Month: October 2014

“Dari Paraffin dan Kawat…”

Aku ingin tahu. Apa yang bisa kamu buat dari paraffin dan kawat?

Katanya ada banyak jenis paraffin.

Ada yang padat tapi lembut, biasanya dipakai untuk membuat lilin.

Iya, lilin untuk perayaan ulang tahunmu, lilin untuk menerangi saat mati lampu, lilin untuk makan malam yang (katanya) romantis.

Ada juga yang cair. Katanya ini biasa dipakai di dunia medis.

Kamu pakai yang jenis apa? Kamu mau membuat lilin, ya?

Kawat. Kenapa kamu butuh kawat?

Dengar ini. Kawat juga jenisnya macam-macam.

Ada yang tebal, ada yang tipis.

Yang tebal biasanya susah dibengkokkan, sementara yang tipis sangat mudah dibentuk.

Kamu pakai jenis kawat yang mana?

Untuk apa sih, kawatnya?

Jangan bikin penasaran begitu. Ayo, kasih tahu!

Aku tidak punya cukup imajinasi untuk membayangkan akan jadi apa kedua benda ini jika digabungkan!

Apa yang bisa kamu buat dari paraffin dan kawat?

Sungguh, aku benar-benar ingin tahu.

Aline

Perempuan itu mengerjapkan matanya beberapa kali, mengumpulkan kesadaran. Ia merasa ponselnya bergetar. Seseorang sepertinya menelepon. Layar ponsel gelap. Ia mendekatkan benda itu ke telinga. “Halo, udah di kampus ya?”

Nama perempuan itu, Aline.

***

Aline menggigiti kukunya. Kuku itu saking seringnya digigit, bentuknya sudah keriting tidak karuan. Aline tak peduli. Ia hanya ingin perkuliahan ini segera berakhir lalu pulang ke rumahnya yang tenang dan jauh dari keramaian. Rumah yang membuatnya tidak merasa sepi dalam riuh seperti ini. Rumah yang membuatnya tidak dibebani rasa terkekang dan tersiksa seperti tempat yang bernama “kampus”.

Ia harus bertahan setidaknya satu tahun lagi. Demi membahagiakan ibu. Meski akhir-akhir ini ibu begitu sibuk dan jarang memperhatikannya, meski kelihatannya ibu akan lupa pada ulang tahunnya, ia tetap mencintai ibu.

***

“Selamat ulang tahun!” sorakan itu menggema di telinga Aline. Ia tersenyum bahagia. Teman-temannya ada di sini. Khaira, Dono, Cassie, dan yang paling penting: Bona. Bona begitu spesial baginya. Bona baik. Bona tampan. Bona perhatian. Bona menyayanginya.

Mereka harus menuliskan sesuatu untuk ulang tahunku, pikir Aline. Ia mengambil empat lembar kertas dan empat spidol warna-warni, lalu mulai menulis beberapa kata.

Selamat ulang tahun Aline! Jangan makan mulu, ntar gendut kaya babi! Hahaha! –Dono-
Happy birthday Aline sayang. Ayo semangat kuliah lagi. Tinggal dua tahun kok! Xoxo –Cassie-
Aliiineeeeeee! Selamat ulang tahun! Belajar masak, wajib! –Khaira-
Selamat ulang tahun, cantik. Semoga yang terbaik selalu menyertaimu. Love, -Bona-

Ia tersenyum membaca empat surat itu. Keempatnya ia tempel berjejer di dinding kamarnya bersama surat-surat sejak ulang tahun ketujuh belas. Aline mengambil confetti, menembakkannya ke udara dan tertawa riang. Hanya dirinya seorang. Ia juga mengambil kue dan dua buah lilin, masing-masing berangka 2 dan 0. Lilin menyala. Ia menutup matanya, membuat permohonan sebelum meniup lilin. Kemudian ia memotong kue dan memakannya lima suap.

***

“Anak itu aneh,”
“Ya, ia selalu sendirian. Suka bicara sendiri, tertawa sendiri. Tapi sebenarnya murung,”
“Murung?”
“Ya. Ia sekelas denganku. Kalau di kelas, ia duduk sendirian di pojokan. Selalu termenung atau terkadang mencoret-coret kertas. Tidak bergaul dan tidak bicara pada siapapun,”
“Kasihan….”
“Mau jadi temannya?”

Aline berjalan tergesa. Ia mendengar percakapan orang-orang itu. Mereka membicarakan dirinya. Ia sudah biasa dipandangi dengan tatapan kamu-anak-aneh. Ia sudah kebal dengan suara-suara berisik yang menyertai tiap langkahnya.
Kalau boleh memilih, sebenarnya dari dulu Aline tak ingin bersekolah. Setidaknya bukan di sekolah umum. Ia ingin di rumah saja, diajari oleh seorang guru pribadi—seperti yang sering dibacanya di novel-novel Enid Blyton. Namun ibunya berkata ia harus bersekolah. Supaya pintar. Supaya punya banyak teman.

Berada di sekolah saja sudah membuatnya tak betah, kini ia harus melanjutkan ke universitas. Lagi-lagi atas paksaan ibu. Supaya lebih pintar lagi. Supaya punya lebih banyak teman lagi.

Teman? Teman yang mana? Manusia-manusia yang berisik?

Aline tidak butuh mereka. Siapa yang sudi berteman dengan manusia-manusia itu? Mereka hanya makhluk yang suka menghakimi. Manusia-manusia itu hanya suka membicarakan kekurangan orang lain di belakangnya. Saling membenci tapi berkedok teman. Kalau itu yang dinamakan teman, Aline tak butuh.

Aline hanya butuh keempat temannya. Teman yang hanya ia seorang yang bisa merasakan kehadirannya. Teman tanpa wujud.

©otakeyong 2014