Month: July 2015

Dunia Perhandukan

Beberapa waktu lalu, seorang teman bertanya padaku apakah salah kalau kita memakai handuk orang lain, bahkan milik kakak sendiri. Aku bilang, kalau aku sih geli misalnya harus pakai handuk orang atau handukku dipakai orang. Remeh memang, cuma perkara handuk. Tapi bisa jadi krusial karena kita nggak tahu handuk itu dipakai buat ngelap APA aja. Apalagi kalau handuknya masih basah, fresh from the bathroom. Geli maksimal. Belum lagi dengan pertukaran bakteri dan berbagai jenis penyakit kulit yang hinggap di handuk orang.
Memang ada beberapa kondisi yang mengharuskan kita, manusia yang butuh alat penyerap air dari tubuh usai mandi, untuk memakai handuk orang lain. Misalnya, menginap semalam tanpa persiapan di rumah teman atau saudara, juga pergi berenang tapi lupa bawa handuk.
Kalau terpaksa harus pakai handuk orang, hal pertama yang harus dilakukan adalah cek, handuknya basah nggak? Kalau basah, usahakan cari bagian yang cukup kering untuk ditempelkan ke badan.
Kedua, perhatikan tanda hitam. Tanda ini biasanya ada di handuk yang sudah lama dipakai (dan semoga rajin dicuci). Hindari mengelap wajah dengan bagian hitam tersebut, karena bisa dipastikan bagian hitam itu yang paling sering digunakan untuk mengelap. Jangan dibayangkan mengelap bagian MANA.
Lalu, ciumi baunya. Kalau agak bau apek, jangan dipakai untuk mengelap muka. Lap saja muka di luar dengan tissu. Lap badan buru-buru dan seadanya supaya bau sabun nggak digantikan bau jamur.
Kalau sebegitu gelinya untuk memakai handuk orang, cara pertama yang bisa dilakukan adalah bersemedi di kamar mandi. Biarkan bulir-bulir air turun dari tubuh ke lantai, hingga dirasa sudah cukup kering untuk bisa ditutup dengan baju.
Cara kedua yang agak jorok adalah mengelap tubuh dengan baju yang dipakai sebelumnya. Ini jorok (banget), tapi setidaknya badan ini dilap dengan bekas badan sendiri.
Yah, sebenarnya kalau kita begitu higienis dan nggak sudi pakai handuk orang lain, jangan pernah lupa bawa handuk ke mana-mana. Minimal handuk kecil yang bisa dipakai dalam kondisi darurat. Jangan lupa juga untuk punya setidaknya dua handuk supaya bisa gonta-ganti dan tetap bersih. Selamat handukan!

Advertisements

Mati

Suatu hari, temanku pernah cerita (sebenarnya nggak bener-bener cerita. Aku yang kepo tanya-tanya) kalau sepupunya meninggal mendadak. Sepupunya, yang satu tingkat di bawah kami, katanya sih meninggal karena sering begadang dan pola makannya nggak bener.

Aku jadi serem karena setahun (atau dua tahun?) belakangan hidupku berpola seperti itu. Baru bisa tidur setelah jam 2 dinihari, lalu bangun jam 10. Sarapan jam 11 supaya dirangkap sama makan siang. Efeknya, mata berkantung, punggung sering ngilu, muka pucat karena darah berkurang, dan hidup kurang bersyukur. Soalnya sering merutuk karena terlambat masuk kuliah.

Bukannya aku mau sok gaya seperti beberapa manusia di luar sana. Bukan. Jujur saja aku rindu tidur jam 10 malam lalu bangun subuh jam 5 pagi dengan segar, bukan dengan ritual bangun-lihat jam-merutuk-tidur lagi. Sungguh, itu hidup yang mengerikan. Sayangnya, beberapa tugas kuliah selalu kukerjakan H-1, bikin aku begadang, dan sukses mengacaukan pola tidur hari-hari selanjutnya.

Beneran deh, aku takut tiba-tiba mati. Kaya barusan, rasanya ada yang menggedor-gedor dalam rongga dadaku, sedikit bikin aku sesak nafas. Kepalaku juga sedikit pusing dan bikin aku merasa oleng ke kanan padahal bukan. Kukira aku bakal mati, tapi ternyata alhamdulillah aku masih hidup.

Iya, mati emang tiba-tiba. Tuhan nggak mungkin ngirimin notification ke ponsel yang isinya “Kamu akan mati dalam 5 jam. Bersiaplah!” Tapi karena tiba-tiba itu makanya mengerikan. Bagus, mati pas sedang berbuat baik. Lah, kalau mati pas lagi dengerin lagu Taylor Swift kan nggak oke juga.

Ngomongin mati emang bikin serem, makanya aku nulis ini supaya nggak serem sendirian. Biar kalo ada yang baca juga ikut ngerasa serem. Bukan mau sok religius atau apa. Tapi ya, coba nih ya, bayangkan, kamu lagi ada dalam kegelapan kamar, berusaha untuk tidur, terus tiba-tiba mati. Wah, serem.

Yasudahlah, anggap saja aku sedang memublikasikan resolusi semester kedua 2015-ku: memperbaiki pola hidup! Supaya nggak mati konyol karena pola hidup yang berantakan! Yo! Semangat hai Golongan Darah O yang katanya punya semangat hidup tinggi! *berapi-api*