Month: February 2015

Drama, Praduga, Realita.

Malam ini aku mau cerita tentang salah satu temanku. Kita sebut saja namanya Ani. Nah, ceritanya Ani ini sedang suka sama seorang cowok, sebut saja namanya Bambang. Awalnya Ani bisa suka sama Bambang memang agak aneh, sih. Di mata Ani, awalnya Bambang tidak terlihat mempesona. Bambang terlihat seperti lelaki-lelaki kebanyakan, sama sekali tidak menonjol dan cemerlang di mata Ani.

Hingga suatu saat, Ani terpikat oleh wangi Bambang. Butuh waktu lama bagi Ani untuk menyadari bahwa Bambang memiliki aroma wangi yang enak, tidak memuakkan, tidak membuat hidung sakit, tidak membuat kepala pusing. Ani terpikat pada wangi itu. Ia bahkan pernah punya pikiran sinting untuk mencari tahu merk parfum apa yang digunakan Bambang, supaya ia bisa membeli parfum yang sama dan mencium wanginya setiap saat.

Lama kelamaan, entah bagaimana rasa kagum dan suka pada wangi itu berubah menjadi rasa suka beneran. Maksudku, Ani jadi benar-benar suka pada Bambang. Ia mengintip akun media sosial Bambang hampir setiap hari. Ia mengikuti perkembangan Bambang dari status-status yang diunggahnya. Hampir seluruh topik obrolannya berkisar pada Bambang dan apa yang sedang dia lakukan di belahan bumi mana.

Bambang sendiri, entah memang orang yang ramah kepada semua orang atau bagaimana, tetapi ia memperlakukan Ani dengan baik. Ia sering menyapa Ani. Ia juga sering mengajak Ani berbincang tentang ini-itu. Seperti ada sesuatu di mata Bambang ketika ia berbicara kepada Ani. Atau mungkin memang begitu cara Bambang berbicara dengan orang lain? Menatap langsung ke mata lawan bicaranya? Entahlah.

Ani pun jadi sering membuat cocokloginya sendiri tentang dia dan Bambang. Ia begitu senang ketika berhasil dipotret sedang berada di sebelah Bambang. Ia melonjak-lonjak ketika suatu hari Bambang memboncengnya. Ia girang karena ternyata Bambang mengingat namanya.

Di sisi lain, Ani mulai membuat dramanya sendiri. Ia sering berpikiran negatif tentang Bambang karena merasa perasaannya tak berbalas. Ia sering menduga, apakah waktu itu Bambang ikhlas memboncengnya? Jangan-jangan sebenarnya Bambang tidak mau. Ketika melihat dirinya dipotret di sebelah Bambang, Ani berpikir jangan-jangan Bambang tidak suka jika Ani ada di sebelahnya, dan Bambang lebih ingin dipotret di sebelah orang lain. Atau benarkah Bambang mengingat namanya? Jangan-jangan ia diingatkan oleh seseorang.

Perasaan Ani yang tiba-tiba jadi dalam ini semakin kacau ketika Ani mengetahui—atau merasa—bahwa Bambang sedang suka pada perempuan lain. Karena aku tidak tahu namanya, kita sebut saja perempuan itu sebagai Dian. Ani membuat analisis-analisisnya sendiri berdasarkan hasil pengamatan di media sosial. Beberapa analisis Ani antara lain:

“Liat deh, si Dian ini sering banget nge-love di Path-nya Bambang! Pasti ada apa-apanya, deh,”

“Si Bambang udah nge-seen fotonya Dian di Path, tapi nggak di-love. Padahal Dian cakep banget di foto itu. Jangan-jangan emang ga suka ya? Hehehe,”

“Nih, masa kalo aku yang komen, balesannya gini doang? Giliran Dian yang komen, balesannya kaya akrab gitu,”

“Ternyata rumahnya Dian dekat sama kampusnya Bambang. Wah, pasti mereka makin sering ketemu, trus kalo sering ketemu pasti makin akrab, trus…”

Padahal, kudengar Dian ini sudah punya pacar dan dia sepertinya sangat sayang sama pacarnya itu. Jadi, sebenarnya kekhawatiran Ani sama sekali tidak berdasar.

