Month: November 2014

Pertanyaan tentang Bunuh Diri

Di kelas Hukum Pers kemarin, dosen menayangkan sebuah video tentang pemberitaan orang yang bunuh diri. Dalam video itu, terlihat jelas si pelaku bunuh diri, seorang siswa SMP berinisial M, memanjat tower pemancar sinyal telepon seluler. Begitu sampai di puncak, tanpa ragu M langsung melompat. Proses itu terpampang nyata dalam video. Bagaimana si M mengambang di udara, berputar sedikit, hingga akhirnya jatuh ke tanah. Seisi kelas serentak menutup mata dan menahan napas. Ngeri.

Sekarang aku bukan mau membahas tentang boleh tidaknya video semacam itu ditanyangkan di televisi, dikaitkan dengan P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) dan Kode Etik Jurnalistik. Bukan. Aku justru mau membahas tentang mati dengan cara bunuh diri.

Awalnya dari pertanyaan seorang teman saat makan-makan tadi sore. Dia bilang begini, “Aku mau nanya nih. Tapi maaf ya, kalo pertanyaannya bodoh. Gini, kalo orang bunuh diri itu, pas nyampe tanah nyawanya langsung dicabut?” Jawabannya, ya iyalah.

Dari dulu aku suka baca cerita Detective Conan. Banyak cerita tentang bunuh diri di sana, seperti dengan gantung diri atau minum racun. Yang aku pikirkan adalah, apakah itu takdir?

Bukankah katanya ketika kita dalam kandungan, sudah dibisikkan tentang kapan kita mati? Lalu apakah mati bunuh diri itu juga termasuk dalam apa yang dibisikkan?

Toh nyatanya perbuatan bunuh diri dibenci Tuhan. Mendahului takdir, kata orang. Apa itu artinya Tuhan tidak mungkin mentakdirkan seseorang untuk mati bunuh diri? Lalu kenapa Dia tidak membiarkan orang itu hidup saja kalau memang belum waktunya dia mati?

Hukum alam, ya? Kelihatannya begitu.

Kalau jatuh dari tempat tinggi, kemungkinan semua tulang-tulangmu patah, lalu kamu mati.

Kalau menjerat leher sendiri dengan tali, kemungkinan kamu susah bernafas, lalu kamu mati.

Kalau memotong urat nadi, kemungkinan kamu kehabisan darah, lalu kamu mati.

Kalau kamu minum racun, racunnya berefek pada ini dan itu dalam tubuhmu, lalu kamu mati.

Kalau kamu membelah perutmu, menarik ususnya keluar, atau membelah dadamu, lalu mencabut jantung sendiri, sudah pasti kamu mati.

Mungkin inilah mengapa Tuhan benci perbuatan bunuh diri. Kamu tahu konsekuensi itu. Kamu tahu hukum alam berlaku seperti itu dan tidak bisa kamu lawan, tapi kamu nekat meneruskan.

Mungkin juga Tuhan benci karena bunuh diri adalah bukti bahwa kamu tak lagi percaya pada-Nya. Kamu terlalu egois, terlalu manja dan meminta semua inginmu dipenuhi. Tapi Tuhan berkata “tidak”, atau mungkin malah “belum”. Tapi kamu tidak sabaran, ingin semuanya langsung berjalan sesuai maumu. Jadilah Tuhan disalahkan. Dibilang tidak sayang, dibilang jahat. Orang saja kalau tidak dipercayai rasanya kesal setengah mati. Apalagi Tuhan.

Berarti tidak mungkin ya, mati bunuh diri adalah bagian dari takdir. Tuhan Mahabaik, tidak mungkin kan ia menakdirkan umatnya mati dengan cara yang ia benci?

Jadi kenapa ada orang yang nekat bunuh diri? Tidak tahu.

Aku selalu memikirkan tentang apa yang ada di pikiran orang yang memutuskan ingin bunuh diri. Aku selalu memikirkan apa yang mereka rasakan saat nyawa tercabut paksa dari raga. Apa yang dipikirkan M saat ia melayang, sebelum menyentuh tanah? Kalau kata temanku, mungkin yang dipikirkannya adalah “ini harus langsung mati,” Lalu, saat nyawa di ujung badan, apakah M masih sempat berpikir tentang penyesalan, atau justru lega akhirnya mati juga?

Tidak tahu.

