Month: September 2014

Terbawa Rasa

I’m so glad you made time to see me.

How’s life? Tell me how’s your family?

I haven’t seen them in a while.

You’ve been good, busier than ever,

We small talk, work and the weather,

Your guard is up and I know why.

Because the last time you saw me

Is still burned in the back of your mind.

You gave me roses and I left them there to die.

So this is me swallowing my pride,

Standing in front of you saying, “I’m sorry for that night,”

And I go back to December all the time.

It turns out freedom ain’t nothing but missing you.

Wishing I’d realized what I had when you were mine.

I’d go back to December, turn around and make it all right.

I go back to December all the time.

And then the cold came, the dark days when fear crept into my mind

You gave me all your love and all I gave you was “Goodbye”

I miss your tanned skin, your sweet smile,

So good to me, so right

And how you held me in your arms that September night

The first time you ever saw me cry.

Maybe this is wishful thinking,

Probably mindless dreaming,

But if we loved again, I swear I’d love you right.

I’d go back in time and change it but I can’t.

So if the chain is on your door I understand.

Taylor Swift – Back To December

***

“Aku akan ke kotamu lusa. Mau bertemu?”

Pesan itu sampai di telepon seluler seorang perempuan dua jam lalu. Namun ia belum membacanya. Ia masih berkutat di depan komputer. Merajut huruf, merangkai kata demi kata. Ia tenggelam dalam imajinasi untuk tulisannya.

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Perih juga harus menatap layar komputer empat jam tanpa henti. Ia merenggangkan tubuhnya, lalu meniupkan udara ke helaian rambut yang usil menggelitiki hidung. Ia mengambil jepit rambut lalu menjepit sebagian rambutnya ke belakang. Ia ingin istirahat sejenak.

Perempuan itu akan beranjak ke jendela ketika ia melihat teleponnya berkedip. Lampunya berwarna hijau, pertanda ada pesan singkat yang masuk. Ia terkesiap. Pesan dari lelaki itu.

Segera ia membuka agendanya. Mengecek apakah ia akan punya waktu dua hari lagi. Lepas isya. Ia baru luang setelah pukul tujuh malam. Semoga lelaki itu tak keberatan.

***

Mereka duduk berhadapan di sebuah kafe. Tempat favorit perempuan itu untuk melepas jenuh. Tidak ada yang spesial, tapi perempuan itu menyukai tempat ini. Desain ruangannya sederhana, harga makanan relatif murah, dan yang paling penting di sini ia bisa puas membaca. Kafe ini bergabung dengan sebuah perpustakaan yang koleksi bukunya lumayan. Kafe yang bisa dibilang biasa saja, tetapi selalu bisa memberi kehangatan tersediri dalam dadanya. Seperti lelaki itu.

“Apa kabar?” tanya lelaki itu berbasa-basi.

Perempuan itu hanya tersenyum tanpa menjawab. Kabar seperti apa, tanyanya dalam hati. Kalau kabar setelah aku meninggalkanmu, tentu aku tidak baik-baik saja.

“Gimana kerjaan? Kayanya sibuk banget sekarang?” perempuan itu berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang lebih bermutu.

Lalu si lelaki mulai bercerita panjang lebar. Tentang kariernya, tentang kelanjutan pendidikannya. Ia benar-benar sibuk sekarang, pikir si perempuan. Meski si perempuan merasa si lelaki sedang berusaha menyombong di depannya, tetapi tetap saja si perempuan menyukai bagaimana lelaki itu bercerita. Lelaki itu ketika bercerita, suaranya rendah, tetapi orang yang mendengar bisa merasakan bahwa ia begitu bersemangat. Si lelaki lalu melanjutkan cerita dengan mimpi-mimpi yang belum dicapainya.

Suasana mulai mencair. Pelan-pelan, si perempuan merasa kembali pada masa beberapa tahun lalu. Masa dimana ketika ada dirinya dalam setiap mimpi dan cita-cita yang ingin diraihnya dulu. Masa dimana mereka bisa bercanda lepas, bukannya mengobrol tentang diri masing-masing begini. Masa dimana mereka saling menyayangi.

“Aku sedang suka pada seseorang,” ujar si lelaki.

Perempuan itu terkesiap. Ia menelan ludah dan menarik sebuah senyum. Senyum terpaksa. Semoga lelaki itu tak menyadarinya.

“Orangnya seperti apa?” perempuan itu berusaha terlihat antusias pada cerita si lelaki.

“Baik,” lelaki itu mengangguk-angguk. Bola matanya berputar ke atas. “…dan manis. Tapi aku nggak yakin dia juga menyukaiku,”

“Kenapa?”

