Month: April 2014

Dua Tahun Lalu

Dua tahun lalu, aku melihatmu dari kejauhan.

Ingin menyapa, tapi tak punya nyali untuk bicara.

Lalu tanpa sadar, kamu duduk dua kursi di depanku.

Jasmu tersampir di kursi, diam menanti kamu yang beranjak pergi.

Dari dua bangku di belakangmu, aku menuliskan “I Love You”

Melipatnya, meremasnya dan siap membuang ke tempat sampah.

Temanku merebutnya, bermaksud memasukkan kertas itu ke jasmu.

Surat kaleng.

Tetap saja, kertas itu tak pernah sampai ke jasmu.

Sorenya, sebelum hari berakhir,

Saat semua orang bersalaman dan menangis perpisahan,

Mataku jalang mencarimu di tengah kerumunan orang.

Ah itu kamu, jauh di sana bersama teman-temanmu.

Sekali saja, aku ingin membuat foto kenangan, berdua denganmu..

Baterai ponsel lemah, kamera poket di tangan adikku.

Sial, mana mungkin aku berfoto dengan kameramu.

Kita bahkan tak bersalaman hari itu, masih tak menyapa seperti dulu.

Ah, kamu…

Kamu, selamanya memang hanya mimpi masa kecilku.

Tak perlu digapai, tak perlu direngkuh.

Biar saja jadi bunga tidurku, selamanya.

Zaman dulu, para samurai yang gagal melaksanakan tugas akan melakukan Seppuku (potong perut) untuk memulihkan nama baik mereka.

Membunuh diri mereka sendiri untuk mati dengan terhormat.

Zaman sekarang, saat semua orang bicara tentang hati dan perasaan, ada yang memilih untuk membunuh perasaan mereka sendiri

Ada,

Beberapa,

Segelintir.

Supaya “mati” dengan terhormat juga?

Atau sekedar bentuk hukuman untuk diri sendiri?

Mungkin saja.

A Sunday With Sunday Screen

Camera, Rolling, Action!

Suasana langsung hening. Sutradara mengamati gadis-gadis kecil yang nanti akan jatuh karena terpeleset kelereng yang disiapkan untuk menjadi jebakan bagi mereka. Gubrak! Benar saja, mereka terjatuh dan menangis, sakit. Pak Ustadz datang menjadi penyelamat sekaligus tempat mereka mengadu.

Cut!

Minggu (13/4) lalu aku mengikuti komunitas Sunday Screen untuk screening film bareng anak-anak TPA Yayasan Al-Khoeriyyah, Ujung Berung, Bandung. Sebenarnya bukan mengikuti sih, tapi apa ya kata-kata lain yang lebih tepat? Pokoknya aku, Qoonit, dan Zumba ada di sana untuk getting bahan buat bikin multimedia photostory.

Kami sampai di lokasi sekitar jam 14.30, setelah mendapati Qoonit ketiduran, menghadapi kemacetan, dan mengalami salah belokan. Beruntung, syuting baru saja akan dimulai. Kami disambut oleh puluhan anak yang langsung menyalami kami. Syuting dimulai di tanah kosong di dekat TPA Al-Koeriyyah.

Rencananya, hari itu ada tiga film yang akan mereka buat. Yang pertama berjudul “Indahnya Persahabatan”, lalu “Man Jadda Wa Jadda”, dan “Cinta Lingkungan”. Namanya juga film yang dibuat oleh anak-anak, cerita yang mereka sajikan sangat ringan. Ingat saja bagaimana dulu kita menulis cerita saat masih SD. Ceritanya tidak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari yang ringan dan sederhana. Menurut Kak Yopie dari Sunday Screen, yang penting mereka ngerti gimana bikin film, gimana prosesnya. Urusan hasil ya lihat nanti saja.

Kakak-kakak dari Sunday Screen mengajari mereka bagaimana mengoperasikan kamera—sebuah handycam dan sebuah DSLR—juga bagaimana menentukan angle dan mengatur teman-teman mereka yang menjadi aktor. Kakak-kakak Sunday Screen juga membantu mereka menyusun plot cerita.

