang nggak kawin-kawin ya?
Hmm pacar ya… Temanku yang lain pernah bilang, kadang-kadang rasanya dia pingin punya pacar. Bukan buat mesra-mesraan, tapi buat jadi tempat curhat segala jenis beban kehidupan.
Hih, denger kata “mesra-mesraan” otakku langsung belok jauh ke kiri sampai-sampai butuh tenaga dalam untuk mengembalikannya ke jalan yang lurus.
Secara fungsional, pacar itu apa? Maksudku, kalau suami kan memang harus memberi nafkah lahir batin dan sebagainya. Kalau pacar? Ibarat bangunan, menurutku pacar itu levelnya mezanin. Lebih tinggi dari lantai, tapi nggak cukup tinggi untuk jadi satu lantai sendiri. Ngawang kan ya?
Iya ya, jangan-jangan aku emang retard karena rasanya nggak (atau belum?) berminat untuk punya pacar (lagi). Soalnya jatuh cinta sama orang nggak segampang jatuh cinta sama basreng cabe ijo, sih.
Yaah semoga nanti gerombolan lebah ini ketemu jodoh di usia yang tepat deh. Aamiin.

Serial Cantik (gagal)

Mungkin karena aku terlalu sering mencela kehidupan per-serial cantik-an, jadi kisah seperti itu nggak akan pernah hinggap dalam hidupku.
Ketika kemarin akhirnya aku bisa duduk di sebelah “Furukawa Yuki”, kenapa harus dalam keadaan badanku keringatan karena habis lari-larian ke kelas?
Kenapa dalam keadaan aku nggak mandi pagi?
Kenapa dalam keadaan mataku berkantung karena cuma tidur 1,5 jam?
Kenapa dalam keadaan ada jerawat merah banget di hidungku?
Pas akhirnya dapat kesempatan ke toilet, aku mengendus-endus badanku. Nggak bau kayanya. Yakin, ga bau. Syukur deh.

Eh, tapi maksudku bukan aku berharap “Furukawa Yuki” duduk di sebelahku waktu aku lagi pakai gaun dengan petticoat, lengkap sama mahkota berkilau dan sarung tangan sesiku. Emang lagi cosplay Cinderella?
Maksudku, kenapa nggak pas aku dalam keadaan “normal”, bukan kacau kaya kemarin? Aku juga bukannya mau bergenit-genit ria sih. Tapi yah, setidaknya kalau “normal”, aku nggak khawatir sama bau badan.
Emang ya, kisah serial cantik cuma ada di komik!

Feel(s)

Aku lagi mikir, gimana kalau Tuhan menciptakan manusia cuma dengan satu perasaan?
Misalnya, cuma senang. Taunya ya dia senang-senang aja. Kalau ada yang jahatin, dia tetap ketawa. Kalau kena musibah, masih bisa ketawa. Kalau pernah melakukan sesuatu yang bikin malu tujuh turunan, langsung lupa karena ketawa. Ketawa beneran, bukan ketawa tapi dalam hati nangis garuk-garuk sawah.
Atau yang cuma bisa ngerasain sedih. Apa-apa ditangisin. Liat cicak ekornya putus, nangis padahal ekornya cicak bisa tumbuh lagi. Dapet surprise yang (harusnya) bikin bahagia, malah nangis karena emang nggak punya emosi lain untuk ditunjukkan.
Atau yang cuma punya kemarahan. Beli sepatu salah ukuran, marah, padahal muat pas dicoba di toko. Ada yang ngomongnya belibet, marah juga. Hal kecil aja bikin marah, apalagi hal besar macam perang dunia.

Untungnya emang Tuhan menciptakan kita dengan berbagai rasa. Biar kita punya banyak muka untuk ditunjukkan. Biar kita bisa ngebayangin gimana perasaan orang lain. Biar hidupnya seimbang.

Tapi, yaah, emang dasar manusia suka nggak tau diri. Kadang emang pengen menghapus suatu perasaan biar mempengaruhi perasaan lain secara keseluruhan. Apa coba, ga jelas kan. Ya itu, Tuhan sayangnya nggak ngasih kita opsi untuk menghapus bagian-bagian yang nggak kita mau. Kaya di film Inside Out itu loh. Kita kan nggak bisa seenaknya menjorokkan bola-bola kenangan yang ada di “memori jangka panjang” ke dalam “tempat sampah” biar lupa.

Ah, kebanyakan mengkhayal dasar!

Perpisahan Kecil

Mereka bertiga udah barengan sejak dari pabrik dan hari ini aku memisahkan mereka.
Cuma karena satunya udah baret dan jelek.
Mereka itu screen protector, hape, sama back cover-nya

Aku baru ganti screen protector karena yang lama udah baret-baret jelek. Padahal aku udah berusaha supaya dia nggak masuk saku atau bercampur baur sama kunci dan uang receh. Tapi tetep aja baret. Salah tanganku?
Aku sedih ketika melepaskan dia ke mbak-mbak konter aksesoris hape. Gimana perasaan dia berpisah sama saudara-saudara sepabriknya? Mereka bareng dari awal lho, udah kaya kembar. Bedanya mereka saling melengkapi.
Apalagi ternyata screen protector yang lama nggak dikembaliin ke aku.
Iyalah. Mau diapain? Dipigura trus ditulisin tanggal kita resmi berpisah?

