Month: March 2015

Takut.

Takut.

Takut.

Takut kalau jam berdetak. Takut kalau waktu berganti. Takut ketika matahari terbenam lalu terbit lagi. Takut ketika mengingat tanggal, bulan, dan tahun.

Takut.

Takut.

Takut.

Aku ketakutan pada waktu.

Menghargai Janji

Ada sebuah nasihat yang mengatakan, kamu bisa mengukur bagaimana orang lain menghargai kamu dari cara dia memperlakukan kamu. Contohnya begini, kamu membuat janji dengan seseorang, sebut saja A, untuk pergi ke taman hiburan di akhir tahun. Kalian sudah mempersiapkan semuanya sejak lama. Kalian menabung bersama, membicarakan tentang rencana itu nyaris setiap hari. Menghitung berapa kira-kira biaya yang akan dikeluarkan. Kalian berdua begitu bersemangat hingga sehari sebelum keberangkatan. Ternyata, di hari yang telah disepakati, A menghilang tanpa kabar. Kamu sudah menunggu dia berjam-jam, berusaha menghubungi teleponnya, tetapi tidak dijawab. Besoknya A muncul di depan matamu dan tertawa seperti biasa. Tidak merasa bersalah. Tidak juga meminta maaf karena membiarkanmu menunggu sendirian. Apakah masih bisa dikatakan kalau kamu memiliki “harga” di mata A?

Memang, kamu tidak bisa serta-merta menghakimi A tidak lagi menghargaimu karena dengan seenaknya membatalkan janji. Mungkin A lupa, meski seharusnya kemungkinan ini kecil—ingat, kalian masih membicarakannya dengan sangat bersemangat sehari sebelum keberangkatan.

Mungkin tiba-tiba A punya urusan mendadak, teleponnya mati dan ia kesulitan untuk mengabari—meski tetap saja seharusnya ia menjelaskan situasi ketika bertemu esok harinya.

Mungkin A tiba-tiba diajak pergi oleh orang lain (yang membuat janjinya dengan kamu tak lagi ada artinya) dan dia nggak enak untuk ngomong ke kamu karena…. karena apa?

Sebenarnya urusan membatalkan janji tidak menjadi hal besar ketika kamu memberi penjelasan mengapa janji itu batal. Katakanlah, A “diseret” oleh temannya yang lain, misalnya B, untuk menemaninya berbelanja bulu mata palsu. Kadung diseret, A tidak bisa menolak. Bukankah lebih mudah jika A berinisiatif menghubungi kamu dan menjelaskan kalau ia terlanjur diseret oleh B? Mungkin kamu akan kesal dan kecewa, tetapi setidaknya A tidak membuat kamu menunggu seribu tahun demi kedatangannya.

Atau kasus lain misalnya A tiba-tiba kehabisan uang karena ia khilaf setelah melihat obral notes lucu. Uang yang seharusnya menjadi teriakan gembira di roller coaster seketika berubah menjadi tumpukan notes aneka ukuran dan warna. Lengkap dengan bolpoin yang bisa menyala. Sadar sudah terhipnotis kemilau notes, A menghubungimu dan mengatakan uangnya ludes. Kamu mungkin akan mengernyitkan dahi dan merutuki notes lucu yang menggoda. Namun, setidaknya kamu lega dan kalian bisa menyusun rencana kembali.

Bukankah melakukan hal sesederhana itu sangat gampang? Kamu tidak berbuat jahat dengan membiarkan orang lain menunggu ketidakpastian. Kamu tidak akan membuat mereka kesal dan menhujatmu di belakang. Kamu juga tidak akan dicap sebagai orang yang tidak bisa menghargai perasaan orang lain.

Percayalah, membuat orang lain menunggu atas kedatanganmu yang entah kapan itu benar-benar hal yang menjengkelkan juga merepotkan. Mungkin banyak hal lain yang lebih berguna yang bisa dilakukan kalau orang tidak perlu repot-repot menunggu konfirmasi kamu.

Mungkin kamu memosisikan diri, jika kamu yang ada dalam situasi menunggu tanpa kepastian seperti itu maka itu bukan masalah sama sekali. Namun, karakter setiap orang berbeda. Kamu tidak bisa menyamakan reaksi orang untuk sama denganmu hanya karena kalian suka musik yang sama. Kamu tidak bisa memperkirakan perasaan orang hanya karena kalian berasal dari pulau yang sama. Manusia itu begitu kompleks, begitu rumit. Cobalah mempermudah semuanya dengan hal sederhana: konfirmasi.

Jangan sekali-sekali berbohong untuk menyelamatkan kondisimu. Kalau lupa, bilang lupa. Kalau punya urusan yang lebih penting, katakan demikian. Jujur saja meski itu sakit, toh rasa sakit itu tidak akan sesakit menunggu orang yang tidak pernah bisa mengonfirmasi kehadirannya. Ingatlah ketika sekali kamu berbohong, maka itu akan membuka pintu-pintu kebohongan lainnya. Kemudian, siapa yang akan percaya pada pendusta? Orang mungkin masih mau berbicara dan tertawa bersamamu, tetapi untuk kembali percaya? Kurasa tidak.

Ayolah, kita tidak sedang ada dalam hubungan posesif yang mensyaratkan kehadiran satu sama lain tak peduli hujan badai. Orang pasti akan mau mengerti kalau kamu memberikan alasan yang logis lagi nyata. Hanya teman tolol yang tetap memaksamu untuk ikut ke taman bermain saat rumahmu sedang kebanjiran.

Pesanku, jangan menggampangkan urusan janji dengan orang lain. Janji adalah hutang. Kamu nggak akan tahu sampai kapan orang bertahan dengan sikapmu yang tidak bisa menghargai janji. Beri penjelasan. Beri kabar. Buktikan kalau temanmu itu memang berarti sebagai teman untukmu, bukan seonggok batu berdebu di pinggir jalan.

Your Call – Secondhand Serenade

Waiting for your call, I’m sick, call I’m angry
Call I’m desperate for your voice
Listening to the song we used to sing
In the car, do you remember
Butterfly, Early Summer
It’s playing on repeat, Just like when we would meet
Like when we would meet
I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight
Stripped and polished, I am new, I am fresh
I am feeling so ambitious, you and me, flesh to flesh
Cause every breath that you will take
When you are sitting next to me
Will bring life into my deepest hopes,
What’s your fantasy?
(What’s your, what’s your…)

Judge me or whatever. But I’m happy to hear your voice again like we used to be.

Tell your friend that I’m silly or whatever, I don’t care.

Thank you for tonight’s conversation. See you later.

Sincerely, your friend.