Image

iih ada teteh-teteh gendut nyempil…

“Kamu nanti dialognya ‘hp ini oleh-oleh dari papaku, dari Singapur’ gitu ya,” Dialog ini bikin aku ketawa. Benar-benar sebuah dialog dari adegan konflik yang dipikirkan oleh anak-anak. Polos banget, hihihi. Aku jadi mikir apakah dialog ini terinspirasi dari Suneo atau dari sinetron jahat yang terlalu banyak beredar di TV. Kocaknya, dialognya malah jadi begini:

Anak 1: hp kamu bagus, beli dimana?

Anak 2: beli di Cibiru….

*sutradara langsung koprol sepuluh kali bolak-balik*

Ah, ngomong-ngomong sinetron, kegiatan ini ternyata berawal dari keprihatinan anggota Komunitas Sunday Screen terhadap maraknya sinetron “murahan” di televisi. Daripada anak-anak ini menghabiskan waktu dengan menonton sinetron-sinetron nggak jelas, mending mereka bikin film sendiri.

Hal ini terbukti waktu aku nanya sama beberapa anak, apakah mereka lebih suka bikin film atau nonton sinetron, dan jawabannya adalah BIKIN FILM! Namanya juga pengalaman pertama, pasti menyenangkan doong. Beberapa dari mereka juga ingin berperan sebagai kameramen karena katanya keren. Hahaha. Kalian bener-bener polos dek, bikin aku pengen nyulik satu-satu xD

Sayangnya, invasi smartphone ke anak-anak memang nggak bisa dihindari. Di tengah-tengah keseruan syuting, ada saja anak yang lebih memilih untuk bermain dengan smartphone-nya yang notabene spesifikasinya lebih bagus dan harganya lebih mahal dari hapeku. Padahal, syutingnya seru banget! Terlalu banyak hal yang bikin ketawa sampai-sampai aku bingung gimana mau nyeritainnya.

Aku juga sempat tukeran pin BBM dan selfie bareng salah satu sutradara. Namanya Annisa Agustina, kelas 6 SD, panggilannya Ani. Anak ini semangat sekali. Dia adalah dalang dibalik dialog ala Suneo yang aku ceritain di atas. Suaranya agak serak dan aku rasa tujuh tahun lagi, kalau dia kuliah di Jurnal Fikom Unpad, dia pasti bisa jadi danlap pas OJ. Hahahaha.

Di tengah-tengah syuting, aku juga sempat berkenalan dengan beberapa anak. Salah satunya Ratih. Dia juga sutradara untuk film kedua by the way. Kira-kira begini dialog kenalannya:

Aku: nama kamu siapa?

Dia: Ratih, teh..

Aku: (dengan muka dan nada sok tau) kamu kelas 5 ya?

Dia: nggak teh, aku kelas 7….

Suara misterius: teh…. teh…

Aku menoleh ke kanan, melihat lengan bergelambirku sedang dicolek oleh seorang anak perempuan berkerudung pink, bertubuh kecil mungil halus kaya teri medan. Dengan tatapan yang dibuat seramah mungkin, aku bertanya “kenapa?”

“jadi teteh ga mau tau siapa nama aku? OKE, FINE! Teteh tega!!” ujar anak itu dengan suara cemprengnya sambil balik badan, ninggalin aku yang melongo pengen ketawa. Kamu belajar akting dari sinetron mana deeeekkk??? Kocak banget siiihhhh *rotfl*

Btw dek, teteh lupa (lagi) nama kamu siapa. Maafkan STM teteh yang lemot ini yaa 😦

Syuting berakhir sekitar jam setengah lima sore karena hujan. Anak-anak juga mulai bubar karena sudah dicari orangtuanya. Mereka masih harus kembali ke lokasi setelah magrib untuk mengaji, sambil berjanji untuk melanjutkan syuting satu minggu lagi. Tetap semangat yaa!!! *loncat pake pom-pom*

