Month: May 2014

Mimpi Kemarin

Seperti kemarin, kita berjalan bersama pagi ini.
Tidak bergandengan, hanya berjalan beriringan.
Seperti kemarin, kita bercerita.
Tentang cita, tentang cinta.
Lalu aku tertawa.
Kita tahu apa tentang cinta?
Seperti kemarin, kita masih dua bocah dalam canda.
Mencinta dalam angan lewat kata-kata.
Seperti kemarin, tanganku masih menggantung.
Tanganmu terayun bebas, keduanya tak bertuan.
Dan kita masih memilih untuk tertawa lepas.
Seperti kemarin, biar saja tanganku menggantung tanpa pernah kau sambut.

Advertisements

Six Degrees of Separation

Tiap orang pasti pernah sakit, pernah patah hati dengan berbagai sebab.
Mereka kemudian mencari berbagai macam cara untuk pulih dari sakitnya itu.
Terutama saat patah hati.
Ada orang yang menangis semalam, lalu mati-matian mencari cara agar ia bisa kembali tertawa, pulih dari sakitnya.
Saat orang bertanya apakah ia baik-baik saja, maka ia akan menjawab “ya” meski sebenarnya tidak.
Membuat lelucon yang tidak lucu, lalu tertawa terbahak-bahak di atasnya.
Mencoba kecocoklogian dalam ramalan, tersenyum pada jawaban penuh bualan
Menonton tayangan komedi, membaca kisah humor.
Menggila di dunia maya.
Semua demi tawa, demi pulih dari luka.
Nanti, akan ada saat dimana orang itu pulih, kembali menjalani hidupnya dengan biasa.
Pelampiasan. Semua orang butuh pelampiasan.
Pelarian. Semua orang nggak bisa selamanya berlari.
Bahagia. Semua orang berhak untuk itu.


27 Mei 2014, 02:13 setelah meresapi lagu The Script – Six Degrees of Separation untuk keentah berapa kalinya.

Sembilan Belas Pada Delapan Belas

Oke, ini latepost karena keterbatasan sumber daya internet. Huft.

Alhamdulillah, 18 Mei lalu aku berhasil menghirup usia 19 tahun. Wow, kelihatannya dewasa sekali. Tahun terakhir dimana aku menyandang kata –teen di belakang usiaku karena tahun depan aku akan berkepala dua. Rasanya…….. sedikit mengerikan.

Ulang tahun kali ini rasanya benar-benar ulang tahun terhebat dalam hidupku. Bukan karena tiba-tiba aku dapat mobil Rolls Royce sebagai kado ulang tahun. Nggak, orang tuaku nggak sekaya itu dan yang paling penting adalah aku nggak bisa nyetir. Ulang tahun kali ini aku “rayakan” dengan liputan untuk kuliah Perkembangan Media Baru (PMB).

Ceritanya kelompokku, kelompok 4A alias The Powerfull Unikitty, dapat kesempatan untuk di-endorse seperangkat alat sholat peralatan penunjang liputan, antara lain kamera DSLR Canon 60D plus tripod, MacBook Air, dan recorder ZOOM H4N lengkap dengan bulu-bulunya (baca: windscreen) yang menyatu dalam satu ransel. Jadi liputannya ala ala Backpacker Journalist gitu deh. Konsekuensi dari endorse-an ini adalah kami harus membuat sebuah liputan yang amat sangat bagus menghias angkasa dalam waktu dua minggu. Kedengarannya mudah, tapi ternyata ini gila banget. GILA.

Malam sebelum liputan yang kebetulan juga malam ulang tahunku, aku nggak bisa tidur. Bukan karena nungguin ucapan selamat ulang tahun berdatangan, tapi yah emang aku nggak bisa tidur. Entah kenapa, sejak masuk Jurnal aku udah nggak bisa tidur sebelum jam 1 dini hari. Jadilah, aku ngulet-ngulet nggak karuan. Badanku ternyata nggak ngerti kalau besoknya aku harus bangun pagi dan liputan ke Cijerah. FYI, Jatinangor-Cijerah itu jauh banget. Pas mulai melayang-layang dan nyaris ketiduran, tiba-tiba hapeku berbunyi. Ternyata Subau nelpon ngucapin selamat ulang tahun jam setengah dua pagi sebagai orang pertama dan satu-satunya yang lewat telpon (haha K). Oh, Subau so sweet banget. Sayang Subau lah pokoknya.