Kepadaku dan dua teman kami yang lain—sebut saja Tika dan Rini—ia selalu menceritakan hasil pengamatannya berikut analisis-analisis dan kecocoklogian yang dibuatnya sendiri. Terus begitu sementara ia sendiri tidak mempunyai perkembangan apa-apa dengan Bambang.

Sebagai teman, jujur saja aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Di awal, ketika Ani mulai berkutat dengan dramanya, aku, Tika, dan Rini masih bisa memberi reaksi semacam, “Nggak kok. Itu perasaan kamu doang,” Lama-lama, analisis Ani semakin pointless. Ia semakin asyik berkutat dengan praduga yang dibuatnya sendiri. Sampai-sampai, Tika berkata, “Ani, gimana kalo sebenernya semuanya itu berjalan dengan baik-baik saja tapi karena kamu terlalu memikirkan hal yang kurang baik kamu pun jadi beranggapan yg terjadi itu hal yg buruk?”

sumber: searchquote.com

sumber: searchquote.com

Menurutku kutipan seperti yang tertera di gambar di atas adalah omong kosong. Bagaimana tidak, kalau teman sejati itu adalah mereka yang tidak pernah bosan mendengarkan drama omong kosongmu, maka apakah wujud dari “teman sejati”-mu itu? Manusia atau tumpukan pakaian kotor? Kita bahkan sering mendengar orang bosan makan nasi, padahal itu adalah makanan pokok. Apalagi mendengar drama yang sama berulang-ulang. Bagaimana bisa tidak bosan?

Bukankah lebih baik jika kamu memiliki teman yang akan membawamu pada realita? Teman yang mengeluarkan kamu dari drama-drama yang kamu buat sendiri, supaya kamu tidak hidup dengan pikiran dan praduga tak beralasan.

Aku mengerti, aku sangat mengerti, ketika kita sedang menyukai seseorang, kita tentu bertanya-tanya bagaimana orang itu melihat kita. Seperti apa kita di matanya? Seperti apa kesan yang kita timbulkan padanya? Apakah dia sadar kalau kita sedang mengaguminya dari balik tembok? Namun, jika kita terlalu banyak bertanya-tanya dan menduga-duga, bukankah itu tidak baik?

Aku bukannya ingin menuntut Ani untuk berhenti menyukai Bambang. Tidak, itu hak Ani. Namun, aku hanya ingin Ani berhenti membuat analisis-analisis tak berdasar. Aku hanya ingin Ani berhenti menduga-duga secara berlebihan. Semoga Ani mengerti motifku menuliskan ceritanya di sini. Semoga Ani tidak marah padaku karena sudut pandangku. Semoga. Semoga.

Terinspirasi dari seorang teman dengan beberapa perubahan.

Advertisements

Pikiran Ngasal: Tentang Valentine (lagi)

sumber: instagram.com/8dict

sumber: instagram.com/8dict

Tiba-tiba di sore hari yang biasa aja ini aku kepikiran tentang asal-usul Valentine’s Day yang sebenarnya.

Seperti biasa setiap memasuki bulan Februari linimasa media sosialku dipenuhi hal-hal berbau Hari Kasih Sayang. Mulai dari yang pro seperti perusahaan dengan promo spesial valentine-nya, sampai yang kontra karena membawa masalah halal dan haram. Ini kusebut biasa karena memang terjadi setiap tahunnya, berkobar dimana-mana.

Ada yang bilang, asal mula Valentine’s Day adalah untuk memperingati kematian seseorang bernama Valentino atau Valentinus. Ada juga yang bilang kalau valentine adalah tradisi orang-orang yang memuja kenikmatan badaniyah. Berbagai dongeng dan legenda lainnya bisa dengan mudah kita temukan di mesin pencari Google jika mengetik kata kunci “Asal Mula Valentine’s Day”

Nah, kalau dibalik, bagaimana jika sebenarnya cerita-cerita itu nggak pernah ada? Bagaimana kalau ternyata Valentine’s Day adalah sebuah propaganda yang direncanakan oleh seorang pengusaha yang pintar membaca perilaku dan memanfaatkan momen?