“Entahlah. Responsnya nggak begitu bagus tiap aku mendekat. Teman-temannya bilang, dia pencemburu. Kalau aku ngobrol dengan perempuan lain, dia takkan mau mengobrol denganku. Seharian. Jadi bingung harus gimana…”

“Hmm… biarkan saja dulu. Kalau dia juga suka padamu, setelah beberapa hari juga akan rindu sendiri,”

Perempuan itu menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja, saling menggenggam. Ia berusaha menyembunyikan tubuhnya yang gemetar menahan perih. Semoga wajahnya tidak pucat. Semoga lelaki itu tidak melihat.

“Begitukah?”

“Yah, setidaknya itu berdasarkan pengalaman dan pengamatanku sebagai perempuan, sih,”

Lelaki itu tersenyum. “Terima kasih. Kamu memang teman terbaik,”

“Sama-sama,” Perempuan itu melirik arlojinya. Sudah hampir pukul sebelas malam.

“Mau pulang?” tanya si lelaki.

“Yup. Um.. Pakai taksi,”

Mereka berjalan bersama menuju jalan raya. Tak perlu menunggu lama untuk menanti sebuah taksi mendekat.

“Kamu pulang pakai apa?” tanya si perempuan.

“Nanti aku akan minta temanku menjemput. Gampanglah,” ujarnya.

“Baiklah. Sampai jumpa. Semoga dilancarkan.. uhm, dengan perempuan itu,”

“Ya. Semoga saja. Ah! Lain kali kamu juga harus mampir ke rumahku, ya!”

Perempuan itu melambaikan tangannya sebelum menutup pintu taksi. “Ya, kapan-kapan.”

***

Taksi melaju. Perempuan itu menatap kosong pada semrawut jalan raya. Hatinya perih. Ia kira satu tahun berlalu dalam kesibukan cukup untuk mengikhlaskan lelaki itu. Lelaki yang ia tinggalkan karena alasan yang bisa dibilang konyol. Ia kira satu tahun cukup untuk bisa bertemu kembali dengan lelaki itu tanpa perasaan apapun. Ternyata ia salah.

Perempuan itu hanya menangis sebulan pertama dan mencoba berhenti di bulan kedua dan selanjutnya. Berusaha ikhlas saat memikirkan cepat atau lambatsi lelaki akan menjalin hubungan dengan orang lain. Cepat atau lambat si lelaki akan menyayangi orang lain, mungkin dengan cara yang sama seperti dulu si lelaki menyayanginya. Mencoba ikhlas ketika memikirkan si lelaki akan meraih cita-cita bersama seseorang yang bukan dirinya.

Ia mau bertemu dengan lelaki itu karena ia rindu. Dan ia mengira lelaki itu juga merasakan hal yang sama. Ia sudah terbawa rasa ketika mereka kembali bercerita dan tertawa seperti dulu. Tidakkah lelaki itu tahu betapa hancur hatinya saat mendengar lelaki itu sudah menyukai orang lain? Tidakkah lelaki itu tahu betapa tubuhnya seketika membeku saat harus terpaksa memberikan saran-saran jitu untuk mendekati perempuan lain?

Perempuan itu bingung. Apa yang diinginkannya? Apakah ia ingin lelaki itu kembali? Tidak mungkin. Perempuan itu yakin takkan ada kesempatan bagi mereka untuk kembali. Mereka bukan bocah belia yang baru mencinta. Mereka sudah dewasa. Sudah tidak pantas untuk hubungan seperti itu.

Air matanya mulai menetes. Bodoh, rutuknya pada diri sendiri. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Perempuan itu memukul-mukul pahanya, berusaha memindahkan rasa sakit dari hati menuju kaki. Setidaknya sakit di kaki masih lebih baik dibanding sakit hati. Beruntung supir taksi tak peduli. Supir taksi hanya peduli pada bagaimana terus melaju di tengah kemacetan malam ini. Perempuan itu bisa menangis dalam diam sesuka hati.

Entah apa yang akan terjadi nanti. Namun, sepertinya ia harus belajar merelakan perasaanya sendiri. Mungkin nanti akan lebih baik. Ia hanya bisa berdoa semoga lelaki itu selalu bahagia.

©otakeyong 2014

Advertisements

Di Ujung Telepon

Perempuan itu menatap layar telepon selulernya. “Aku sayang kamu”, begitu tulisan yang tertera di layarnya. Layar teleponnya berkedip mati tapi perempuan itu masih menatap kosong layar gelap.