Image

Kakak-kakak Sunday Screen bareng anak-anak TPA Al-Khoeriyyah

Akhir sebuah tulisan adalah tempat yang tepat untuk mengucapkan terima kasih. Jadi aku mewakili tim Unikitty (nama kelompokku yang kubuat secara random banget) mengucapkan terima kasih kepada kakak-kakak dari Sunday Screen—Kak Yopie, Kak Carda, Kak Yuda, Kak Shinta—dan anak-anak dari TPA Al-Khoeriyyah—Ani, Ratih, Intan, Iki, Rian, Acep, dan anak-anak lain yang aku nggak hafal karena jumlah kalian banyak banget! Kalau tugas ini nilainya bagus, semua itu pasti karena kalian.

Image

sampai jumpa lagi di lain waktu!

Terima kasih juga untuk Sabana Chicken yang ada di depan gang kosannya Qoonit, yang rela memberiku sepotong ayam dan sebungkus nasi setelah kubayar pake uang dua belas ribu. Terima kasih juga kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayatnya kepada kita semua. Udahlah, segitu aja.

credit foto: Farah Qoonita

[untitled]

Disclaimer: postingan ini khusus buat kamu. Iya, KAMU yang akan merasa ketika membaca. KAMU yang memiliki kemungkinan 1 : 1.000.000 untuk membaca postingan ini. K-A-M-U.

Hai, apa kabar? Ga kerasa ya, udah hampir dua bulan berlalu. Apa aja yang udah kamu lakukan selama dua bulan ke belakang?

Sebenarnya aku (kelihatan) agak ga tau malu gitu ya, kok bisa-bisanya nulis ginian setelah semua yang terjadi kemarin. Tapi, karena aku ga bisa ngomong langsung, aku bisa apa? Kan ga lucu, aku tiba-tiba melenggang santai mucul di depanmu lagi dan bersikap seolah-olah semuanya biasa saja, seolah-olah tidak pernah ada hal besar yang terjadi.

Maka, aku terpaksa menuliskan ini, setengah berharap kamu membacanya walaupun aku 1.000.000.000 persen yakin kamu ga akan ngepoin blog aku lagi.

Jadi, hari Minggu lalu, tanggal 6 April, aku ke Bandung Creative Week, di Trans Studio Mall (TSM). Stand-stand yang ada di sana emang kebanyakan jualan baju, tas, atau sepatu. Tapi ada pameran fotonya juga. Nah, ini dia yang bikin aku ngerasa agak sedih. Foto-fotonya itu foto-foto model dan harusnya kamu liat buat referensi. Jadi, si model ini ballerina gitu. Lokasi fotonya juga biasa aja,malahan ada yang di sawah sama di bawah menara sutet. Tapi, ga tau kenapa, foto-foto itu bagus banget di mata aku karena aku ga ngerti soal konsep atau apalah. Pokoknya, fotonya bagus aja.

Aku sempat diam lama di depan foto-foto itu. Malah sempat mau motret beberapa yang menurut aku bagus, rencananya mau diliatin ke kamu. Sepersekian detik, aku lupa sama apa yang terjadi sama kita. Sebelum aku sempat motret, aku tiba-tiba ingat kalau aku (udah) ga bisa cerita-cerita ke kamu lagi kaya dulu. Aku nggak mungkin kan, tiba-tiba nge-line kamu, dengan santainya cerita tentang foto-foto itu.

Sempat, aku kepikiran untuk mulai nyapa kamu lagi, caranya ya lewat cerita-cerita ini. Tapi aku takut. Aku takut sama reaksi kamu, karena aku tau sekarang kamu pasti benci (banget) sama aku. Aku takut kalau aku dengan santainya nge-line kamu, trus kamu balesnya flat. Lebih parah lagi, aku takut kamu cuma read chat aku dan endingnya aku di-block. Aku memang terlalu banyak berasumsi ya. (sok) Memikirkan beragam kemungkinan yang ada. Hehe.

Kangen itu sederhana ya. Sesederhana aku yang pengen cerita ke kamu tapi ga bisa, sesederhana aku yang pengen nyupport kamu tapi ga bisa (lagi).