Yah, sudahlah. Ini adalah pertanyaan yang jawabannya entah ada di mana. Temanku yang ikut pusing, mengakhiri diskusi dengan, “Intinya, itu ilmu Tuhan. Ilmu Tuhan terlalu tinggi dan kita nggak akan sanggup menjangkaunya,”

Advertisements

Kamar

Kamar ini sudah mau diisi ya? Baiklah, saya akan segera berkemas. Tenang saja. Saya akan segera pergi sebelum kamu usir

***

Dulu rasanya kamar ini begitu luas buat saya. Begitu hangat. Begitu nyaman. Saya suka ada di kamar ini. Kamu menyiapkannya dengan begitu baik untuk saya. Ungu, merah jambu, putih, biru—semuanya warna kesukaan saya. Ada ornamen gajah dan dandelion juga—dua makhluk hidup lain yang saya sukai selain kamu.

Di kamar ini semuanya serba nyaman. Kamu memberikan hidangan terbaik, selimut terhangat, dan kasur ternyaman untuk saya pakai sesukanya. Berlebihan? Ah, tidak juga. Saya tahu kamu selalu berusaha memberi yang terbaik untuk saya. Kadang, saya saja yang tidak tahu diri. He he.

Sepertinya saya terlalu nyaman sampai-sampai saya membuat kekacauan dimana-mana. Selimut robek, kamu tidak marah. Makanan tumpah menciprati lantai hingga dinding, kamu diam saja. Pakaian saya berceceran di lantai, kamu bilang tidak apa-apa. Hingga suatu hari saya menjebol dinding. Kamu masih bilang tidak apa, nanti bisa diperbaiki. Tapi saya tahu kamu sedih. Saya melihat kamu sedih. Dinding adalah bagian terbaik dari kamar ini. Lebih tepatnya, bagian terpenting. Seharusnya tidak boleh saya hancurkan.

Ah, maafkan. Ternyata saya memang hanya anak nakal yang tidak tahu diri. Kamu tidak menghukum saya. Kamu tidak memarahi saya. Saya jadi merasa bersalah. Saya ingin pergi, tapi kamu cegah.

Anak nakal seperti saya memang harus dihukum. Kalau kamu tidak mau, biar kamar ini saja yang melakukannya. Ia memberi pertanda, akan ada penghuni baru untuk kamar ini. Saya tidak lagi bisa bernyaman-nyaman. Cepat atau lambat saya akan segera terusir, walau saya tahu kamu tidak akan melakukannya secara langsung.

Mungkin nanti kamu akan melakukannya dengan mengganti warna dinding, atau menyingkirkan dandelion dan gajah.

Saya akan segera pergi tanpa kamu ketahui. Saya akan pergi diam-diam. Saya ini pengecut, maafkan. Tapi, kehangatan kamu saya bawa sedikit dalam koper kecil ini, untuk jaga-jaga kalau nanti saya masuk angin di luar sana. Terima kasih, ya.

Semoga dekorasi kamar ini akan lebih baik dari punya saya dulu.

Semoga penghuni baru itu bukan anak nakal.

Bermain Bersama Teman-Teman

Hore! Akhirnya bisa ke taman bermain bareng-bareng!

Ceritanya, Kamis, 31 Oktober lalu aku dan teman-teman, berdelapan, main ke Trans Studio. Woohoo! Setelah hampir 3 tahun tinggal di Jatinangor akhirnya bisa ke sini juga. *keliatan kerenya*

Sebenarnya ke TSM kemarin nggak murni main doang sih. Jadi di sana juga ada acara Indonesia Broadcasting Expo. Acara ini semacam pameran lembaga-lembaga penyiaran gitu. Bukan cuma dari TV, tapi juga ada dari radio. Untuk pamerannya ini biaya masuknya gratis. Yang bayar itu ikut seminarnya.

Di grup line angkatanku menyebarlah informasi tentang seminar ini. Dengan harga 100 ribu rupiah, kamu udah bisa dapat seminar bareng punggawa-punggawa penyiaran Indonesia. Salah satu yang jadi pembicaranya adalah Andy F. Noya. Kamu tahulah, siapa dia. Aku dan teman-teman tergiur bukan cuma karena pembicaranya doang, tapi dengan uang segitu kamu bisa dapat makan siang gratis dan yang paling penting: bisa main semua wahana sepuasnya! Ini menggiurkan banget dong. Kapan lagi bisa main di Trans Studio dengan harga 100 ribu!