Perempuan itu bertanya-tanya, apa yang dipikirkan lelaki dari masa lalunya itu? Apakah ia mabuk? Atau ia justru iseng berkirim pesan pada semua orang? Tidakkah lelaki itu mengerti betapa dari dulu ia mendamba mendengar tiga kata itu dari mulut sang lelaki?

Perempuan itu mengingat-ingat kapan terakhir kali si lelaki menghubunginya. Hanya di dua minggu pertama setelah ia pergi. Lalu berakhir. Perempuan itu begitu sibuk dan mungkin juga si lelaki. Terkadang, si perempuan rindu bercengkerama seperti dulu, tapi entahlah. Ia tak ingin menghubungi lebih dulu. Ia ingin dihubungi. Ingin tahu apakah si lelaki masih mengingatnya.

Perempuan itu menimbang-nimbang, apakah sebaiknya ia membalas atau tidak. Ya, mungkin ia harus. Ia harus menuntaskan perasaannya yang hidup sejak ia berusia tiga belas tahun. Ia harus menyelesaikan semuanya hari ini sebelum calon suaminya tahu. Ia harus menyelesaikannya hari ini sebelum semuanya terlambat lalu rusak dan hancur berantakan tanpa bisa ia kendalikan. Ini yang terakhir. Ia janji.

Perempuan itu akan menikah tiga minggu lagi.

Ia menyentuh layar teleponnya, mengetik dua kata dan satu lambang tersenyum. Lama, tak ada balasan. Mungkin lelaki itu memang bercanda.

***

Lelaki itu berbaring santai di tempat tidurnya yang berlapis seprei biru. Telepon selulernya diputar-putar dalam genggamannya dengan malas. Perempuan itu belum membalas.

Entah apa yang dipikirkannya, tetapi tiba-tiba ia merindukan perempuan itu. Sepuluh tahun berlalu sejak mereka terakhir bertemu dan ia tak pernah berkomunikasi lagi dengan sang perempuan. Bahkan mengucapkan selamat ulang tahun pun tidak. Rutinitas sejenak membuatnya lupa pada kenangan manis bersama perempuan itu. Namun entahlah. Hari ini tiba-tiba ia kembali merindu seperti hari pertama setelah terakhir kali mereka bertemu.

Layar teleponnya berkedip. Nama sang perempuan tertera di sana. “Jangan bercanda J” begitu katanya. Lelaki itu mendengus. Bibirnya terangkat sebelah. Sudah ia duga si perempuan takkan percaya. Bodoh. Rutuknya pada diri sendiri. Sepuluh tahun memang terlalu lama untuk mengucapkan kata sayang. Seharusnya ia mengatakan itu sepuluh tahun lalu. Atau saat ia berusia tiga belas? Terlambat.

Mungkin ia tiba-tiba rindu karena mendengar perempuan itu akan menikah tiga minggu lagi. Setidaknya itu kata seorang teman sekolahnya saat mereka tak sengaja berjumpa. Undangan untuknya belum datang. Atau mungkin ia memang tidak diundang.

Lelaki itu masih menerawang ketika layar teleponnya berkedip lagi. Sebuah pesan dari si perempuan. Ia terke

“Dari dulu aku sayang kamu. Lebih dari sahabat. Tapi sepertinya aku bertepuk sebelah tangan. Bagimu aku tak lebih dari sahabat untuk berbagi. Terima kasih untuk semuanya, selama ini. Aku akan menikah tiga minggu lagi. Semoga kamu mau datang. Tunggu undangannya”

Sial. Harusnya dari dulu ia tahu bahwa ia tak bertepuk sebelah tangan.

***

Kebanyakan perempuan memang senang memeluk dan dipeluk. Bagi perempuan, pelukan menunjukkan kasih sayang yang dalam, yang tak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Pelukan memberikan semangat baru saat memperoleh kegagalan. Pelukan itu menguatkan.

Usia mereka delapan belas saat itu. Lima tahun berlalu sejak mereka mulai berteman akrab. Saat si perempuan begitu bahagia atau bersemangat, ia memeluk si lelaki sambil tertawa-tawa. Begitu pula saat ia menangis sejadi-jadinya, si lelaki selalu ada dan memberikan pelukan. Dalam pelukannya yang hangat, si perempuan bebas menangis dan berteriak sesuka hati. Seolah hanya pelukan dari seorang sahabat, seolah hanya pelukan tanpa rasa sayang yang lebih.