Masalah Memoris

Aku sekarang sedang mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok pagi jam delapan.
Waktu nulis untuk tugas ini, tiba-tiba aku ingat kutipan yang bagus sekali. Kurasa bisa dipakai untuk tugas ini. Aku ngubek-ubek rak buku. Mencari di mana pernah kubaca kutipan itu. Kubongkar semua fotokopian semester-semester lalu, file-file tugas zaman purba juga kubuka satu-satu. Kali aja aku pernah menuliskannya di suatu tugas. Enggak ada. Tapi aku yakin pernah baca.
Aku cuma ingat kutipan itu isinya kira-kira “Jika berita langsung menjawab A, maka berita khas menjawab B, dan berita mendalam menjawab C.” Sialnya aku lupa A, B, C itu isinya apa. Lagi, aku juga butuh nama si pembuat kutipan.
Ini bukan pertama kalinya aku ingat informasi cuma sepotek. Seringnya, hal ini terjadi kalau menyangkut pelajaran dan “penting” untuk kehidupan perkuliahan. Giliran hal-hal “nggak penting” di dunia ini, aku malah ingat jelas. Jadi otakku menganggap penting hal yang “nggak penting” dan sebaliknya ya?
Sudahlah. Aku beneran harus nyari dimana aku baca kutipan itu.

Lagi…

Kemarin rasanya bahagia banget, bisa tidur jam 10-an, lalu bangun subuh dengan segar. Ga pake pusing.
Eeehh sialnya cuma sehari. Hari ini mulai lagi ga bisa tidur padahal udah lewat tengah malam. Kepalanya udah mulai cenut-cenut. Sedih.
Rasanya pingin sekali-sekali minum obat tidur, atau minimal obat apapun yang bisa bikin ngantuk, tapi takut ketergantungan karena kelakuan begini kejadiannya ya bukan sekali-sekali.
Di sini ada obat batuk sisa kemarin. Rasanya pingin diminum aja biar ngantuk. Tapi takut.
ARGH!
Aku rasanya nggak pernah berdoa minta dijadikan orang kaya bergelimang harta. Bisa tidur sebelum lewat tengah malam juga aku udah bahagia. Lah ini, udah kere, tidur nyenyak pun tak mampu.
Sedih ya? Iya. Tapi jangan dikasihani. Nanti kamu ngasih duit, lagi. Padahal aku maunya cuma bisa tidur sampai sebelum pagi!!

Mistik

Lagi gegoleran di kamar karena kurang kerjaan, tiba-tiba aku ingat sebuah kejadian mistis yang aku alami waktu SMA. Nggak bisa dibilang mistis kaya film-film horror sih. Nggak sampai bikin aku ketakutan setengah mati juga. Cuma bikin aku kaget dan bingung binggo.
Ceritanya gini, waktu itu aku kelas 10. Pas jam pelajaran olahraga, guru menyuruh kami untuk lari keliling desa, jaraknya kira-kira 1km. Start dan finish di gerbang sekolah. Namanya lari begitu, semuanya pasti mulai bareng tapi baliknya satu-satu.
Aku termasuk jajaran manusia yang duluan sampai di sekolah, kalo nggak salah bareng satu cewek dan tiga cowok lain. Setelah mencontreng nama di buku absen guru, aku mau balik ke kelas untuk ambil uang. Buat beli minum, haus.
Kelasku itu letaknya di belakang lab komputer yang jarang banget dipake. Pas lewat di depan lab, aku ketemu temanku, Y di sana.
“Nggak ikut lari?” tanyaku.
Dia mengangkat tangan, ngajak tos dan kubalas. “Nggak, lagi sakit perut,” katanya sambil memegangi perut. “Duluan ya,” lanjutnya lagi.
Aku mengangguk dan ke kelas terus ke kantin.
Jam pelajaran selanjutnya, temanku S cerita kalau mereka lama banget balik ke sekolah karena nggak kuat lari dan memilih jalan pintas lewat sawah. Dia cerita lewat sawah bareng siapa aja, dan itu termasuk Y! Aku kaget banget dan bilang, kalau tadi aku ketemu Y dan dia nggak ikut lari. Tapi S keukeuh bilang kalau Y juga ikut lewat sawah bareng mereka.
Beberapa detik aku merasa horor. Apalagi kemudian aku tau kalau banyak banget cerita mistis yang ada di lab komputer itu. Ditambah lagi beberapa bulan kemudian, hampir setiap hari ada anak yang kesurupan di sekolah. Horor.