Mungkin pengusaha ini, entah pengusaha cokelat atau bunga, punya sesuatu yang spesial dengan tanggal 14 Februari. Mungkin itu tanggal kelahirannya. Mungkin itu tanggal anniversary dengan istrinya. Entahlah, entah dari mana aku mendapat keyakinan kalau pengusaha ini adalah laki-laki. Atau yang paling mungkin, produk milik si pengusaha ini mulai diluncurkan pada 14 Februari bersamaan dengan propagandanya.

Pengusaha ini melihat bahwa jika seorang manusia menyayangi manusia lainnya, mereka akan memiliki kecenderungan untuk memberikan sesuatu pada orang itu. Cokelat mungkin dipilih karena enak dan memberikan kebahagiaan. Bunga ikut serta karena keindaan dan wanginya. Tukang kartu ikut serta dengan berbagai kata menggugah jiwa. Semua ini cuma strategi pemasaran yang jitu. Dengan membuat momen, mereka yakin produk akan laris manis. Uang datang melimpah ruah. Logis, tidak?

Di hampir semua supermarket dan minimarket, kalian pasti pernah melihat beberapa produsen cokelat ternama menjajakan produknya dengan begitu cantik. Ada yang dikemas dalam kaleng atau mika berbentuk hati. Ada yang isinya sama saja, tetapi ditambahi bungkusan luar berupa karton merah muda dengan kata-kata manis. Ada juga yang menjual sepasang cokelat yang diikat pita tulle merah muda. Manis sekali.

Sebuah produsen cokelat ternama bahkan menjual cokelat seberat 1kg. Cokelat yang punya tagline “tapi rela bagi-bagi” itu dikemas seperti kemasan “normal” dalam ukuran yang abnormal. Aku penasaran seperti apa isinya atau bagaimana cara memakannya. Tidak mungkin cokelat itu dimakan sendirian. Tidak mungkin! Tidak mungkin! Tapi aku ingin coba! Seseorang, belikan aku cokelat itu!!

***

Mungkin sebenarnya yang dipermasalahkan orang-orang bukanlah tentang momen Valentine’s Day-nya. Seks bebas, terutama di kalangan remaja, adalah hal yang menjadi puncak pikiran para orang tua di bulan Februari. Namun, toh seks bebas tidak hanya terjadi saat Valentine, bukan? Yah, orang-orang butuh momen. Mungkin Valentine’s Day ini dianggap momen yang tepat untuk mengingatkan anak-anak mereka tentang bahaya seks bebas. Mengingat beberapa hotel memberi diskon besar-besaran bagi yang pasangan menginap pada hari penuh cinta itu, atau tukang kondom yang dengan isengnya menyelipkan produk mereka di produk cokelat yang sangat mudah dibeli oleh siapa pun.

Maaf kalau ada orang lain yang mungkin sudah berpikir seperti ini lebih dulu. Ternyata aku butuh hidup 19 hingga 20 tahun terlebih dulu untuk menyadari propaganda ini. Sesungguhnya ini hanyalah pemikiran yang mendadak muncul ketika aku sedang menikmati dinginnya lantai kosan. Maafkan.

Ngobrol Sama Galih

Layar ponselku menunjukkan pukul 21.25, hari Senin. Di layar terlihat ada tiga pesan masuk, sepertinya sudah dari beberapa jam lalu. Ponselku ini memang sudah butut. Ia enggan berbunyi jika ada pesan masuk. Hanya kedip pada tombol home yang memberi tanda. Mana kutahu ada pesan singkat.

