Month: August 2014

Cinderella dan Pinokio

Halo!

Aku suka sekali mengamati perilaku orang lalu berpikir kenapa mereka begini dan kenapa mereka begitu. Dua orang yang akan aku ceritakan ini memenuhi ruang berpikirku selama seminggu belakangan. Dua orang ini sebenarnya nggak begitu spesial, hanya sebatas teman biasa tapi mampu membuat aku memikirkan mereka nyaris setiap hari sambil bertanya-tanya.

Satu

Sebut saja namanya Cinderella, temanku semasa aku masih menjadi bocah ingusan. Selama berteman dengannya, aku mengenal Cinderella sebagai pribadi yang kalem, tenang, dan cenderung pendiam. Secara akademis, Cinderella ada di garis rata-rata. Ia tidak begitu menonjol saat bersekolah, juga tidak begitu populer. Bisa dibilang, Cinderella dulu adalah insan biasa banget.

Beberapa tahun lamanya aku tak bertemu Cinderella karena beda sekolah dan kesibukan, aku kembali bersapa dengannya lewat media sosial. Setelah berbasa-basi layaknya teman yang lama tak berjumpa, tanpa diminta Cinderella menceritakan kesibukannya padaku. Sibuk kuliah sembari menjalani kehidupan sebagai model di sebuah agensi. Ia lalu melanjutkan bercerita tentang teman-temannya. Obrolan dengan Cinderella yang terkesan pamer itu membuatku muak sehingga rasanya aku ingin membalas dengan “I don’t give a f*ck” saja.

Lamat-lamat, aku perhatikan foto Cinderella. Ia yang dulu tak pernah mau difoto, kini menjadi sangat narsis. Akunnya penuh dengan foto ia dan teman-temannya, fotonya untuk media A dan B, dan tentu saja foto selfie-nya. Kecantikannya kini benar-benar seperti Cinderella dalam dongeng. Melihat berbagai pencitraan media sosialnya, membuatku kesal bercampur sedih. Kesal karena Cinderella yang dulu ku kenal berubah menjadi orang asing yang (bagiku) menyebalkan. Sedih karena memikirkan seberapa besar hal yang bisa mengubahnya.

Aku merenung, mencoba mencari dalam laci pengetahuanku tentang mengapa Cinderella berubah begitu drastis. Balas dendam. Mungkin semacam itu. Balas dendam yang ku maksud bukanlah balas dendam pada orang lain, melainkan pada masa lalunya sendiri. Mungkin, entah bagaimana caranya Cinderella tahu bahwa ia punya bakat dan kecantikan yang memadai untuk berkarier di dunia modelling. Ia melamar ke agensi, lalu sukses. Siapa sudi mengingat bahwa ia dulu adalah itik buruk rupa yang terabaikan? Kini ia adalah Cinderella yang gemilang, pembalasan atas dirinya yang dulu tidak menonjol dan biasa-biasa saja. Kini, setiap orang mau menjadi temannya. Setiap orang bersemangat ingin bicara dengannya. Setiap orang mencintainya. Tapi aku, sungguh aku merindukan Cinderella temanku yang dulu meski tidak menonjol tapi ramah dan penuh perhatian.

Mungkin aku cuma nggak bisa menerima kalau Cinderella sudah berubah. Mungkin batasan pengenalanku pada Cinderella hanya sampai saat ia kecil dulu dan aku tak bisa menepiskan citra kuat Cinderella yang seperti itu. Meski aku nggak begitu suka akan perubahan Cinderella, tapi selama ia nyaman dan membuat ia merasa lebih baik, aku bisa apa? Toh Cinderella nggak melanggar batasan nilai dan norma apapun. Cinderella hanya terasa menyebalkan di mataku yang sudah lama mengenalnya, yang tahu benar bagaimana rupa dan lakunya dulu. Mungkin, di mata orang lain, orang-orang yang baru mengenalnya satu atau dua tahun, ia tidak semenyebalkan itu.