Terakhir kali mereka bertemu saat si perempuan akan pindah ke kota lain. Saat usia delapan belas itu. Si lelaki mengantarkan si perempuan ke stasiun. Kereta yang ditunggu masih satu jam lagi. Mereka diam. Mencari obrolan. Si perempuan menggigit bibir, menahan tangis. Tiba-tiba ia memeluk si lelaki. Ia memejamkan mata dan berkata, kita mungkin takkan bertemu esok, atau enam bulan lagi, atau bahkan tahun depan. Mungkin kita akan kembali bertemu sepuluh tahun lagi dengan canggung. Terakhir kali ini saja. Peluk lebih erat dari sebelumnya. Jangan lupakan, katanya. Jangan pernah lupakan.

***

Mereka bertemu kembali di ujung telepon. Canggung. Tak lagi hangat seperti dulu. Mungkin, aku harus datang ke pernikahannya, pikir si lelaki. Mungkin.

Mau Makan Aja Bingung!

Ini adalah pengalaman makan teraneh yang pernah aku alami selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia makan-memakan. Sekitar jam 18.30 tadi aku, Mumut, dan Firda berniat makan di T, sebuah tempat makan yang nggak jauh dari gerbang lama Unpad. Tapi, karena penuh akhirnya kami memilih untuk makan di sebelahnya, yaitu C. Kebetulan kami juga belum pernah makan di sana.

Di tempat yang berkonsep lesehan ini, aku memesan udang dan nasi liwet serta teh manis panas. Mumut memesan paket nasi timbel gepuk dan teh tawar panas sementara Firda nggak makan. Ternyata udang idamanku habis sehingga aku menggantinya dengan dada ayam bakar.

Setelah menunggu beberapa saat, seorang mas-mas, sebut saja Sam, mengantarkan tiga gelas teh tawar panas sambil berkata, “Sebentar ya, Teh, teh manisnya belum,” aku mengangguk saja. Setelah itu menyusul sepiring makanan yang diidentifikasi sebagai Nasi Timbel Gepuk, sepotong Ayam Rica-Rica, sepiring Nasi Timbel dengan Paha Ayam Bakar, dan secobek kecil sambal ditambah keterangan, “Yang ini (menunjuk ayam rica-rica) dimakan sama yang ini (menunjuk nasi timbel gepuk) ya, Teh” dari Sam. Mumut kebingungan tapi nggak protes.

Sementara kami memperdebatkan apakah ayam rica-rica ini bagian dari paket nasi timbel gepuk, Sam datang lagi mengantarkan sepiring nasi liwet dan dada ayam bakar. Aku jadi ikut bingung. “Tadi kan Teteh pesan nasi liwet sama udang. Tapi karena udangnya habis, diganti pake ayam bakar. Nah, ini nasi liwetnya, ini ayam bakarnya,” jelas Sam menjawab kebingunganku. “Loh, terus ini apa?” tanyaku sambil menunjuk piring nasi timbel dan paha ayam bakar. Aku merasa agak nggak enak karena takutnya ini salah antar, sementara aku sudah membuka kulit ayam untuk dihibahkan ke Mumut.

Sam lalu menjelaskan korelasi nasi timbel dan nasi liwet serta kedua ayam dan sungguh, aku sama sekali nggak ngerti maksudnya karena sudah terlalu lapar. Tapi untung aku cukup waras untuk mengambil nasi timbel dan mengembalikan nasi timbelnya. Meski lapar, tapi aku nggak cukup rakus untuk makan nasi sebanyak itu. Firda lalu berbaik hati memakan paha ayam yang menganggur.

Beberapa saat kemudian, Sam kembali mengambil si ayam rica-rica sambil berkata, “Maaf Teh, ini bukan di sini ternyata,” Kami mengangguk saja.

Betapa terkejutnya aku ketika memegang ayam bakar yang hitam menggoda, ternyata ayam itu dingin. Mending kalau dingin seperti makanan yang sempat panas lalu dibiarkan beberapa saat. Ini dinginnya seperti baru dikeluarkan dari kulkas, sedingin potongan timun di samping tahu goreng hangat. Karena kelaparan, malas ribut, dan malas menunggu lebih lama lagi, terpaksa aku makan ayam bakar dengan sensasi dingin. Kami dongkol karena mau makan saja dibuat bingung dengan pesanan yang tertukar. Sementara itu, teh manis panasku tak kunjung datang.

Berlama-lama kemudian setelah kami selesai makan dan melanjutkan sisa-sisa tugas sambil mengobrol, tiba-tiba… plak! Terdengar suara gelas diletakkan dengan tergesa di sebelah kananku disusul suara “Ini teh manis panasnya, maaf lama,” dan Sam yang mengantar segera berlalu. Aku masih melongo karena kaget dan Firda langsung berkata, “Mas, tehnya nggak jadi! Ini udah mau pulang, juga.” “Oh, iya, nggak apa-apa,” ujar Sam. Ya iyalah, harusnya juga aku yang ngomong nggak apa-apa. Kan situ yang telat nganterin!

