Month: April 2015

sumber google

sumber google

Aku punya sebuah mimpi yang agak konyol tapi selalu kuharapkan jadi kenyataan: mewawancarai orang ini, lalu memeluknya.

Jangan tanya kenapa aku pingin memeluk orang ini, karena aku juga nggak tau. Pingin aja.

Sengaja ini ditulis di sini karena katanya, kalau kamu punya mimpi sekonyol apapun, ya dituliskan sebelum kamu lupa karena pengaruh mecin atau kejedot pintu.

HEHE.

Advertisements

Sekarang, aku sedang mendengarkan berita tentang eksekusi mati terhadap sembilan terpidana kasus narkoba yang akan segera dilaksanakan.

Bagaimana ya, rasanya ketika kamu tahu bahwa inilah detik-detik terakhir hidupmu?

Kamu tahu, inilah hirupan-hembusan udara yang terakhir kali kamu lakukan. Nanti kamu takkan bisa menghirup udara seperti ini lagi.

Kamu tahu, inilah detik-detik terakhir jantungmu berdetak, karena sesaat lagi regu tembak akan menembusnya dengan peluru.

Kamu tahu, esok kamu takkan melihat matahari terbit atau terbenam, begitu juga lusa dan seterusnya.

Kamu tahu, kamu tak lagi bisa melihat orang-orang yang kamu cintai, seperti mereka yang juga takkan bisa.

Bagaimana rasanya ketika kamu tahu hidupmu akan berakhir sebentar lagi?

Ini pertanyaan bodoh, tetapi aku sungguh-sungguh ingin tahu.

Mati ternyata memang sebegitu mengerikan.

Kamar yang Selalu Berantakan

Ada seorang perempuan yang kamarnya selalu berantakan. Kamar berukuran 2×3 meter itu hanya berisi barang-barang seperti kamar pada umumnya. Sebuah kasur berukuran single dengan seprei biru tua di satu pojok, serta sebuah lemari dan meja belajar di pojok lainnya. Di dinding, ada beberapa foto yang dijepit pada tali sepatu bekas. Beberapa wajah terpotret di sana. Wajah perempuan itu, wajah orang tuanya, wajah saudara-saudaranya, wajah teman-temannya.

Terlihat rapi dan tidak istimewa? Aku belum menceritakan sisi lantainya.

Lantai kamar itu dipenuhi pakaian. Entah pakaian kotor atau pakaian bersih yang sudah diseterika atau pakaian yang baru diangkat dari jemuran. Tidak jelas. Semuanya bercampur padu dalam satu lantai, bercampur dengan koran, majalah, serta buku-buku yang dikuras dari raknya. Kabel-kabel tak mau kalah. Mereka bertautan di lantai menambah semarak. Kabel televisi, kabel kipas angin, kabel charger, semuanya duduk bersama saling melilit. Belum lagi kertas-kertas usang atau gumpalan tisu bekas serta helaian rambut rontok. Ubin kamar bahkan tak dapat terlihat lagi.

Ketika kecil, ia sering didongengi tentang berbagai binatang yang hidup pada kamar yang berantakan. Bisa semut, bisa cicak, bisa kecoa. Malah katanya bisa ada monster yang membunuh, membuatnya tenggelam dalam tumpukan pakaian kotor, atau digigit dan dicabik-cabik ketika ia tidur dalam kegelapan. Memangnya aku bocah? Pikirnya setiap orang-orang mengingatkan atau bergunjing tentang kamarnya. Ia sudah hidup dalam kamar bercat abu-abu itu selama puluhan tahun dan ia masih hidup, bernafas, atau berkedip seperti orang lain.

Kamar itu berantakan bukan tanpa alasan. Tumpukan pakaian bisa diajak berbicara. Kabel yang melintang-pukang mau mendengar keluh kesahnya. Gulungan tisu menghapus air matanya. Kamar yang rapi berarti kosong. Dan kosong berarti sepi. Dan sepi adalah bagian dari kehilangan.

