Month: May 2015

GWS For Meh

Sekitar dua tahun lalu, aku melihat seorang teman, sebut saja Ani (oke, aku nggak kreatif karena namanya nyontek melulu dari buku Bahasa Indonesia untuk Kelas 1 SD), mengunggah foto tangannya ditusuk jarum infus lengkap dengan jari jemari lentik berkuteks salem. Takarirnya—caption—”GWS For Me” dengan emot sedih dan senyum malaikat.

Lalu orang-orang berkomentar, “Waaah Ani sakit apa? Cepat sembuh ya, An.” atau “GWS An. huhuhu *emot nangis*” Ani membalas, “Aku dioperasi, guys…” Aku kaget. Operasi apakah gerangan? Kanker? Tumor? Ambeien? Operasi ketupat?

“Operasi gigi…” lanjut Ani kemudian. Aku terjengkang.

Jadi, itu pertama kalinya aku tahu ada yang namanya operasi gigi karena gigi bungsu yang tumbuh nggak muat di rahang yang ada, jadi harus dioperasi. Itu kata Ani, sih.

Yang aku nggak ngerti adalah, kenapa ada orang yang suka mengunggah foto tangannya diinfus? Supaya ditanya “Kamu sakit apa?” Atau cuma pingin bilang ke dunia, “Heeeeiii tangan aku diinfus looohh!! Rasanya geli-geli lucu gitu, deh! Asyik-asyik segeeerrrrr!”

Aneh.

Sama anehnya dengan orang yang mengunggah foto dia lagi nangis. Kalau melihat yang seperti itu, secara otomatis pikiranku langsung negatif, menghakimi yang aneh-aneh. Aku mikir, sebenarnya yang ingin disampaikan seorang-perempuan-yang-mengunggah-foto-dirinya-sedang-menangis-dengan-maskara-bercucuran-juga-hidung-merah adalah “Liat, gue tetep cantik walaupun lagi nangis. Emang elu, pas nangis mukanya kaya adonan mpek-mpek kapal selam.”

Jangan tanya kenapa harus kaya mpek-mpek kapal selam. Lagi pingin.

Sebagai orang yang nggak pernah ngerti dengan tren yang berkembang di masyarakat yang mondial ini, aku jadi cuma bisa nyinyir. Iyalah, nggak pernah ada yang ngasih penjelasan logis kenapa mereka melakukan ini dan itu. Padahal semua hal yang dilakukan oleh manusia adalah bentuk komunikasi. Bahkan diamnya manusia itu juga komunikasi. Selalu ada makna dibalik setiap tanda yang disampaikan manusia. Hah, jadi teoretis begini!

Ya sudahlah, semoga yang sakit segera sembuh. Semoga dengan mengunggah foto tangan diinfus bisa membuatmu segera sembuh. Semoga yang mengunggah foto tangan diinfus bisa memberikan penjelasan padaku makna dibalik semuanya, supaya aku nggak nyinyir lagi.

Advertisements

kasihan

Ah, you don’t get the joke 😦

Selera humor tiap orang emang beda sih. Ada orang yang gampang banget ketawa kalo lihat lelucon slapstick. Ada orang yang cuma bisa ketawa ngakak kalo nonton stand up comedy. Ada juga orang yang gampang banget menertawakan apapun, selama menurutnya itu lucu atau nggak kasar.

Di sisi lain, ada juga orang yang kebingungan waktu orang lain menertawakan sebuah lelucon. Ada orang yang otaknya secara otomatis berpikir logis waktu dikasih lelucon pelesetan. Nah, ada juga orang yang nanggepin serius lelucon sederhana kaya di atas. Cuma dia dan Tuhan yang tahu apa yang bisa membuatnya tertawa.

Intinya, aku kasihan aja sih sama orang yang sulit menangkap lelucon, apalagi lelucon sederhana kaya gambar di atas malah ditanggapi serius seperti itu. Amboi, mau ketawa aja susah. Ah, tapi ya namanya selera humor ya, nggak bisa disalahin juga. Apa yang menurutku lucu, mungkin menurut orang lain nggak, begitu juga sebaliknya.

MDFK Gentleman

Tadi aku jajan ke Alfamarto. Pas lagi ngantre mau bayar, di depanku ada pasangan. Yang cowok bau parfumnya menyengat sekali sampai hidungku gatal. Pemandangan yang menarik adalah, di bahu kanan cowok itu ada tas kulit warna putih. Dari penampakannya, kelihatan itu tas cewek. Dari penampakannya juga, kelihatan isinya nggak banyak. Mungkin cuma dompet, ponsel dan chargernya, tongsis, sama obat sakit kepala.