Beberapa menit ngobrol sama Subau bikin aku melek lagi dan ngulet-ngulet lagi nggak bisa tidur. Di tengah kegalauan nggak bisa tidurku, tiba-tiba Zumba yang kebetulan nginap ngigau, “Ini bajunya apa…. Ini bajunya apa….” Kocaklah Zumba. Sekitar jam setengah empat aku baru bisa tidur dan bablas sampai setengah tujuh. Abis itu tidur lagi sejam sebelum akhirnya aku harus berpisah dengan kasur.

Lanjut liputan, aku sempat ketakutan karena narasumber kami baru pulang dari Lampung. Waktu baru mau jalan dari Jatinangor, sang narasumber SMS, nanya kami mau jalan jam berapa soalnya mereka pada mau pulang ke rumah masing-masing, mau istirahat. Aku panik waktu itu. Takut macet Cibiru, macet Soekarno-Hatta, dan macet di tempat tak terduga. Takut mereka keburu pulang karena kami kelamaan. Takut batal dan gagal liputan. Sepanjang jalan, aku berdoa. Aku tau Allah sayang aku dan aku tau Dia nggak akan ngebiarin aku sedih, seenggaknya di hari ulang tahunku.

Selain kekuatan untuk pergi liputan (karena badan nggak fit gara-gara kurang tidur), kelancaran liputan ini adalah kado terindah lain dari Allah. Subhanallah, narasumber-narasumberku ini baik banget. Mereka mau menuruti kemauan kami yang aneh-aneh, padahal dari muka kelihatan banget mereka capek. Semua ketakutan dan kepanikanku sepanjang jalan nggak terbukti sama sekali. Liputan berjalan lancar dan kami pulang sekitar jam setengah empat sore. Di perjalanan kami diterjang hujan, dan beruntung aku dipeluk oleh jahim yang tahan air.

Malamnya, aku dan Zumba ke kosan Qoonit untuk mulai mencicil menyortir video dan suara yang akan dipakai. Pas lagi serius nyortir video, Zumba ngeluh diare. Perutnya mulas katanya. Itu sekitar jam sembilan malam. Sebagai teman dan penumpang motor Zumba yang baik, aku pun nemenin dia buat beli obat diare. Dan gotcha! Di gang kosan Qoonit rupanya menunggu tiga makhluk yang langsung mengejarku. Mereka mencekokiku dengan air mineral dalam botol (ini konyol banget), kopi instan, dan jelly rasa mangga. Mereka—Mumut, Firda, dan Elya—sukses bikin bagian depan kosan Qoonit kotor oleh jelly dan kopi dan sukses juga membangunkan seisi gang. Hebat.

Imbasnya, aku harus pulang ke kosan untuk mandi karena badanku lengket dan telinga kiriku berdengung. Sepertinya mereka terlalu sadis sampai-sampai sesuatu masuk ke telingaku. Aku pulang menembus dinginnya malam naik motor sama Zumba. Sampai di kosan dan mandi, aku loncat-loncat dan syuurrrr… sesuatu yang hangat mengalir dari telinga kiriku: jelly.

Ngomong-ngomong, surprise mereka ini sebenarnya agak failed. Soalnya, sms Firda yang isinya “Zum, besok kamu jadi liputan bareng cendi? Kita bikin surprise yuk, soalnya si cendi besok ulang tahun” kebaca sama aku pas aku lagi main tab-nya Zumba. Hahaha aku emang nggak pernah dapat surprise yang bener-bener berhasil, tapi okelah. Seenggaknya ada yang nyurprise-in aku :p

Terima kasih yang tak terhingga kepada Allah SWT yang udah ngasih aku umur sampai hari ini, ngasih aku kesehatan walau badai menghadang, ngasih kelancaran untuk liputanku. Semoga kedepannya semua juga dimudahkan dan dilancarkan oleh-Nya. Amin.

Terima kasih untuk Mama, Bapak, dan orang-orang di rumah yang pastinya selalu mendoakanku dari sana. Untuk Kacang yang balas dendam dengan menuliskan “hbd” di Facebook doang, terima kasih juga. I don’t love you! Hahaha!