Dia tidak suka sepi. Dia tidak suka pada perasaan saat semua orang dapat berbicara sementara ia tidak. Dia tidak suka jika orang menolak ajakannya untuk melancong ke sana ke mari. Dia tidak suka pada perasaan saat sendiri di kamar dan tidak punya sesuatu untuk diajak berbicara. Tidak semua orang bisa diajak berbicara setiap saat, tetapi semua hal di lantainya bisa. Semua sosok di lantainya adalah sosok yang ribuan kali lipat jauh lebih baik dari pada manusia. Mereka tidak menghakimi. Mereka mendengarkan. Mereka mencintai. Mereka memberi kehangatan.

Ada seorang perempuan yang kamarnya selalu berantakan. Berantakan tidak membuat ia mati. Tapi kesepian sudah pasti membunuhnya.

© otakeyong 2015

On Period

Masalah klasik dan tidak pernah bisa dimengerti oleh makhluk lain selain perempuan adalah masalah hormonal alias pre-menstrual syndrome atau PMS. Sindrom ini punya banyak gejala walaupun yang paling dikenal adalah “sesi” marah-marah alias mood swing.

Aku baru sadar, ketika aku mengalami masalah hormonal itu, aku jadi orang yang sangat sinis (walaupun biasanya juga sinikal). Aku memang nggak marah-marah ke orang, tapi aku justru jadi pembenci dan gampang illfeel sama orang.

Misalnya saja, ada seorang temanku yang memang cara ngomongnya datar dan heartless. Pada masa biasa, aku juga biasa-biasa aja menghadapinya karena memang tahu dia seperti itu. Tapi, kalau sedang bermasalah dengan hormon, aku jadi berpikir “kenapa sih orang ini. Sok cool banget. Situ kira situ keren kalo ngomong sok-sok datar kaya gitu?” dan beragam pikiran negatif lainnya.

Ada temanku yang memang suaranya cempreng lagi stereo kaya anak kecil, tapi kalau sedang bermasalah dengan hormon aku jadi benar-benar muak dengan suaranya sampai rasanya ingin menyumpal dengan kenop pintu. Oke, aku mulai berlebihan.

Masalah hormonal ini memang selalu jadi tameng buat para perempuan untuk marah-marah tanpa merasa bersalah. Karena nanti yang akan disalahkan hormon yang sedang terganggu serta perubahan-perubahan kimia di otak.

Sebenarnya, yang harus dilakukan pada masa ini adalah do nothing. Benar-benar tidak melakukan apapun. Tidak membaca apapun. Tidak berbicara dengan siapapun. Tidak mendengar suara apapun. Tidak menulis apapun. Tidak membuka media sosial apapun. Jadi semacam hibernasi. Sayangnya, perempuan bukan beruang yang bisa tidur sepanjang musim dingin. Salah seorang perempuan yang kukenal dengan jangka waktu tidur terpanjang hanyalah dari jam 4 sore sampai jam 6 pagi, dan itu nggak sama dengan beruang yang bobo tiga bulan.

Yak, jadi karena perempuan bukan beruang atau tupai yang bisa hibernasi dan dihindari ketika sedang galak, maklumi saja. Anggap saja itu seperti Hufflepuff yang hanya disinggung sedikit lalu berlalu dalam cerita Harry Potter.

Hati Seluas GOR Jati

Aku selalu bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa tetap memaafkan dan memberi kesempatan ketika mereka telah dibuat marah dan kesal.

Katakan saja saat ini aku dan teman-temanku sedang mengalami ujian kesabaran. Dalam sebuah kerja kelompok, kami sekelompok dengan seseorang yang akan kusebut sebagai Tono. Nah, Tono inilah sang penguji kesabaran kami.

Ceritanya, tugas ini menuntut kami untuk mengerjakan liputan lapangan. Setelah menetapkan topik, dilakukanlah pembagian tugas. Aku, seorang teman (sebut saja Ani), dan Tono mendapatkan tugas liputan tentang Ujian Nasional SMA/SMK sederajat. Setelah berdiskusi lagi, ditetapkan aku dan Ani meliput UN A dan Tono meliput UN B. Sebut sajalah begitu.

