Month: January 2015

Jambi Dimana, ya?

Dialog #1

Q: Teteh asalnya dari mana?

A: Jambi. Hehehe…

Q: Ooohh Jambi…. Di Kalimantan, ya?

A: (hening)

Dialog #2

Q: Teteh asalnya dari mana?

A: Jambi. Hehehe…

Q: Berarti Batak, ya?

A: ((hening))

Dialog #3

Q: Teteh asalnya dari mana?

A: Jambi. Hehehe…

Q: Jauhan mana sama Bali?

A: (((hening)))

Dialog #4

Q: Teteh asalnya dari mana?

A: Jambi. Hehehe…

Q: Jambi? Sumatera?

A: Iya… (alhamdulillah akhirnya ada yang tau)

Q: Masih satu pulau sama Sumatera? Atau pisah pulau?

A: ((((hening banget))))

Demi apa kalian nggak tahu Jambi itu dimana? Serius? Serius banget banget???

Emang sih, Provinsi Jambi nggak seterkenal provinsi-provinsi lain yang ada di pulau Sumatera. Dimana-mana ada Rumah Makan Padang, tapi nggak ada Rumah Makan Jambi. Orang lebih mengenal Pempek Palembang bukannya Pempek Jambi. Kalau ditanya “Situ orang Sumatera?” pasti langsung diasosiasikan sebagai suku Batak atau Minang, padahal di Sumatera nggak hanya ada dua suku itu.

Jambi dimana, sih?

Provinsi Jambi terletak di tengah pulau Sumatera berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, dan Sumatera Selatan. Detailnya bisa kalian lihat di peta atau Google Maps.

Apa sih, yang terkenal dari Jambi?

Sesungguhnya, aku nggak bisa menceritakan apa yang terkenal dari Jambi selain panasnya yang naudzubillah. Itu ibukota Provinsi Jambi, sih sebenarnya. Kalau kalian tanya makanan khas, aku cuma bisa jawab tempoyak—hasil fermentasi durian yang dijadikan sambal. Sebenarnya ada banyak oleh-oleh yang bisa kalian bawa pulang dari Jambi, misalnya pempek dan kerupuk ikan atau kemplang. Sayangnya, penganan ini lebih dikenal sebagai produk dari Palembang bukannya Jambi.

Jambi memang nggak punya sesuatu yang menonjol, sih. Nggak kaya Sumatera Utara dengan Danau Toba-nya, atau Papua dengan Raja Ampat-nya. Ada Gunung Kerinci, tapi lebih sering dianggap sebagai bagian dari Sumatera Barat. Ada Candi Muara Takus, tapi kalah populer sama Borobudur atau Prambanan. Namun, rasanya lucu saja ketika masih ada orang yang bertanya Jambi itu sebelah mananya Indonesia. Waktu SD pasti ada pelajaran IPS dan harus menghafal nama-nama provinsi di Indonesia lengkap dengan ibukotanya, kan? Apakah di buku teks mereka Provinsi Jambi menghilang dari daftar pulau Sumatera?

Ketidaktahuan orang-orang ini juga yang membuatku malas repot-repot menjelaskan letak geografis yang tertera di Kartu Tanda Penduduk-ku. Aku bilang aku tinggal di Jambi dan mereka bertanya apakah Jambi panas, kujawab iya tapi tempat tinggalku dingin. Lalu mereka bingung. Aku malas menjelaskan kalau tempat tinggalku sesuai yang tertera di KTP itu letaknya 400km dari ibukota provinsi. Aku juga malas menjelaskan kenapa aku berbahasa Minang padahal aku tinggal di Jambi.

Intinya, mungkin Jambi harus lebih diekspos. Jambi harus menunjukkan eksistensinya biar orang tahu, Sumatera bukan cuma Danau Toba, Jam Gadang, atau Jembatan Ampera. Juga biar aku dan orang-orang lain nggak lagi menghadapi obrolan canggung kaya di atas. Oyeah!

Perpisahan Kedua

Umur nggak ada yang tahu. Semalam kita masih bersenang-senang berdua, siapa sangka paginya ketika aku terjaga kamu telah tiada? Kukira kamu hanya kehabisan daya, tetapi berjam-jam berlalu, kamu bergeming. Hari ini, 3 Januari 2015, setelah dua hari koma, kamu resmi tak bernyawa.

***

Bukan, yang meninggal bukan lelaki yang kuselundupkan ke kosan. Oh, ayolah, aku bahkan belum pernah mengajak anak lelaki ke kosanku. Aku anak perempuan baik-baik dan terhormat, oke? Jadi, aku sedang bicara tentang ponselku, LG E440 atau yang lebih dikenal dengan nama LG Optimus L4 II. Warna hitam, dengan baret di sana-sini. Kita sebut dia sebagai “Eljiku”.