Setelah membayar, aku berkata pada mbak-mbak yang kebetulan bertugas menjadi kasir. Aku bilang kebetulan karena tadi ia juga sempat melayani pesanan dan mengantarkan makanan. Aku berkata, “Teh, punten nih. Tadi saya pesan ayam bakar, tapi dingin banget kaya baru keluar dari kulkas. Lain kali, dipanasin dulu ya, teh..” Si mbak-mbak tampak terkejut dan berusaha mengelak dengan berkata, “Tapi ini semuanya dadakan, Teh. Nggak mungkin ada yang dingin banget kaya gitu,” “Iya, Teh. Tapi tadi tuh emang udah dingin banget,” sambung Mumut. “Nggak mungkin, Teh. Duh, kenapa ya aneh banget ini…” si mbak-mbak masih memasang wajah kebingungan tapi ngotot kalau ayamnya nggak mungkin mendinginkan dirinya sendiri. “Yaudah Teh, pokoknya lain kali jangan gini lagi, ya..” tutupku sambil memasang senyum terpaksa dan buru-buru kabur.

Dari awal, udah terlalu banyak hal yang bikin aku berjanji dalam hati untuk nggak akan lagi makan di sini. Pesanan yang tertukar, ayam sedingin kulkas, teh manis panas yang datang pada detik terakhir. Tapi aku nggak nyangka, reaksi mbak-mbak kasirnya akan seperti itu. Alih-alih meminta maaf atas pelayanan yang buruk dan ayam yang dingin, si mbak-mbak malah ngeles. Padahal aku suadh berusaha menyusun kata-kata dengan baik karena takut ia tersinggung. Tadinya, aku malah ingin sok sarkastik dengan bilang, “Teh, lain kali ayamnya dibakar pake api ya. Jangan pake es. Ayamnya dingin gitu.”

Kalau begini, aku nggak akan heran beberapa saat lagi warung C ini akan sepi. Aku, sebagai orang yang pertama kali makan di sana, tidak puas dengan pelayanannya. Wajar kan, kalau nanti temanku berniat makan di sana, lalu aku menceritakan pengalamanku? Dosenku pernah bilang, untuk mencari kepercayaan konsumen, dibutuhkan puluhan atau bahkan ratusan komentar positif. Tapi, untuk mulai menghancurkan sebuah usaha, satu komentar negatif saja sudah cukup.

Bersyukur meski aku adalah seorang picky eater, aku jarang mempermasalahkan makanan yang dingin atau panas, walaupun untuk kasus ini dinginnya keterlaluan. Bagaimana kalau mereka menghadapi orang yang harus makan makanan dalam keadaan panas? Bagaimana kalau mereka menghadapi orang yang begitu tidak sabaran menunggu minumannya dihidangkan? Belum lagi faktor kelaparan bisa membuat orang cepat naik darah. Apa tidak disemprot dan dimaki?

Okelah, mungkin mereka kesulitan melayani begitu banyak pesanan. Tapi, apa susahnya verifikasi? Apa susahnya memberi nomor pada setiap meja agar tidak tertukar? Apa susahnya membuat keterangan lebih pada menu kalau sebegitu tidak sempatnya menjelaskan menu ini terdiri dari apa saja? Aku mengamati bukan hanya pesanan kami saja yang tertukar. Bukan hanya aku saja yang minumannya terlambat. Kalau begini, bagaimana mereka mau mempertahankan konsumen?

Aku berasumsi ayam sejukku itu berasal dari pesanan yang salah juga. Mungkin ada orang yang nggak memesan dada ayam bakar, tapi entah kenapa mereka membakar ayam juga. Jadilah daripada mubazir, si ayam masuk kulkas. Sayangnya, ketika akan dihidangkan lagi, mereka bukannya mengeluarkan fresh from the oven malah mengeluarkan fresh from the freezer.

Jatinangor ini kejam, bung. Banyak warung makan datang dan pergi. Entah karena menunya yang biasa-biasa saja, harga yang terlalu mahal, atau pelayanan yang buruk. Berani memulai bisnis makanan di wilayah yang “sangar” tapi tidak bisa menjamin kepuasan konsumen? Ayolah, jangan nekat bunuh diri seperti itu.

Atau ayam sensasi dingin adalah khasnya warung C? Yah, anggap saja sebagai pengalaman hidup kalau aku pernah makan ayam yang butuh kehangatan.