Aku nggak perlu menceritakan bagaimana proses liputannya, tapi hasil liputan Tono ternyata membuat aku dan teman-teman kecewa. Hasil liputannya sulit untuk digabungkan dengan milikku dan Ani. Sulit pula untuk berdiri sendiri. Sebenarnya bukan cuma masalah hasil liputan ini. Ada beberapa masalah lain yang membuat aku dan beberapa teman sekelompok jadi kesal setengah mati. Apalagi si Tono ini terlihat ogah-ogahan dan nggak niat, serta seperti menyepelekan masalah liputan ini.

Kadung kesal, apalagi karena seharusnya hasil liputan Tono digabung dengan milikku dan Ani, aku bilang untuk tidak menyertakan hasil liputan Tono. Dari pada gara-gara orang setitik, rusak kelompok sebelanga. Kamu tahu apa yang membuatku takjub?

Dua temanku, sebut saja Lala dan Lili, yang kepalanya memang berisi pelangi dan sekumpulan awan merah jambu, masih bisa “memaafkan” dan memberi kesempatan pada Tono. Mereka mengusulkan untuk berbicara “dari hati ke hati” dengan Tono, memberinya satu kesempatan tugas liputan, dan jika dia masih bersikap sama, barulah Tono dicoret. Yak, ini sangat logis sesungguhnya. Dan hal-hal logis nggak akan bisa hinggap ke kepalamu kalau kamu sedang diliputi rasa kesal dan muak.

Aku bukannya ingin menghakimi diri sendiri sebagai seseorang yang berhati sempit atau pendendam. Yah, meski harus kuakui kalau aku sangat susah mengontrol emosi. Aku bisa mengeluarkan kalimat-kalimat super jahat kalau sedang marah. Kalimat-kalimat yang akan kusesali setelah amarahku mereda. Toh, bukannya aku tak bisa memaafkan. Aku bisa, tapi hanya dalam kondisi tertentu.

Sejujurnya aku takjub pada Lala dan Lili, bagaimana mereka bisa memiliki hati seluas GOR Jati. Mereka masih bisa memaafkan, masih mau memberikan kesempatan. Mereka masih bisa melihat satu sisi positif dari sesuatu yang keseluruhannya terlihat negatif.

Orang-orang seperti Lala dan Lili ini, jika bertemu orang yang tepat menurutku mereka akan sangat dihargai dan disegani. Tetapi jika bertemu orang yang salah lagi kurang ajar? Aku takut mereka diinjak-injak sampai gepeng.

Nah, bagaimana caranya merenovasi hati supaya begitu lapang? Nanti, aku tanya Lala dan Lili dulu. Mungkin mereka akan menjawab dengan ketawa saja. Atau semoga dengan saran sebenarnya.

Listening to “Man On A Wire”

Aku nggak bisa berhenti mendengarkan lagu ini sejak beberapa minggu yang lalu. Sebenarnya, aku udah mendengarkan lagu ini sekitar dua atau tiga kali sebelum akhirnya jadi benar-benar suka. Sejak lihat video klipnya, aku jadi merasa harus mendengarkan lagu ini setidaknya tiga kali sehari. Buatku, lagu-lagu The Script bukanlah lagu yang bisa langsung disukai pada pendengaran pertama.

Lagu ini sebenarnya lagu galau. Bisa kita lihat dari beberapa potongan liriknya, misalnya, “Who’d have thought I’d see you with someone else? Who’d have thought that I’d be in such a mess?” Tapi entah kenapa, aku malah senyum-senyum dengar lagu ini. Musiknya serasa ingin membuat aku senang, walaupun liriknya sedih. Lagu ini terus terngiang-ngiang di kepalaku, makanya aku jadi suka.

Dulu waktu SMA, aku baca liputan konser The Script di majalah Gadis. Aku mikir, “Pengen deh jadi jurnalis. Biar nanti bisa liputan konser The Script, trus ketemu mereka di backstage, trus meluk Danny,” Alay ya? Iya dong.

Tulisan ini emang nggak jelas banget. Aku juga nggak ngerti kenapa aku menulis tentang sebuah lagu yang sedang aku suka. Ini nggak penting banget. Yah, emang postingan blog-ku banyak yang nggak penting sih. HAHA!