Yah, Cinderella orang baik. Ia layak mendapatkan popularitas yang mungkin baginya dulu hanya angan. Mungkin ia memang pantas untuk itu.

Dua

Anak ini baru kukenal beberapa bulan yang lalu di kampus. Beberapa urusan membuatku jadi sering bertemu dan bercakap dengannya. Anggap saja namanya adalah Pinokio. Kesan pertamaku mengenai anak ini adalah, ia orang yang menyenangkan. Entah bagaimana obrolan kami langsung nyambung sejak pertama bercakap. Padahal biasanya sangat susah bagiku untuk mengobrol dengan orang yang baru kukenal. Biasanya aku merasa canggung untuk mulai bercanda dengan orang yang tidak akrab denganku, tetapi sepertinya aku dan Pinokio memang bercanda dalam bahasa yang sama. Dengan mudah kami menjadi akrab dan selalu tertawa bersama-sama. Setiap bertemu Pinokio, yang kami lakukan adalah membuat lelucon sambil sesekali bercerita. Menyenangkan.

Karena sebuah obrolan, aku mulai merasa bahwa Pinokio sangat self-centered (aku nggak bisa menemukan padanan kata yang tepat untuk ini dalam Bahasa Indonesia). Saat itu aku, Pinokio, dan teman-teman yang lain sedang ngobrol ngalor ngidul. Seorang teman berkata betapa cantiknya artis Y. Tiba-tiba, Pinokio menyambar obrolan, mengatakan bahwa mantan kekasihnya memiliki kecantikan hampir seperti artis Y. Oh, mungkin kebetulan. Pikirku waktu itu. Satu kali.

Kali kedua, saat kami bercerita tentang adegan sebuah film. Di film itu, ada adegan sebuah truk tronton yang melindas kepala teman pemeran utama. Sedang seru-serunya, Pinokio berkata setelah menonton film itu, ia juga melihat adegan yang sama di jalan tol saat perjalanan pulang dari bioskop. Aku mengernyitkan muka. Apakah ada kebetulan yang sebegitu kebetulan? Di sini, aku mulai memutuskan untuk tidak sepenuhnya percaya pada apapun yang diceritakan oleh Pinokio.

Banyak obrolan lain yang kemudian membuatku malas mendengarkan cerita Pinokio. Beberapa orang yang lebih dulu kenal dengannya juga mewanti-wanti aku untuk tidak usah begitu percaya pada cerita Pinokio. Entah karena faktor eksternal itu, atau faktor internal bahwa aku juga tidak suka pada laku Pinokio, aku selalu berusaha mengalihkan perhatian dan pembicaraan saat Pinokio mulai akan bercerita tentang dirinya sendiri. Jahat memang, seolah aku tak memberi kesempatan pada Pinokio untuk bicara, tapi bagiku setidaknya itu lebih baik daripada aku harus diam saja mendengar Pinokio membual lalu aku menanggung perasaan bersalah karena membenci dalam hati.

Aku pernah membaca bahwa anak yang suka membual biasanya karena ia merasa inferior. Secara mental ia lemah dan merasa tidak punya sesuatu untuk dibanggakan. Alih-alih mencari pengalaman atau mencetak prestasi di luar sana, ia justru mencari kesempatan untuk membual tentang dirinya sendiri di setiap obrolan. Apapun akan ia lakukan agar ia terlihat hebat di mata orang lain, melarikan diri dari kenyataan bahwa sebenarnya ia tidak sehebat itu.

Di satu sisi, aku merasa jahat karena aku tahu, orang seperti ini harus dibantu. Ia harus dibantu untuk lebih percaya diri. Ia harus dibantu untuk mengembangkan potensi-potensi yang ia punya, agar ia berhenti membual. Di sisi lain, manusiawi bukan, kalau aku merasa malas untuk berteman dengan orang yang kerjanya hanya bercerita tentang kehebatan diri sendiri? Aku memang jahat karena sudah sembilan belas tahun tapi masih berteman seperti anak sebelas tahun; merasa sebal sendiri tanpa pernah bisa mengungkapkan secara terus terang ke lawan bicara.