Terima kasih juga untuk teman-temanku, Zumba (yang udah tiga hari bareng aku tapi ngucapin selamat cuma lewat personal message BBM dan berdoa supaya aku tetap gila), Mumut yang mendoakanku supaya nggak main 2048 dan tetap astral, Firda yang penghujung doanya anti mainstream banget, Elya yang maksud banget nyiram pake botol bukan pake ember, dan Qoonit sebagai pembonceng dan pemilik kosan. Love you muach muacccchhhhhh!

Terima kasih juga untuk yang udah ngucapin lewat SMS, BBM, Line, Facebook, dan Instagram. Terima kasih buat Ade yang ngucapin lewat BBM dan non sense banget :p , Oliv yang mau ngucapin lewat VN tapi gagal, Kepin yang ngucapin di semua media sosial (masih ingat aja sama aku ya! Hahaha). TMZ—Eci yang ngucapin lewat DP BBM, Kakrung yang ucapan selamatnya amat sangat tidak jelas di instagram, dan Dedek yang ngepost foto dengan caption super panjang kaya pidato di instagram juga. Uwo mana uwo.. haha sayang kalian semua pokoknya!

Untuk teman-teman lain yang ngucapin di Facebook, terima kasih juga. Jumlah kalian terlalu banyak dan nggak bisa ditulis satu-satu di sini. Terima kasih semuanya, atas ucapan dan doa kalian untukku. Semoga yang dikabulkan yang baik-baiknya aja. Amin! Hahaha 😀

Lelucon

Aku dan kamu berbeda
Kita bercanda dalam bahasa yang tak sama
Aku tertawa, kamu bertanya,
“Dimana lucunya?”
Kita berbeda dalam canda
Kita tak sama saat tertawa
Lalu kenapa?
Kenapa kamu anggap aku aneh saat aku tak bisa tertawa bersamamu?
Kenapa kamu anggap aku hina saat aku menikmati tawaku sendiri?
Kenapa kamu lemparkan tatapan sinis itu saat aku mulai bercanda?
Kamu memutar bola mata,
Sebelah bibirmu terangkat naik, menunjukkan barisan gigi rapi yang tidak aku suka
Aku benci tatapan menghinamu saat aku larut dalam tawa
Kamu tak pernah menghargai perbedaan di antara kita
Toh, kita tak pernah bersama
Aku bukan temanmu dan sebaliknya
Peduli apa?
Untukmu leluconmu, untukku leluconku.

Berbicara Pada Dinding Kamar

Aku mulai nyaman

Berbicara pada dinding kamar

Aku takkan tenang

Saat sehatku datang

Aku lagi suka sama lagu Sheila On 7, Ketidakwarasan Padaku. Uhm, kalau teman-teman SMA-ku tau, mereka pasti bilang kalau aku emang udah nggak waras dari dulu. Nyatanya, yang nggak waras itu bukan aku, tapi perasaanku.

Yailah. Lebay.

Aku cuma mau bicara empat mata sama dinding kamar.

Donor Darah dan Drama Setelahnya

Alhamdulillah, akhirnya untuk pertama kali dalam hidupku aku berhasil menyumbangkan 300cc darahku hari kamis lalu 🙂

Jadi, sebenarnya keinginan untuk bisa donor darah itu udah ada sejak lama. Tapi, tiap ada acara donor darah di kampus, selaluuu aja ada halangannya. Aku lagi puasa lah, lagi dapetlah, bentrok sama jam kuliah lah, mager lah. Kenapa nggak donor di PMI aja? Jawabannya sederhana: aku nggak tau PMI Bandung/Sumedang ada di mana dan aku pasti mager (banget) buat ke sana.

Di promosi yang aku dapat lewat grup Line, acara donor darah dimulai jam 1, tapi aku baru ngisi formulir sekitar jam setengah 2 karena aku makan dulu, sholat dulu, dan bengong dulu. Kelihatannya panitia kurang persiapan, jadi pas aku mau ngasih formulir, nggak ada antrean pasti untuk pendonor. Semua orang berkerumun di sekitar meja dokter yang memeriksa kondisi tubuh (tekanan darah, suhu tubuh, dan berat badan). Yang udah naro formulir di meja dokter, tetap aja ikut berkerumun memanaskan suasana. Setelah beberapa lama, barulah seorang panitia berinisiatif membuat garis pembatas supaya antreannya jelas.