Jadilah hari itu kami ke TSM setelah kuliah MPK yang dibatalkan dan mata kuliah Feature Televisi (feti) yang memang libur. Kami berangkat sekitar jam 10 dari Jatinangor. Nih, aku kasih tahu ya, dari Jatinangor ke TSM di Gatsu itu harus ganti angkot 3 kali: Jatinangor-Gede bage, lanjut Gede bage-Kiara condong, baru Kiara condong-TSM . Menghabiskan uang sekitar 9 ribu.

Pertamanya kami masuk lewat hotel. Di petunjuknya, lokasi seminar ada di Transcity Theater dan kami nggak tahu itu di sebelah mananya Trans Studio. Ternyata, kata satpam hotel, acaranya ada di convention hall lantai 3 mall. Oke, kami masuk mall sekalian mau shalat zuhur dulu.

Ternyata eh ternyata, miskomunikasi. Yang di convention hall itu pamerannya, sedangkan untuk seminar harus masuk ke Trans Studio dulu. Padahal udah ikut ngantri sekitar 30 menitan untuk registrasi tanpa tahu apa-apa. Aku nggak lihat-lihat pamerannya dulu karena mikir, “Nanti juga pasti masih bisa,”

Banyak hal riweuh yang terjadi sebelum akhirnya kami bisa masuk ke Trans Studio. Ada miskomunikasi (lagi) dengan abang-abang tiket. Kami yang emang nggak dapat kejelasan sistem cuma menjelaskan prosedur yang kami tahu, sementara si abang-abang keukeuh bilang, “Iya, seminarnya di dalam. Tapi kalo mau masuk harus beli tiket dulu 150 ribu,” Laaahh kami kan udah beli tiket, mas! Akhirnya dia minjam HT temannya untuk menghubungi orang yang di dalam. Barulah kami mendapat kepastian. Ternyata harus turun dua lantai lagi. Masuknya lewat pintu yang di bawah karena tiket kami ada di sana. Ya sudah, nurut saja dari pada 100 ribu hangus sia-sia.

Fyuh, akhirnya bisa masuk. Kami langsung mencari Transcity Theater setelah sebelumnya ditodong mbak-mbak untuk foto di depan pintu masuk. Sayang, biaya cetak fotonya mahal. Mending foto sendiri. Bawa DSLR ini.

Begitu masuk, ternyata seminar sesi I sudah hampir selesai. Kami cuma duduk sebentar karena tinggal sesi pertanyaan. Entah apa yang dibahas tadi. Pokoknya orang-orang bertanya tentang media dan penyiaran. Bingung. Bengong.

Tibalah saatnya makan siang. Semua peserta seminar keluar teater untuk mengambil makanan. Di luar, ternyata ada keramaian. Oho! Ternyata ada Andy F. Noya yang sedang jalan-jalan! Semua orang mau foto bareng, termasuk aku dan teman-teman. Bang Andy baik. Dia orang ramah.

Dari ki-ka: Mumut, Lukya, Siti, Andy Noya, Aku, Firda, Azul, Ai.

Dari ki-ka: Mumut, Lukya, Siti, Andy Noya, Aku, Firda, Azul, Ai.

Setelah makan, kami lanjut seminar sesi II. Sebenarnya udah nggak sabar mau main, tapi ayo seminar dulu! Seminar sesi II ini berisi tentang bagaimana sebuah program televisi bisa berguna secara langsung bagi masyarakat. Yah, kira-kira begitu lah. Di akhir seminar, Andy memanggil 30 orang ke atas panggung untuk diberikan “sesuatu”. Aku nggak mau kalah dong. Walaupun duduk di barisan atas yang agak jauh untuk menjangkau panggung, aku lari dengan semangat. Ternyata, peserta yang berdiri di panggung jadi hampir 50 orang. Ya sudah, semuanya dapat buku dari Andy. Aku dapat buku dengan sampul bergambar bunga favoritku: dandelion.

Ini dia saat yang ditunggu-tunggu: main! Kami berembuk menentukan mau main apa dulu. Tadinya mau langsung main roller coaster, tapi kata orang-orang, “save the best for the last!” Trus maunya main yang lain, tapi yang memacu adrenalin. Anak-anak pada bilang, “Jangan! Kita main yang cetek dulu. Pemanasan!” Jadilah, kami ke wahana Jelajah. Wahana perahu-perahuan yang akan berakhir dengan meluncur.