Satu-satunya yang kuharapkan sekarang adalah dengan aku yang berusaha mengalihkan pembicaraan dan mulai sedikit menjauh dari Pinokio, aku berharap Pinokio sadar bahwa banyak hal yang bisa diobrolkan selain bualan tentang dirinya sendiri. Terlepas dari kemungkinan apa yang dikatakan Pinokio itu memang benar, aku (dan mungkin orang lain) akhirnya memilih untuk tidak percaya. Mungkin aku nggak bisa menolong Pinokio, tapi aku berharap suatu saat ada seseorang atau sesuatu yang menyadarkan dan menghentikan Pinokio untuk membual.

Para pembohong yang sebenarnya baik, pasti akan menanggung perasaan bersalah setiap kali ia berbohong. Ia pasti lelah berbohong, lelah memikirkan apakah orang percaya pada ucapannya atau tidak. Entahlah. Aku hanya merasa menjadi seseorang yang omong kosong, berkeluh kesah begini tapi tak bisa melakukan sesuatu untuk mengubah Pinokio menjadi lebih baik.

Epilog

Kita emang nggak mungkin selamanya hidup memenuhi ekspektasi orang tentang kita. Percuma bukan, kita berpenampilan seperti yang orang lain harapkan, berperilaku seperti yang orang lain minta, kalau pada akhirnya kita emang nggak nyaman untuk seperti itu. Kontradiksi memang dengan semua yang aku tulis di atas, terutama untuk Pinokio. Namun, apa salahnya aku ingin ia menjadi lebih baik? Cinderella mungkin nggak salah, tapi Pinokio nyata-nyata salah.

Aku ingin Cinderella menjadi dirinya yang dulu karena aku merasa itu akan menjadi lebih baik, setidaknya untuk diriku sendiri. Aku ingin Pinokio berhenti membual karena aku ingin setiap kali ia bercerita aku bisa percaya. Aku sendiri lelah mendengarkan bualan Pinokio, merasa bersalah karena di depannya aku (pura-pura) mendengarkan omongannya tetapi sebenarnya aku muak. Aku hanya ingin nyaman berteman dengan Pinokio. Itu saja. Toh, kalaupun ia memang tak akan berubah, mungkin aku bisa perlahan menjauh. Hidup adalah pilihan, dan aku memilih untuk tidak mendengar bualannya lagi. Simpel.

Sungguh, Ini yang Terakhir

Sungguh, ini yang terakhir

Terakhir kalinya aku menuliskan picisan untukmu

Karena nanti aku akan mengucap lusinan kata maaf.

Sungguh, ini yang terakhir

Terakhir kalinya aku merutuki apa yang orang sebut sebagai “Jahat”

Sesuatu yang telah aku lakukan padamu.

Sungguh, ini yang terakhir

Terakhir kalinya aku bercerita jika ada yang bertanya.

Sungguh, ini yang terakhir

Terakhir kalinya aku menangis dan menyesal.

Sungguh, ini yang terakhir

Terakhir kalinya aku datang untuk mengusikmu.

Sungguh, ini yang terakhir

Aku takkan menangis lagi.

Aku janji.

***

When you’re forgiving but you can’t forget
Feels like you’re drowning but you still got breath
And we’ve been tryna lay this ghost to rest
Oh but there ain’t no getting out of this mess
No there ain’t no getting out
There ain’t no getting out
There ain’t no getting out of this mess
No there ain’t no getting out
No there ain’t no getting out of this mess

What’s done is done
Can’t resurrect the setting sun
What’s done is done
Oh you can’t reverse the bullet from a gun
What’s done is done
Can’t resurrect the setting sun
What’s done is done
Oh you can’t reverse the bullet from a gun

….

The Script – Bullet From A Gun