Aku nunggu lumayan lama untuk dapat giliran pemeriksaan kondisi tubuh. Yah, sekitar satu jam lah. Mungkin terasa selama itu karena aku sendirian dan nggak punya teman ngobrol. Begitu diperiksa, tekanan darahku 110/70 mmHg, suhu tubuh 36,5 derajat, dan berat badan dirahasiakan. Aku nggak ngerti, tapi kata temanku tekanan darah segitu cukup tinggi. Dokternya juga bilang, harusnya aku nggak boleh tidur di atas jam 12 malam. Aih ibu dokter, sesungguhnya itu bukan sering lagi, tapi emang udah kebiasaan :’) Lanjut ke pemeriksaan darah, hb-ku 13.2 dan aku juga nggak ngerti itu artinya apa. Pokoknya kata pemeriksanya, “Wah, bagus ini darahnya,”

Foto: Noviany Suryani

Jangan sakiti aku, Jarum….. Foto: Noviany Suryani

Aku baru dapat giliran masuk ke mobil donor darah sekitar jam 3.45 sore. Pokoknya aku masih sempat sholat Ashar dulu lah. Begitu masuk ke mobil donor, aku deg-degan. Maklum, namanya juga pengalaman pertama. Pastilah mendebarkan dan terasa istimewa. Mbak petugasnya lempeng aja nyuruh aku duduk dan bersiap menancapkan jarum transfusi ke lenganku. Cekatan banget kerjanya. Aku nggak berani liat gimana si jarum akhirnya masuk. Pokoknya, tiba-tiba terasa seperti digigit semut, dan darahku mulai mengalir menuju kantung darah. Wow, ternyata aku hanya rakyat biasa karena darahku merah bukannya biru.

Aku nggak tau berapa lama proses pengambilan darah karena untungnya ada Novi, temanku yang lagi liputan, di mobil donor itu dan jadi teman ngobrolku. Tiba-tiba Mbak petugasnya (yang bernama Leni) menyuruhku mengepalkan tangan dan sret, sret, sret, sebuah kapas berbalut plester sudah menempel di lenganku. Akhirnya, aku berhasil mendonor. Aku berhasil menjadi pahlawan pemberi darah. OYEAH! Semoga darahku berguna.

Foto: Noviany Suryani

Foto: Noviany Suryani

Ternyata, kepahlawananku ini menjadi awal dari sebuah drama alay yang bagiku terasa sedikit memalukan. Begitu keluar dari bus donor, aku dan Novi menuju meja konsumsi untuk mengambil kartu donor dan makanan. Sambil menunggu panitia mencari kartu donorku, tiba-tiba aku merasa pusing. Pusingnya itu seperti kalau duduk lama, lalu tiba-tiba berdiri. Tapi yang ini pusingnya lebih hebat lagi. Aku udah dikasih tau kalau abis donor darah pasti ngerasa pusing. Jadi aku cuma diam sambil memegangi kepala dan memejamkan mata, berusaha meresapi pusing itu dan berharap pusingnya hilang. Tiba-tiba, semuanya gelap dan kepalaku terasa berputar.

Entah untuk berapa lama, aku merasa seperti tertidur nyeyak tapi kepalaku sakit. Waktu itu aku menyimpulkan kalau aku lagi tidur di kosan.

Entah untuk berapa lama kemudian, aku merasa ada yang memegangi bahu dan kakiku. “Lah, ini kenapa Novi megang-megang aku nih” pikirku waktu itu.

Ketika akhirnya aku membuka mata, aku ngeliat ada mas-mas yang memegangi kakiku dan menahan kepalaku supaya nggak jatuh. “Oohh lagi mimpi diangkatin orang-orang toh.” lanjut pikiranku yang masih melayang.

Begitu kesadaranku mulai kembali, baru aku bertanya, “Eh, aku kenapa nih?” entah ke siapa. Mas-mas yang memegangi kepalaku menjawab, “Ah, nggak kenapa-kenapa kok,” Akhirnya aku benar-benar sadar dan bisa ngomong, “Oh iya, aku pingsan ya?”