Wahana ini seru karena ternyata tempat peluncurannya lumayan tinggi. Dan kamu tahu, aku paling geli dengan sensasi jantung yang ikut meluncur di wahan-wahana semacam ini. Rasanya perutku turun, tapi aku senang. Aku duduk di baris ketiga, baris paling belakang. Biar nggak terlalu basah pas udah meluncur. Hehe.

Selanjutnya kami main, ummm apa ya namanya? Aku lupa. Pokoknya yang semacam Histeria di Dufan itu loh. Yang naik-turun berulang-ulang itu. Buatku, wahana ini nggak terlalu seram. Mungkin karena indoor dan aku duduk di barisan belakang yang notabene kakinya nggak menggantung bebas. Tapi tetap aja nafasku sesak tiap ditarik ke atas. Nggak tahu kenapa.

Selanjutnya kami masuk ke wahana Dunia Lain, wahana rumah hantu. Wahana ini nggak ada serem-seremnya karena kamu naik kereta, bukannya berjalan kaki! Obake House yang aku kunjungi waktu Festival Budaya di Sastra Jepang kemarin lebih seram karena, yah, kami jalan kaki. Tapi, Mumut yang udah ketakutan duluan (dan harus diseret supaya ikut masuk) malah merem sambil menundukkan kepala dan nyanyi Fikom Song. Aku baru tahu kalau takut masuk rumah hantu bisa menumbuhkan rasa cintamu pada fakultas. Satu-satunya hal yang bikin aku kaget adalah di akhir wahana, abang-abang penjaganya ngagetin dengan berteriak “Woooaaaaaa”, keras sekali. Aku sampai membentak abang-abang itu. Maafin aku, bang.

Anak-anak udah pergi entah kemana waktu aku dan Mumut menemukan tempat bagus buat berfoto. Tapi kamera dibawa Lukya, ya sudah kami foto-foto pakai hp dan tab. Tapi hasilnya jelek karena pencahayaan yang minim. Padahal latar belakangnya bagus.

Nih, fotonya kaya gini....

Nih, fotonya kaya gini…. Setelah akhirnya pake DSLR sih.

Ternyata mereka ke wahana Giant Swing, ayunan bundar yang berayun tinggi-tinggi sekali. Pas aku mau nyusul ikut naik, mereka sudah duduk di tempat masing-masing dengan manis. Semua tempat penuh. Yah, aku nggak jadi naik. Aku nggak mau naik wahana sendirian di sekitar orang-orang yang nggak aku kenal. Jadi aku cuma bisa menatap mereka dari kejauhan. Eh, nggak ding. Nggak jauh-jauh banget. Sebelum wahana dimulai, kami melihat ada dua bule, ganteng. Awalnya Mumut yang sadar, “eh, ada bule!”. “Apa itu yang main Mahabarata ya?” kata Mumut lagi. Dia mikir gitu karena di sekitar Giant Swing banyak orang berseragam hitam dengan tulisan Antv. Ya, mungkin. Bodo amat. Yang jelas dua mas-mas itu ganteng.

Nggak ada kapok-kapoknya sama permainan memacu adrenalin, mereka pindah ke wahana sebelah: Vertigo. Di wahana ini kamu akan naik sebuah kincir, lalu diputar-putar sampai puas. Aku dan Mumut nggak ikut lagi, ngeri. Firda dan Azul juga nggak ikut. Mual katanya. Dan ternyata memang benar. Menurut testimoni teman-temanku, wahana ini memang yang paling menyeramkan dari semuanya. “Harus percaya banget sama pengamannya!” kata Siti.

IMG_7651

Setelah diputar-putar, baru mereka capek teriak-teriak. Kami lalu masuk ke Broadcast Museum, cuma lihat-lihat. Lalu kami main ke Dunlop, mau main mobil-mobilan biar sedikit lebih rileks.

Aku dapat bagian bareng Azul. Berdasarkan hasil suit, aku yang nyetir. Cuma nyetir di rel sih, walaupun memang harus tetap mengendalikan setir dan rem. Ini wahana paling kocak karena pada dasarnya aku memang nggak bisa nyetir. Mobil terus menyerempet rel. Kadang aku udah membelokkan setir ketika belum seharusnya belok. Namanya juga amatir. Beberapa kali aku memutar setir sampai pol, ternyata nabrak. Setir berbalik sendiri, tapi nggak mau aku pegang. Kalau aku pegang, dia menampar tanganku. Mungkin setirnya sakit hati.