Memang aku ini suka nyinyirin banyak hal (sok) romantis dan (sok) gentle yang dilakukan orang pacaran. Kenapa si cowok harus bawain tas ceweknya yang jelas-jelas kelihatan sangat ringan itu? Oh, mungkin bahu ceweknya cidera abis main baseball.

Aku nggak ngerti kenapa cewek-cewek sering minta cowoknya buat bawain tas. Mending kalo tasnya itu ransel dengan warna netral. Lah, ini cowoknya disuruh bawa tas tangan kulit dengan tulisan “Hermes” kemana-mana. Aduhai, si cowoknya mau lagi. Hilanglah sudah kemachoanmu, bung!

Aku bukannya bilang cowok nggak boleh bawain tas cewek. Kalau kondisinya si cewek lagi riweuh bawa ransel penuh di punggung, satu koper sedang diseret di tangan kanan, sebuah tote bag kertas ditenteng di sebelah kiri, maka cowok yang ngebantuin bawa salah satu tas cewek macam ini bisa kita—atau aku—sebut gentle. Tapi kalo cuma bawa tas yang beratnya kaya bayi baru lahir, what’s the point?

Membuktikan cinta? Pret! Kalau begitu kuli angkut di pasar cinta dong, sama ibumu? Soalnya dia bantuin ibumu ngangkut belanjaan yang seabrek-abrek.

Masalah ke-gentle-an lain yang sering kita temui di jalanan adalah masalah berbagi tempat duduk di bus atau kereta. Pernah, suatu kali aku naik damri yang lumayan penuh. Tiba-tiba, ada ibu-ibu naik dengan bawa karung yang lumayan besar. Cuma satu mas-mas yang bantuin dan nggak ada yang mau berbagi tempat duduk. Amboi! Malulah engkau pada jakun yang naik turun setiap kali engkau berbicara itu, hai lelaki! Mana itu, sikap gentleman yang engkau bangga-banggakan pada kekasihmu itu?

Kalau cuma bawain tas tangan, cuih, anak SD juga bisa, Boi! Ada banyak sikap gentle yang nggak cuma harus kamu pertunjukkan pada kasihmu, tapi pada ibumu, pada ibu-ibu di angkutan umum, pada orang-orang yang membutuhkan bantuan di jalanan. Mungkin kamu harus joget kaya om PSY ini biar kamu bisa jadi da real gentleman. Ayo, kembalikan harga diri jakunmu! Tunjukkan kamu tidak sia-sia memelihara kumis dan jenggot, juga membesarkan otot! MDFK Gentleman!

sumber: tumblr

sumber: tumblr

Srikandi

Kami menembus dinding-dinding api birokrasi. Kami memanjat pagar kosan Qoonit jam 12 malam karena pagarnya dikunci jam 11. Kami menyusup diantara wartawan-wartawan “asli” saat Jokowi meninjau Bandung untuk persiapan Konferensi Asia Afrika. Kami berendam dalam kubangan banjir. Kami berurusan dengan masalah hormonal. Kami, adalah srikandi.

Oke, pembukaannya terdengar agak berlebihan karena banyak orang yang sering bertanya, “Kelompok kalian cewek semua?” Yup, kami bersembilan, kami semua perempuan, tujuh berkerudung, tiga diantaranya akhwat. Apa masalahnya?

Sebelum melangkah lebih jauh, aku ceritakan dulu konteksnya. Jadi, kami bersembilan ini tergabung dalam satu kelompok untuk mata kuliah Produksi Jurnalisme Televisi, Cetak, dan Radio—disingkat Jujuju. Sejak awal pembentukan kelompok, entah kenapa kami nggak kepikiran untuk mencoba merekrut anggota cowok. Mungkin karena jumlah anggota kelompoknya juga sudah pas.

Q: “Kelompok kalian cewek semua?”

A: “Iya, kenapa?”

Q: “Nanti transportasi gimana? Kan harus ada cowok biar gampang mobile…”

A: “Kan ada motornya Sumi sama Qoonit. Siti sama Mumut juga bisa naik motor. Juga masih ada abang angkot, mamang ojek, bapak damri…..”

