Month: June 2014

Ingin Memutar Waktu

adorable

Berapa banyak orang di dunia ini yang ingin memutar waktu, kembali ke masa lalu? Entah untuk kembali merasakan bahagia, atau mengubah kesalahan yang pernah dibuatnya. Berharap masa depan bisa ikut berubah saat ia bisa mengulang masa lalunya satu kali lagi.

Sebagai manusia biasa, aku juga punya kesalahan dan kebodohan yang aku perbuat di masa lalu. Awal tahun ini saja, aku sudah membuat satu kesalahan BESAR (sengaja di-caps lock biar kelihatannya emang besar banget). Terkadang saat aku mengingat kembali peristiwa itu, aku berharap bisa kembali ke saat itu. Berpikir, “kalau waktu itu aku begini, apa sekarang akan begitu?” atau “kalau waktu itu aku nggak bilang seperti itu, apa keadaan sekarang akan berubah?” Lalu aku mulai menyesali sikap terdahulu, mengutuk kebodohan diri.

Di saat yang lain, saat aku merenungi peristiwa yang sama, aku berpikir tentang berapa banyak kebaikan yang kudapat setelah peristiwa itu. Bukan hanya satu, tapi banyak! Begitupun tokoh antagonis dalam kisah awal tahunku ini. Begitu banyak kebaikan yang ia dapat setelah semua yang terjadi di antara kami (setidaknya aku pikir begitu). Nah, untuk apa aku menyesali apa yang telah terjadi, ketika aku tahu selalu ada pelangi setelah hujan?

Lihatlah betapa Tuhan Mahabaik. Ia tidak menciptakan masalah begitu saja. Ia justru memberikan masalah satu paket lengkap; dengan solusi dan hikmah setelahnya. Kurang baik apa? Kurang sayang apa, coba?

Kalau dalam hidup benar-benar ada fungsi Ctrl+Z, apakah kita benar-benar akan memanfaatkannya? Yakin, kebaikan yang kita terima saat ini akan kita terima kembali saat kita berhasil mengubah waktu?

Mungkin, kita memang bisa meng-undoΒ kehidupan kita. Namun bukan untuk peristiwa yang sama, melainkan pelajaran bagi masa depan. Tuhan nggak menciptakan masalah dengan sia-sia kok. Jadikan saja setiap peristiwa sebagai pelajaran, pastikan kesalahan yang sama tak lagi terulang di masa depan supaya kita nggak menyesal dua kali.

Pada akhirnya, postingan yang nggak terlalu panjang ini cuma jadi pengantar pada inti:

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1435H

Semoga kita semua menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Semoga Ramadhan ini penuh berkah. Dan terakhir, mohon maaf lahir dan bathin.

Ah, ngomong-ngomong bagi kebanyakan orang ucapan “mohon maaf lahir dan bathin” itu cuma formalitas belaka. Tapi sejujurnya, kepada beberapa orang, aku benar-benar ingin meminta maaf secara tulus, tapi aku malu untuk ngomong langsung, aku takut untuk memulai, aku ragu dengan kalimat yang formal. Ah, maafkan. Nanti aku pasti akan minta maaf secara pribadi kok. Insya Allah πŸ™‚

Advertisements

Astral

Friend (F): diskusi yang waktu itu ceritanya apa sih?
Me (M): diskusi yang mana?
F: yang itu, yang tentang foto bapak nyariin anaknya
M: yang mana? Kapan? Aku datang waktu itu?
F: waktu itu kan kamu sekelompok sama aku, sama X, Y, Z juga. Kamu telat soalnya abis makan di FIK
M: loh, emangnya kita pernah sekelompok ya, semester ini?
F: pernaaaah. Waktu diskusi ini kaaan
M: kok aku nggak inget sama sekali soal diskusinya?
F: iya, soalnya waktu itu kamu diem aja, nyimak kita diskusi
M: aku diem selama 2 sks gitu?
F: iya. Kamu tenang banget pokoknya
M: masa aku diem selama itu? Hebat banget
F: ga ngerti deh
M: kapan sih? Tanggal? Bulan? Masa aku bener-bener amnesia
F: akhir mei pokoknya
M: akhir mei? Waktu itu kan aku nggak masuk, aku ke rektorat ngurusin KTM
F: jadi??

Baru tau ada kejadian seastral ini pas belajar Etika Pers bareng. Alamakjang