Kocaknya lagi, suatu ketika mobil benar-benar berhenti. Aku udah nginjek gas sampai penuh, tapi mobilnya nyangkut di belokan. Azul sok ide memaju-majukan badannya, mungkin bisa membantu. Aku ikut-ikutan. Mobil jalan lagi. Wow, ternyata wahana ini nggak terlalu anak-anak. Untung mobilnya dikendalikan rel. Kalau nggak, mungkin aku udah nyetir sampai Jatinangor. Dan menabrak apa saja.

Selanjutnya biasa, kami foto-foto layaknya anak perempuan. Pergi sana, foto. Pergi sini, foto. Duduk, foto. Berdiri, foto. Jongkok, foto. Melongo, foto. Pokoknya harus bikin dokumentasi sebanyak mungkin!

Akhirnya kami memutuskan untuk naik roller coaster. Lagipula sudah mulai malam. Wow, aku berdebar-debar. Ini pasti seru. Antreannya nggak terlalu panjang. Kami menunggu sekitar dua giliran.

before

before

Ketika sudah duduk di dalam kereta, sebenarnya aku ingin pipis. Tapi mana mungkin pipis sekarang, nanti saja! Mas-mas petugas memastikan pengaman sudah terkunci dengan baik. Dia menekan semua pengaman sampai berbunyi “klik” dan pengaman itu menghimpit kandung kemihku. Duh!

Aku duduk bareng Firda di wahana ini. Kami mencari pegangan yang tepat. Aku mencoba pegangan ke belakang, tapi pegal. Ya sudah, kuselipkan saja kedua tanganku ke pegangan depan. Ujung jilbab kuikat ke belakang supaya nggak terbang. Firda memegang pegangan depan dan belakang.

“Ini udah pada pernah naik wahana ini, belum?” Tanya mas-mas operator yang kompak dijawab, “Beluuumm!” Tahu begitu, mas-masnya rese. Dia ngobrol ngalor ngidul dulu. Pake bilang operator yang satunya baru kerja dua hari lah, nanya sebelum ke sana udah pamit sama orang rumah dulu lah. Bisa aja sih, bikin deg-degan!

Valentino Rossi muncul di layar. Ia berkata sesuatu dan aku nggak ngerti. Lalu dia menghitung mundur dari lima dalam bahasa Spanyol. Setidaknya bahasa yang dia gunakan terdengar sama seperti yang digunakan Dora The Explorer, sih. Pertama kali, kereta nggak jadi meluncur. Mas-mas rese cengar-cengir. Valentino Rossi muncul dan mulai menghitung lagi. Wussshhh! Kereta meluncur dan orang-orang berteriak. Aku memejamkan mata, refleks.

Aku cuma membuka mata ketika kereta sampai di puncak dan tertahan beberapa detik. Wow, ada bulan! Terang! Aku terpesona dan lupa sedang ada di roller coaster. Tiba-tiba kereta mundur lagi dengan kecepatan yang lebih lambat dibandingkan saat maju. Sayang wahana ini cuma 40 detik. Padahal aku mau lagi.

after

after

Sisa malam itu kami habiskan dengan menonton Superheroes 4D, masuk ke Science Center, dan naik kapal-kapalan di udara (lupa nama wahananya). Tentu saja foto-foto nggak boleh lupa.

Nggak usah foto ke studio kalo gini, mah...

Nggak usah foto ke studio kalo gini, mah…

Sebelum pulang, kami menyempatkan untuk foto ala sosialita. Sok-sokan mau kaya Sex and The City gitu. Oh, tugas kuliah seabrek nggak boleh menghalangi kita untuk mencari hiburan dan kesenangan!

IMG_7885

Eits, postingan ini bukan iklan kok. Ini cuma cerita. Yaah, memang menyenangkan bukan, pergi ke taman bermain sama teman-teman. Apalagi di tengah-tengah tugas yang sibuk minta diperhatikan (dan dikerjakan). Semua stress itu harus dilampiaskan dengan teriak-teriak dan tertawa sampai puas. Aih, mungkin lain kali harus ke taman bermain yang lebih besar dan lebih banyak permainannya! Kalo punya duit! Haha.

Aku mau meminjam sebuah lirik lagu untuk menutup cerita ini:

Oh, we’ll remember this night when we’re old and gray ’cause in the future these will be the good ol’ day” – The Script, Good Ol’ Days.