Q: “Kalau berita olahraga kan harus ada cowok biar ngerti…”

A: “Nabila kan ngerti olahraga. Sepak bola, bulu tangkis….”

Satu-satunya hal yang membuat kami berpikir harusnya ada cowok dalam kelompok adalah ketika semua orang mengalami masalah hormonal (baca: pre-menstrual syndrome—PMS). Ceritanya, waktu ngerjain produksi pertama, Jurnalisme Televisi (Juve), dalam dua minggu itu semua perempuan ini sedang dalam masalah hormonal akut. Di sisi lain, Juve ini memberikan tekanan yang luar biasa, baik dari segi teknis maupun non-teknis. Selalu ada perdebatan, dan masalah hormonal membuat telinga malas mendengar. Kami memang nggak sampai teriak-teriak, saling membentak, atau jambak-jambakan kerudung. Tapi, kami malah jadi muak dan akhirnya gontok-gontokan. Sudah malas mendengar si A ketika berpendapat. Mulai merasa si B sok heroik. Berpikir kalau si C kenapa terlihat malas-malasan untuk mengerjakan tugas ini.

Kalau diingat-ingat, masalah hormonal ketika itu konyol juga. Mungkin ketika itulah kami merasa seharusnya ada cowok di sini. Setidaknya harus ada satu orang yang punya pikiran jernih, yang otak kirinya masih mau diajak bekerja sama secara seimbang dengan otak kanan.

Tapi, untuk di lapangan, sebenarnya menurutku nggak ada bedanya apakah di kelompok ini ada cowoknya atau nggak. Toh, kami bukannya ingin investigasi kawasan prostitusi. Kami bukannya ingin mendobrak sarang-sarang gembong narkoba. Hal-hal macam ini memang kedengarannya lebih asoy kalau dilakukan sama cowok. Tapi sekali lagi, kami bukan mau menyajikan informasi seperti itu.

Seperti yang kuceritakan di pembuka, kami memang menembus dinding-dinding api birokrasi, tanpa bekal kartu pers dari kampus, tanpa surat pengantar dari kampus yang menunggu proses pembuatannya saja sudah benar-benar membuang waktu. Semuanya dilakukan dengan lobi, dengan kekerasan hati. Kami bukan ingin merugikan siapapun. Kami cuma tidak ingin rugi, dan tolong dicatat kalau dua hal itu beda.

Kami ikut berdesakan dengan puluhan—mungkin ratusan wartawan lain saat Jokowi meninjau persiapan KAA. Lukya bahkan terjepit ketiak seorang juru kamera televisi nasional, demi mendapatkan gambar pak presiden. Kami berlari, kami melompati pembatas jalan. Kami dibakar terik matahari saat Ridwan Kamil menyampaikan kata sambutan pasca konvoi motor Brotherhood.

Kami mengorbankan rasa malu, menumpangi mobil polisi demi mendapatkan gambar terbaik saat meliput aksi demonstrasi mahasiswa di Sumedang. Kami berendam dalam kubangan banjir, melaporkan dari bawah hujan yang tinggal gerimis.

Kami memanjat pagar kosan Qoonit tengah malam, tingginya sekitar tiga meter, demi pulang ke kosan karena rindu kasur. Meski ketika memanjat kaki ini gemetar takut jatuh dan kedinginan. Gila juga kalau sampai jatuh dan jadi headline berita, “Seorang Mahasiswi Tewas Terjatuh dari Pagar Kosan”

Kami pergi ke Kopo malam-malam demi pemotretan cover majalah saat Produksi Jurnalisme Cetak (Jutak). Memotret seorang lelaki yang suka membuat grafiti pada malam hari. Juga mengobrol dengannya tentang grafiti. Kami juga berbicara tentang sepak bola, tentang ekonomi, juga tentang kudapan-kudapan.

Kesal juga rasanya setiap kali menghadapi pertanyaan kelompok-kalian-cewek-semua-dengan-tatapan-heran-lagi-takjub. Seolah-olah kami adalah perempuan-perempuan lemah yang bahkan tidak punya kekuatan untuk memanggil tukang ojek dari jarak sepuluh meter.

Rasanya nggak ada yang salah dengan ketiadaan lelaki dalam kelompok ini. Semuanya masih bisa terkendali kok. Kami bertahan hingga akhir produksi hari ini. Kalian terlalu mempermasalahkan gender, teman-teman. Selagi masih bisa kita lakukan sendiri, lakukan saja. Kalau terus bergantung pada orang lain, kapan badan ini akan kuat?