Ah, ya. Aku selalu suka waktu aku nyupport kamu. Kenapa? Entahlah. Suka aja. Entah kenapa, aku yakin suatu saat kamu bakal jadi “orang”. Jadi, aku akan mengamati dari kejauhan……………….. pake teropong.

Hei, inti dari semua tulisan panjang lebar ga jelas di atas adalah: aku pengen menjalin hubungan silaturahmi aja sama kamu. Toh, gimanapun juga, kita teman SMA. Pasti aneh rasanya kalau ada kumpul-kumpul dan kita nggak saling sapa. Itu aja.

yes, I still love you.

yes, I still care about you.

yes, I still think about you.

but no, I don’t want us back.

Aku emang suka seenaknya, yaa…

Lewat postingan ini juga, aku mau minta maaf banget atas semua yang terjadi kemarin-kemarin. Besok aku pasti minta maaf langsung kok.

Pasti.

Maafin aku ya.

Assalammualaikum.

Selamat malam 🙂

 

 

ps: aku emang ga tau malu dengan nulis ini di public place macam blog ini. Sudahlah, bodo amat.

Sebuah Pengakuan

Jantungku berdebar cepat. Keringat dingin mulai mengucur membasahi tubuhku. Aku menggoyang-goyangkan kaki, berusaha menghilangkan perasaan grogi. Sia-sia. Wajahku mulai pucat, tanganku dingin.

Otakku berkata, ini saat terakhir karena esok aku takkan melihatnya lagi.

Hatiku berkata, jangan permalukan diriku sendiri.

Oke, kelihatannya otakku menang.

Siap tidak siap, aku akan mulai.

Aku merapikan poni dan rambutku yang mulai panjang, masih grogi. Aku menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya keras-keras, lalu menenggak segelas sirop rasa kokopandan.

Ah, dandananku. Dandanan yang kukenakan sejak subuh tadi sudah berlepotan, wajahku berkeringat. Sudahlah, persetan dengan dandanan. Tak ada waktu untuk itu.

Ah, tapi aku takut….

Hei, apa yang aku takutkan? Penolakan? Memangnya siapa yang minta diterima?

Aku mengepalkan tanganku, berusaha terlihat gagah berani ketika melangkah maju. Aku tak lagi bisa mundur. Semuanya harus kuselesaikan hari ini.

“Hei….” sapaku.

Ia berpaling, tersenyum. “Ada apa?”

Aku menggaruk alis, bingung bagaimana memulainya. “Ummm… Dulu aku suka sama kamu. Ehh.. tapi aku nggak minta kamu buat jadi pacar aku kok. Aku cuma pengen kamu tau, itu aja..”

“Hemm.. Lalu?”

“Ngg…” aku semakin grogi, merasa tak enak hati untuk menyampaikannya. “Tapi sebenarnya bukan itu yang mau aku bilang ke kamu. Sebenarnya… aduh… gimana yaa…”

Ia menatapku penuh selidik, masih terdiam menunggu lanjutan perkataanku.

Aku memejamkan mata, tak berani menatapnya. Akhirnya, aku harus mengungkapkan ini juga. “Kamu masih hutang sama aku. Please, bisa bayar sekarang? Aku nggak punya ongkos pulang…”

Wajahku memerah menahan malu, ketika aku melihatnya menahan tawa dan membuka dompet.

“Astaga, aku lupa. Terima kasih sudah mengingatkan. Aku hutang berapa?”

“Delapan puluh ribu.. Maaf…”

Ia tersenyum sambil menyerahkan empat lembar uang dua puluh ribu padaku. “Ini. Maaf aku lupa membayarnya. Dan maaf juga aku tak bisa mengantarmu pulang”

“Ehh.. Iya, maaf sudah mengganggu. Terima kasih.”

Aku segera berlari dan mencegat taksi. Akhirnya, uangku kembali sebelum ia benar-benar lupa padaku. Dan piutangku.

Yeah, aku lebih butuh pelunasan hutangmu daripada hatimu. Setidaknya untuk saat ini.