Ketiga pesan itu dari nomor yang tidak kukenal, ditulis dengan bahasa super singkat seperti yang biasa digunakan para remaja tanggung. Kutebak, ini pesan singkat dari salah seorang anak di Desa Pasirnagara, lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN)-ku yang baru kutinggalkan seminggu lalu.

Nada pesannya agak memaksa meminta untuk dibalas. Berhubung aku sendiri di kamar dan tidak punya teman berbincang, kuladeni saja.

“Iya deh, ini dibalas. Halo. Hai” aku memijit tombol ponsel. Ah, terlalu judes. Kutambahkan lambang senyum di akhir pesan.

Beberapa menit kemudian, ponselku berkedip. Anak ini membalas lumayan panjang. Mulai dari bertanya tentang kabar, kepunyaanku akan seorang pacar, hingga bertanya apakah aku sudah mengantuk atau belum. Aku hanya berminat membalas pertanyaan pertama dan balik bertanya kabar mereka. Anak ini bilang, mereka sedang takut menghadapi ujian. Baiklah, ini anak kelas enam. Entah mengapa, aku tidak menanyakan namanya. Biar aku sok akrab saja.

Aku tertidur beberapa menit dan anak ini membanjiriku dengan beragam pesan singkat. Salah satunya berbunyi, “Kak, kalau kuliah bisa pacaran gak?” Tuiiingg pertanyaan macam apa ini.

Akhirnya kubalas lagi dengan nasihat-nasihat semacam “Kalau nggak belajar, ya nggak bisa dong ngerjain soal ujiannya,”

Kamu tahu apa balasan anak ini?

“Belajarnya nggak semangat. Lebih semangat pacaran. Hehe…” (pesan ini telah diterjemahkan ke dalam tulisan normal)

Jdeeerrr!! Ingin rasanya kutoyor kepala anak ini. Masih bayi udah semangat pacaran!

Besoknya, dari seorang teman baru kutahu bahwa yang mengirimkan pesan ini adalah Galih. Ah, ya, aku ingat. Galih, anak kelas 6 yang suka cengengesan. Sering ketemu kalau dia mau ke mesjid bersama teman-temannya. Usianya kukira sekitar 12 tahun, mungkin hampir 13. Benar-benar bocah tanggung.

Sebenarnya aku ingin menasihati anak ini tentang “sekolah dulu yang bener, baru pacaran!” tapi berhubung aku tidak ingin terlihat seperti kakak-kakak tukang ceramah, aku melakukan pendekatan dengan bertanya apakah dia sudah punya pacar. (Ngomong-ngomong, semua pesan dari Galih yang kutulis di sini sudah kuterjemahkan tanpa menggeser makna sesenti pun)

“Ya udah dong kak. Kalau kakak udah punya pacar, belum?” balas Galih.

Pertanyaannya tidak kugubris. Aku kembali sok akrab dan bertanya, “Emang siapa nama pacarnya?”

“Risma, Warung Buah. Kalau kakak udah punya belum?”

Aku nggak berminat bertanya apakah Risma ini seumuran dengannya atau jangan-jangan lebih tua. Aku asumsikan saja Risma juga seorang anak kelas 6 SD. Sudah, jangan aneh-aneh. Ngomong-ngomong, Warung Buah itu cuma sekitar lima menit naik motor dari Pasirnagara.

“Waah, kalian masih SD kok udah pada bisa pacaran sih?” tanyaku mulai sok bijak.

“Yaa bisa lah. Kalau kakak siapa pacarnya?”

“Kalo nanti nggak lulus ujian gara-gara pacaran terus, gimana?” tanyaku lagi.

Galih tidak menjawab pertanyaanku. Anak ini justru keukeuh bertanya tentang pacarku. Kesal juga ditodong pertanyaan seperti ini ketika aku sudah tiada berpacar. Asal saja, kujawab nama pacarku Habib. Padahal itu nama adikku. HAHA!

“Kamu sejak kapan pacaran?” tanyaku lagi.

“Udah lama,” katanya.