Serial Cantik

Belakangan ini, di media sosial sering banget orang-orang nge-share flash story bergenre mainstream romance. Gaya bahasanya sangat khas, susah untuk dijelaskan, tapi kalau kamu sering baca cerita-cerita yang dibagikan orang-orang ini, kamu pasti bisa merasakan persamaannya—sok melankolis. Waktu membaca cerita-cerita itu, otomatis otakku membayangkan sosok cowoknya adalah cowok berperawakan sedang, mata sayu, pipi merona, pakai kaus kerah V—melambai. Dan ceweknya adalah cewek gaul dengan rambut panjang sepunggung, di-highlight cokelat muda, belah tengah, dan nggak bisa bertahan hidup kalau belum nge-post foto bangun tidurnya setiap pagi.

Bukan mau sok anti mainstream atau apa, tapi jujur aja aku muak dengan cerita romansa yang sok menggurui itu. Kalau boleh pakai kata “jijik”, aku mau pakai. Menurutku, cerita-cerita itu bikin orang-orang jadi suka membuat stereotip. Katanya cewek cuma butuh perhatian dari cowok yang dia sayang, padahal ada juga cewek yang getek kalau terus-menerus dikasih perhatian. Katanya cewek mesti dikasih hadiah-hadiah mahal biar senang, padahal ada juga yang cuma dikasih cilok goreng, bisa begitu senangnya sampai-sampai bungkus ciloknya disimpan. Katanya cowok harus gentle, harus mendahulukan kepentingan ceweknya, harus ngalah sama ceweknya, harus membiayai hidup ceweknya. Konyol sekali, teori dari mana itu. Katanya harus rajin-rajin ngasih kabar. Kabar gembira untuk kita semua kulit manggis kini ada ekstraknya? Katanya mantan adalah sampah, jadi harus dibuang pada tempatnya. Jadi kalo lo bilang mantan lo itu sampah, ya sama aja lo juga sampah buat mantan lo. Tolol.

Cerita-cerita kekejuan—cheesy—itu sama menjijikkannya dengan lelucon tentang jomblo. Mungkin memang ada orang yang disebut sebagai jomblo ngenes, orang yang memang beneran nggak bisa hidup tanpa pacar, orang yang memang beneran nggak akan makan atau bernafas kalau nggak diingetin sama pacarnya. Tapi, ayolah, udah 2015 dan masih mainan yang kaya gitu? Lelucon ini bisa juga memicu orang untuk mulai mempertanyakan eksistensi dirinya cuma karena dia nggak punya pacar. Ngecap diri sendiri nggak laku lah, jelek lah, hina dina durjana lah. Hidup bukan cuma untuk pacaran, bung! Kamu masih harus bernapas! Masih harus mendengarkan detak jantung! Masih harus bayar hutang ke Bi Acih!

Maaf deh, kalau aku kasar dengan pakai kata “jijik” di sini, tapi memang kenyataannya aku jijik. Mungkin, aku begitu muak dengan semua cerita manis nan giung ini karena sejak kecil sudah sering mengonsumsi cerita jenis ini. Waktu SD-SMP, aku sering baca komik-komik serial cantik. Yah, kamu tahulah seperti apa ceritanya. Cewek cupu dan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan dalam hidup cuma memotong kuku jari kanan dengan tangan kiri, naksir berat sama senior cowok idola satu sekolah yang serba bisa. Ternyata, diam-diam si senior sudah menaruh hati pada si cewek. Setelah melalui 16 halaman komik, mereka pun jadian. TAMAT. Impossibru.

Gara-gara kebanyakan mengonsumsi serial cantik, aku jadi makin sadar kalau cerita-cerita macam itu memang murni khayalan dan benar-benar menggelikan. Hidup nggak segampang serial cantik, tapi serial cantik menjual mimpi-mimpi itu. Karena ketika kamu sudah mulai dewasa, sudah melihat dan merasakan banyak hal, kamu tahu kalau yang kamu butuhkan adalah realita dengan logika, bukannya mimpi-mimpi manis berbumbu keju.

Aku bukan mau melarang orang untuk membuat dan membaca cerita yang kekejuan. Siapalah aku sampai berhak melarang begitu. Ini cuma bacotanku tentang berbagai hal-hal manis yang ditebar orang-orang. Bikin giung. Bikin eneg. Bikin jenuh. Coba sekali-sekali kasih yang gurih atau pedas. Mungkin bisa seru.

