Month: July 2014

Hilang Habis

Mereka bilang, kalau gugur satu nanti akan tumbuh seribu

Bagaimana kalau gugur seribu?

Apa nanti masih akan tumbuh satu?

Satu satu meninggalkan bangku

Tiga puluh enam

Lalu tiga puluh

Dua puluh

Lima

Dua

Kosong

Semua menghilang setelah tak lagi ada yang peduli

Letih dengan ajakan basa-basi

Meski terselip sedikit rindu dalam hati

“Biarkan saja, nanti juga bisa bertemu lagi”

Siapa yang tahu kalau kita masih bisa bertemu esok hari?

Lupakan saja

Nanti juga rindu sendiri.

Advertisements

Sesal Seribu

Andai aku bisa …

Memutar kembali

Waktu yang telah berjalan

Tuk kembali bersama di dirimu selamanya…

Bukan maksud aku membawa dirimu

Masuk terlalu jauh

Ke dalam kisah cinta

Yang tak mungkin terjadi..

Dan aku tak punya hati

Untuk menyakiti dirimu

Dan aku tak punya hati tuk mencintai

Dirimu yang selalu mencintai diriku

Walau kau tahu diriku masih bersamanya …

Walaupun kau tahu, kau tahu diriku

Masih bersamanya ….

Chrisye – Andai Aku Bisa

***

Gelap.

Atmosfernya membuat tertekan.

Ini dimana?

BRAKKK!!!

Seseorang, atau sesuatu menggebrak dinding besi, menimbulkan suara berisik yang bergema mengerikan.

Kenapa?

“Pengecut!!!” teriak sebuah suara dari seberang sana.

Suaranya bergema dalam hening, terasa menyayat relung dadaku.

“Siapa?” tanyaku.

“Kenapa kamu lari?” sosok hitam itu tiba-tiba telah berada dalam jarak satu meter dariku. Daripada manusia, ia lebih layak disebut bayangan. Tubuhnya tak berkontur, hanya siluet hitam yang bernyawa dan marah.

“La…. Lari darimana?” Nyaliku menciut. Aku tak takut pada kegelapan, tetapi aku merasa takut pada pancaran kemarahan dari makhluk ini.

“Lari dari masalah yang kau timbulkan sendiri, bodoh!!” Makhluk itu mencengkeram kerah bajuku. Sesak.

Aku ketakutan dalam cengkeramannya. Entah bagaimana, aku bisa langsung menangkap maksud perkataan bayangan ini.

Aku membuat masalah sekali, masalah yang awalnya kecil dan sederhana. Namun kemudian masalah itu berlanjut, membesar dan melebar. Lalu dengan egoisnya aku justru pergi meninggalkan masalah itu, bukannya menyelesaikan agar semua lebih baik.

“Jawab pertanyaanku!!” Bentaknya lagi.

“A…A…Aku hanya takut….” Air mataku mulai menggenang. Aku bukan hanya tertekan karena bentakan makhluk ini. AKu juga tertekan oleh perasaan bersalah dalam diriku, perasaan menyesal yang menguasai hingga ke dalam sel-selku.

“Takut apa??” desaknya lagi.

“A..Aku takut kalau memang nyata aku yang salah. Aku hanya tidak ingin disalahkan…”

“Tapi memang nyatanya kau yang salah sejak awal!!” Makhluk itu melemparku penuh emosi. Suaranya penuh kemarahan, tapi terselip kekecewaan di sana.

Aku terisak. Seluruh badanku terasa remuk dilemparkan seperti itu. Tapi aku tahu, ada orang yang merasa sakit ribuan kali lebih sakit dari yang kurasakan sekarang. Sakit hati.

“Kau menyesal?” Suaranya melunak, tapi nadanya masih tinggi seperti tadi.

Aku mengusap air mata, berusaha berbicara di tengah isakan. “Ya…”

“Atas perpisahan?”

“Bukan,” aku menelan ludah, dadaku sesak. “Atas semua kejahatan, atas semua yang aku lakukan”

Tak ada jawaban.

“Aku hanya ingin minta maaf,” lanjutku lagi tanpa diminta. “Aku tahu, meski aku meminta maaf seratus kali, seribu kali, bahkan jutaan atau milyaran kali pun, takkan mampu menebus semua kesalahanku”

Masih hening.

“Kamu dimana???” teriakku.

Suaraku bergema, menandakan ruangan ini kosong.

Bayangan itu telah pergi meninggalkan aku sendiri bersama kegelapan, penyesalan, dan tangisku yang membuncah.