“Kamu tau dari mana caranya pacaran?” Sebenarnya aku agak geli dengan pertanyaan yang kuajukan. Namun, aku ingin tahu referensi bocah ini. Jadi kutanyakan saja meski jawabannya bikin aku ingin membenturkan jidat ke jendela angkot.

“Tau dari KATA HATI… zhh” Sesungguhnya aku nggak ngerti makna dari “zhh” itu.

Kata hatinya siapa woy! Pikiranku penuh dengan nasihat-nasihat yang tidak sabar ingin dikeluarkan.

Aku langsung masuk ke hipotesis. Jadi, hipotesisku adalah referensi Galih dan teman-teman sepermainannya tentang pacaran adalah beragam sinetron yang tayang di televisi. Tidak usah kusebutkan judulnya, kalian pasti tahu sinetron apa yang sedang digandrungi bocah-bocah zaman sekarang.

“Kamu sering nonton sinetron ya?” tanyaku.

“Bukan sering lagi, tapi sering banget” balasnya. Lalu Galih bertanya apakah menurutku dia sudah besar atau belum.

“Belum lah. Kamu kan belum akil balig” jawabku 100% yakin. Seingatku anak ini belum berjakun.

“Tapi kalo pacaran udah boleh. Iya kan?”

“Belum boleh, dong. Seumur kamu tuh harusnya rajin belajar dulu. Pacaran nanti-nanti aja” aku mulai jadi kakak-kakak sok bijak lagi.

“Kan belajar tentang CINTA” jawabnya. Aku balik bertanya kenapa dia merasa butuh belajar tentang cinta-cintaan di usia belia.

“Karena manusia tanpa CINTA bagai taman tak berbunga. Hehe” jawabnya.

Sayang sekali aku bukanlah karakter komik yang bisa mengeluarkan tiga garis vertikal di kening. Sesungguhnya itu ekspresi yang kuinginkan ketika membaca balasan pesan dari Galih. Sisanya cuma obrolan-obrolan nggak penting tentang teman-teman KKN.

Awalnya, kukira terpaan sinetron nggak akan menjangkau anak-anak ini. Mereka sekolah sejak pagi, pulang pukul 1 siang, kemudian harus ke sekolah agama dan mengaji lagi di masjid selepas magrib. Kukira mereka nggak akan punya waktu untuk menonton acara-acara entah apa itu. Sayangnya, aku lupa kalau mereka bisa bolos ngaji. Aku lupa kalau hujan cukup deras, banyak dari mereka yang tidak ke masjid. Mungkin saat itulah mereka menonton sinetron-sinetron itu.

Orang tua mereka mungkin lelah setelah seharian bekerja, sehingga tidak bisa mengawasi apa yang anak-anak mereka saksikan di televisi. Mungkin juga mereka menonton sinetron itu bersama-sama tanpa pemaknaan. Tidak tahu lah.

Aku cuma berharap semoga sinetron-sinetron ini nggak mempengaruhi mereka lebih jauh. Obrolan dengan Galih membuatku cukup yakin bahwa sinetron menjadi medium yang sangat ampuh untuk mempengaruhi pola pikir bocah-bocah ini. Semoga mereka tidak dewasa sebelum waktunya. Semoga mereka selalu dalam lindungan-Nya. Amin.

Bukan Pencurah Hati

Akhir semester 4 lalu, aku dan tujuh temanku membuat acara kumpul-kumpul yang tujuannya cewek banget. Namanya “Girl’s Day”. Yah, acara ini sebenarnya cuma inap-menginap ala ikan pindang di kosan teman yang nyatanya jadi ajang mengobrol hingga adzan subuh berkumandang.

Obrolan di Girl’s Day waktu itu dimulai dengan permainan Truth or Truth dan seperti biasa, pertanyaan paling mainstream dari permainan ini adalah, “Siapa cowok yang kamu suka di kelas? Di angkatan? Di Fikom? Di Unpad?” lalu pelan-pelan obrolan merambat ke hal-hal yang bersifat pribadi.