Kepala Dua

Hari ini aku ulang tahun. Oke, pembukaan yang nggak penting. Terima kasih untuk yang sudah mengingat, sudah mengucapkan, dan mendoakan. Semoga doa-doa yang baik juga kembali pada kalian.

Sejak dua atau tiga tahun lalu, aku nggak lagi berpikir kalau ulang tahun adalah momen yang begitu bahagia seperti yang dikatakan orang-orang. Bukan karena aku punya trauma terkait hari ulang tahun. Bukan juga karena nggak ada yang ngasih kado rumah empat miliar lengkap dengan perabotnya macam kuis di tipi itu.

Sejak dua atau tiga tahun lalu itu, aku jadi berpikir tentang siapa yang akan lebih dulu meninggalkan siapa. Aku berpikir apakah tahun depan aku masih bisa mengucapkan selamat ulang tahun dan semoga panjang umur kepada orang-orang yang aku sayangi.

Waktu sinetron Cinta Fitri lagi ngehits, aku ngobrol sama mbahku yang insya Allah tahun ini usianya 69 tahun. Aku bilang, “Mbah, nanti Cendikia mau kaya Fitri sama Farel deh. Pas udah punya anak, omanya juga masih ada,” Mbah cuma ketawa.

“Iya, doain aja semoga mbah masih hidup,” katanya.

Setiap aku mau balik lagi ke Jatinangor, mbah juga sering bilang, “Semoga nanti tahun depan Cendikia masih ketemu sama mbah, ya…”

Jadi aku nangis. Aku jadi sangat sentimentil kalau ingat-ingat yang seperti ini.

Belum lagi angka 20 yang terdengar sangat dewasa dan…. sedikit menyeramkan. Konon kabarnya, di usia ini kamu akan diberondong dengan pertanyaan “Kapan lulus?” “Kapan kawin?” Seram. Sisi baiknya, aku jadi harus bisa menyiapkan jawaban-jawaban sakti mandraguna untuk menghadapi pertanyaan yang kemungkinan akan muncul saat sedang menyantap ketupat opor atau setoples kue bawang.

Setiap orang punya cara yang beda-beda untuk memaknai pertambahan (atau pengurangan—tergantung dihitung dari mana) umurnya, dan inilah caraku memaknai peristiwa tersebut. Terdengar mengerikan, terdengar berlebihan, ya? Tapi, sebagai anak yang sejatinya adalah anak rumahan banget, kehilangan orang-orang rumah selalu jadi ketakutan terbesarku saat aku ulang tahun, atau saat mereka yang merayakan hari jadi.

Sejak dua atau tiga tahun lalu, ulang tahun jadi bukan senang-senang. Ulang tahun bukan lagi tentang dibanjur air mineral campur kopi dan jeli mangga. Lebih dari itu, ulang tahun jadi perenungan. Ulang tahun jadi pengingat tentang masa yang tinggal sebentar lagi. Ulang tahun mengingatkan untuk selalu bersyukur dan mendoakan orang-orang yang disayangi. Ulang tahun menentukan sikap dan mau jadi apa setahun atau seratus tahun ke depan.

Selamat Ulang Tahun!

Happy birthday! お誕生日おめでとう!(otanjōbiomedetō!) Met milad! Selamat ulang tahun!

Itu yang biasanya orang-orang ucapkan saat hari lahirmu tiba. Ucapan ini biasanya diikuti dengan serangkaian doa, kata-kata mutiara, atau kalimat penuh cela dari teman dekat.

Ucapan ulang tahun memiliki arti yang lebih dari sekadar ucapan. Dalam ucapan ini ada kepedulian. Ucapan ini menunjukkan kamu peduli, menunjukkan kamu mengakui eksistensi orang yang berulang tahun. Tanggal lahir bukanlah sesuatu yang dengan gamblang mudah diungkapkan saat baru berkenalan, sehingga mengucapkan selamat ulang tahun menunjukkan kamu peduli pada hal kecil dari seseorang. Hal kecil yang mungkin kamu ketahui setelah melalui rangkaian obrolan, mengintip di KTP, atau dari notifikasi Facebook.