Jadi, begitu rasanya pingsan ya?

Lalu aku berhasil duduk berselonjor dan menyandarkan punggungku di meja panitia. Seorang panitia memberikanku teh manis hangat untuk meredakan pusing. Sambil bengong dan menikmati sisa-sisa pusing, aku menyeruput teh manis. Ah, enak. Tiba-tiba, aku ketawa sendiri, merasa alay. Iya, badan doang gede. Abis donor darah aja pingsan! Bikin malu keluarga, kamu nak!

Setelah pusingnya agak reda, aku berdiri, bermaksud menyeduh mi. Pas buka pembungkus bumbu, aku ngerasa pusing dan mual. Rasanya mau muntah. Aku langsung duduk dan minta tiduran di bahu Novi karena mau tiduran di bahu pacar udah nggak punya. Sambil memejamkan mata dan menikmati pusing, tiba-tiba sesuatu bergejolak di perut dan langsung merambat ke tenggorokanku. Karena kurang refleks, sesuatu itu keluar juga lewat hidungku. Sakit. Nggak enak.

Ngomong-ngomong, ternyata Novi memotret aku yang lagi pingsan tak berdaya dengan indahnya. Tentu saja aku nggak akan naro foto itu disini. Memalukan! Firda yang dipanggil Novi pas aku lagi khusyuk makan mi juga langsung ketawa begitu tau aku sempat pingsan. Iya, teman yang baik emang suka melakukan hal-hal seperti itu.

Setelah fase-fase drama pasca donor darah itu mereda, seorang bapak-bapak yang sudah mendonorkan darahnya sebanyak 33 kali (kata dia) menghampiriku. Kata-kata bapak ini yang membuatku ingin mencoba mendonorkan darah lagi bulan September nanti. Ia berkata, “Untuk menguatkan kamu ya, pingsan kamu sekarang, pusing kamu sekarang, itu semua penyambung nyawa bagi mereka (penderita thalasemia). Jangan kapok donor darah ya, saya dulu juga pertama kali (donor) kaya kamu kok, pusing, lemes. Tapi lama-lama saya jadi terbiasa dan merasa wajib donor darah tiga bulan sekali,” Ngomong-ngomong, acara donor darah kemarin memang dalam rangka memperingati Hari Peduli Thalasemia yang diperingati setiap tanggal 8 Mei.

Ah, rasanya aku pengen nangis denger perkataan bapak yang aku nggak tau namanya itu. Aku mungkin cuma sekali pingsan dan pusing lemes seperti ini, tapi mereka, para penderita thalasemia harus transfusi darah setiap bulan, setiap minggu, atau bahkan setiap hari hanya untuk menyambung nyawa.

Sungguh, aku yang seumur hidup (Alhamdulillah) belum pernah sakit berat memang harus sering bersyukur. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 

Awetismmaze, Mengenal Autistik Dalam Labirin

Harap berjalan di atas lingkaran ya, jangan berjalan di luar lingkaran” ujar salah satu panitia acara. Kaki pun meloncat, langkah demi langkah. Tak terasa selama meloncat, kepala menunduk melihat ke bawah, takut tidak berjalan diatas lingkaran, sembari memikirkan alasan dibalik mengapa tidak boleh berjalan diluar lingkaran? Tapi sesampainya diujung lingkaran terakhir, pertanyaan itu terjawab di sebuah kertas bertuliskan “Jalan lurus terlihat berbelok, itu yang kami rasakan. Berjalan lurus sulit untuk kami lakukan, karena kami senang melompat.. Selamat datang di dunia kami, mencoba untuk menjadi kami”.

Peduli Isu Autisme

Charity Art and Festival (Chartfest) adalah acara sosial dengan balutan acara seni yang digelar oleh Hima Humas Fikom Unpad setiap tahun.  Kali ini, Chartfest mengusung tema “Awarness Autism” atau AWETISM  untuk memperingati bulan solidaritas autisme sedunia yang jatuh di bulan April.

Kevin, selaku koordinator acara AWETISM mengatakan tema kali ini berangkat dari keprihatinan masih banyaknya masyarakat yang belum mengerti konsep autisme sebenarnya. “ Masyarakatbelum aware dengan isu ini, terus masih ada yang menggunakan kata “autis” sebagaicandaan yang sebenernya itu gak tepat” ujarnya saat ditemui di acara AWETISM, Rabu (30/4).