Cerita berawal dari malam tahun baru. Sebenarnya, malam itu aku sudah merasakan keanehan dari Eljiku. Music player-nya kosong, nggak ada lagunya. Padahal beberapa jam sebelum itu aku masih mendengarkan musik dari sana. Ada keterangan yang muncul (pop up) tapi terlalu cepat dan sebelum aku sadar, dia sudah hilang. Entahlah, kalau tidak salah intinya sesuatu terjadi pada software-nya. Lewat tengah malam, aku tidur, begitu juga Eljiku.

Ketika aku bangun pagi harinya, seperti biasa hal pertama yang kulakukan setelah membuka mata dan bernafas adalah mencari Eljiku, mau lihat jam. Aku memencet tombol power berkali-kali, tetapi layarnya tetap gelap. Aku mengetukkan jari dua kali di layar, tidak ada yang terjadi. Kupikir, baterainya habis, jadi kusambungkan dia pada charger. Benar saja. Di layar, terlihat baterai Eljiku kosong dan dia memulai pengisian dari nol. Seperti mengisi bensin di SPBU saja.

Beberapa jam berlalu, kulihat baterainya tak kunjung penuh. Kukira ini hal biasa karena sejak Agustus lalu, baterai Eljiku memang sudah mulai soak dan terkadang tidak bisa diisi sampai 100%. Aku mencabut Eljiku dari charger-nya dan mulai menekan tombol power beberapa detik. Eljiku bergetar, lampu LED-nya menyala warna-warni. Aku meletakkan Eljiku di tempat tidur kemudian aku ke kamar mandi.

Sayangnya, logo LG hanya berputar-putar, berulang-ulang. Lampu LED masih menyala warna-warni, tetapi tak kunjung masuk ke menu. Aku mencoba memencet semua tombol, tidak terjadi apa-apa. Eljiku masih berputar-putar dengan welcoming logo-nya. Putus asa, aku mencabut baterai.

Lalu hari ini aku membawa Eljiku ke service centre di BEC. Mungkin ada masalah dengan software-nya, jadi kurasa cara menyelesaikannya adalah dengan meng-install ulang. Atau mungkin orang-orang di service centre punya solusi lain.

“Pernah jatuh?” tanya mas-mas tukang servisnya. Aku menggeleng. Yah, sebenarnya pernah, sih. Beberapa kali dia tergelincir dari tanganku yang kikuk. Tapi sumpah, belum pernah jatuh dari ketinggian dan nggak sampai sepuluh kali, kok!

“Kita coba install ulang dulu ya. Kalau bisa, nanti dikenakan biaya 55 ribu, tapi kalau nggak bisa, berarti ada kerusakan di mesinnya,” ujar mas-mas itu. Aku mengangguk-angguk saja.

Kemudian aku menunggu di service centre entah untuk berapa lama. Mungkin satu jam, entahlah. Waktu terasa berjalan lambat karena aku tak punya sesuatu untuk dibaca atau dimainkan, atau seseorang untuk diajak mengobrol.

Mas-mas itu kemudian memanggilku. Aku yakin, yakin sekali, Eljiku pasti bisa menyala lagi.

“Jadi, ternyata ini kerusakannya ada di mesin, mbak,” katanya.

“Oh…. jadi nggak bisa diapa-apain lagi, mas?”

“Bisa sih, tapi biaya perbaikannya sekitar 900 ribuan. Mau?” dia tersenyum penuh arti seolah sudah tahu jawabanku.

Aku mengambil kembali Eljiku, mengucapkan terima kasih, lalu berlalu. Aku tahu, ketika aku mengucapkan terima kasih tadi, suaraku bergetar. Rasanya, aku menahan tangis. Ada perasaan sedih yang menyusup ke dalam dadaku. Perasaan kehilangan, perasaan bersalah. Apa yang sudah kulakukan sampai dia mati begini?

Aku menelepon mama, kemudian menelepon adikku, Kacang, untuk memberitahu kabar kematian Eljiku. Kemudian, aku menangis. Air mata jatuh begitu saja. Sungguh, aku tidak tahu malu menangisi kematian sebuah telepon seluler di tengah keramaian.

“Kan udah adek bilang, jual aja hapenya sebelum rusak. Biar orang lain yang ngerasain rusaknya,” ujar Kacang sambil tertawa.

Aku terisak, menghapus air mata dengan ujung jilbab sebelum ada yang melihat.

“Loh, nangis beneran?” tanyanya lagi.

“Hiks… mbak sedih. Kontaknya hilang semua. Trus semua hasil screenshoot mbak di dunia ini juga udah hilang… hiks…” isakku. Kacang terbahak di ujung telepon.

Kalau orang melihat wujud Eljiku, mungkin orang tidak akan percaya kalau aku benar-benar sayang pada benda 3.8 inci ini. Bagaimana tidak, screen protector-nya sudah penuh goresan, begitu juga dengan back cover. Orang pasti yakin, aku memperlakukan benda itu dengan serampangan, bukannya dengan kasih sayang. Namun, sungguh, aku benar-benar menyayangi benda itu.