Lantas, bagaimana jika “koleksi” ucapan ulang tahunmu semakin berkurang setiap tahun? Mungkinkah orang-orang tak lagi peduli dan tak sudi mengingat “hari spesial”-mu? Atau malah kamu yang berhenti peduli pada orang-orang? Bisa juga, orang-orang pada masa mondial ini memang sudah malas mengurusi hal-hal kecil macam ucapan ulang tahun yang sederhana. Banyak urusan yang lebih penting, bung!

Tak apa. Bersyukurlah jika masih ada yang mengingat tanggal lahirmu. Bersyukurlah jika mereka tidak hanya ingat dan mengucapkan, tetapi juga berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaanmu. Jika mereka tidak mengucapkan, anggap saja diam-diam mereka menyelipkan namamu dalam doanya. Anggap saja.

Selamat ulang tahun, untukku, dan untuk jutaan orang lainnya yang juga dilahirkan pada hari ini. Semoga kita memiliki umur yang berkah dan bermanfaat. Semoga kita bahagia selalu. Semoga kita selalu berada dalam cinta dan lindungan-Nya. Aamiin.

Healing

Sebulan belakangan kulalui dengan begitu emosional, positif dan negatif. Ada beberapa peristiwa yang membuatku senang, tersenyum hingga tertawa terbahak-bahak, lebih banyak lagi peristiwa yang melibatkan emosi negatif—marah, kesal, kecewa, sedih, menangis. Ada air mata juga di sana.

Setelah melalui berbagai emosi-emosi itu—yang sedikit diantaranya masih kurasakan saat aku menulis ini—akhirnya aku menemukan dua hal yang, meski tidak seratus persen menyembuhkan, tetapi setidaknya membuatku merasa sedikit lebih baik:

Renang dan album American Beauty/American Psycho dari Fall Out Boy.

Sejak tiga atau empat tahun lalu aku menemukan sebuah metode penyembuhan untuk gejolak emosi yang menurutku lumayan mujarab: renang. Teorinya, kalau kamu marah atau sedih, biasanya dada akan terasa sesak, bukan? Parahnya adalah ketika dadamu sesak, kamu nggak bisa menyalurkannya dalam wujud lain, misalnya menangis. Nah, dengan renang, yang notabene bikin kamu sesak apalagi kalau menahan nafas begitu lama, maka sesak kamu terbalaskan. Toh, lebih baik sesak karena renang, dari pada sesak karena emosi.

Dan kemarin, aku sukses berenang 15 kali bolak-balik dengan mengambil nafas setelah tiga kali dayung, padahal biasanya aku cuma bisa dua kali. Setelah ngos-ngosan, rasanya aku senang sekali. Semua emosi di dada ini seolah sudah terlampiaskan dengan baik. Yah, walaupun begitu kembali ke kosan, sepercik emosinya kembali lagi. Pengaruh setan.

Hari ini, aku mendengarkan seluruh lagu dari album American Beauty/American Psycho-nya Fall Out Boy. Iya, katakan saja aku telat baru dengar album itu sekarang. Dan album ini sukses untuk membuatku suka pada pendengaran pertama, juga sedikit meredam emosi-emosi dalam diriku. Aku langsung merasa lebih baik setelah mendengar Irresistible, American Beauty/American Psycho, Uma Thurman, dan Immortal yang langsung masuk dalam daftar lagu-yang-akan-kudengarkan-seribu-kali-sehari.

Penyembuhan dan pemulihan dari perasaan sakit sebenarnya adalah tentang proses. Orang bilang, time heals everything. Sekarang kamu marah, nanti pasti udah baik-baik aja. Sekarang kamu sedih, nanti juga bisa ketawa ngakak lagi. Tinggal gimana menemukan cara yang tepat untuk kembali ke “masa-masa sehat” itu. Ya kan? Iya, dong!

Saya Oke Kamu Oke

Pernah nggak, kamu melakukan sesuatu yang nggak berguna, tapi terus-menerus kamu lakukan sampai kamu merasa begitu konyol? Misalnya, menanti ayam jantan bertelur, menghitung jumlah bulu kucing persia, atau menyambung ekor beruang. Yah, walaupun aku nggak yakin ada orang tolol yang mau menyambung ekor beruang.

Aku baru saja melakukannya, atau kuharap aku baru saja selesai melakukannya. Tahu apa yang lebih konyol? Aku melakukannya dua kali. Catat itu, D U A K A L I. Kurang bodoh apa.

Bodoh, ya? Iya, sih. Yaudah gitu doang. Judulnya nggak nyambung.