Anak-anak ask(dot)fm mungkin mengenal obrolan semacam ini dengan D&I (Description and Impression) dimana teman-temanmu akan mendeskripsikan kekurangan dan kelebihan kamu di matanya, lalu memberikan kesan tentang hubungan pertemanan denganmu. Ini seru. Ini cewek banget. Yay! Akhirnya aku mengalami satu fase kehidupan yang cewek banget!

Kesan (atau pertanyaan?) menohok yang kudapat dari obrolan ini adalah, “Kamu kenapa nggak pernah curhat?” Tuiiingg! Aku seperti ditoyor tepat di jidat, lalu terjungkal. Memang, di depan teman-temanku aku (terlihat) selalu bergembira, bergoyang sesuka hati di tempat umum, menyanyi dengan suara sumbang tanpa malu, dan begitu mudah merespon humor dan komedi. Kontradiksi dengan itu, di dalam kamar kos dan media sosial aku cuma seonggok makhluk tukang galau yang kerjaannya nangis garuk-garuk tembok, menulis puluhan kalimat amburadul tentang perasaanku di blog, dan mendengarkan lagu dengan lirik menyayat yang aku banget. Sampai-sampai seorang temanku bilang, “Asa nggak pantes gitu kamu suka ngegalau. Padahal mukanya kaya yang strong gitu,”

Aku tertohok. Dalam. Banget.

Mungkin teman-temanku tersinggung. Selama ini aku main bareng mereka. Makan bareng mereka. Ngerjain tugas kelompok bareng mereka, tapi mereka nggak pernah aku kasih tahu kenapa aku suka galau di medsos.

Dulu, dulu sekali, aku suka curhat tentang apapun, ke siapapun. Lebih tepatnya bercerita. Aku bercerita pada temanku kalau aku mengalami ini, aku sedang suka sama si anu, atau aku didekati oleh abang itu. Namun, semakin dewasa, aku merasa hal-hal seperti ini, terutama curhatan tentang percintaan, adalah kegiatan yang nonsense. Bahkan sejak kuliah di jurnalistik, aku merasa sebelum curhat mungkin aku harus menganalisis apakah curhatanku mengandung setidaknya dua dari tiga belas nilai berita yang disebutkan oleh salah satu dosenku dalam diktat mata kuliah Wawancara.

Curhat memang tidak serumit itu. Orang bilang, curhat itu untuk meringankan beban, untuk meredakan sesuatu yang bergejolak dan meledak-ledak di dalam dada. Curhat memang bukan masalah penting atau tidak penting substansinya. Curhat adalah bentuk ekspresi manusia yang ingin didengar suara hatinya. Yang penting lega.

Tetap saja aku memilih untuk tidak curhat. Aku memilih teman-temanku tidak tahu kegalauan macam apa yang sedang aku rasakan, setidaknya mereka tidak perlu tahu dari mulutku sendiri. Kalaupun akhirnya aku menangis dan meraung di media sosial, toh itu bentuk ekspresi. Mereka tidak perlu tahu seperti apa raut wajahku dan aku juga tidak ingin mereka tahu. Aku tetap manusia yang ingin mengeluarkan unek-unek di dada dan media yang kupilih adalah media tulisan (dan gambar). Bukan lisan.

Bagiku, teman itu bukan tempat kamu berbagi kesedihan. Siapa di dunia ini yang suka bersedih? Apalagi dibagi kesedihan. Tidak ada. Si pemurung bahkan sebenarnya tidak suka dengan kesedihan yang direnunginya. Teman adalah tempat kamu mencari kebahagiaan ketika kamu sebenarnya sedang bersedih. Teman adalah tempat kamu tertawa terbahak-bahak ketika kamu ingin menangis sekeras-kerasnya. Teman bukanlah tempat berbagi susah dan senang. Teman adalah tempat bersenang-senang sampai mati.

Lantas, kenapa aku harus curhat dan menangis di depan teman-temanku kalau selamanya aku bisa tertawa dan berbahagia bersama mereka?