Adikku, yang mendapat beasiswa sekian-sekian juta per semester, sebenarnya pernah menawarkan untuk membelikanku ponsel baru, dengan syarat aku harus menjual ponsel lamaku. Aku nggak mau menjualnya, dengan alasan sayang.

“Ya udah sih, ntar kan juga terbiasa. Ganti aja wallpaper-nya sama gambar kucing itu, udah deh sama aja, kan,” kata Kacang waktu itu.

Ngomong-ngomong, wallpaper ponselku adalah lukisan seekor kucing berdasi kupu-kupu sedang memegang segelas martini. Lucu sekali.

Kalau waktu itu aku menerima tawaran adikku, mungkin sekarang aku tidak risau. Aku pasti sedang asyik menikmati ponsel baru yang lebih bagus dari Eljiku. Tapi, entah kenapa aku selalu berpikir bahwa setiap benda punya perasaan. Apa yang akan dirasakan Eljiku kalau kujual dia demi sepotong ponsel baru? Dia pasti sedih.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali aku mengucapkan selamat tinggal pada sebatang ponsel. Februari 2011, aku kehilangan Nokia 5310-ku. Warna hitam-biru, dengan wallpaper Justin Bieber. Iya, waktu SMA aku memang suka Justin, jadi jangan berisik. Dia hilang ketika kutinggal tidur di sore hari. Kupikir, dia hilang karena cemburu aku sudah punya ponsel baru, Nokia C6-00 yang akhirnya sekarang kugunakan lagi. Aku mencari ke sekeliling rumah, mulai dari kamar sampai dapur. Mulai dari tempat yang mungkin sampai yang tidak mungkin seperti di balik kulkas. Tapi dia lenyap tak berbekas. Aku nangis tiga hari.

Sebenarnya, yang kutangisi dari hilang dan matinya sebuah ponsel adalah kenangannya. Aku termasuk tipe orang yang menyimpan seluruh SMS. Bahkan, aku pernah menyimpan empat ribuan SMS di Nokia 5310-ku. Sebagian besar memang akhirnya aku hapus. Selebihnya, yang kusimpan adalah puluhan SMS ucapan selamat ulang tahun, selamat puasa, selamat lebaran, selamat Idul Adha, dan selamat tahun baru. Beberapa lainnya adalah SMS dari orang yang aku suka, zaman itu. Eeaaa.

Kelihatannya memang tidak penting. Tapi, buatku menyimpan kenangan-kenangan seperti itu adalah sesuatu yang manis. Apalagi, sejak kemunculan Facebook, orang sudah jarang mengirimkan ucapan selamat ulang tahun lewat SMS.

Begitu juga dengan Eljiku. Aku menyimpan ratusan SMS dari banyak orang, menyimpan ratusan screenshoot—mulai dari kutipan bijak hingga hal-hal konyol yang ditulis orang di media sosial. Kadang, semuanya kubaca lagi, lalu aku tertawa sendiri. Sesederhana itu.

Oh, mungkin kalian akan berkata, “Itu kan cuma sebuah ponsel. Kan masih bisa beli yang baru!” Percayalah kawanku, saudaraku, move on tidak segampang itu. Kehilangan itu sakit, bro! Sedih ketika aku mengangkat jasadnya, kemudian membaringkan dia di dalam lemari.

Yah, ambil saja hikmahnya. Mungkin, kalau nanti aku punya ponsel baru lagi, aku harus memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Aku sebaiknya tidak memendam perasaan sayang itu di dalam hati, tetapi harus ditunjukkan juga dengan perbuatan. Yah, begitulah.

Untuk Eljiku, terima kasih atas 1 tahun 3 bulan dan 21 hari yang kita lalui bersama. Terima kasih telah membantuku menghubungi narasumber, menghubungi teman-teman, menghubungi orang tua dan keluarga. Terima kasih telah berselancar bersamaku di gugel, mencari banyak hal mulai dari yang sangat tidak penting sampai yang penting. Terima kasih karena telah bersedia kugunakan untuk mengepoi banyak orang. Terima kasih untuk segalanya. Maafkan aku yang serampangan ini. Selamat istirahat. Selamat tidur panjang.

Sayonara. Arigato. Suki dayo.

Sayonara. Arigato. Suki dayo.

Tambahan

Sebenarnya aku benar-benar menangis ketika menghempaskan tubuhku ke kursi bus Damri. Soalnya, ubun-ubunku membentur pintu angkot. Keras sekali sampai selama beberapa detik, aku lupa sedang ada di mana dan mau ngapain. Aku linglung karena Eljiku wafat. Hatiku perih, tapi ubun-ubunku rasanya lebih perih lagi.