Month: December 2014

Pembisik-Pembisik

“Berhenti saja, kamu tidak akan bisa.”

“Apa gunanya? Kemungkinan besar kamu akan gagal.”

“Yakin, masa depanmu bisa secerah itu?”

“Banyak yang lebih kompeten. Kamu bukan salah satu darinya.”

“Selama ini kamu tidak pernah memenuhi target, kan?”

“Kamu tidak berbakat. Percayalah.”

Aku mengangkat kepala. Lagi-lagi banyak suara berisik berputar-putar di kepalaku. Layar laptop masih menyala dengan tampilan perangkat lunak pengolah kata. Aku baru menulis sepuluh huruf sejak dua jam lalu. Buntu. Suara pembisik ini terlalu mengganggu.

Aku tidak benar-benar tahu siapa yang berbisik. Entah setan atau sisi jahatku. Sisi jahat yang ingin menghancurkan diriku sendiri. Mungkin dia terpengaruh setan. Mungkin sisi jahatku adalah setan itu sendiri. Tapi suara ini terlalu berisik meminta didengarkan. Mau tidak mau aku menyimak. Suka tidak suka aku memikirkan. Jangan-jangan, pembisik ini benar?

Tidak. Pembisik ini bahkan tidak punya wujud yang jelas. Dia tidak mungkin benar. Dia tidak mungkin mengetahui kebenaran. Dia tidak mungkin mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Aku menghela napas, kemudian membaringkan tubuhku di lantai dingin. Mengapa kepalaku penuh pembisik? Aku kurang kuat? Mereka terlalu kuat?

Sampai mati aku hanya bisa bertanya. Pembisik akan tetap ada. Tinggal aku yang harus menguatkan diri dengan beragam senjata.

Mungkin pembisik tidak benar-benar ada. Semuanya hanya aku. Hanya aku yang terlalu banyak berpikir tentang masa depan. Hanya aku yang terlalu banyak mengkhawatirkan berbagai hal. Hanya aku yang ketakutan pada apa yang belum tentu terjadi.

Harusnya aku jadi anak yang lebih berani. Biar pembisik pergi. Biar tujuan tercapai. Biar hati lega.

Semoga.

© otakeyong 2014

Siapa Aku?

Sering nggak sih, kalian bercermin atau melihat foto diri sendiri, mengamati setiap inci permukaan wajah kalian—mulai dari anak rambut, jidat yang lebar dengan dua tahi lalat, alis, bulu mata, mata dengan pupilnya yang selalu berakomodasi, kantung mata yang menghitam, hidung dengan satu jerawat di atasnya, lalu pipi, bibir, dan dagu—kemudian sebuah pemikiran muncul: siapa orang ini?

Bahasa lainnya: aku sering merasa asing dengan pantulan dan citra diriku sendiri yang terekam. Selain ketika bercermin, pemikiran itu sering muncul saat aku melihat-lihat fotoku zaman SMA dulu. Siapa orang ini? Ini aku? Wujudku seperti ini?

Aneh? Banget. Aku nggak tahu apakah ini bagian dari mencari jati diri, atau masih wajarkah seseorang mencari jati diri setelah menjalani hidup hampir dua dekade. Yah, mungkin wajar. Setiap orang pasti belajar banyak hal dari kehidupannya. Mungkin hingga tua, ia masih mencari siapa dirinya yang sebenarnya. Mungkin.

Aku sangat sering memikirkan seperti apa orang lain memandangku. Seperti apa orang yang tidak kukenal menilaiku ketika bertemu. Seperti apa orang yang aku kenal tapi tidak akrab denganku memandangku. Seperti apa kesan yang aku tinggalkan pada orang-orang yang akrab denganku.

Aku selalu memikirkan apakah orang masih akan mengingatku ketika nanti aku sudah mati. Apakah ketika nanti mereka makan bersama, lalu melihat kuning telur dan kulit ayam, kemudian mereka teringat aku selalu menghibahkan dua makanan itu pada orang lain? Apakah ketika nanti mereka berjalan melewati suatu tempat, mereka ingat aku pernah terjatuh dan terkilir di sana? Apakah mereka mengingatku sebagai orang yang menyenangkan atau justru menyusahkan? Apakah mereka akan lebih banyak mengingat hal baik tentang diriku atau justru yang buruk?

Siapa aku di dunia ini? Siapa aku bagimu? Tidak tahu.

***

Ini dimana? Rasanya aku kenal mereka, tapi kok aku tidak bisa bicara, ya?

Perasaan seperti ini selalu hadir saat aku ada di tengah keramaian. Saat aku menghadiri sebuah perkumpulan. Saat semua orang berbicara dan tertawa riuh rendah, suara-suara itu hanya berdengung di telingaku. Sementara aku merasa sunyi, tak bisa mendengar apapun. Aku berusaha menyimak, mencari tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi terlalu banyak suara. Lalu aku diam, menyimak keheningan yang tercipta dari suara berisik.

Sebenarnya aku tidak sediam itu. Aku berisik. Hanya jika aku bersama jenis-ku. Hanya jika aku berada dalam kelompok sosial-ku. Aku berbeda dengan mereka. Aku tak bisa membaur. Jangan memaksa, aku tak suka. Mereka bilang mereka suka bercanda, tapi menurut mereka candaku tak lucu. Aku berusaha mendengar guyonan mereka, cuih. Kering. Dimana lucunya? Rupanya bahasa canda kita berbeda. Jangan memaksa. Memangnya kamu siapa? Aku siapa?

***

Kembali lagi ke awal, kenapa ya orang bisa merasa asing dengan dirinya sendiri? Konsep diri, katanya. Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Jadi, ketika aku berusaha mengonsepkan diriku sebagai orang yang ingin akrab denganmu, lalu beramah-tamah, tersenyum dan cengengesan, berusaha mencari topik obrolan dari yang tidak penting hingga begitu krusial, kemudian makin merasa this-is-not-so-me, apakah itu juga masih kesalahan konsep diri?

Ah, jangan-jangan aku punya gangguan jiwa. Mengerikan.

Pertanyaan tentang manusia memang selalu mengusik pikiranku, selalu menarik untuk dicari tahu jawabannya, dan sialnya manusia yang kupertanyakan adalah diriku sendiri. Mungkin aku harus lebih hidup untuk bisa menjawab. Mungkin aku harus berkelana, berkeliling dunia bertemu seribu manusia supaya aku mengerti. Mungkin aku harus lebih banyak memakan asam-garam agar paham.

Untuk sekarang, seseorang tolong bantu aku untuk menjawab pertanyaan ini. Siapa aku?

stephen king

They are the things you get ashamed of because words diminish your feelings.

Untuk membuat deskripsi visual saja orang kesulitan menemukan kata yang tepat, apalagi membuat deskripsi tentang yang tak terlihat? Kedengarannya mudah untuk menyampaikan apa yang kamu rasakan, tapi mereka terlalu banyak, berloncatan di kepalamu. Akhirnya kamu kehabisan kata-kata, tidak bisa berbicara. Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan adalah menjelaskannya dengan implisit dalam bentuk lain. Dengan harapan, semoga dia mengerti.