Ia sendiri berpandangan individu autistik itu tidak perlu dijauhi, justru mereka butuh dukungan dan diberikan pengertian lebih. Selama ini banyak yang beranggapan autisme merupakan penyakit, padahal sejatinya autisme merupakan kelainan yang belum dapat disembuhkan, namun bisa diterapi.

Utamakan Charity

Kevin menambahkan, konsep acara Chartfest tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, Chartfest lebih mengedepankan unsur charity dibandingkan unsur hiburannya. Jika tahun lalu acara Chartfest ditutup secara meriah, tahun ini Chartfest dimeriahkan oleh band-band kampus, penampilan Tari Saman, Rumah Musik Harry Roesli dan Yura.

Acara utamanya sendiri adalah street campaign di Car Free Day Dago, Bandung yang dilaksanakan hari Minggu (20/4).  Penutupan acara ini dilakukan pada Rabu (30/4) di Kampus Unpad Jatinangor. Agar lebih paham isu autisme, di acara Chartfest ini pengunjung diajak langsung merasakan menjadi individu autistik lewat AWETISMMAZE atau Labirin AWETISM.

Awetismmaze

Labirin ini tidak seperti labirin yang biasa dijumpai di arena permainan. Sejatinya, labirin ini takkan membuat pengunjungnya tersesat dan tak bisa keluar. Labirin ini mengedukasi pengunjung tentang apa yang ditangkap oleh indera individu autistik. Begitu masuk, pengunjung harus melewati labirin berkelok-kelok dengan cara melompat. Fase pertama ini bertujuan memberi tahu pengunjung berjalan lurus di mata individu autistik itu sulit.

Fase kedua adalah sentuhan. Beberapa bola voli menjuntai dari langit-langit labirin. Bola-bola tersebut dilapisi oleh bahan velcro straps, sabut, dan kertas amplas. Bola-bola ini menunjukkan apa yang dirasakan individu autistik saat menyentuh sebuah benda. Bagi mereka, setiap sentuhan terasa kasar dan membuat mereka tidak nyaman.

Tepat setelah melewati fase sentuhan, kain-kain panjang berbahan belacu menunggu untuk dilewati. Fase ketiga ini menunjukkan bagaimana individu autistik saat berada di keramaian. Pengunjung yang berjalan melewati fase ini akan merasa tidak nyaman karena kain-kain itu mengganggu jalan mereka. Keramaian akan membuat seluruh indera perasa mereka bangkit. Individu autistik memiliki indera yang sangat peka, sehingga suara-suara berisik akan begitu mengusik mereka.

Lalu, pengunjung masuk ke bagian labirin yang disinari cahaya bohlam yang menyilaukan. Fase ini merujuk pada indera penglihatan. Bagi individu autistik yang memiliki indera yang sangat peka, semburat cahaya berpendar lebih terang dibandingkan apa yang dilihat oleh individu biasa.

Di luar labirin, pengunjung disambut oleh sebuah manekin bertuliskan “What Do You Think About Me?”  yang mengajak mereka berpikir tentang apa yang dirasakan individu autistik. “Saya jadi bisa merasakan apa yang dirasakan oleh individu autistik,” ujar Ayu, salah satu pengunjung.

Di pintu keluar, labirin ini memberikan pesan terakhirnya. “Dunia yang berkelok, dunia yang bersinggungan, dunia yang menyapa, dunia yang berpendar. Bumi tempat kita berdiri sama. Kami dan kamu berpijak di tanah yang sama. Kondisi kami yang menjadikan persepsi kami berbeda dengan milikmu. Bukan kami tidak sempurna, namun sempurna milikmu berbeda dengan sempurnanya kami. Memahami kami tidaklah sulit. Cobalah untuk menjadi kami.”

 

 

Tim Liputan:

Cendikia Panggih, Firda Fauziyyah, Rachma Mutia B.

Mahasiswa Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran.

 

(Tulisan ini sudah dikirim untuk rubrik Liputan Kampus dalam Kompas Kampus tetapi ternyata Rubrik Liputan Kampus 6 Mei 2014 diganti dengan advertorial satu halaman penuh. HUFT)